From YM To Your Heart Part 6 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 6




FROM YM TO YOUR HEART
Part 6
By Tyas







~~~~~~~
Senin, 27/03/13
Rashed Jalal : Kenapa kau tadi berusaha kabur? Bukannya kau bilang ingin melihat seperti apa diriku...
Aadhya Jodha : Kalau tahu seperti ini, aku tidak ingin mengenalmu
Rashed Jalal : Kenapa? Apa aku kurang menarik?
Aadhya Jodha : Justru karena kau terlalu menarik...
Rashed Jalal : Ada apa dengan pria yang terlalu menarik untukmu?
Aadhya Jodha : Membuatku ingin lari saja... Pria yang sangat menarik pasti punya niat lain saat mendekati seorang wanita. Apa niatmu mendekatiku?
Rashed Jalal : Menurutmu aku sedang mendekatimu?
Aadhya Jodha : Jangan bilang bukan kau yang mengatur letak mejaku hingga pindah tepat di depan ruanganmu. Jadi katakan saja dan kita selesaikan disini. Jangan sampai ada staf lain curiga kalau kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Dengan posisimu, aku yang akan dirugikan jika ada rumor yang beredar...
Rashed Jalal : Baiklah, kuakui aku sedang berusaha mendekatimu
Aadhya Jodha : Sebaiknya kau menjauh dariku, oke?
Aadhya Jodha : Jangan ada lagi pertemuan ‘kebetulan’ yang lain...
Rashed Jalal : Tapi dua pertemuan awal kita memang kebetulan..
Rashed Jalal : Barulah pertemuan ketiga yang ‘kebetulan’
Aadhya Jodha : Terserah apa katamu. Mulai sekarang. Aku tidak mengenalmu, kau juga tidak mengenalku. Kau adalah atasanku. Aku adalah stafmu. Jangan mempersulit pekerjaanku. Bisakah aku memohon untuk itu saja....?
~~~~~~~


Gadis yang aneh. Biasanya seorang gadis akan bersikap malu-malu bila didekati seorang pria, tapi yang satu ini justru ingin lari jauh-jauh....
Jalal menumpangkan sikunya di atas meja dan menautkan jari-jari kedua tangannya sejajar dengan wajahnya. Pikirannya berputar sambil menatap layar monitor di depannya. Bukan tentang pekerjaan yang menjadi masalahnya , tapi tentang gadis yang sedang duduk tepat di seberang ruangannya, yang sedang berkonsentrasi pada pekerjaannya, tapi Jalal tahu dia hanya berpura-pura saja. Jalal yakin pasti ada cara untuk mendekati Jodha. Sebelum waktu makan siang hari ini dia pasti sudah menemukan caranya.
Jodha duduk kaku di dalam biliknya. Dia tidak berani mengalihkan pandangannya sedikitpun dari layar monitor, karena inderanya mengatakan bahwa pria itu, yang akhirnya dia ketahui bernama Jalal Rashed, sedang memperhatikannya dari balik kaca ruangannya. ‘Silakan lakukan apapun yang kau mau. Tidak akan berpengaruh apa-apa padaku. Aku hanya akan memikirkan pekejaanku saja!’ sungut Jodha dalam hati.
Baru saja Jodha memikirkannya, sudah muncul pesan baru dari Jalal di YM-nya yang tertulis,
Rashed Jalal : Ke ruanganku. Sekarang.
Jodha membuang napas dengan kesal. Cepat atau lambat interaksi antara mereka pasti terjadi. Tapi Jodha bertekad akan menghadapinya dengan profesional. Dia lalu berdiri, merapikan roknya, mengatur ekspresi wajahnya sedatar mungkin, dan berjalan menuju ruangan pimpinan barunya.
Terlebih dahulu Jodha mengetuk pintu, setelah mendengar suara Jalal yang menyuruhnya masuk, barulah Jodha membuka pintu ruang kerja pria itu.
Meski langkahnya berat saat memasuk ruang kerja Jalal, tapi Jodha masih sempat melihat sekilas hasil permak yang dilakukan tim maintenance pada ruangan ini yang sebelumnya adalah ruang meeting untuk staf lantai 3. Meja panjang untuk rapat yang biasa digunakan beserta kursi-kursi berjumlah sekitar 20 buah sudah berganti dengan meja kayu berukuran besar dengan kursi tinggi di belakangnya. Di sudut lain adalah sofa berwarna moka beserta meja kopinya untuk para tamu pimpinan. Di meja Jalal ada sebuah komputer di satu sisi dan notebook di sisi yang lain dan keduanya sama-sama menyala. Sebuah telepon meja bertengger di samping kanan. Dan pastinya, yang mustahil diabaikan adalah keberadaan sang pemilik ruangan itu sendiri yang terlihat mendominasi di ruangan tertutup itu.
Jodha berjalan mendekat. Dan berdiri di seberangnya, dipisahkan oleh meja kayu di depan Jalal.
“Ya, Sir?” tanya Jodha formal, tapi dia tidak berani beradu mata dengan Jalal.
“Buatkan perbandingan laba rugi Golden Beverages dan Golden Textiles selama mereka berdiri.” Perintah Jalal singkat.
“Baik, Sir.”
“Kalau kau butuh bantuan, jangan segan untuk memintanya....Jodha Aadhya.” Jalal menyebut nama Jodha dengan penekanan yang lebih.
Jodha menahan kata-kata balasannya dengan menggigit bagian dalam mulutnya kuat-kuat. Sebelum berbalik keluar, entah bagaimana dia sempat mengangkat wajahnya dan saat itulah dia melihat Jalal tersenyum manis padanya.
‘Tahan Jodha...tahan...Jangan terpesona padanya. Anggaplah dia adalah penyakit berbahaya yang harus kau hindari.’ Omel Jodha dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya untuk menahan diri.
Jodha menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan kesal. Instingnya mengatakan mulai hari ini dia akan menghadapi banyak masalah karena pria bernama Jalal itu. Dia merasa rugi sudah menganggap pria itu sebagai sang penolong, ternyata....
Apapun yang terjadi, Jodha bertekad tidak akan membiarkan Jalal mengusik ketenangan dan kendali dirinya. Jangan sampai pria itu tertawa sombong karena telah berhasil mempengaruhi pikiran dan hatinya. Pria-pria itu hanya menganggap wanita sebagai tantangan yang harus ditaklukkan, dan ketika seorang wanita sudah menyerah pada pesonanya, maka mereka akan segera kehilangan minatnya dan hancurlah perasaan wanita yang sudah dipikatnya.
Entah sudah berapa lama Jodha tenggelam dalam kemelut perasaannya sendiri, bahkan laporan yang harus dikerjakannya pun belum disentuhnya sama sekali. Begitu dia sadar sudah menyia-nyiakan waktunya, dengan gerak cepat dia mulai membuka file-file terkait laporan yang harus disusunnya.
Baru beberapa menit Jodha mulai bekerja, tiba-tiba terdengar suara cukup keras yang cukup dekat dari mejanya. Kepalanya terangkat mencari asal suara itu dan sepertinya beberapa rekan kerjanya juga melakukan hal yang sama. Mereka menoleh ke kanan dan kiri kebingungan gara-gara suara keras tadi.
Dari sudut matanya, Jodha melihat temannya, Sneyka, berjalan terburu-buru keluar dari ruangan CFO. Yang membuat Jodha makin mengerutkan alisnya karena Sneyka berjalan sambil menutupi wajahnya. Dengan wajah cemberut, Jodha mengarahkan pandangannya kembali tepat ke seberang mejanya, menatap ke balik kaca gelap yang membatasi ruangannya sambil bergumam, ‘Pasti telah terjadi sesuatu di dalam sana!’
Entah perasaan apa yang mendorongnya, Jodha berdiri dan melangkah cepat ke ruangan CFO. Hanya dengan tiga kali ketukan di pintu dan tanpa menunggu jawaban dari dalam, Jodha langsung menyelonong masuk. Sang pemilik ruangan hanya mengangkat alisnya sedikit seakan sudah bisa menebak akan maksud kedatangan Jodha.
“Aku mengenalmu sebagai pria yang sangat menghormati wanita!Tapi kenapa kau malah membuat seorang wanita menangis?!” labrak Jodha tanpa koma satupun...
Jalal hanya tersenyum kecil, “Karena kita sudah saling mengenal, apa kau menuntut perlakuan khusus di kantor ini?”
“Tidak! Tentu saja tidak! Aku hanya ingin tahu apa yang sudah kau lakukan pada Sneyka sampai-sampai dia keluar dari ruangan ini sambil menangis?!”
“Aku hanya memperlakukannya sepatutnya yang berhak dia terima. Kalian para wanita bekerja di perusahaan ini, menuntut diperlakukan setara dengan kami para pria. Jadi, apakah salah jika aku juga menuntut hasil kerja yang sama seperti para pria?!”
“Tidak, tapi...”
“Apa kau juga sudah menanyakan pada temanmu itu kenapa dia sampai menangis?...Coba sekarang lihatlah apa temanmu itu masih menangis?”
Karena terdorong oleh rasa penasaran, dari jendela gelap ruangan CFO, Jodha melihat Sneyka sudah tidak menangis lagi, bahkan dia sekarang sedang sibuk bicara di ponselnya. Dengan rasa malu yang berusaha ditutupi, Jodha berbalik, tapi betapa terkejutnya dia saat wajahnya menabrak dada bidang Jalal yang ternyata diam-diam sudah berdiri di belakang punggungnya.
Dengan tersipu, Jodha bergeser menjauh. Sementara Jalal malah tersenyum-senyum melihat Jodha yang salah tingkah.
“Bagaimana...?”
“Eh..apanya?” Jodha bertanya linglung
“Temanmu itu, apa dia masih kelihatan sedih?”
“Tidak...dia sudah tidak sedih lagi..”
“Kalau begitu apa kau akan percaya padaku jika kuceritakan apa yang telah dilakukan temanmu tadi disini?” tanya Jalal sambil berjalan kembali ke kursinya.
Jodha mengangguk.
“Singkatnya, aku menerima laporan hasil kerjanya yang jauh dari standar perusahaan, dan aku menegurnya. Tapi dia mulai melewati batas dengan menyelipkan nomor teleponnya disini. Mungkin dia menganggap karena kita pernah mengobrol akrab, maka aku akan mentolerir sikapnya.” Kata Jalal sambil menunjukkan selembar kertas kecil bertuliskan deretan nomor telepon, dan Jodha hapal itu adalah milik Sneyka.
“Karena aku tidak respek dengan apa yang dilakukannya, aku menegurnya lebih keras dengan sedikit ancaman.  Apa menurutmu aku salah?” tanya Jalal meski tidak menuntut jawaban dari Jodha.
Sekarang Jodha yang merasa bersalah karena sudah menuduh sembarangan tanpa tahu duduk persoalan yang sebenarnya. Untuk menutupi rasa malunya dia hanya berdiri menunduk memandangi ujung sepatunya.
“Eh tidak..Maafkan aku kalau begitu...Aku..sebaiknya aku kembali ke mejaku...Aku masih belum menyelesaikan laporan yang kau minta......” cepat-cepat Jodha berbalik dan berjalan menuju pintu.
“Apa kau selalu menganggap semua pria itu tak bermoral? Atau hanya pria-pria tertentu? Jika mengutip kata-katamu di YM tadi, hanya pria-pria menarik yang kau masukkan daftar hitammu, benar begitu?!” tanya Jalal tiba-tiba, menghentikan langkah Jodha tepat di dekat pintu.
“Anggaplah seperti itu.”
“Kenapa?”
“90 persen wanita yang berhubungan dengan pria tampan selalu berakhir dengan patah hati.”
“Jadi...aku tidak punya kesempatan sama sekali?”
“Tidak denganku.” Jawab Jodha dan bergegas keluar sebelum Jalal melontarkan lebih banyak pertanyaan lagi.
Terlalu penat rasanya hanya untuk melalui satu hari saja. Jodha bahkan tidak sanggup lagi membebani otaknya dengan masalah-masalah lain yang belum terselesaikan. Laporan yang belum tersusun, persiapan pernikahan, kekasih yang tak bisa dihubungi. Semuanya berputar saling tumpang tindih memenuhi kepalanya. Energinya habis tak bersisa hanya karena memikirkan semua itu. Alhasil, saat jam pulang kantor, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
Awalnya Jodha ingin langsung pulang saja, tapi ada satu masalah mendesak yang harus diselesaikannya terlebih dulu, kalau tidak masalah itu akan mengganjal pikirannya terus.
Jodha menghentikan taksi tepat di depan gedung kantornya, dia bertekad akan megklarifikasi kecurigaannya dengan Varun langsung, malam ini juga.
Tanpa dia ketahui, ada sebuah mobil yang membuntuti taksi yang ditumpanginya sejak dia keluar Golden Building.
Jalal mengerutkan keningnya saat menyadari taksi yang dinaiki Jodha tidak mengarah ke rumah gadis itu. ‘Mau kemana dia?’ tanyanya dalam hati. Tadinya dia berniat mencegat Jodha untuk mengantarkannya pulang sebelum gadis itu sempat naik bis sekaligus mencari-cari kesempatan untuk mendekatinya. Namun ternyata gadis itu naik taksi dan arahnya berlawanan dengan tempat tinggalnya.
Setelah berputar-putar selama 30 menit, Jalal melihat taksi di depannya berbelok masuk ke sebuah komplek apartemen di Kandivali East. Taksi berhenti dan Jodha turun dengan sedikit terburu-buru. Jalal makin curiga, dia pun keluar dari mobilnya dan bergegas menyusul Jodha yang sudah masuk ke dalam gedung.
“Jodha...”panggil Jalal.
Tubuh Jodha berputar dengan cepat karena mendengar suaranya, “Jalal?! Kau juga disini?! Apa kau mengikutiku?”
Jalal mengabaikan pertanyaan Jodha, dia malah balik bertanya, “Apa yang kau lakukan disini? Apa kau punya urusan penting disini?!”
“Bukan urusanmu! Jangan mengikutiku dan menjauhlah dariku!” hardik Jodha.
“Tidak. Kalau kau berjalan dengan wajah ceria, aku tidak akan mencemaskanmu. Tapi sekarang kau berjalan seakan kau ingin membunuh seseorang dan aku tidak butuh alasan lain untuk membuntutimu. Aku harus memastikan kau baik-baik saja hingga kau sampai di rumah nanti.” Jalal menjawab sama kerasnya.
“Arrgghh...” Jodha menggeram karena benar-benar kesal menghadapi sikap Jalal yang sekeras batu.
Tanpa membalas kata-kata Jalal, Jodha langsung berbalik dengan menghentakkan kaki dan terus berjalan masuk ke dalam lift. Jalal mengikutinya masuk dan melihat Jodha memencet tombol lantai 5.
Di lantai 5, Jalal terus mengekor langkah-langkah Jodha hingga mereka sampai ke depan sebuh pintu apartemen bernomor 3.
Seperti sebuah kebetulan, pintu itu tidak tertutup rapat. Dari celah pintunya, Jalal dan Jodha mendengar suara-suara berisik yang berasal dari dalam. Jodha mendorong pintu itu hingga terbuka dan dia masuk ke dalam.
Di dalam ruangan itu ada sekitar dua puluh orang sedang berkumpul, mereka tertawa dan mengobrol seperti sedang merayakan sesuatu. Tak ada satupun yang sadar ada tamu tak diundang sedang menatap mereka dari  pintu masuk.
“Varun, kau pria yang beruntung.... Manoo itu gadis yang cantik dan juga pintar....Dia bukan hanya menjadi istri kebanggaanmu, tapi juga akan menjadi menantu kebanggaan keluarga ini....” Kata-kata itu disambut sorakan dari semua orang disana, kecuali Jodha....
Lebih buruk dari tersambar petir dan lebih sakit dari tersayat pisau....kata-kata itu menghujam langsung ke hatinya, ke jantungnya dan juga ke otaknya. Matanya membelalak lebar tak ingin percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Pikirannya mati rasa, dan jantungnya berhenti berdetak. Dia ingin berteriak tapi suaranya tak mampu keluar. Mulutnya hanya membuka menutup sibuk mencari udara untuk mengisi paru-parunya yang kosong.
“Varun!” akhirnya Jodha bisa bersuara.
Seakan dikomando, semua orang yang berada dalam ruangan itu serentak menoleh ke arah Jodha.
“Jodha..???!!!” Varun sama tak percayanya saat melihat Jodha sudah ada di dalam apartemennya.
“Jadi seperti itu?!...Kau hanya perlu mengatakan ‘Jodha, aku  tidak mau menikah denganmu. Hubungan kita berakhir’....apa itu sulit sekali??!.. Jangan pedulikan perasaanku...Kau juga tidak perlu repot-repot menutupi semuanya...Aku paling benci dibohongi..!!” emosi Jodha akhirnya tumpah.  
Dadanya naik turun karena luapan kemarahan yang tak mampu ditahannya lagi. Matanya memerah, memandang marah pada Varun, pria yang pernah dengan bangga dia perkenalkan sebagai calon suaminya, kini pria itu masuk dalam daftar hitam orang-orang yang dibencinya.
“Jodha....aku...” Varun tergagap sambil menghampiri Jodha, merasa sudah tidak punya kesempatan untuk membela dirinya sendiri....
“Tuan Chauhan....” Jodha beralih pada ayah Varun, yang berdiri angkuh dan membisu di belakang putranya..
“Tuan Chauhan...mahar sebesar itu yang kau minta dariku, itu hanya alasanmu saja kan?! Yang kau inginkan sebenarnya adalah aku pergi dari hidup putramu, benar begitu kan?!... Kalau saja kau katakan dari dulu, sudah pasti akan kulakukan...Kau tidak perlu repot mengarang berbagai macam alasan untuk mengusirku....Aku hidup dengan tanganku sendiri, dan aku bersumpah tidak akan meminta belas kasihan dari orang lain, jika aku memang tidak diinginkan dalam keluarga ini, aku juga tidak akan memohon-mohon untuk tinggal disini...”
“Yang paling aku sesali adalah pengorbanan yang telah banyak aku lakukan demi perasaan yang aku pikir adalah cinta pada pria yang bahkan tidak layak untuk kuhormati!” suara Jodha tercekat.
Meski Jodha puas sudah meluapkan kemarahannya, tapi dia harus keluar dari ruangan itu dengan cepat. Di dalam sana udaranya makin sesak membuatnya kesulitan bernapas, atau mungkin itu karena air mata yang mendesak ingin keluar. Jodha berbalik dan menubruk dada kokoh Jalal....
Astaga, Jodha benar-benar lupa ada Jalal juga disana. Dari tadi pria ini hanya diam tak bersuara di belakang punggungnya, karena itulah dia tak menyadari keberadaannya.
Jodha berusaha melewati tubuh Jalal, tapi pria itu malah merengkuh kedua pundaknya dan membalik tubuhnya lagi hingga dia berhadapan kembali dengan para tamu di apartemen Varun yang masih terbengong-bengong pada adegan mirip drama yang terjadi di depan mereka.
Sebelah tangan Jalal tetap merengkuh erat kedua pundak Jodha saat dia mulai bersuara, “Varun, itu kan namamu?!” sambil menunjuk pada Varun, “Aku ingin mengucapkan terima kasih padamu, karena kau sudah melepaskan wanita ini.....Alasannya, karena aku ingin menjadikannya milikku....Dan kuperingatkan, mulai detik ini jangan pernah mengganggunya lagi!! Dan Tuan Chauhan, rencana kerjasama kita harus aku batalkan. Aku tidak mau punya mitra yang tidak bisa memegang kata-katanya sendiri.... Pada seorang wanita baik seperti Jodha saja, kau tidak bisa memberikan rasa hormat dan menepati janjimu untuk menikahkannya dengan putramu, apalagi nanti jika kita bekerja sama....aku tidak punya respek sama sekali untuk orang seperti itu....Hanya itu yang ingin kukatakan, teruskanlah nikmati pesta kalian!”
Jalal menggamit lengan Jodha dan membawanya keluar dari apartemen itu. Tanpa suara mereka terus melangkah hingga sampai di tempat mobil Jalal terparkir. Setelah membukakan pintu mobil untuk Jodha dan mendorong gadis itu masuk, barulah Jalal juga masuk dan langsung menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan, Jodha tetap membisu. Matanya kosong menatap lurus ke depan ke dalam gelapnya jalan di malam hari. Beberapa kali Jalal menoleh dari tempatnya duduk, untuk memastikan gadis di sebelahnya baik-baik saja. Jodha tidak baik-baik saja. Menurut Jalal gadis itu butuh pelampiasan dari emosi yang memuncak di kepalanya. Dia tidak suka melihat Jodha memendam kesedihan dan sakit hatinya sendirian, dia lebih suka jika Jodha menjerit atau menangis, setidaknya gadis itu akan merasa lega dan Jalal punya alasan untuk menghiburnya.
Jalal membelokkan mobilnya keluar dari jalan raya beraspal, memasuki jalan tanah berbukit-bukit, yang kanan kirinya banyak ditumbuhi ilalang. Tidak terlihat rumah penduduk apalagi pertokoan. Yang ada hanya tanah lapang luas dan udara terbuka.
Jalal menghentikan mobilnya, keluar dan membukakan pintu untuk Jodha. Begitu ada di luar, Jodha mulai kebingungan melihat sekelilingnya. Dia baru sadar ternyata Jalal tidak membawanya pulang ke apartemennya.
“Ini dimana? Kenapa kau membawaku kesini?” tanya Jodha sedikit panik.
“Jangan takut, kau butuh udara segar, karena itulah kita kesini...” jawab Jalal tenang, kemudian dia menuntun Jodha ke sebuah batu besar dan menyuruhnya duduk disana. Dan Jalal duduk di sebelahnya.
Mereka sedang berada di atas sebuah bukit, sedangkan di depan mereka terbentang Danau Powai, yang airnya berkilauan memantulkan sinar bulan di atas mereka. Jodha terpana melihat pemandangan indah di depannya, sejenak mampu mengalihkan pikirannya dari kesedihan yang menderanya.
“Ini bukan tempat yang romantis, tapi disini kau bisa menangis sepuasnya. Tidak ada orang yang melihat, jika adapun suara angin akan menutupinya.”
‘Bagaimana dia tahu kalau aku ingin menangis?’ tanya Jodha dalam hati sambil matanya memperhatikan Jalal yang sedang melepaskan jasnya.
“Tutupi kakimu, disini banyak nyamuk.” Kata Jalal sambil meletakkan jasnya menutupi kedua kaki Jodha yang hanya tertutupi rok selutut.
“Biasanya dalam drama, saat seorang pria melepas jasnya, dia akan menggunakannya untuk menutupi bahu sang wanita agar tidak kedinginan, tapi kau malah menutupi kakiku...” sindir Jodha.
“Kalau seperti itu caranya, aku tidak punya alasan memelukmu seperti....” tangan Jalal sudah terentang siap-siap memeluk bahu Jodha, tapi membeku di udara karena berhadapan dengan kepalan tinju Jodha yang diarahkan ke depan wajahnya.
“Jangan coba-coba!” ancam Jodha, dan Jalal menurunkan kembali lengannya.
Beberapa saat mereka hanya diam, menikmati segarnya udara malam, kelap-kelip lampu kota di sebelah kanan mereka, desiran angin yang berpadu dengan riak air danau mengahantam bibir bukit.
Keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
“Menangis tidak akan membuatmu terlihat lemah. Tenang saja, aku tidak akan meledekmu. Karena yang aku tahu, ada kalanya menangis itu diperlukan, seperti saat ini.....” kata Jalal memecah keheningan di antara mereka.
“Aku tidak ingin menangis.” Jawab Jodha kaku.
“Kau harus menangis. Saat kau tak mampu mengungkapkan kesedihanmu dengan kata-kata, biarkan air matamu yang bicara.”
Jodha terdiam, matanya memandang ke arah kejauhan.
Tiba-tiba satu tangan Jalal menggenggam kedua tangan Jodha yang terjalin di pangkuannya. Jodha tersentak kecil, tapi dia tidak menarik tangannya. Wajahnya tertunduk, dipandanginya tangan Jalal yang berada di atas tangannya. Kehangatan dari tangan pria itu mampu mengalirkan rasa tenang dan kepercayaan. Seketika menyebabkan pertahanan dirinya runtuh. Jodha menangis.
Jalal memberi kesempatan Jodha menangis sepuasnya. Awalnya yang terdengar hanya isak kecil, kemudian makin kencang. Jodha menangis sesenggukan dan air matanya jatuh membasahi tangan Jalal di pangkuannya. Namun kini tangisnya sudah mereda, yang terdengar hanyalah tarikan napasnya yang terpatah-patah.
“Aku tidak punya sapu tangan...jadi pakailah lengan kemejaku untuk menyeka wajah dan ingusmu...” saran Jalal dengan sedikit bercanda.
Namun Jodha menganggapnya serius, dia langsung menarik lengan kemeja Jalal untuk menyeka wajah dan hidungnya yang basah.
Jalal hanya mengernyit di sebelahnya.
Jodha menarik napas panjang untuk melegakan dadanya yang sesak, tak menyadari akibat perbuatannya pada kemeja Jalal yang sekarang belepotan karena eyeliner dan lipstick dari wajahnya. Sementara Jalal hanya mengangkat alisnya tapi tak berkomentar apa-apa.
“Kalau sudah tenang, ayo kuantar pulang. Ibumu pasti sudah cemas....” ajak Jalal.
Jodha mengangguk dan bangkit dari duduknya. Dikembalikannya jas pria itu lalu merapikan roknya yang agak kusut.
Saat mobil Jalal sudah melaju di jalan raya, Jodha menghubungi Ibunya, mencoba sedikit mengurangi kecemasan Ibunya karena keterlambatannya. Dia memberikan alasan yang masuk akal tanpa menyebutkan alasan yang sebenarnya. Dia butuh waktu yang tepat untuk menjelaskan pada Ibunya bahwa rencana pernikahannya dengan Varun telah dibatalkan, mungkin satu atau dua hari lagi.
Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Ibunya, ponselnya kembali berdering, saat melihat siapa yang menelpon, Jodha urung mengangkatnya. Dan Jalal melihatnya dari ujung matanya.
“Varun? Tidak usah diangkat.... Jangan pernah berpikir untuk memberinya kesempatan kedua atau kelima. Jangan sia-siakan hidupmu untuk pria berotak kerdil seperti itu!” kata Jalal sengit.
“Kenapa jadi kau yang marah?!” balas Jodha.
“Apa kau lupa?! Aku kan tadi sudah bilang, aku punya rencana menjadikanmu milikku. Jadi aku tidak suka kalau kau masih memikirkan pria itu....”
“Jangan mimpi!” potong Jodha, “Tapi terima kasih. Terima kasih sudah menemaniku malam ini.” Lanjut Jodha dengan suara pelan.
“Sama-sama.”
Mobil Jalal berhenti, ternyata mereka sudah sampai di depan apartemen Jodha. Gadis itu tersenyum dan mengangguk sebagai ucapan terima kasih pada Jalal. Tangannya yang hendak membuka pintu ditahan oleh Jalal.
“Tunggu. Pinjam ponselmu sebentar.” Itu bukan permintaan tapi perintah yang keluar dari mulut Jalal.
“Untuk apa?” tanya Jodha, otomatis mengangsurkan ponselnya pada Jalal.
Hal yang tak pernah terpikirkan oleh Jodha akan dilakukan oleh pria seperti Jalal. Benar, dengan ponsel Jodha, Jalal memotret dirinya sendiri. Jodha melongo melihat tingkah lakunya.
“Ini. Kalau kau masih sedih, pandangi wajahku saja. Yang pasti aku lebih menawan dari pria manapun yang pernah kau kenal.” Kata Jalal sambil mengembalikan ponsel Jodha.
Dengan mulut masih membulat, mendengar kata-kata Jalal membuat matanya ikut membulat keheranan mendengar saran penuh kepercayaan diri yang disampaikan pria itu.
Jodha geleng-geleng kepala sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Hah...Kau ini percaya diri atau sombong?!”  sindir Jodha.
Setelah keluar dari mobil, Jalal menghampiri Jodha.
“Maaf, kali ini aku tidak bisa mengantarmu sampai pintu. Aku tidak ingin Ibumu makin curiga melihat penampilan kita yang berantakan.” Kata Jalal sambil menunjukkan lengan kemejanya yang kotor.
Baru saat itulah Jodha menyadari akibat perbuatannya tadi pada kemeja Jalal.
“Selamat malam.” Kata Jodha pendek lalu melangkah meninggalkan Jalal.
“Kalau kau ingin teman bicara, telepon saja aku. Aku sudah memasukkan nomorku di ponselmu.” Kata Jalal di balik punggung Jodha, sukses membuat langkah Jodha terhenti.
Dengan mata menyipit sengit, Jodha menoleh ke belakang. Dia melihat pria itu tersenyum ke arahnya. Lalu dia melanjutkan langkahnya masuk ke apartemen tempat tinggalnya.
Sebelum masuk ke dalam lift, Jodha masih sempat melihat pria itu berdiri di samping mobilnya, memperhatikannya, seakan ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja.
*******************


From YM To Your Heart Part 6

10 comments:

  1. Awww,,awww bkin ketgihan ma next part nya

    ReplyDelete
  2. Eeeh.. yg lama ditunggu akhirx dtg juga, makasi mican minta next lg donk

    ReplyDelete
  3. MakiN Seruu....NeXT.... AKu sukaaaa Jalal....

    ReplyDelete
  4. MakiN seruuu.... Sukaa bangettt saMa Jalal...

    ReplyDelete
  5. Yg ditunggu2 akhirnya muncul jg, yuhhui jalal sdh mulai mengeluarkan jurusnya utk mendekati jodha,lanjut mba

    ReplyDelete
  6. serux....lanjut ya mba...jgn lama...

    ReplyDelete
  7. Jgn lama2 dong min lanjutannya ... Smangatt

    ReplyDelete
  8. Woaw...jalal...jalal...jalal...gentlememt abess deh.masih ada gakbyah stokbcogan kyk gini...xixixi.lanjut yaa..semangaat.menunggu dg tidak sabar thortik

    ReplyDelete
  9. Waaahh so gentleman...mau dong..buat saya aja, Jalalnya..

    ReplyDelete
  10. waouwww....suka banget ceritax..jgn lama2 dong..penasaran nich ..

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.