From YM To Your Heart Part 8 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 8




FROM YM TO YOUR HEART
Part 8
By Tyas


~~~~~~~~~~~~
Kamis, 30/03/13
Aadhya Jodha : Analisa perbandingan Golden Textiles dan Golden Beverages sudah saya email.
Aadhya Jodha : Anda sudah menerimanya?
Aadhya Jodha : Sir?
1 jam yang lalu
Rashed Jalal : Ke ruanganku. Sekarang
~~~~~~~~~~~~

Jalal sedang kesal. Jodha bisa merasakannya. Pasti gara-gara pembicaraan yang terjadi di dalam lift tadi pagi.
Semuanya bermula saat Jodha mengantri lift di lobi bersama beberapa orang karyawan saat baru tiba di kantor. Mendadak Sneyka datang dari arah belakangnya, menggamit lengannya dan menarik tubuhnya sedikit menjauh dari kemurunan rekan-rekan mereka. Tanpa basa-basi, Sneyka langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
“Jodha, aku baru tahu apa yang terjadi antara kau dan Varun, kenapa kau tidak menceritakannya padaku?! Apa itu alasanmu kau absen dua hari kemarin?! Apa kau baik-baik saja?! Apa semuanya benar-benar berakhir?! Kau batal menikah? Sungguh?! Ya Tuhan...Bagaimana perasaanmu? Kau pasti sangat sedih...” pertanyaan beruntun itu keluar dari bibir Sneyka.
“Sneyka, satu per satu...” 
“Oh maaf, aku sangat penasaran, jadi semuanya ingin kutanyakan. Sebenarnya aku berusaha menelponmu kemarin, tapi nomormu sulit dihubungi. Memangnya kau pergi kemana?” selidik Sneyka. Jodha hanya tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Lebih aman menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Denting pintu lift mengalihkan perhatian mereka. Jodha melangkah masuk ke dalam lift diikuti oleh Sneyka di belakangnya. Baru masuk ke dalam lift, Jodha langsung berhadapan dengan Jalal yang sudah berada di dalam. Dan pria itu memandang tepat ke arah dirinya. Tatapannya yang dalam mampu melemaskan lutut Jodha  sejenak dan langkahnyasempat terhenti karena terkejut. Karena berhenti mendadak, tubuhnya sempat terdorong dan terdesak oleh orang lain yang masuk ke dalam lift yang sama. Akhirnya Jodha berdiri tepat di depan Jalal.
Lain lagi dengan reaksi Sneyka saat melihat ada Chief Finance di dalam lift, wajahnya langsung berubah kecut dan nyalinya menciut. Dia masih ingat saat pimpinannya itu membentaknya gara-gara kelakuannya yang tidak profesional.
“Se..Selamat pagi, Sir...” sapa Sneyka dengan sedikit terbata. Tanpa menyadari ada percikan-percikan tak kasat mata antara Chief Finance dan temannya, Jodha.
Salamnya hanya dibalas dengan anggukan kepala oleh Jalal.
“Eh...Jodha...” bisik Sneyka di dekat telinga Jodha melanjutkan pembicaraan mereka di luar tadi, “Apa kau sudah bicara lagi dengan Varun setelah kalian putus?! Bukannya aku ingin tahu, tapi dia terus-menerus menelponku dan menanyakan tentang dirimu....Dia bilang dia berusaha menelponmu, tapi kau tidak pernah menjawabnya, dia ingin minta maaf padamu. Sepertinya dia bersungguh-sungguh, apa kau tidak ingin mempertimbangkannya lagi? Kalian sudah bersama 2 tahun, sayang sekali kalau tidak sampai pernikahan. Tapi, omong-omong apa yang menyebabkan kalian putus?!”
Jodha ingin sekali menyumpal mulut Sneyka yang terlalu lancar mengalirkan semua kata-kata itu. Kalau saja temannya ini sedikit lebih peka dan mereka sedang mengobrol di tempat lain, Jodha akan menjawab semua pertanyaan itu. Tapi masalahnya, mereka sedang di dalam lift, ditambah lagi tepat di belakang mereka ada Jalal yang pasti bisa mendengar semuanya.
Dari pantulan dinding kaca lift di depannya, Jodha bisa melihat tatapan tajam Jalal yang seakan bisa menembus punggungnya. Dia terlihat sangat marah dan kesal. Beruntung lift sudah berhenti di lantai 3. Cepat-cepat Jodha melangkah keluar, menjauhkan diri dari tatapan Jalal yang membuatnya sesak napas.
Dan sekarang dia disini, di dalam ruangan Chief Finance, sedikit gemetar karena takut, keringat dingin sudah meluncur di tengkuknya, seakan sedang menanti vonis hukuman dari algojo.
“Aku memintamu merekap laporan laba rugi sejak awal Golden Textiles dan Golden Beverages dibangun sampai sekarang. Apa kau mengalami kesulitan?!” tanya Jalal dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di tangannya.
“Tidak, Sir.” Jawab Jodha pelan.
“Kalau begitu kenapa laporannya hanya kau buat sejak tahun ‘97?!”
“Karena sebelum ’97 semua data belum tersimpan digital...”
“Apa itu masalah besar?”
“Tidak juga, Sir...tapi saya butuh otorisasi dari Anda untuk masuk ke gudang arsip.”
“Kenapa kau tidak langsung memintanya?!”
“Eh..saya..”
“Kau sengaja tidak meminta otorisasi karena kau malas memintanya atau karena kau tidak mau berurusan denganku!?” desak Jalal.
“Tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi.” Sangkal Jodha.
“Perbaiki.” Kata Jalal sambil menyerahkan kembali laporan itu pada Jodha yang duduk di depannya, “Sore ini selesai?! Otorisasi akan kuberikan. Kau cari saja dokumen yang kau butuhkan.”
“Ya, Sir...” Jodha berdiri dan keluar dari ruangan Jalal.
Tanpa membuang waktu lagi, Jodha segera menuju ke gudang arsip di lantai 8. Terlebih dahulu dia menuju meja penjaga keamanan yang berada tepat di depan pintu lift. Setelah ID card-nya divalidasi, Jodha diijinkan masuk ke dalam ruangan yang khusus diperuntukkan menyimpan semua arsip penting perusahaan.
Deretan rak-rak besi dan lemari kabinet berjajar di seluruh ruangan dan sepanjang dinding. Ruangannya terasa lembab tapi tidak menyesakkan. Suhu ruangannya diatur tetap pada suhu normal ruangan. Ada alat pengukur kelembaban yang diletakkan di setiap sudut ruangan untuk memantau tingkat kelembaban udara di ruangan ini. Ruangan yang terlalu dingin, terlalu basah atau terlalu panas akan merusak dokumen-dokumen disini.
Jodha menelusuri tiap rak untuk mencari dokumen sesuai nomor index yang tertera di kertas petunjuk yang tadi sempat dimintanya dari ruangan administrasi.
Begitu menemukan salah satu dokumen yang dicarinya, Jodha membukanya dan memilah-milah data yang dibutuhkannya. Tak terpikir untuk membawanya ke meja yang hanya ada satu dan terletak di samping pintu masuk, Jodha meletakkan dokumen-dokumen itu di lantai dan langsung menenggelamkan diri dalam deretan angka-angka yang selalu menarik perhatiannya untuk dianalisa.
Entah sudah berapa menit atau berapa jam Jodha asyik memperhatikan dokumen beserta angka-angkanya, tanpa sadar dia sudah melewatkan jam makan siang bahkan hingga beberapa jam sesudahnya. Dan ini membuat seseorang di luar sana menjadi cemas.
Karena terlalu asyik memperhatikan data-data di tangannya, dia bahkan tidak sadar ada seorang pria sedang berdiri di belakangnya, memperhatikannya dengan seksama.
Jodha terlonjak setengah mati, saat tiba-tiba merasakan ada tubuh yang ikut duduk di lantai tepat di sampingnya.
“Jalal, Sir...?!!” pekik Jodha terkejut sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang, “Untuk apa kau disini?!”
“Hmmh..Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa menahan kakiku yang ingin menemuimu.” Jawab Jalal melebih-lebihkan.
“Ck...jangan sekarang... Aku harus menyelesaikan laporan yang diminta oleh Tuan Jalal Rashed yang terhormat.” Balas Jodha dengan gerakan tangan dibuat-buat.
Jalal tersenyum, “Itu aku, kan?!”
Jodha membalas dengan memasang mimik wajah seakan tak mengenali Jalal.
“Kau sadar sudah berapa lama kau mengurung diri dalam ruangan ini?” tanya Jalal setelah beberapa saat diam.
Jodha menoleh dari berkas-berkas di tangannya, lalu meraih ponsel dari saku kemejanya, “Mmh...empat jam?!”
“Ini, makanlah....” perintah Jalal sambil meletakkan sebungkus roti isi ke telapak tangan Jodha, “Kau juga melewatkan makan siang.”
Jodha bahkan tidak memperhatikan Jalal membawa makanan kesini.
“Kau tidak perlu melakukan semua ini.” Kata Jodha.
“Aku harus. Aku menyuruhmu bekerja, bukan menyuruhmu berpuasa.” Jawab Jalal sedikit ketus.
“Terima kasih.” Jawab Jodha sambil tersenyum kecil yang dibalas Jalal juga dengan senyuman kecil di bibirnya.
Beberapa saat mereka menikmati makan siang mereka yang terlambat dalam keheningan. Tidak ada yang bersuara, apalagi bertanya. Hanya kedua pasang mata mereka yang bergerak-gerak, kadang tanpa sengaja saling bertatapan, kadang menunduk malu, lain waktu mata mereka saling tersenyum dan di waktu lain mata mereka berbicara apa yang tak mampu diugkapkan kata-kata.
Setelah merasa cukup kenyang, Jodha melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda. Dan kali ini Jalal bersikeras tetap menemaninya.
“Sebenarnya analisa ini kau butuhkan untuk apa?” tanya Jodha tanpa mengalihkan matanya dari atas kertas yang dipegangnya.
“Golden Road berencana ekspansi bisnis ke wilayah Amerika Selatan. Tapi para direksi belum memutuskan mereka akan mengembangkan bidang usaha yang mana...Kira-kira yang mana menurutmu?” tanya Jalal serius. Nada bicaranya seakan-akan Jodha adalah kliennya.
“Aku belum pernah mengambil keputusan sepenting itu. Tapi, dua anak perusahaan ini sama-sama menjanjikan. Kalau menurutmu?”
“Golden Textiles lebih menjanjikan. Perhatikan laba mereka sejak berdiri, dalam grafik tidak akan terlihat peningkatan yang tajam, cukup landai tapi selalu naik. Sedangkan Golden Beverages, dalam grafik, naiknya tajam tapi juga pernah turun, lebih tiddak stabil. Kau tahu kenapa? kebutuhan textiles tidak pernah terpengaruh cuaca, sebaliknya penjualan produk minuman sangat tergantung pada cuaca, belum lagi selera penduduk lokal yang tidak bisa diglobalkan.” Jalal menjelaskan panjang lebar.
Jodha mendengarkan dengan seksama, dia salut pada kemampuan penilaian Jalal yang luar biasa hanya berdasarkan angka-angka di atas kertas. Wajahnya melembut saat mendengarkan semua penuturan Jalal, tanpa sadar, seulas senyum terbit di ujung bibirnya.
“Jodha..”
“Mmmh...”
“Apa lagi yang harus kulakukan agar kau menyukaiku?”
“Hah..?!”
“Bukan apa-apa...”
Sebenarnya Jodha mendengar pertanyaan terakhir Jalal, tapi dia pura-pura tak mendengarnya. Dia hanya berusaha mengulur waktu, entah sampai kapan, saat tiba saatnya dia harus menentukan perasaannya sendiri.
Tepat saat itu, ponsel Jodha berdering. Jodha enggan menjawab setelah melihat siapa penelponnya. Jalal bisa menduga siapa yang menelpon Jodha. Karena kesal, dia rebut ponsel Jodha dari tangannya, melucuti kartu SIM nya lalu mematahkannya jadi dua. Jodha terbengong-bengong melihat apa yang dilakukan Jalal.
“Apa....apa yang kau lakukan?!” tanya Jodha marah.
Jalal hanya diam saja. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya. Memencet beberapa tombol, dan menyerahkan ponsel itu pada Jodha.
“Kau pakai ponsel ini saja. Di dalam situ hanya ada nomorku. Jadi, Varun tidak akan mengganggumu.” Kata Jalal tak mau dibantah.
“Tunggu, kau memang bosku, tapi kau tidak bisa mengatur kehidupan pribadiku. Aku sendiri bisa menghadapi Varun.... Kembalikan ponselku!” Jodha berusaha merebut kembali ponselnya dari tangan Jalal, tapi tidak berhasil.
Jodha terus mencoba, tapi Jalal bisa terus menghindar. Kini mereka saling berebut seperti anak kecil yang memperebutkan sebuah mainan. Karena berada pada posisi yang sedikit tidak menguntungkan, Jodha kehilangan keseimbangan dan tubuhnya jatuh serta mendorong tubuh Jalal ikut jatuh di bawahnya. Kini posisi Jodha menindih tepat di atas tubuh Jalal. Dada Jodha di atas dada Jalal. Kaki mereka saling mengait. Mereka sama-sama terpaku saat menyadari posisi tubuh mereka yang akan terlihat vulgar seandainya ada orang lain yang melihat.
“Hhhh...aku bersedia berebut apa saja denganmu, jika tahu akan seperti ini hasilnya.” Jalal mendesah senang, meski sebenarnya dia sama gugupnya dengan Jodha.
Dengan gerakan kaku, Jodha berusaha bangkit dari atas tubuh Jalal, secara harfiah, lalu tangannya merapikan rambutnya untuk menutupi tangannya yang gemetar karena gugup.
“Tolong, kembalikan ponselku.” Kata Jodha pendek, menekankan setiap kata.
“Kalau kau terus membantah, aku akan menciummu...” kata Jalal dan mendapat balasan mata yang melotot dan bibir yang mengerucut marah ke arahnya.
“Aku melakukan ini demi ketenangan hidupmu.” Ujar Jalal.
Sebenarnya Jodha tidak percaya Jalal akan benar-benar melaksanakan ancamannya, tapi...Jodha tidak mau ambil resiko. Hanya membayangkan Jalal menciumnya, rasanya seperti ada ratusan petasan meledak di dalam perutnya.
Akhirnya dengan terpaksa Jodha menuruti permintaan Jalal. Diterimanya ponsel milik Jalal yang notabene adalah ponsel mahal keluaran terbaru. Harga ponsel ini setara dengan tiga kali gaji bersihnya. ‘Apa sebenarnya tujuan Jalal? Kenapa dia mudah sekali memberikan barang semahal ini untuk orang yang baru dikenalnya?....Apa dia memang benar-benar menyukaiku?’ tanya Jodha dalam benaknya.
Akhirnya mereka berdua keluar dari ruang arsip setelah pukul empat sore. Jodha kembali ke mejanya dan menemukan ada memo  post-it yang ditempelkan di monitornya. Tertulis disana ‘Kutunggu di Boral Park, north parking, pulang kerja, Varun’.
Jodha menghela napas dengan dengan berat. Baiklah, dia akan menyelesaikannya malam ini, itu tekadnya. Dia harus bisa tegas pada Varun agar pria itu tidak terus-menerus mengganggunya. Jodha tidak pernah mentolerir pengkhianatan. Varun sendiri yang memilih jalan seperti ini, tidak akan ada kesempatan kedua seandainya Varun memintanya.
Keluar dari gedung Golden Road, Jodha langsung dicegat oleh mobil Jalal.
“Ayo, kuantar.” Kata Jalal dari dalam mobil.
“Terima kasih, tapi aku masih punya urusan lain.” Tolak Jodha baik-baik.
“Aku tahu, kau akan menemui Varun kan?! Aku tahu tempatnya...” potong Jalal terus terang.
“Bagaimana kau bisa tahu...?” selidik Jodha. Jalal hanya menaikkan kedua alisnya tapi tidak menjawab.
Jalal tidak akan menjawabnya sebelum Jodha mau masuk ke dalam mobil. Sambil menggerak-gerakkan mulutnya karena sebal, Jodha terpaksa masuk ke dalam mobil Jalal.
“Aku melihat pesannya masih ada di mejamu. Kau menyimpannya dengan sengaja atau tidak, yang pasti aku hanya ingin melindungimu. Kau akan menemui MANTAN tunanganmu yang sepertinya masih tidak ingin melepasmu. Berhadapan dengan orang sepert itu, apapun bisa terjadi.” Jalal menjelaskan dengan tenang.
Dalam hati, Jodha mengakui kebenaran kata-kata Jalal. Dua tahun membina hubungan tidak menjadi jaminan kita mengenal pasangan kita sepenuhnya. Petuah itu sesuai dengan apa yang dipikirkan Jodha saat ini. Dia pikir dia sudah mengenal Varun dengan baik dan percaya penuh padanya, ternyata dia mampu berkhianat. Sekarang Jodha tidak berani menjamin bahwa Varun hanya akan bicara baik-baik padanya. 
“Baik, kau hanya akan menemaniku. Itu saja.... Aku yang akan bicara dengan Varun.” Akhirnya Jodha mengalah pada keinginan Jalal tapi tetap menentukan batasannya.
Jalal setuju atau tidak, Jodha tidak tahu karena Jalal tidak berkata apa-apa lagi. Pria itu langsung memutar kontak dan menjalankan mobilnya ke arah Boral Park.
Perjalanan hanya sekitar 20 menit memecah kemacetan kota Mumbay saat jam sibuk pulang kantor. Karena hari ini bukan akhir pekan, Boral park sedikit lengang. Dengan mudah, Jalal langsung membelokkan mobilnya ke arah timur dari area parkir tempat itu.
Sekeliling tempat itu dibatasi oleh tembok beton. Hanya terlihat beberapa mobil dan motor yang terparkir disana. Hanya satu dua orang yang terlihat di area parkir itu.
Dan Jodha melihatnya. Dia melihat pria yang dicarinya sedang berdiri di samping motor kesayangannya. Motor yang selalu dikendarainya untuk membonceng Jodha saat mereka pergi berkencan. ‘Kenangan itu masih ada rupanya’, Jodha berbicara dalam hati, ‘aku tidak berusaha melupakannya tapi juga tidak ingin mengingatnya lagi. Rasanya abu-abu, tanpa warna dan tidak hidup. Hubungan seperti apa yang selama ini kupertahankan demi dia?’
Jalal memarkir mobilnya tak jauh dari tempat Varun. Jodha turun terlebih dahulu dan Jalal menyusulnya. Namun saat Jodha mendekati Varun, Jalal tidak ikut, dia berdiri agak menjauh.
“Langsung saja, apa yang kau inginkan!” Jodha berkata dingin.
“Jodha..akhirnya...kau mau bicara denganku....” Varun berbicara dengan kelembutan yang dibuat-buat, lalu nadanya berubah saat mengatakan, “tapi...kenapa pria  itu juga datang bersamamu?!”
“Itu urusanku.” Potong Jodha.
“Jodha...”
“Kalau tidak ada yang penting, aku pergi....”
“Jangan Jodha....aku benar-benar ingin bicara denganmu...”
“Cepat katakan!”
“Jodha, aku menyesal....Kau harus tahu, semua yang terjadi bukan karena keinginanku...Aku masih mencintaimu dan aku sangat merindukanmu....” wajah Varun memelas.
Jodha tidak berkata apa-apa, dia hanya diam memperhatikan tanpa ekspresi.
“Jodha...aku tidak ingin kita berpisah. Aku ingin kita bersama lagi....Kau masih ingin menikah denganku, kan?!”
“Tidak! Aku tidak mau kembali lagi bersamamu, apalagi menikah denganmu...Kalau kutanya, apa saja yang sudah kau lakukan untukku selama kita bersama?! TDAK ADA....Ironisnya, aku baru menyadarinya sekarang, kau...tidak pernah melakukan apapun untukku...Akulah yang harus selalu menjaga perasaanmu, akulah yang harus menuruti keinginanmu, bahkan akulah yang harus membayar setiap makanan yang kau beli...Menyedihkan!.... Akulah yang menyedihkan!...Karena aku bahkan tidak sadar kalau aku hanya dimanfaatkan, belum menikah saja kau sudah memperlakukanku dengan rendah, apalagi nanti seandainya kita menikah...Aku bersyukur, Tuhan masih melindungiku dari pria munafik sepertimu....Tuhan lebih dulu menunjukkan wajah aslimu sebelum aku terperangkap hidup bersamamu...Kau...cari saja orang lain!” Jodha langsung berbalik pergi.
Varun berusaha meraih tangan Jodha, “Jodha...jangan pergi dulu..”
Jodha memutar tubuhnya dengan cepat dan membentaknya, “Jangan sentuh aku!...Dan jangan menelponku lagi!...Pokoknya jangan muncul lagi di sekitarku!”
Jodha berbalik dan berjalan menuju tempat Jalal, lalu suara di belakangnya memaksanya untuk kembali berhenti, “Jodha...Kalau kau pergi, aku akan bunuh diri!”
Jodha menoleh kembali pada Varun dan shock melihat tindakan nekad Varun yang tidak pernah diduganya.
Varun menodongkan sebuah pisau ke dadanya sendiri, “Jodha...kalau kau meninggalkanku, aku akan mati!”
“Varun...!” pekik Jodha.
“Jodha, tenanglah...”tiba-tiba Jalal sudah ada di sampingnya.
“Hei kau...Jangan ikut campur! Ini antara aku dan Jodha...!” teriak Varun sambil menunjuk-nunjuk Jalal.
Yang ditunjuk-tunjuk hanya menyeringai geli.
“Jalal, lakukan sesuatu...!” Jodha mulai panik.
“Kau tidak perlu panik. Dia hanya menggertak.... Kita pergi saja dari sini. Tidak perlu menemani orang yang mau bunuh diri.” Ujar Jalal santai
“Kau jangan mempengaruhi pikiran Jodha!.. Aku bersungguh-sungguh!.. Kalau Jodha tidak mau menerimaku, lebih baik aku mati!” ancam Varun makin menempelkan pisau itu ke dadanya.
Perdebatan mereka rupanya mulai menarik perhatian beberapa pengunjung Boral park. Mereka mulai mendekat karena penasaran.
“Varun, tolong lepaskan pisau itu.... Jangan bertindak bodoh!” Jodha berusaha menenangkan.
“Aku akan melepasnya kalau kau setuju kembali bersamaku.”
“Kita akan bicarakan itu lagi setelah kau melepaskan pisau itu.” Jodha mencari alasan, lalu menoleh ke arah Jalal mencari dukungan, “Jalal, pikirkan cara agar dia tidak nekad.....” bisik Jodha di telinga Jalal.
“Begini, Varun....” Jalal mencoba mengajaknya bicara.
“Kau jangan menghalangiku!”
“Aku tidak akan menghalangimu, percayalah....Kalau kau mau bunuh diri, silakan...Aku tidak keberatan sama sekali....”
“Kau ingin aku mati?!”
“Kau sendiri yang ingin mati...”
“Baik, aku akan mati...di depan Jodha...Akan kubuktikan sedalam apa cintaku padanya...!”
“Cepat lakukan...!”
”Pasti kulakukan...!”
Jodha seperti menonton bola tenis yang dipantulkan ke kanan dan ke kiri mendengar dua pria itu saling melemparkan kata-kata, hingga dia tidak tahan lagi dan berteriak, “Stop!”
“Varun, turunkan pisaumu dan kita akan bicara baik-baik!” Jodha berkata pada Varun, lalu pada Jalal, “Kau tidak menolong sama sekali...”
“Setidaknya dia belum bunuh diri, kan?!” jawab Jalal santai sambil mengedikkan bahunya.
Jodha mengacuhkan Jalal dan mencoba cara lain untuk menenangkan emosi Varun.
“Varun...”
“Jodha, aku sungguh-sungguh...” potong Varun.
Jodha mencoba mengacuhkan pisau yang masih digenggam Varun di depan dadanya, tapi gagal, makin lama dia makin ngeri melihat pisau itu seakan berayun-ayun seirama dengan tarikan napasnya.
Ditariknya lengan kemeja Jalal menuntut perhatian, “Jalal, kumohon...lakukan sesuatu...” pinta Jodha terdengar putus asa.
“Baik...sebentar..aku telepon polisi dulu..” ujar Jalal.
“Polisi?!”
“Polisi?!”
Jodha dan Varun sama-sama memekik ketakutan mendengar kata polisi disebut-sebut. Apalagi Varun, dia mulai terlihat berdiri dengan gelisah, kedua kakinya bergerak-gerak seperti kesemutan.
“Untuk apa kau telpon polisi?” tanya Jodha dengan suara tertahan.
“Tentu saja demi kebaikanmu dan aku. Aku tidak mau polisi salah mengira kita sebagai pembunuh karena berada dekat dengan mayat orang itu...” balas Jalal lalu benar-benar menelpon polisi.
“Jodha, aku...aku akan mati...” kata Varun gugup masih mencoba mengembalikan perhatian Jodha padanya.
“Jalal, apa yang harus kita lakukan sekarang?!”
“Menunggu...”
“Menunggu apa?”
“Menunggu mana yang terjadi lebih dulu, Varun yang lebih dulu mati atau polisi yang datang lebih dulu....”
“Jalal!??” justru Jodha yang kesal karena sikap Jalal yang sepertinya menganggap semua ini hanya main-main saja. Sedangkan dia mengkhawatirkan Varun meski pria itu telah menyakiti hatinya.
“Emm Varun...Kau yakin ingin menusuk dadamu?! Menurut pengalamanku, sebaiknya kau mengiris pembuluh darah di lehermu saja. Kau akan mati lebih cepat dan tidak akan terlalu sakit.....Kalau kau menusuk dadamu, kau butuh tekanan yang lebih besar karena harus melewati tulang rusukmu sebelum menembus jantungmu....Dan yang tidak kusarankan adalah bagian perut, jangan menusuk bagian itu, darah yang keluar akan sangat banyak tapi kau mati dengan lambat karena itu kau akan merasakan sakit yang teramat sangat sebelum akhirnya tubuhmu lemas....Belum lagi isi perutmu yang akan ikut keluar saat kau menarik pisau itu...akan terlihat menjijikkan dan cukup berantakan...” Jalal menjelaskan bak seorang dokter forensik menganalisa korbannya.
Jodha mulai memahami jalan pikiran Jalal, dengan caranya yang unik dan terkesan tidak peduli, sebenarnya Jalal mencoba mengulur-ulur waktu dan memecah pikiran Varun agar mengurungkan ancamannya.
Dia memperhatikan Jalal di sampingnya dan tersenyum, kagum pada cara berpikirnya.
“Jadi Varun, kau sudah memutuskan kapan akan melakukannya?! Karena aku harus menutup mata Jodha...kau tahu...dia agak ngeri melihat darah...Dan jangan khawatir, setelah kau mati, aku akan menjaga Jodha, ini janji antar pria..”
Varun terpancing, tanpa sadar tangannya yang memegang pisau mulai mengendur.
“Maksudmu kau akan merebut Jodha dariku?!”
“Kau kira Jodha akan hidup selibat setelah kau mati. Tidak mungkin...Dia wanita normal dan juga sehat, pasti dia membutuhkan pria yang kuat seperti aku....”
“Kau ini bicara apa?!” Jodha menyela perdebatan antara Jalal dan Varun.
Selagi mereka bertiga berdebat, dari sudut matanya, Jalal melihat beberapa orang petugas polisi datang mengendap-endap di belakang Varun.
Varun sama sekali tidak menyadari kehadiran mereka, dia masih mengayun-ayunkan pisau itu di depan tubuhnya, lalu dalam gerakan cepat, tiga orang polisi serentak menyergap Varun dari arah belakang dan menjatuhkannya. Mereka juga berhasil melucuti pisaunya. Varun berteriak-teriak histeris dan ketakutan. Berulang kali dia meneriakkan kata-kata ‘aku tidak bersalah’, tapi mereka sama sekali tidak bergeming.
Jodha langsung lunglai begitu drama percobaan bunuh diri ini selesai, untung saja ada Jalal di sampingnya yang lebih dulu menahan tubuhnya sebelum tersungkur di tanah. Dengan sigap Jalal memapahnya dan mendudukkannya di kursi mobil, sementara pintunya tetap dibiarkan terbuka.
Jalal mengangsurkan sebotol air minum, entah dari mana dia mendapatkannya, pada Jodha. Langsung saja air itu diminumnya sampai tersisa sepertiga dari botolnya. Jodha menuruti instruksi Jalal untuk mengatur napasnya agar dia menjadi lebih tenang.
Butuh waktu sepuluh menit lebih bagi Jodha hingga perasaannya bisa tenang sepenuhnya. Jalal meninggalkannya sebentar untuk berbicara pada petugas polisi, memberi kesaksian atas insiden yang baru terjadi.
“Kau sudah lebih tenang?” tanya Jalal saat sudah kembali di dekatnya.
Jodha mengangguk sambil tersenyum.
“Aku antar pulang ya?” kata Jalal dengan suaranya yang lembut, bukan hanya mampu menenangkan jiwanya tapi juga telah menghangatkan hatinya.
Selama di dalam mobil, mereka tidak berbicara. Sama-sama menikmati ketenangan setelah keadaan kacau yang baru saja mereka alami.
Malam ini, Jalal mengantarkan Jodha sampai ke depan pintu apartemennya. Berhenti di depan pintu, Jalal meraih kedua tangan Jodha, dan anehnya Jodha tidak menampiknya seperti sebelumnya.
Ada ketenangan dan perlindungan yang terasa dalam genggaman tangan Jalal, perasaan yang sangat asing dan menyenangkan.
“Kau tidak perlu takut, kalau Varun masih mengganggumu, katakan padaku, aku tidak hanya akan membuatnya dipenjara.” Kata Jalal membuat Jodha bertanya dalam hati apa yang lebih menakutkan daripada penjara?
“Jangan khawatir. Aku bisa menjaga diri....Dan...terima kasih lagi untuk...apapun yang kau lakukan hari ini...” ucap Jodha tulus.
“Kau bisa membalasnya dengan berkencan denganku...” balas Jalal menggoda.
“Aku tidak tahu, Jalal...Aku tidak ingin tampak putus asa gara-gara seorang pria meninggalkanku... tapi aku juga masih belum ingin menjalin hubungan baru...”
Jalal mengusap-usap lembut buku tangan Jodha yang masih ada dalam genggamannya, “Tidak apa-apa...masih ada lain waktu...”
Jalal melepaskan tangan Jodha dan menganggukkan salam, lalu berbalik pergi dengan kepala sedikit tertunduk. Jodha menatap punggung Jalal yang menjauh, andai saja dia wanita yang lebih berani. Berani untuk jatuh cinta lagi, berani untuk mengakuinya dan berani merasakan sakitnya. Dia hanya berharap apa yang dilakukannya saat ini adalah yang terbaik untuk mereka berdua.

**************

From YM To Your Heart Part 8

7 comments:

  1. Semangat abang jalal utk mengejar cintanya neng jodha ya,lanjut mba

    ReplyDelete
  2. Hmmm sll sk dengan tulisan ini panjang n sesuai EYD ini la contoh para penulis yg berbobot isi ceritanya juga renyah mudah dimengerti dan disertai candaan2 yang tidak membosankan....selamat buat penulis selalu di nanti cerita2 keren seperti ini ��������

    ReplyDelete
  3. Hmmm sll sk dengan tulisan ini panjang n sesuai EYD ini la contoh para penulis yg berbobot isi ceritanya juga renyah mudah dimengerti dan disertai candaan2 yang tidak membosankan....selamat buat penulis selalu di nanti cerita2 keren seperti ini ��������

    ReplyDelete
  4. Akhirnya ,, launching juga ni ff,,,
    seneng bangeet deeh,, jangan lama lama yaaa

    ReplyDelete
  5. lanjut mba.... suka bangeet ceritax....

    ReplyDelete
  6. asyik akhirnya muncul,
    jarak antar episode diperkecil please..
    lama nian menunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  7. mupeng...berat...mau dong dilindungi kang jalal...

    makin seru nih jalan ceritanya

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.