Seuntai Harapanku Part 35 (END) - By : Erinda - ChusNiAnTi

Seuntai Harapanku Part 35 (END) - By : Erinda



Dan  Jalal pun telah berada di dalam kamarnya, kamar Jodha dan Jalal berdampingan di hotel ini.
Sebenarnya Jalal juga sudah lelah dan ingin segera mengistirahatkan tubuhnya, namun masih ada hal yang harus diketahuinya, buru-buru Jalal menelphone seseorang.
^^^
“Halo Husen, bagaimana sudah kalian urus semua yang aku minta kemarin?” Tanya Jalal langsung begitu sambungan telephone nya terhubung dengan Husen

“Cih,, Kau terlalu to the point bro”
“Aku sangat lelah hari ini Husen, cepat katakan sudah sampai mana persiapan nya”
“Kami baru saja mulai mengumpulkan data dan document yang di butuhkan, setelah itu baru kami akan berangkat kesana untuk mendapat izin dan yang lain nya. Mungkin dalam dua hari ini semuanya akan selesai” Jelas Husen
“Baiklah” Jalal langsung menutup sambungan telephone nya secara sepihak membuat Husen di seberang sana mendengus kesal dengan sikap “sopan” sepupunya ini.

Jalal sedang merencanakan sesuatu untuk kekasihnya, sesuatu yang akan ia lakukan sekali seumur hidup dan hanya pada Jodha, untuk Jodha.
^^^
Tiga hari setelah pernikahan Javeda dan Bhaksi, Jodha sudah kembali ke appartement nya sejak kemarin, kini ia tinggal sendiri disini. Merasa kesepian? Tentu saja Jodha merasakan itu, namun ia tidak ingin berlarut-larut lagipula mereka berpisah tidak dengan dalam keadaan berduka justru sebaliknya.

Jodha sedang memasukan beberapa pakaian ke dalam koper, entah untuk apa tiba-tiba saja semalam Jalal menelphon nya dan mengatakan ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat cukup jauh dan menginap, kemana dan berapa lama nya Jodha tidak tahu karena Jalal tidak menjelaskan padanya semalam, percuma Jodha memaksa untuk memberi tahu tapi Jalal kekeuh tidak ingin memberi tahunya dan mengatakan bahwa Jodha akan tahu itu nanti.

“Dasar bodoh,, berapa banyak baju yang harus ku bawa kalau begini? Dan baju apa saja yang harus kusiapkan? Baju hangat atau baju yang tipis saja? Kemana sebenarnya dia akan mengajak ku? Egois, Aarrgghhh,,, Jalal menyebalkan” Gerutu Jodha, sudah sejak tadi pagi kekesalan menghiasi wajah cantik nya.

Setelah beberapa jam berlalu, kini Jodha sudah siap dengan 2 koper besar di hadapan nya, ia membawa beberapa lembar baju hangat, baju tipis dan baju santai lain, juga perlengkapan nya yang lain, jadi ia sudah memutuskan untuk membawa semua yang menurutnya mungkin akan berguna disana nanti. Tak lama handphone nya berdering, melihat nama Jalal, Jodha segera mengangkatnya.

“Kau sudah siap sayang?” Kata Jalal di seberang sana
“Sudah, kau dimana?” Tanya Jodha datar
“Aku ada di bawah, di tempat parkir appartement mu. Ayo turunlah, kita berangkat sekarang”
“Kau harus naik kesini Jalal, kau tahu aku membawa 2 koper besar. Tidak mungkin aku bisa membawa nya turun sendiri kan?” Kata Jodha mulai kesal
“2 koper besar? Untuk apa sayang?”
“UNTUK APA??!!!” Teriak Jodha di handphone nya dan sontak membuat Jalal menjauhkan handphone dari telinganya
“Sayang,, kau kenapa,,hhmm,,,?” Tanya Jalal tanpa dosa
“Dasar bodoh” Dan Jodha mematikan handphone-nya secara sepihak, kekesalan sudah menggunung di dadanya dan ingin segera dilepaskan, ingin rasanya ia meneriaki Jalal tepat diwajahnya sekarang.

“Arrrgghhh,,, Biar saja, aku tidak akan mau turun kalau dia tidak menjemputku. Tidak jadi pergi pun tidak apa” Jodha kembali duduk di sofa dengan mengembungkan kedua pipinya, kebiasaannya jika ia sedang kesal

Beberapa menit kemudian terdengar pintu appartement dibuka, siapa lagi kalau bukan Jalal
Jalal langsung masuk kedalam dan menghampiri Jodha yang berada di ruang tamu, sekilas ia melirik 2 buah koper besar yang berada di depan Jodha dan mengernyit heran.

“Sayang,,” Panggil Jalal lembut dan ia mengambil tempat duduk di sebelah gadisnya
Jodha mengacuhkan Jalal, ia membuang pandangannya kearah lain menghindari Jalal, namun Jalal tidak hilang akal, ia meraih dagu Jodha dan membawa wajah cantik gadisnya menghadap padanya, mata Jodha berkaca-kaca menatap Jalal.

“Dia menangis?Ya Tuhan,, Apa sebenarnya yang sudah ku lakukan” Batin Jalal

“Kau kenapa sayang? Hhm,,,” Jalal menangkup wajah Jodha dengan kedua tangan nya
“Kau,,,hiks,,hikss,,, me,,nyebal,,kan,,hiks,,” Akhirnya Jodha tidak bisa membendung lagi air matanya, dirinya sudah terlalu kesal dengan Jalal hingga akhirnya dia menumpahkan kekesalan nya dengan  menangis
“Menyebalkan apanya? Aku akan mengajak mu ke suatu tempat sayang, apa kau tidak senang?”
“Aku senang awalnya tapi kau tidak mengatakan dimana, berapa lama dan untuk apa kita pergi, kau membuatku bingung harus menyiapkan berapa banyak pakaian dan apa saja yang harus ku bawa, setelah aku menyiapkan semuanya dalam 2 koper itu kau seenaknya saja menyuruhku turun sendiri kebawah, kau jahat sekali, apa tidak kasihan padaku hah” Cerocos Jodha dalam satu tarikan nafas pada Jalal, wajahnya memerah karena kesal namun bagi Jalal itu justru sangat menggemaskan. Karena tidak mendapat tanggapan apa-apa dari Jalal, Jodha akhirnya memeluk Jalal dan menumpahkan kembali air matanya di dada Jalal, walaupun ia sangat kesal dengan Jalal saat ini namun tak bisa dipungkiri bahwa di dalam pelukan Jalal jugalah ia bisa kembali tenang.

“Astaga,,Ternyata aku sudah mencintai seorang gadis yang bisa sangat cerewet dan manja dalam waktu bersamaan” Kata Jalal dalam hati kemudian membalas pelukan Jodha-nya.

“Begini sayang,, apakah semalam aku meminta mu untuk menyiapkan barang-barang untuk kepergian kita hari ini?” Tanya Jalal lembut, mereka masih berpelukan.Tangan Jalal mengelus punggung Jodha untuk menenangkan nya.Jodha menggeleng pelan dalam dekapan hangat Jalal
“Jadi?”Kata Jalal lagi
“Kau menyalahkan ku?!” Sengit Jodha tidak terima, kini ia sudah melepaskan pelukan nya pada Jalal
“Hehehe,,, Tidak sayang. Sudahlah, ayo sekarang kita berangkat, kau tidak perlu membawa apa-apa karena aku sudah menyiapkan semuanya disana,,hhmm”
“Kenapa kau tidak memberi tahuku?”
“Kau tidak bertanya” Jawab Jalal tenang
“Kau menyalahkan ku lagi?!” Jodha sudah siap mengeluarkan tanduknya
“Ya Tuhan,,,,Sudahlah cantik, ayo kita berangkat sekarang” Ajak Jalal lagi dengan sebuah kecupan kilat di bibir Jodha dan langsung membuat gadis itu mengangguk patuh menurut dengan ajakan Jalal dan mendadak jinak padahal tadi ia sudah merencanakan untuk merajuk lebih lamaagar Jalal membujuknya lebih keras lagi tetapi apa mau dikata selalu saja hati dan pikiran nya tidak pernah sejalan jika sudah berhadapan dengan Jalal.Ia selalu dengan mudah luluh dengan sikap Jalal.
^^^
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Jodha dan Jalal tiba di tempat tujuan mereka, Alaska. Emm,, tempat tujuan Jalal lebih tepatnya karena sampai detik ini pun Jodha belum tahu dia berada dimana.
 
Jet pribadi Jalal sudah mendarat namun gadis cantik di sebelahnya ini masih terlelap dalam mimpi nya, ia tidur begitu nyenyak hingga tidak merespon sama sekali tepukan lembut di pipinya, tampaknya ia begitu enggan untuk membuka matanya walau hanya sesaat, Jalal akhirnya menyerah, tanpa berusaha untuk membangunkan Jodha lagi ia segera menggendong Jodha menuruni jet pribadi nya dan menuju mobil yang akan membawa mereka ke sebuah resort mewahyang sudah disiapkannya disini.

Jodha mengerjap-ngerjapkan matanya, akhirnya setelah tidur panjangnya sekarang ia terbangun, ia melihat sekelilingnya.
“Kamar?Kamar siapa ini?Di-dimana Jalal?”Jodha segera menuruni ranjang dan bergegas keluar dari kamar, mencari-cari Jalal.
Saat mencari-cari Jalal, Jodha baru menyadari ia tengah berada di sebuah resort cantik saat ini dengan pemandangan diluar sana yang begitu alami, indahnya.
“Dimana ini sebenarnya?” Gumam Jodha pelan, masih dengan ketakjubannya memandang keindahan alam diluar sana, sesaat ia terlupa untuk mencari Jalal.
“Alaska sayang” Jawab seseorang yang sudah sangat Jodha tahu siapa itu, Jalal.
Jalal memakaikan Jodha baju hangat dan memeluknya dari belakang
“Alaska?” Jodha mem-beo
“Hhmm,,,Tepatnya di kota Fairbanks”
“Fairbanks? Bukankah itu kota dimana kita bisa melihat,,,,” Jodha tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi, ia membalikan tubuhnya dan menutup mulutnya tidak percaya, membuat Jalal tertawa kecil melihat ekspresi kebahagiaan yang terpancar dari wajah gadisnya ini
“Aurora” Kata Jalal
Jodha mengangguk senang, ia langsung memeluk bahagia Jalal
“Te-terima kasih Jalal, semoga cahaya indah itu akan menampakan dirinya saat kita disini” Harap Jodha dalam pelukan Jalal
“Kau pasti akan melihatnya sayang” Jalal menimpali
“Heyy,, Untuk yang satu ini kau tidak bisa membelinya Tuan tapi itu tergantung keadaan alam di sekitar kita dan juga atas izinNYA. Tidak semua orang beruntung bisa menyaksikan secara langsung cahaya Aurora itu”
“Hehehe,,, Iya aku tahu. Kau bahagia sayang?”
“Sangat Jalal, aku sangat bahagia”
“Malam ini akan menjadi sejarah awal hidup kita.Bersiaplah sayang” Bisik Jalal mesra di telinga Jodha
Jodha mendongakan kepalanya menghadap Jalal
“Maksudmu? Jangan macam-macam Jalal”
“Heyy,, Memangnya apa yang kau fikirkan cantik?” Jalal menggoda
“Eeuumm,, Itu,, Kau,, Arrghh,, Pokoknya kau tidak boleh macam-macam” Kata Jodha malu, ia kembali menenggelamkan wajah meronanya di dada Jalal
“Hahaha,,, Jika yang kau maksud dengan macam-macam adalah aku memanfaatkan keadaan untuk mengambil kesempatan darimu, kau salah sayang dan tidak perlu khawatir. Kau tahu, aku sangat  mencintaimu, kau kehormatan ku, tidak mungkin aku merusak kehormatan ku sendiri,,hhmm” Kata Jalal lembut dan membuat hati Jodha menghangat mendengarnya
“Baiklah, sekarang makanlah dulu, aku sudah menyiapkan makanan untuk kita, ayo” Kata Jalal lagi
Jodha mengikuti Jalal yang mengajaknya ke salah satu ruang di resort ini dan mereka pun makan disana
^^^
Jodha terpanah dengan makanan-makanan yang tersedia di atas meja makan, semua makanan yang terdapat disana adalah makanan khas Indonesia yakni Rendang, Pindang Patin, Tempoyak, Pecel lele, Sayur Asem, Sayur Sop, Soto, Sambal Mangga, juga ada beberapa makanan khas dari Bali, daerah asal Jodha yaitu Ayam Betutu, Serombotan dan Sate Lilit.

“Kau hanya akan terus melihatnya sayang?” Tanya Jalal pada Jodha yang sedari tadi diam saja
“Jalal,, Makanannya?” Jawab Jodha masih bingung
“Ya,, Ayo kita makan sekarang”
Jodha sudah duduk di kursi yang sebelumnya sudah ditarik Jalal untuknya dan Jalal sendiri mengambil tempat duduk di samping Jodha
“I-ini,, Makanannya banyak sekali Jalal, siapa yang akan menghabiskan semuanya nanti”
“Jangan fikirkan soal itu sayang, kau cicipi saja semua yang kau inginkan, kau sudah lama kan tidak makan makanan seperti ini. Tenang saja akan ada banyak orang yang akan memakan semua ini nanti. Sekarang katakan padaku, bagaimana perasaan mu melihat makanan-makanan ini, makanan khas dari Negara kita, Indonesia”
“Senang. Aku,,, aku jadi merindukan saat-saat aku masih tinggal Indonesia, lebih tepatnya Bali. Dan ini sudah cukup untuk mengobati rasa rinduku akanNegeri kita. Terima Kasih Jalal” Kata Jodha tulus
“Sama-sama sayang”

Jalal dan Jodha sedang asik mencicipi berbagai jenis makanan yang terhidang di hadapan mereka
“Jalal” Panggil Jodha pelan
“Hmm”
“Siapa yang memasak semua ini?”
“Kenapa?”
“Rasa makanannya sangat mirip dengan masakan ibuku dulu, enak sekali”
Sebagai seorang chef handal Jodha memang mempunyai indra pengecap yang tajam dan cukup mudah baginya mengingat masakan siapa itu saat lidahnya merasakan suatu makanan.
Jalal mengangguk dan tersenyum lembut menanggapi perkataan Jodha
^^^
Hari mulai senja
Jalal sudah rapih dengan tuxedo putihnya, baju yang akan senada dengan gaun mewah yang akan dipakai Jodha nanti, Jalal menuju halaman yang cukup luas yang berada di depan resort nya.
Jalal menyiapkan kata-kata apa yang akan ia ucapkan untuk Jodha dan apakah Jodha akan menerimanya secepat ini nanti
 
“Sial,, Kenapa aku jadi gugup seperti ini. Kenapa semua kata-kata yang sudah ku rangkai sejak kemarin tiba-tiba hilang, tak ada bayangan sama sekali” Kesal Jalal pada dirinya sendiri
“Ya Allah,,, Hadirkanlah salah satu ciptaan terindahMU
di langit yang cerah malam ini, cahaya Aurora. Aamiin” Do’a Jalal tulus dalam hati
Jodha berada di kamarnya, beberapa penata rias sedang mendandaninya sejak tadi, Jodha bingung untuk apa semua ini, tapi para penata rias ini mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan tugas saja dan tidak diperbolehkan memberi tahu apapun alasan nya pada Jodha saat ini, akhirnya dengan pasrah Jodha menerima semua yang mereka lakukan padanya, mulai dari menyuruhnya mandi dengan berendam bersama kelopak-kelopak bunga yang menebarkan keharuman di tubuhnya hingga sekarang hingga memakai sebuah gaun indah berwarna putih gading yang sangat pas di tubuhnya.

“Selesai” Ucap mereka bersamaan
“Sudah selesai?” Tanya Jodha memastikan
“Iya nona, kau sangat cantik dan harum sekali. Semoga semuanya berjalan lancar”
“Terima kasih tapi kalian benar-benar membuatku penasaran karena tidak ada satupun dari kalian yang memberi tahuku untuk apa semua ini” Kata Jodha
“Hehhee,, Maaf Nona, sekarang keluarlah, dia sudah menunggumu, kau akan segera tahu nantinya”
^^^
Jodha melangkahkan kakinya menuju halaman depan dimana Jalal sudah menunggunya
Jodha melihat Jalal yang sedang menatap langit-langit malam dengan seriusnya
“Jalal” Panggil Jodha lembut
Jalal menyadari seseorang yang memanggilnya, dan siapa lagi kalau bukan gadisnya. Ya, setidaknya hingga saat ini Jodha masih gadis tapi setelah malam ini mungkin ia akan mengganti kata gadisnya dengan wanitanya.
 “Hey Men,, Apa yang kau fikirkan, sejak kapan kau jadi pria mesum begini”Jalal menggeleng geli dengan apa yang barusan dipikirkan nya
“Ya say,,,yangggg” Jalal sempat menghentikan kata-kata nya karena begitu terperangah dengan penampilan Jodha yang tidak biasa malam, sangat cantik bak dewi hingga membuat Jalal untuk beberapa saat menahan nafasnya
“Jalal,, Heyy” Jodha mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan wajah Jalal
“Ah,,Hey,,Yaa” Jawab Jalal gugup
“Kau baik-baik saja?” Tanya Jodha khawatir
“Tadinya” Jawab Jalal ambigu
“Eh?”
“Kemarilah sayang”

Jodha mendekat padaJalal, Jalal langsung merengkuh dengan lembut Jodha kedalam pelukannya.
Jalal membalikan tubuh Jodha, kini ia memeluk Jodha dari belakang dengan tangan mereka bertaut mesra di atas perut rata Jodha, posisi yang sangat mereka sukai bila sedang bersama (posisi kesukaan Jalal-Jodha atau khayalan si author? Hahaha), untuk beberapa saat mereka sama-sama memejamkan mata menikmati keintiman yang mereka ciptakan hingga Jodha lebih dulu berbicara pada Jalal

“Ada apa Jalal?”
“Apanya?”
“Tadi kau,,,” Jodha tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena Jalal mencium singkat pipi sebelah kanan Jodha, membuat Jodha menunduk malu hingga tanpa sadar ia semakin meremas jemari Jalal yang bertaut juga dengan jarinya.
“Kau tampil begitu cantik malam ini sayang, itu membuat ku tidak baik-baik saja jika tidak memiliki mu seutuhnya” Kata Jalal pelan setengah berbisik pada telinga Jodha hingga membuatnya kegelian
“Ja,,lal,,” Lirih Jodha
“Finally,, Thanks God” Kata Jalal membuat Jodha memalingkan wajahnya kesamping melihat Jalal
“Lihat keatas sayang, sangat Indah bukan” Lanjut Jalal lagi dan Jodha menurutinya
“Subhanallah,,, Au-Ro-Ra ? i-itu cahaya,,cahaya Aurora Jalal,,, Aaahhhhh” Jodha berteriak kegirangan, betapa ia sangat menantikan untuk melihat cahaya ini secara langsung seumur hidupnya
“Kau senang sayang?” Tanya Jalal
“Ya” Jawab Jodha dengan tatapan matanya yang tidak lepas menikmati cahaya indah ciptaan Tuhan
“Bahagia?”
“Sangat”
“Apa kau menikmati menatap keindahan Aurora dengan berpelukan denganku seperti ini” Jalal semakin mengeratkan pelukan hangatnya
“Pastinya”
“Menikahlah denganku”
“Tentu”
Jalal terkikik geli, sepertinya Jodha benar-benar terbius hingga tak begitu menyadari apa yang di ucapkan Jalal padanya sejak tadi
“Baiklah,, Kalau begitu, ayo” Ajak Jalal
“Eh?”
“Menikah?”
“Oh,,,” Jodha ber-oh ria, sepertinya ia belum sepenuhnya sadar
“APA? ME-MENIKAH?!!!”Teriak Jodha reflek
“Ya, bukankah kau sudah menyetujui nya tadi. Ayo,, Semua sudah menunggu kita di dalam” Jawab Jalal enteng dengan masih memamerkan senyum mautnya, tangannya menarik lembut tangan Jodha untuk masuk kedalam resort mereka
“Aku setuju? Kapan kau melamarku bahkan kau tidak memberikan ku cincin seperti yang biasa para pria lakukan saat mereka melamar gadisnya” Protes Jodha
Jalal menghentikan langkahnya, ia menghadap Jodha dan menggenggam kedua tangan Jodha
“Aku sudah melamarmu sayang, aku juga sudah menyematkan cincin dijari manismu, nih” Jalal menunjukan sebuah cincin cantik yang sudah melingkar di jari manis Jodha dan mencium cincin tersebut
“Sejak,,, kapan?” Tanya Jodha tidak percaya, ia bahkan tidak sadar kapan cincin itu tersemat di jarinya
“Would you be mine?” Jalal tidak menghiraukan pertanyaan Jodha
“Jalal,,, Apa kau serius? Menikah? Kita berada di Negara orang Jalal, kalaupun aku mau menikah denganmu sekarang itu tidak akan bisa, kita harus mendapat izin dari Negara ini dulu, aku tidak mau pernikahan kita ilegal”
“Gadis cerewet” Jalal menggoda membuat Jodha memanyunkan bibirnya karena tidak terima dikatai cerewet oleh Jalal
“Jangan memikirkan hal-hal rumit seperti itu sayang, kau hanya perlu memberi jawaban atas pertanyaanku dan semuanya akan terjadi seperti yang kau inginkan. Disini, dibawah indahnya langit malam kota Fairbaks dengan guratan cahaya Auora, aku meminta kesediaan mu untuk menjadi istriku yang akan terus bersamaku, bersedia mendampingiku dalam keadaan apapun dan berbagi indahnya cinta kita bersama hingga hanya maut yang dapat memisahkan, serta menjadi ibu dari anak-anak ku,so would you be mine, Jodha Aurora?” W-O-W,,,WOW  Jalal sendiri bahkan tidak menyangka bagaimana kata-kata itu bisa dengan begitu lancarnya keluar dari mulutnya sedangkan tadi ia sangat sulit merangkai kata-kata untuk Jodha. Jalal berjongkok dihadapan Jodha menunggu jawaban

Mata Jodha berkaca-kaca, ia terharu akan kata-kata pria yang ada di hadapannya saat ini, pria yang bersedia berkomitmen dengannya, pria yang hampir sempurna yang memilih dirinya yang bukan siapa-siapa untuk menjadi istrinya, pria yang dulu sangat tinggi untuk ia jangkau kini bahkan pria itu berjongkok dibawahnya menunggu jawaban atas lamaran terindahnya, bagaimana bisa ia berkata tidak untuk itu semua.

Jodha meminta Jalal berdiri, Jalal masih menunggu jawaban dari Jodha.
Jodha hanya mampu menganggukkan kepalanya, ia tidak sanggup mengatakan apa-apa, bahkan cahaya Aurora saat ini kalah indah jika dibandingkan dengan kata-kata Jalal tadi padanya. Jodha memeluk Jalal erat, Jalal yang mengerti maksud Jodha langsung membalas pelukan Jodha tidak kalah erat nya dan mengecup ubun-ubun Jodha berkali-kali
 
“Aku mau Jalal, aku mau menjadi istrimu, aku mau mendampingimu selalu saling berbagi rasa dan cinta hingga maut memisahkan, aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu, aku mau Jalal,, aku mau” Kata Jodha yang masih berada dalam pelukan Jalal
“Terima kasih sayang”
^^^
Jalal dan Jodha sudah masuk kedalam resort mereka, Jalal menutup mata Jodha dengan sapu tangan nya, Jalal melakukan itu tepat saat mereka berada di depan pintu resort tadi
 
“Jalal,, Apa aku sudah bisa membuka ini? Aku ingin melihatmu” Kata Jodha manja pada Jalal
“Sebentar lagi ya sayang”
Jodha mengangguk patuh, sesaat ia mendengar suara-suara di sekelilingnya namun ia tidak mengkhawatirkan nya karena Jalal berada di sampingnya saat ini, jadi tidak ada yang perlu di takutkan
“Kau sudah siap sayang?” Bisik Jalal
“Ya”
Jalal melepaskan ikatan sapu tangan tersebut, Jodha mengerjap-ngerjapkan matanya.
Jodha tersenyum, matanya mulai melihat sekeliling, ia seperti penasaran suara-suara berisik darimana yang tadi di dengarnya

“Keluarlah” Kata Jalal cukup keras, Jodha mengalihkan pandangannya pada Jalal dan menatap bingung kearahnya
“Lihatlah ke pintu itu sayang” Kata Jalal lagi sambil menunjuk pintu dari sebuah ruangan yang berada di depannya
Tak berselang lama, pintu tersebut terbuka dan keluarlah orang-orang yang dikenalnya, sangat dikenalnya. Mulai dari kedua orang tua Jalal –Tn Humayun dan Ny Hamidah-, Bibi Anga dan Paman Khaibar, Bhaksi Javeda yang hadir bersama suami mereka, Sepuluh anak-anak asuhnya, Tn Adam dan istrinya, Salima dan suaminya, Hasan dan Husen. Mereka semua hadir disini, Jodha terkejut namun ia begitu bahagia, segera Jodha menghampiri mereka dan melepas rindu.
Setelah beberapa saat
 
“Ayo nak, ikut bibi keatas. Kau harus mengganti bajumu, waktunya sudah hampir tiba” Ajak Bibi Anga pada Jodha
“Waktu apa Bi? Kenapa aku harus berganti baju, bahkan baju ini saja aku baru memakainya beberapa jam yang lalu” Tanya Jodha tidak mengerti
Namun pertanyaan Jodha tidak ditanggapi, ia segera diajak menuju sebuah ruangan untuk mengganti bajunya oleh Bibi Anga dan Ny. Hamidah.
 
“Ada apa ini sebenarnya? Pria itu, kenapa dia senang sekali membuat ku terkejut dengan hal-hal tak terduga yang di lakukannya, apalagi sekarang?”Batin Jodha

Jodha sudah berganti baju, kini ia memakai gaun pengantin yang cukup simple tapi elegan, juga terdapat kalung berlian yang sangat pas di lehernya yang juga satu set dengan anting-anting yang dipakainya. Bibi Anga dan Ny Hamidah hanya mengganti pakaian Jodha dan memasangkan beberapa accessories saja pada Jodha, karena untuk riasan di wajah Jodha semuanya masih sempurna, tidak ada yang perlu di perbaiki lagi.
“Bibi, sejak kapan tiba disini?”Tanya Jodha
“Sejak kemarin, kami lebih cepat sampai daripada kalian, bahkan kami Bibi bersama ibu Jalal memasak makanan untuk kalian tadi siang”
“Benarkah? Pantas saja rasanya begitu enak dan seperti ku kenal, itu mengingatkan aku pada masakan ibuku dulu” Kata Jodha menunduk, berusaha menyembunyikan kerinduannya pada sang ibu
“Kau cantik sekali sayang, berbahagialah nak?” Ucap Ny Hamidah tulus dan berusaha mengalihkan Jodha agar tidak larut dalam kesedihan
“Kau akan menikah anakku, jadilah istri yang selalu membahagiakan suami, do’a kami selalu menyertaimu putriku” Bibi Anga ikut menimpali, ia pun jadi teringat Rukayah.
Kini Jodha tahu, ternyata benar Jalal akan menikahinya malam ini juga, seperti yang dikatakan nya tadi, apapun jawaban Jodha maka itulah yang akan terjadi, tak dapat di lukiskan betapa bahagia dirinya saat ini. Semua tampak seperti mimpi baginya, bahkan ia tak pernah berani membayangkan hal-hal indah seperti ini sebelumnya, dia sudah tidak sabar ingin menemui kekasihnya dibawah sana.
“Kau sudah siap nak?” Tanya Ny Hamidah dan Bibi Anga
“Iya”

Jalal sudah siap dibawah sana, Jalal juga ternyata mengganti tuxedo nya dengan warna Grey, Jalal mengikat sebagian rambut gondrong nya agar terlihat lebih rapih dan errghh,,,
Jalal sudah duduk di depan seorang penghulu, dia benar-benar sudah menyiapkan semuanya dengan matang, semua izin dari kedutaan setempat untuk melangsungkan pernikahan dengan Jodha sudah didapatkannya, tentu saja tidak lepas dari bantuan sepupu intelnya Hasan dan Husen. Hanya tinggal menunggu Jalal mengucapkan ijab kabul maka pernikahan ini resmi di mata hukum dan agama, dan Negara akan mengakui pernikahannya.

Jodha di tuntun Bibi Anga untuk duduk di kursi yang berada di samping Jalal, mata Jalal tidak pernah lepas memperhatikan wajah cantik gadisnya ini hingga ia duduk tepat disamping dirinya sekarang.

“Kau terkejut” Kata Jalal berbisik
“Bahkan kau hampir membuat ku terkena serangan jantung Tuan” Balas Jodha
“Maaf”
“Terima kasih”
Mereka tersenyum bersama

“Bagaimana, sudah siap?” Tanya sang penghulu pada Jalal dan dibalas dengan mantap oleh Jalal, ia sudah sangat siap sekarang (Sangat siap apa bang?!,,,, hohoho)
Dan dengan lantangnya Jalal mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas saja tanpa tersendat sedikitpun

“Bagaimana saksi?” Tanya penghulu
“SAH,,,”
“SAH,,,”
“SAAAHHH,,,,”
“Alhamdullilah” Semua yang hadir serentak mengucap syukur

Jalal dan Jodha berdiri, Jodha mencium tangan sang suami sebagai tanda baktinya, Jalal membalas dengan mengecup penuh cinta kening istrinya, ya,, sekarang mereka telah resmi menjadi pasangan suami-istri yang SAH, pasangan yang sudah di halalkan oleh Allah untuk mereka miliki seutuhnya.
Mereka menerima ucapan selamat dan do’a dari para keluarga dan sahabat yang hadir, pernikahan  ini memang dibuat sangat ekslusif hanya untuk orang terdekat mereka saja, untuk resepsi nanti Jalal akan menyerahkan sepenuhnya pada Jodha, karena sejak mulai dari lamaran hingga pernikahan ini Jalal melakukannya sendiri tanpa meminta pendapat Jodha, jadi ia ingin di resepsi pernikahan mereka nanti biar semua Jodha yang mengatur sesuai selera istri cantiknya ini.

“Ah,, Menyenangkan sekali menyebut dia sebagai istriku”  Batin Jalal bangga

“Hey Man,, Apa kau tidak lelah, sejak tadi senyam senyum terus” Goda Hasan pada Jalal
Kini mereka semua tengah menikmati hidangan makan malam bersama
Jalal melirik tajam pada Hasan dan mengacuhkannya membuat Hasan dan yang lain semakin senang menggoda pasangan pengantin baru ini.

Malam semakin larut, para keluarga dan sahabat sudah meninggalkan pasangan pengantin baru ini di resort mereka, sebelumnya Jodha meminta beberapa dari mereka untuk menginap disini karena jujur ia merasa canggung untuk tinggal berdua saja dengan Jalal, suaminya.
Namun mereka menolak, tentu saja mereka tidak ingin menganggu kebahagiaan pengantin baru ini, akhirnya merekapun kembali ke hotel tempat mereka menginap sebelumnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari resort ini.
^^^
Jodha sedang membersihkan make up nya di depan meja rias di kamar pengantinnya, setelah selesai ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti gaunnya dengan piyama. Saat keluar Jodha masih belum melihat Jalal.
 
“Mungkin dia masih diluar” Batin Jodha
Jodha berjalan ke jendela kaca yang cukup besar, begitu banyak kebahagiaan datang bertubi-tubi padanya hari ini membuat Jodha tidak lupa untuk terus bersyukur, sempat Jodha menitikan air mata karena teringat kedua orang tuanya dan juga sahabat sejatinya, Ruk. Andai mereka juga hadir disini, di moment paling sakral dalam hidupku, aku merindukan kalian, sangat.
“Kau belum tidur sayang?” Kata Jalal tiba-tiba dan merengkuh tubuhnya dari belakang
“Be-belum” Kata Jodha sedikit gugup, sudah seringkali bahkan Jalal memeluknya namun selalu seperti ini reaksi awal yang ditunjukan Jodha, gugup.
“Terima kasih sudah mau menerimaku sayang, Terima kasih. Aku akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah baik untuk keluarga kita”
Jodha mengangguk dalam dekapan Jalal, dan membalikan tubuhnya menghadap Jalal
Ia menangkup wajah Jalal dengan kedua tangannya, ia mendongakan wajahnya pada wajah Jalal dengan sedikit berjinjit
“Aku mencintaimu Jalal, jadikanlah aku istrimu yang sesungguhnya malam ini dan malam-malam seterusnya sayang” Kata Jodha pelan dandengan berani mencium lembut bibir Jalal lebih dulu
Jalal bukan main terkejut dengan perkataan Jodha, belum sadar dari keterkejutannya Jodha sudah mencium bibirnya dengan lembut, untuk beberapa detik Jalal tidak melakukan apa-apa namun setelah sadar dengan keadaan, Jalal ikut membalas ciuman penuh cinta istrinya, mereka tersenyum dalam ciuman yang memabukan itu, dengan terpaksa Jalal melepas ciuman mereka untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya
“Bisa kau katakan sekali lagi istriku?”
“Katakan apa?”
“Kata-kata mu yang tadi”
“Jadikan aku istrimu yang seutuhnya malam ini dan malam-malam seterusnya?” Ulang Jodha dengan nada seperti bertanya, Jalal tersenyum
“Setelahnya, tadi kau memanggilku apa?”
Jodha merona malu, ia ingat tadi ia memanggil Jalal dengan sebutan sayang, ini adalah pertama kali Jodha memanggil Jalal seperti itu
“Sa,,,say,,yang” Kata Jodha terbata
“Aku senang kau memanggilku dengan sebutan itu sayang”
“Baiklah, aku akan membiasakan diri untuk memanggilmu seperti itu, sayang” Kata Jodha mengedipkan sebelah matanya dan tangan nya mulai melingkar erat di leher Jalal
“Kau menggodaku Nona?”
“Menurutmu Tuan?” Tantang Jodha tidak mau kalah
“Kau benar-benar membuatku gila sayang” Dan Jalal membopong Jodha menuju peraduan mereka yang di penuhi kelopak mawar merah yang menebarkan aroma semerbak ke setiap sudut kamar pengantin yang semakin mendukung suasana romantis untuk pasangan pengantin baru ini,
Jalal merebahkan dengan lembut Jodha di ranjang mereka, setengah berbisik Jalal melafalkan do’a di telinga Jodha yang di Aamiin-kan oleh Jodha setelahnya dan yang terjadi selanjutnya di malam itu adalah penyatuan cinta antara dua anak manusia yang telah di halalkan oleh Allah untuk bersatu dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan, malam itu mereka beribadah bersama dalam naungan kasih dan cinta-NYA
THE END
 
Note : Jodha memakai dress putih tangan panjang saat ia melihat Aurora, dan gaun pengantinnya adalah foto atas yang bersama Jalal.
-------------------------------------------------------
Finally,, Cerita ini END juga,,, Buat mbak Chusnianti, makasih banyak udah dikasih kesempatan memperbolehkan saya memposting cerita amatir saya ini dan makasih juga buat readers tersayang  buat dukungan dan semangatnya selama ini,, muach,,muach,, ;)

Ehem,,,, Test Test Satu Dua Tiga.... Gak ada yang minta extra part kan ya. ALHAMDULLILLAH...


Seuntai Harapanku Part 35 (END) - By : Erinda

4 comments:

  1. Minta extra part nya dong mbak...... ditunggu. makasih ceritanya bagus..

    ReplyDelete
  2. Tambahin lagi donk y seperti prolog :) biar g penasaran aja

    ReplyDelete
  3. Sama-sama, Mbak Erin... Dan terima kasih atas ceritanya yang mengesankan...
    Ditunggu project selanjutnya...

    ReplyDelete
  4. Mba Erin..terima kasih ffnya..wwwooww kkkeerreeenn

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.