FF: Is It Hate or Love Chapter 36 Part 2 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 36 Part 2


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Jodha menjawab dengan cepat dan tenang,-“Pertama, menangkan dua tantangan ini...Sisanya akan kuberitahu nanti...”
Jalal menjawab dengan sedikit bercanda,-“Baiklah...Aku menerima tantangan Malika-e-Hindustan...Ayo kita mulai pertandingannya setelah Ganesh Pujan...”

“Sepertinya, kau begitu terburu-buru untuk kukalahkan Shahenshah... Tidak masalah kalau begitu... Setelah Ganesh Pujan, kita punya satu ritual mengikat Raksha Dhanga...Sampai jumpa lagi di teras dimana kita akan memulai tantangan kita yang pertama...Dan jangan lupa datang ke terasku...”
Jalal masih ingin menggoda Jodha dan mencari-cari kesempatan untuk mengganggunya,-“Aku setuju, tapi bukankah seharusnya aku mendapat hadiah atas kemenanganku mengalahkan Malika-e-Hindustan...Bagaimanapun juga bukan hal yang mudah untuk mengalahkannya..”
Jodha membalas dengan kesal,-“Baiklah, hari ini kau sendiri akan lihat begummu adalah prajurit yang lebih baik darimu....Dan pastinya aku akan memberimu hadiah bila kau menang...Tapi jika kau kalah, maka kau tidak kuperkenankan menyentuhku sampai atau setidaknya kita sudah ada di Agra...”
Jalal tersenyum penuh arti,-“Aku terima persyaratanmu Jodha begum...Namun sebelum itu aku ingin mengingatkanmu bahwa orang yang kau tantang bertarung bukanlah prajurit biasa...Dia mampu mengalahkan seluruh pasukan...Dan kau sendiri pernah menyaksikannya langsung... Mungkin saja kau sudah lupa soal itu, sebaiknya kau mengingatnya lagi...”
Jodha ingat pertarungan pedang Jalal dengan Adham dan dua puluh pasukannya. Dia merinding di bawah kulitnya,-“Oh ya ya...Mana mungkin aku lupa...Dia melakukan hal yang mustahil dengan mengalahkan mereka semua dalam pertarungan pedang..” Setelah beberapa saat dia berpikir lagi dan menyimpulkan,-“Tapi aku juga berlatih pedang selama enam bulan terus-menerus...Dan mengalahkan banyak petarung juga di Ashram... Jadi tidak ada yang perlu dicemaskan sama sekali...Aku pasti bisa mengalahkannya...”
Jodha tenggelam dalam lamunannya sendiri dan mulai kehilangan rasa percaya dirinya. Raut mukanya berubah dari tenang menjadi sedikit takut. Lalu dia tersenyum manis pada Jalal dan berkata,-“Baiklah Shahenshah...Kurasa aku memberimu tantangan yang terlalu berat...Jadi kupikir lebih baik aku membatalkan ide pertarungan pedangnya...Kita langsung pada pertarungan memanah saja...”
Jalal memahami permainan Jodha. Dia tahu Jodha mulai menyadari bahwa dia tidak bisa mengalahkannya dalam pertarungan pedang jadi dia menunjukkan sikap manis dan lugunya. Jalal tersenyum lebar dengan manisnya dan berkata,-“Oh nooo Jodha begum...Kau seharusnya memberikan tantangan yang paling berat untukku...dan bertarung pedang denganmu pasti akan menaikkan reputasiku jutaan kali..”
Jodha meliriknya dengan sebal dan membalas kata-katanya, menyesali dalam hatinya berkali-kali karena otaknya yang tidak bisa berpikir panjang,-“Baik...baik...kuturuti keinginanmu...” 
Jalal tersenyum melihat wajahnya yang lucu karena khawatir.
Tiba-tiba, ada pemberitahuan yang disampaikan dengan suara kencang oleh penjaga pintu,-“Moti Bai meminta ijin untuk menemui Jodha begum..”
Jodha menjawab sama kencangnya,-“Biarkan Moti bai masuk..”
Moti memberi salam pada Jodha dan Jalal lalu berbicara,-“Shahenshah dan Jodha...Semua orang menunggu anda berdua di ruang Pooja...Datanglah segera...Hanya sedikit waktu yang tersisa untuk Ganesh Pujan sekarang...”
Jalal dan Jodha terlalu asyik dengan pembicaraan mereka hingga tidak menyadari sedikitpun waktu telah berlalu dua jam.
Dengan bodohnya mereka saling memandang dengan tatapan oopss dan segera berdiri dari meja makan. Tanpa menunggu semenitpun, keduanya bergegas berjalan menuju ruang Pooja.
Begitu sampai disana, tanpa menoleh pada siapapun mereka langsung bergerak menuju tempatnya masing-masing dan segera duduk. Mirza menikmati melihat tingkah mereka yang unik dan bertanya dengan suara lantang,-“Bhai jaan...Bhabhi jaan...Bagaimana makanannya??? Apakah terlalu pedas atau terlalu manis???” Semua orang di ruangan itu mulai tertawa menggoda pasangan itu. Jalal dan Jodha keduanya merona merah karena malu disoraki oleh seluruh anggota keluarga.
Shivani yang duduk di dekat Mirza menatapnya dengan marah dan berucap,-“Hei...Diamlah dan konsentrasi pada Pooja-nya...”
Mirza dan Shivani belum pernah bertatap muka sebelumnya. Itulah pertama kalinya Mirza menjatuhkan pandangannya pada Shivani. Dan hanya pada tatapan pertama dia langsung terpesona pada kepolosan dan kecantikan alami Shivani. Dia begitu terpana pada pesonanya yang murni. Dia menatapnya tanpa berkedip yang justru malah membuatnya kesal. Shivani berdiri dan pindah ke tempat lain. Mirza tersenyum melihat tingkah lakunya.
Jalal dan Jodha saling menatap dengan tersipu menahan malu.
Jodha menatapnya cemberut dan berkata dengan pelan dan sedikit marah,-“Semua ini terjadi karena dirimu...Bisakah kau hentikan sikapmu yang menyebalkan itu dan mulailah bersikap dewasa!!!”
Jalal makin terhibur melihat mood Jodha yang tiba-tiba berubah. Tapi dia juga menikmati semua pertengkaran kecil ini. Untuk membuatnya lebih kesal, dia bertanya dengan wajah tak bersalah,-“Sekarang apa lagi salahku???”
Dan sesuai perkiraan, pertanyaan itu makin membuat Jodha uring-uringan,-“Semuanya salahmu...Kau terlalu banyak bicara...Biasanya, kau melakukan semua pekerjaanmu dalam waktu yang sudah diatur...Bahkan urusan ke toilet pun sudah diatur waktunya...Lalu apa yang terjadi tadi??? Bagaimana bisa kau lupa waktu untuk ritual penting ini???”
Jalal tersenyum melihat Kucing Liarnya marah-marah dan meminta pada Pandit Ji,-“Mulailah ritualnya Pandit ji..” Pandit ji mulai membaca Mantra-
ll Vighneshwaray Varday Surpriyay
Lambodaray Saklay Jagaddhitay
Nagannay Shruti Yagya Vibushitay
Gauri Sutay Gan Nath Namo Namaste ll
Jalal berkonsentrasi penuh pada Mantra Pandit ji. Tapi dia sama sekali tidak mengerti semua kata yang ditulis dalam Bahasa Sansekerta. Dengan sopan dan ingin tahu dia bertanya pada Pandit ji makna dan tujuan dari pooja ini.
Pandit ji terkesan dengan kesopanan dan keingintahuan Jalal untuk mempelajarinya. Kemudian dia menjelaskannya satu per satu,-“Dewa Ganesha selalu menjadi dewa pertama yang disembah dalam setiap acara penting... Kita meminta berkahnya sebelum persiapan dimulai untuk pernikahan hingga tidak ada halangan yang akan muncul dan semuanya berjalan lancar...”
Jalal sangat tertarik pada tiap bagian dari ritual ini. Jodha juga merasa senang melihat Jalal melibatkan diri dengan sungguh-sungguh dalam semua ritual. Akhirnya, ritual pertama dalam pernikahan selesai dengan sebuah awal baru.
Setelah pooja, Jodha meminta pada Jalal untuk memohon restu dari semua orang yang lebih tua. Mereka berdua memohon restu dari Hamida...Raja Bharmal...Rani Mainavati...Dadisa...dan yang lainnya. Sekarang waktunya untuk tradisi Raksha Dhaga. Pandit ji menjelaskan pada Jalal,-“Tradisi ini diperuntukkan bagi saudara laki-laki dan perempuan...Saudara laki-laki akan memberikan janjinya kepada saudara perempuan akan membantunya dalam setiap masalah besar maupun kecil...Dan sebagai balasannya saudara perempuan mengikatkan Raksha Dhaga dengan diiringi doa panjang umur bagi saudara laki-lakinya...”
Semua saudara laki-laki Bhagwant Das, Raj Singh, Jagannath dan Khangar Singh berdiri dalam barisan untuk tradisi ini. Jodha menerima restu dari mereka dan mengikatkan Dhaga di pergelangan tangan mereka dilanjutkan dengan tilak di dahi mereka. Semuanya berjalan sempurna namun Jodha belum sepenuhnya senang. Semua kebahagiaannya belumlah lengkap tanpa kehadiran satu orang paling penting dalam kehidupannya. Air matanya menetes keluar mengenang saudara laki-laki tercintanya, guru dan pelindungnya, Sujamal bhaisa dan semua momen indah yang pernah mereka jalani. Saat-saat dia selalu ada di sampingnya dalam setiap tahap kehidupannya. Saat dia mengajarkan teknik bertarung pedang. Hari-hari saat mereka bermain bersama. Jodha jauh lebih dekat dengan Sujamal daripada dengan saudara laki-lakinya sendiri. Melihat air mata Jodha, Dadisa berjalan mendekati Jodha dan keduanya berpelukan sambil menumpahkan perasaan mereka tanpa menyebutkan namanya. Semua orang di dalam ruangan itu tahu kenapa Jodha dan Dadisa menangis tapi tidak satupun dari mereka yang berani menyebut nama Sujamal di depan Raja Bharmal.
Mendadak terdengar suara yang keras di dalam ruangan itu,-“HIRA..” Jodha tersentak mendengar panggilan HIRA. Hanya satu orang yang memanggilnya dengan nama HIRA. Pikirannya langsung terbuka,”SUJAMAL BHAI SA..” Cepat-cepat dia memutar tubuhnya mengikuti arah darimana suara itu berasal. Tapi dia tidak bisa menemukannya dimanapun. Dia kecewa dan berpikir mungkin dia sangat merindukannya, karena itulah dia seakan mendengar panggilan Hira itu. Wajahnya langsung berubah sedih dalam waktu singkat.
Sukanya dan Shivani sedang berdiri di dekat Jalal, menutupi Sujamal. Jalal memanggil Jodha. Jodha melihat ke arahnya dengan bingung,-“Kenapa dia memanggilku dengan namaku di depan semua orang??? Biasanya dia selalu memanggilku dengan Jodha Begum ketika banyak orang...” Dia selalu menyebutku Jodha begum ketika banyak orang di sekitar kami. Jalal memanggilnya lagi, tahu bahwa raut mukanya menampakkan kebingungan dan memanggilnya lagi dengan senyumnya yang paling cemerlang,-“Jodha begum...Bagaimana mungkin tradisi Raksha Dhaga selesai tanpa Sujamal bhaisamu tercinta!!” dan ketiganya bergerak ke samping untuk memberi jalan bagi Sujamal. Begitu melihat Sujamal, raut wajah Jodha langsung berseri-seri bak bunga mawar yang cantik. Senyuman lebar tersungging di setiap wajah orang-orang di dalam ruangan itu. Hampir saja Jodha berlari dan memeluknya, namun dia berhenti di tengah jalan. Dia ingat kemarahan bapusa pada Sujamal. Dia berhenti dengan air mata yang masih tergenang. Dia tahu bapusa tidak akan pernah mengijinkan Sujamal bhaisa ada di dalam istana. Dia menoleh pada ayahnya dengan berurai air mata. Matanya memohon pengampunan bagi kakaknya.
Bharmal berjalan ke arah Jodha dan Sujamal. Lalu membelai lembut rambut Jodha dan bertanya dengan ceria,-“Jodha...Apa kau tidak menyambut tamu spesial kita??? Aku telah mengundang Sujamal atas permintaan khusus Jamaisa... Dari sudut pandang politik, aku belum bisa memaafkannya.. Tapi dikarenakan ini adalah upacara pernikahanmu, perayaan keluarga, aku tidak akan menghalanginya untuk menjadi bagian dari saat yang bahagia ini... Aku tahu kalian berdua saling menyayangi satu sama lain... Berapa banyak mimpi tentang hari pernikahan kalian... Ketika Jamaisa memintaku untuk mengundangnya, awalnya aku tidak setuju dan marah padanya... Bahkan aku melarangnya ikut campur dalam masalah keluarga kita...tapi pada akhirnya, dia berhasil meyakinkan aku...Kau sangat beruntung memiliki suami sepertinya yang sangat mengerti keinginan dan semua impianmu...”
Jodha makin melambung perasaannya dan malu mendengar pujian ayahnya untuk Jalal. Wajahny merona merah. Perlahan dia mengangkat wajahnya sedikit dan melihat ke arah Jalal dengan penuh rasa syukur.
Jalal dan Jodha berbicara lewat mata mereka. Jalal tersentuh melihatnya sangat bahagia dan gembira, di lain pihak Jodha juga tersanjung dengan kepedulian Jalal dan cintanya untuk dirinya. Sambil memeluk Sujamal, mata Jodha tak lepas menatap Jalal dan mengedipkannya sebagai isyarat terima kasih. Jalal membalasnya dengan tersenyum hangat.
Moti datang membawa nampan aarti untuk menyambut Sujamal. Jodha, Sukanya dan Shivani bersama-sama melakukan aarti untuk Sujamal. Mereka semua menangis terharu. Semuanya juga merindukan Sujamal. Apapun masalah yang telah terjadi, ikatan mereka dengan Sujamal dan kasih sayang diantara mereka tetap tak berubah karena kebencian. Setelah aarti, Jodha memberi tilak pada Sujamal dan mereka berpelukan kembali dengan penuh kebahagiaan. Pandit ji menghampiri dengan membawa Raksha Dhaga dan Jodha menyelesaikan ritualnya dengan wajah sangat bahagia. Semuanya terasa lengkap seperti dalam impiannya. Kebahagiaannya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mainavati dan Dadisa juga sangat gembira melihat Sujamal.
Sudah hampir waktu makan siang. Seluruh istana telah dipenuhi banyak orang. Para wanita melantunkan lagu-lagu pernikahan. Gadis-gadis kecil berlari-lari dan bermain. Saudara laki-laki Jodha yang termuda mengadopsi Nandu karena dia belum memiliki satupun anak meski telah bertahun-tahun menikah.
Shehnai... bunga-bunga... lagu-lagu cinta... gaun mahal dan indah... berpadu menciptakan suasana pernikahan yang megah. Senyum Jodha tak pernah lepas dari wajahnya bagai bunga di musim semi. Dia berlari-lari seperti kupu-kupu kecil. Sukanya mencuri pandang ke arah Surya sedangkan hati Mirza menyanyikan senandung cinta untuk Shivani. Di antara keramaian yang terjadi, matanya hanya mencari Shivani. Abdul dan Jalal memeperhatikan semua orang. Jalal menangkap basah Mirza yang sedang memandangi Shivani sambil senyum-senyum sendiri... Hampir semua gadis sibuk mempersiapkan lagu pernikahan... rangoli... dan menghias istana... Semua orang larut dalam kebahagiaan. Seluruh sudut istana dihiasi oleh bunga-bunga yang sangat indah. Harum dari bunga dan parfum menambah keindahan pernikahan.
Surya mendekati Jodha dengan senyum di wajahnya dan mengucapkan selamat sekali lagi atas terlaksananya ritual pertama dan meminta untuk bicara dengan Jodha secara pribadi jika itu memungkinkan. Jodha juga ingin bicara secara pribadi, tapi dengan sedikit terpaksa dia akhirnya menyetujui akan menemuinya di balkon kamar tidurnya dikarenakan di dalam istana terlalu ramai.

**Surya di balkon kamar tidur Jodha**
Jodha dan Surya ada di balkon kamar tidurnya. Surya memecahkan keheningan di antara mereka,-“Jodha, terima kasih banyak kau mau menemuiku disini... Aku tidak tahu harus mulai dari mana Jodha, tapi aku ingin memberitahumu bahwa aku sangat merindukanmu sejak kau meninggalkan Amer...”
Jodha menyela,-“Surya, kumohon mengertilah aku sudah menikah sekarang... Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku tidak mencintaimu... Kau adalah teman baikku dan aku tidak bisa mencintai pria lain selain Jalal...”
Surya mengangkat tangannya dan memberi isyarat agar Jodha lebih tenang. Lalu melanjutkan,-“Jodha dengarkan aku dulu... Yang kubicarakan bukan tentang kau dan aku... Bisakah kau membiarkanku menyelesaikan dulu??” Jodha mengisyaratkan agar dia melanjutkan bicaranya.
Surya melanjutkan dengan nada serius,-“Jodha, perasaanku hancur dan sakit setelah kau meninggalkan Amer... Aku sudah mengakui cintaku yang bertepuk sebelah tangan... Namun penolakanmu menghancurkanku sedikit demi sedikit... Melihat kau dengan Jalal serasa membunuhku dari dalam... Hatiku menangis pilu... Jodha... Setelah kau pergi aku benar-benar kehilangan.... Aku datang dan tinggal di istana ini untuk menghidupkan kenangan kita... Aku duduk di teras memandangi cakrawala selama berjam-jam... Aku menyusuri sungai tempat dimana kita biasa bermain.... Apa kau tahu di saat-saat menyedihkan itu Sukanya selalu ada disampingku... Dia duduk bersamaku selama berjam-jam tanpa bicara... Kemanapun aku pergi, dia mengikutiku semata agar aku merasa nyaman... Sedikit demi sedikit aku mulai menghargai perhatiannya untukku... Hanya demi menghormatinya aku mulai bermain chopat.... catur dan menunggang kuda bersamanya dan entah bagaimana aku sudah benar-benar lepas dari keterpurukanku... Aku mulai tersenyum... Aku pulang kembali ke Jaipur dan disibukkan oleh urusan rutin tapi bukannya kau Jodha... Aku mulai merindukan Sukanya... Tiba-tiba saja wajahnya yang polos... tertawanya... perhatiannya... tangisnya untukku... semuanya mulai menghantuiku.... Aku mulai terbiasa mengunjungi istana untuk bersama Sukanya... Bahkan aku sendiri tidak tahu kapan dan bagaimana hatiku selalu ingin bersama Sukanya padahal kau ada di depanku seperti saat ini... Ketika aku menerima undangan pernikahanmu.... Aku ikut senang untukmu tapi yang membuatku lebih senang karena aku punya alasan untuk bersama Sukanya... Saat aku memasuki istana aku mulai mencari Sukanya bukannya dirimu... Jodha, aku tidak tahu apa yang terjadi padaku tapi kurasa aku tidak bisa merasakan hidup tanpa Sukanya... Jodha, aku mencintai Sukanya dan aku ingin menikahinya...tapi...”dia berhenti...

*Kanika memainkan rencana lain*
Kanika sedang berdiri di balkon kamar tidurnya dan terkejut melihat Surya ada di ruangan Jodha. Langsung saja senyuman licik muncul di wajahnya.
Pada waktu yang bersamaan, saat Jodha dan Jalal sedang mengobrol. Jalal bersemangat sekali membayangkan pertarungan pedangnya dengan Jodha. Lila memberitahunya bahwa Jodha ada di ruangannya. Jalal pergi untuk menemui Jodha di kamarnya. Tapi sebelum dia tiba di kamar Jodha, Kanika berdiri tepat di depan Jalal. Melihat senyum palsunya rasanya Jalal ingin membunuhnya. Namun dia kendalikan amarahnya dan mencoba untuk melewatinya. Tapi dia sudah menghalangi seluruh jalan dan mulai berbicara dengan sikap manisnya yang dibuat-buat,-“Shahenshah.... Apa kau belum memaafkan aku???”
Jalal merasa jijik dengan sikapnya yang kurang sopan saat mendekatinya. Meski sudah sekuat tenaga mengendalikan emosinya, tapi Jalal masih agak kasar saat mendorongnya ke samping dan mulai berjalan ke arah kamar Jodha. Belum jauh berjalan, Kanika berteriak frustasi,-“Shahenshah aku ingin memberitahumu sesuatu tentang Jodha dan Surya...”
Dengan gerakan cepat Jalal berbalik dan menatapnya dengan marah. Tanpa membuang waktu Kanika langsung berkata,-“Shahenshah aku mengenal Jodha dan Surya sejak kecil... Mereka berdua saling mencintai, tapi sayangnya mereka tidak bisa menikah... Maafkan karena aku harus mengatakan ini tapi Jodha masih punya hubungan dengannya... Beberapa kali aku melihat mereka salinh berpelukan... Dan hari ini juga, aku tidak bisa mempercayai penglihatanku saat aku melihat Surya ada di kamar Jodha.... Dia masih disana sekarang... Jodha itu benar-benar, wanita rendah, murahan dan menjijikkan..”
Mendengar semua hinaan dan kata-kata kasar untuk Jodhanya, Jalal kehilangan kendali dirinya yang terakhir dan emosinya langsung naik. Dia kehilangan kesabaran menghadapinya. Mendengar kata-kata yang menjelek-jelekkan Jodha, darah Jalal mendidih. Dia menatap Kanika seperti singa terluka yang kelaparan. Dia sudah membangunkan monster dalam dirinya. Matanya memerah karena marah. Jalal memukul ke arah Kanika. Melihat kemarahannya yang buas, nyali Kanika menciut dan berniat melarikan diri dari hadapannya.  Jalal bisa menangkapnya dalam waktu singkat dan menamparnya dua kali. Tamparan itu sangat keras hingga dua buah giginya lepas dan bibirnya berdarah. Kepalanya menghantam tembok terdekat dan darah juga mulai mengalir dari belakang kepalanya. Jalal mendesaknya ke dinding dan mencekik lehernya hingga hampir lemas. Suara Jalal bergema karena marah,-“Kau brengsek...Aku tidak akan melepaskanmu hari ini..”
Abdul mendengar geraman Jalal dan melihatnya sangat marah. Dia berlari menghampirinya  untuk menenangkan amarahnya. Setelah melewati sedikit perjuangan, akhirnya Abdul berhasil melepaskan Kanika dari cengkeramannya. Jalal bergetar dan terguncang karena marah. Langsung saja Kanika lari menjauh untuk menyelamatkan hidupnya sendiri. Butuh waktu lebih lama bagi Jalal untuk menenangkan dirinya. Jalal memberitahu Abdul bahwa dia ingin sendirian sementara waktu. Tanpa banyak tanya, Abdul segera kembali ke diwan meninggalkan Jalal yang sedang emosional sendirian. Lalu Jalal berjalan kembali menuju ruangan Jodha.

*Kembali ke ruangan Jodha*
Kebahagiaan Jodha tak terkira. Dia ingin menyatakan hal yang sama pada Surya bahwa Sukanya jatuh cinta padanya juga. Jodha tadi takut Surya akan menjawab tidak soal rencana pernikahannya dengan Sukanya dan pasti akan menghancurkan  hati Sukanya. Tapi setelah mendengar pengakuannya, Jodha benar-benar gembira. Dengan nada ceria dia bertanya,-“Tapi apa Surya???”
Surya menjelaskan lagi,-“Tapi Jodha, aku sendiri pernah mengatakan padanya aku mencintaimu.... Dan dia juga sudah melihat kondisiku ketika aku terpuruk... Bisa saja dia tidak mau menerimaku karena dulu aku mencintaimu... Bagaimana seandainya dia juga menolakku seperti yang kau lakukan... Kali ini pasti aku tidak akan mampu bertahan... Aku bisa merasakan dia juga mencintaiku... Setiap kali aku menatap matanya aku melihat limpahan cinta untukku... Tapi setiap kali dia ada di depanku... Aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku... Pikiranku buntu karena takut akan ditolak...”
Memperhatikan kegelisahan yang dirasakan teman baiknya, Jodha tersenyum dan menjawab,-“Surya aku mengerti dan kuharap aku bisa membantumu... Ini masalah masa depanmu, dan aku ingin kau mengambil langkah pertamamu sendiri... Namun bisa kuyakinkan padamu bahwa Sukanya juga menyukaimu... Dia terus-menerus bertanya padaku tentang dirimu... Kapan kau akan datang... Apa yang kau suka... Apa makanan kesukaanmu... Ada kemungkinan dia juga menyukaimu... Aku bisa lihat percikan-percikan di matanya setiap kali dia memandangmu... Saranku kau harus segera melamarnya karena bapusa sedang mencarikan pasangan yang cocok untuknya... Aku tidak mau kau terlambat lagi... Surya, kau tidak perlu khawatir akan penolakannya... Jika kau tidak melamarnya sekarang kau akan kehilangan dirinya cepat atau lambat... Jika kau melamarnya segera maka ada kesempatan dia setuju menikah denganmu... Satu hal yang harus selalu kau ingat aku tidak pernah menolakmu... Takdir kita bukan untuk bersatu... Jika kau melamarku sebelum pernikahanku, aku mungkin akan menerimamu... Kau adalah Raja impian semua Putri Rajput... Setiap gadis akan bahagia menikah denganmu... Jangan patah semangat dan tetap percaya diri... Aku yakin Sukanya akan jadi milikmu...”
Mendengar kata-kata Jodha yang mendukungnya, Surya menjadi lebih bersemangat dan memeluknya. Jodha membalas pelukannya dengan kebahagiaan yang sama. Tapi di saat bersamaan Jalal yang masih kesal dan marah masuk ke dalam ruangan Jodha dan melihat Jodha memeluk Surya dengan senyum di wajahnya.

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 36 Part 2

1 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.