FF: Is It Hate or Love Chapter 36 Part 3 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 36 Part 3


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Pandangan Jalal jatuh pada Jodha, yang sedang berada dalam pelukan erat Surya. Dalam waktu singkat, mata Jalal menggelap dan tangannya mengepal erat. Atmosfer kecemburuan bergemuruh dan melingkupi tubuhnya. Seketika Jodha menangkap pandangan marahnya saat dia masih berpelukan. Kata-kata Kanika tentang hubungan Jodha dan Surya bergema keras di telinganya. Dalam sedetik wajahnya memucat melihat kedua orang itu sangat dekat  satu sama lain. Surya juga melihat Jalal dengan matanya yang terbakar emosi. Secepat kilat dia mendorong tubuh Jodha menjauh dan berjalan mendekati Jalal untuk menghindari kesalahpahaman, tapi Jalal menghentikannya dengan mengangkat tangannya dan meminta padanya dengan sangat pelan tapi dengan nada mematikan, “Surya tinggalkan kami sendiri...” Dia menggeram pelan dan mengirimkan nada peringatan padanya... Surya menundukkan kepalanya bersalah, dan menuruti perintahnya tanpa bicara.

Jodha melihat ke dalam matanya yang menggelap marah, dan berkilauan karena emosi yang memuncak. Kengerian merambati tulang belakangnya. Jantungnya mulai berpacu. Dia berlari ke arah Jalal untuk memberikan penjelasan, namun setelah melihat ekspresinya yang memucat dan penuh kekecewaan, kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Seluruh tubuhnya mati rasa hanya karena membayangkan akibatnya, dia tahu dia telah melewati batas dengan memeluk laki-laki lain di dalam ruangan pribadinya dan dia tertangkap basah. Seketika, dia menyesal, tapi terlambat, dia paham betul apa yang dipikirkan Jalal tentan Surya, betapa cemburunya dia saat Surya ada di dekatnya. Bahkan setelah mengetahu itu semua, dia mengabaikan hal itu dan memeluknya tanpa pikir panjang... Dia kehabisan kata-kata untuk membela dirinya sendiri. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan, isakan mulai tercipta di kerongkongannya dan muncul di pelupuk matanya. Tangannya yang gemetar berusaha untuk menyentuhnya, tapi tidak cukup berani untuk menggapainya.
Jalal bisa membaca ketakutan dalam sinar matanya yang polos. Melihat matanya mulai basah, kemarahannya luruh seketika. Menghembuskan napasnya dengan berat, dia berjalan mendekatinya dan menggenggam tangannya yang membeku di udara. Sambil membelai wajahnya dengan lembut, dia berkata,-“Jodha kau tidak perlu menjelaskan apa-apa... Aku percaya padamu lebih dari hidupku.... Dan aku juga sadar tentang fakta bahwa Surya adalah temanmu, dan tidak ada yang lebih dari persahabatan di antara kalian...” Suaranya yang lembut, tenang dan penuh cinta bagai musik mengalun di telinganya, hangatnya genggaman tangannya mampu menenangkan aliran darahnya.
Perlahan, air mata keluar tanpa disadarinya dan mulai menuruni wajahnya.... Jodha memeluknya dengan wajah berkilauan karena air mata. Mengetahui kepercayaan Jalal padanya, dia benar-benar tersentuh. Dia tahu betapa posesifnya Jalal, tapi meski sudah melihat sendiri kedekatan Jodha dan Surya, dia tidak mengatakan apapun mengenai kecurigaannya. Dia senang dan bingung pada saat bersamaan karena Jalal bahkan tidak bertanya padanya. Tapi perasaannya yang tidak yakin membuat hatinya tidak tenang, -“Jalal kau tidak kecewa padaku... SUNGGUH??? Kau benar-benar percaya padaku??” Jodha terdengar rapuh, takut dan was-was, tapi Jalal sendiri belum siap untuk bicara... Dia belum bisa memahami perasaannya sendiri apakah dia kecewa atau tidak... Keheningan menguasai beberapa saat... Saat dia lama tidak menjawab, Jodha mulai tidak sabar dan bertanya lagi...
“Jalal, tolong katakan kau tidak marah padaku??? Kumohon jangan salah paham padaku, aku tidak melakukan apapun untuk menyakitimu... Aku mencintaimu lebih dari hidupku, aku tidak akan pernah mengkhianatimu... Kumohon jangan tinggalkan aku Jalal. Aku tidak bisa hidup tanpamu.” Saat mengucapkan kalimat yang terakhir, kakinya sudah tidak mampu menyangga tubuhnya, dia tersungkur di kaki Jalal sambil mencengkeram jama-nya kuat-kuat. Mengutarakan semua kata-katanya, isakannya makin lama makin kencang. Napasnya makin tercekik. Seluruh tubuhnya seakan-akan mulai hancur hanya dengan membayangkan jika dia kehilangan cinta dalam hidupnya lagi.
Jalal mulai goyah melihat keadaannya. Dia tidak pernah bisa melihat Jodha dalam kondisi menyedihkan seperti itu. Air matanya bagai belati menghujam jantungnya. Wajahnya mulai pucat dan kelam. Cahaya dari dalam dan luar tubuhnya seakan pudar. Hatinya pilu melihatnya begitu putus asa. Jalal masih ingat kunjungannya terakhir ke Amer, bersama Jodha, sepuluh bulan lalu saat dia hendak menceraikannya karena menyaksikan pengakuan cinta Surya padanya dan kedekatan mereka. Dia mengerti rasa sakit, kecemasan dan ketidakyakinan dibalik kata-katanya. Namun hal yang lebih melukai hatinya adalah perasaan Jodha yang mengira bahwa dia akan meninggalkannya selamanya... dia mungkin meragukannya... dia mungkin tidak percaya padanya.. tapi pada kenyataannya tidak sedetikpun dia pernah berpikir Jodha akan mengkhianatinya...
Jalal mengangkat tubuh Jodha yang lemas dengan mencengkeram lengannya kuat-kuat dan menangkup wajahnya yang lembut dengan telapak tangannya. Lalu menghapus air mata di wajahnya dengan penuh kasih, dia berucap dengan nada serius dan penuh tekanan,-“Ya Jodha, Aku tidak meragukanmu, tapi aku tidak akan berbohong... Melihatmu dalam pelukannya telah menyakiti perasaanku dengan cukup dalam. Meski aku sepenuhnya percaya padamu tapi aku tidak suka kau memeluk pria lain meski tak ada perasaan diantara kalian. Sesungguhnya aku juga tidak terima jika ada pria lain yang menatapmu dengan bernafsu... Rasanya itu akan membakar tubuhku...Ya, aku sangat kecewa padamu, bukan karena aku meragukanmu, tapi sebagai seorang Putri Amer dan Permaisuri Agra, kau harusnya tahu batasanmu. Kau adalah KEBANGGAAN Mughal dan keluarga kerajaan Rajput. Aku sangat yakin padamu, tapi aku juga tidak ingin orang lain menuduhmu. Jika orang lain yang melihatmu dalam situasi yang mencurigakan seperti tadi, pastinya hal itu akan menghancurkan nama baikmu selamanya...”
Jodha menyadari kesalahan besar yang telah dilakukannya saat dia sangat gembira. Dia tidak kuasa menatap mata Jalal. Dia berkata dengan nada rendah, malu dan penuh sesal,-“Shahenshah kumohon maafkan aku. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melakukan kesalahan sebesar ini. Kumohon ampuni aku jika kau bisa, aku pasti tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.” Dia menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangannya sambil menangis. Dia tidak punya keberanian untuk menatapnya. Lututnya begitu lemah, dia butuh kehangatan dan kepastiannya bahwa Jalal benar-benar memaafkannya, dia ingin menyelam dalam pelukan hangatnya dan menerima kesalahannya, tapi dia sudah tidak memliki kekuatan yang tersisa.
Menyadari perasaannya yang kusut dan hancur, Jalal turut merasa sedih. Dia menghalau tangan Jodha dari wajahnya dan menangkupnya dengan tangannya sendiri dengan lembut. Dia tahu benar apa yang dibutuhkan oleh Jodha, dia tahu Jodha butuh kepastiannya... perlahan dia menyentuh pipinya di antara jari telunjuk dan tengahnya dan mendongakkan wajahnya dan mulai menciumi air matanya dengan bibirnya yang hangat dan lembut. Dia sadar nada suaranya yang keras dan tatapan marahnya telah mengguncang perasaannya, dia lalu berkata dengan nada yang lebih menenangkan,-“Jodha, berhentilah menangis... Lihat aku... Aku tidak bisa melihatmu seperti ini...” dia berkata dengan suara lembut dan penuh cinta, lalu membawanya ke dalam pelukannya.
Perlakuan lembutnya pada Jodha membuatnya lebih merasa bersalah dan dia mulai terisak lagi bahkan kali ini lebih keras dengan disertai cegukan, dia berkata,-“Jalal aku tidak tahu lagi harus berkata apa...Tapi aku merasa menjadi wanita paling beruntung di bumi ini... Tidak ada pria yang rela istrinya dipeluk laki-laki lain... Ketika aku melihatmu dengan Kanika dan aku mempercayaimu, itu bukanlah apa-apa karena wanita sudah diajarkan sejak kecil untuk menerima kenyataan bahwa seorang pria bisa memiliki lebih dari satu wanita dalam hidupnya... Tapi kepercayaanmu padaku membuatku tak bisa berkata-kata, aku tidak punya kata yang mampu menggambarkan kebahagiaanku... Tidak pernah sekalipun aku bermimpi menikah dengan pria yang tidak egois dan mencintaiku selamanya. Tidak cukup rasa syukurku pada Kanah karena telah mengirimmu dalam kehidupanku. Aku tidak tahu kebaikan apa yang telah kulakukan pada kehidupanku sebelumnya hingga memiliki DIRIMU sebagai suami dan cintaku... hari ini aku bukan hanya mencintaimu, tapi aku akan memujamu lebih tinggi dari Kanah. Namun untuk melegakan perasaanku, aku tetap ingin menjelaskan kenapa aku memeluk Surya seperti itu.”
Mendengar pengakuannya yang tak terduga, Jalal merasa bagai terbang ke langit ketujuh. Dia memeluk Jodha dengan penuh perhatian dan cinta, lalu dia menjawab,-“Jodha aku benar-benar percaya padamu. Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa padaku. Aku percaya padamu lebih dari hidupku... Tidak ada yang bisa memisahkan kita..” Lalu setelah diam sejenak, dia lanjut berkata,”Jodhaa...Hidup tanpamu takkan pernah tenang dan bahagia...Aku juga tidak pernah tahu sebelumnya bagaimana rasanya begitu dicintai oleh seseorang dengan begitu tingginya.... Kehadiranmu dalam hidupku memberikan warna yang baru..”
Kata-katanya dan kepercayaannya membuatnya kelu. Pikirannya beku. Jodha kembali memeluk Jalal dengan erat penuh rasa memiliki dan dengan suara seraknya berkata,”Aku mencintaimu Jalal...Aku sangat mencintaimu...” Keduanya tenggelam dalam pelukan hangat dan emosional selama beberapa saat.
Setelah beberapa saat, Jodha memecah keheningan dan dengan nada rendah dan hati-hati dia berkata,-“Jalal, aku ingin memberitahumu sesuatu...” Sambil memeluk Jodha, Jalal menjawab,-“Ya, permaisuriku tersayang... Katakan saja..”
Jodha melepaskan pelukannya dan menariknya ke dekat sofa,-“Kau tahu Jalal... Kemarin aku baru tahu kalau Sukanya menyukai Surya sejak dia berumur sepuluh tahun... Saat aku mengetahui hal itu aku khawatir karena aku tahu Surya telah mencintaiku dan bisa saja dia menolaknya... Betapa senangnya hatiku saat Surya sendiri mengakui cintanya untuk Sukanya.” Lalu dia ceritakan semuanya bagaimana Surya jatuh cinta pada Sukanya.
Mendengar hal itu, kata terkejut mungkin terkesan meremehkan. Karena dalam mimpi terliarnya sekalipun Jalal tidak pernah menduga bahwa hal itulah yang membuat Jodha memeluk Surya dengan penuh perasaan. Butuh beberapa waktu baginya untuk bereaksi, meski dia tadi mengatakan sangat percaya pada Jodha, tapi tak pelak kenyataan ini juga membuatnya sangat lega bagai beban berat tak lagi menghimpit hatinya. Tiba-tiba perasaannya langsung berubah, dengan senyum ceria, dia melingkarkan tangannya ke sekeliling lengan Jodha, ditariknya tubuh Jodha mendekat dengan seringai nakalnya dan bicara dengan nada senang,-“Ini benar-benar keajaiban.... Aku turut senang untuk Sukanya... Surya adalah seorang pangeran yang berani, jujur, setia dan tampan... Dan sebentar lagi dia akan menjadi Raja Jaipur dan yang paling penting, keduanya saling mencintai... Tidak ada yang lebih baik dari hal itu...”
Sambil merebahkan kepalanya di dada bidang Jalal, Jodha berkata dengan sedikit cemas,-“Tapi masalahnya adalah mereka tidak memiliki keberanian untuk mengakui perasaan cinta mereka satu sama lain karena alasan mereka sendiri, Sukanya pikir Surya masih mencintaiku sementara Surya pikir bahwa Sukanya akan menolaknya hanya karena dia tahu Surya telah lama mencintaiku. Aku berniat mencairkan kesalahpahaman mereka, tapi jika memang mereka saling mencintai maka mereka harus mengalahkan rasa takut mereka dan mengungkapkan perasaan mereka dengan cara mereka sendiri, dan lagipula itu adalah saat yang spesial, aku tidak ingin merusaknya. Itulah kenapa aku memilih diam.”
Jalal tersenyum menggoda dan menjawab,-“Jika kau mencemaskan pengakuan cinta mereka, maka kau tidak perlu cemas sama sekali. Jodha aku tahu apa yang harus dilakukan...Secepatnya Surya akan mengakui cintanya pada Sukanya... Aku akan mewujudkannya dengan caraku, tapi dengan satu syarat..” Dia berhenti sambil menatap sensual ke arah Jodha.
“Apa syaratnya Rajaku sayang?” Jodha bertanya dengan sama menggodanya.
“Sesuai dengan tradisi Mughal saat ada berita bagus, pertama kau harus memaniskan mulutku dengan bibir merah mu yang lembut dan tampak lezat itu.” Jalal menariknya mendekat dan berbisik di telinganya sambil mengelus lembut kulit wajahnya, nada suaranya bermain-main.
Jodha bergetar dengan sensasi yang menyengat tubuhnya, bisikan sensual dan sentuhan ringannya menciptakan gelombang gairah dalam dirinya. Wajahnya langsung merona, dan pipinya memanas... Dia lingkarkan tangannya ke sekeliling leher Jalal dan dengan nada suara yang menirukan desahan Jalal dia berkata,-“Jalal...Sebenarnya, aku sendiri tidak punya rencana meninggalkanmu secepat itu...Perbuatanmu sungguh menakjubkan hingga kau pantas merasakan sesuatu yang pedas dan asin sekaligus.... Hari ini kau telah memenangkan hatiku, bukan hanya sekali tapi berkali-kali, dengan cara yang mengejutkan lagi dan lagi.... Pertama aku terkejut ketika kau mengundang Sujamal bhaisa.... Omong-omong bagaimana kau bisa tahu segalanya, bahkan tanpa kuberitahu??? Kerinduanku padanya kusembunyikan dari semua orang, di dalam hati aku merasa sedih memikirkan kami semua bersenang-senang tanpa kehadirannya dan disitulah kau tahu kesedihan yang kupendam sendiri dan mewujudkan keinginanku. Kedua, kepercayaanmu yang tak tergoyahkan padaku dan sebuah janji. Aku memberimu sebuah janji yang bisa kau minta pada Ratumu ini kapanpun, hanya sekali dan aku pasti akan mengabulkannya tanpa membantah.” Lalu dia pura-pura menggigit telinga Jalal dan terkikik keras.
Jalal memejamkan matanya dan menghirup dalam-dalam aromanya yang memabukkan. Dengan senyum puas dia berkata,-“Jodha kau tidak perlu berterima kasih... kau tahu benar aku bisa mengorbankan hidupku, hanya demi secercah senyummu. Tapi kupastikan aku akan memanfaatkan keuntungan dari janji yang telah kau ucapkan padaku, dan ingatlah aku akan menagih janji ini dan menikmati setiap momennya dan aku tidak akan mudah terjebak dalam tipuan manismu...” Dia tersenyum dan bangkit dari sofa namun matanya tak lepas dari Jodha dan membopongnya ke dalam lengannya lalu mencium pipinya lembut dan membawanya ke atas tempat tidur.
Jodha tersipu berat memperhatikan kerinduan yang dalam dan penuh damba di mata Jalal, dan merona menyadari apa yang akan dilakukan Jalal selanjutnya, dia berbisik,-“Jalal... Kumohon lepaskan aku...Kau harus memenuhi tantangan itu jika kau ingin menyentuhku.”
Jalal menyuruhnya diam dengan tatapannya,-“Ssshhh...” dan mengunci bibirnya dengan menempelkan jarinya disana. Tubuhnya bergerak mendekati Jodha. Dia kunci kedua tangan Jodha ke atas kepalanya dengan tangan kirinya kuat-kuat, sementara tangan kanannya mengusap bibir bawah Jodha. Dengan sentuhannya yang tiba-tiba, dia telah memercikkan api di sepanjang punggung mereka. Atmosfer ruangan itu mulai dipenuhi dengan napas mereka yang tak beraturan dan tak terkendali. Mata mereka terkunci satu sama lain dalam gairah yang kasar, dalam dan tak berujung. Nafas yang panas saling berpadu... Perlahan Jalal makin menunduk dan menindih tubuh Jodha dengan seluruh tubuhnya. Dia berbisik lagi sambil melepaskan cincin hidungnya,-“Jodha perpisahan kita sungguh menyakitkan dalam enam bulan kemarin, tapi minggu yang lalu keinginanku untuk memelukmu dan menjadikanmu sepenuhnya milikku telah membunuhku. Aku teramat sangat menginginkanmu hingga tak bisa kuucapkan dengan kata-kata. Aku ingin merasakan cinta...Aku ingin kau tidur dalam dekapanku...Aku ingin kau menyentuh setiap bagian tubuhku...Aku bahkan masih belum percaya kita telah bersama lagi.”
“Jalal aku juga merasakan persis sama seperti itu... Minggu ini, menanti sekilas tatapanmu juga telah membunuhku.... Aku putus asa menunggu sentuhan dan dekapanmu. Aku juga ingin tidur dalam lenganmu yang posesif dengan damai, merasa terlindungi dan dicintai.”
Jalal tersenyum penuh perasaan, perlahan menggosokkan bibirnya sendiri pada bibir Jodha dan mengecup lembut di ujung bibirnya. Bergerak lebih ke atas, dia mencium pipi kanannya. Lalu menggigit cuping hidungnya dengan sensual, dia berbisik serak,-“Aahh...Aku sangat rindu pada aroma manismu....”
“Aku juga sangat merindukanmu Jalal...Aku tidak bisa menunggu apakah...” tangannya mencengkeram punggung Jalal. Balas berbisik dengan penuh rayu di telinganya dan membuatnya lebih merona.
Jalal menyeringai menyadari efek dirinya pada Jodha,-“Kau tidak bisa mengunggu untuk apa Jodha...” Dia bertanya memancing.
Jodha mendekatkan dirinya dan dengan tatapan penuh gairah dia berbisik kembali di telinganya,-“Aku tidak bisa menunggu lebih lama untuk menggigit telingamu...” dan benar-benar menggigit telinganya dengan keras di antara senyumnya. Jalal berteriak kesakitan karena aksinya yang tiba-tiba,-“Aahhh...Junglee Billi..” dan melepaskan cengkeramannya di tubuhnya. Dengan cepat Jodha mendorong tubuhnya dan bangkit dari tempat tidurnya sambil terkikik geli dan berkata,-“Hmmm...Itu hukumanmu karena menyebutku gendut.” Dan lari keluar dari ruangannya. Jalal juga tersenyum karena aksinya yang nakali itu. Dia berhenti di depan pintu, berbalik dan mengedipkan matanya,-“Shahenshah, aku akan menunggumu di teras dalam waktu setengah jam...Bersiaplah untuk menghadapi tantanganmu.”

Pemandangan di teras Jodha
Sore itu sangat indah dengan udaranya yang cukup sejuk dan segar. Jalal berdiri di teras dengan senyuman tersungging di wajahnya sambil menggosok lengannya untuk membuatnya hangat. Dia teringat kembali saat pertama kalinya dia beradu pedang dengan Jodha. Dia menarik napas panjang dan berbicara dengan dirinya sendiri,-“Oh Ratuku tersayang...Berapa lama aku harus menunggu...berapa lama kau akan membiarkanku putus asa, tapi hari ini aku tidak membiarkanmu menang atas cintaku... Aku pasti menang apapun caranya...Sudah cukup kau membuatku berlari mengejarmu, sudah saatnya aku ingin mendengarmu berteriak memanggilku sekali lagi...Aku ingin luruh dalam kehangatanku dan membuatku merasa lengkap.”
Jalal sudah siap untuk bertarung pedang, namun dikarenakan udara yang terlalu dingin, dia merasakan dingin pada tubuhnya yang terbuka. Untuk menghangatkannya, dia mulai berlatih. Sambil melakukan push up, dia memperhatikan baik-baik tiap sudut teras itu. Dia menyukai design bangunannya yang memungkinkan tidak seorang pun bisa melihat siapa yang sedang berada di teras, sempurna untuk para putri. Di sudut teras, terdapat sebuah ruangan kecil. Bagian luarnya dilukis dengan macam-macam warna yang menawan dan berkilau memantulkan atap. Banyak macam mainan dan boneka yang dilukis di tembok itu. Karena penasaran Jalal bangkit dan berjalan masuk ke dalam ruangan kecil itu. Senyum lebar terkembang di wajahny saat melihat ruangan bermain milik Jodha. Banyak sekali mainan dan boneka diletakkan di satu sisi sudut ruangan, sedangkan sudut lainnya dipakai untuk melukis dan menggambar. Sekali lagi dia tersenyum saat menemukan lukisan dirinya tergantung di dinding di seberang tempat tidur. Ketika dia memandang lukisan masa kecil Jodha yang menggemaskan bibirnya menekuk karena senyuman.
Jalal baru sadar kalau dia sudah menunggu lebih dari sepuluh menit. Dia keluar dari ruangan itu untuk memeriksa apakah Jodha sudah datang atau belum.
Beberapa saat kemudian dia mendengar seseoran datang menaiki tangga, dan mendengar nada bicara Jodha yang sedang memberi perintah.
“Apapun yang terjadi, pastikan tidak ada yang datang kesini...” Jodha memberikan perintah tegas pada Moti dan Reva.
Dia tiba di teras dan menutup pintunya. Jalal terkejut melihatnya memakai burkha. Dengan tatapan terkejut dia bertanya,-“Jodha begum, kau akan bertarung denganku dengan pakaian itu???”
Jodha menjawab dengan tatapan tajam,-“Sama sekali tidak Shahenshah...Pakaian yang kukenakan hari ini, tidak akan pernah kau bayangkan dalam mimpi terliarmu sekalipun.” Dan menyeringai misterius.

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 36 Part 3

4 comments:

  1. Hmmm...kaya'nya jodha pakai pakaian yg terbuka banget biar bisa menghilangkan konsentrasi jalal supaya dia bisa menang dalam bertarungnya

    ReplyDelete
  2. Kayaknya jodha akan memakai bj yg seksi deh spy bs membuyarkan konsentrasi jalal ntnya pd saat mrk bertarung

    ReplyDelete
  3. Next part nya dooooongs please....

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.