FF: Is It Hate or Love Chapter 36 Part 4 - ChusNiAnTi

FF: Is It Hate or Love Chapter 36 Part 4



Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Jalal makin bingung dibuatnya,-“Aku tidak mengerti Jodha...Apa yang kau kenakan yang tak pernah terbayangkan olehku???” Dia bertanya dengan tidak sabar.

Jodha tersenyum menggoda ke arah Jalal sambil membayangkan permainan konyolnya, apa pendapat Jalal saat melihatnya dalam pakaian seperti ini... Aku bahkan malu melihat diriku sendiri di depan cermin, lalu bagaimana dengannya? Dia punya banyak perandaian dalam waktu sesingkat itu. ‘Tapi bagaimana aku akan melepas Burka-ku...Oh Tidak...Aku tidak bisa,’ dalam sekejap dia merasa malu dan salah tingkah,’Ya Tuhan, Apa yang sudah kulakukan... Aku tidak mungkin tampil di depannya seperti ini... Kupikir aku akan merayunya dengan pakaian yang kupakai ini dan memenangkan pertandinganku.’
Setelah mendengar tentang pakaiannya, Keingintahuan Jalal memuncak. Dia juga memperhatikan perubahan ekspresi di wajahnya mulai dari berani lalu malu dan sekarang takut. Perubahan raut mukanya itu makin membuatnya penasaran.
Jodha memutuskan untuk melarikan diri saja. Dia sadar jika Jalal melihatnya berpakaian seperti ini, maka dia tidak akan bisa menahan gairahnya. Dengan nada gemetar dan takut Jodha berkata,-“Shah..en..shaaahh.. Aku akan kembali beberapa menit lagi..” dan secepat kilat mengambil langkah mundur menuju pintu. Menangkap gerakannya seperti hendak lari, Jalal mendekat dengan kecepatan yang sama. Dia bisa menduga niatnya untuk berganti pakaian dari raut mukanya yang berubah-ubah. Mungkin saja dia sedang mengenakan pakaian yang sangat seksi, tapi sekarang dia takut dan malu untuk menunjukkannya. Jalal menyeringai, menatapnya. Jodha cepat-cepat berbalik untuk pergi, tapi Jalal sudah lebih dulu memerangkapnya sebelum dia berhasil beranjak dari tempatnya.
Sekarang Jodha benar-benar gugup mendapati Jalal berada sangat dekat dengannya. Dia tidak ingin Jalal melihatnya dalam pakaian erotis dan seksi yang sedang dikenakannya di balik Burkanya.
“Jalal... Biarkan aku pergi...” Dia meminta Jalal dengan suara rendah dan gugup.
Jalal justru makin penasaran melihat sikapnya yang aneh. Dia dorong tubuh Jodha merapat ke dinding dan memerangkapnya dengan cengkeraman kuat di lengan atasnya.
“Jodha... Sudah cukup permainanmu hari ini...Sekarang aku tidak akan dengan mudah melepaskanmu.” Jalal tersenyum berani.
Jodha tidak berniat untuk membangkitkan gairahnya, yang tidak mungkin dia layani saat ini... Tidak, jadi dia meminta sekali lagi, dengan nada sedikit mengancam,-“Jalal...Lepaskan aku... Kalau tidak aku tidak akan bicara denganmu...”
Jalal makin kesal melihat sikap kepura-puraannya.
“Jodha, sekarang kau sedang menguji kesabaranku... Aku tidak sabar ingin melihat apa yang kau pakai di balik ini dan jangan lupa aku sudah sering melihatmu tanpa busana.” Dia menatap dengan penuh gairah dan mulai membuka kancing Burka sambil menatap wajahnya yang gugup. Jodha memejamkan mata dan pipinya merona merah.  Akhirnya Jalal membuka kancing terakhir dan Burka itu meluncur turun dari tubuhnya.
Apa yang dilihatnya berhasil membuat rahangnya terbuka dan matanya membelalak lebar. Mengatakan dia terpesona dan terpaku sungguh akan mengecilkan arti yang sesungguhnya. Tak pernah dalam mimpinya dia membayangkan Jodha dalam pakaian seperti itu. Dia sedang mengenakan rok pendek trasnparan dengan potongan pada tiap sisinya dan sebuah blus berpotongan halter neck.
Jalal sampai tidak bernapas gara-gara melihatnya berpakaian seksi seperti itu. Dia mundur dua langkah untuk mendapatkan gambaran lebih jelas. Matanya langsung dipenuhi dengan gairah. Dia menatap Jodha dari atas ke bawah. Blusnya yang berpotongan rendah mempertontonkan belahan dadanya yang menggiurkan. Bentuk dadanya yang sempurna terlihat penuh dan lembut seperti lapisan mentega di bawah blus merahnya yang berkelap-kelip. Blus mini dan rok pendeknya membuat pinggangnya yang mulus makin terlihat berlekuk indah. Pahanya terlihat jelas dari belahan roknya, yang membuat kakinya yang jenjang terlihat makin seksi. Kulitnya yang putih berkilauan dan lembut membuatnya makin terlihat MENGGIURKAN. Jalal sudah sering melihatnya, tanpa busana, tapi baju ini membuatnya terlihat jauh lebih seksi. Hanya dengan melihatnya, membuat Jalal makin terangsang.
Perlahan Jodha membuka kelopak matanya yang besar dan berwarna coklat untuk mengukur reaksi Jalal. Dia langsung waspada melihat Jalal menatapnya dengan penuh gairah dan terangsang, yang nampak jelas dibalik jamanya. Dia bisa mencium aroma hasrat dan kerinduan dari tatapan posesifnya. Tak bisa terhindarkan wajahnya yang bersemu merah, dia berusaha bersembunyi dari tatapan intensnya dan ingin melarikan diri dari sana. Jalal masih dalam posisi sama dengan mulutnya yang terbuka lebar. Jodha pikir dia punya kesempatan dan dengan cepat membungkuk untuk meraih Burkanya dan mulai lari ke arah pintu sekali lagi. Namun belum sempat dia melangkah Jalal sudah menangkapnya dan memaku tubuhnya ke dinding sambil mencengkeram kedua tangannya.
“Jalal...kumohon...Jangan hari ini..” Jodha memohon.
Pertama kalinya Jalal melihat Jodha mengenakan pakaian seksi seperti ini. Mana mungkin dia melepaskannya. Begitu pandangannya jatuh ke tubuh Jodha, tubuhnya merespon dengan penuh damba. Dia mendekat ke telinga Jodha dan menjilat cuping telinganya dengan gerakan sensual. Lalu berbisik serak,-“Jodha...aku tidak bisa mengendalikan tubuhku lagi...Kau membuatku tergila-gila kali ini... Kau benar-benar menggoda...” dia menunduk dan menggigit lehernya dengan gairah liarnya dan menambahkan,-“Aku ingin melahapmu...”
Jodha mengerang di antara rasa sakit dan senangnya karena gigitan itu,-“Aahh..” Dia berusaha membebaskan dirinya. Tapi cengkeramannya sangat kuat. Bahkan tanpa melakukan apapun, jantungnya sudah berdetak kencang. Jalal mulai terengah-engah. Di tengah dinginnya udara, tubuhnya mendidih dan selapis keringat mulai berkilauan di kulitnya memantulkan sinar matahari.
Jodha bisa merasakan rasa laparnya dan gairahnya yang liar. Tapi dia tidak akan menyerah semudah itu.
“Jalal... Kau tidak boleh menyentuhku sebelum kau menang..”
Jalal tidak bisa lagi menahan hasratnya. Dia sudah terbakar api gairah. Dia sudah menanti saat seperti ini selama enam bulan. Kerinduannya sudah memuncak. Bahkan dia merayunya,-“Jodha, jangan merayuku lalu kemudian kau menghukumku...Aku menginginkanmu sekarang... Aku tidak bisa menunggu sampai aku menang...” lalu dia mulai menciumi lehernya dan meninggalkan jejak bebas dan tanda merah di kulitnya. Tangannya mengusap lembut lekukan halus di pinggangnya yang terbuka.
Jodha juga kehilangan kendali dirinya terseret dalam arus gairah yang berputar saat itu. Dia berusaha mengembalikan pikiran sehatnya dengan cara meminta baik-baik dalam nada yang lebih tegas,-“Jalal aku harus pergi...Jangan hari ini...Kau harus menunggu saat yang tepat.... Berhenti merayuku, sentuhanmu membuatku tidak tahan lagi....”
Jalal menyeringai mengetahui respon tubuhnya dan berbisik sensual,-“Kau sendiri yang memulai permainan ini dan sudah terlambat sekarang. Aku sudah tidak bisa lagi mengendalikan tubuhku... Aku tidak akan menghentikannya apapun yang terjadi sekarang...”
Jodha makin kesal dibuatnya. Dia berteriak dengan keras dan tegas,-“Jalal...Cukup...Kau sudah berjanji padaku... Kau tidak akan menyentuhku sampai kau menang...”
Suaranya yang keras dan bernada tegas mengembalikan kesadaran Jalal dari pengaruh sihir sensualitasnya. Dia sadar telah benar-benar tersesat dalam mantra seksinya dan mengabaikan penolakannya. Jalal merasa malu karena telah kehilangan kendali dirinya. Darahnya mendidih dalam gairah dan emosi. Untuk menekan gairahnya, dia hantamkan tangannya dengan keras ke dinding. Rasa sakitnya berhasil mengalihkan desiran airahnya....Dia kepalkan kedua tangannya menekan dinding sementara Jodha berdiri mematung sambil memejamkan matanya dan menenangkan napasnya yang terengah-engah.
Melihat amarah dan gairah Jalal yang berubah liar, Jodha bergidik ngeri dan diam tak bergerak. Dia membeku di tempatnya. Dia merasa bersalah telah membuatnya seperti ini. Dia tak berani menatap matanya dan hanya menunduk karena malu. Dengan suara rendahnya dia berkata,-“Jalal, maafkan aku, aku tidak mengira hasilnya akan seperti ini gara-gara kau melihatku berpakaian seperti ini.” Belum sempat dia melanjutkan kata-katanya, Jalal sudah kembali menatapnya dan berteriak marah,-“Apa yang kaupikirkan saat kau mengenakan pakaian seseksi itu???? OH aku tahu, kau pasti berpikir akan bisa mengalahkanku dengan cara seperti ini... Kau pikir bisa mengalihkan konsentrasiku agar kau bisa menang dalam pertarungan pedang??? Benarkah... Cara yang murahan Jodha.... Jangan pernah lupa kalau aku adalah Shehenshah-e-Hindustan, Jalaluddin Mohammad... Pesonamu tidak akan berhasil menjebakku... Saat aku ada di medan perang, perhatianku hanya tertuju pada pedangku....dan aku sudah siap bertarung denganmu.” Dia berteriak frustasi dan menghunuskan pedangnya dengan marah ke arah Jodha. Dalam kemarahannya dia berkata kasar,-“Setelah kemenanganku aku tidak akan melepaskanmu...jangan meremehkanku Jodha...Kupastikan kau akan membayarnya karena telah mempermainkan perasaanku....Kau pasti tahu akibatnya jika mempermainkan Shahenshah e Hindustan.”
Kata-katanya mengusik Jodha. Dia tersenyum sinis dan membalas dengan angkuh,-“Jadi Jalal, kau ingin bilang bahwa gaun seksiku ini tidak akan mempengaruhimu selama pertarungan... Caramu bereaksi beberapa saat yang lalu, kupikir kau tidak akan mengalahkanku semudah itu. Baiklah... Kita lihat... Mana yang akan lebih kau perhatikan... Aku???? Atau pedangku?? Hari ini aku akan tahu seberapa hebat kau mengendalikan dirimu.”
Jalal menganggukkan kepalanya frustasi dan dengan ekspresi marah...dia tersenyum sinis dan berkata,-“Jodha, apa yang kau pikirkan, kau seorang perayu dan aku malaikat, dan kau akan merayuku seperti Meneka merayu Malaikat Vishwamitra??? Ingat...Aku sudah dilatih bertahun-tahun seperti Arjun untuk selalu fokus pada targetku, dan hari ini kau adalah targetku, selamatkan dirimu kalau kau bisa.” Namun kemarahannya langsung meleleh saat melihat Jodha tersenyum padanya.
“Shahenshah kapan kau belajar tentang Mahabharat dan Malaikat Vishwamitra??? Dia bertanya tak percaya.
“Jodha, dalam enam bulan itu aku mempelajari tentang Bhagavad Gita, Ramayan dan Prithviraj Raso.”
“Jodha tersenyum bangga padanya,-“Aku siap kalau kau siap, Arjuna-ku sayang...”dengan sinis dia menantangnya.
Mereka berdua dalam posisi siaga dengan pedang di tangan masing-masing...Jalal menunggu Jodha menyerang lebih dulu...Dengan seluruh kekuatannya Jodha menyerang dengan ayunan lengannya. Dengan mudah Jalal menangkis serangannya dengan pedang di tangannya dengan ekspresi sedikit mengejek. Jodha menahan tekanan dengan seluruh kekuatannya dan mendorongnya dengan pedangnya.
Jalal memperhatikan semua usahanya... dengan sedikit hentakan dia mendorong pedangnya untuk menahan serangan, sedikit dorongan itu sudah membuat Jodha limbung, dan belum sempat dia memperbaiki posisinya, Jalal menyerang balik... Dengan kekuatan yang lebih besar dan dorongan yang lebih kuat, dalam waktu sekejap Jodha kehilangan keseimbangannya sekali lagi... Jalal terkesan dengan kemampuannya dalam bertahan dan serangannya yang akurat, tapi itu pun karena Jalal tidak bersungguh-sungguh dalam usahanya dan hanya dalam posisi bertahan saja, dia sudah tahu dia bisa mengalahkan Jodha dalam waktu semenit.
Mereka berdua kembali saling menyerang dengan kemampuan yang berbeda. Beberapa kali Jalal kehilangan keseimbangannya, tapi langsung bisa memperbaikinya. Setelah beberapa menit, Jalal memutuskan untuk bermain adil dan dengan seluruh kemampuannya dia menyerang Jodha. Dalam waktu singkat Jodha kehilangan keseimbangan, tapi dengan cepat dia memperbaiki posisinya dan dengan emosi dia bangkit tapi belum sempat dia bersiap-siap...Jalal sudah menyerangnya... Jodha berhasil menahannya dengan pedang, tapi kekuatan Jalal lebih besar dan sulit untuk menahannya... Jalal mendorongnya ke dinding dengan pedangnya... Dia mulai memanfaatkan keunggulannya, meski belum ingin mengalahkannya...dia masih ingin bermain-main dengan Jodha.
Jalal mendorong Jodha hingga merapat ke dinding dan memerangkapnya. Jodha sadar dia nyaris kalah jadi dia melancarkan rayuannya dengan tersenyum manis sambil menatap mata Jalal dan mengecup telinganya dan menggesekkan dadanya ke dada Jalal yang terbuka.
Jalal merasa berada di atas angin. Langsung saja dia kembali terlena dan menciumnya dengan agresif. Digesekkannya pinggulnya pada pinggul Jodha dan bibirnya menguasainya dengan penuh nafsu. Saat Jodha sadar konsentrasi Jalal sudah terpecah, dia menjalankan rencananya dengan cepat...Dia mendorong Jalal dengan kedua tangannya dan dengan seluruh kekuatan dia...
Menerima serangan mendadak Jalal tersungkur ke lantai...Jodha bergerak maju dan menyerangnya...Jalal berhasil menangkis pedangnya meski masih terbaring di lantai... Wajah Jodha sudah bersinar membayangkan kemenangannya.... Dengan taktik tak terduga Jalal menjegal kaki Jodha hingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas tubuh Jalal... Sesuai rencananya, sebelum Jodha jatuh menimpa tubuhnya...dia sudah lebih dulu menahan pergelangan tangannya yang memegang pedang... Jodha jatuh menimpa dada Jalal dengan suara gedebuk... Jalal menahan tubuhnya dengan melingkarkan kedua kakinya...Dia juga memelintir tangan Jodha ke balik punggungnya... Dengan begitu, Jodha tidak bisa bergerak sama sekali.... Dengan kekuatannya sebagai pria, dia menyentakkan pedang di tangan Jodha hingga terlepas... Dia mencengkeram tangan Jodha dengan kencang dan makin kencang... airmatanya keluar menahan sakit, tapi dia masih berusaha mempertahankan pedangnya..... Namun begitu pedangnya jatuh ke lantai... Dengan cepat Jalal mendorongnya menjauh... Dengan senyum kemenangan Jalal melemparkan pedangnya... Menatap Jodha dan menyadari ada tangis dan rasa sakit tampak di matanya..
Dengan sedih dan terisak Jodha berkata,-“Jalal kau menang... sekarang biarkan aku pergi.”
Jalal ikut sedih melihatnya menangis...
Dia menghapus air mata di wajah Jodha dan berkata,-“Jodha, kemenanganku bukanlah kemenanganmu... Aku tidak bisa membiarkan matamu yang indah ini menangis, aku tidak akan bertarung lagi denganmu. Aku hanya menggodamu.”
Dengan wajah sembab polosnya Jodha berkata,-“Jalal...aku tidak menangis karena kau menang.” Dia memperlihatkan pergelangan tangannya yang terluka dan berkata,-“Lihat kau telah melukaiku demi kemenanganmu.” Melihat wajah polos dan luka di tangannya... Jalal merasa buruk dan bersalah.
“Jodha, maafkan aku.” Dia meminta maaf dengan nada bersalah.
“Aku akan memaafkanmu hanya dengan satu syarat, kau harus mengakui kalau kau curang dalam kemenanganmu...jadi kau kalah dan aku menang.” Saat mengatakan itu tampak seulas senyum tipis di wajahnya... Dia berusaha menyembunyikan senyum itu dari Jalal, tapi Jalal sempat melihatnya sekilas...Barulah Jalal sadar Jodha sedang berpura-pura...
Jalal melanjutkan dengan nada serius “Ohh...Jodha, kakimu juga terluka.”
Dia sungguh naif dan bodoh...mudah sekali membohonginya. Jodha tertawa dalam hati.
“Ya...Jalal...Kau mendorongku sangat keras hingga aku terjatuh berkali-kali dan terluka, bahkan aku tidak bisa menggerakkan kakiku.” Jodha menambahkan dengan nada lebih dramatis dan penuh penjiwaan.
Jalal mengendurkan cengkeramannya di pinggang Jodha dan sedikit bergeser..Dengan lembut Jalal menggeser tubuh Jodha ke samping dan bangkit dengan cepat lalu membopong tubuh Jodha di lengannya seperti pengantin baru, dan dengan nada sedikit panik berkata,”Jodha, jangan cemas, aku akan segera mengobatimu.”
Jodha tersenyum simpul memperhatikan kecemasan Jalal, dan berucap lagi dengan gaya dramatis yang sama,”Jalal, pertama kau harus mengakui kalau kau kalah dalam pertarungan pedang melawanku, barulah aku akan memaafkanmu.”
Jalal menatapnya penuh perasaan dan berkata,”Ssshh...Jangan berkata apa-apa lagi Jodha...pertama biarkan aku mengobati lukamu, lalu kita bicarakan lagi siapa yang menang.”
Dengan kakinya Jalal mendorong pintu menuju ruang bermain hingga terbuka dan membawa Jodha masuk ke dalam..
Jodha bertanya bingung,”Jalal, kenapa kau membawaku kesini?”
Jalal menyeringai senang sambil membaringkan tubuh Jodha ke atas tempat tidur dan menjawab,”Jodha begum, aku membawamu ke ruangan ini untuk mengobati lukamu.” Kali ini Jalal tersenyum sambil memandangnya penuh gairah dan cepat-cepat berjalan untuk mengunci pintu.
Jodha berteriak ngeri, “Jalal, ini tidak adil...Aku tidak akan bicara denganmu.”
Jalal tertawa sambil melangkah ke arahnya, dia membalas dengan nada menggoda,”Begumku tersayang, bahkan aku belum mulai, dan lihatlah dirimu...kau sudah mulai gemetar... Pertama, aku akan memeriksa satu per satu bagian tubuhmu, dimana saja yang terluka...lalu aku akan mengobatinya dengan tanganku, dengan sangat lembut.”
“Kau bajingan.” Jodha berteriak frustasi...
Jalal menelusurkan pandangannya dari atas ke bawah tanpa malu-malu...Blusnya yang berpotongan rendah dan napasnya yang terengah membuatnya makin sensual...Rok pendeknya memperlihatkan paha dan kaki jenjangnya. Dan sikapnya yang lucu serta tangis palsunya membuatnya manis sekali.
Jalal menggumam dengan sensual,”Oh begumku tersayang, siapa yang akan menyelamatkanmu dariku sekarang...”
Dan Jalal pun mulai mencumbu Jodha. Jodha tersadar bahwa dia sudah terlalu jauh melangkah... Sekarang Jalal menginginkan lebih....Dengan senyum kecil dia menangkup wajah Jalal dan berbisik, “Ini adalah piala atas kemenanganmu dalam adu pedang...untuk memiliki aku seutuhnya sebelum pernikahan kau harus memenangkan ketiga tantangannya dan kupikir kau tidak akan menang atas diriku dalam memanah, malam ini suamiku sayang, kau bisa menghitung bintang-bintang di langit sendirian.” Jodha terkikik lalu mencium bibirnya lembut untuk menenangkannya..
Mereka berciuman dengan lembut dan penuh cinta hingga keduanya kehabisan napas...Lalu Jalal mengambil alih kendali dirinya dan berusaha mengatur napas... Dia juga tidak ingin bertindaj terlalu jauh tanpa memenangkan tantangannya...
Jalal mencium pipi Jodha dengan kecupan ringan dan berkata,”Jodha kau benar-benar SIKSAAN MANISKU...”
Reva berteriak dari  luar, “Jodha.”
Jodha dan Jalal sama-sama kelimpungan...Tubuh atas mereka sama-sama telanjang sementara suara itu terdengar dari dekat pintu...
Jalal berbisik pelan,”Suruh Reva pergi dari sini.”
“Kenapa bukan kau yang menyuruhnya...Aku tidak bisa, aku malu...Apa yang akan dia pikirkan...Apa yang kita lakukan di ruangan ini.”
“Oke...Kau ingin aku yang memberitahunya...Kau yakin???” Dia bertanya.
“Jalal, kau yang membawaku ke ruangan ini, jadi ya... Cepat katakan padanya untuk pergi.”
Jalal tersenyum nakal, “Sesuai permintaanmu sayang.”
Reva berteriak lagi dengan cemas,”Jodha, dimana kau, semua orang sedang mencarimu?”
Jodha menatap Jalal dengan kesal,”Jalal, cepat lakukan sesuatu...kalau tidak dia akan membuka jendela untuk mencariku...Dia tidak tahu kau juga disini.”
“Kau sedang memintaku atau memerintahku?” Jalal memicingkan matanya bertanya
“Aku memerintahmu Jalal.” Dia menjawab tak sabar.
Jalal mengerling padanya,”Pikirkan baik-baik...Jodha..”
Jodha dengan marah...”Ya...Aku sudah memikirkannya baik-baik, jangan mengancamku, kita lihat apa yang bisa kau lakukan?”
Dengan seringai di wajahnya, Jalal mulai berteriak kencang,”OHH...Aaaah...AAHHH...Ya Jodha...Pegang aku kuat-kuat....OOOHHH ooohhh...Jodha...Ahh...(dengan napas terengah-engah) hmmm...” lalu dia berteriak lagi dengan sensual,”Oh Jodha Jodha...hentikan...Ahhh...”
Reva mendengar suara sensual Jalal....Mulutnya terbuka lebar dan dia salah tingkah....Segera saja, dia lari dari sana.... Mereka berdua mendengar suara anklet (payal) mengarah keluar dari ruangan itu...
Jalal terbahak-bahak melihat tatapan menusuk dan ekspresi Jodha yang kaku...
Ekspresi Jodha serupa dengan Reva, wajahnya terperangah....Dia sangat terkejut menyadari apa yang baru saja dilakukan Jalal... Jodha memukul lengan Jalal lalu menggigitnya karena marah... Sekarang teriakan Jalal bukan pura-pura,”Aaahh..”
Dengan jengkel Jodha bertanya,”Jalal...Apa yang sudah kau lakukan?”
Melihat raut mukanya, Jalal tertawa dan menjawab,”Jodha, anggaplah ini sebagai pembalasanku....kau sudah cukup menyiksaku jadi ini adalah hukumanmu.” Dia mengedipkan matanya pada Jodha.
Jodha menjawab kesal,”Baik kalau begitu, aku akan membalasmu di kompetisi memanah selanjutnya.”
Jalal tersenyum kecil dan bertanya,”Jodha, sepertinya kau menganggap tidak akan ada yang bisa mengalahkanmu dalam Memanah. Benar kan?”
Jodha berkata dengan angkuh..”Jalal, mungkin kau tidak tahu, tapi sampai hari ini aku belum pernah sekalipun kalah dalam kompetisi Memanah. Di seluruh penjuru Rajvansh tidak ada yang bisa mengalahkanku dalam memanah sementara aku sudah banyak mendengar tentang kemampuan pedangmu, tapi bukan Memanah. Jadi sedikit banyak aku yakin bahwa aku akan memenangkan kompetisi Memanah.”
Jalal mengecup pipi Jodha, membalas tatapan angkuhnya dan bertanya,”Jodha begum, bagaimana jika aku yang menang? Apa balasan untukku?”
“Jika kau menang maka kau tidak akan bisa membayangkan, apa yang akan kulakukan untukmu...Kucing liarmu akan melahapmu bila kau menang...tapi lupakan dulu soal itu, aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada reva, selamanya dia akan menggodaku soal tadi...”Dia berkata kesal.
Jodha bangkit dan mengambil blusnya yang robek, lalu meminta Jalal dengan wajah merona merah, untuk mengambilkan Burkanya yang ada di luar... Jalal tersenyum menggodanya dan berjalan keluar dari ruangan itu....

Jodha tiba-tiba berhenti melangkah dan bertanya... “Jalal... bagaimana pendapatmu tentang Sukanya dan Surya??”

Jalal tersenyum kecil.... menjelaskan seluruh rencananya....

Jodha ikut tersenyum dan berucap... “Kau tahu Shahenshah, Tuhan telah menganugerahimu dengan otak yang cerdas... Aku heran bagaimana bisa kau memiliki rencana seperti itu...”

Jalal dengan seringai angkuhnya... ”Jodha bergum, inilah yang dinamakan politik... Aku tidak mencapai posisiku hanya dari pertarungan pedang semata...”

Jodha menjawab dengan sinis, “Aku tahu benar betapa pintarnya dirimu... dan omong-omong aku mengalami sendiri bagaimana pintarnya otakmu itu.”

Jalal berkata dengan serius, “Jodha Begum, apa kau akan mengejekku terus?”

Jodha tersenyum... “Maafkan aku Shahenshah, aku hanya bercanda.”

Jodha bergegas kembali ke ruangannya untuk berganti pakaian sementara Jalal menunggunya di luar.

Beberapa menit kemudian, Jalal dan Jodha, bersamaan keduanya tiba di hall utama....

Wajah Jodha memucat tatkala melihat kecemasan, kemarahan dan kekecewaan tampak di wajah Ratu Mainavati dan Raja Bharmal.

Raja Bharmal bertanya khawatir sambil menatap lurus mata Jodha, “Kau dari mana??? Semua orang di istana mencarimu.”

Sebelum Jodha menjawab, Ratu Mainvati juga mulai mengomeli Jodha dengan suara sedikit tinggi, “Jodha, kau dari mana, apa kau tidak paham, besok adalah hari pernikahanmu dan kau masih saja berjalan berkeliling istana seperti anak kecil. Tidakkah kau sadar berapa banyak kerabat kita yang hadir dalam pesta ini. Kau masih saja tidak paham tanggung jawabmu... kau bukan hanya Putri Amer tapi juga Ratu Mughal dan Ibu mertuamu juga mencarimu kemana-mana.”

Jodha mulai gemetar dan air mata pun muncul di pelupuk matanya menyadari kecemasan dan kemarahan orang tuanya... Dia merasa bersalah atas ketidakpeduliannya.... Jodha menundukkan wajahnya dan diam mendengarkan luapan kemarahan Ibunya.

Jalal juga mengerti kenapa tiba-tiba orangtua Jodha menjadi panik dan marah.

Melihat Jodha yang tertunduk malu dan bersalah, Jalal ikut merasa bersalah.

“Ini bukan kesalahan Jodha. Sebenarnya, aku yang memintanya untuk menunjukkan padaku seluruh tempat di istana ini. Sepenuhnya aku setuju dengan kalian berdua, kami seharusnya memberitahu lebih dulu tentang rencana kami sebelumnya. Mohon maafkan kami atas kesalahan ini.” Jalal berbicara dengan nada dan wajah penuh sesal.

Ratu Mainavati dan Raja Bharmal seketika menyadari bahwa reaksi mereka terlalu berlebihan termasuk kemarahan mereka pada Jodha...

“Jamaisa, bukan begitu, tolong jangan mempermalukan kami dengan meminta maaf. Jodha adalah istrimu tapi  dia juga putri kami, tentu saja kau bisa membawanya kemanapun. Sebenarnya, reaksi kami terlalu kasar, hanya dikarenakan kami sangat khawatir dan cemas pada kalian berdua.” Mainavati menjawab dengan perasaan bersalah setelah beberapa saat kemudian dia memeluk Jodha dan menambahkan, ”Aku sangat yakin putri kami sangat bertanggung jawab.”

Jodha memeluk Ibunya sambil terisak.... “Ibu, tolong maafkan kesalahanku, karena diriku kalian berdua jadi khawatir.”

Suara Ratu Mainawati tercekat di tenggorokannya.... matanya mulai basah oleh air mata, dia mengusap air mata Jodha dan berkata dengan sedih... ”Sayangku, saat nanti kau menjadi seorang Ibu maka saat itulah kau akan mengerti bagaimana sakitnya seorang Ibu saat anak-anaknya dalam masalah, dan kau putriku akan segera terbang keluar dari sarangmu dan rumahku akan kembali kosong tanpa kicauanmu yang merdu. Dan mataku kembali berharap akan bisa melihatmu meski hanya untuk sekejap saja, aku tidak mampu menjauhkan dirimu dari pikiranku anakku...tidak sedetikpun, tanpamu aku jantungku akan berdetak tanpa kehidupan di dalamnya.”

Saat itulah Jodha dan Mainawati menyadari kalau mereka hanya memiliki satu hari tersisa untuk dihabiskan bersama. Keduanya saling berpelukan sekali lagi dan mulai terisak keras.

Semua orang mendengarkan percakapan mereka... Raja Bharmal... Kakak Sujamal... Saudarinya Sukanya dan Shivani.... Mata mereka juga basah oleh air mata melihat kesedihan Jodha....  

Jodha berkata sambil memeluk Ibunya, “Ibu, aku tidak ingin meninggalkan istana ini dan dirimu.”

Jodha masih saja terisak... Dia belum melepaskan pelukannya dari Mainawati...

Air mata juga mulai muncul di mata Jalal melihat isak kesedihan Jodha.... Dia hanya mampu berdiri diam disana....

Saudara tercintanya Sujamal mendekati Jodha dan mulai bernyanyi...

Ini rumah ayahmu saudariku sayang, ini adalah rumahmu untuk sementara
Suatu hari kau akan menjadi pengantin, lalu kau akan pergi ke rumah suamimu

Jodha mendengar nyanyian Sujamal, dia berlari ke arahnya... dan memeluknya sambil menangis... Sujamal menghapus air matanya dan merapikan tutup kepalanya.

Jodha menatap ayahnya dengan airmata tak terbendung.... Pertama kali melihat ayahnya menangis... dia makin tenggelam karena kesedihannya dan mulai bernyanyi...

Ayah, aku adalah kelopak kecil dari bunga mawar di tamanmu....yang memperindah tamanmu...
Kenapa sekarang aku harus pergi dan mekar di taman keluarga suamiku

Ketiga saudara perempuan itu mendekat untuk memeluk Raja Bharmal... mereka berpelukan dan menumpahkan kesedihan. Setelah mendengar nyanyian Jodha yang penuh kesedihan, semua orang di ruangan itu turut terisak...

Raja Bharmal memeluk ketiga putrinya sambil memejamkan mata... dan dengan suara tercekat... bernyanyi... menumpahkan perasaannya...

Anak perempuan adalah tanggung jawab dan ikatan sementara dengan seorang ayah
Tradisi dunia ini dan kita harus memenuhi tanggung jawab ini???

Jodha berlari ke arah Mainawati dan Dadisa... dia bersimpuh dan menyentuh kaki mereka... dan dengan suara lemah..

Kenapa kau membuat Ibu merasa bersalah, Saudari kau tidak tahu apa yang telah dilaluinya
Kau adalah bagian dari hatinya dan dengan air mata yang takkan pernah habis dia harus melupakanmu

Bhagwant Das menyentuh lengannya dan menyeka airmatanya sambil terisak... dan memeluk saudarinya tercinta... dengan sedih dia bernyanyi...

Saudara aku bagai burung di tamanmu,
Aku hanya punya waktu satu malam dan aku harus terbang pergi pada pagi hari untuk selamanya

Sujamal dengan suara pilu bernyanyi... sambil menyeka air mata Jodha...

Adikku sayang, kenangan masa kecilmu akan membuat kami menangis untuk waktu lama,
Namun tetap kita harus memenuhi tanggung jawab dan harus mengangkat tandumu di pundak kami.

Hampi semua orang di ruangan itu ikut menangis.... Saat Jalal datang pertama kalinya untuk menikahinya, dia tidak melihat setetespun airmata di wajah Jodha, namun kali ini tangisnya membuatnya sedih, tapi sebelum ada yang memergokinya menangis, dia bergegas keluar dari ruangan itu untuk menutupi kesedihannya dari semua orang...

Hamida, mendekati Mainawati dan Jodha untuk menghibur mereka. Dia duduk di sofa seberang mereka dan berkata, “Rani Sahiba, kumohon jangan mencemaskan Jodha... kami akan menjaganya lebih dari putriku sendiri. Aku berjanji padamu bahwa Ratu Jodha... Malika E Hindustan tidak akan pernah menangis lagi. Dia akan menerima limpahan cinta di Agra seperti yang diterimanya disini.”

Ratu Mainawati merasa lega mendengar kata-kata yang menenangkan dari Ibu mertua Jodha, Ratu Hamida.

“Aku tahu benar, kau mencintainya lebih dari kami mencintainya, tapi perasaanku sebagai seorang Ibu tidak mau mengerti semua itu... dalam beberapa hari ini kami semua lupa bahwa Jodha sudah menikah dan tidak lagi menjadi milik kami... Kami semua malah merasa Jodha masih akan menikah dan akan meninggalkan kami untuk pertama kalinya.” Mainawati menjawab dengan nada rendah dan sopan.

Jalal dan Abdul masuk ke dalam ruangan utama Diwan dan di hadapan semua orang Abdul memberikan pengumuman dengan suara keras, “Semuanya harap dengarkan... Shahenshah akan memberikan sebuah pengumuman penting.”

Pikiran semua orang tertuju pada pengumuman itu... Dalam waktu singkat seluruh ruangan dipenuhi oleh orang-orang. Jodha juga terkejut menduga-duga tentang hal apa yang akan diumumkan.

Jalal bangkit dengan anggun dari singgasananya dan dengan sikap kebangsawanan dan berwibawa mendeklarasikan... ”Terima kasih pada semuanya karena telah berkumpul disini dalam waktu cepat.” Setelah diam sejenak dia melanjutkan, “Ratu Jodha, telah menantangku untuk mengalahkannya dalam pertarungan Memanah dan aku sangat bangga menerima tantangannya. Aku sudah mengagumi kemampuan ilmu pedangnya dan segera, aku akan menjadi pengagumnya dalam kemampuan memanahnya juga, jadi aku mengundang semua orang untuk bergabung dengan kamu dalam kompetisi ini.”

Jodha terperangah dengan pengumuman itu, dia tidak pernah menduga Jalal akan menantangnya di depan umum seperti ini.

Raut muka Raja Bharmal langsung berubah... Tanpa membuang waktu, dia berjalan mendekati Jalal dan meminta untuk berbicara secara pribadi dengannya.

“Pertama, aku ingin meminta maaf atas sikap Jodha yang kekanakan karena menantangmu seperti itu. Shahenshah, aku tidak setuju kompetisi ini dilakukan pada saat seperti ini... Kami semua sudah cukup sibuk menyiapkan perta pernikahan, dan akan lebih sulit jika kami juga harus menyiapkan untuk kompetisi ini juga.” Raja Bharmal meminta dengan gugup.

Jalal serasa tak percaya mendengar kata-kata Raja Bharmal. Pria itu selalu siap menuruti semua permintaan menantunya (Jamaisa) tanpa banyak bertanya, namun sekarang wajahnya justru khawatir dan merasa bersalah... Jalal merasa pasti ada alasan yang lain...

Dengan pelan Jalal bertanya... “Raja Bharmal, Aku merasa kalau kau menyembunyikan sesuatu dariku. Aku sudah seperti putramu sendiri, jangan ragu-ragu dan katakan sejujurnya apa masalahnya.”

Dengan nada minta maaf Bharmal berkata.. ”Kau benar Shahenshah. Sebenarnya ada banyak Raja dari Rajvanshi disini, yang telah datang untuk menghadiri pernikahan dan aku juga tahu benar kalau kau adalah prajurit pemberani, dan tidak ada seorangpun yang mengalahkan kemampuan pedangmu, tapi Jodha sangat ahli dalam memanah, di seluruh tanah Rajvanshi tidak ada yang berhasil mengalahkannya. Aku tidak ingin Jodha mengalahkanmu dalam memanah di hadapan semua musuh-musuhmu, semua Raja di Rajvanshi adalah lawanmu. Kekalahan kecilmu akan berdampak besar dalam hal politik. Tolong mengertilah dan batalkan kompetisi ini.”

Jalal tersenyum... ”Raja Sahib, aku mengerti, tapi aku tidak ingin kau khawatir dan cukup percaya saja padaku... yakinlah padaku seperti kau yakin pada Jodha. Dan jika Jodha menang, aku akan sangat bangga padanya dan menjadi orang yang paling bahagia.”

Jalal tahu Raja Bharmal merasa tidak yakin dengan alasan yang diutarakannya.... tapi dia juga tidak sanggup menolak keinginan menantunya.

Dengan suara tertahan Raja Bharmal berkata, ”Seperti keinginanmu Shahenshah, aku akan mempersiapkan kompetisi itu.”

Seluruh Rajvanshi sudah tahu keahlian memanah Jodha... Beberapa Raja mulai membicarakannya. Akan sangat menyenangkan melihat Shahenshah dikalahkan oleh Ratunya sendiri. Dia belum pernah dikalahkan oleh siapapun seumur hidupnya.... Akan sangat menyenangkan melihatnya merasakan kekalahan pertamanya dari Ratunya sendiri. Hampir semuanya mencela ide bodoh Jalal tentang kompetisi terbuka ini.

Sujamal dan saudara-saudara Jodha  juga sama-sama penasaran.... Tak ada seorang pun yang punya gambaran tentang kemampuan memanah Jalal.

Abdul, Hamida dan Jalal ada di ruangan pribadi...

“Jalal, kenapa kau umumkan tantangan itu di depan banyak orang? Apa itu perlu? Seluruh Rajvanshi sudah berkumpul disini dan kekalahanmu bukan hanya menjadi kekalahanmu pribadi, tapi juga kekalahan Mughal dan aku sudah mendengar keahlian memanah Ratu Jodha. Kelebihanmu dalam pertarungan pedang bukan memanah, Jalal... Akan sulit untuk bisa menang. Jalal kau tidak memikirkannya masak-masak, jika kau kalah seluruh Rajvanshi akan menertawakanmu dan juga Mughal.” Hamida mengutarakan keberatannya.. dan menunggu reaksi dari Jalal.

Jalal menjawab tenang dan yakin, “Ammi Jaan, sebelum aku menerima tantangannya secara terbuka, aku telah memikirkan dampaknya secara dalam. Aku ingin mengejutkan seluruh Rajvanshi... Mereka semua sudah tahu kemampuan pedangku jadi sekarang waktunya mengejutkan mereka apa lagi yang mampu dilakukan seorang Jalaluddin Mohammad?? Yang kuharapkan darimu adalah keyakinan dan restumu.”

Abdul menyetujui dan menjawab, “Mariam Makhani, Tolong jangan mencemaskan tentang kekalahan Shahenshah... Mungkin saja tidak ada yang akan kalah, tapi aku sepenuhnya yakin bahwa Shahenshah tidak akan kalah melawan Ratu Jodha.”’

Pernyataan Abdul dan Jalal berhasil meyakinkan Hamida Banoo.... Dia tersenyum lembut dan memberikan restunya untuk Jalal... “Semoga Allah memberkati kemenanganmu.”

Segera setelah Hamida Banoo keluar dari ruangan itu, Mirza datang dengan pikiran dan kecemasan yang sama. Sebelum dia mengutarakannya, Jalal berkata, “Jika kau yakin padaku, jangan tanyakan kenapa.”

“Bhaijaan, aku percaya padamu lebih dari hidupku dan aku tidak memiliki keraguan akan kemenanganmu, tapi yang aku pikirkan bahwa hal ini akan menciptakan kericuhan politik dan aku tidak ingin kau atau Bhabhi Jaanku tersayang dipermalukan di depan umum.”

Sambil mengalihkan topik pembicaraan, Jalal bertanya, “Mirza, aku butuh bantuanmu.”

Mirza langsung menjawab pelan, “Ya... Bhaijaan Perintahkan aku.”

“Mirza bagaimana pendapatmu tentang Sukanya? Apa kau menyukainya?” Jalal bertanya serius.

“Apa maksudmu Bhaijaan?” Mirza bertanya terusik.

Jalal tersenyum kecil dan bertanya, “Mirza, bagaimana menurutmu tentang Sukanya dan pernikahanmu.”

Mirza memotong cepat, “Bhaijaan... Aku tidak menyukai Sukanya seperti itu, tapi aku suka menikah dengan Shivani.” Raut muka Mirza langsung memucat dan gugup karena keceplosan mengenai keinginannya untuk menikahi Shivani.

Jalal tersenyum atas jawaban cepat Mirza, “Aku tahu kalau saudaraku memperhatikan saudara iparku yang termuda Shivani, tapi aku ingin kau mendekati Sukanya dan berteman dengannya... aku ingin kau menghabiskan lebih banyak waktu dengannya.” Dengan tenang Jalal meminta pada Mirza tanpa menjelaskan rencananya yang malah membuat Mirza lebih bingung dan tidak mengerti.

“Tapi kenapa???” Mirza bertanya gelisah.

“Mirza kau tidak diperkenankan mempertanyakan perintahku, ingatlah bahwa aku adalah kakakmu... tapi aku akan menjawab pertanyaan kenapa darimu, karena aku mencintaimu.

“Maaf Bhaijaan... Aku tidak bermaksud untuk tidak menghormatimu tapi kau tahu Shiva...” belum sempat Mirza menyelesaikan kalimatnya, Jalal sudah memotongnya untuk menceritakan tentang kisah cinta Surya dan Sukanya... dan menjelaskan bahwa keduanya saling menyukai, tapi sama-sama takut untuk mengutarakan cinta mereka... ”Aku ingin kau membuat Surya cemburu padamu.” Lalu Jalal menjelaskan semua rencananya...

“Ya Tuhan... Bhaijaan.... otakmu benar-benar cemerlang...” Mirza tertawa dan menambahkan, “Ini akan sangat menyenangkan.” Namun sedetik kemudian wajahnya berubah sendu lagi, “Tapi Bhaijaan, jika aku lebih sering bersama Sukanya lalu apa yang akan dipikirkan Shivani tentang diriku, dia akan membenciku.”

Jalal menjawab sambil mencibir, “Kau sangat naif adikku sayang, kau bahkan tidak paham bahwa dengan cara ini juga akan membantumu.... Kuperhatikan Shivani juga menyukaimu, tapi dia terlalu gengsi untuk menunjukkannya. Begitu kau lebih perhatian pada Sukanya, dia akan segera menyadari perasaannya padamu. Dia akan sama cemburunya seperti Surya. Kita akan menjatuhkan dua burung dengan sekali lempar.” Jalal mengerling pada Mirza.

Dengan raut tak percaya Mirza berkata... ”Bhaijaan... aku tidak bisa berkata-kata. Otakmu benar-benar encer. Ini sungguh akan menyenangkan.”

“Mirza... dengarkan baik-baik.... Sukanya adalah gadis yang baik maka kau jangan melewati batasmu. Tetaplah menjaga jarak... Kau tahu maksudku, jangan ambil keuntungan dari situasi ini kalau tidak, percayalah, aku tidak akan melepaskanmu.” Dia berkata tegas.

Mirza menjawab tertahan, “Ya Bhaijaan, aku mengerti.”

Jalal dan Jodha berjalan berdua menuju tempat kompetisi. Jalal berkata menggoda, “Bersiaplah untuk kekalahanmu Junglee Billi...”

Jodha menatapnya karena terusik dengan kata-katanya....

“Omong-omong, apa yang akan kudapatkan sebagai balasan atas kemenanganku dalam kompetisi ini?” Jalal menyindir sambil mencengkeram pergelangan tangan Jodha secara tiba-tiba dan menarik tubuhnya mendekat.

“Percayalah... kau akan sangat menyesal jika memenangkan kompetisi ini... Aku tidak akan melepaskanmu jika kau menang.” Jodha menjawab marah sambil mendorong tubuhnya menjauh. “Masihkah kau berani menyentuhku?”

“Oh Ratuku yang pemarah.... Kau terlihat sangat panas ketika kau mengancamku seperti ini... Tapi percayalah pada suamimu tercinta, jika aku menang, aku tidak akan membiarkan satu benang pun menutupi tubuhmu. Dan omong-omong, hidungmu yang kecil dan pipimu yang memerah menggemaskan membuatku tergila-gila padamu... Membuatku bukan hanya ingin menyentuhmu, tapi juga melahapmu saat ini juga... disini...” Jalal berbisik sensual.

Jodha menjauh dua langkah darinya dengan kesal sambil memicingkan matanya dengan tajam.

Jalal hanya tersenyum ditatap tajam seperti itu...

Ribuan orang sudah memadati arena... Semua anggota keluarga duduk di barisan depan... Sukanya dan Mirza duduk bersebelahan.... Untuk menghormati Mirza, Sukanya mengobrol dengannya, sedangkan Mirza mulai menjalankan misinya membuat Surya dan Shivani cemburu, dia membuat lelucon yang berbeda tentang Amer dan membuta Sukanya tertawa... Sesuai rencana, tatapan Surya terpaku pada Sukanya dan Shivani menatap Mirza...

Pandangan Mirza jatuh pada Mehndi di tangan Sukanya, dengan sopan dia meminta Sukanya memperlihatkan Mehndinya. Dengan sedikit ragu, Sukanya mengulurkan tangannya pada Mirza untuk menunjukkan Mehndinya...

Mirza berkata dengan senang, “Wow Sukanya, warna Mehndimu sangat terang dan polanya juga sangat indah.” Dia ambil kesempatan itu untuk memegang tangannya sambil matanya melirik untuk melihat reaksi Shivani dan  Surya.

Sukanya mulai salah tingkah karena sentuhannya... Mirza masih menggenggam erat tangannya dan memandang tangannya dengan penuh perhatian.

Sukanya bertanya dengan ekspresi ragu dan tanda tanya di wajahnya, “Apa yang kau cari, di tanganku?”

Mirza memandangnya sambil tersenyum dan menjawab.... ”Hmmm... Sukanya.. Sekarang aku tahu semua rahasiamu.... Aku bisa melihatnya jelas di tanganmu, kau sedang jatuh cinta pada seseorang.” Wajah Sukanya merona merah.

Sukanya menarik tangannya dan menjawab malu-malu, “Apa yang kau katakan?”

Surya melihat Sukanya yang bersemu merah dan tersenyum sambil mengobrol dengan Mirza. Melihat kedekatan mereka, Surya terbakar cemburu... hatinya terasa membara...

Shivani juga merasakan hal yang tidak jauh beda, meski belum menyadari alasannya kenapa dia tidak suka Sukanya dan Mirza mengobrol bersama... Dia hampir berteriak, “Sukanya jiji... kenapa kau tidak kesini dan duduk di sebelahku?”

Sukanya menjawab dengan datar, “Shivani, aku akan kesana sebentar lagi.” Lalu karena penasaran, dia mengulurkan tangannya lagi dan bertanya, “Bisakah kau katakan padaku, apakah pernikahanku atas dasar cinta atau perjodohan?”

Jalal dan Jodha tiba dan duduk di sisi lain dari tempat Surya dan Shivani duduk... Jalal memperhatikan wajah Surya yang memerah karena menahan emosi... pria itu bahkan tidak sadar Jalal duduk di sebelahnya...

Setelah beberapa menit, Jalal bertanya serius pada Surya, “Bagaimana kabarmu Surya???” Saat itulah Surya baru sadar kalau Jalal dan Jodha sudah duduk di sebelahnya...

Dia menjawab dengan hormat, “Aku baik-baik saja Shahenshah...”

Untuk makin membuatnya cemburu, Jalal bertanya “Surya, apa kau sudah pernah bertemu dengan adikku Mirza??”

“Ya, aku pernah melihatnya, tapi kami belum sempat mengobrol..”

Jalal menunjuk ke arah Sukanya dan Mirza dan berkata, “Lihat itu adikku yang duduk di sebelah Sukanya.” Setelah diam sejenak, dia melanjutkan, “Sukanya dan Mirza terlihat sangat cocok.. seakan mereka memang tercipta untuk satu sama lain.”

Surya menoleh terkejut ke arah Jalal... dan hanya menganggukkan kepalanya.

Saat dia mulai memahami maksud perkataan Jalal... kemarahannya makin mendidih, seketika dia bangkit dan berjalan pergi.

Jodha dan Jalal saling memandang dan tersenyum... rencana mereka berjalan sempurna...

Akhirnya... Raja Bharmal tiba dan menempati posisinya... dan kompetisi pun dimulai..
 

* * * * * * * * * * * *


FF: Is It Hate or Love Chapter 36 Part 4

2 comments:

  1. mba chusni jangn satu satu dobg lanjutannya jadi ga enak bacanya kalau terpotong-potong ga asik .......

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.