From YM To Your Heart Part 10 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 10




FROM YM TO YOUR HEART
Part 10
 

~~~~~~~~~
Kamis, 06/04/13
Aadhya Jodha : Sir, analisa perbandingan laba rugi Golden Textiles dan Golden Beverages sudah saya revisi. Anda bisa memeriksanya di antara email yang saya kirim tadi pagi.
Aadhya Jodha : Sir....?

Selasa, 11/04/13
Aadhya Jodha : Sir, jika ada laporan yang ingin dianalisa, saya bisa mengerjakannya dengan cepat
Aadhya Jodha : Sir?

Senin, 17/04/13
Aadhya Jodha : Tuan Jalal Rashed?
Aadhya Jodha : Jalal?
Aadhya Jodha : Apa kau sibuk?

Kamis, 20/04/13
Aadhya Jodha : Jalal?
Aadhya Jodha : Kau ada waktu? Bisa kita bicara?
Aadhya Jodha : Bisa kau luangkan waktu untukku? Aku ingin bicara denganmu.
Aadhya Jodha : Ini sangat memalukan untukku. Ini salahku sendiri, kau tahu itu kan?! Aku yang pernah memintamu untuk tidak berhubungan lagi denganku, sekarang aku yang meminta waktu bicara denganmu.
Aadhya Jodha : Aku ingin meluruskan sesuatu denganmu....
Aadhya Jodha : Kumohon...hubungi aku...
~~~~~~~~~~~

Benar-benar menyedihkan. Jodha sudah sampai titik terendah harga dirinya. Dia bahkan harus mencari-cari alasan agar Jalal mau bicara dengannya. Apa lagi yang bisa dia lakukan? Setelah kekacauan yang dibuatnya sendiri, sekarang dia harus menanggung akibatnya. Pria yang dianggapnya tidak pernah serius dan hanya bermain-main dengan perasaannya justru adalah pria penuh perhatian yang memiliki kehormatan tinggi dan sangat menghargai perasaannya sebagai seorang wanita. Seorang pria yang melakukan hal-hal sederhana dan di luar kebiasaan hanya demi seorang wanita seperti dirinya.
Jalal benar, dia adalah gadis picik yang mengukur seorang pria hanya berdasarkan penilaiannya saja. Dia tidak pernah berusaha mengenal pribadi Jalal. Dia hanya sibuk mengusir pria itu karena rasa takut yang menggerogoti hati dan pikirannya. Dan pria itu telah pergi. Pria itu juga membawa pergi cinta yang harusnya bisa dinikmatinya.
Karena itulah Jodha ingin memperbaikinya, dan dia berharap kesempatan itu masih ada. Dia ingin meminta maaf pada Jalal dan menarik semua kata-kata yang pernah diucapkannya pada pria itu. Dia akan menelan semua rasa malunya. Kali ini dia tidak ingin merugi karena dia sudah merugi selama dua tahun saat mempertahankan hubungan dengan Varun dan yang dia dapatkan hanya kebahagiaan semu. Dengan Jalal, kebahagiaan itu nyata, debaran itu nyata, dan kehangatan itu nyata. Semua dirasakannya. Bayangkan, cukup dengan bergenggaman tangan saja, jantungnya akan berdetak lebih cepat, dan itu semua karena Jalal.
Jodha merindukan Jalal... Jodha tidak tahu sejak kapan dia memiliki perasaan itu, tapi saat ini, itulah yang dia rasakan. Dia rindu keusilan dan olokannya. Dia rindu senyum manis dan jahil di wajahnya. Dia merindukan suaranya yang berat dan dalam. Dia merindukan cara Jalal membuatnya tersenyum, melindunginya, membuatnya merasa seakan dia wanita yang paling cantik. Dia ingin bicara banyak hal pada pria itu, tentang kebodohan dan ketololannya. Dia berharap pria itu masih mau bicara dengannya.  Tapi sekarang, jangankan bicara, bahkan kelebat tubuhnya pun tidak terlihat sama sekali dalam satu minggu ini. Ruangan kantornya terkunci rapat. Pesan YM nya tidak satupun dijawab. Asistennya hanya mengatakan kalau dia sedang mengerjakan proyek di luar kantor.
Siang hari di kantor, Jodha lebih sering termenung dan menatap kosong ruangan Jalal. Di rumah, dia akan menghabiskan waktu malamnya sambil memandangi layar ponselnya, berharap Jalal menelponnya atau setidaknya membalas salah satu pesan YM nya. Tapi nihil. Jalal seperti menghilang, meninggalkan kekosongan dingin di dalam hatinya. Dilihatnya foto Jalal berulang-ulang, bukannya makin tenang, hatinya justru makin sakit. Kata-kata Jalal terus berkelebatan di benaknya.
Dia menyesal telah menyakiti perasaan Jalal dan dia berniat memperbaiki kesalahannya. Dia tidak ingin Jalal pergi dari hidupnya. Tidak, dia harus melakukan sesuatu.
Pada Jumat pagi, Jodha berangkat lebih awal. Dia punya rencana, karena itu dia langsung turun ke basement begitu sampai di kantor. Suasananya masih cukup sepi, kurang dari sepuluh mobil yang terparkir. Karena mobil Jalal tidak terlihat, maka Jodha putuskan untuk menunggu.  Dia duduk di salah satu sudut, di atas sebuah palang besi panjang, berharap sebentar lagi Jalal akan datang.
Sebuah mobil masuk dan berbelok beberapa langkah di sebelah kanan Jodha duduk. Mobil itu lalu berputar, menyelip di antara dua mobil dan terparkir dengan sempurna. Jodha mengenalinya. Itu mobil Jalal.
Senyumnya mulai merekah. Sambil menggumamkan pelan nama ‘Jalal’, Jodha berdiri dan melangkah mendekat. Dia melihat Jalal keluar, tapi lalu matanya menangkap gerakan dari sisi yang berlawanan. Seorang gadis keluar dari mobil yang sama. Karena terkejut, Jodha menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, sayangnya dia tidak memperhatikan ada sisa tumpahan pelumas di lantai tepat di bawah pijakan sepatunya. Alhasil, kakinya yang tidak seimbang tergelincir mulus di lantai dengan suara keras.
BRRUUGGHH... 
“Awwwww....”
Refleks, sebuah jeritan keluar dari mulut Jodha begitu pantatnya mendarat keras di lantai beton. Tidak cukup sampai situ, noda hitam dan licin itu kini juga menghiasi betis, lutut serta siku tangannya. Belum lagi rok dan kemejanya yang berwarna terang, mulai berhiaskan noda hitam.
Terdengar suara kaki berlari mendekat,  saat Jodha masih berkutat menghela tubuhnya untuk berdiri, sehingga dia tidak memperhatikan siapa yang sudah berdiri di depannya.
“Kau tidak apa-apa?!”
“Anda baik-baik saja, Nona?”
Jodha mendongak dan pandangannya langsung terkunci oleh tatapan Jalal yang terlihat cemas. Untuk beberapa detik mereka hanya saling pandang... Jodha lihat masih ada kemarahan di mata itu, tapi selain itu dia juga melihat....kerinduan... Jodha yakin dia tidak salah lihat, ada setitik kerinduan di balik tatapan tajam Jalal.
Sayangnya, sebuah suara menyela percikan di antara mereka.
“Nona, anda baik-baik saja?”
Jodha menoleh, ke arah asal suara dari samping Jalal. Dilihatnya seorang gadis yang sangat cantik membungkuk di atasnya.
“Anda bisa berdiri? Ijinkan aku membantumu..” Gadis itu mengulurkan tangannya untuk membantu Jodha berdiri dan dia tersenyum saat Jodha menyambut uluran tangannya.
“Apa kau terluka?”
“Eh...sepertinya tidak, hanya sedikit kotor..” jawab Jodha sambil memeriksa beberapa bagian tubuhnya yang bernoda.
“Ini, pakailah. Bisa untuk menutupi kemejamu. Tapi sebaiknya kau pulang saja...” Jalal menyarankan sambil menyampirkan jasnya menutupi punggung Jodha. Saat melakukannya, posisi tubuh mereka sangat dekat, bahkan Jodha bisa merasakan hembusan napas Jalal di samping telinganya. Hatinya langsung berdesir hangat.
“Eh...terima kasih, Sir. Tapi ada hal yang harus aku kerjakan hari ini. Jadi, aku tidak akan pulang...”
“Terserah..”potong Jalal ketus.
“Jalal, jangan begitu...” gadis itu menegur Jalal, “Nona, pakailah ini agar kau nyaman. Bisa untuk menutupi rok bawahmu yang kotor...” katanya sambil melingkarkan scarf lebar di sekeliling pinggang Jodha dan mengikatnya dengan simpul manis di bagian samping.
Jodha menurut saja diperlakukan seperti itu. Pikirannya justru dipenuhi pertanyaan tentang siapa gadis di depannya ini? Dia pasti bukan gadis sembarangan, dilihat dari cara bicaranya yang anggun dan berpendidikan. Meski pakaiannya sederhana, hanya t-shirt gading dilapis blazer biru tipis dengan bawahan denim yang membalut erat kaki jenjangnya, namun ada keanggunan alami dalam sikapnya. Lalu ada hubungan apa antara dia dengan Jalal? Kenapa harus satu mobil dengan Jalal?... Jujur saja, Jodha sedikit iri... lebih tepatnya cemburu...
“Terima kasih. Tapi bagaimana caraku mengembalikannya nanti?”
“Kau ambil saja.” Jawabnya ringan. “Baiklah, kami pergi dulu. Ayahku pasti sudah menunggu. Ayo Jalal...” katanya mengajak Jalal pergi.
Tanpa bicara lagi, Jalal berbalik menyusul gadis itu.
“Tunggu, Sir. Apa kau menerima pesanku?” Jodha mencegat langkah Jalal.
“Ya.”
“Bisakah...”
“Tidak. Ingat, aku bos dan kau stafku. Sesuai keinginanmu.” Kata Jalal dingin lalu melangkah pergi meninggalkan Jodha tanpa memberinya kesempatan bicara.
Hati Jodha makin mencelos sakit saat dilihatnya Jalal masuk ke dalam lift yang sama dengan gadis cantik itu dan mereka sama-sama tersenyum sebelum pintu lift menghalangi pandangannya.
Jodha melangkah lemas, menunggu lift berikutnya. Hari masih pagi tapi dia sudah mengalami kesialan dan perasaannya juga campur aduk.
Sebelum menuju mejanya, terlebih dahulu Jodha masuk kamar kecil untuk membersihkan noda yang menempel di beberapa bagian tubuhnya. Dengan lembaran tisu yang dibasahi dia mengelap noda di siku, lutut dan betisnya. Butuh beberapa kali usaha hingga semua nodanya bersih.
Ternyata cukup melelahkan juga membersihkan noda-noda itu. Setelah bersih, Jodha menghela napas berat sambil menatap pantulan dirinya di cermin ruangan itu. Wajahnya terlihat kusut, ada lingkaran hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur. Sapuan bedaknya tak mampu menutupinya. Jodha mulai membandingkan penampilannya dengan gadis cantik yang bersama Jalal tadi. Gadis itu jauh di atas levelnya.
 Siapa gadis itu? Kliennya? Atau incaran barunya? Tidak. Tidak. Aku tidak boleh berpikir macam-macam. Aku pernah salah mengira adik Jalal sebagai kekasihnya. Kali ini aku tidak akan membuat penilaian yang keliru lagi  tentang dirinya.
Begitu Jodha kembali ke meja kerjanya, dahinya berkerut bingung saat melihat ada sebuah paper bag berlogo merk terkenal diletakkan di atas kursinya. Jodha menoleh ke kanan kiri pada rekan-rekan kerjanya, berharap ada yang bisa memberitahunya. Tapi sepertinya semua orang sibuk dengan pekerjaannya, tidak ada yang memperhatikan kebingungannya.
Memang tertera nama Jodha di secarik kecil kertas di ujungnya, tapi tidak ada nama pengirimnya. Menyerah oleh rasa penasarannya, Jodha duduk, membuka dan merogoh isinya. Ditariknya keluar sebuah setelan kerja terusan selutut berwarna peach lengkap dengan blazer berwarna gelap. Jodha mengerutkan keningnya lebih dalam. Ini untukku? Siapa....? Jalal kah..? Tapi siapa lagi yang tahu aku butuh...?
Perlahan Jodha tersenyum setelah menyadari arti hadiahnya. Dia dekap baju itu bagai barang yang sangat berharga. Terima kasih, Jalal. Kau memang marah, tapi kau tidak bisa menahan dirimu yang masih peduli padaku.
Dengan riang, Jodha berjalan kembali ke kamar kecil untuk mengganti bajunya. Semuanya pas, seakan baju itu memang dibuat untuknya. Wajahnya merona merah, membayangkan saat Jalal memilihkan ukuran baju itu untuknya, mengetahui dengan tepat ukuran tubuhnya. Tubuhnya meremang membayangkan Jalal mengukur setiap inci tubuhnya dengan tangannya yang kuat itu.
“Jodha, bajumu bagus sekali. Aku pernah melihatnya di butik GL Ladies.... Saat itu, aku sempat ingin membelinya tapi sayang kartu kreditku sudah over limit. Aaahh.. aku iri sekali padamu...” seperti biasa Sneyka tidak bisa menahan komentarnya apalagi melihat penampilan baru Jodha.
GL Ladies?!... Sekarang aku tidak berani membayangkan berapa harganya...Oh Jalal.. terima kasih...
Jodha hanya tersenyum menanggapinya. Tidak, dia tidak akan cerita bahwa gaun ini hadiah dari seseorang. Dia ingin ini tetap menjadi rahasia manis antara dirinya dan Jalal.
“Jodha, apa kau lihat Chief Finance?”
“Eh... ya, aku tadi melihatnya...”
“Aku harus menyerahkan laporanku...”
“Biar aku saja... Maksudku.. aku...aku juga akan mengumpulkan hasil analisa yang pernah dia minta, jadi sekalian saja...” Jodha berbohong, tapi setidaknya dia jadi punya alasan untuk menemui Jalal.
“Baiklah, kebetulan kalau begitu...” Sneyka mengangkat bahu, tanpa curiga sedikitpun.
Jodha tersenyum manis, dia membayangkan pertemuannya dengan Jalal dan saat itu dia akan mengucapkan terima kasih dengan tulus atas hadiahnya.
Namun keinginannya harus tertunda sedikit lebih lama, karena sampai jam makan siang, Jalal belum muncul di ruangannya.
Jodha sedang makan siang bersama beberapa rekannya, termasuk Sneyka, di kantin gedung saat mereka melihat obyek paling menarik sedang berkumpul bersama. Tak pelak, mereka langsung kasak-kusuk membicarakan mereka.
Jodha tidak mendengarkan apa yang rekan-rekannya bicarakan, karena pandangannya sedang fokus memperhatikan ke satu titik. Jalal.... Dia sedang duduk di salah satu meja bersama dengan Tuan Rajeev Pandey, Chief Engineering, dan gadis cantik yang tadi pagi dilihatnya bersama Jalal. Dari tempatnya, Jodha memang tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi bahasa tubuh mereka menyiratkan keakraban di antara ketiganya. Dan itulah yang tidak disukainya. Dia tidak suka ada wanita, selain dirinya, yang bisa sedekat itu dengan Jalal.
“Putri Presiden Direktur memang sangat cantik...”
“Iya, kabarnya orang tuanya sedang sibuk mencarikan suami untuknya.. Mana ada orang bodoh yang menolak dijodohkan dengannya..”
“Orang kaya itu penuh pertimbangan. Tentu saja mereka akan mencarikan pria yang sepintar dirinya dan yang penting sekaya mereka...”
“Tapi tumben Tuan Putri berkunjung kesini. Yang kutahu dari dulu dia tidak ingin bergaul dengan orang-orang bisnis rekan ayahnya...”
“Mungkin dia menemukan kandidat suami yang cocok disini..”
“Menurut kalian siapa..?”
“Aku bertaruh untuk Chief Engineering... Dia tampan, sukses, dan mudah bergaul.”
“Tidak mungkin, aku bertaruh untuk Chief Finance... Dia terlihat dingin dan misterius, pasti bisa membuat Tuan Putri itu penasaran...”
Jodha tersentak menoleh begitu mendengar nama Chief Finance disebut-sebut.
“Tidak mungkin!” Jodha nyaris berteriak. Sontak menghentikan obrolan teman-temannya.
“Kenapa jadi kau yang marah?” tanya salah satu temannya keheranan.
“Eh... bukan, maksudku... kurasa mereka tidak terlalu cocok.. Lihat saja, Chief Finance orang yang tertutup, pasti sulit untuk bisa dekat dengan pria seperti itu. Tapi omong-omong, putri Presdir itu seperti apa orangnya?” tanya Jodha polos.
“Astaga, Jodha... kau benar-benar baru hidup lagi. Kau lihat disana, yang duduk di sebelah Chief Finance, itu Nona Mohita Sarojan, Tuan Putri Presiden Direktur Tuan Mohit Sarojan... Bagaimana, kau sudah tahu sekarang?” Sneyka menjelaskan dengan kesabaran yang dipaksakan.
Perlahan Jodha memutar kepalanya, memandang lekat-lekat ke arah tiga orang yang menjadi topik perbincangan rekan-rekannya. Nona Mohita Sarojan. Gadis cantik dengan ratusan kelebihan dibanding dirinya. Wajahnya yang cantik dan eksotis, setara dengan perpaduan antara keanggunan Behati Prinsloo dengan Sushmita Sen. Postur tubuhnya bak model Victoria’s Secret. Dia sempurna dalam dan luar. Masih adakah seorang pria yang tahan pada pesonanya? Sepertinya tidak. Bahkan orang lain bisa melihat keserasian Nona Sarojan dengan Jalal. Apakah Jodha masih bisa bersaing dengan gadis seprti itu?
Dengan pikiran kosong , Jodha kembali ke mejanya setelah makan siang. Dia kesulitan untuk fokus pada laporan-laporan yang menanti dikerjakannya. Lagi dan lagi, pikirannya melayang pada keakraban Nona Sarojan dan Jalal. Ingin rasanya dia menangis. Gumpalan penyesalannya sudah menyesakkan dadanya, menyadari Jalal makin jauh dari jangkauannya....
Sebuah pengumuman dari HRD memecah lamunannya menjelang berakhirnya jam kantor. Undangan makan malam untuk seluruh karyawan Golden Road di Hall lantai 2 dalam rangka penggalangan dana Charity for Healthy Sanitation.
Usai jam kantor, seluruh karyawan menuju Hall lantai 2. Tempat itu sudah dihias dengan ornamen-ornamen cantik dengan dominasi warna putih, kursi dan meja juga dilapisi kain putih, tidak ketinggalan sebuah panggung kecil tepat di ujung ruangan.
Jodha memilih tempat duduk dekat jendela yang sedikit tersembunyi di balik sebuah pot besar berisi tanaman palem kecil. Dia tidak begitu bersemangat menghadiri acara ini, tapi karena Sneyka terus memaksanya, akhirnya dengan berat hati Jodha ikut serta. Tapi sekarang Sneyka juga sudah hilang entah kemana berbaur dengan orang-orang yang memenuhi pesta itu.
Sang pembawa acara mulai memperkenalkan orang-orang yang berandil dalam acara amal ini. Jodha mendengarkan tanpa minat karena pikirannya tidak berada di tempat itu.
Lalu tak sengaja dia melihatnya, pria itu berjalan ke arah panggung bersama dengan Nona Sarojan tepat saat pembawa acara menyebutkan nama mereka. Tepuk tangan riuh memenuhi seluruh ruangan. Jodha ikut berdiri seperti yang lain, tapi wajahnya malah terlihat sedih .
Nona Sarojan seorang aktivis kemanusiaan yang cantik dan punya segalanya. Dia wanita yang diidamkan setiap pria.Di hadapan wanita sehebat itu, masihkah Jalal akan memperhitungkan dirinya?
Jodha merasa kalah, apalagi saat dilihatnya Jalal mengobrol santai bersama Nona Sarojan dan Ayahnya sambil sesekali tertawa. Pikirannya mulai mempercayai rumor yang beredar, tentang Presiden Direktur yang sedang mencarikan kandidat suami yang cocok untuk putrinya. Pasti Jalal termasuk di dalamnya. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa apa-apa lagi...
Di dalam ruangan pesta, hati Jodha makin lama makin sesak, akhirnya dia putuskan untuk pergi lebih awal. Langkahnya dipercepat, dia ingin segera menghirup udara segar di luar. Begitu berada di luar, dia berhenti untuk menarik napas panjang. Perlahan pandangannya menyapu lalu lalangnya kendaraan dan terangnya lampu-lampu kota. Ironis, di tengah hiruk pikuknya kota Mumbay, Jodha merasa sendirian dan kesepian. Lalu dia perhatikan tempatnya berdiri saat ini, disinilah Jalal beberapa kali mencegatnya sepulang kantor, memaksanya untuk mengantarkannya pulang. Jodha ingin mengulang semuanya kembali.
Andai saja....
“Jodha...”
Kepalanya berputar dengan cepat saat mendengar namanya dipanggil seseorang dari balik punggungnya.
“Ya..”
Jodha pikir yang memanggilnya adalah Jalal. Senyuman yang sudah muncul di wajahnya, dia tarik kembali saat dilihatnya yang memanggil adalah....
“Varun, mau apa lagi?”
“Jodha, aku ingin...”
“Tolong, aku masih menganggapmu pria yang baik. Tapi apa yang ada di antara kita sudah berakhir, tidak bisa lagi....aaahh..”
Seseorang menarik tangan Jodha dengan sekali hentakan dan terus menggelandangnya pergi dengan tiba-tiba, mengabaikan Varun yang memanggilnya berkali-kali di belakangnya.
Awalnya Jodha ingin memberontak, tapi saat tahu yang menarik tangannya adalah Jalal, dia menurut tanpa paksaan. Dia biarkan Jalal terus menarik tubuhnya, lalu mendorongnya masuk ke dalam mobil.
 Jalal tidak bicara, bahkan dia tidak melihat ke arah Jodha sama sekali.
“Jalal...” panggil Jodha saat mobilnya sudah melaju di jalan raya.
“Jangan bicara apa-apa.” Jawab Jalal dingin.
“Aku...”
“Tidak satu katapun, Jodha!”
Jodha mengatupkan mulutnya. Tidak apa-apa. Tidak masalah Jalal masih marah padanya, karena apa yang dilakukannya ini menunjukkan hal yang bertolak belakang dengan sikapnya. Secara tidak sadar, Jalal menunjukkan kalau dia masih perhatian pada Jodha.
“Terima kasih.” Jodha mengatakannya sambil menatap Jalal dengan lembut.
Di bawah sorot lampu jalan yang menerobos masuk ke dalam kabin mobil, siluet wajah Jalal terlihat angkuh dan dingin. Pandangannya tajam dan lurus ke arah depan. Tatapan Jodha lalu bergeser pada tangan yang sedang mengontrol kemudi dengan mantap. Bagi Jodha, bagian tubuh Jalal yang paling seksi adalah tangannya, karena di dalam genggaman tangan yang kuat itu Jodha selalu merasa hangat dan nyaman.
Bahkan kehangatan itu tetap terasa di hati Jodha hingga keesokan paginya saat dia menerima pesan YM dari Jalal yang memintanya ke kantor pada hari Sabtu itu karena mereka akan pergi ke Golden Premium.
Jodha berangkat dengan hati berbunga-bunga, apalagi saat dia melihat mobil Jalal sudah terparkir menunggu dirinya di depan pintu masuk Golden Road. Dengan langkah ringan dia menyapa Jalal yang tetap duduk di dalam mobilnya.
“Jalal, terima kasih kau mengajakku. Menyenangkan bisa pergi ke sana lagi denganmu dan aku berencana...”
“Kuharap kehadiranku tidak mengganggu rencanamu, Nona..” jawab sebuah suara, dan itu bukan suara Jalal.
“Ha...?”
Tuan Rajeev Pandey, Chief Engineering, melongokkan kepalanya dari balik bahu Jalal. Jodha jadi salah tingkah karena dia mengira hanya akan pergi berdua saja dengan Jalal. Dia tersenyum kikuk pada Tuan Pandey dan memberi salam. Dengan wajah datarnya, Jalal memberi isyarat pada Jodha untuk segera masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan, hanya Jalal dan Tuan Pandey yang terlibat pembicaraan serius, sedangkan Jodha hanya diam menyimak dari kursi belakang.
“Nona Sarojan sepertinya punya minat khusus padamu. Presdir sepertinya juga tidak keberatan.” Pancing Tuan Pandey.
“Apa kau mulai bergosip seperti yang lain?”
“Ini penilaianku secara matematis. Kalian punya ego seimbang, minat yang sama, penampilan yang saling melengkapi... Apa salahnya menanggapi perhatiannya? Dia kaya, tapi kurasa dia bukan tipe gadis yang hanya tahu caranya bersenang-senang...”
“Benar, dia punya kualifikasi yang bagus. Dia juga pekerja keras. Biasanya kan orang kaya tidak perlu bekerja untuk mendapatkan uang, mereka hanya tidur, dan bersenang-senang....”
 “Hei, aku juga pekerja keras. Posisiku kudapatkan bukan karena warisan.” Kata Tuan Pandey tersinggung.
“Aku sedang membicarakan orang lain.”
“Siapa?”
Jalal tidak menjawab. Dia melirik Jodha dari pantulan spion mobil di atasnya, tapi gadis itu tidak tahu karena wajahnya tertunduk dalam.
Begitu tiba di Golden Premium, ketiganya langsung sibuk bekerja, tidak ada jeda sama sekali. Tugas Jodha disana adalah mengolah beberapa data dari kedua pria itu, dia diajak karena dia tahu seluk beluk laporan proyek saat Jalal mengajaknya untuk pertama kali. Beberapa kali Jodha mencoba menarik perhatian Jalal dengan menawarinya kopi atau makan siang, tapi tidak satupun ditanggapi. Satu kali dia menawarkan diri untuk menyusun berkas-berkas yang berserakan di tas kerja Jalal, tapi langsung ditolak.
Waktu sudah menunjukkan jam tiga lewat saat kedua atasannya memutuskan untuk makan siang. Pilihan tempatnya adalah sebuah restoran mewah yang tidak jauh dari pabrik. Pelayan datang dan Jalal hanya mengatakan memesan makanan seperti biasa, berarti Jalal sering kesini, begitu pikir Jodha.
Menu pesanan dihidangkan dan Jalal terlihat begitu menikmatinya, memancing rasa penasaran Jodha tentang makanan apa yang jadi favorit Jalal. Jalal tahu aku suka minum teh hijau, jadi aku harus punya cara untuk mencari tahu apa yang disukai Jalal... Jodha mengerutkan dahinya sambil menggigit bibirnya, berpikir dalam-dalam.
“Tuan Rashed, apa minuman favoritmu?” tanya Jodha nekat.
Jalal hanya meliriknya sekilas tapi tidak menjawab. Dia terus menikmati makanannya dan menyeruput nikmat kopi di sebelah piringnya.
Kembali Jodha gigit jari, sepertinya Jalal masih terus mempertahankan sikap marahnya pada Jodha.
Jalal dan Tuan Pandey meninggalkan meja lebih dulu, tapi karena melihat Jodha belum menghabiskan makanannya, mereka berkata akan menunggu Jodha di luar setelah menyelesaikan tagihan.
Jodha pikir ini adalah kesempatannya. Begitu kedua orang itu pergi, Jodha menggeser duduknya mendekati piring bekas makanan Jalal. Masih ada sisa bumbu di piringnya. Setelah merasa yakin tidak ada orang yang memperhatikan, Jodha menjilat sisa bumbu itu dengan ujung jarinya. Dia meresapi rasanya, gurih dan cenderung manis. Lalu dengan sebuah sendok dia hendak menjumput sedikit sisa kopi yang tadi diminum Jalal, saat....
“Jodha, apa yang kau lakukan?”
Tangan Jodha membeku di udara mendengar suara dari arah belakangnya.
“Itu sisa kopiku kan?.”
Ternyata Jalal memergokinya. Wajah Jodha langsung merah padam menahan malu. Alasan apa yang harus kuberikan padanya?!
“Aku... Aku hanya ingin tahu kopi seperti apa yang kau suka.”
“Untuk apa?”
“Karena aku ingin lebih mengenalmu. Aku ingin tahu semua hal tentangmu.”
“Tidak perlu.” Jawab Jalal lalu pergi meninggalkan Jodha.
Kedua pria itu sudah menunggu di mobil saat Jodha keluar dari restoran. Begitu Jodha masuk, mobil langsung melaju kembali ke kota.
Tuan Pandey diturunkan kembali ke basement Golden Road karena dia meninggalkan mobilnya disana, sedangkan pada Jodha, Jalal berkata, “Aku sudah pesankan taksi untukmu.”
Jodha memandang Jalal beberapa saat lalu berucap, “Aku menyesal dengan semua yang kukatakan padamu malam itu. Aku memang egois, aku sudah membuat keputusan yang salah, dan sekarang aku ingin menarik semua kata-kataku.”
Jalal tidak merespon, maka Jodha melanjutkan, “Aku ingin... maksudku kau jangan menjauh dariku....”
“Kenapa? Apa yang bisa kau berikan padaku?... Beri aku alasan untuk tetap bersamamu!”
Sekarang Jodha yang bingung harus menjawab apa.
***************
















From YM To Your Heart Part 10

16 comments:

  1. Dipercepat dong lanjutannya.. jgn lama2 mpe seminggu lbh,jd nanggung bacanya..

    ReplyDelete
  2. Wah akhirnya yg lama ditungguin muncul juga, makasi mican jgn lama2 postingannya

    ReplyDelete
  3. Seperti reader lainnya, nggak masalah episodenya banyak dan meliuk-liuk yg penting updatenya 1-2 yach mbak, keep fighting for writing

    ReplyDelete
  4. Makin seru, makin penasaran ....semangat trus mba

    ReplyDelete
  5. Makin seru, makin penasaran ....semangat trus mba

    ReplyDelete
  6. Makin seru aja mba dan jd tambah penasaran,lanjut

    ReplyDelete
  7. Wah semakin mantap dan tambah geregetan setiap bacanya..
    Semangat mba tyas update nya.. selalu dinanti setiap lanjutannya..makasih
    Nb: btw cepetan update y mba hehe piss ^^v

    ReplyDelete
  8. bantu doa deh..supaya hati dan kepercayaan jalal terbuka seluas2nya buat jodha aja...

    ReplyDelete
  9. Mohon lanjut mbak.. kayaknya udah hampir 2 minggu yach kosong
    Siapa tau nextnya 2-3 epi skaligus dan tiap hari ada updatenya thanks..

    ReplyDelete
  10. Mbak koq malah judul lain yang ada updatenya ?
    Untuk ini mana donk ? Please ...

    ReplyDelete
  11. Mba lanjutannya mana kok malah cerita
    baru yg muncul penasaran ni

    ReplyDelete
  12. Mba lanjutannya mana kok malah cerita
    baru yg muncul penasaran ni

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda cerita beda penulis dan yang update, Mbak...

      Delete
  13. Please lanjutannya, writer.. we waiting

    ReplyDelete
  14. Mbak tyas From YMx mana nih koq lama sekalii :( kangeeennnn hikss

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.