From YM To Your Heart Part 9 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 9




FROM YM TO YOUR HEART
Part 9
 By Tyas

~~~~~~~~~
Jumat, 31/03/13
Rashed Jalal : Jodha, Kau dimana?
4 jam yang lalu
Rashed Jalal : Jodha?
3 jam yang lalu
Rashed Jalal : Jodha, ada yang harus kudiskusikan denganmu di ruanganku
2 jam yang lalu
Rashed Jalal : Jodha?
1 jam yang lalu
Rashed Jalal : Kalau kau baca pesanku, segera telpon aku
45 menit yang lalu
Rashed Jalal : Jodha?
30 menit yang lalu
~~~~~~~~~~~

Jalal gelisah di ruang kerjanya. Sudah lewat tengah hari, tapi dia belum juga melihat keberadaan Jodha. Sempat dia mengecek ke bagian HRD, tapi Jodha juga belum mengkonfirmasi ketidakhadirannya hari ini di kantor. Menelpon ke ponselnya? Entah sudah keberapa ratus kali dia melakukannya... Saat dia memberikan ponselnya pada Jodha, dia pikir keberuntungan ada di pihaknya karena dengan cara seperti itu dia akan leluasa menghubungi Jodha kapanpun dia mau. Tapi ini... Ini di luar perhitungannya.
Berbagai macam pengandaian muncul di kepalanya. Apa Jodha masih sedih? Tidak mau mengangkat telponnya sama sekali?... Atau apa telponnya dirampas di tengah jalan? Lalu gadis itu...Tidak, semoga saja tidak.... Dia tidak berani membayangkan sesuatu yang buruk menimpa gadis itu.... Apakah dia sedang sakit? Sedang istirahat? Dan dia tidak mendengarkan suara ponselnya  sama sekali?...  Apakah Jodha sedang bersama dengan Varun? Mengingat peristiwa kemarin mungkin saja mereka sedang berbicara ‘dengan tenang’ agar Varun tidak melakukan hal-hal aneh lainnya? ... Tidak mungkin, menurut perkiraannya Varun masih berada di dalam penjara atas tuntutan menyebabkan keonaran di tempat umum, sesuai laporannya kemarin.... Lalu dimana Jodha? Di sudut mana Jodha bersembunyi?...
Jalal mengusap wajahnya dengan putus asa, tubuhnya berkeringat di dalam ruangannya yang ber-AC. Campuran antara kesal, cemas, gelisah, marah dan khawatir semua dirasakannya bersamaan. Dan semua berpusat pada satu wanita. Jodha. Belum satu bulan Jalal mengenal Jodha, tapi wanita itu sudah mulai menguasai pikiran dan perasaannya. Wanita itu sudah menjadi pusat dunianya. Wanita itu juga sudah mengaduk-aduk perasaannya. Kendali emosi yang dilatihnya bertahun-tahun, runtuh di depan wanita yang bernama Jodha.
Dalam dua minggu ini, rasanya dia lebih sering menyebut nama Jodha daripada menyebut namanya sendiri. Ada senyuman setiap kali dia menyebut nama Jodha. Ada kebahagiaan, getaran perasaan dan masa depan setiap kali dia mengingat Jodha. Dia menjadi ketagihan untuk lebih sering bersama gadis itu, lebih sering memandanginya, ingin selalu mendengar suaranya, dan punya lebih banyak kesempatan untuk menggodanya.
Jalal menyisir rambutnya dengan jari-jarinya karena frustasi. Bahkan pekerjaannya yang berhubungan dengan kebijakan penting dan beresiko tinggi jarang yang bisa membuatnya frustasi seperti ini.  Tapi gadis itu, perasaannya yang disebabkan keberadaan dan, dalam kasus ini ketidak beradaan gadis itu, mampu menjungkir balikkan dunianya. Perasaan apa ini namanya? Jalal belum mampu mendefinisikannya. Apakah ini hanya sekedar kepedulian? Atau ketertarikan? Atau mungkinkah dia terobsesi pada gadis itu? Masalahnya, semua itu dirasakannya.
Sejak pertama kali dia mengenal Jodha, dia mulai melakukan hal-hal konyol untuk menarik perhatian gadis itu. Beberapa hal yang dilakukannya, hanya berdasarkan dorongan hati saja, tidak ada pertimbangan lain. Awalnya dia pikir itu rasa penasaran saat berhadapan dengan seorang gadis yang bersikap jual mahal dan sok acuh. Tapi dia makin tertantang meski gadis itu hampir terang-terangan menolaknya. Dan kini dia merasa makin terikat dengan semua hal yang berhubungan dengan Jodha.
Pekerjaannya terbengkalai. Beberapa laporan yang masuk tidak disentuhnya. Jalal hanya tertunduk di atas mejanya, matanya menatap layar ponsel yang diletakkan di depannya, berharap ada keajaiban yang akan membuat ponselnya berdering.
Dan terjadi, ponsel itu berdering. Benar-benar berdering. Bahkan Jalal juga tidak mempercayai penglihatannya,  karena itu dia hanya bengong beberapa detik menatap bodoh layar ponsel yang berkedip-kedip itu. Lalu saat kesadaraannya pulih, dan menyadari yang menelpon adalah orang yang dirindukannya, dia langsung mengangkat ponselnya, dan pertanyaan pertamanya adalah,
“Kau dimana?!”
Lalu dia hanya diam mendengarkan sambil mengerutkan dahinya. Dan sebelum dia mengantongi ponselnya kembali, dia berkata singkat, “Aku akan kesana!”
Tiga puluh menit perjalanan dari kantor menuju tempat Jodha terasa sangat lama. Berulang kali dia harus menahan diri untuk tidak berkendara melebihi batas kecepatan.
Menjejakkan kaki di lantai marmer Rumah Sakit, Jalal langsung berjalan cepat meliuk-liuk di antara padatnya pengunjung dan pasien pada siang hari itu. Dia tahu tempat yang ditujunya, dia hanya tidak sabar untuk sampai disana.
Berbelok di sudut, Jalal langsung bisa melihat Jodha sedang terduduk lemas dengan punggung agak membungkuk di salah satu bangku yang terletak di depan ruang ICU Mother Theresa Hospital.
Langkah Jalal melambat, mendekat ke arah Jodha tanpa bermaksud mengejutkannya. Dan seperti merasakan kehadirannya... Jodha berdiri dan langsung memeluknya....
Ini  sama sekali di luar dugaannya... Dia sama sekali tidak mengantisipasi perlakuan yang sangat istimewa ini... meski dia tidak menampik karena terlalu sering memimpikannya tiap malam...
Jodha memeluknya seperti seseorang yang hampir tenggelam dan saat berhasil meraih sebuah pelampung, dia akan berpegangan erat-erat... Jalal tersenyum, merasa tersanjung jika Jodha menganggapnya sepenting itu... Perlahan tangannya mengusap lembut punggung Jodha dengan gerakan naik turun. Dia berharap hal sederhana yang dilakukannya bisa menenangkan perasaan gadis itu, apapun masalah yang sedang dihadapinya.
“Sssst.... tenanglah... ceritakan padaku apa yang terjadi...”
Meski Jalal menikmati kehangatan pelukan itu, tapi dia tidak boleh egois saat ini... Yang dibutuhkan gadis itu bukan hanya sekedar pelukan. Jalal lalu memapahnya untuk duduk kembali.
“Aku tidak tahu Ibuku sakit, dia juga tidak mengeluh sama sekali, tapi itu memang kebiasaannya....dia menyimpan semua pikirannya sendiri.... dan itu menggerogoti kesehatannya... Tadi pagi dia pingsan... tubuhnya dingin sekali, aku juga tidak bisa merasakan napasnya.... Aku takut sekali... aku belum siap kehilangan dirinya....”
Jodha diam mengatur napas... dia sudah menahan semuanya dari tadi... Tidak tahu kepada siapa dia akan meminta bantuan. Satu-satunya kontak yang ada  di ponselnya hanya Jalal, terpaksa, tapi juga merasa lega, akhirnya dia putuskan untuk menghubungi pria itu.
“Sekarang bagaimana keadaannya?”
“Aku tidak tahu... Dokter belum memberitahu...Dan Ibuku masih di dalam...”
“Tenanglah, Ibumu pasti baik-baik saja. Dia wanita yang kuat sepertimu... Dia pasti akan sehat karena dia masih ingin melihat putrinya menikah, bukan?!”
Jodha mengangguk sambil menahan senyum... Jalal selalu mengatakan hal-hal tepat yang mampu membuatnya tersenyum...
Jodha kembali terdiam, meski masih merasa takut tapi dia kini lebih tenang daripada tadi sebelum Jalal datang. Kehadiran Jalal disampingnya memberikan efek yang luar biasa pada pikiran dan perasaannya.
Jodha merasakan kehangatan mengalir dalam tubuhnya saat Jalal diam-diam menggenggam tangannya yang gemetar. Ini kedua kalinya, tanpa kata-kata, Jalal mampu memberikan keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Mungkin karena tenaga yang sudah terkuras habis, begitu Jodha menyandarkan kepalanya pada lekukan bahu Jalal, dia langsung tertidur. Ternyata disana adalah tempat yang paling nyaman yang pernah diimpikannya. Terasa ringan saat memiliki seseorang di samping kita sebagai tempat untuk bersandar sekali-kali, menitipkan beban hidup dan mempercayakan rahasia yang tidak semua orang mengetahuinya.
Entah berapa lama Jodha tertidur, ada sesuatu dalam mimpinya yang membuatnya tiba-tiba terjaga. Seingatnya tadi dia tertidur di bahu Jalal, saat bangun dia hanya menemukan jas milik Jalal di bawah kepalanya.
Jodha berdiri dan celingukan ke kanan dan kiri mencari Jalal. Untunglah tak berapa lama Jalal muncul dan berjalan tenang ke arahnya.
“Kau dari mana?”
“Menemani Ibumu... Dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan... “
“Kenapa tidak membangunkan aku?”
“Putri Tidur terlihat paling cantik saat tertidur. Sayang sekali kalau harus kuganggu dengan sebuah mantra ciuman...”
“Jangan bercanda. Dimana Ibuku...?”
“Ke arah sini...”
Jalal menunjukkan jalan pada Jodha ke sebuah ruang perawatan VVIP yang berada di sebelah kanan koridor panjang Rumah Sakit. Dia lalu membuka salah satu pintunya untuk Jodha.
Gadis itu langsung menghambur masuk menemui Ibunya yang sedang terbaring di ranjang perawatan. Diperhatikannya wajah Ibunya sudah tidak terlihat pucat, napasnya juga sudah normal tanpa bantuan selang pernapasan, meski tubuhnya masih terlihat lemah.
Jodha menarik napas lega karena sudah berhasil melalui saat paling menakutkan dalam hidupnya. Ibu dan neneknya adalah satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Dia bekerja dan bertahan menghadapi segala masalah, semua demi mereka.
“Maafkan Ibu, Jodha...”
“Aku yang minta maaf, Bu... Aku tidak tahu Ibu sedang sakit... Seandainya aku tahu, aku akan langsung mengantar Ibu ke dokter tadi malam...”
“Tidak, Nak... Ibu sudah tidak apa-apa sekarang.”
“Jangan menyimpan semuanya sendirian, Bu. Katakan saja semuanya padaku... Sebenarnya ,masalah apa yang Ibu pendam?”
“ Tidak ada, Jodha. Sudah tidak ada masalah... Apa kau sudah mengucapkan terima kasih pada Jalal? Dia menemani Ibu tadi? Kau beruntung punya teman sebaik dia...”
Jodha baru sadar kalau Jalal masih berdiri di belakangnya. Saat namanya disebut, pria itu maju dan berdiri di samping Jodha sambil tersenyum lembut.
“Sebaiknya anda istirahat, Nyonya Aadhya.. Tadi kita sudah terlalu lama mengobrol...” Saran Jalal mengingat kondisi Nyonya Aadhya yang belum pulih sepenuhnya.
“Kalian mengobrol apa?” tanya Jodha penasaran
“Itu rahasia antara kami berdua. Benar kan Nyonya?” balas Jalal dengan nada bersekongkol.
Jodha hanya mengerutkan dahi menyadari munculnya persekutuan terselubung antara Ibunya dengan Jalal.
Jalal dan Ibunya saling melempar senyum misterius.
Jalal sudah kembali ke kantor dan bersikeras akan datang lagi dua jam kemudian, sedangkan Ibunya sudah kembali berisitirahat atas saran dokter demi kesembuhannya. Jodha menyempatkan diri menelpon Neneknya di rumah, untuk memastikan keadaannya. Hal berikut yang harus dilakukannya adalah menyelesaikan urusan administrasi Rumah Sakit.
Jodha menggeleng tak percaya saat pihak Rumah Sakit memberitahu bahwa semua tagihan pengobatan untuk Ibunya telah dilunasi, bahkan ada kelebihan deposit yang bisa digunakan untuk biaya rawat jalan. Dia tahu siapa yang sudah melakukan semuanya, masalahnya, harga dirinya tidak mengijinkannya untuk berhutang budi pada orang lain.
Jodha kembali ke kamar perawatan Ibunya, dan disana muncul lagi satu masalah dalam bentuk Varun.
“Mau apa kau disini?!” bentak Jodha saat melihat pria itu duduk di samping ranjang Ibunya.
Dilihatnya Ibunya juga sudah bangun dan sepertinya mereka sempat mengobrol tadi.
“Jodha....” Ibunya mencoba menengahi, dia tahu putrinya masih menyimpan kemarahan pada mantan tunangannya itu.
Varun berdiri, dia terlihat kusut, tapi dibandingkan kemarin, sepertinya dia sudah bisa mengontrol kegilaan emosinya.
“Bagaimana kau bisa keluar secepat ini?!”
“Ayahku membayar jaminan... Aku bisa bebas tapi masih di bawah pengawasan ketat.... Aku ingin menemuimu dan ingin minta maaf padamu... Saat aku pergi ke rumahmu, Nenekmu memberitahu kalau Ibumu sakit... Jadi aku langsung kesini... Jodha....” wajah Varun terlihat memelas, tapi Jodha tidak ingin tertipu lagi.
“Aku masih bisa memintamu dengan baik-baik untuk cepat pergi dari sini. Jadi tolong... sebelum aku berubah pikiran dan menelpon polisi...!” pinta Jodha dengan nada tegas.
Varun tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk lemah dan mengucapkan salam pada Nyonya Aadhya juga pada Jodha, yang tak dibalas oleh Jodha.
Jodha berpindah ke dekat Ibunya dan merapikan letak selimut di kakinya.
“Varun bicara apa saja, Bu?”
“Dia bilang dia menyesal telah menyakiti perasaanmu...dia juga bilang dia masih menyayangimu..”
“Dan Ibu percaya?”
“Dia terlihat bersungguh-sungguh saat mengatakannya...”
Jodha tidak berkomentar lagi, dia memaksakan sebuah senyum di wajahnya dan meminta Ibunya kembali berisitirahat. Sebenarnya dia ingin membantah, tapi dia takut akan berimbas buruk pada kesehatan Ibunya. Karena itulah, dia putuskan untuk mengalah dan memikirkan langkah selanjutnya nanti, setelah Ibunya benar-benar sehat.
Nyonya Aadhya dirawat total selama 3 hari. Dalam kurun waktu itu, Jalal sering menemani Jodha berjaga di Rumah Sakit. Kehadiran Jalal di sampingnya mampu memberikan rasa nyaman dan aman, tanpa Jodha sadari, dia juga sering merindukannya saat Jalal tidak ada. Bahkan pria itu juga yang mengantar Ibunya pulang dari Rumah Sakit.
“Jodha... Ibu ingin bicara sebentar..” ujar Ibunya begitu mereka sudah kembali di rumah.
“Tentang apa, Bu?” tanya Jodha sambil lalu, dia sedang merapikan baju di lemari Ibunya.
“Tentang perasaanmu....”
“Maksud Ibu?”
“Pria itu juga butuh kepastian, sama seperti wanita... Kau pasti sulit percaya jika hanya berdasar kata-kata, karena itu kau harus memberikan kesempatan padanya untuk membuktikan kesungguhan dari semua yang dikatakannya... Jika di tengah perjalanan, kau sakit hati, marah atau melakukan kesalahan, itu adalah bagian dari prosesnya...”
“Menurut Ibu, aku harus memaafkannya?!”
“Ya... Kebencian tidak membawa kebaikan apapun..”
Apa Ibu sungguh-sungguh memintaku untuk memaafkan semua kesalahan Varun? Benarkah? Apa aku tidak salah dengar? Dengan kata lain Ibu ingin aku kembali bersama Varun?!... Sanggupkah aku melakukannya? Demi kebaikan Ibuku?!
“Aku tidak mau lagi disakiti seorang pria seperti ayah menyakiti keluarga ini, Bu..”
“Dia bukan ayahmu. Tidak semua pria sama seperti ayahmu.. Harta belum tentu berpengaruh sama pada semua orang.”
Jodha memikirkan dalam-dalam ucapan Ibunya, sebelum dia meyakinkan keputusannya lagi.
“Ibu, apa sungguh itu yang kau inginkan?!”
“Ibu yakin kau akan bahagia dengannya, Jodha...”
“Baiklah, Bu...Aku akan coba bicara dengannya lagi..”
Setelah pembicaraan itu, Jodha lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Hanya berjalan mondar-mandir dalam keheningan. Dia menimbang-nimbang berat dan ringannya pilihan yang harus dijalaninya. Ibu benar, Varun memang tidak seperti ayah, tapi kebohongan yang dilakukannya sangat menyakitkan.. Di sisi lain, batalnya rencana pernikahanku dengannya ternyata membuat Ibu sangat sedih bahkan sampai sakit. Dan aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi. Mungkin sudah saatnya aku mengalah, mengendurkan sedikit prinsip hidupku, bertahan demi kebahagiaan Ibu.
Lalu pikirannya melayang pada Jalal, pria yang beberapa hari terakhir selalu ada untuknya. Pria impian sekaligus pria yang harus dijauhinya. Apalagi sekarang, Ibunya ingin dia kembali pada Varun, berarti sudah saatnya dia harus memberikan batasan yang tegas mengenai hubungan mereka. Jalal adalah pimpinannya, dan dia adalah karyawannya. Kenapa rasanya sangat berat?! Kenapa aku tidak rela hanya menganggap Jalal sebagai pimpinanku... Kenapa juga hati ini rasanya hancur hanya dengan memikirkannya saja?! Kenapa rasanya semua ini tidak tepat?! Apa yang terjadi denganku?! .... Aku sudah sering menolak ajakan kencannya, tapi saat itu aku...masih berharap dia akan mengajakku berkencan lagi.... Tapi sekarang... Bagaimana aku menahan diri saat harus berpapasan dengannya tiap hari di kantor?
Dan pada saat itu, ponselnya berdering, ralat ponsel milik Jalal berdering. Aku harus segera mengembalikan ponsel ini, pikirnya.
Jodha menjawabnya, “Ya... Kita harus bicara...”
Hanya itu yang dia katakan sebelum menutup telponnya. Jalal akan datang menjemputnya 15 menit lagi. Mereka akan bicara di luar. Maka Jodha segera bersiap-siap berganti pakaian dan membersihkan diri.
Saat masih sibuk merapikan dirinya di dalam kamar, Jodha mendengar suara Jalal sudah ada di ruang tamu. Rupanya Ibunya yang membukakan pintu. Tidak berapa lama terdengar suara mereka berdua sedang mengobrol. Jodha mengerutkan kening. Tidak salah lagi, mereka berdua mengobrol.  Ibunya bisa mengobrol, layaknya dua orang teman yang lama tidak bertemu. Setahu Jodha, Ibunya tidak pernah mengobrol dengan Varun. Paling tidak, berbeda dengan caranya mengobrol bersama Jalal.
Jodha keluar dari kamar dan dilihatnya mereka berdua sama-sama tersenyum ke arahnya.
Ibunya melambaikan tangan dengan bersemangat sekali saat Jodha berpamitan, seakan dia bahagia sekali melihat mereka. Jodha sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Ibunya, bukankah Ibunya ingin dia kembali pada Varun?! Tapi kenapa dia suka hati mengijinkan putrinya pergi bersama pria lain?!
Jodha tidak bisa menduga Jalal akan membawanya kemana. Dia juga tidak peduli. Dia percaya pada Jalal, itu saja. Selama perjalanan, Jodha tidak banyak bicara. Dalam otaknya dia sibuk menyusun kata-kata yang harus disampaikan pada Jalal yang tidak akan terlalu menyakitkan, setidaknya bagi seorang pria.  Tapi dia tidak menemukan apapun. Sejujurnya, dia belum pernah menolak cinta seorang pria, dia hanya terbiasa menjauh.
Tiba-tiba Jodha merasa hentakan kecil saat mobil Jalal berhenti, ketika dia memutar kepalanya barulah dia sadar mereka ada di mana. Ternyata Jalal membawanya ke bukit di pinggir Danau Powai. Jalal pernah membawanya kesini beberapa hari yang lalu saat dia menangisi pengkhianatan Varun.
Mereka keluar dari mobil dan berjalan ke arah pinggir danau. Jalal terlihat cukup santai berdiri sambil memandang ke arah kejauhan. Bertolak belakang dengan Jodha yang berdiri gelisah di sampingnya.
“Akhirnya aku bisa menikmati kencan denganmu, meski sejujurnya ini bukan kencan yang kuinginkan. Saat kau bilang kau ingin bicara, aku tidak ingin kita bicara di tempat umum yang ramai pengunjung....”
“Ini bukan kencan.” Balas Jodha kaku.
“Benarkah? Kalau begitu apa?”
Jodha menelan ludah dengan susah payah, berusaha melegakan tenggorokannya yang seperti tersumbat.
“Begini... jujur saja aku tidak pandai berkata-kata, tapi aku harus tetap mengatakan ini...”
“Ya..”
“Kita... Aku... tidak bisa berhubungan lagi denganmu... dalam bentuk apapun...”
Jalal terdiam, mencoba memahami maksud sesungguhnya dari kata-kata Jodha barusan.
“Maksudmu?!”
“Dengar.. aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya dengan baik, tapi... aku tidak ingin ada  salah paham... intinya... aku tidak akan pernah berkencan denganmu.... tidak akan pernah....!”
“Kenapa?!”
“Karena aku akan kembali bersama Varun, jadi....”
“APA?!” Jalal membelalak marah, jelas sekali dia tidak terima penolakan Jodha.
“Aku akan kembali bersama Varun, demi kesehatan Ibuku, lagipula itu pilihan yang logis...”
“Kenapa kau lebih memilih dia daripada AKU?!” tanya Jalal marah sambil menunjuk-nunjuk dadanya sendiri.
“Karena Ibuku...”
“Apa itu yang kau inginkan?!” potong Jalal.
“Tidak peduli apa yang kuinginkan. Aku tidak boleh hanya memikirkan kebaikanku sendiri..”
“Tapi apa itu yang KAU inginkan...?!” tanya Jalal makin menekankan setiap kata dalam pertanyaannya.
“Ya...” jawab Jodha pelan. Sangat pelan bahkan mungkin hanya dirinya sendiri yang mendengar.
Kedua tangan Jalal mengepal erat di samping tubuhnya. Dia marah, sangat marah. Kemarahan yang lebih tertuju pada dirinya sendiri. Rahangnya mengeras dan dadanya naik turun dengan cepat.
“Kenapa? Kenapa kau tidak memilihku?” Jalal menatap lurus ke dalam mata Jodha, mencari kebenaran di dalam jiwanya, “Apa karena aku belum pernah mengatakan ‘aku mencintaimu’? Sekarang akan kukatakan ‘aku mencintaimu’... Aku berusaha menahannya selama ini, karena aku tidak ingin kau merasa tertekan, aku ingin kau merasa nyaman bersamaku... Aku tidak ingin kau merasa terpaksa...”
“Jalal... ini bukan soal perasaan lagi... tapi ini tentang... kepantasan...” jawab Jodha membuat Jalal makin tidak mengerti, “Aku dan Varun ada di level yang sama, sedangkan kau jauh di atasku... Kau tidak akan tahu rasanya menahan malu karena dosa yang dilakukan salah satu keluargamu. Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya berjuang untuk hidup, tanpa punya satupun orang yang bisa kau andalkan....”
“Jadi ini semua tentang itu? Kau yang berhasil menjadi pejuang dalam kehidupanmu, menganggap perjuangan orang lain tidak ada artinya dibandingkan dirimu.... Kau pikir aku terlahir dengan semua kekayaan ini? Lalu kau menganggapku tidak tahu arti perjuangan hidup? Baiklah, kuberitahu... Ayahku bunuh diri saat usiaku 10 tahun, Ibuku menyusul setahun kemudian karena dia tidak kuat menjalani hidup dalam kemiskinan. Saat kau masih bermain dengan bonekamu, aku sudah mulai bekerja paruh waktu sebagai buruh cuci kain... Saat kau hanya perlu memikirkan tentang prestasimu di sekolah, aku sudah melakukan dua macam pekerjan paruh waktu dalam sehari... Saat kau sibuk dengan ulang tahun ke 17 mu, aku sudah bekerja penuh waktu di negara asing tanpa punya jaminan apa-apa....Saat kau bermimpi tentang cinta pertamamu, yang bisa kupikirkan hanyalah makanan apa yang bisa kubawa pulang untuk adik dan bibiku. Dan sekarang, saat aku meraih hasil kerja kerasku,  apa aku tidak boleh menikmatinya? Apa aku harus melepas semuanya lalu menjadi orang miskin agar kau mau menerima perasaanku?!... Tidak! Aku tidak akan melakukannya. Dengan hartaku, aku bisa melakukan banyak hal untuk kebaikan....”
“Jalal, aku tidak tahu kalau....” Jodha menutup mulutnya, tertegun dan tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya...
“Kau memang tidak tahu, karena kau memang tidak pernah ingin tahu.... Kau hanya berpegangan pada penilaian dangkalmu bahwa aku orang kaya yang hanya suka bermain-main, tidak tahu arti bekerja keras atau menjaga harga diri... Kau bukan hanya meremehkan aku, tapi kau merendahkan nilai-nilai hidupku karena kau menganggap nilai hidupmu lah yang paling benar....”
Mata Jodha berkaca-kaca, dia merasa bersalah pada Jalal. Kenapa jadi seperti ini? Andai dia tahu perjuangan berat pria itu, dia tidak akan mengatakan hal yang menyinggung perasaan seperti tadi. Andai saja dia bisa menarik kata-katanya, karena sepertinya semua yang diucapkannya berbalik menyerang dirinya sendiri.
“Selama ini aku lah yang berusaha keras mengenal siapa dirimu dan apa kebiasaanmu. Aku bahkan membayar orang untuk menyelidiki latar belakang keluargamu, bukan sebagai alat untuk mengancammu seperti yang pernah kau tuduhkan padaku, tapi agar aku tidak salah langkah saat mendekatimu. Aku memindahkan ruanganku di lantai 3 agar aku bisa melihatmu setiap hari, aku mulai hapal kebiasaanmu minum teh hijau setiap jam 2, saat kau mulai merasa ngantuk. Aku tahu kau tidak suka menghiasi mejamu dengan bunga yang baru dipetik, tapi kau menyukai semua benda yang bermotif bunga. Kau juga paling tidak suka kalau ada yang meminjam pena kesayanganmu... Bagaimana? Aku sudah terlihat cukup bodoh di matamu? Melakukan hal-hal konyol demi seorang wanita yang didekatinya, tapi wanita itu terus-menerus membuang muka.... Tapi tenanglah, semua kegilaan ini sudah berakhir. Akan kupenuhi keinginanmu. Kupastikan mulai detik ini aku tidak akan merecokimu dengan hal-hal kecil. Aku tidak akan mengganggumu. Aku juga tidak akan merayumu agar kau merubah keputusanmu....”
Setetes air mata jatuh di wajah Jodha, diikuti tetes yang kedua, lalu tetes-tetes berikutnya hingga kini wajahnya basah oleh air matanya sendiri. Tidak ada suara yang mampu dikeluarkannya. Juga tidak ada isak. Tapi penyesalan itu ada, dia menyesal atas keputusannya... dan kini dia akan kehilangan seseorang yang telah melakukan banyak hal untuknya tanpa pernah dia hargai. Tidak... harusnya tidak seperti ini kejadiannya.
“Satu pertanyaan terakhir... andai kau bertemu denganku lebih dulu, apa kau akan memilihku?... Sepertinya tidak, ini semua karena aku hanya pria kaya bodoh tanpa tujuan hidup yang jelas, bukan begitu?!” kata-kata Jalal terdengar sangat getir di telinga Jodha, dan dia tidak tahan mendengarnya lagi. Air mata makin deras menuruni wajahnya, membuat pandangannya kabur. Wajah Jalal yang terluka hanya tampak samar-samar di pelupuk matanya. Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?!
Jodha ingin minta maaf, tapi dia bahkan lupa cara untuk mengejanya karena begitu penuhnya isi hati dan pikirannya dengan penyesalan.
Pembicaraan itu berakhir disana. Jalal masuk ke dalam mobil. Dia meninggalkan Jodha yang masih berdiri di luar. Jodha berharap dia masih bisa memperbaiki kekacauan yang baru dibuatnya. Tapi sepertinya Jalal sudah tidak mau bicara lagi. Kesempatan itu sudah tertutup. Terpaksa Jodha juga masuk ke dalam mobil, dan...pulang.
Entah bagaimana caranya mereka melewati perjalanan pulang yang panjang dan sepi. Saat tiba di apartemennya, Jalal hanya menitipkan salam untuk Ibunya, dan langsung pergi. Sekali lagi meninggalkan Jodha dalam kekosongan. Seperti lubang menganga yang akan terus menghisapnya dalam kesedihan.
Nyonya Aadhya menyambut Jodha yang pulang dengan langkah gontai dengan wajah berseri-seri.
“Jodha, bagaimana? Apa Jalal senang? Kenapa dia tidak ikut masuk? Apa kau tidak mengundangnya ke sini?” rentetan pertanyaan Ibunya makin membingungkan Jodha.
“Kenapa dia harus senang, Bu?” tanya Jodha lemah.
“Bukankah kalian tadi membicarakan tentang perasaan kalian? Kau tahu, Jalal itu pria yang sangat baik... Dia bahkan meminta ijin pada Ibu untuk menyukaimu, kau bisa bayangkan itu? Biasanya anak muda selalu bertingkah semaunya sendiri, tapi dia begitu menghormatimu dan ingin membangun kepercayaan antara kita bertiga.”
“Meminta ijin? Jadi maksud Ibu, pria yang...”
“Iya, Jodha. Jalal adalah pria yang tepat untukmu. Dia sangat bertanggung jawab. Ibu tidak melihat ada kepura-puraan dalam sikapnya. Dia selalu terlihat bersungguh-sungguh terutama saat menceritakan tentang dirimu.”
“Lalu yang Ibu katakan tentang kesalahan...”
“Jalal menceritakan tentang perkenalan awal kalian saat dia belum mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya. Dia bilang dia merasa bersalah sampai saat ini karena membohongimu... Dia khawatir kau masih marah gara-gara itu... Jadi, bagaimana Jodha? Apa kalian bersenang-senang tadi?”
Jodha terduduk lunglai di sofa, tubuhnya terasa sangat lemas bahkan otaknya pun ikut tumpul. Pandangannya kosong. Masih adakah yang lebih buruk dari ini?
“Oh Ibu...aku sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku...”

****************



From YM To Your Heart Part 9

9 comments:

  1. Keren
    Ditunggu lanjutannya

    ReplyDelete
  2. Hikss... hiksss sesak rasax penyesalan datangx selalu dibelakang :(

    ReplyDelete
  3. Hi jangan lama yah lanjutannya

    ReplyDelete
  4. Ceritanya bagus bgt mbak,lanjutnya jangan lama2 ya

    ReplyDelete
  5. Nyesseekk .. Hiikkzzzz
    hiikkkzz
    hikkzzz

    ReplyDelete
  6. wwwaaahhh pengen nangis n teriak juga..

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.