Is It Hate or Love Chapter 36 Part 1 - ChusNiAnTi

Is It Hate or Love Chapter 36 Part 1


Written by Bhavini Shah
Translate by Tyas Herawati Wardani

Setelah mendengar penjelasan Jodha, Jalal akhirnya merasa tenang. Dia tidak mampu lagi menampung perasaan bahagia hingga air mata kembali membasahi matanya. Dia rangkul Jodha ke dalam dekapannya dan meluapkan suka citanya melalui tetes-tetes air matanya. Setelah puas memeluk kekasihnya, Jalal melonggarkan dekapannya dan menarik napas panjang penuh kelegaan dan menahan air matanya agar tidak lagi keluar. Dia sungguh terpana mendengar kata-kata penuh makna dan kepercayaan Jodha padanya. Menangkup pipinya yang lembut dan halus, Jalal mengecup hangat kening Jodha dan mulai bicara dengan suara tertahan-“Maafkanlah aku Jodha...Aku sudah menyebabkan banyak masalah untukmu...Aku seharusnya tidak marah padamu...”

Jodha juga tersentuh melihat Jalal yang begitu emosional hingga berurai air mata. Dengan mudah dia ikut merasakan bagaimana takutnya Jalal bila kehilangan dirinya lagi. Kesedihan mendalam dari kekasihnya bagai menusuk hatinya yang lembut. Dia tidak bisa membendung air matanya lagi. Jodha bisa merasakan seberapa dalam rasa sakit yang harus dilaluinya selama enam bulan perpisahan mereka. Sebagai wanita, dia diperbolehkan menangis untuk menunjukkan kesedihannya, tapi sebagai seorang Shahenshah, pasti sangat sulit baginya menahan kesedihan di dalam hatinya sedangkan dia harus tetap tersenyum sepanjang waktu di depan rakyatnya, menyembunyikan rasa sakit itu dalam-dalam dari semua orang.
Dengan lembut Jodha menyandarkan kepalanya ke dadanya yang nyaman sambil terisak pelan dengan memegang erat-erat kurtanya. Setelah beberapa lama dia mengendurkan genggaman pada kurtanya dan menjawab di antara isaknya-“Maafkan aku juga Shahenshah...Aku juga telah banyak melukai perasaanmu...Aku tidak seharusnya datang kesini dengan cara ini bahkan tanpa memberitahumu...Kumohon, maafkan Jodhamu...”
Mendengar permohonan maaf yang diucapkan Jodha, Jalal merasa tenang. Dia sudah kembali pada kelakuannya yang sedikit jahil dan berkata-“Kucing liarku, kau membuatku mengejarmu dan menangis untukmu...Tidakkah kau sadar aku ini seorang Shahenshah....Dan tidak pantas bagiku untuk menangis ataupun meratap..”
Mulanya Jodha merasa bingung melihat senyum Jalal namun kemudian dia sadar, bersamaan dengan tetes terakhir air matanya, dia juga menampakkan senyum di wajahnya dan menimpali pernyataan Jalal dengan sama jahilnya-“Kenapa begitu??? Bukankah Shahenshah juga punya hati???Bukankah dia juga merasakan sakit??”
Setelah diam beberapa saat Jodha melanjutkan kata-katanya sambil menyandarkan kepalanya pada lengan kanan Jalal, lalu meraba jantungnya dengan tangan kanan dan menciumnya singkat-“Jalal-ku tidak lagi seperti  dulu...Dia seorang pria yang sudah berubah sekarang...Jalal-ku yang arogan dan jenaka juga memiliki hati yang luas yang penuh maaf, cinta dan sedih untuk semua orang...Dia bukan lagi orang yang kejam, keras kepala dan berhati batu...Dia sekarang telah menjadi Jalal-nya Jodha..”
Mata Jalal bersinar dengan kebahagiaan. Setiap waktu cintanya pada Jodha semakin besar. Dia memeluk Jodha dengan erat seakan hidupnya bergantung pada hal itu. Keduanya tenggelam dalam dekapan hangat mereka. Jantung mereka berdetak seirama. Setelah beberapa menit berlalu, mereka melepaskan pelukan dan Jalal kembali menangkup wajah Jodha dan dipandanginya dengan haru. Dia tersentuh dengan kepercayaan penuh Jodha padanya. Dia ingat kembali semua kejadian dalam pikirannya dan seluruh tubuhnya kembali bergetar.
Jodha bisa merasakan ketegangan di wajahnya dan sekali lagi dia mengulang kata-katanya dengan tatapan penuh keyakinan-“Jalal, kepercayaanku padamu lebih dari pada diriku sendiri....Tidak peduli apapun yang terjadi...Tidak peduli seberapa berat pertengkaran kita tapi kau tidak akan mengkhianatiku..” Dengan ringan mengecup telapak tangan Jalal yang menangkup pipinya, dia melanjutkan kata-katanya namun kali ini dengan penekanan lebih dan dipenuhi cinta-“Jalal, meski Tuhan sendiri yang datang dan mengatakan kau telah melakukan sesuatu yang tidak terhormat, aku tetap tidak akan mempercayainya... Aku tahu setelah apa yang akan kukatakan padamu, kau akan tertawa dan menganggapku tidak waras juga...Tapi kapanpun aku berdoa pada Kanha, wajahmulah yang selalu tampak... Berkali-kali aku bermimpi bermesraan denganmu di Vrindavan...Sebelumnya aku terbiasa melihat penampakanmu yang terlihat samar, tapi sekarang kapanpun aku menutup mata untuk berdoa aku hanya melihatmu seorang...Aku menemukan Tuhanku dalam dirimu...Dan Tuhan tidak pernah berbohong..”
Perasaan Jalal melambung tinggi mendengar ungkapan cintanya yang suci dan abadi. Dia menatapnya dengan penuh kekaguman dan berkata dengan nada penuh perasaan,-“Jodha..Tidak ada seorangpun di dunia ini yang lebih beruntung dari diriku...Aku bagai orang yang paling diberkati di seluruh dunia karena memiliki cinta dalam bentuk Dirimu... Cintamu yang suci dan abadi akan terus dikenang sepanjang masa...Kau tahu Jodha, aku juga terbiasa mengobrol dengan dirimu selama perpisahan kita...Mulanya, saat aku mendengar suaramu, aku tidak mempercayainya...Sepertinya aku mulai gila...Namun lama-kelamaan, saat aku mulai mendengar suaramu dengan lebih jelas, aku sadar bahwa itu adalah jiwamu yang menjawab panggilan jiwaku...Sesungguhnya, meski kau berada jauh dariku, tapi aku bisa merasakan kehadiranmu di dekatku...Saat di Ashram juga, meski aku masih belum sadarkan diri, aku sudah bisa merasakan kehadiranmu di dekatku...Saat aku mulai siuman, aku merasakan kau sedang duduk tepat di sampingku menggenggam tanganku...Jodhaaa, aku marah besar padamu tapi itu hanya kedok... Dalam hatiku, aku sangat mencintaimu hingga aku tidak sanggup bertahan hidup semenitpun tanpa dirimu...Aku sangat mencintaimu hingga kau selalu hadir dalam Doaku...Setiap kali aku mengangkat tanganku, hanya doa untuk kesalamatanmu yang aku panjatkan....Hatiku sudah berada di tempat lain... Apakah aku masih memiliki keinginan atau ambisi... Ketenangan hati dan jiwaku lebih dari yang mampu kuungkapkan.... Kapanpun aku ada dalam dekapanmu, aku selalu merasa hidup...Kapanpun kau memandangku dengan mata penuh cinta, jiwaku merasa sangat damai...Aku terobsesi pada dirimu hingga aku tidak bisa hidup tanpamu sedetikpun...”
Momen itu terasa menghanyutkan dan abadi hingga Jodha tak mampu lagi menuangkannya dalam kata-kata. Serasa ada di langit ketujuh, setelah Jodha mendengar pengakuan Jalal yang dalam dan penuh cinta dan memeluknya dengan sangat erat. Keduanya terlena dalam pelukan itu untuk mengganti bulan-bulan panjang yang penuh lara. Setelah beberapa saat Jodha mendengar suara berisik dari dalam perutnya, sedangkan Jalal yang masih terhanyut dalam pelukan itu sama sekali tidak menyadari suara bergemuruh dari dalam perut Jodha. Jodha merasa kelaparan hingga tak tertahan lagi. Dia memanggil nama Jalal dengan merdu dan polosnya,-“Jalaaal...” Tapi seperti biasanya, Jalal yang masih terhanyut dalam mimpi indahnya hingga bahkan suara Jodha tak mampu menembus telinganya. Sekarang Jodha mulai kesal. Dia mulai bicara dengan nada tinggi dan mencubit lengannya, berkata dengan nada kesal,-“Jalaaal....apakah kau akan terus berkata-kata manis atau menyuapkan manisan padaku juga??”
Jalal sungguh bingung mendapat cubitan tiba-tiba dan mengerang keras melepaskan pelukannya dengan cepat. Awalnya dia bingung tapi kemudian setelah mampu berpikir dia tersenyum dengan penuh nafsu dan mengira bahwa Jodha ingin dicium. Dalam waktu singkat wajahnya bersinar dengan tatapan mesra. Dengan lembut dia menangkup wajahnya dan meniupkan napasnya untuk menghalau sejumput rambut yang jatuh di wajahnya dan berbisik nakal,”Ohhh jangan khawatir Jaan...Aku akan segera memaniskan mulutmu...”
Jalal mengunci tatapannya pada mata Jodha yang gelap dengan penuh damba dan mencium lembut bibirnya. Jodha sadar Jalal salah mengartikan kata-katanya. Dengan cepat dia menarik lepas bibirnya dan berkata dengan tak sabar,-“Jalaal..Kau nakal sekali...Kau tidak tahu hal yang lain selain ini...Aku tidak ingin dicium...Aku ingin mengatakan bahwa begum-mu yang mempesona ini belum makan apapun sejak kemarin...Aku membicarakan soal tradisi menyuapkan manisan yang belum kau lakukan kemarin baik pada saat upacara maupun saat makan malam..”
Serta-merta Jalal sadar setelah mengetahui hal itu. Dengan tatapan marah dia berteriak,-“Jodhaa, kau belum makan sejak kemarin...Dan kau baru mengatakannya padaku sekarang...Apa kau sudah tidak waras!! Dan kau bahkan tidak mengatakan kalau itu adalah tradisi...Aku tidak mengerti sampai kapan kau menyusahkan aku...Tidak bisakah kau mengatakannya langsung!!! Sekarang aku tahu kenapa kau pergi di tengah-tengah acara makan malam...Kupikir kau makan setelahnya...”
Jodha terhenyak melihat kemarahannya. Dengan agak takut dia menjawab,-“Shahenshah, tolong dengarkan aku..”
Jalal memotong dengan cepat,-“Tidak apa-apa Jodha...Sekarang aku tidak akan marah padamu...Aku juga berpuasa seharian kemarian jadi kau juga pasti tahu apa yang kurasakan saat ini...Bila kau bisa keras kepala maka aku akan lebih keras kepala darimu...” Dia menatapnya dengan marah dan melanjutkan,-“Jangan menatapku lagi dan ayo ikut denganku...Semua orang menunggu kita untuk Pooja...Dan daripada menciptakan keributan, makanlah manisan yang harusnya kusuapkan padamu tanpa banyak bicara...” Setelah mengatakan itu Jalal berjalan pergi dengan marah.
Mata Jodha kembali sembab mengetahui Jalal berpuasa sehari penuh. Dia tahu Jalal lebih keras kepala daripada dirinya dan dia tidak bisa menahan lapar untuk satu hari. Dia memanggil Jalal dengan sedikit memohon,-“Jalal...Maafkanlah aku...Aku bisa hidup berhari-hari tanpa makan apapun, tapi aku tidak bisa membiarkanmu berpuasa karena kesalahanku...Kumohon jangan hukum aku seberat ini...Aku tidak akan mampu menanggungnya... Rasanya aku bisa mati ribuan kali bila kau menghukum dirimu sendiri karena aku...” Jodha meminta maaf sambil terisak keras.
Melihatnya terus memohon, kemarahan Jalal langsung mereda. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk meredakan tangisnya. Lalu Jalal menangkup wajahnya dan mengusap air matanya sambil berkata,-“Ssshh...Jodha...Jangan menangis...Maafkanlah Jalal-mu...Aku tidak tahu kenapa aku sangat marah padamu..” Tapi Jodha tetap menangis seperti anak kecil. Jalal mencoba menenangkannya lagi,-“Baiklah Jodha, berhentilah menyakitiku dengan menangis seperti anak kecil... Kau tahu aku tidak bisa melihatmu menangis...Sekarang ayo...Aku juga sangat lapar.... Pertama kita selesaikan dulu ritual Hindu menyuapkan manisan... Sesuai adat Mughal, kita juga akan melakukannya di teras malam ini...” dia menjawab sambil tersenyum nakal dan Jodha mulai tertawa terbahak di antara air matanya yang mulai mengering.
Keduanya telah sampai di hall utama dimana semua orang menanti mereka dengan was-was. Hamida bertanya dengan wajah penuh kekhawatiran,-“Apa semua baik-baik saja Jalal??”
Jalal menjawab dengan tenang,-“Ya Ammi Jaan...Jangan khawatir, semuanya baik-baik saja...” Mendengar nada bicara Jalal yang ceria semua orang merasa lega.
Jalal meminta pada Pandit Ji dengan penuh hormat,-“Apa kita bisa melakukan pooja satu jam lagi???” Pandit memeriksa buku panchang dan menjawab dengan santun,-“Tidak masalah Shahenshah...Tiga jam dari sekarang adalah waktu yang baik untuk Ganesh Poojan...”
Semua orang melihat ke arah Jalal dengan penuh tanda tanya. Bharmal bertanya sedikit khawatir,-“Shahenshah, apa ada yang salah??” Jalal tersenyum dan menjawab dengan tenang,-“Tidak Raja Sahib...Tidak ada yang salah...Hanya saja aku belum sarapan sejak pagi tadi dan aku tidak bisa menahan rasa laparku seperti yang biasa dilakukan Jodha Begum...” Mendengar penjelasannya, Bharmal menarik napas lega dan segera memerintahkan pelayan untuk menyiapkan hidangan sarapan bagi Jamaisa-nya yang terhormat.
Jodha dan Jalal bersama-sama menunggu makanan dihidangkan di meja makan. Jalal memandang Jodha tak berkedip. Jodha juga mencuri-curi pandang ke arah Jalal beberapa kali dan menangkap tatapan Jalal yang intens ke arahnya. Awalnya dia merasa malu tapi kemudian dengan sedikit kesal dia berkata,-“Jalal...Kenapa kau menatapku seakan kau belum pernah melihatku sebelumnya???” Jalal tersenyum bodoh dan menjawab dengan suara dalamnya,-“Jodha kau terlihat sangat cantik dengan warna hijau yang kusuka...”sebelum Jalal sempat menyelesaikan kalimatnya, Jodha menempelkan ujung jarinya ke bibir Jalal dan berkata,-“Jalal, apapun itu, tahanlah sampai hari pernikahan...”
Jalal menghisap jari Jodha dengan gerakan erotis dan menjawab dengan nada merayu,-“Lucu sekali kau mengatakan setelah hari pernikahan, setelah hari pernikahan apa kucing liarku...Apa kau sudah lupa, sudah hampir satu tahun usia pernikahan kita...Dan selama setahun ini, lima bulan pertama kau habiskan dengan bertengkar denganku dan enam bulan terakhir kau meninggalkanku sendirian... Jika kau masih ingin mengancamku sekarang dengan cara itu, pada saat anak kita lahir nanti, kita sudah terlalu tua...Sekarang aku tidak akan mendengarnya lagi...Berhentilah bersikap curang..”
Mendengar responnya, Jodha tersenyum menggoda,-“Sepertinya, Tuanku sedang dalam mood yang penuh warna hari ini...”
Jalal mendekat ke arahnya dan berbisik mesra,-“Well, kau akan melihatnya sendiri malam ini...”
Mendapati sisi humornya yang menyenangkan, Jodha menjawab dengan sama nakalnya,-“Shahenshah, jika kau ingin memiliki aku maka kau harus memenangkan tiga tantangan... Jika kau menang, maka aku akan menjadi milikmu sepanjang malam..”
Jalal makin tergoda dengan sikap Jodha yang menantangnya dan menjawab dengan angkuhnya,-“Baiklah...Katakan padaku apa tantangannya..”
Jodha tersenyum misterius dan menjawab dengan cepat,-“Perhatikan baik-baik...Jika kau kalah maka kau tidak akan dapat apa-apa..”
Jalal menyeringai senang,-“Jodha Begum...Kau juga harus waspada... Pikirkan juga apa yang terjadi padamu jika kau yang kalah...” dan memandang balik dengan senyum penuh percaya diri.
Membayangkan sisi sensual dan erotis dari dirinya, membuat wajah Jodha merona. Pipinya memerah seperti tomat. Dia tidak mampu membalas pandangannya langsung. Sebelum Jalal bisa berkata lebih lanjut, hidangan telah datang. Melihat makanan itu, Jodha menarik napas lega dan segera melahap makanan di hadapannya seperti bayi kelaparan, melupakan semua hal lainnya.
Jalal tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil menikmati makanan kesukaannya. Jalal mengambil ladoo dari piringnya dan menyuapkannya pada Jodha dengan penuh kasih. Sinar matanya menunjukkan gairahnya yang tak pernah padam, makin dalam dan tak berbatas pada Jodha dan dengan sedikit menggoda Jalal memperingatkan Jodha,-“Jodha jangan pernah menghukum dirimu sendiri seperti ini...Jangan pernah lupa rasa sakitmu melukaiku lebih dalam...”
Jodha mengambil manisan yang sama dari tangannya dan menyuapkannya pada Jalal dengan mata berkaca-kaca.
Melihatnya mulai terbawa perasaan, Jalal menggodanya lagi,-“Akhirnya, ritualmu sudah terpenuhi...Sekarang saatnya melengkapi ritual Mughal...”
Melihat Jalal yang sudah kembali dengan sikap jahilnya, Jodha terkikik keras,-“Shahenshahhh... Kau benar-benar Rajanya drama...Di depan orang lain, kau seorang Shahenshah yang terlihat sangat berpengaruh, teguh pendirian dan arogan...Bahkan tidak seorang pun yang berani berbicara padamu dengan mengangkat matanya...Sedangkan saat bersamaku, kau nakal sekali seperti anak kecil...”
Jalal membalas dengan nada lebih serius,-“Jujur saja Jodha...Setiap saat aku bersamamu, aku menjadi sepertimu...Aku lupa bahwa aku seorang Shahenshah.... Seolah-olah aku meletakkan mahkotaku di suatu tempat ketika aku bersamamu...Denganmu aku menjadi Jalal yang lain... Jalal, seperti pria pada umumnya...Jalal, yang mempunyai hati... Dan hati itu berdetak untukmu... Tapi kau tahu, ketika kau dinyatakan bersalah di hadapan semua orang di Diwan-e-khaas, aku seakan ingin meninggalkan tahtaku dan kerajaanku selamanya...Kau dihukum di depan mataku...Hanya aku yang tahu bagaimana rasanya mati berulang kali dalam satu waktu...Aku berdoa semoga Allah tidak akan pernah menghadapkanku pada masalah seperti itu lagi... Saat dimana aku harus memilih antara CINTAKU dan KEADILAN...”
Merasakan penderitaannya yang dalam dan hancurnya perasaannya, wajah Jodha menjadi sedih. Dia letakkan tangannya di atas tangan Jalal dan meremasnya dengan lembut, seakan ingin mengirimkan kekuatan untuknya. Jalal memperhatikan kegelisahannya dan segera mengganti topik pembicaraan dan dengan nada menggoda berkata,-“Kau tahu Jodha...Aku punya banyak Begum di Harem-ku, tapi aku tidak pernah mengobrol sebebas ini seperti yang kulakukan denganmu...Aku tidak pernah mengobrol seperti ini sebelumnya dengan salah satu dari mereka... Mereka semua menanti-nantikan saat bisa mengobrol denganku meski hanya sekali saja... Tapi aku tidak pernah merasakan ikatan yang tulus dengan mereka...Mereka terus berusaha untuk membuatku terkesan sementara aku terus-menerus memanjakanmu... Kau membuatku terus berjuang...” 
Jodha menyeringai nakal,-“Tapi sekarang aku memberimu sebuah kesempatan....Terimalah tantanganku....Dan jika kamu menang, maka aku akan menghabiskan malam ini denganmu...”
Jalal tersenyum tenang dan dan menutup matanya sambil menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan suara sensual yang keras,-“Hmmm..”
Jodha sedikit kesal melihat sikapnya yang kurang sopan dan bertanya dengan sedikit kasar,-“Sekarang apa yang kau lakukan Jalal???”
Jalal menutup mulutnya kuat-kuat untuk mencegahnya menyemburkan kata-katanya dan menjawab dengan nakal,-“Ohh tidak ada Jodha Begum...Aku hanya memimpikan tentang malam ini...”
Jodha makin kesal saat melihatnya menyeringai nakal dan berbicara mesum seperti itu. Mendapati Jodha yang frustasi, Jalal tertawa terbahak-bahak. Tertawanya makin lama makin keras membuat Jodha makin terganggu. Mendengar tawanya yang makin menggila, Jodha mencubitnya keras. Jalal langsung membuka matanya dan merintih kesakitan,-“Ouuuuccchh..” menggosok-gosok lengannya dengan kasar dan memberinya tatapan mematikan.
Jodha tersenyum nakal,-“Ohhh suamiku tersayang...Mendapatkanku itu tidaklah mudah...” dan melanjutkan setelah diam sejenak,-“Sekarang dengarkan dua tantangan pertama baik-baik...Kau harus mengalahkanku dalam pertandingan pedang dan memanah...” sebelum Jodha melanjutkan lebih jauh, Jalal tersenyum misterius dan berkata,-“Oohh wow Jodha Begum, aku tidak tahu kalau ternyata kau juga tidak sabar menunggu malam ini..”
Jodha menatapnya marah dan membalas kata-katanya,-“Kenapa kau pikir kau akan mudah mengalahkanku??? Aku adalah Putri Rajvanshi dan kekasih Shahenshah Jalaluddin Mohammad Akbar...Mengalahkan Malika-e-Hindustan itu bukanlah hal yang mudah...”
Jalal tersenyum melihatnya begitu percaya diri dan berkata,-“Lalu apa lagi syarat dari KEKASIHKU??” dia menekankan kata kekasih.

* * * * * * * * * * * *


Is It Hate or Love Chapter 36 Part 1

1 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.