Rahasia Hati Part 3 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 3 - By : Erinda




Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan sangat melelahkan, akhirnya Rajatha tiba di Bandara International Soekarno-Hatta
“Indonesia” Gumamnya
^^^
Rajatha menggeret kopernya dan menuju pintu keluar Bandara. Rajatha mengaktifkan kembali ponselnya yang sempat ia nonaktifkan selama perjalanan tadi, segera ia menghubungi orangtua nya memberi kabar bahwa ia sudah sampai dengan selamat di Indonesia.

“Sekarang saatnya aku menghubungi Uncle Hasan” Ujar Rajatha dan mulai mencari kontak unclenya itu
Tak berapa lama panggilannya terhubung dan diterima diseberang sana
“Assalamu’alaikum, Hallo Uncle” Sapa Rajatha sopan
“Walaikum salam, Rajatha, Kau dimana, uncle sudah menunggumu di Bandara bersama Uncle Husen” Jawab Hasan pada Rajatha
“Oh,, Aku sudah berada di pintu keluar Uncle, sebentar”
 
Tampak Rajatha celingak-celinguk mencari keberadaan Uncle kembarnya di sekitar situ hingga seseorang menepuk bahunya dari belakang dan reflek Rajatha menoleh
“Uncle,,,” Rajatha tersenyum sumringah dan langsung memeluk kedua uncle kembarnya
“Hallo Jagoan, kau semakin tampan saja seperti uncle” Canda Husen pada keponakan kesayangannya itu dengan mengacak rambut Rajatha sayang
“Ayo Jagoan kita ke appartement sekarang, Papamu akan memaki-maki kami nanti jika menelantarkanmu disini,,, Hahaha” Kata Hasan dan mereka bertiga tertawa bersama

Rajatha sudah berada di dalam mobil bersama Hasan dan Husen, Unclenya ini seumuran dengan Papanya, Jalal. Namun mereka berdua masih betah hidup sendiri, entah apa yang mereka cari padahal secara umur dan kemapanan mereka sudah sangat pantas untuk membina sebuah keluarga.
 
“Jagoan” Panggil Husen pada Rajatha
“Uncle,,, Please,, Jangan ikut-ikutan Papa dengan memanggilku seperti itu” Kata Rajatha tidak suka
“Heyy,, Kalau bukan Jagoan lalu kami akan memanggilmu apa hm,, Tuan Putri Rajatha begitu??” Timpal Hasan yang sama menyebalkannya dengan Husen
“Hey Jagoan” Panggil Husen lagi
“Hhmm,,?” Jawab Rajatha malas
“Bagaimana Indonesia menurutmu, Jakarta ini lebih tepatnya”
“Panas, Macet dan terasa penuh” Jawab Rajatha jujur
“Hahaaa,,, Kau terlalu jujur Jagoan, setidaknya katakanlah hal baik tentang Negara mu ini, hmm”
“Ya, walaupun disini cuacanya terasa sangat panas dan terlihat kemacetan dimana-mana hingga membuatnya terlihat sesak dan penuh tapi aku merasa aku seperti pulang kerumahku, aku harap aku bisa cepat beradaptasi dengan dunia bisnis di Indonesia agar bisa segera membangun perusahaan dan sukses seperti perusahaan sebelumnya” Kata Rajatha panjang lebar
“Kau ini,, kenapa mirip sekali dengan Papamu itu, perkataan mu tidak pernah jauh-jauh dari bisnis, tidak bisakah kau sedikit lebih rileks dan menikmati hidup, seperti uncle-uncle tampanmu ini sewaktu muda” Kata Husen menanggapi omongan Rajatha
“Aku tidak punya waktu untuk itu uncle, sejak dulu papa sudah mewanti-wanti ku bahwa aku adalah satu-satunya penerus The Worlds, aku tidak punya waktu dan juga tidak tertarik untuk berleha-leha seperti anak muda lainnya.”
“Kau memang Jagoan papamu, Rajatha. Kaulah pewaris tunggal The Worlds. Tapi mungkin kau berkata seperti itu karena kau belum pernah mengenal apa itu cinta,,hm” Kata Hasan menggoda Rajatha
“Hahaa,, Hasan, apa aku tidak salah dengar? Kau berkata tentang cinta pada Rajatha sedangkan kau masih sendiri sampai saat ini,, hahaha” Husen tertawa
“Diam kau Husen, lalu bagaimana denganmu, kau juga masih sendiri, lagipula memangnya ada gadis yang mau denganmu huh,,” Hasan balik mengatai Husen membuat Husen diam
 
Rajatha yang melihat kelakuan uncle kembarnya ini tak ayal membuatnya tertawa
 
“By the way, kapan Uncle Hasan dan Husen tiba di Jakarta?” Tanya Rajatha setelah ia berhenti tertawa
Ya, Rajatha tahu bahwa Hasan dan Husen datang ke Jakarta atas permintaan Jalal bulan lalu pada mereka, karena memang Hasan dan Husen tidak tinggal disini
“Kami baru saja tiba kemarin malam Jagoan” Sahut Hasan dan di angguki oleh Husen
^^^
Sudah dua hari Rajatha tinggal bersama dengan Uncle kembarnya, mereka menyewa sebuah appartement disekitaran Jakarta Pusat, Hasan dan Husen tidak bisa berlama-lama menemani Rajatha di Jakarta karena mereka harus secepatnya kembali mengurus perusahaan keluarga mereka.

Sejak kedatangan Rajatha, mereka mulai berduskusi mengenai rencana apa yang akan dilakukan oleh Rajatha, Hasan dan Husen hanya membantu di awal saja seperti mendapatkan perizinan dari pemerintah untuk membangun dan membuka sebuah perusahaan, untuk hal lainnya semua Rajatha sendiri yang menanganinya, papanya tidak salah meminta uncle kembar ini untuk membantunya, kurang dari satu hari Hasan dan Husen sudah mendapatkan izin untuk membangun gedung perusahaan disini, bayangkan jika Rajatha yang melakukannya sendiri pasti butuh lebih banyak waktu dan bolak-balik untuk mendapatkan izin tersebut apalagi Negara ini sangat baru untuknya, memang ia lahir disini dan menurut sang mama terakhir kali mereka ke Indonesia adalah saat Rajatha berumur tiga tahun. Walaupun begitu, Rajatha sangat fasih berbahasa Indonesia karena saat di rumah kedua orang tuanya Jalal dan Jodha berbicara dalam bahasa Indonesia, itu sebabnya Rajatha sudah sangat terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-harinya.

“Terima kasih Uncle atas bantuannya, kalau tidak ada Uncle Hasan dan Husen mungkin aku masih harus berurusan dengan makelar tanah, kepolisian dan pemerintah setempat untuk mendapatkan ini” Kata Rajatha seraya memegang sebuah map biru yang berisi surat izin
“Hahaha,, Itu hanya hal biasa Jagoan, dulu kami bahkan sering melakukan hal-hal yang lebih daripada ini dalam waktu yang singkat” Kata Husen menyombongkan diri dan dibalas senyum kebanggaan pula oleh Hasan
“Apa itu?” Tanya Rajatha ingin tahu
“Membatalkan pernikahan warga negara asing yang bahkan sudah mendapatkan izin resmi dari kedutaan Negara setempat, dan kau tahu kami melakukannya tidak lebih dari satu hari saja” Hasan menepuk dadanya dengan bangga
“Benarkah? Kalau boleh tahu pernikahan siapa yang sudah kalian batalkan itu dan apa pasangan itu tidak marah dan menuntut kalian uncle?” Rajatha kembali bertanya

“Hahaha,, Kau lucu sekali, kalau kami tidak membatalkan pernikahan sialan itu kau tidak akan ada Jagoan” Jawab Husen
“Maksudnya Uncle?”
“Itu adalah rencana pernikahan Mamamu dengan pria brengsek yang memanfaatkannya, ohh,, semoga pria brengsek itu dan ayahnya sudah membusuk di Zimbabwe” Kata Hasan menyeringai

Rajatha diam dan mengangguk pertanda ia paham apa yang disampaikan uncle nya itu, dulu memang mamanya pernah bercerita masalah itu padanya tapi tidak terlalu rinci karena Mama dan Papanya tidak mau mengungkit kejadian itu lagi

“Ck,, Ternyata Papamu payah sekali Jagoan, masa dia tidak pernah menceritakan padamu prestasi-prestasi membanggakan dari kami” Cibir Hasan dan diangguki pula oleh Husen, sedang Rajatha geleng-geleng kepala melihat kelakuan Uncle nya ini dan memilih untuk melanjutkan pekerjaan dengan berkas-berkas di hadapannya.
^^^
Sudah lebih dari satu minggu berlalu, kini waktunya Hasan dan Husen harus meninggalkan Indonesia dan kembali memegang kendali perusahaan keluarga mereka
 
“Kau baik-baik lah disini Jagoan, jaga dirimu dan kalau kau butuh bantuan jangan sungkan untuk menghubungi kami, hmm” Kata Husen pada Rajatha
“Pasti dan terima kasih banyak Uncle”
“Bangunlah perusahaan itu sesuai dengan keinginanmu dan jadilah pemimpin yang mengayomi para karyawannya, seperti papamu” Nasihat Hasan pada Rajatha

Rajatha mengangguk patuh dan tersenyum, sejenak Rajatha bergantian memeluk Uncle kembarnya itu
“Hati-hati Uncle”
“Kau juga Jagoan”
^^^
Hari ini adalah peletakan batu pertama untuk gedung perusahaan Rajatha, sebagai pemilik Rajathalah yang berhak melakukannya.
Setelah acara peletakan batu pertama, Rajatha berkeliling proyeknya bahkan ia tidak segan membantu para buruh bangunan itu hingga membuat kemeja dan celana yang dikenakannya tampak kusut dan berdebu tapi tidak menghilangkan ketampanan yang dimilikinya.

“Maaf,, Permisi Bapak Rajatha” Panggil seseorang yang ternyata mandor dari para buruh yang sedang bekerja disini
“Ada apa?”
“Saya ingin meminta izin untuk ke Rumah Sakit sebentar Pak, Eem,, Adik saya baru saja menelphone dan mengatakan bahwa ibu saya mendadak pingsan dan saat ini sedang dirawat disana” Kata sang mandor sopan pada Rajatha
“Ibumu?”
“Iya Pak”
 
“Ahh,, Aku jadi merindukan Mama, sedang apa kira-kira ratu cantik ku itu disana” Batin Rajatha, ia merindukan Jodha, mamanya.
 
“Ayo” Kata Rajatha kemudian
“Bapak?” Tanya sang mandor tidak mengerti
“Ayolah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit itu, kau harus segera sampai kesana dan memastikan keadaan ibumu kan”
“I-iya Pak,, Terima kasih banyak Pak, Mari”

Rajatha dan sang Mandor pun pergi, Rajatha tidak memperdulikan penampilannya yang sudah agak kusut karena habis membantu para buruh bekerja tadi, ia hanya ingin segera mempertemukan seorang anak pada ibunya yang sedang sakit. Begitulah Rajatha, didikan dari kedua orang tuanya selalu membekas didirinya, ia selalu memposisikan dirinya bagaimana jika kesusahan dan kesulitan yang orang lain rasakan terjadi dengan dirinya sendiri, itulah yang membuat Rajatha tidak pernah segan untuk menolong orang-orang disekitarnya tanpa memandang siapa mereka.

Sekitar setengah jam Rajatha dan mandor itu sudah sampai di rumah sakit, setelah bertemu sebentar Rajatha pamit undur diri namun saat ia melewati sebuah lorong di rumah sakit itu, matanya melihat sebuah ruang perawatan dengan pintu sedikit terbuka dan terdengar suara rintihan yang begitu pilu dari dalam sana, rintihan seorang perempuan.

Rintihan pilu yang membuat Rajatha tanpa sadar melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan tersebut, dengan hati berdebar dan hati-hati Rajatha sedikit mendorong pintu tersebut dan tampaklah disana seorang wanita sedang duduk di ranjang dengan menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya yang di tekuk, Rajatha tidak melihat orang lain lagi di dalam ruangan itu selain wanita tersebut, dengan sangat pelan Rajatha mendekati ranjang tersebut, entah apa yang menariknya kesana ia pun tidak tahu.

“Ayahh,, Bunda,, Kak Ardhan,,, Hiks,,Hiks,,, Aku tidak kuat lagi,, Kenapa kalian jahat padaku,,, Hikss,,, Kalian tega meninggalkan aku,,,,sendirian disini,,Hiks,,Hiks,, Ya Allah,,,Kenapa tidak,,,kau ambil juga nyawaku,,,saat kecelakaan itu terjadi,,,Aku,,Aku,,tidak sanggup,,,Hiks,,Hikss” Wanita yang ternyata adalah Faridha itu mencurahkan isi hatinya dalam tangisannya, ia tidak sadar jika ada orang lain yang memperhatikannya
 
“Emm,,, Permisi Nona” Sapa Rajatha pada wanita yang tengah menangis tersebut
Sontak Faridha itu langsung mengangkat wajahnya dan berusaha mencari kira-kira dimana keberadaan orang yang menegurnya itu dengan menjulurkan kedua tangannya
“Si,,Siapa kau? Apa kau dokter yang akan memeriksa ku?” Tanya Faridha dengan suara yang bergetar dan serak karena habis menangis
Rajatha mendekatkan telapak tangannya dan menggerakannya di depan wajah Faridha namun tak ada respon apa-apa, tatapan matanya kosong “Ya Allah, dia buta” Batin Rajatha
“Aku,,,” Belum sempat Rajatha menjawab, Faridha sudah berteriak padanya
“Dokter,, Anda tidak perlu memeriksaku, aku tidak butuh obat atau terapi apapun karena aku juga tidak mau sembuh, aku buta dan lumpuh, aku ingin segera menyusul ayah dan bundaku. Aku tidak mau di obati lagi,, aku tidak mauu” Teriak Faridha

Rajatha diam, sungguh ia tidak menyangka bahwa selain buta ternyata wanita cantik yang ada di hadapannya ini juga lumpuh, pantas saja ada sebuah kursi roda disamping ranjang ini, Rajatha terus memperhatikan wanita tersebut dan hatinya terenyuh, betapa rapuhnya hati wanita ini
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya masuk kedalam ruangan tersebut bersama dengan seorang dokter.
 
“Maaf, tolong untuk keluarga Nona Faridha harap tunggu diluar” Kata dokter tersebut
Bik Min hendak berbalik diikuti oleh Rajatha dibelakangnya
“Kau siapa?” Tanya Bik Min pada Rajatha, saat masuk tadi ia tidak menyadari keberadaan pemuda itu karena ia sangat tergesa-tergesa
“Eem,,,”
“Kita bicara diluar saja” Ajak Bik Min dan Rajatha hanya menurut

“Sekarang katakan anak muda, siapa kau dan kenapa kau bisa berada di dalam ruangan bersama Non Faridha” Tanya Bik Min lembut
“Kenalkan nama saya,,,,”
“Ah ya,, Bibi baru ingat sekarang, kau adalah pelayan yang akan membantu bibik merawat non Faridha disini kan?” Kata Bik Min bersemangat tanpa memperdulikan Rajatha yang belum selesai memperkenalkan dirinya tadi
“Pelayan?” Tanya Rajatha semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini
“Ya, minggu lalu Bibi menghubungi sebuah yayasan yang menyediakan tenaga kerja, bibi membutuhkan tenaga kerja pria untuk membantu Bibi merawat Non Faridha dan semalam Bibi diberitahu bahwa pelayan pria tersebut akan menemui Bibi tapi karena hari ini adalah jadwal rutin Non Faridha periksa jadi Bibi meminta pada Bos mu untuk menemui kami di rumah sakit saja siang ini” Jelas Bik Min panjang lebar
“Yayasan? Pelayan pria? Merawat Non Faridha? Maaf Bi, saya tidak mengerti dan saya datang kesini bukan untuk menjadi pelayan” Kata Rajatha berusaha mengatakan apa yang sebenarnya terjadi
 
Bik Min memperhatikan penampilan Rajatha dari atas sampai kebawah dan keatas lagi  “Dia memang pemuda yang sangat tampan, apa dia bukan pelayan yang semalam dimaksud itu tapi,,jika dilihat-lihat dari penampilannya,,hhmm,,bajunya kusut dan sedikit kotor, celananya juga sama,, ah mungkin dia malu mengakui dirinya sebagai pelayan” Batin Bik Min dan dia tersenyum

Dokter yang memeriksa Faridha sudah selesai, Bik Min mengajak Rajatha untuk kembali masuk ke ruangan Faridha
 
“Bagaimana Non?” Tanya Bik Min lembut seperti biasanya pada Faridha
“Tidak ada yang berubah Bi, bukankah sudah ku katakan berkali-kali Bi, percuma juga membawaku kesini, aku tidak akan bisa kembali sembuh seperti sebelumnya, lagipula aku akan merepotkan Bibi untuk menggendongku turun dan naik ke kursi roda sialan itu” Gerutu Faridha
“Bibi tidak pernah merasa di repotkan kok Non, Bibi senang bisa melakukannya, Non harus tetap rutin berobat dan terapi kesini. Oh ya, kenalkan Bibi sudah mendapatkan pelayan baru untuk membantu Bibi merawat Non, jadi kalau Bibi sedang pergi ada dia yang akan menemani Non Faridha” Kata Bik Min, ia mengangkat tangan kanan Faridha untuk bersalaman dengan Rajatha
 
Sedang Rajatha menatap tidak mengerti, ia tidak menjulurkan tangannya untuk menyambut uluran tangan Faridha, Faridha mengernyit bingung karena sepertinya ulurannya tangannya tidak dibalas oleh pelayan yang dimaksud Bik Min itu

“Maaf sekali Bibi dan kau Nona, aku ini bukan pelayan dan aku tidak sengaja masuk keruangan ini, kalian salah orang. Aku permisi dan semoga kau lekas sembuh Nona” Kata Rajatha akhirnya dan berbalik hendak menuju pintu keluar
“Hey,, Tunggu” Panggil Bik Min berusaha menahan Rajatha untuk pergi
 
Faridha langsung menyentakan tangannya yang tadi dipegang Bik Min
 
“Tidak usah dipanggil lagi Bik, biarkan saja dia pergi, aku memang sudah tidak punya siapa-siapa lagi, semua orang pergi meninggalkanku, jika Bibi mau pergi juga aku tidak masalah, pergilah. Lagipula tidak akan ada perduli dengan gadis cacat, yatim piatu dan janda seperti ku, tidak ada yang mau dekat denganku lagi bahkan seorang pelayan sepertinya pun lebih memilih pergi dariku, mungkin jika mayatku ditemukan tak bernyawa dipinggir jalan sekalipun tidak akan ada yang sudi untuk melihatku, aku,,, aku mau mati saja Bik,,” Faridha berteriak histeris mengeluarkan emosinya yang kembali meletup-letup, kali ini ia tidak mengeluarkan air mata tapi ini justru lebih mengerikan, Bik Min yang berada disampingnya bahkan tidak kuat menahan rontaan Faridha.

“Tolong panggilkan dokter lagi” Kata Bik dengan berurai mata pada Rajatha yang ternyata masih berada disana, ia terpaku setelah mendengar kata-kata Faridha tadi
 
“Yatim piatu? Janda? Subhanallah,,,” Batin Rajatha iba
Rajatha segera keluar untuk memanggil dokter dan tidak berapa lama dokter tersebut sudah kembali memeriksa Faridha dan memberinya obat penenang.
 
“Tolong jangan biarkan Nona Faridha hilang control seperti tadi, itu akan semakin menghambat proses penyembuhannya, Nona Faridha masih depresi atas apa yang sudah menimpanya, beri dia semangat untuk sembuh dan tolong jaga perasaannya jangan sampai dia melakukan hal-hal yang akan melukai dirinya sendiri. Saya permisi” Kata dokter menjelaskan

“Ya Allah,,, Apa yang harus kulakukan, Mah, Pah”  Kata Rajatha dalam hati, ia bimbang saat ini

“Sekarang bisa kau jelaskan siapa dirimu sebenarnya anak muda” Kata Bik Min pada Rajatha
“Saya bukan pelayan yang Bibi maksud untuk merawat Faridha Bik, saya datang kesini tadi untuk mengantar rekan kerja saya menjenguk ibunya yang sedang sakit” Kata Rajatha hati-hati
“Lalu bagaimana kau bisa ada diruangan ini tadi” Tanya Bik Min lagi
“Tadi saat aku melewati lorong ini, aku mendengar seseorang yang menangis dan aku melangkahkan kaki ku masuk keruangan ini yang tidak tertutup, aku tidak ada maksud apa-apa Bik” Jelas Rajatha lagi pada Bik Min
Bik Min mengangguk mengerti, yah mungkin dia memang salah orang, tapi bagaimana ia akan menjelaskan pada Faridha nantinya
“Maafkan Bibi ya nak sudah menempatkan mu di posisi sulit seperti tadi, siapa namamu?”
“Nama saya,,,”
“Bik Min” Panggil Faridha pada Bik Min
“Non,, Non Faridha sudah sadar Non?” Bik Min mengalihkan perhatiannya pada Faridha
Faridha hanya mengangguk lemah
“Bik, aku mau pulang” Kata Faridha
“Iya Non, kita pulang sekarang” Kata Bik Min dan bersiap untuk menggendong Faridha menuju kursi rodanya
 
Namun tanpa disadari oleh Bik Min dan Faridha, Rajatha sudah berada disamping Faridha, ia mengangguk pada Bik Min bahwa ia yang akan menggendong Faridha menuju kursi rodanya, Bik Min mengiyakan dan tersenyum, Rajatha langsung menggendong Faridha dalam diam

“Kau,,Si-siapa kau,, Bik” Kata Faridha panik namun tangannya reflek ia kalungkan di leher Rajatha membuat Rajatha tersenyum tipis karenanya
 
“Cantik sekali”  Bisik Rajatha dalam hati saat wajah Faridha berada di depan wajahnya
 
Dengan perlahan Rajatha medudukan Faridha di kursi rodanya, namun tangan Faridha masih merangkul erat leher Rajatha, entah Faridha sadar atau tidak sudah melakukan itu
 
“Ehmm,, Nona” Kata Rajatha pelan di depan wajah cantik Faridha
 
Sontak Faridha tersadar dan melepaskan rangkulan tangannya, wajahnya seketika merona menyadari bahwa ia sudah merangkul erat leher pria yang sedang menggendongnya ini
 
“Kau,,, Bukankah kau pelayan yang tadi” Kata Faridha tidak suka, ia masih ingat betul suaranya
“Maaf atas apa yang sudah saya lakukan tadi Nona” Kata Rajatha akhirnya
“Untuk apa kau masih disini,, Bik Min,,,” Kata Faridha dan memanggil Bik Min
“Ya Non, Bibi disini” Bik langsung mendekati Faridha
“Saya bersedia membantu Bik Min untuk merawat anda Nona” Kata Rajatha membuat Bik Min tidak percaya, ya akhirnya Rajatha memutuskan untuk menjadi pelayan Faridha
“Nanti aku jelaskan” Kata Rajatha pada Bik Min tanpa mengeluarkan suaranya dan Bik Min mengangguk mengerti
“Tidak perlu” Ketus Faridha pada Rajatha, ia masih kesal. Tentu saja
“Ayolah Nona, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini demi keluarga ku” Bujuk Rajatha lagi, ya dengan sedikit berbohong untuk menarik simpati Faridha, entah mengapa ada sesuatu dihatinya yang tidak rela melihat gadis rapuh seperti Faridha menjalani masa-masa sulit dalam kesepiannya, yang Rajatha tahu ia hanya ingin membantu Faridha sebisa mungkin, bagaimana nantinya Rajatha juga tidak tahu
 
“Terima saja Non” Kata Bik Min, berusaha membujuk Faridha
“Hhmm,,, Baiklah, siapa namamu?” Kata Faridha akhirnya setelah beberapa saat ia diam
“Saya,,, Ra,, Em,, Putra, ya panggil saja saya Putra Nona” Rajatha memperkenalkan dirinya sebagai Putra pada Faridha dan Bik Min
“Faridha”
Rajatha meraih tangan Faridha untuk bersalaman dengannya
“Terima kasih Nona, saya akan menjadi pelayan Nona dan membantu Nona mulai saat ini” Kata Rajatha dengan tersenyum, Faridha mengangguk dan meminta Bik Min untuk segera mendorong kursi rodanya meninggalkan rumah sakit.


 To Be Continue,..


Rahasia Hati Part 3 - By : Erinda

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.