Yang Dirindukan Bab 9 - ChusNiAnTi

Yang Dirindukan Bab 9


Sebelum lanjut ke Bab 9, disini saya ingin menjawab beberapa pertanyaan yang serupa, “Kenapa Irul bisa meninggal?”

Jawabannya menurut saya sebenarnya sudah cukup jelas ya di Bab 8 kemarin. Seperti yang dikatakan Irul, bahwa semua itu atas kehendak Allah, termasuk usia manusia. Dan memang alur ini saya buat, Irul meninggal tanpa ada unsur lain kecuali memang kehendak Allah, atau lebih tepatnya kehendak penulis... hehehe

Oke... Cukup itu saja, kalau masih kurang greget jawabannya, baca ulang di Bab 8. Sekarang lanjut ke Bab 9.
Yang Dirindukan Bab 9
By Chusnianti

JALAL POV

Aku sedih dengan kepergian sahabat yang sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri. Karena melalui dirinya lah aku mendapatkan hidayah dari Allah. Melalui dirinya, aku bisa mendapatkan cahaya kebenaran yang menjadikan hidupku lebih bermanfaat dari kehidupanku sebelumnya. Itu menurutku.

Namun tidak dapat dipungkiri, setelah dua bulan kepergiannya, ada sedikit dari dalam diriku yang merasa senang. Dan hal yang sedikit itu semakin hari semakin berkembang.

Ya... aku senang. Apakah hal ini terlalu egois? Menurutku tidak. Aku juga berhak bahagia, kawan... Apa aku salah untuk mengejar kebahagiaanku?

Aku berpikir bahwa saat inilah Allah mengabulkan doaku selama ini. Di setiap doaku, aku selalu berharap bahwa Allah menjadikan Jodha sebagai pendampingku. Dan setelah seiring berjalannya waktu aku perlahan mengikhlaskannya bersama Irul, entah kenapa sekarang Allah sepertinya memberikanku kesempatan untuk bersanding dengan Jodha.

Sampai sekarang aku masih bersabar menanti. Satu bulan yang lalu atau satu bulan setelah kepergiannya, aku memutuskan untuk pindah ke Surakarta. Aku membuka cabang disana. Bahkan aku sudah mencari tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Jodha.

Tujuanku sudah cukup jelas. Sepertinya orang-orang yang mengenalku akan tahu mengapa aku pindah.

Yeah... Aku ingin mengawasi dan menjaganya. Aku ingin dekat dengan bidadariku. Eh... belum... tapi calon bidadariku. Aku tinggal menunggu 2 bulan lagi untuk meminangnya. Karena saat ini Jodha masih dalam masa idah.

Aku tidak ingin terlambat lagi. Sudah cukup sekali aku kehilangannya. Sudah cukup satu kali aku menyesal karena terlambat meminangnya. Kali ini, setelah masa idahnya selesai, aku akan langsung menemui orang tuanya untuk meminangnya.

Ya, ya ya... Aku tahu kalian pasti menganggapku bahwa aku terlalu terburu-buru. Tapi inilah satu-satunya jalan  agar aku bisa memilikinya. Aku yakin, bahwa inilah jalan Allah untuk mengabulkan keinginanku. Bukankah setiap manusia berhak untuk memilih dan selanjutnya harus berusaha untuk memenuhi keinginannya tersebut???

Dan juga... aku sudah sangat mengenal Jodha. Dia tidak akan mungkin mau menerima pinanganku saat aku meminangnya secara langsung padahal dia baru saja selesai masa idah. Dia pasti akan lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada kebahagiaan dirinya sendiri. Ditambah lagi si menggemaskan Arif, dia pasti akan berusaha untuk memusatkan perhatiannya pada Arif daripada harus memikirkan suami.

Arif... mengingat anak itu, aku jadi rindu padanya. Biasanya Irul akan selalu mengajak Arif jika kami bertemu. Sejak satu tahun yang lalu, setelah aku menceritakan kisah hidupku yang mengenaskan karena perjodohan tidak masuk akal yang ibuku lakukan, aku memang sering bertemu Irul. Setiap satu bulan sekali aku akan pergi ke Surakarta untuk bertemu sahabat-sabatku, Irul sekaligus Jodha. Dan disanalah aku juga semakin dekat dengan Arif. Anak yang menurutku sangat cerdas dan pengertian meskipun usianya masih cukup muda. Aku yakin bahwa kedua orang tuanya sangat baik dalam mendidiknya.

Semakin mengingatnya, semakin aku rindu kehadiran mereka. Tapi aku tidak bisa begitu saja berlari untuk menemui mereka. Setelah kepergiannya Irul, aku tidak mungkin bertemu mereka karena kami belum muhrim.

Aku mencintainya karena Allah. Karena ketaatan dan keshalihahannya. Aku mencintainya bukan karena nafsu. Jodha memang cantik secara fisik, namun hatinya jauh lebih cantik daripada fisiknya. Itu menurutku, dan sepertinya banyak juga yang setuju akan diriku.

Saat ini yang bisa kulakukan adalah memperhatikannya dari jauh. Aku ingin mendekat, tapi aku harus berusaha menahan hawa nafsuku. Jangan sampai hawa nafsuku menguasai diriku sehingga akan menimbulkan fitnah. Itu hanya akan membuat Jodha semakin jauh dari diriku.

Setiap pagi aku selalu menyempatkan diri untuk jongging di sekitar komplek. Hal ini sudah aku lakukan sejak aku masih kuliah dulu, jadi kalian jangan nethink.

Saat aku melewati rumahnya, kulihat dia sedang menyimari bunga-bunga bersama dengan Arif disampingnya. Arif sudah bisa berjalan dengan baik di usianya yang hampir 1,5 tahun. Pembedaharaan katanya juga sudah cukup banyak. Aku sangat merindukan anak itu. Semoga Allah benar-benar mengabulkan keinginanku, untuk memiliki keluarga yang harmonis, romantis dan barokah bersama dengan istri yang sholihah dan anak-anak yang sholih dan sholihah.

Aku segera memalingkan pandanganku dan melanjutkan joggingku. Aku akan selalu berusaha bersabar. Tidak peduli berapa lama aku menunggu. Insha Allah dia adalah jodohku.

☆☆☆

Sudah satu tahun 3 bulan aku menetap di Surakarta, tetapi aku masih hidup sendiri tanpa pendamping hidup di sisiku.

Setelah penantianku, aku memang memutuskan untuk melamar Jodha kepada Orang Tuanya dan juga aku sudah meminta izin kepada Orang Tua Almarhumah Irul. Aku sudah menganggap mereka berdua seperti orang tuaku sendiri, bahkan aku masih rutin mengunjungi mereka seperti dulu saat Irul masih hidup.

Oke... sepertinya kalian masih bingung dengan seputar kehidupanku kenapa di usiaku yang ke 26 tahun aku masih sendiri, padahal sebelumnya aku bilang bahwa aku akan langsung melamar Jodha setelah masa idahnya selesai.

Baiklah akan ku ceritakan sekilas...

Setelah masa idah Jodha selesai, aku memutuskan untuk menemui Orang Tua Jodha di Jogja bersama dengan keluargaku. Aku meminta izin mereka untuk meminang putri sulung mereka. Mereka terkejut, tentu saja. Karena suami Jodha meninggal belum lama dan tiba-tiba ada pemuda yang melamarnya.

Namun aku ceritakan semuanya tanpa aku tutup-tutupi sedikitpun. Bagaimana perasaanku. Bagaimana hubungan kami bertiga sebelumnya. Bahkan bagaimana kebersamaan kami selama ini yang tidak pernah memutuskan komunikasi bagaimanapun keadaanya. Dan sampai sekarang perasaanku tidak berubah. Aku sudah sholat istikharah dan sholah hajat. Hatiku mantap untuk meminang Jodha, untuk menjadikannya sebagai istriku.

Reaksi mereka sungguh mengejutkanku.

“Bapak senang dengan niat baikmu, Nak Jalal. Kamu memilih jalan halal daripada berpacaran. Bapak juga senang dengan kejujuranmu. Semua memang sudah Allah atur. Tetapi maaf, Bapak tidak bisa menerima pinanganmu,” ujar Pak Samsul dengan raut wajah penyesalan.

Dadaku terasa sesak setelah mendengar jawaban dari Pak Samsul. Tapi aku berusaha tegar dan menanyakan alasannya.

“Maaf, Pak... kalau saya boleh tahu, kenapa Bapak menolak pinangan saya?” tanyaku.

“Ketahuilah... memang kalau anak gadis, orang tualah yang berhak untuk menerima atau menolak pinangan dari seorang pria. Tetapi jika wanita yang sudah pernah bersuami, maka wanita itulah yang lebih berhak menentukan keputusannya. Jadi dalam hal ini, Bapak tidak bisa menerima pinanganmu. Akan tetapi, tanyakanlah langsung kepada Jodha. Kami sebagai orang tua dan keluarganya, akan mendukung apapun keputusannya asalkan baik untuk dirinya,” jelas Pak Samsul.

Satu minggu setelahnya, aku langsung mengutarakan niatku kepada Jodha secara langsung. Tentu saja dengan pendamping. Aku bersama keluargaku. Dan Jodha didampingi kedua Orang Tuanya. Kami bertemu di rumah Jodha, rumah peninggalan Irul.

Jawaban Jodha benar-benar membuatku tepaku. Bahkan keluargaku dan keluarganya hanya dapat pasrah mendengar jawaban Jodha.

Jodha berkata bahwa aku berhak bersama orang yang lebih baik darinya.

Bahkan dia seakan tidak memperdulikan perasaanku. Apakah dia tidak menyadari sikapku terhadapnya selama ini? Apakah dia tidak sadar bahwa hanya dirinyalah yang aku inginkan?

Dan setelah perbedaan argumen yang kami lontarkan, akhirnya Jodha berkata yang sedikit mengangkat bebanku.

“Bismillaah... tolong berikan saya waktu. Saya mohon pengertian dari semuanya. Bahwa saat ini saya masih merasa kehilangan atas kepergiannya Mas Irul. Saya butuh waktu untuk menata hidup saya kembali. Dan lagi, ada Arif yang sangat membutuhkan saya saat ini. Dan apakah Mas Jalal menerima saya beserta anak saya apa adanya?” tanya  Jodha yang membuatku mengaga tak percaya.

Apakah dia meragukanku??? Tapi belum sempat aku mengutarakan apa yang ada di dalam pikiranku, Jodha sudah melanjutkan ucapannya.

“Satu tahun. Saya memberi kesempatan kepada Mas Jalal untuk memikirkan lagi hal ini selama satu tahun. Mohon Mas Jalal pertimbangkan lagi.”

“Aku tidak perlu mempertimbangkan lagi, Jodha. Aku tidak perlu memikirkan hal ini lagi. Aku akan menyayangi Arif seperti anakku sendiri. Aku...” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, lagi-lagi Jodha memotongnya.

“Saya mohon, Mas.”

Dan satu kalimat darinya mampu membuatku terdiam. Baiklah aku akan mengalah. Insha Allah aku masih bisa menunggunya. Semoga Allah benar-benar membuat kami berjodoh.

☆☆☆

Dan waktu satu tahun itu telah berlalu. Hatiku masih tetap sama. Pilihanku masih tetap sama. Dan harapanku masih tetap sama. Jodha...

Kini kami berkumpul kembali. Jodha sudah tampak lebih santai daripada sebelumnya. Wajahnya tidak lagi dipenuhi dengan kesedihan. Bahkan berat badannya yang dulu sempat hilang setelah kepergian Irul, sepertinya sudah mulai kembali lagi.

Ku lihat Arif duduk dengan gusar dipangkuan Jodha. Dia tampak antusias sejak kedatanganku. Dia meronta ingin segera menghambur dalam pelukanku.

“Oh Arif... andaikan kau tahu bahwa aku juga sangat ingin memelukmu. Aku tidak sabar menantimu untuk memanggilku Papa,” ucapku dalam hati.

Bismillaah... Aku harus bisa mengendalikan diriku. Semoga jawabanmu tidak mengecewakan kami semua, Jodha...

Setelah acara ini berlangsung hampir satu jam, dan saat inilah Jodha akan memberikan jawabannya. Aku benar-benar gelisah. Pasalnya ini sudah kedua kalinya aku meminang Jodha secara langsung.

“Sebelumnya saya minta maaf...”

Oh tidak... Ku mohon, Jodha... jangan hancurkan aku lagi.

“Saya minta maaf karena membuat kalian semua menunggu. Dan terima kasih atas kesabaran kalian. Semoga kalian ikhlas memaafkan saya. Dan semoga keputusan saya saat ini benar-benar tepat.”

Ya Allah... kenapa waktu rasanya berjalan dengan lamban.

“Bismillaah... Semoga Allah Meridhoi hal ini. Emm... saya, saya menerima pinangan Mas Jalal.”

Suasana tiba-tiba hening. Apakah aku tidak salah dengar?

“ALHAMDULILLAAH...” jawab kami serempak setelah hening beberapa saat.

Ya, Allah... terima kasih atas karuniamu. Aku berusaha mengendalikan diriku untuk tidak berteriak dan menarik Jodha dalam pelukanku. “Kendalikan dirimu, Jalal. Ingat, dia belum menjadi halalmu,” ucapku dalam hati.

Setelah mendengar jawaban Jodha, aku tidak mau membuang-buang waktu lagi. Aku mengutarakan keinginanku untuk menikah dengan Jodha satu minggu lagi.

Mendengar keinginaku, Mamaku langsung menggeplak kepalaku. “Dasar anak ini,” ucap Mamaku yang gemas dengan kelakuanku.

“Oh, Mama... Apakah Mama tidak mengerti perasaanku... aku tidak sabar lagi. Aku sudah menantikan hal ini cukup lama.”

Dan aku benar-benar malu. Aku tidak sadar menyuarakan pikiranku. Semua orang yang ada disini menertawakanku. Kulirik Jodha yang menundukkan kepalanya dan ku yakin wajahnya sudah merona. Bahkan Arif yang aku yakini belum faham dengan apa yang terjadi, turut tertawa melihat orang-orang disekitarnya tertawa.

Oh... putraku. Akhirnya keinginanku selama ini terwujud. Arif akan memanggilku Papa. Dan Jodha, orang yang selama ini ku rindukan dan selalu ku sebut dalam doaku, kini benar-benar akan menjadi istriku... menjadi pendamping hidupku... dan akan menjadi ibu dari anak-anakku.


Saya minta maaf atas ending yang tidak memuaskan ini. Mohon maaf jika ada kalimat-kalimat yang tanpa saya sengaja dan tanpa saya sadari menyinggung perasaan Pembaca. Saya tahu kalian tidak puas. Saya sendiri pun sebenarnya juga tidak puas. Karena sebenarnya cerita ini masih jauh dari kata ending dari ide awal cerita saya. Tetapi karena kesibukan yang tidak mungkin ditinggalkan, dengan terpaksa saya harus mengakhiri cerita ini.

Terima kasih atas dukungan pada cerita yang ga jelas ini... Semoga di lain waktu saya masih diberi kesempatan untuk berkarya lagi. Aamiiin...

Dan bagi yang berkenan berbagi ceritanya di blog ini, silahkan hubungi saya melalui e-mail: chusni.romla@gmail.com

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

Yang Dirindukan Bab 9

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.