From YM To Your Heart Part 11 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 11




FROM YM TO YOUR HEART
Part 11


PS: Untuk para pembaca, mohon maaf yang sebesar-besarnya karena baru bisa update ceritanya.
~~~~~~
Senin, 24/04/13
Rashed Jalal : Apa kau sudah punya jawabannya?
Aadhya Jodha : Tentang apa?
Rashed Jalal : Kau tahu maksudku.
Aadhya Jodha : Maaf....
Aadhya Jodha : Aku belum punya jawabannya
Rashed Jalal : Sesulit itukah? Kau memang tidak ingin menjawabnya atau kau benar-benar tidak punya jawaban?!
Aadhya Jodha : Aku belum bisa mengatakan apa-apa. Beri aku sedikit waktu.
Rashed Jalal : Aku tidak suka menunggu. Aku tidak punya banyak waktu sepertimu.
Aadhya Jodha : Kenapa harus cepat-cepat?
Rashed Jalal : Kenapa harus lama?
Rashed Jalal : Kutunggu jawabannya sebelum malam ini.
Aadhya Jodha : Itu terlalu cepat
Rashed Jalal : Ya atau Tidak. Bukan diantaranya.
Aadhya Jodha : Jalal..tidak semudah itu..
Rashed Jalal : Jodha.
Rashed Jalal : Jangan ikat rambutmu ke atas. Aku lebih suka melihat rambutmu tergerai atau kau arahkan ke satu sisi melewati bahumu. Kau lebih cantik seperti itu
~~~~~~
Jodha sempat mengira Jalal lupa soal pertanyaan tak terjawab itu, tapi ternyata dia malah menuntut jawabannya sepagi ini. Pertanyaan yang membuatnya tidak bisa tidur sejak Sabtu malam lalu. Pertanyaan sederhana dengan jawaban tersulit yang pernah dia hadapi.
Dua malam matanya terbuka lebar memandang langit-langit kamar tidurnya, memaksa otaknya berpikir lebih keras. Mencoba mencari jawaban yang bijak dan terbaik demi hubungan mereka. Meski jauh dalam hati kecilnya, Jodha tahu jawaban seperti apa yang diharapkan oleh Jalal. Namun tetap saja sisi logis dalam dirinya, dengan keras kepala berusaha menyangkalnya.
Karena rasanya tidak tepat jika dia mengatakannya sekarang. Sungguh tidak etis jika dia mengungkapkan cintanya pada Jalal padahal belum genap sebulan pertunangannya dengan Varun batal. Apa kata orang, bila seorang wanita begitu mudah dan cepatnya berpindah dari satu pelukan pria ke pelukan pria yang lain.
Senin pagi Jodha berangkat ke kantor dengan kelopak mata berat, akibat dari kurang istirahat hari sebelumnya. Dia hanya berharap penampilan luarnya tidak terlalu buruk. Karena dia tidak mau Jalal melihat dirinya berantakan, sebaliknya dia ingin selalu tampil penuh percaya diri di hadapan pria itu.
Namun sepertinya nasib baik belum berpihak pada dirinya, karena sebuah kebetulan yang sangat tidak diharapkannya pagi itu, harus terjadi. Sekali lagi Jodha berpapasan dengan Jalal di dalam lift. Dengan bibir yang dipaksakan tersenyum, Jodha menyapa Jalal. Masalahnya dia juga harus menyapa gadis di sebelahnya, Nona Mohita Sarojan.
“Jangan lupa nanti malam ya, di La Grandeur, aku sudah pesan meja atas nama kita.”
“Tentu.”
Jodha hanya melirik keduanya, berlagak tidak tertarik padahal dalam hatinya dia penasaran setengah mati. Apa itu janji kencan? Rasanya tidak mungkin kalau hanya makan malam biasa. Tidak mungkin kan Jalal berkencan dengannya, sedangkan dia masih....?  
Jodha keluar dari lift tapi tidak langsung menuju mejanya. Dia berbelok menuju kamar kecil. Berdiri di depan cermin wastafel, Jodha memperhatikan penampilannya dan membandingkannya dengan penampilan Nona Sarojan tadi. Jauh berbeda. Nona Sarojan terlihat sangat berkelas, bahkan dia seperti sudah siap untuk menghadiri makan malam mewah dengan penampilan paginya itu.  Setelan baju dengan jahitan sempurna, atasan one off shoulder dipadu celana lurus dengan bahan sama yang tampak mewah, rambut diikat sempurna di puncak kepala. Satu set anting dan kalung dari mutiara mempercantik penampilannya.
Dan itulah alasannya kenapa Jodha mengikat rambutnya ke atas, tujuannya agar tampak semenawan Nona Sarojan, tapi pendapat Jalal malah sebaliknya. Bentuk perhatian kecil yang sangat manis. Jodha bahkan tidak menyangka Jalal langsung menyadari perubahan penampilannya yang tiba-tiba. Dan pendapat Jalal itu penting baginya. Saat Jalal menyebutkan bahwa Jodha lebih cantik dengan rambut digerai, dia merasa setingkat lebih unggul daripada Nona Sarojan.
Menuruti sarannya, Jodha melepas ikatan rambutnya lalu menggerainya ke samping bahu kirinya seperti yang disukai Jalal. Dia yakin pria itu memperhatikan dirinya dari dalam ruangannya meski Jodha tidak bisa melihatnya karena terhalang kaca gelap.
Namun keceriaannya tidak bertahan lama, senyumnya memudar saat dilihatnya Nona Sarojan melangkah dengan anggun masuk ke ruangan Jalal. ‘Kenapa dia menempel terus pada Jalal? Tidak bisakah dia menjauh dari Jalal sebentar saja?’
Jodha kembali teringat kata-kata Sneyka saat makan siang kemarin tentang rencana perjodohan antara Nona Mohita Sarojan dengan Jalal. ‘Bagaimana jika rumor itu benar? Apa Jalal akan memilih Nona Sarojan? Lalu bagaimana denganku?’ Jodha bertanya dalam hati, rasa takut kehilangan mulai menggerogoti perasaannya.
Tak lama kemudian, Jalal keluar dari ruangannya bersama wanita itu. Mereka tertawa karena sesuatu yang mereka bicarakan, dan pemandangan itu membuat Jodha iri. Dia tidak suka Jalal tersenyum dan tertawa dengan wanita lain.
Menjelang sore, Jalal berjalan kembali ke dalam ruangannya. Mereka sempat saling bertukar pandang sesaat sebelum Jalal menutup pintu ruangannya. Hati Jodha berdebar, bukan karena pandangan penuh arti itu, tapi karena dia ingat tenggat waktu yang diberikan oleh Jalal hampir habis, tapi dia belum juga menemukan jawaban yang tepat.
Begitu jam kerjanya usai, Jodha melangkah pelan menuju basement, dia tahu Jalal sudah ada disana karena mereka sebenarnya pergi hampir bersamaan. Tapi Jodha sengaja memperlambat langkahnya agar orang lain tidak curiga pada hubungan mereka.
Jodha mendekat tepat saat Jalal hendak masuk ke dalam mobilnya. Pria itu menoleh karena merasa ada seseorang yang mendekatinya.
“Jalal.....” sapa Jodha ragu.
“Apa kau sudah punya jawabannya?” Jalal langsung bertanya tanpa basa-basi.
“Aku...aku...” Jodha gugup, lalu dia hanya menggelengkan kepala karena tidak bisa mengatakan apa-apa.
“Oke. Waktumu habis. Mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi. Jangan menatapku, jangan mengirim pesan padaku dan jangan memanggil namaku.’ Ujar Jalal dengan emosi tertahan.
“Bukan begitu....Kumohon dengarkan aku dulu!.. Aku ingin membangun hubungan ini pelan-pelan.. Aku ingin kita berteman dulu, lalu kita bisa mulai saling mengenal lebih dekat dan membiasakan diri satu sama lain...”
“Sudah kubilang aku tidak punya waktu!”
“Jalal, coba mengertilah... Rencana pernikahanku baru saja batal, dan aku harusnya masih sedih, kan?!... Bagi seorang wanita, tidak sepantasnya menjalin hubungan baru dengan pria lain secepat ini, akan terlihat sangat tidak bermoral, seakan aku mudah sekali berpindah hati asal ada seorang pria yang mau denganku...”
“Terserah... tidak ada yang melarangmu dan semua pikiranmu itu...Aku tidak akan menunggu lagi...” balas Jalal lalu menambahkan, “Aku akan memesan taksi untuk mengantarmu pulang.”
Jalal marah dan kecewa dengan jawaban Jodha, terlihat jelas di wajahnya. Jodha makin bingung harus mengatakan apa. Firasatnya mengatakan dia akan kehilangan Jalal jika tidak segera melakukan sesuatu.
“Apa kau menyukai Nona Sarojan?”
Pertanyaan Jodha itu membuat langkah Jalal terhenti.
“Itu bukan urusanmu.”
“Apa benar kau dijodohkan dengan dia?”
Jalal tidak menjawab, dia hanya menatap mata Jodha dalam-dalam. Lalu tanpa mengucapkan satu kata pun, dia berlalu, masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Jodha yang masih terpaku berdiri di tempatnya.
Jodha panik, menggeleng-geleng dengan keras mencoba mengenyahkan pikiran buruk yang muncul dalam kepalanya.
Tidak. Ini tidak boleh terjadi...Jalal tidak boleh bersamanya! Kalau aku harus mengatakannya,  aku akan mengatakannya sekarang!’ Jodha berteriak pada dirinya sendiri.
Kemudian dia berlari menuju taksi yang sudah menunggunya, masuk dan meminta sang sopir untuk bergerak mengikuti mobil Jalal.
Hatinya menjerit memanggil nama Jalal. Dia ketakutan. Takut kehilangan orang yang telah membuat hidupnya lebih berwarna, mengajarinya makna cinta dan ketulusan.
Mobil Jalal memasuki tempat parkir La Grandeur, begitu pun taksi yang ditumpangi Jodha, berhenti tepat di belakangnya. Setengah berlari, Jodha turun dari taksi dan menyusul Jalal.
“Jalal....!”
Jalal berhenti dan membalikkan badannya, tidak tampak terkejut mendapati Jodha membuntutinya sampai ke tempat itu.
“Harusnya kau pulang, ini sudah malam.”
“Jalal....apa...kau sungguh-sungguh mau dijodohkan dengan Nona Sarojan?”
“Aku sedang mempertimbangkannya...”
“Semudah itukah...?”
“Maksudmu?!”
“Dua minggu yang lalu kau menyatakan cinta padaku, lalu malam ini kau sedang merayu wanita lain... Apa seperti itu orang yang mencintai?...” teriak Jodha dengan penuh emosi.
“Kau menolakku, ingat?! Bahkan saat aku memberimu kesempatan, kau tidak bisa memberiku alasan untuk tetap bertahan bersamamu. Apa lagi yang bisa kulakukan jika kau tidak menerima perasaanku. Apa aku harus memaksamu? Atau aku harus menunggumu entah sampai kapan hingga kau membalas cintaku? Atau aku harus merendahkan diriku, dan sampai serendah apa hingga kau percaya aku tulus menyayangimu?!” jawab Jalal, meski nadanya terkesan dingin, tapi ada emosi yang dalam yang tersirat dalam setiap kata-katanya.
“Maafkan aku, ....” Jodha mulai terisak.
“Tidak perlu. Tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginan kita, kan?! Sudah cukup aku menjalani cintaku yang bertepuk sebelah tangan padamu... Kau tahu bagaimana rasanya? Kesepian dan menyedihkan....”
“Belum pernah ada wanita yang menolakku, dan penolakanmu memang membuatku marah. Tapi hidup terus berjalan. Aku tidak mau hancur, aku bukan pria seperti itu..... Aku juga sudah bersikap egois, terus beredar di sekitarmu mencari-cari alasan bisa bersamamu tanpa memikirkan perasaanmu, apa kau suka atau tidak aku di dekatmu, apa kau nyaman atau tidak bersamaku..”
Jodha terisak makin keras.
“Sekarang aku melepaskanmu. Aku tidak akan merecoki hidupmu lagi.....Aku harus pergi. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri...” kata Jalal membalikkan badan meninggalkan Jodha.
“Tidak! Kau tidak boleh menemuinya!” cegah Jodha yang dalam sekejap sudah berada di depan Jalal
“Kenapa....?”
“Karena....a..a..aku menyukaimu.” Jawab Jodha terbata di sela isaknya.
“Kalau kau menyukaiku, apa aku harus bersamamu?! Wanita di atas sana, yang sedang menungguku, dia juga menyukaiku..” balas Jalal enteng.
Jodha terdiam, berusaha memikirkan kata yang tepat sebelum mengungkapkan perasaannya.
“Jika aku harus memilihmu daripada dia, katakan apa kelebihanmu....” tantang Jalal.
“Eh...aku...aku...”
“Apa kau lebih cantik? Tidak, menurutku dia lebih cantik. Nona Sarojan tahu cara merawat dirinya dan tahu cara menonjolkan kecantikannya. Dia juga tahu cara membawa dirinya di depan umum...Dia supel, beretika dan dia mengerti dunia bisnis. Dia mendirikan dua badan amal dan seorang aktifis sosial. Kelebihan utamanya, dia putri CEO Golden Road, hubungan kami pasti akan saling menguntungkan....”
Isakan Jodha perlahan berhenti gara-gara mendengar Jalal  memuji-muji Nona Sarojan dan menyebutkan semua keunggulan gadis itu di depan wajahnya. Jodha terusik. ‘Tega sekali Jalal! Dia pasti sengaja ingin membuatku marah.’ pikirnya.
Kalau memang Jalal lebih menyukai gadis itu, dia tidak perlu membanding-bandingkan mereka berdua. Sudah pasti dia kalah.... Baik, dia tidak akan menahan Jalal lagi. Biar saja Jalal pergi merayunya.
Kalau memang itu yang terjadi, berarti perasaan Jalal selama ini sangat dangkal. Hanya sekali ditolak sudah menyerah... Baguslah, dia sudah menunjukkan siapa dirinya. Jadi aku tidak akan tertipu lagi. Dasar pria, semua sama saja. Tidak bisa setia pada satu wanita.
 “Jadi, katakan padaku, apa kelebihanmu yang akan membuatku tidak menyesal memilihmu daripada dia..” lanjut Jalal.
“Aku tidak peduli lagi!... Pergi saja sana!... Pergi temui wanita yang super sempurna itu!” teriak Jodha marah.
“Baik, aku sudah memberimu kesempatan terakhir.” potong Jalal.
Tunggu..tunggu..tunggu...aku tidak sungguh-sungguh...Aku tidak rela kau bersama dia!...
“Baik! Kau menang!.... Dasar kau pria manipulatif....oportunis...egois...kejam...tukang paksa...tapi aku mencintaimu...aku tidak rela kau memilih dia!”
Akhirnya Jodha berhasil mengatakannya...Ada perasaan lega setelah kata-kata itu keluar, namun tetap ada rasa takut bila semua itu tidak berhasil mempengaruhi keputusan Jalal.
Dada Jodha naik turun dengan cepat, belum sepenuhnya bisa menguasai emosinya. Kini dia menanti jawaban dari pria di depannya, akankah mereka bisa bersama atau sudah tidak ada kesempatan lagi...
Jalal belum bicara apa-apa. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Ketegangan masih menyelimuti mereka berdua. Napas keduanya jelas terdengar meski di sekitar mereka berlalu lalang kendaraan.
Perlahan, dengan sangat lambat, senyum mulai muncul di wajah Jalal.
“Haahhh.... Rasanya bertahun-tahun aku menunggumu mengucapkannya..” ujar Jalal memecah ketegangan di antara mereka, “Berarti kau layak mendapatkan hadiah... Kemarilah.” Kata Jalal sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Jodha berlari menghambur masuk ke dalam dekapan Jalal. Ke tempat seharusnya dia berada. Tempat yang berusaha mati-matian dia ingkari, tapi juga satu-satunya tempat yang paling dirindukannya.
Jodha menyurukkan kepalanya, bersembunyi di lekukan leher pria itu, berusaha menghirup sebanyak-banyaknya aroma tubuh Jalal untuk menenangkan debaran jantungnya yang selalu berdetak cepat setiap kali berada begitu dekat dengan Jalal. Seakan sebanyak apapun yang dia hirup, tidak akan pernah ada kata cukup.
Air mata yang membasahi wajah Jodha, kini juga meninggalkan jejak-jejak lembab di kemeja Jalal, tapi pria itu tidak peduli. Hanya satu yang penting, wanita yang menjadi cinta bertepuk sebelah tangannya, kini sudah membalas cintanya.
“Apa kau senang sekarang?” tanya Jalal dan dijawab dengan anggukan kepala Jodha.
“Sayangnya aku tetap harus menemui wanita yang menungguku di atas...”
Tersentak, Jodha langsung menjauhkan tubuhnya dari Jalal. Wajahnya cemberut dan matanya menyipit kesal. Jalal yang melihat ekspresi itu, hanya tersenyum geli.
“Kau juga ikut kalau kau mau..” katanya jahil.
“Tidak mau. Dasar tidak tahu diri, apa kau pikir aku bisa tahan melihatmu bermanis-manis....”
“Apa kau pikir aku juga serendah itu.... Mengatakan cinta padamu, tapi merayu wanita lain?!” potong Jalal sambil memencet gemas hidung Jodha.
“Ayo.” Jalal menggandeng tangan Jodha dan menariknya bersamanya.
Dengan langkah berat, Jodha mengikuti Jalal memasuki La Grandeur. Jalal terus melangkah menuju meja tempat Nona Sarojan duduk, sambil terus menggandeng tangan Jodha yang berjalan sedikit di belakangnya.
“Nona Sarojan, maaf kalau anda lama menunggu..” sapa Jalal begitu sudah berada di depannya.
Alis gadis itu terangkat anggun begitu menyadari Jalal tidak datang sendiri. Ekspresi matanya bertanya-tanya tentang keberadaan Jodha yang datang bersama pria yang ditunggunya.
Jalal menarikkan sebuah kursi untuk Jodha, sebelum dirinya sendiri duduk.
“Kenalkan, ini Jodha Aadhya. Dia baru saja resmi menjadi pacarku.” Kata Jalal tanpa basa-basi mengenalkan Jodha.
Sudah pasti hal itu membuat Nona Sarojan terkejut, dia bahkan sempat tersedak sekali tapi langsung bisa menguasai dirinya kembali. Jodha hanya menunduk, tidak berani bertatap mata dengan putri CEO-nya itu, bahkan bisa dikatakan inilah pertama kalinya dia duduk semeja dengan keluarga pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Dan itu membuatnya gugup setengah mati.
“Benarkah?! Selamat ya untuk kalian berdua...” ujar Nona Sarojan, terdengar tulus.
“Terima kasih.” Jawab Jalal sopan.
“Berarti kesempatan untukku sudah tertutup ya... Padahal aku sudah bergerak cukup cepat untuk menangkapmu, Jalal. Ternyata masih kalah cepat... Mungkin ada kesempatan untukku tahun depan?!” goda Nona Sarojan.
“Coba kutanyakan dulu pada Jodha.” Jawab Jalal sama jahilnya.
Jodha menanggapinya serius dan tidak tahu kalau itu hanya gurauan, mendelik marah ke arah Jalal.
“Jangan khawatir. Aku hanya bercanda. Aku tidak akan merebut Jalal darimu. Meskipun tadi aku sempat berharap Jalal akan mempertimbangkan diriku...Kecuali kalau suatu saat kau melepaskannya, maka....” godanya sambil tersenyum.
Jalal tertawa mendengar gurauannya, sedangkan Jodha hanya tersenyum kecil.
Makan malamnya cukup lancar. Nona Sarojan ternyata wanita yang menyenangkan, membuat Jodha tidak canggung lagi berada di dekatnya. Dan saat Jalal meninggalkan meja untuk menerima telepon, kesempatan itu dipergunakan Jodha untuk bertanya.
“Ehm, Nona Sarojan...”
“Panggil saja Mohita..”
“Tidak bisa. Rasanya tidak sopan.”
“Baiklah, terserah kau saja... Ada yang ingin kau katakan?”
“Nona Sarojan, benarkah kau dijodohkan dengan Jalal?” tanya Jodha dengan sedikit ragu.
“Benar, ayahku yang punya ide itu. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi begitu mengenal Jalal dan mengobrol sedikit dengannya, aku menyetujui ide ayahku..”
“Tapi, apakah tidak apa-apa jika perjodohan itu gagal?”
“Apa kau ingin perjodohan ini kulanjutkan?!”
“TIDAK!.....Maskudku apa ayahmu akan marah pada Jalal karena tidak mengikuti keinginannya?” jawab Jodha cepat.
“Ayahku mungkin marah. Tapi dia lebih membutuhkan Jalal sebagai Chief Finance daripada sebagai menantu...”
Jodha merasa sedikit lega, setidaknya Jalal tidak akan bermasalah dengan posisinya karena hubungan mereka.
Usai makan malam, Jalal mengantar Jodha pulang seperti biasanya. Hanya saja kali ini, dia tidak langsung mengantar sampai apartemennya, melainkan mengajak Jodha mengunjungi tempat kenangan mereka, bukit di samping Danau Powai, menikmati indahnya langit malam yang pastinya terasa berbeda karena hubungan baru yang terjalin di antara mereka.
“Jadi, kapan kau mulai sadar kalau kau jatuh cinta padaku?” tanya Jalal tiba-tiba.
Pertanyaan yang tak terduga. Dan jujur saja, dia juga tidak bisa menjawabnya. Tapi sepertinya Jalal sangat penasaran...
“Aku tidak tahu persisnya kapan.... Pertama kali kau mengantarku pulang, aku tersentuh... Saat kau menolongku dari tiga preman itu, aku berdebar tepat saat kau merangkul bahuku... Saat kau mengatakan suka padaku, aku hampir pingsan karena tak percaya dan bahagia.... Saat aku melihat para wanita melirikmu dan tersenyum padamu, aku marah dan ingin berteriak ‘Hei, pria ini menyukaiku!’.... Saat kau mengobrol dan mulai dekat dengan Nona Sarojan, aku takut, takut kau tidak lagi mengejarku.... Tapi kalau dipikir-pikir, aku sudah merasa kau adalah pria yang takkan mudah kulupakan sejak kita bertemu pertama kali di lift...”
“Jadi, kapan aku mulai jatuh cinta padamu, aku tidak bisa menjelaskannya, tanpa kusadari kau sudah menguasai pikiran dan perasaanku... Aku jadi lebih sering membandingkanmu dengan pria-pria lain, termasuk Varun saat itu. Jujur saja, kau bukan tipeku, karena aku tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta dengan pria sebaik dirimu. Aku merasa tidak pantas...”
“Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku..?” tanya Jalal sambil mengulum senyum.
“Ketampananmu?!”
“Itu fakta yang sangat obyektif, bahkan orang yang membenciku pasti akan mengakui ketampananku.”
“Kelebihan rasa percaya diri yang akut..”
Jalal tertawa kecil, lalu dia menangkup wajah Jodha dengan kedua tangannya dan menatap dalam-dalam matanya.
“Aku mencintaimu karena bersamamu aku bebas menjadi diriku sendiri, dan apa jadinya hidupku tanpa dirimu...
“Kita sudah resmi pacaran. Kita juga sudah pernah bergandengan tangan dan berpelukan. Apa lagi yang akan kita lakukan berdua?” tanya Jalal menggoda.
Jodha langsung menyilangkan kedua tangan di depan dadanya dan tubuhnya terdorong mundur selangkah ke belakang. Wajahnya bersemu merah.
Jalal makin keras tertawa melihat tingkah konyol Jodha.
“Memangnya apa yang kau pikirkan?! Pikiranmu kotor sekali. Aku hanya ingin mengatakan besok kita akan makan malam, hanya kita berdua..”
“Oooh...”
“Dan Jodha....”
“Ya...”
“Pertemuan pertama kita bukan di lift..”
“Ha, benarkah?!...Tapi aku tidak pernah melihatmu sebelumnya...”
“Senin, 19 Maret, jam 8 malam apartemen Mumbay West Residence, kau keluar dari lift sambil menangis dan menabrak seorang pria. Lalu kau berteriak dan mengumpat pada pria itu....”
Jodha membelalakkan matanya tak percaya, mulutnya juga membulat sempurna tapi tidak ada suara yang keluar. Dia ingat apa yang terjadi malam itu. Yang membuatnya tak habis pikir adalah pria yang ditabrak dan dihardiknya.....adalah Jalal.
Takdir memang punya jalannya sendiri.
*******


From YM To Your Heart Part 11

8 comments:

  1. Senengnya buka fb lgsg muncul ff ini,mksh byk mba tyas sdh dilanjutin,lm jg gpp mba yg ptg lanjut sp tamat ya,semangat

    ReplyDelete
  2. Senengnya buka fb lgsg muncul ff ini,mksh byk mba tyas sdh dilanjutin,lm jg gpp mba yg ptg lanjut sp tamat ya,semangat

    ReplyDelete
  3. Mbaak lanjut ya jangan lama2...suka bgt2 sm ff ini bahasanya lugas n jelas trs gak neko2...eydnya juga tersusun rapi dan kata2nya gak monoton...good job mbak yaaaa

    ReplyDelete
  4. Mbaak lanjut ya jangan lama2...suka bgt2 sm ff ini bahasanya lugas n jelas trs gak neko2...eydnya juga tersusun rapi dan kata2nya gak monoton...good job mbak yaaaa

    ReplyDelete
  5. Ditunggu lanjutannya.
    Nggak pake lama ya... please

    ReplyDelete
  6. Alhamdulilah akhirx mbak tyas mengabulkanx , makasi mbak tyas updatex jgn lama2 yaaa (Miss u)

    ReplyDelete
  7. Thanks non Tyas, please don't keep us waiting too long, please update soonest

    ReplyDelete
  8. wah senengnya ff ini muncul lagi...lanjutannya lebih seru ya, mbak Tyas...ditunggu

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.