From YM To Your Heart Part 12 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 12




FROM YM TO YOUR HEART
Part 12

~~~~~
Rabu, 25/05/13
Aadhya Jodha : Jalal, apa kita bisa bicara?
Rashed Jalal : Soal apa?
Aadhya Jodha : Hubungan kita
Rashed Jalal : Kenapa?
Aadhya Jodha : Sepertinya beberapa temanku mulai mencium hubungan kita
Rashed Jalal : Lalu?
Aadhya Jodha : Bagaimana kalau ada rumor yang keliru dan menyalah artikan hubungan kita...
Rashed Jalal : Misalnya?
Aadhya Jodha : Bisa saja ada yang menganggap aku sudah merayumu demi karirku, atau...atau yang lain....
Rashed Jalal : Lalu?
Aadhya Jodha : Jalal, tidakkah kau mengerti?!
Rashed Jalal : Tidak
Aadhya Jodha : Jalaaalll...
Rashed Jalal : Biarkan saja, lebih baik semua orang tahu tentang kita...
Aadhya Jodha : Tapi tidak secepat itu!
Rashed Jalal : Memangnya kenapa? Kita juga berhak menikmati hubungan kita... Aku tidak suka apa yang kita jalani sekarang. Harus sembunyi-sembunyi. Seperti penjahat saja...
Aadhya Jodha : Ini demi profesionalitas kita bekerja
Rashed Jalal : Pentingkah pekerjaan ini untukmu?
Aadhya Jodha : Tentu saja. Bagaimana lagi aku bisa menghidupi Ibu dan Nenekku, kalau bukan dari penghasilanku ini.
Rashed Jalal : Aku punya solusi lain
Aadhya Jodha : Apa?
Rashed Jalal : Kau jadi anggota keluargaku saja. Aku yang akan menanggung semua kebutuhanmu dan keluargamu
Aadhya Jodha : Maksudnya??!!
Rashed Jalal : Menikahlah denganku
Rashed Jalal : Kau tidak akan menyesal
Rashed Jalal : Aku akan menjagamu, merawatmu dan menyayangimu
Rashed Jalal : Jodha, kau kenapa?
Rashed Jalal : Aku dengar suara keras dari mejamu
Rashed Jalal : Aku tidak bisa melihatmu! Kau dimana?
Rashed Jalal : Kalau aku tidak juga melihatmu, aku akan ke mejamu!
Rashed Jalal : Jodha!
Rashed Jalal : Jodha!
~~~~~~
Tubuh Jodha tergelincir dari kursi yang didudukinya dan jatuh terjerembab di lantai dengan suara gedebuk keras. Beberapa teman kerjanya yang posisinya dekat dengan biliknya sontak terkejut dan sama-sama menoleh ke arah asal suara. Mereka penasaran apa atau siapa yang menimbulkan suara sekencang itu di dalam kantor yang suasananya masih cukup tenang di pagi hari ini.
Sementara Jodha yang masih mengaduh kesakitan, terduduk di lantai di samping kursinya sambil mengusap-usap kepalanya yang tidak sengaja terantuk tepi meja. Beberapa temannya yang tampak cemas mengerubungi dirinya...
“Jodha, kau baik-baik saja..?”
“Kau kenapa? Apa kau kurang sehat pagi ini...?”
“Jodha...Apa kau masih mengantuk? Semalam kau tidak tidur? Memangnya apa saja yang kau lakukan?”
Tiga orang temannya memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat dijawab, saat dia melihat tubuh Jalal muncul dan menyeruak di antara mereka bertiga. Well, ini semua gara-gara laki-laki itu...
“Jodha, apa yang terjadi?!” tanya Jalal, kali ini suaranya terdengar benar-benar cemas.
“Tidak apa-apa, Sir...Aku hanya tergelincir dari kursiku..” jawab Jodha sambil menunduk, tidak berani menatap mata Jalal, karena rasa malu yang pasti akan tampak jelas dari rona wajahnya...
Jalal mengulurkan tangannya untuk membantu Jodha berdiri. Untuk beberapa detik, Jodha hanya memandangi tangan yang terulur itu, seakan ragu untuk menyambutnya. Namun saat dia mendongak dan menatap ke dalam mata pria itu, seperti terhipnotis, tangannya bergerak dengan sendirinya menyambut uluran tangan Jalal. Dan selalu inilah yang terjadi, bersentuhan dengan Jalal tidak pernah gagal membuatnya merona dan jantungnya berdebar. Bahkan meski sentuhan ini bukanlah sentuhan romantis yang biasa mereka lakukan saat berkencan. Perasaan Jodha makin campur aduk. Dia menyadari bukan hanya tatapan tiga orang di depannya yang sedang mengarah pada dirinya dan Jalal. Bisa-bisa seluruh lantai ini juga sedang memandangi mereka. Jodha selalu senang menerima perhatian dari kekasihnya, tapi jika mereka hanya berdua saja, tidak di ruang publik seperti ini. Tidak di depan teman-teman kantornya, karena belum ada satupun yang tahu tentang hubungan mereka bahkan Sneyka juga tidak tahu.
Tiga orang temannya yang tadi mengerubunginya, perlahan sedikit menepi setelah Jalal datang. Mereka berbisik-bisik sambil cekikikan, Jodha melihatnya dari sudut matanya. ‘Apa mereka tahu hubunganku dengan Jalal?..Bagaimana kalau ternyata semua orang sudah tahu tentang kami?...’ tanya Jodha dalam hati.
Jodha menepuk-nepuk belakang bajunya yang tidak kotor sambil menenangkan debar jantungnya. Dia melirik Jalal dan melihat pria itu masih memperhatikannya.
“Saya tidak apa-apa, Sir..sungguh..” kata Jodha menenangkan, matanya memberi isyarat pada Jalal agar kembali ke ruangannya.
Jalal mengangguk dan melangkah pergi. Pandangan Jodha mengikuti setiap langkah pria itu sampai menghilang di balik pintu ruangannya yang menutup.
“Ehem..ehem...jadi seperti itu?” goda salah satu temannya, mengalihkan pikiran Jodha, mengingatkannya kalau teman-temannya masih berdiri di dekat mejanya...
“Apanya? Aku tidak mengerti...” tanya Jodha pura-pura bodoh.
“Tenang saja...kami sama sekali tidak keberatan. Kami justru ikut senang...Kau harus memanjakannya dengan baik...” kata temannya yang lain.
“Kalian ini bicara apa?” tanya Jodha makin kesal...
“Emm..pantas saja kau sampai tergelincir, kau terlalu lama memandanginya... Emm..Dari sini tidak terlihat apa-apa, tapi di balik bayangan gelap, siapa yang tahu?...” kata Sneyka sambil tangannya membuat tanda segiempat ke arah ruangan Chief Finance seperti seorang fotografer yang mengukur objeknya.
“Sudah....pergi sana! Aku harus kembali bekerja!” Jodha mengusir teman-temannya.
“Kalau kau tidak mau, rekomendasikan aku ya....” kata Sneyka sambil mengedipkan mata dengan genit.
Mereka bertiga tertawa serempak melihat Jodha cemberut karena candaan itu. Puas menggoda Jodha, merekapun berlalu dan kembali ke meja masing-masing.
Jodha mencoba fokus pada pekerjaannya lagi, dan saat menatap layar monitornya, dia kembali melihat kata-kata itu. Konyol. Dia terjerembab dari kursinya gara-gara kata ‘menikahlah denganku’ yang baru saja dibacanya. ‘Apa sih yang dipikirkan Jalal??!..Kenapa mengungkit-ungkit kata pernikahan saat jam kerja?...Kalau dia ingin bercanda, harusnya cari waktu lain yang lebih tepat...Apa dia tidak tahu bagaimana efeknya padaku?!’ Jodha menggerutu dalam hati.
Kalau dipikir-pikir lagi memang konyol, insiden memalukan ini terjadi gara-gara kata ‘menikahlah denganku’ yang ditulis Jalal. ‘Apa dia serius?’ tanya Jodha dalam hati, secara otomatis dia melongokkan kepalanya melewati monitor di mejanya, lurus ke arah ruangan Jalal di seberangnya. Dia tidak bisa melihat apa-apa, sama dengan kata-kata itu, dia tidak tahu apakah itu serius atau hanya bercanda. ‘Pasti dia hanya ingin menggodaku saja... Mana mungkin kami menikah, hubungan ini baru saja berjalan 3 minggu...’ Jodha kembali menurunkan matanya, sedikit kecewa. ‘Aku kecewa? Tidak. Untuk apa aku kecewa? Aku mencintai Jalal, dan Jalal juga... Tapi, secepat itukah?..Tidak mungkin. Pasti tadi dia hanya asal bicara... Apa aku berharap menikah dengannya?? Ya, tapi aku masih takut....’
Bahkan sampai istirahat makan siang, kata-kata ajaib itu masih menari-nari di otaknya. Daripada terus penasaran, akhirnya Jodha mengirimkan pesan singkat pada Jalal untuk menemuinya di ujung tangga darurat lantai 3.
Meski dia tidak menunggu terlalu lama, tapi tetap saja Jodha gelisah..
“Kenapa kita harus bertemu secara sembunyi-sembunyi seperti ini? Hubungan kita bukan hal yang memalukan.. Apa kau malu berpacaran denganku?!” kata Jalal begitu dia sudah berdiri di depan Jodha.
“Tidak, tentu saja tidak. Untuk apa aku malu... Bisa-bisa kau yang malu punya pacar seperti aku..” kata Jodha merajuk.
“Kalau aku malu, untuk apa aku mengajakmu menikah?!”
“Jadi kau serius?!”
“Tentu. Kau pikir aku bercanda?”
“Iya, kau kan sering menggodaku...Kadang aku tidak bisa membedakan kapan kau serius atau kapan kau bercanda...”
“Itu karena kau mudah sekali digoda. Aku suka melihat wajah cemberutmu yang lucu..” kata Jalal sambil mencubit gemas hidung Jodha.
“Jadi...kapan kita menikah?” tanya Jalal.
Lutut Jodha mendadak lemas, seakan tak bertulang, dia hampir jatuh tersungkur ke lantai kalau seandainya Jalal tidak sigap menangkap tubuhnya.
“Kau kenapa? Apa kau sakit? Sudah dua kali dalam sehari ini kau terjatuh..” selidik Jalal.
Jodha berusaha menegakkan tubuhnya sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.
“Semua gara-gara kau! Jangan bicara yang tidak-tidak, ini masih jam kerja..”
“Jadi kau menganggap aku bercanda? Kau pikir aku tidak serius mengajakmu menikah?” ucap Jalal tersinggung.
Jodha gelagapan karena sedikit merasa bersalah mempertanyakan keseriusan Jalal.
“Eh, bukan begitu....Aku...Kita baru memulai hubungan ini...Dan aku...belum lama aku membatalkan rencana pernikahanku...Aku masih butuh waktu untuk...untuk mempersiapkan diriku....Aku..aku masih takut...”
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan memberimu waktu untuk berpikir, bukan memberimu kesempatan untuk mencari kandidat calon suami yang lain...” goda Jalal sambil membelai pipi kiri Jodha dengan sebelah tangannya.
Jodha ikut tersenyum sambil tertunduk malu karena belaian sederhana itu.
Tiba-tiba Jodha mendengar suara langkah kaki menuju ke arah mereka, otomatis dia mendorong tubuh Jalal menjauh.
“Ada yang datang..” bisik Jodha waspada.
Dia tidak memperhatikan perubahan raut muka Jalal karena didorong tiba-tiba seperti itu.
“Sudah kubilang aku tidak suka kau menyembunyikan hubungan kita..!” setelah mengatakan itu Jalal berbalik pergi, tidak mempedulikan panggilan Jodha.
“Jalal...Jalal...maafkan aku...Bukan begitu maksudku, aku hanya merasa tidak etis kita menunjukkan hubungan personal saat jam kerja...Itu saja.” Jodha berusaha mengejar langkah Jalal.
“Jalal..kumohon jangan marah. Kau sendiri pernah mennyindirku karena makan siang dengan Varun, kau masih ingat kan?” Jodha berusaha merayu
“Itu karena kau bukan makan siang denganku!”  potong Jalal.
“Jalal...”
Jodha menahan langkahnya, dia tidak bisa lagi mengejar Jalal karena mereka sudah ada di dalam ruangan lantai 3 yang penuh orang. Dilihatnya Jalal langsung masuk ke dalam ruangannya. Jodha mengatur kembali sikap dan raut mukanya, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dia takut hubungannya dengan Jalal terkuak di antara rekan-rekan kerjanya dan bisa menimbulkan skandal.
Jodha harus menahan diri sampai pulang kerja nanti.
Begitu asyiknya mengerjakan laporan, sampai-sampai Jodha tidak memperhatikan kalau waktu sudah menunjukkan jam 5 tepat.
“Jodha, ayo kuantar pulang.”
Jodha langsung mendongak mendengar suara yang sangat dikenalnya dengan baik. Begitu melihat Jalal sudah berdiri di samping mejanya, Jodha mendelik ketakutan. Takut membayangkan apa pendapat teman-teman kerjanya tentang dirinya.
“Jalal, apa yang kau lakukan?!” desis Jodha di sela-sela giginya. Lehernya kaku, tidak berani menoleh sama sekali.
“Matikan komputermu. Sudah waktunya pulang. Ayo cepat!” kata Jalal tidak mau dibantah.
Inginnya Jodha menolak, tapi Jalal malah membantu membereskan mejanya dan mengambil tasnya. Cepat-cepat Jodha mematikan komputernya.
Dan apa yang dilakukan Jalal berikutnya, membuat Jodha makin tak berkutik lagi. Jalal menggenggam sebelah tangannya dan menariknya pergi. Mau tidak mau Jodha mengikuti langkah Jalal. Dia menunduk makin dalam, saat mendengar beberapa siulan dan tepuk tangan dari penjuru ruangan.
Begitu sampai di mobil, Jodha melancarkan sikap merajuknya. Dia ingin menunjukkan keberatannya atas sikap Jalal tadi, yang membutnya malu di depan teman-temannya. Bukannya dia malu menjadi pacar Jalal, tapi dia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, ditambah lagi ketakutan akan hubungan itu sendiri masih menggelayuti pikirannya.
Jalal juga menyetir dalam diam. Dia tidak berusaha mengobrol apalagi menggoda Jodha. Waktu terasa lama sekali sebelum akhirnya mereka berhenti di depan apartemen Jodha.
Jodha hendak membuka pintu, tapi Jalal tiba-tiba menahan lengannya.
“Apa?”
“Sekarang semua sudah tahu tentang kita, kau tidak perlu khawatir lagi.” Jawab Jalal
“Tapi harusnya caranya tidak seperti itu..” kata Jodha pelan
“Jodha, kau tidak sedang mencari alasan untuk menyingkirkan aku kan?! Kenapa kau selalu keberatan dengan caraku maupun perhatianku...?”
“Tidak..tidak...sudah kubilang bukan begitu...aku hanya...sedang membiasakan diriku...menjadi seorang wanita di sampingmu..” jawab Jodha gelagapan sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahnya.
Jalal diam,dengan sengaja, dia menunggu Jodha meneruskan kata-katanya.
“Aku...Kau...pria yang hebat dengan penampilan di atas sempurna, sedangkan aku hanyalah wanita biasa dengan kepribadian yang sedikit membosankan...Terus terang, aku belum pernah mendapatkan perhatian dan perlakuan dengan sangat...emm manis... seperti yang kurasakan darimu...dan itu selalu membuatku gugup, salah tingkah dan juga membuatku rendah diri.... Kadang aku masih menganggap ini semua adalah mimpi...dan aku akan terbangun, mendapati dirimu tidak pernah ada di sampingku...aku pasti hancur saat itu....”
“Aku bangga menjadi wanita yang kau pilih, pria yang tak pernah berani kubayangkan akan menjadi kekasihku...Tapi aku juga bingung, aku tidak punya pengalaman bagaimana cara memperlakukanmu, apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu bahagia atau senang.... Aku khawatir akan mempermalukanmu di depan teman-temanmu....dan kau selalu membuatku berdebar dan tidak bisa berpikir setiap kali kau menatapku atau memelukku....”
Jalal tersenyum mendengarkan argumen Jodha yang panjang lebar.
“Berapa kali kau pacaran sebelum denganku?” tanya Jalal di luar topik pembicaraan.
“Ha..?..Eh, satu kali..”
“Dengan Varun, si otak mini itu?”
Jodha mengangguk.
“Dengar Jodha, kau istimewa. Dengan semua yang kau lakukan dan yang tidak kau lakukan. Kau bukan wanita tercantik di dunia, kau juga bukan seorang malaikat yang selalu melakukan kebaikan. Aku memilihmu bukan semata karena apa yang kurasakan padamu, namun juga apa yang tidak pernah kurasakan pada wanita lain.”
Jodha tersentuh dengan kata-kata Jalal, membuat matanya berkaca-kaca. Mereka saling menatap dalam senyum.
“Tentang pelukanku yang selalu membuatmu lemas, aku tidak percaya sebelum membuktikannya...” kata Jalal sambil menyeringai menggoda. Tangannya terangkat hendak merengkuh Jodha dalam pelukannya.
Ternyata Jodha lebih dulu menjauhkan tubuhnya.
“Selamat malam....emm sayang..” kata terakhir diucapkan Jodha dengan sangat pelan hingga hampir tak terdengar.
Jodha sudah berbalik hendak membuka pintu mobil, tapi lagi-lagi Jalal menahan lengannya.
Jodha mengangkat alisnya, bertanya.
“Jadi, kapan kita menikah?” tanya Jalal polos.
“Jalaaaal...baru tadi siang kita membicarakannya. Aku masih butuh waktu untuk berpikir.” Jawab Jodha dengan gemas.
“Oke..oke.. karena kau belum menjawab iya, aku akan memberimu hadiah..” Jalal membuka laci dashboard-nya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru.
“Ini untukmu.” Katanya sambil menyerahkan kotak itu ke tangan Jodha.
“Apa ini..?” tanya Jodha, tapi Jalal hanya diam saja.’Apa isinya cincin?’ tanya Jodha dalam hati.
Dibukanya kotak itu dan isinya malah membuatnya mengerutkan dahi. Sebuah kunci....
Diambilnya kunci itu...
“Itu kunci rumah yang akan kita tempati setelah menikah. Aku hanya akan tinggal disana jika kau menikah denganku..” Jalal menjelaskan dengan suara lembut membuat hati Jodha bergetar hangat.
“Aku...”
“Simpanlah baik-baik.”
Jodha bingung harus berkata apa. Tapi pasti, dia akan menyimpan semua hadiah dari Jalal dengan sangat baik. Termasuk hadiah cintanya.
Keesokan malamnya, Jalal kembali mengutarakan pertanyaan yang sama dan menerima jawaban yang sama dari Jodha.
Kemudian Jalal memberikannya sebuah hadiah, kedua kalinya setelah satu malam sebelumnya. Lagi-lagi sebuah kotak beludru kecil berwarna gelap yang sama seperti kotak berisi kunci rumah yang diberikannya pada Jodha sebelumnya.
Jodha membukanya dan menemukan sebuah kunci lain di dalamnya, tapi ukurannya lebih kecil dari kunci yang pertama.
“Itu kunci lemari pakaianku. Setelah kita menikah, aku akan membagi ruang dalam lemari pakaianku denganmu. Itu artinya aku sudah siap membagi seluruh hal pribadiku denganmu. Tidak akan ada yang kusembunyikan.”
Jodha membolak-balik kunci itu di tangannya. Sebuah kunci yang akan menjadi harta berharga dalam hidupnya.
“Aku tidak pernah mengijinkan orang lain bahkan adikku sendiri, membuka atau memeriksa isi lemariku. Tapi denganmu, aku persilakan kau memeriksa semuanya. Bahkan kau bisa melihat-lihat celana dalamku sekarang kalau kau suka...” kata Jalal sambil menyeringai jahil.
Candaannya dihadiahi sebuah cubitan di perut oleh Jodha.
“Jalal, berhentilah memberiku hadiah. Aku mengerti maksudmu, tapi aku..”
“Masih butuh waktu... Aku tahu.”jawab Jalal enteng.
Namun itu tidak berhenti....
Pada malam berikutnya, Jalal kembali menanyakan hal yang sama dan dibalas dengan jawaban yang sama pula.
“Jangan katakan kau akan memberiku hadiah sebuah kunci lagi...” ujar Jodha
“Ternyata kau sangat mengerti diriku...” balas Jalal dengan gaya dibuat-buat.
Sekali lagi, Jalal mengeluarkan sebuah kotak beludru yang kali ini bentuknya lebih panjang.
Saat Jodha membukanya, di dalamnya hanya terdapat sebuah kertas bertuliskan 520617.
“Itu kombinasi nomor untuk membuka brankasku. Aku akan membagi semua yang aku punya denganmu. Kau bisa membelanjakan semua hartaku sesuka hatimu, tidak perlu merasa sungkan, juga kau tidak perlu meminta padaku. Aku hanya ingin memastikan kau tidak akan menyesal menikah denganku...” Jalal menjelaskan dengan sungguh-sungguh.
“Jalal, hentikan! Aku tidak bisa berpikir jernih kalau kau terus menghujaniku dengan hadiah. Kumohon, beri aku waktu..” pinta Jodha.
Jalal terdiam, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Raut wajahnya tidak bisa ditebak, apakah dia marah atau kecewa. Yang dilakukannya kemudian hanyalah mengangguk dan berucap, “Baiklah...” dengan pelan.
Permintaan Jodha terkabul. Keesokan harinya dan terus berlanjut hingga seminggu kemudian, Jalal benar-benar memberinya ruang dan waktu, secara harfiah. Jalal tidak mengggodanya lagi tentang pertanyaan-pertanyaan soal pernikahan, dia juga tidak lagi mengumbar kemesraannya bersama Jodha di tempat kerja, bahkan dia juga tidak lagi sering mencari-cari kesempatan memanggil Jodha ke dalam ruangannya.
Di lain pihak, Jodha mulai merasakan perubahan sikap Jalal. Awalnya dia pikir Jalal menghormati keinginannya dan sedang memberinya waktu untuk berpikir, sesuai permintaannya. Tapi sikap Jalal semakin lama dirasakannya semakin dingin. Tidak seperti Jalal yang selalu penuh perhatian selama ini. Memang Jalal tetap menjemput dan mengantarnya pulang, tapi selama dalam perjalanan, Jalal tidak lagi banyak bicara maupun bercanda.
Kini permintaannya justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Sikap Jalal yang berubah membuat Jodha makin ketakutan. Takut kehilangan Jalal di saat pikiran dan perasaannya hanya terisi oleh satu nama, Jalal Rashed.
Jodha putuskan dia harus melakukan sesuatu. Dia tidak bisa diam saja dan membiarkan hubungannya di ujung tanduk. Jalal adalah hidupnya, tidak bisa dibayangkan jika hidup itu sendiri meninggalkannya.
Selang beberapa hari, akhirnya Jodha memberanikan diri bertanya pada Jalal, saat pria itu mengantarkannya pulang. Di depan pintu apartemennya, Jodha menahan lengan Jalal yang sudah akan berbalik pergi.
“Jalal, apa aku melakukan kesalahan?”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Sikapmu berubah. Apa kau marah padaku gara-gara aku belum menyetujui soal pernikahan kita? Atau ada sesuatu yang kau sembunyikan?! Katakan langsung padaku! Aku masih bisa menahan yang terburuk daripada merasakan sakitnya dikhianati di belakang punggungku!” kata Jodha setengah berteriak. Ada campuran rasa takut dan kesal dalam suaranya.
“Ya, memang ada yang harus kukatakan padamu....”
“Apa itu?” tanya Jodha sambil berusaha menguatkan hatinya.
Jalal terdiam agak lama sebelum akhirnya menjawab.
“Aku tidak bisa bersamamu lagi. Aku akan pergi.... Kebetulan aku menerima tawaran pekerjaan di luar Mumbay...”
“Kenapa? Kenapa kau lakukan itu? Apa hubungan kita sama sekali tidak berarti bagimu?!” Jodha hampir histeris..
“Akulah yang terlalu banyak berharap padamu... Aku pikir hubungan kita akan berhasil...tapi...”
“Tapi apa?! Kenapa kau tidak bertahan lebih lama lagi?! Aku hanya meminta sedikit waktu...untuk berpikir dan memantapkan hatiku...aku tidak meminta selamanya...tapi kau tetap saja pergi...Kalau tahu begini, kau seharusnya pergi sebelum kau membuatku jatuh cinta padamu!”
“Masalahnya kau tidak sepenuhnya percaya padaku...” balas Jalal tenang.
“Apa...”
“Meski kita sudah resmi berpacaran, tapi kau tidak bisa membuka hatimu sepenuhnya padaku. Kau tetap membangun benteng. Kau masih meragukan hubungan kita, kau meragukan aku dan kau meragukan dirimu sendiri... Kau terlalu banyak pertimbangan dan berpikir, itu karena kau takut hubungan ini akan gagal. Jika kau percaya padaku, maka tidak akan ada perasaan seperti itu..”
“Benar!! Aku takut! Tapi ketakutanku beralasan, bahkan sepertinya akan menjadi kenyataan tidak lama lagi...”mata Jodha mulai basah tanpa disadarinya, bibir bawahnya bergetar menahan kesedihan.
“Aku tidak tahu berapa lama kau akan menyukaiku. Aku tidak tahu berapa lama hubungan kita akan bertahan. Memutuskan jujur padamu dan mengakui cintaku, bagiku itu sebuah langkah yang besar...Dan aku butuh keyakinan yang lebih besar lagi untuk memutuskan menikah denganmu...Karena jika semua ini berakhir di tengah kehidupan pernikahan kita, aku tidak akan mungkin bisa bertahan... Bisakah kau bayangkan itu?”
Jalal terdiam, menatap Jodha dengan sama sedihnya.
“Andai saja kau percaya sepenuhnya padaku.... Hanya itu yang bisa kukatakan...”
Jodha hanya bisa memandangi punggung Jalal yang makin menjauh... Hatinya berusaha berteriak, berjuang memerintah kakinya untuk bergerak...berlari menyusul Jalal, menghalangi kepergiannya, memohon padanya untuk tetap tinggal.... Tapi kakinya tetap diam di tempat, terpaku... tidak menghiraukan jeritan hatinya...

***************


From YM To Your Heart Part 12

14 comments:

  1. Lanjuuutttnya cepetaaann dunkk...

    ReplyDelete
  2. Jodhaaaa.. Lama lama aku ikut keseel juga sama jodha,, kalo sikap mu terus begitu,, mudah mudahan aja jalal tidak benar2 meninggalkan mu

    ReplyDelete
  3. Wow
    Jodha.. payah kamu
    Tlg lanjutannya ya..

    ReplyDelete
  4. Benar2 jodha bikin kesell nih ... aaaahhh

    ReplyDelete
  5. Lanjutannya kapan...
    Sudah penasaran..
    Please

    ReplyDelete
  6. sedih bingits...part ini bikin nangis pembacanya nih author...sptnya Jodha bakal di tinggal selamanya ama Jalal...

    ReplyDelete
  7. Sudah kutunggu....
    Blm muncul juga lanjutannya..
    Please dong

    ReplyDelete
  8. please dong...lama bangeet ya...penasaran bangeet

    ReplyDelete
  9. Min,
    Kapan lanjutannya?
    Penaaaran banget

    ReplyDelete
  10. mana lanjutanx min...lama bangeet....bikin penasaran,,,,

    ReplyDelete
  11. sudah lama nunggu ff ini.. kog blm diterusin mb??? ceritanya bagus.. tp lbh sempurna lagi jika cepet diteruskan.. hihihi #ngrayu :)

    ReplyDelete
  12. koq lama sekali ga update . . . penasaran nih . . .

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.