Rahasia Hati Part 4 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 4 - By : Erinda




“Terima kasih Nona, saya akan menjadi pelayan Nona dan membantu Nona mulai saat ini” Kata Rajatha dengan tersenyum, Faridha mengangguk dan meminta Bik Min untuk segera mendorong kursi rodanya meninggalkan rumah sakit.
^^^
Rajatha, Faridha dan Bik Min telah berada di rumah Faridha, rumah yang cukup mewah yang hanya ditinggali oleh Faridha dan beberapa pelayan saja.
Rajatha langsung membopong tubuh Faridha yang tengah terlelap menuju kamarnya di lantai dua rumah tersebut, mungkin efek obat yang dia minum di rumah sakit tadi membuat Faridha terlelap seperti sekarang ini.

“Non sudah tidur?” Tanya Bik Min pada Rajatha setelah ia menutup pintu kamar Faridha
“Iya, Bik,, Ada yang ingin saya sampaikan, bisa kita bicara sebentar” Kata Rajatha pada Bik Min

Bik Min membawa Rajatha ke halaman depan rumah, setelah memantapkan hatinya, Rajatha mulai berbicara
 
“Ehm,, Pertama-tama biarkan saya memperkenalkan dulu siapa saya sebenarnya. Nama saya adalah Rajatha.” Kata Rajatha mulai membuka siapa jati diri sebenarnya
 
“Rajatha? Tapi,, Putra? Apa kau membohongi kami? ” Tanya Bik Min bingung
Rajatha tersenyum “Tidak Bik, nama lengkap saya adalah Rajatha Putra Akbar, tai saya lebih sering dipanggil Rajatha. Saya tidak bermaksud membohongi anda maupun Nona Faridha, tapi saya rasa saya tidak perlu mengatakan siapa saya sebenarnya pada Nona Faridha karena apa yang saya lakukan saat ini hanya ingin membantu, dan setelah nanti Nona Faridha sembuh atau setidaknya saat nanti emosi Nona Faridha sudah mulai stabil saya akan pergi dari kehidupan Nona Faridha dan kalaupun nanti takdir mempertemukan disaat nanti Nona Faridha sudah bisa melihat, pasti dia tidak akan mengenali saya juga kan Bik”

Bik Min masih diam mendengarkan Rajatha hingga Rajatha kembali melanjutkan perkataannya. “Saya baru tiba di Indonesia beberapa minggu yang lalu, dan tujuan saya datang ke Negara ini adalah karena pekerjaan, hhmm,, lebih tepatnya mengembangkan bisnis keluarga dengan membangun perusahaan baru disini, seperti yang saya katakan sebelumnya kalau saya bukanlah pelayan yang Bibi maksud tapi saat melihat Faridha begitu histeris seperti di Rumah Sakit tadi membuat saya iba dan tidak tega untuk menolaknya, dia sangat sensitive jika ada orang yang menolak dan mengabaikannya” Kata Rajatha panjang lebar
Bik Min menganggukan kepalanya mengerti
 
“Terimakasih banyak atas bantuannya, kau benar-benar orang yang baik” Kata Bik Min dengan tulus
“Tidak perlu berlebihan seperti itu Bik, bukankah sudah sewajarnya kita sebagai sesama manusia harus saling tolong menolong” Jawab Rajatha bijak
Bik Min diam menerawang memikirkan Faridha “Non Faridha,,, kehidupan Non Faridha berubah sejak hari naas itu menimpanya, dunia seolah terbalik baginya, dia sebelumnya adalah gadis yang manis, lincah, manja dan periang. Sepanjang hari rumah ini ramai akan celoteh cerianya, ia bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam dan melupakan segalanya jika sudah berbicara dengan ayahnya” Bik Min berkata dengan masih membayangkan bagaimana sosok Faridha yang dulu

Rajatha mendengarkan dengan seksama, jujur ia mulai penasaran dengan sosok Faridha, kenapa dan bagaimana bisa ia sampai mengalami kecelakaan hebat seperti itu

Bik melanjutkan “Tapi semua berubah hanya dalam waktu satu hari karena sebuah kecelakaan maut, ia menjadi istri, yatim piatu dan janda di waktu yang hampir bersamaan” Suara Bik Min mulai bergetar
 
“Ya Allah”  Batin Rajatha
“Bahkan Non Faridha tidak sempat melihat wajah ayah tercintanya untuk terakhir kalinya sebelum dimakamkan karena saat itu Non masih dalam keadaan koma di rumah sakit”
“Apa suaminya meninggal saat kecelakaan itu juga?” Rajatha tidak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama lagi
“Sebenarnya sampai saat ini kami tidak pernah melihat jasad Tuan Ardhan, suami Non Faridha. Bahkan keluarga Tn Ardhan pun seperti hilang ditelan bumi, sejak kecelakaan itu mereka tidak pernah menemui Non Faridha selama di rumah sakit dan itu membuat Bibi bertanya-tanya sampai sekarang, ada apa sebenarnya. Tapi menurut keterangan dari pihak kepolisian menyatakan bahwa Tn Ardhan meninggal tidak lama setelah kecelakaan tersebut dan jenazahnya sudah diserahkan pada pihak keluarganya, entahlah Bibi tidak terlalu mengerti soal itu”
“Kasihan dia” Lirih Rajatha
“Eem,, Tuan” Panggil Bik Min pada Rajatha
“Ah,, Jangan memanggilku seperti itu Bi, panggil saja namaku. Faridha bisa curiga kalau Bibi memanggil pelayannya dengan sebutan seperti itu”
“Tapi anda bukan pelayan Tuan, sedangkan saya adalah seorang pelayan disini, biarkan Bibi memanggil Tuan saat tidak ada Non Faridha dan sekali lagi Bibi benar-benar minta maaf atas kesalah pahaman tadi” Sesal Bik Min
“Tidak apa-apa Bik. Sudahlah,,, mungkin Allah telah menuntunku untuk bertemu dengan Bibi dan Nona Faridha hari ini, saya akan membantu Bibi untuk mengurus dan menjaga Nona Faridha. Dan saya minta Bibi jangan sampai mengatakan pada NonaFaridha siapa saya sebenarnya karena ini hanya sementara dan nanti semua akan kembali seperti sediakala. Untuk saat ini biarkanlah Nona Faridha tahu bahwa saya adalah Putra, seorang pelayan” Terang Rajatha
“Ba-Baik Tuan”
^^^
Hari sudah malam dan Rajatha pamit untuk undur diri, ya Rajatha sudah mengatakan pada Faridha bahwa malam hari ia harus kembali ke rumah, ia tidak bisa menjadi pelayannya selama 24 jam penuh dan syukurlah Faridha setuju dengan itu.

Sebelum kembali ke appartement, Rajatha menuju Rumah Sakit terlebih dahulu untuk mengambil mobilnya yang tadi siang ia tinggalkan disana.
Kini Rajatha sudah tiba di appartementnya, ia bergegas mandi, sholat isya dan memasak makan malam untuk dirinya sendiri, setelah itu Rajatha kembali berkutat dengan berkas dan file tentang perusahaan barunya

Rajatha Putra Akbar, walaupun ia anak satu-satunya dari keluarga yang kaya raya, namun kedua orang tuanya yaitu Jalal dan Jodha tidak pernah mendidiknya menjadi anak manja apalagi bergantung dengan orang lain.
Saat Rajatha tengah sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba ada panggilan video call di handphone-nya, Rajatha melirik kearah handphone-nya dan tersenyum, segera ia menerima panggilan tersebut dan meninggalkan sejenak kesibukan nya

“Assalamu’alaikum Mah, Pah” Sapa Rajatha sumringah pada kedua orang tuanya yang menelphone
“Walaikum salam” Jawab Jalal dan Jodha berbarengan
“Kemana saja kau seharian ini Jagoan, susah sekali menghubungimu, Mamamu bahkan sampai uring-uringan sejak tadi” Kata Jalal pada Rajatha, Jodha yang berada disampingnya memasang tampang jutek pada putra tercintanya
Rajatha tersenyum mendengar perkataan Papanya, ya memang sejak tadi siang handphone nya mati dan ia tidak sempat men-charge handphone karena sibuk melayani Faridha, mengingat nama Faridha tiba-tiba ia memikirkan gadis malang tersebut “Apa dia sudah tidur” Batin Rajatha

“Rajatha!” Panggil Jodha dengan keras karena dilihatnya Rajatha malah asik melamun
“Ah,,,I-iya Mah” Kaget Rajatha dan ia tersenyum salah tingkah
“Apa yang kau tadi lamunkan hah? Kau tidak suka Mama menelphon mu? Apa Mama mengganggumu? Baiklah, urus saja kertas-kertas yang menurutmu itu lebih penting daripada Mama, matikan saja videonya. Baru beberapa minggu disana, kau sudah melupakan Mama. Percuma ternyata sejak tadi Mama mengkhawatirkanmu. Menyebalkan” Cerocos Jodha seperti biasanya, wajahnya memerah menahan kesal dan ia langsung memeluk Jalal yang berada disampingnya, ya bagi Jodha sejak dulu berada dalam dekapan Jalal adalah tempat favoritnya, bahkan jika ia sedang marah pada Jalal-pun tetap dalam dekapan Jalal-lah tempat ia kembali dan akan selalu begitu.

Jalal yang tiba-tiba di peluk oleh Jodha langsung membalas pelukan istri tercintanya dan mengelus kepalanya dengan sayang, sebenarnya ia ingin tertawa melihat kelakuan Jodha yang tidak pernah berubah hingga sekarang, Jodha yang bisa sangat cerewet dan manja dalam waktu bersamaan, itulah istrinya yang selalu membuat Jalal gemas dengan segala tingkahnya walau mereka sudah tidak muda lagi.

Sedang Rajatha berusaha menahan untuk tidak tertawa, Mamanya memang lucu.
Walau terkadang Mama marah dengan Papa, tapi kemarahan Mama tidak pernah bertahan lama karena di menit selanjutnya Mama sudah meringkuk dalam pelukan penuh kasih sayang sang Papa dan mereka kembali mesra seperti sebelumnya. 

Rajatha tersenyum bahagia memperhatikan orang tuanya yang tengah berpelukan, dia sudah biasa melihat pemandangan seperti ini, sejak dulu kedua orang tuanya selalu hangat dan harmonis, itulah yang membuatnya selalu betah berada dirumah, walaupun ia terkadang sering meeting jauh Rajatha selalu mengusahakan untuk bisa pulang kerumah pada malam harinya untuk bertemu dan bercengkrama dengan kedua orang tuanya.

“Mama” Rajatha memanggil Jodha dengan lembut
Jodha melirik sekilas kearah ponsel tanpa melepas pelukannya pada tubuh Jalal
“Aku merindukan Mama, sangat” Kata Rajatha lagi
 
Jodha melepaskan pelukannya pada Jalal, ia tersenyum menatap layar ponsel, matanya mulai berkaca-kaca mendengar suara lembut dan penuh kerinduan dari anaknya
 
“Jangan menangis Ratuku, rasanya aku sangat ingin memeluk Mama saat ini tapi tentu saja tidak bisa dan kalaupun bisa pasti tidak bisa lama-lama kalau ada Papa disebelah Mama,, Hehe” Kata Rajatha bercanda, membuat Jodha tertawa
“Mama juga sangat merindukanmu Nak” Kata Jodha akhirnya
“Apa kau baik-baik saja disana Jagoan?” Tanya Jalal
“Alhamdullillah Pah, Mah. Rajatha disini baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana keadaan Mama dan Papa disana?” Tanya Rajatha balik
“Alhamdullillah,,, Mama dan Papa juga baik-baik saja sayang. Kau sudah makan?” Kata Jodha
“Sudah Mah”
“Dengan makanan siap saji lagi?” Tanya Jodha tidak suka
“Hahaha,, Tidak Mamaku sayang, tadi aku memasak sendiri untuk makan malam, Mama tidak lupa kan kalau aku ini juga pandai memasak seperti Mama” Kata Rajatha bangga. Rajatha memang pandai memasak sejak dulu, siapa lagi yang mengajarinya kalau bukan Jodha yang memang seorang chef handal
“Bagus, Mama tidak suka kalau kamu terlalu sering memakan makanan siap saji”
“Aku tahu Mah, aku akan rajin memasak untuk diriku sendiri disini”
 
Setelah berbincang cukup lama, mereka memutuskan sambungan video call tersebut

Melihat kemesraan orang tuanya yang tidak berubah sejak dulu, terkadang membuat Rajatha berkhayal untuk  segera menikah dan memiliki keluarga kecil yang penuh cinta seperti kedua orang tuanya tapi ambisinya dalam berbinis mengalahkan segalanya, Rajatha sangat serius dengan dunia Bisnis seperti yang diajarkan Papanya. Dia ingin sukses di usia muda seperti sang Papa dulu.

Menikah? Mungkin masih bisa nanti lagipula saat ini ia tidak mempunyai calon untuk menjadi istrinya.
^^^
Pukul 8 pagi Rajatha sudah tiba di rumah Faridha, sejak hari ini Rajatha memakai jasa sopir untuk mengantar dan menjemputnya kemanapun.
Rajatha langsung masuk kedalam rumah besar tersebut dan mencari Bik Min untuk menanyakan keberadaan Faridha
 
“Pagi Bik” Sapa Rajatha dengan ramah pada Bik Min
“Pagi,, Tu,,” Bik Min menghentikan perkataannya saat melihat Rajatha sedikit melotot padanya
“Ehmm,, Pagi Putra” Kata Bik Min akhirnya yang menyadari bahwa saat ini mereka tidak hanya berdua, ada beberapa pelayan lain yang berada disekitar mereka
“Dimana Nona Faridha Bik, apa dia sudah bangun?” Tanya Rajatha langsung
“Non Faridha masih ada dikamarnya Putra, tadi setelah Bibi membantunya untuk sholat Subuh dia kembali tidur”
“Ohh,,, Baiklah kalau begitu. Aku akan menelphon seseorang dulu diluar, kalau Bik Min membutuhkan bantuanku panggil saja aku nanti” Kata Rajatha dan segera ia menuju halaman depan rumah tersebut dan mencari tempat yang agak jauh dari tukang kebun yang ia lihat sedang menyiram tanaman
^^^
“Halo Tio, bagaimana perkembangan pembangunan gedung kita?” Tanya Rajatha pada salah satu mandor yang bertanggung jawab atas pembangunan gedung perusahaannya
“Halo Pak Rajatha. Sejauh ini masih berjalan lancar Pak dan sesuai dengan perintah Bapak kemarin untuk menambah tenaga kerjanya sudah saya dapatkan, mereka mulai bekerja hari ini” Jawab Tio sopan
“Bagus, laporkan semua perkembangannya padaku, kalau aku tidak mengangkat telephone mu, cukup sms dan aku akan membacanya nanti”
“Baik Pak, apa Bapak akan datang kesini nanti?”
“Tidak tahu, kalau sempat aku akan kesana nanti”
 
Rajatha mematikan sambungan telephone nya dan berbalik, dilihatnya dari kejauhan Bik Min seperti memanggilnya

“Ada apa Bik?” Tanya Rajatha saat sudah berada di depan Bik Min
“Putra, Non Faridha sudah bangun dan dia ingin turun”
Rajatha mengerti, ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Faridha di lantai atas

Tok,,,Tok,,,Tok,,, Rajatha mengetuk pintu kamar Faridha
“Masuk” Jawab Faridha dari dalam
 
Rajatha yang mendengar sahutan Faridha segera meraih handle pintu kamar tersebut dan membukanya

Dilihatnya Faridha sedang duduk dikursi roda dan berada disamping jendela kamar dengan tatapan kosongnya, perlahan Rajatha mendekat
 
“Masha Allah,,, Cantiknya” Batin Rajatha, entah sudah berapa kali Rajatha memuji kecantikan Faridha sejak pertemuan pertama mereka kemarin

“Putra?” Tanya Faridha dengan menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri
“Ya saya Putra, Nona mau turun?” Tanya Rajatha dengan lembut, ia sudah berlutut di hadapan Faridha saat ini
“I-iya” Kata Faridha terbata, entah mengapa sebenarnya sejak pertama Putra memeluknya kemarin, Faridha merasakan sesuatu yang aneh dihatinya, dadanya berdebar setiap kali Putra menggendongnya dan berada dekat dengan pelayannya itu, sungguh perasaan yang sangat aneh
“Baiklah” Kata Rajatha dan segera ia meraih Faridha kedalam gendongannya dengan lembut, tangan Faridha tidak merangkul leher Rajatha seperti pertama Rajatha menggendongnya kemarin

Setelah sampai dibawah, Rajatha menyuruh pelayan lain untuk mengambil kursi roda Faridha yang masih berada dikamarnya, selama menunggu pelayan itu mengambil kursi roda Faridha, Rajatha tetap menggendong Faridha
Rajatha memperhatikan wajah ayu Faridha, dilihat dari dekat seperti ini semakin membuat Rajatha enggan mengalihkan pandangannya kearah lain
 
“Kenapa wajahnya merona?” Tanya Rajatha dalam hati sesaat setelah ia melihat semburat merah muda di pipi Faridha

“Kenapa lama sekali sih pelayan itu mengambil kursi rodaku. Ya Allah,, Aku tidak kuat berada sedekat ini dengan Putra” Batin Faridha gelisah

Hingga panggilan pelayan yang membawa kursi roda Faridha membuyarkan keduanya dari lamunan mereka. Rajatha langsung mendudukan Faridha ke kursi rodanya

“Apa Nona sudah sarapan?” Tanya Rajatha saat ia mulai mendorong kursi roda Faridha
“Belum” Jawab Faridha singkat
“Nona harus sarapan, bukankah Nona harus minum obat pagi ini” Kata Rajatha mengingatkan
“Hufhh,, Kau baru sehari jadi pelayanku, kenapa cerewet sekali. Aku sedang tidak napsu makan pagi ini”
“Kenapa?”
“Entahlah,, Ngomong-ngomong kau membawaku kemana Putra?”
“Ruang makan” Sahut Rajatha enteng
“Bukankah sudah ku katakan kalau aku sedang tidak napsu makan, kenapa kau malah membawaku kesini sih,, Bik Minnn” Teriak Faridha memanggil Bik Min
Bik Min langsung berlari menghampiri Faridha, namun saat sudah dekat dengan Faridha, Rajatha memintanya untuk jangan berbicara
“Bik Min sedang keluar untuk berbelanja Nona. Nona harus sarapan supaya bisa minum obat” Jawab Rajatha dan meminta Bik Min untuk meninggalkan mereka, Bik Min mengerti dan menjauh darisana
“Hey,, Sebenarnya siapa yang pelayan disini, kenapa kau memaksaku untuk makan” Kata Faridha tidak suka
“Astaga,,, Apa ini sifat aslinya, menarik juga”  Pikir Rajatha dan tersenyum
“Saya memaksa Nona karena Nona memang harus makan. Sudahlah,,, Saya yang akan memasakan Nona sarapan pagi ini, Nona ingin makan apa?” Tanya Rajatha tanpa memperdulikan kalau Faridha sedang kesal padanya saat ini
“Yakin kau bisa memasak?” Tanya Faridha tidak percaya
“Tentu saja”
“Jangan bercanda padaku Putra, aku yang wanita saja tidak pandai memasak apalagi dirimu. Sudahlah, kau semakin membuat napsu makanku hilang, sekarang lebih baik kau bawa aku ke taman depan rumahku”
 
“Tidak ada pergi ke taman sebelum Nona sarapan, sekarang Nona diam disini dan tunggu hingga masakanku selesai. Awas kalau sampai Nona menggeser sedikit saja kursi roda ini” Kata Rajatha pura-pura tegas tepat di depan wajah Faridha dan itu berhasil membuat Faridha tidak berkutik, bahkan untuk mengedipkan mata terasa sulit bagi Faridha saat ini

Rajatha menjauh dari Faridha menuju dapur dan mulai menyiapkan masakannya dengan mengambil beberapa bahan makanan yang ada di kulkas, ekspresi Faridha tadi sangat lucu baginya hingga membuat Rajatha senyum-senyum sendiri.

“Ap-apa yang baru saja dilakukan pelayan itu tadi? Dia mengancamku? Dan dengan bodohnya aku diam menurutinya seperti ini” Kata Faridha pada dirinya sendiri, ada apa dengannya bahkan ia tidak bisa marah pada Putra tadi

Aroma masakan Rajatha mulai tercium oleh Faridha dan membuat Faridha penasaran dengan apa yang sedang dimasak oleh pelayannya itu sekarang, aroma masakannya sungguh mengundang rasa lapar Faridha

“Sebenarnya apa yang kau masak Putra?” Tanya Faridha akhirnya, karena sebenarnya ia sudah tidak sabar untuk mencicipi masakan tersebut, tiba-tiba perut Faridha berbunyi, Rajatha mendengarnya
“Apa sekarang Nona sudah napsu makan?” Goda Rajatha masih dengan kesibukannya di dapur
“Diam kau, cepat selesaikan masakanmu” Bentak Faridha berusaha menutupi rasa malunya

----------------
- To Be Continue -


Rahasia Hati Part 4 - By : Erinda

1 comments:

  1. Masing2 sdh merasakan perasaan yg aneh kl mereka dekatan,lanjut mba

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.