Rahasia Hati Part 5 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 5 - By : Erinda



Sebelumnya saya mau ngucapin terima kasih banyak buat readers tersayang yang selalu Like & Comment untuk cerita ini. Makasih juga buat Bunda Zie Latisha untuk selalu tag temen-temen yang lain buat ikut baca,,, Sukriya ;)
__________________________



“Apa sekarang Nona sudah napsu makan?” Goda Rajatha masih dengan kesibukannya di dapur
“Diam kau, cepat selesaikan masakanmu” Bentak Faridha berusaha menutupi rasa malunya
^^^
10 Menit kemudian masakan Rajatha sudah selesai, Bik Min membantu untuk menata makanan tersebut diatas meja dan setelah itu ia kembali meninggalkan Rajatha dan Faridha di ruang makan.
 
“Dimakan Nona” Ajak Rajatha dan mendorong kursi Roda Faridha menuju meja makan
“Apa yang kau masak Putra?” Tanya Faridha kemudian
“Hhmm,, Cuma nasi goreng, kau suka kan?”
“Ya. Mana piringku?” Faridha meraba-raba meja di depannya
Rajatha tersenyum melihatnya “Nona yakin bisa makan sendiri? Apa perlu aku panggilkan Bik Min untuk menyuapi Nona?”
“Hey,, Kau pikir aku selemah itu? Kalau hanya untuk makan aku masih bisa sendiri. Mana piringku” Kata Faridha jengkel
“Baiklah,,Baiklah,,,” Rajatha menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan Faridha dan mengarahkan tangan Faridha untuk menyentuh makanannya.

Faridha mulai memakan nasi goreng tersebut “Enak juga” Batinnya sesaat setelah nasi goreng itu masuk ke mulutnya.

“Walaupun dia galak dan terkadang ketus tapi dia juga gadis yang mandiri, semoga kau segera sembuh seperti semula Faridha” Kata Rajatha dalam hati, ia memperhatikan Faridha yang sedang asyik menyuapkan sendok demi sendok nasi goreng kedalam mulutnya

Meja disekitar piring Faridha tampak berantakan dengan nasi goreng disekelilingnya dan tentu saja Faridha tidak menyadari itu, Rajatha hanya tersenyum melihatnya

“Putra” Panggil Faridha setelah ia selesai makan
“Putraaa” Panggil Faridha lagi sedikit keras karena tidak mendapat jawaban dari Rajatha
“Ah,, Ya Nona, ada apa?” Sahut Rajatha cepat, sedari tadi Rajatha memandang wajah Faridha hingga tidak sadar kalau makanan Faridha ternyata sudah habis dan Faridha memanggil-manggilnya sejak tadi
“Kau kenapa hah? Aku tahu kau sejak tadi disini tapi kenapa saat ku panggil kau tidak menyahut? Apa yang sedang kau lakukan?” Semprot Faridha
“Nona tahu aku disini? Padahal kan sejak tadi aku tidak bersuara dan tidak melakukan apa-apa” Rajatha balik bertanya pada Faridha. Rajatha pikir sejak tadi Faridha tidak menyadari kalau ia masih berada disini
“Parfume mu. Aku sudah mengenali parfum mu sejak pertama kali bertemu denganmu di rumah sakit” Jawab Faridha santai
Tanpa sadar Rajatha tersenyum mendengar jawaban Faridha
“Wah,, Kalau begitu aku tidak bisa berbohong lagi padamu Nona, kau sudah mengenali parfum ku” Kata Rajatha pura-pura sedih
“Lebay”
“Hahaha,,,”
“Cepat jawab pertanyaan ku tadi, kenapa kau diam saja saat aku memanggilmu. Apa yang sedang kau lakukan” Tanya Faridha lagi, entah mengapa dia jadi begitu penasaran
“Memandangimu” Jawab Rajatha dalam hati
“Aku,,, Sedang bermain game di handphone ku. Ya main game,, eem,, COC, Nona tahu game itu kan. Tadi aku terlalu asik sehingga tidak mendengar saat Nona memanggilku” Bohong Rajatha 

Faridha mengangguk pelan dan meminta Rajatha mengantarnya ke Taman
^^^
Satu bulan berlalu sejak Rajatha menjadi pelayan Faridha, dan kebersamaan mereka selama ini membuat keduanya semakin dekat, terutama Faridha selain dengan Bik Min kini ia mulai terbiasa dan bergantung pada Rajatha dan begitupun sebaliknya, entah apa yang dirasakan Rajatha sebenarnya, apa benar ia melakukan ini hanya karena keperdulian dan rasa kasihannya terhadap Faridha atau keperdulian dan rasa kasihan itu sudah mulai berkembang menjadi rasa yang lain, entahlah yang jelas Rajatha menikmati kebersamaannya bersama Faridha selama ini.

“Apa yang kurasakan sebenarnya pada Putra, perasaan yang belum pernah kurasakan pada siapapun sebelumnya termasuk pada Kak Ardhan. Dulu saat menerima lamaran dari Kak Ardhan, saat itu aku hanya memikirkan perasaan Ayah, aku tidak tega jika harus melihat kekecewaan di wajah ayah karena menolak perjodohan itu, lagipula Kak Ardhan adalah orang yang baik begitupun keluarganya, tapi tetap saja perasaan ku biasa saja pada Kak Ardhan tidak ada debaran aneh di dadaku seperti saat aku bersama Putra. Bahkan aku langsung bisa mengingat aroma tubuhnya, aku selalu berusaha menekan perasaanku agar tidak terlihat olehnya ketika kami bersama. Apa aku sudah menyukai pelayanku sendiri? Ya Allah,,, Ini akan sangat memalukan. Biarlah ini tetap menjadi Rahasia Hati” Gelisah Faridha pada dirinya sendiri saat ia akan memejamkan matanya untuk tidur malam ini.
^^^
Pagi ini Rajatha menuju area proyek untuk kembali meninjau sejauh mana pembangunan gedung perusahaannya, sebelumnya Rajatha sudah mengatakan pada Faridha bahwa ia akan datang siang kerumahnya hari ini.

“Bagaimana perkembangannya Henry?” Tanya Rajatha pada salah satu mandor disana
“Cukup cepat Pak, seperti yang Bapak minta bahwa gedung ini harus selesai kurang dari 5 bulan, estimasi kami gedung ini sudah bisa beroperasi 4 bulan lagi Pak” Jawab Henry
“Bagus, aku tidak perduli berapa biaya yang harus ku keluarkan untuk mempercepat proses pembangunan gedung ini Henry. Aku hanya ingin segera menjalankan perusahaan ini bersama para karyawan-karyawan ku nantinya”
“Baik Pak, saya mengerti”
^^^
Rajatha menuju rumah Faridha dan seperti biasa ia menyuruh sopirnya untuk tidak mengantarnya sampai kedepan rumah Faridha.

Rajatha masuk kedalam rumah Faridha, Bik Min memberitahunya bahwa Faridha sedang menerima telephone dari seseorang di halaman belakang, Bik Min lah tadi yang menerima panggilan di handphone Faridha dan memberikannya pada Faridha untuk berbicara pada orang yang menelphone nya tersebut.

Rajatha menuju halaman belakang rumah Faridha, dilihatnya Faridha tampak berbicara dengan seseorang disana.
Samar – samar ia mendengar pembicaraan Faridha, bukan maksud untuk menguping tapi ia hanya penasaran saja. (Iya aja adek mah Bang)

“Aku senang mendengarnya Kak” Kata Faridha
“…………”
“Aku masih harus menjalani beberapa terapi disini, aku ingin segera sembuh”
“…………”
“Ada Bik Min yang setia menjagaku juga ada Putra”
“…………”
“Dia pelayan baru disini, dia sangat baik dan selalu menjagaku”
“…………”
“Hehehe,,,”
“…………”
“Tidak apa-apa, mendengar kalau ternyata kakak baik-baik saja itu sudah membuatku Bahagia. Jangan merasa bersalah begitu dan sampaikan salamku pada Mama dan Papa disana.”
“…………”
“Terimakasih Kak,,, Baiklah,, Aku tunggu. Assalamu’alaikum”
“…………”

“Mereka sangat akrab” Gumam Rajatha pelan. Sengaja sejak tadi Rajatha berada agak jauh dari Faridha untuk mendengarkan pembicaraan Faridha, kalau ia berada di dekatnya pasti Faridha akan tahu, seperti yang pernah dikatakannya kalau ia bisa mengenali Rajatha hanya dari aroma parfumnya

Rajatha akhirnya berjalan mendekati Faridha dan bersikap seolah-olah baru saja datang
 
“Putra” Kata Faridha
“Benarkan,,, Dia sudah mengenaliku” Batin Rajatha
“Selamat siang Nona” Sapa Rajatha
“Selamat siang Putra. Kau baru datang?” Tanya Faridha
“Iya”
“Ya sudah,,,kenapa lama sekali kau datang”
“Eemm,, Tadi,,,”
“Ah sudahlah.. Ayo kita ke rumah sakit sekarang untuk terapi, kau tau aku sudah menunggumu sejak tadi”
“Waaa,, Tumben sekali Nona sangat bersemangat untuk pergi terapi” Tanya Rajatha sambil mendorong kursi roda Faridha masuk kedalam rumah
“Aku kan juga ingin sembuh, aku ingin bisa melihat dan berjalan lagi” Jawab Faridha riang. “Juga aku sangat ingin melihat wajahmu Putra” Lanjut Faridha dalam hati
“Sudah seharusnya Nona bersemangat seperti ini, ayo kita ajak Bik Min dan kerumah sakit sekarang” Kata Rajatha ikut bersemangat
^^^
Kini Faridha sedang diperiksa dan melakukan beberapa terapi bersama para dokter yang sudah biasa menanganinya
Setelah cukup lama menunggu akhirnya Bik Min dan Rajatha diperbolehkan masuk untuk bertemu dengan Faridha

Rajatha dan Bik Min terkejut saat melihat Faridha sudah bisa berdiri dengan bantuan kruk di tangan kanan dan kirinya
“Nona sudah bisa berdiri?” Tanya Rajatha, dia sangat senang melihat kemajuan Faridha
 
Sedangkan Bik Min mengusap air mata haru begitu melihat Faridha bisa berdiri walau dengan bantuan kruk
“Aku bahkan sudah bisa berjalan sedikit-sedikit menggunakan kruk ini Putra” Jawab Faridha
“Benarkah? Dokter?” Rajatha bertanya pada dokter meminta penjelasan
“Benar Pak, Nona Faridha sudah mulai bisa berjalan menggunakan kruk nya, sebenarnya selama ini Nona Faridha sudah belajar berjalan sendiri dirumah seperti yang seringkali kami katakan padanya saat terapi dan syukurlah Nona Faridha mengikutinya dan inilah hasilnya” Dokter menjelaskan
“Kenapa tidak meminta bantuan Bibi Non?” Kali ini Bik Min yang bertanya pada Faridha
“Hehehe,, Aku tidak ingin terus-terusan merepotkan Bibi, seharian Bibi sudah mengurusiku, tenanglah aku tidak apa-apa” Jawab Faridha riang, sungguh ia senang akhirnya usahanya selama ini belajar berjalan setiap malam berbuah manis seperti ini
“Lalu bagaimana dengan penglihatannya Dok? Apa Dokter sudah mendapatkan donor mata yang tepat untuknya?” Tanya Rajatha lagi
“Setelah melakukan beberapa kali terapi, ada kemajuan yang begitu pesat  tentang kondisi mata Nona Faridha dan kami para dokter memutuskan bahwa Nona Faridha tidak membutuhkan donor mata untuknya, Nona Faridha hanya perlu untuk mengikuti terapi rutin dan meminum obat yang kami berikan, Insha Allah Nona Faridha akan bisa melihat kembali dengan matanya sendiri dalam waktu tidak lebih dari 4 bulan kedepan” Jawab dokter dan tersenyum
“Alhamdulillah,,,,” Faridha, Rajatha dan Bik Min mengucap syukur mendengar jawaban dokter
 
Bik Min langsung memeluk Faridha yang sejak tadi matanya sudah berkaca-kaca, Rajatha tersenyum tulus memandang kedalam mata Faridha walau tatapan Faridha masih kosong
 
“Cepatlah sembuh Faridha dan lihatlah kembali dunia dengan mata indahmu itu, walau disaat nanti kau sudah bisa melihat, aku tidak lagi ada disampingmu” Batin Rajatha. Ya, seperti yang tadi dokter katakan bahwa Faridha akan bisa melihat dalam waktu empat bulan kedepan dan pada saat itu juga perusahaan yang selama ini di idam-idamkannya sudah bisa dijalankan. Jika Faridha sudah kembali normal seperti semula Rajatha tidak akan ada beban meninggalkannya nanti, karena bagaimanapun ia harus menjalankan perusahaannya dan membuat kedua orang tuanya bangga.

“Terima kasih banyak Dokter, kami permisi dulu” Pamit Rajatha pada para dokter
Rajatha dan Bik Min membantu memapah Faridha berjalan menggunakan kruknya, walau kakinya masih terasa nyeri tapi senyum manis terus terukir di wajah Faridha

Malam harinya, setelah makan malam Faridha mengajak Rajatha duduk menikmati sejuknya malam.

“Kau belum mau pulang kan Putra?” Tanya Faridha setelah ia duduk di sebuah kursi panjang dengan Rajatha berada disampingnya
“Bagaimana aku bisa pulang, kalau Nona rumah ini tidak mengizinkan aku pulang cepat hari ini” Jawab Rajatha menyindir Faridha
Faridha terkekeh pelan, memang tadi sore ia meminta Rajatha untuk tinggal lebih lama dirumahnya hari ini
“Hey,,, Apa kau lupa, hari ini kan kau datang siang kerumahku, enak saja kau bisa pulang cepat” Jawab Faridha tidak terima

“Ya,,Ya,, Terserah dirimu saja Nona” Kata Rajatha pasrah

“Putra”
“Hhmm,,,”
“Aku bahagia sekali hari ini”
“Aku tahu”
“Hehehe,,, Ya, selain mendengar penjelasan dari dokter siang tadi mengenai kondisiku, ada satu hal lagi yang membuatku bahagia”
“Oh ya,, Apa itu?” Tanya Rajatha
“Hhmmm,,, Aku baru saja mendapat kabar bahwa,,,emm,, seseorang yang dekat denganku, setelah tidak ada kabar darinya selama ini akhirnya hari ini dia menghubungiku dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Terima kasih Ya Allah” Kata Faridha dengan menyunggingkan senyumnya
“Ohh,,,” Kata Rajatha
“Apa itu adalah orang yang berbicara dengannya di telephone tadi siang? Seseorang yang dekat dengannya? Dia terlihat sangat bahagia saat membicarakannya” Batin Rajatha bertanya-tanya, tatapan matanya tidak lepas dari wajah Faridha

“Nona”
“Ya,,,”
“Malam ini terang bulan, dia bersinar dengan indahnya” Rajatha mencoba mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan Bulan yang memang bersinar terang malam ini.

Entahlah Rajatha suka melihat wajah sumringah Faridha saat membicarakan orang yang dia tidak tahu itu siapa tapi ingin bertanya lebih jauh pun ia tidak ingin

“Benarkah? Waahh,, Aku sangat suka memandangi Bulan yang sedang bersinar di malam hari, dulu ayah yang selalu menemaniku memandangi Bulan” Kata Faridha, seketika dadanya terasa sesak saat membicarakan sosok ayah yang tidak akan ditemuinya lagi
“Kau bisa bernyanyi Nona?” Tanya Rajatha, ia menyadari raut wajah Faridha yang tadi begitu sumringah seketika berubah sedih setelah menyinggung ayahnya
“Tentu saja, aku lebih suka bernyanyi daripada memasak”
“Hehehe,, Bernyanyi dan memasak itu tidak ada hubungannya Nona”
“Pokoknya aku tidak suka memasak dan aku lebih suka bernyanyi” Ketus Faridha, dia sudah melupakan kesedihannya tentang ayahnya
“Nona tidak suka karena Nona tidak bisa memasak” Kata Rajatha lagi
“Kenapa,,?! Apa masalah untukmu aku tidak bisa memasak,,hah?”
“Tidak,,, Tidak,, Sudah, mari kita bernyanyi kalau begitu”
“Ayo,, Siapa takut. Kau ambil saja gitarku yang ada di ruang tengah”
“Oke”

Dua menit kemudian Rajatha sudah kembali duduk di sebelah Faridha dengan membawa sebuah gitar
 
“Kau mau bernyanyi lagu apa Nona?” Tanya Rajatha sambil menyetel senar gitar sesuai keinginan nya
“Eemm,,,,” Faridha nampak berfikir
“Apa?”
“Kesempurnaan Cinta” Kata Faridha akhirnya
“Rizky Febian?” Rajatha memastikan
“Yap. Kau bisa kan”
“Tentu saja. Lets do it”
Rajatha mulai memetik gitar nya
 
“Kau duluan Nona” Kata Rajatha pada Faridha

Faridha pun mulai bernyanyi

Kau dan Aku tercipta oleh waktu
Hanya untuk saling mencintai
Mungkin kita ditakdirkan bersama
Rajut kasih jalin cinta

Berada dipelukanmu
Mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan Cinta


Berdua bersamamuMengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan Cinta


“Giliranmu” Kata Faridha, Rajatha juga mulai bernyanyi

Kau dan Aku tercipta oleh waktu
Hanya untuk saling mencintai
Mungkin kita ditakdirkan bersama
Merajut kasih menjalin cinta

Berada dipelukanmu
Mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan Cinta

Berdua bersamamuMengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan Cinta

Tak pernah terbayangkan olehku
Bilakkau tinggalkan aku
Hancurlah hatiku musnah harapanku sayang


Kini Rajatha dan Faridha bernyanyi bersama, andai mereka bisa saling menatap dan menyelami perasaan masing-masing, mungkin mereka akan melihat pancaran cinta yang mulai bersinar seperti cahaya Bulan malam ini

Berada dipelukanmu
Mengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan Cinta





Berdua bersamamuMengajarkanku apa artinya kenyamanan
Kesempurnaan Cinta


“Suaramu bagus Nona” Puji Rajatha setelah mereka bernyanyi bersama
“Pastinya, bukankah sudah kukatakan tadi, kau saja yang terlalu meremehkanku”
Rajatha menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa kecil, Faridha pun ikut tersenyum bahagia, rasanya sudah lama sekali Faridha tidak merasakan bahagia seperti hari ini setelah kecelakaan naas waktu itu.

“Ya Allah,,, dia begitu indah, hatiku seringkali bergetar hanya dengan melihat senyum manisnya, mampukah aku pergi dari sisinya suatu saat nanti. Bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak ingin, apa aku mulai menyukai gadis ini. Hhmm,,, Biarlah ini menjadi Rahasia Hati” Batin Rajatha
^^^
Sedang di tempat lainya, tepatnya di sebuah appartement mewah yang juga berada di kota Jakarta, tampak seorang gadis muda dan wanita paruh baya sedang berbicara sangat serius
 
“Aku sudah tidak sabar Mi untuk muncul di depan gadis itu dan menjalankan rencana kita selama ini”
“Sabar sayang, Mami juga sebenarnya sudah tidak sabar dan ingin segera menuntaskan semua ini secepatnya, Mami lelah berpura-pura selama ini”
“Berapa lama lagi Mi”
“Tunggulah beberapa bulan lagi Sayang, siang tadi Mami mendapat kabar bahwa kemungkinan dia akan bisa melihat empat bulan lagi”
“Huufhhh,,”
“Sabar sayang,,, Disaat nanti dia sudah bisa melihat, kita akan datang kehadapannya dan menjadi mimpi buruk baginya hingga ia merasa lebih baik tetap menjadi buta daripada bisa melihat”
“Hahahahaa”

Dan mereka pun tertawa bersama
_______________________
- To Be Continue -



Rahasia Hati Part 5 - By : Erinda

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.