Rahasia Hati Part 7 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 7 - By : Erinda




“Siapa dia? Apa itu orang yang sama yang dipanggil Kakak oleh Faridha beberapa hari lalu? Sepertinya orang itu sangat penting baginya. Ada hubungan apa Faridha dengannya? Ya Allah,, Kenapa hatiku gelisah seperti ini” Lirih Rajatha
^^^
Faridha sudah duduk di sofa yang berada diruang tamu rumahnya
“Hallo,,, Assalamu’alaikum Kak” Sapa Faridha ramah seperti biasanya
Dan mengalirlah percakapan hangat tersebut, tapi sepertinya pembicaraan diantara mereka mulai serius namun Faridha masih tampak begitu tenang dan baik-baik saja, setetes air mata jatuh di pelupuk matanya namun wajahnya tersenyum lega, mungkin itu adalah air mata kebahagiaan, Entahlah.

Tak terasa satu jam sudah berlalu, Faridha masih asik bertelpon dengan orang tersebut, merasa terlalu lama menunggu diluar Rajatha menyusul kedalam berniat mencari Faridha, saat sudah berada didalam kembali Rajatha mendengar samar-samar pembicaraan Faridha dengan orang yang tidak ia ketahui melalui telepon.
 
“Tidak apa-apa, aku ikhlas Kak” Kata Faridha tenang
“……………”
“Tentu, kau bisa datang kerumahku kapan saja”
“……………”
“Aku selalu menunggumu Kak, cepatlah datang dan bawa kemari semuanya”
“……………”
“Walaikumsalam” Dan Faridha pun mengakhiri pembicaraanya

“Bik Min” Panggil Faridha
Bukan Bik Min yang mendekat tetapi Rajatha
 
“Putra?”
“Ya Nona”
“Maaf ya tadi aku meninggalkanmu begitu saja” Kata Faridha
“Tidak apa-apa Nona, lagipula menerima telpon dari orang tersebut jauh lebih penting kan” Jawab Rajatha dingin, entah sadar atau tidak Rajatha mengatakan hal seperti itu pada Faridha
 
Faridha mengernyit heran, tidak biasanya Rajatha berbicara dingin seperti ini sebelumnya membuat Faridha merasa tidak enak namun sesuatu di sudut hatinya menerka-nerka ada apa dengan Rajatha.
 
“Kau baik-baik saja Putra?”
“Ya, ada yang anda butuhkan Nona?” Tanya Rajatha, ia berusaha berbicara dengan normal kembali dan menekan perasaan yang seakan ingin meledak didalam dadanya, perasaan yang membuatnya tidak nyaman sejak tadi
“Aku masih mengantuk, bisa kau antar aku ke kamarku”
“Ya, tentu saja”
 
Rajatha sudah ingin membantu Faridha berdiri namun dengan cepat Faridha menolak
“Kaki ku terasa pegal sekali. Emm,, Bisakah kau menggendongku saja Putra?” Tanya Faridha namun dari nada bicaranya lebih tampak ia seperti memohon
 
Sedangkan Rajatha diam sejenak mencerna pertanyaan Faridha barusan, merasa tidak ada respon apa-apa dari Rajatha, Faridha membuka suaranya lagi
“Putra?”
“I-iya Nona,, Baiklah, aku akan menggendongmu. Ayo”

Rajatha segera menggendong Faridha di depan dadanya dan seperti kebiasaannya Faridha tanpa canggung merangkulkan tangannya di leher Rajatha.
Sambil menaiki tangga menuju kamar Faridha, Rajatha tersenyum menatap Faridha yang berada begitu dekat dengannya, selalu mereka berdekatan seperti ini rasanya Rajatha tidak mau melepaskan Faridha dari gendongannya.

Rajatha membaringkan Faridha ditempat tidurnya, menarik selimut untuk menutupi tubuh Faridha dan menyalakan AC kamar tersebut, setelah mengucapkan terima kasih pada Rajatha, Faridha langsung memejamkan matanya, Rajatha pun keluar dari kamar Faridha.

Namun setelah terdengar suara pintu tertutup Faridha kembali membuka matanya dan tersenyum dikulum, senyum yang begitu manis bagi siapa saja yang melihatnya.
Sebenarnya tadi hanya akal-akalan Faridha saja yang minta digendong untuk menuju kamarnya, kakinya tidak pegal sama sekali. Ia bisa berjalan menuju kamarnya menggunakan kedua kruknya, tapi ide itu spontan muncul begitu saja di benak Faridha, ia ingin digendong lagi oleh pelayan special nya tersebut menuju kamarnya dan pastinya sang pelayan selalu menuruti apa yang dia katakan.

“Ya Allah,, Kenapa sekarang aku jadi se-agresif ini padanya, bagaimana bisa aku yang dulunya sangat pemalu dan tidak nyaman terhadap pria asing bisa bersikap seperti ini pada Putra, apa yang akan dipikirkan Putra tentangku nantinya,, hufhh. Tapi permintaan konyol itu muncul begitu saja dikepalaku tadi, bahkan hari ini aku membuatkannya minuman, hal yang belum pernah kulakukan pada pria asing manapun termasuk Kak Ardhan,,, Hhmm,, Apa karena sekarang aku merasa sudah bebas dan tidak terikat pada siapapun sehingga terasa lebih nyaman melakukan apa yang diinginkan hatiku saat ini”

Bisik Faridha sambil sesekali ia menyentuh dadanya yang masih berdebar tak menentu saat menyebut nama Putra dan teringat kembali bagaimana rasanya berada dalam pelukan pria itu beberapa menit lalu.
^^^
Malam harinya
Rajatha kembali berkutat dengan beberapa proposal dan document pekerjaan-nya, sejak tadi Rajatha berusaha fokus dengan file-file yang ada didepannya namun semakin dipaksa ia semakin tidak bisa fokus sama sekali dengan lembaran-lembaran benda mati tersebut.

Pikirannya melayang jauh pada seorang gadis, Fa-Ri-Dha. Nama itu selalu membayangi malam-malamnya semenjak ia mengenal Faridha dan malam ini terasa semakin aneh.

Bahkan hari ini ia merasa tidak tenang dan gusar sejak mendengar percakapan sepotong-sepotong antara Faridha dengan orang yang ia tidak tahu siapa itu.
 
Ia ingin tahu. Sangat !
Apa yang ia ingin tahu. Semuanya !
Kenapa. Entahlah !
Apa yang dirasakannya terhadap gadis itu. Tidak tahu !
Aaarrrgghhhh,,,,
 
Rajatha beranjak dari meja kerjanya menuju balkon appartemennya untuk menghirup udara malam yang semoga saja bisa membuat moodnya lebih baik dan bisa kembali fokus bekerja, sifat ini bukanlah milik seorang Rajatha Putra Akbar yang bisa dengan mudah kehilangan fokus bekerja hanya karena seorang gadis, ia sangat gila kerja sama seperti papanya. Come on !!

Namun sekeras apa ia menolak tetap saja ia tidak bisa mengkhianati hati dan perasaannya sendiri, bahwa ia merasa terganggu melihat Faridha berbicara begitu manis pada seseorang yang ia tidak tahu dan seseorang yang ia tidak tahu adalah seorang pria. Siapa dia?!

Rajatha ingin Faridha berbicara manis hanya padanya, manja hanya padanya dan bergantung hanya padanya. Ya,, katakan ia egois jika hal itu masuk dalam kategori ciri-ciri manusia egois, salahkan saja Papanya yang juga mempunyai sifat seperti itu hingga menurun  pada dirinya.

Gerimis mulai turun namun Rajatha tidak bergerak dari tempatnya, ia seolah menunggu hujan deras yang turun.

Sedang di tempat lain, Faridha yang belum bisa tidur malam ini karena terlalu lama tidur saat siang tadi juga minta diantar oleh Bik Min menuju balkon rumahnya, saat merasakan tetesan gerimis diwajahnya Faridha bersorak senang, ia ingin menikmati dinginnya rintik hujan malam ini yang menyentuh kulit halusnya.

Rajatha dan Faridha memejamkan mata mereka saat merasakan rintik hujan mulai membasahi tubuh mereka.
 
Faridha membayangkan Rajatha menari bersamanya di bawah rintik hujan dan begitupun sebaliknya Rajatha juga membayangkan dirinya menari bersama Faridha dibawah rintik hujan malam ini.

*Music Play*
Mohabbat Barsa Dena Tu Sawan Aaya Hai
(kau hujani aku dengan cinta saat musim hujan tiba)
Tere Aur Mere Milne Ka Mausam Aaya Hai
(musim pertemuan kau dan aku telah tiba)

Rajatha mengelus lembut pipi Faridha yang nampak bersemu di depannya, mereka tersenyum bersama
 
Sabse Chhupake Tujhe Seene Se Lagaana Hai
(ingin kusembunyikan dirimu dari semua orang dan kudekap kau di dadaku)

Pyaar Mein Tere Hadh Se Guzar Jaana Hai
(ingin kulanggar semua batasan dalam buaian cintamu)
Itna Pyaar Kisi Pe Pehli Baar Aaya Hai
(untuk kali pertamanya aku merasa begitu mencintai seseorang)

Faridha menyembunyikan wajahnya kedalam pelukan Rajatha yang dibalas Rajatha dengan pelukan yang sama eratnya, perlahan mereka mulai mengikuti alunan music yang begitu romantis

Mohabbat Barsa Dena Tu Sawan Aaya Hai
(kau hujani aku dengan cinta saat musim hujan tiba)
Tere Aur Mere Milne Ka Mausam Aaya Hai
(musim pertemuan kau dan aku telah tiba)
Kyun Ek Pal Ki Bhi Judaai Sahi Jaaye Na
(mengapa tak dapat kumenanggung perpisahan ini walau sekejap saja)
Kyun Har Subah Tu Meri Saanson Mein Samaaye Na
(mengapa tidak saja kau bersemayam dalam napasku setiap pagi)
Aaja Na Tu Mere Paas, Doonga Itna Pyaar Main
(datanglah kau mendekat padaku, akan kuberikan begitu banyak cinta)
Kitni Raat Guzaari Hai Tere Intezar Mein
(betapa banyak malam kulalui dalam penantian dirimu)
Kaise Bataaoon Jazbaat Yeh Mere
(bagaimana harus kuberitahu padamu tentang perasaanku ini)
Maine Khud Se Bhi Zyada Tujhe Chaaha Hai
(aku lebih mencintaimu daripada diriku sendiri)

Tidak ada lagi kata-kata diantara mereka, yang ada hanya tatapan mata penuh cinta, senyum ketulusan dan saling memuja satu sama lain

Sab Kuch Chhod Ke Aana Tu Sawan Aaya Hai
(lupakan segala hal dan datanglah saat musim hujan tiba)
Tere Aur Mere Milne Ka Mausam Aaya Hai
(musim pertemuan kau dan aku telah tiba)
Sabse Chhupake Tujhe Seene Se Lagaana Hai
(ingin kusembunyikan dirimu dari semua orang dan kudekap kau di dadaku)
Pyaar Mein Tere Hadh Se Guzar Jaana Hai
(ingin kulanggar semua batasan dalam buaian cintamu)
Itna Pyaar Kisi Pe Pehli Baar Aaya Hai
(untuk kali pertamanya aku merasa begitu mencintai seseorang)

Bheege Bheege Tere Lab Mujhko Kuch Kehte Hain
(bibirmu yang basah mengatakan sesuatu padaku)
Dil Hai Khush Mera Ke Khayal Ek Jaise Hain
(hatiku gembira karena pemikiran kita sepaham)
Roko Na Ab Khud Ko Yoon, Sun Lo Dil Ki Baat Ko
(jangan hentikan dirimu, dengarlah apa kata hatimu)
Dhal Jaane Do Shaam Aur Aa Jaane Do Raat Ko
(biarkan senja tenggelam dan persilakan datangnya malam)
Kitna Haseen Yeh Lamha Hai
(betapa indahnya saat ini)
Kismat Se Maine Churaaya Hai
(aku telah mencurinya dari nasib baikku)

Sesekali mata mereka terpejam menikmati kedekatan yang terasa begitu nyata ini

Aaj Ki Raat Na Jaana Tu Saawan Aaya Hai
(malam ini janganlah kau pergi karena musim hujan telah tiba)
Tere Aur Mere Milne Ka Mausam Aaya Hai
(musim pertemuan kau dan aku telah tiba)
Sabse Chhupake Tujhe Seene Se Lagaana Hai
(ingin kusembunyikan dirimu dari semua orang dan kudekap kau di dadaku)
Pyaar Mein Tere Hadh Se Guzar Jaana Hai
(ingin kulanggar semua batasan dalam buaian cintamu)
Itna Pyaar Kisi Pe Pehli Baar Aaya Hai
(untuk kali pertamanya aku merasa begitu mencintai seseorang)

Alunan musik pun berhenti, mata Rajatha dan Faridha terbuka kembali, mereka kembali pada kenyataan namun hujan masih begitu deras mengguyur bumi.

“Ya Allah,, Inikah cinta?” Gumam keduanya bersamaan yang berada ditempat yang berbeda.
^^^
Tak dapat dipungkiri Rajatha dan Faridha semakin akrab saja walau seringkali Rajatha gusar sendiri jika pria asing itu menelphone Faridha apalagi sekarang semakin sering Faridha menerima telepon dari pria tersebut.

Rajatha merasa tidak berhak untuk menanyakan siapa pria tersebut karena Faridha sendiri tidak pernah mencoba untuk mengungkit hal itu pada dirinya, Rajatha tidak ingin keakraban mereka jadi renggang hanya karena salah membicarakan topik tersebut, walau Rajatha sendiri tidak tahu akan berakhir seperti apa keakraban yang sudah terjalin selama beberapa bulan ini, tapi baginya untuk saat ini lebih baik seperti ini dulu, Rajatha tidak mau memaksa dan tidak ingin gegabah.

Dan seiring berjalannya waktu, tanpa terasa bulan ini adalah penantian panjang dari Faridha dimana ia akan melakukan terapi terakhirnya dan untuk itu mulai minggu depan Faridha harus dirawat secara intensif di rumah sakit, Faridha sendiri sudah bisa berjalan dengan normal, ia sudah tidak memerlukan kruk lagi untuk membantunya berjalan, itu hal yang sangat membahagiakan semua orang tidak terkecuali Rajatha, ia sangat bersyukur akan kemajuan Faridha bahkan ia memberi sebuah bros cantik pada Faridha sebagai hadiah.

Perusahaan Rajatha pun sudah selesai dan semua perlengkapan sudah tertata dengan rapih di dalam gedung baru tersebut, sebentar lagi Rajatha akan melakukan peresmian perusahaannya dan mengundang para kolega bisnisnya dari beberapa Negara.
^^^
Malam ini Faridha tidak bisa tidur karena mulai besok ia harus dirawat secara intensif di rumah sakit, ada ketakutan dalam dirinya bagaimana jika semua tidak berjalan seperti apa yang diharapkannya, bagaima jika ia tidak bisa melihat lagi dengan matanya dan harus menunggu waktu yang sangat lama untuk mendapatkan donor mata, walau dokter sudah mengatakan padanya bahwa kemungkinan besar Faridha akan bisa melihat kembali dengan matanya sendiri namun tetap saja kemungkinan gagal itu pasti ada, harusnya dia tidak boleh terlalu banyak pikiran sekaran ini, tapi seharian ini ia sangat gelisah apalagi hari ini Rajatha ada keperluan lain jadi tidak bisa datang menemaninya seperti biasa.

Faridha tidak tahu bahwa keperluan lain yang dimaksud Rajatha adalah peresmian perusahaan barunya yang diberi nama AKBAR INTERNATIONAL GROUP, berita diresmikannya perusahaan Rajatha sempat diliput banyak media dan disiarkan oleh beberapa TV swasta hari ini tapi tentu saja Faridha tidak bisa melihatnya dan tidak mengetahui apapun.

“Kalau saja ada Putra hari ini, setidaknya aku tidak akan setegang dan segelisah ini menghadapi hari esok, dia selalu bisa menenangkanku dan membuatku selalu percaya saat dia mengatakan kalau aku akan baik-baik saja,, Hhmm,,, Aku ingin segera bertemu denganmu Putra dan tidak sabar untuk bisa melihat seperti apa wajahmu. Ya Allah,,, Semoga semua akan baik-baik saja. Aamiin” Do’a Faridha lirih sebelum ia memejamkan matanya untuk tidur malam ini
^^^
Pagi harinya,..
Rajatha sudah bersiap untuk menemui Faridha terlebih dahulu, ia berniat bahwa hari ini ia akan menceritakan semua tentang dirinya pada Faridha, semoga Faridha tidak marah padanya karena sudah membohonginya selama ini dan juga ia akan menanyakan siapa pria yang selama ini selalu menelpon Faridha baru setelah itu ia mengungkapkan perasaan cintanya pada gadis tersebut.

Ya, Rajatha menyadari bahwa apa yang ia rasakan selama ini pada Faridha adalah cinta. Cinta yang ingin ia tanam dan tuai bersama Faridha, hanya Faridha.
Ia tidak mau meninggalkan Faridha, dulu memang ia berencana untuk pergi dari kehidupan Faridha saat gadis itu sudah bisa melihat kembali dan mereka akan menjadi orang asing yang tidak mengenal satu sama lain, tapi itu dulu sekarang justru Rajatha ingin dialah yang menjadi orang pertama yang dilihat Faridha saat gadis itu sudah bisa melihat nanti.

Sebenarnya apapun hasilnya nanti, entah itu Faridha bisa kembali melihat atau tidak, tidak akan merubah apapun. Cintanya masih tetap utuh untuk Faridha, Rajatha pun sudah merencanakan untuk segera mengenalkan Faridha pada kedua orang tuanya. Ah,, Bahkan Rajatha sudah berpikir sejauh itu untuk selalu bersama Faridha.

Rajatha memakai parfum kesukaannya yang juga disukai bahkan sangat dikenali oleh Faridha, Rajatha tersenyum jika mengingat itu.

“Ok,, Tunggu aku Nona Faridha Anggun, aku akan segera menemuimu” Semangat Rajatha pada dirinya sendiri
^^^
Sementara itu dirumah Faridha, ia sedang kedatangan tamu yang sangat ditunggu-tunggunya belakangan ini, nampak mereka berbincang-bincang di ruang tamu.
 
“Bagaimana perasaanmu sebelum kerumah sakit Dik?” Tanya seorang pria pada Faridha
“Jujur sejak kemarin aku sangat gugup dan takut Kak” Jawab Faridha
“Kau tenang saja Faridha, dokter pasti melakukan yang terbaik untukmu. Kau harus yakin bahwa kau pasti bisa melihat sebentar lagi” Seorang wanita muda dan cantik yang datang bersama sang pria menyemangati Faridha
“Iya,, terima kasih Mbak. Aku harus yakin. Harus” Kata Faridha
“Oh ya, apa Kakak sudah membawa itu?” Tanya Faridha
“Belum, nanti kami akan mengantarkannya padamu setelah kau bisa melihat jadi kau bisa membacanya terlebih dahulu, kalau kau merasa keberatan mengenai isi-isinya kau bisa memberi tahu kami Dik” Jawab sang pria
“Baiklah, aku ingin semua ini segera selesai Kak karena aku ingin,,,”
“Apa? Kau ingin apa hmm,,,” Goda sang pria pada Faridha karena Faridha masih tampak malu-malu mengatakan apa yang dia inginkan

“Kakak,, Jangan menggodanya” Tegur sang wanita pada pria tersebut
“Ah Kakak,, Tidak kukatakan juga kau sudah tahu apa yang kuinginkan” Kata Faridha kesal pada sang pria
“Katakan segera padanya Dik, jangan sampai kau menyesal karena terlalu lama menyimpan perasaanmu, kau juga pantas untuk bahagia Dik”

Setelah berbincang cukup lama pasangan tersebut berpamitan pada Faridha, sebenarnya mereka menawarkan untuk mengantar Faridha ke rumah sakit namun Faridha menolak karena sudah ada orang yang akan mengantarnya, Putra.
Rajatha sudah sampai dirumah Faridha, ia melihat ada mobil asing di halaman rumah, karena penasaran Rajatha langsung bertanya pada salah seorang pelayan yang ditemuinya
 
“Mobil siapa itu Pak?” Tanya Rajatha
“Oh,, Itu mobil nya Tuan Ardhan”
“Ardhan? Aku seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi dimana ya dan siapa yang mengatakannya padaku” Pikir Rajatha
“Siapa itu Tuan Ardhan, Pak?” Tanya Rajatha lagi karena ia belum bisa mengingatnya
“Tuan Ardhan itu suaminya Non Faridha yang dulu kecelakaan itu loh Putra”
“Allahu Akbar” Rajatha memejamkan matanya sejenak berusaha menghirup udara yang terasa sesak memasuki paru-parunya, seperti ada yang menusuk di ulu hatinya, nyeri. Rajatha ingat sekarang, ia pernah mendengar nama Ardhan sebelumnya dari Bik Min, saat ia baru sehari menjadi pelayan Faridha, saat itu Bik Min mengatakan bahwa tidak ada kepastian bagaimana kondisi terakhir dari Ardhan, suami Faridha. Sakit sekali rasanya mengatakan pria itu adalah suami Faridha

Rajatha tetap melanjutkan langkahnya menuju pintu utama rumah Faridha, ia harus memastikan sendiri bagaimana sekarang hubungan antara Faridha dan Ardhan, jika memang semua harus berakhir hari ini maka izinkan dia untuk melihat gadis yang menjadi cinta pertamanya itu untuk terakhir kalinya dan mengubur semua angannya tentang Faridha.

Rajatha sampai di ambang pintu yang memang sudah terbuka sejak tadi, ia terdiam dan mematung dengan apa yang ia lihat dihadapannya saat ini.
Disana, ya tepat didepannya saat ini ia melihat Faridha berada dalam pelukan erat seorang pria yang bisa ia pastikan pria itulah yang bernama Ardhan.

Rajatha memundurkan langkahnya dan sedikit bersembunyi agar tidak diketahui oleh mereka yang berada didalam sana, dilihatnya Faridha melepaskan pelukannya begitupun dengan Ardhan, Rajatha bisa melihat itu dari sela jendela.
 
Wajah Faridha tampak seperti habis menangis, air mata masih mengalir di pipinya dan bisa dengan jelas ia dengar mereka berbicara
“Jangan menangis lagi Dik, ada Kakak disini yang selalu ada untukmu,,hm” Ardhan menghapus air mata di pipi Faridha dengan lembut
“Te-terima kasih Kak, aku sangat senang Kakak kembali”
Ardhan mengelus kepala Faridha dengan sayang, dan mereka tersenyum bersama

“Ya Allah,,,” Lirih Rajatha dan meninggalkan rumah Faridha
“Selamat tinggal Faridha, semoga kau bahagia dan aku berharap kita tidak akan pernah bertemu lagi, karena itu hanya akan menyakiti hatiku” Gumam Rajatha setelah masuk kedalam mobilnya, matanya masih menatap nanar kearah rumah Faridha sebelum ia melajukan mobilnya meninggalkan rumah Faridha dengan segala kenangan yang ada disana.

 --------------------
- To Be Continue -

PS : Gimana,,, Gimana?? Hehehe,, Sabar ya nunggu part selanjutnya.. Muach,, ;)


Rahasia Hati Part 7 - By : Erinda

1 comments:

  1. Wah ada yg salah paham sepertix nih ... ditunggu part berikutx dah ... buat mbak erinda thank postingannya jgn lama2 ya

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.