Rahasia Hati Part 8 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 8 - By : Erinda




“Selamat tinggal Faridha, semoga kau bahagia dan aku berharap kita tidak akan pernah bertemu lagi, karena itu hanya akan menyakiti hatiku” Gumam Rajatha setelah masuk kedalam mobilnya, matanya masih menatap nanar kearah rumah Faridha sebelum ia melajukan mobilnya meninggalkan rumah Faridha dengan segala kenangan yang ada disana.
^^^
Kini, sudah hampir tiga minggu sejak kejadian Rajatha melihat Faridha bertemu dengan Ardhan, suaminya. Bahkan Rajatha baru benar-benar menyadari cintanya yang begitu dalam pada sosok cantik bernama Faridha Anggun tersebut.
Jangan ditanya bagaimana Rajatha menjalani hari-harinya setelah hari itu, hati dan cintanya yang dipaksa gugur jauh sebelum berkembang, betapa menyakitkan rasanya patah hati, ia baru mengalaminya sekarang.

Rajatha membuat dirinya sibuk dengan perusahaan barunya demi melupakan Faridha, walau itu tidak terlalu membantu karena semakin ia berusaha melupakan, bayangannya justru semakin sering muncul di pikirannya, tapi Rajatha terus berusaha menekan semua perasaan yang kapan saja bisa meledak di dadanya, memusnahkan segala rasa rindu yang semakin menggunung setiap detiknya.
Rajatha bukanlah pria yang suka memaksakan kehendak apalagi untuk urusan hati dan cinta, jika memang benar wanita yang ia ingini masih bersuami dan mereka saling mencinta, tidak ada lagi ruang bagi Rajatha untuk mendapatkannya, dia membayangkan jika itu adalah orang tuanya, pasti ia akan menghabisi siapa saja yang mencoba mengusik kebahagiaan orang tuanya.

Tidak mungkin baginya menghancurkan rumah tangga orang lain, merusak kebahagiaan yang tengah di rajut oleh Faridha dan Ardhan. Lebih baik ia mati daripada melakukan hal bodoh seperti itu.

Ternyata kesibukan Rajatha akhir-akhir ini membuatnya lupa untuk menghubungi kedua orang tuanya, kebiasaan yang selama ini tidak pernah ia lupakan sesibuk apapun dirinya dengan pekerjaan, hingga membuat Jodha khawatir pada putera semata wayangnya tersebut dan memaksa Jalal untuk kembali menemui Rajatha di Indonesia.

Dan setelah merayu suaminya mati-matian akhirnya Jodha dapat mengunjungi Rajatha, tentu saja bersama Jalal, suaminya itu bahkan sampai menghentikan kontrak kerja yang sudah ada didepan mata demi menuruti keinginan Jodha yang sepertinya tidak bisa dibantah.
 
Dan saat menemui puteranya, Jodha dapat melihat kehampaan dalam sorot mata tajam milik Rajatha, walau wajah itu berusaha menutupinya dengan tersenyum namun perasaan seorang ibu terhadap anaknya sangatlah kuat, fisiknya memang nampak sehat tapi hati sang putera jauh dari kata baik-baik saja.

“Kau jatuh cinta Nak” Kata Jodha lembut pada Rajatha yang kini membaringkan kepalanya dengan manja di pangkuan Jodha
“Please,,,  Jangan membahasnya lagi Mah. Terima kasih Mama dan Papa sudah datang, aku sangat merindukan kalian” Jawab Rajatha dengan mata terpejam menikmati elusan sayang yang dilakukan Jodha dikepalanya
“Apa yang membuat kalian tidak bisa bersama,,Hmm” Jodha seakan tidak perduli pada Rajatha yang sejak tadi menyuruhnya berhenti membahas tentang gadis itu, gadis yang belum diketahui oleh Jodha siapa dia, karena sejak tadi Rajatha terus saja menghindar.
“Mah,,,” Rajatha mulai gusar dan tidak nyaman dengan segala pertanyaan Jodha
“Dengar Nak, walau Mama tidak mengerti permasalahan mu tapi sebelum semuanya terlambat lakukan apa yang harus kau lakukan, tidak ada permasalahan yang tidak mempunyai jalan keluar sayang” Jodha diam sejenak untuk berpikir sementara tangannya masih terus mengelus kepala Rajatha yang berada di pangkuannya, ia berusaha mencari cara bagaimana membuat puteranya itu mau berbicara
“Ah ya,,, Jangan-jangan,,,” Kata Jodha tiba-tiba
“Kenapa sayang” Tanya Jalal yang berada disampingnya
 
Sedangkan Rajatha langsung membuka matanya dan menatap waspada kearah Jodha, biasanya mamanya ini selalu bisa menebak apa yang ia rasakan, walau serapat apapun ia menyembunyikannya
 
“Wanita itu hamil” Tuduh Jodha langsung pada Rajatha
Rajatha yang kaget segera bangkit dari rebahannya, sedangkan Jalal langsung menatap tajam pada Rajatha
“Rajatha!” Geram Jalal dan Rajatha tahu betul Papa nya itu sedang marah dan tidak main-main, jarang sekali Papa nya memanggil ia dengan nama seperti itu
“Ti-tidak Pah, Sumpah!” Jawab Rajatha cepat
Jalal menatap ragu pada Rajatha lalu ia mengalihkan pandangannya kearah Jodha yang nampak percaya diri kalau tebakannya tadi itu benar, hingga membuat Jalal dilemma dan kembali melotot kearah Rajatha seolah meminta penjelasan
“Bahkan aku belum sempat menjalin hubungan apapun dengannya” Lirih Rajatha namun cukup terdengar

Jalal dan Jodha saling tatap, Jodha mengangguk pada Jalal namun Jalal tidak mengerti apa maksud anggukan kepala istrinya itu, jadi ia memutuskan untuk diam saja dan melihat apa yang akan dilakukan Jodha
 
“Kenapa kau tidak sempat menjalin hubungan dengannya? Apa gadismu itu sudah mempunyai kekasih? Apa mereka saling mencintai? Lalu kau memutuskan untuk mundur setelah mengetahui semuanya? Bagaimana jika yang kau ketahui itu bukanlah hal yang sebenarnya? Dan cintamu akan berakhir hanya karena salah paham, begitu? Benar begitu? Apa mama benar Rajatha?” Jodha memberondong Rajatha dengan seabrek pertanyaan yang sangat tepat mengenai sasaran

Rajatha tidak menjawab pertanyaan Mamanya, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, membuang napas perlahan, ia lelah dengan semuanya. Mamanya memang selalu tahu apa yang ia rasakan, terkadang ia bertanya darimana Mamanya mendapatkan keahliannya yang satu ini.

Jalal akhirnya mulai mengerti, ternyata tuduhan Jodha pada Rajatha tadi hanyalah sebuah umpan untuk memancing agar Rajatha berbicara dan itu berhasil, terbukti Rajatha hanya diam saja dicecar begitu banyak pertanyaan oleh Jodha barusan, sepertinya Jodha mendapatkan ikan yang cukup besar atas umpannya itu.

“Jagoan, jika memang ada kesalahpahaman diantara kalian pastikan jika semua yang kau ketahui itu adalah kebenarannya, bukan hanya katanya dan katanya jangan sampai terlambat karena kau akan sangat menyesal nantinya” Kata Jalal bijak

“Aku sudah terlambat Pah dan ya aku sangat menyesal karenanya” Batin Rajatha
^^^
Dan tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh Faridha, hari ini sudah tepat tiga minggu ia sudah tidak bertemu lagi dengan pelayan istimewanya itu, Putra.
 
Kabar terakhir yang ia dengar adalah bahwa dihari saat ia akan pergi ke rumah sakit ternyata Putra datang kerumahnya namun demi Tuhan, Faridha sama sekali tidak merasakan kehadiran Putra hari itu, biasanya ia mampu menyadari kehadiran Putra dari aroma parfumnya, apa Putra sengaja tidak ingin menemuinya padahal sehari sebelumnya Putra sudah berjanji untuk menemaninya pergi kerumah sakit. Akhirnya hari itu Faridha pergi bersama Bik Min ke rumah sakit dan menelan kekecewaan yang mendalam pada Putra.
 
Sejak hari itu tidak terdengar lagi kabar berita mengenai Putra, ia menghilang begitu saja

“Bik Min” Panggil Faridha
“Ya Non,, Eh Non hari ini cantik sekali, mau kemana Non?” Tanya Bik Min setelah menghampiri Faridha yang hari ini nampak seperti akan pergi keluar
“Iya Bik, Aku mau pergi ke rumah Kak Ardhan, mengembalikan surat yang sudah aku tandatangani ini” Jawab Faridha seraya menunjukan sebuah amplop
“Ohh,, Mau Bibi antar Non?”
“Ah tidak Bik, sekarang kan aku sudah bisa melihat lagi. Aku akan menyetir sendiri. Sekarang aku pergi dulu ya Bik. Assalamu’alaikum” Pamit Faridha

Yah,, Sudah hampir dua minggu ini Faridha sudah bisa melihat lagi, setelah menjalani perawatan intensif dengan ditangani para dokter ahli akhirnya Faridha bisa kembali melihat dengan kedua matanya, dia senang? Pasti.

Tapi ia juga merasa kehilangan dan kecewa, pada siapa lagi kalau bukan pada Putra, padahal salah satu motivasi kuat Faridha ingin melihat lagi adalah Putra, ia sangat ingin melihat bagaimana rupa pelayan yang selalu menjaganya itu.

Putra yang sering membuatkannya makanan, mengajaknya bernyanyi bersama dan Putra yang selalu membuatnya nyaman berada dalam dekapannya.

Ada apa dengan Putra?
Kemana dia sebenarnya?
Apa dia melupakan janjinya untuk mengantarku waktu itu?
Kalau lupa kenapa tidak datang untuk minta maaf?

Pertanyaan-pertanyaan yang hingga kini tidak seorangpun yang dapat menjawabnya selain Putra sendiri
 
“Aku sangat kecewa tapi aku juga merindukan kehadirannya. Ya Tuhan” Desah Faridha kecewa
^^^
Faridha sudah berada di rumah Ardhan dan nampak mereka sedang berbicara ringan
 
“Ini surat cerai kita Kak, aku sudah menandatanganinya” Kata Faridha seraya menyerahkan amplop yang dibawanya sejak tadi
“Kakak terima ya, sekali lagi terima kasih atas segala pengertianmu Dik” Jawab Ardhan mengambil amplop tersebut lalu membukanya untuk memastikan
“Sama-sama Kak, aku malah akan merasa menjadi duri dalam hubungan kalian jika aku tidak melepaskan Kakak untuk Mbak Lavina yang cantik ini” Kata Faridha dan tersenyum ramah pada Ardhan dan juga wanita yang ada disampingnya yang bernama Lavina Mayang, wanita yang baru dinikahi oleh Ardhan bulan lalu. Mereka pun kembali berbicara dalam suasana hangat dan sesekali diselingi canda tawa dan tidak lama Faridha pamit pulang.

Faridha sudah kembali kerumahnya, ia tengah bersantai diruang tengah menikmati segelas juice.
 
Apa yang dirasakan Faridha saat ini, melihat mantan suaminya sudah menikah lagi. Jawabannya adalah Lega dan bahagia. Dan itu bukanlah omong kosong belaka, Faridha benar-benar merasa lega dan ikut bahagia melihat mantan suaminya yang sudah menikah lagi, Kak Ardhan dan Mbak Lavina sangat terlihat begitu bahagia dan mencintai satu sama lain.

*Flashback
Saat malam kecelakaan terjadi
Faridha yang sudah terpental keluar dari mobil langsung tidak sadarkan diri begitupun dengan Ardhan yang masih berada didalam mobil, jarak mereka sangat jauh hingga saat polisi datang bersama Ny Wijaya (Ibu Ardhan), sedangkan Tn Wijaya langsung terkena serangan jantung mendadak saat polisi mengabari bahwa anak dan menantunya mengalami kecelakaan parah malam itu.
Polisi sudah menemukan Faridha, Ny Wijaya nampak gemetar melihat keadaan puteranya yang juga sangat parah sama seperti menantunya, kini Ardhan dan Faridha sudah dibawa kedalam mobil ambulance.
Dengan langkah tertatih dan dibantu oleh beberapa orang Ny Wijaya berjalan menuju mobil, namun salah satu dari seorang yang membantu Ny Wijaya berjalan berbisik padanya
“Ikutlah ke mobilku dan jangan berteriak atau anak dan menantu kesayanganmu itu tidak akan pernah sampai kerumah sakit karena sopir ambulance tersebut adalah suruhanku” Bisik seseorang itu dengan tajam membuat Ny Wijaya seketika menoleh padanya dan menatap tidak percaya
“Nora?”
“Cepat!” Nora yang merupakan ibu tiri Faridha berpura-pura membantu Ny Wijaya berjalan untuk melancarkan aksinya melalui Ny Wijaya
“Nyonya, anda tidak ikut bersama kami kerumah sakit?” Tanya salah seorang polisi pada Ny Wijaya karena dilihatnya Ny Wijaya tidak berjalan menuju mobil polisi
“Em,, Saya akan kesana bersama teman saya Pak” Jawab Ny Wijaya sambil meringis karena menahan sakit pada lengannya yang dicengkram dengan kuat oleh Nora
“Baiklah, kami permisi kalau begitu. Hati – hati Nyonya”
Ny Wijaya hanya mengangguk lemah dan berusaha untuk tersenyum agar tidak mengundang kecurigaan
Nora membawa Ny Wijaya ke sebuah tempat yang ia tidak tahu itu dimana
“Baiklah Ny Wijaya yang terhormat, yang baru saja menjadi besanku beberapa jam yang lalu. Tentu kau bertanya-tanya ada apa aku membawamu kemari,,heh” Kata Nora santai namun cukup mengerikan
“Cepat katakan apa yang kau inginkan Nora, aku tidak ingin membuang-buang waktu disini. Anak, menantu serta suamiku sedang kritis dirumah sakit saat ini” Jawab Ny Wijaya tidak suka
“Hahaha,,, Tidak banyak yang kunginkan. Aku ingin kau bawa suami dan anakmu pergi jauh dari Faridha atau,,,,”
“Apa maksudmu! Aku tidak akan meninggalkan Faridha bersama orang sepertimu”
“Ckckck,, Beruntung sekali anak tiriku itu mempunyai mertua sebaik kalian tapi sayangnya aku tidak perduli, lakukan apa yang kuminta atau kau tidak akan pernah melihat kesembuhan untuk mereka dan jangan pernah bermimpi untuk mengatakan ini pada siapa pun karena kau akan lihat akibatnya jika kau melanggar, kau tahu aku bisa dengan mudah menjalankan apa yang kuinginkan”
“Wanita brengsek! Apa yang kau inginkan sebenarnya hah” Hardik Ny Wijaya
“Jangan mengataiku sialan!” Dan Nora pun menampar dengan keras pipi Ny Wijaya hingga tersungkur
“Bawa anak dan suami mu pergi jauh dari Faridha, buat kalian seolah-olah menghilang dan jangan pernah temui Faridha lagi mulai hari ini. Kalau tidak aku akan benar-benar mengantar kalian semua ke neraka malam ini juga tanpa terkecuali” Kata Nora lagi berapi-api pada Ny Wijaya
“Kau gila Nora, kenapa kau begitu jahat!”
“Ya, aku gila. Aku gila karena harta yang dimiliki oleh ayah Faridha, aku terobsesi memiliki seluruh kekayaannya dan tidak akan kubiarkan siapa pun menghalangi keberuntunganku yang sudah didepan mata, termasuk kalian keluarga baru anak sialan itu, dan kau tahu dengan meninggalnya Hermawan (ayah Faridha) dan kecelakaan yang dialami Faridha itu semakin memuluskan rencanaku, kurasa iblis ikut membantuku dalam menguasai semua ini,,, Hahaha”
“Kau benar-benar gila Nora, kau menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisimu, aku tidak percaya kau bisa hidup dengan baik dikeluarga Hermawan selama ini, kau wanita ular!” Dan Ny Wijaya pun mendorong Nora melampiaskan kemarahannya pada wanita tersebut, namun apalah daya karena tak berapa lama beberapa pengawal Nora langsung menahannya dan balik mendorong Ny Wijaya lalu menghempaskannya ke dinding
“Aaarrggghhhh” Teriak Ny Wijaya kesakitan
“Jangan coba-coba berani melawanku Ny Wijaya yang terhormat. Sekarang pergilah kerumah sakit dan lakukan apa yang tadi aku minta”
“Jack, antar dia dan pastikan mereka benar-benar pergi jauh dari Faridha” Lanjut Nora pada salah satu pengawalnya
Dan benar, sejak malam itu keluarga Wijaya menghilang tak ada kabar. Ternyata Ny Wijaya membawa keluarganya ke Jerman, tempat yang ia rasa cukup jauh dari Faridha walau demi Tuhan ia sangat tidak tega meninggalkan Faridha disana, setiap harinya Ny Wijaya seringkali menangis.
Tiga minggu setelah kejadian itu Tn Wijaya yang merupakan ayah Ardhan meninggal karena keadaannya yang semakin hari semakin kritis dan juga Ny Wijaya yang tidak sanggup menahan beban dan kesedihan juga ikut menyusul suaminya tanpa sempat mengatakan yang sebenarnya terjadi pada siapapun termasuk Ardhan, karena saat itu Ardhan masih dalam keadaan koma.
Dan saat Ardhan sadar dari koma, tidak ada orang yang ia kenal yang berada disekitarnya, yang lihat hanya seorang dokter cantik yang tampak tersenyum manis kearahnya
“La,,Lavina?” Lirih Ardhan tidak percaya
“Ya, ini aku Kak, Lavina-mu” Jawab wanita cantik tersebut
Ardhan menatap sekeliling, mencari-cari keberadaan orang lain yang mungkin ia kenali diruangan tersebut namun hasilnya nihil
“Tidak ada orang lain disini Kak, hanya ada kau dan aku” Kata Lavina seolah mengerti kebingungan Ardhan
“Kau?”
“Aku dokter disini, ternyata Allah masih mempertemukan kita kembali, aku yang selama ini merawatmu Kak. Bagaimana keadaanmu?”
Dulu Ardhan dan Lavina adalah sepasang kekasih, namun karena suatu hal Lavina harus pergi ke Jerman meninggalkan Ardhan, cintanya.
Ardhan cukup shocked kehilangan Lavina yang begitu tiba-tiba, hingga akhirnya putus asa karena tidak mendapatkan petunjuk apapun mengenai keberadaan kekasihnya itu, tak berapa lama setelah itu ia memutuskan kembali ke Indonesia dan ternyata kedua orang tuanya berniat menjodohkan dirinya dengan Faridha dan terjadilah pernikahan antara Ardhan dan Faridha dengan masa perkenalan yang sangat singka.
Namun kini ternyata Allah kembali mempertemukan mereka di Jerman namun dengan keadaan yang berbeda, Ardhan yang sudah menikah dengan Faridha dan ia sudah berjanji untuk membuat istrinya itu bahagia, tidak mungkin ia mengkhianati Faridha demi untuk kembali pada Lavina, cintanya.
Keadaan Ardhan semakin hari semakin membaik, Lavina benar-benar merawatnya dengan baik walau Lavina tahu ternyata Ardhan sudah menikah, ia berusaha menutupi rasa sakitnya dengan tetap tersenyum dan bersikap profesional. Sebenarnya Lavina masih sangat mencintai Ardhan, cinta itu tidak pernah hilang dihatinya.
“Lavina, sekarang katakan kapan tepatnya kedua orang tuaku meninggal?” Tanya Ardhan tidak sabar karena Lavina selalu mengelak untuk menceritakan hal tersebut padanya sejak ia sadar dengan alasan kalau ia masih harus istirahat dan tidak boleh berpikir berat demi memulihkan kondisinya
Lavina menarik napas sejenak dan akhirnya memutuskan untuk menceritakannya pada Ardhan, karena bagaimana pun ia berhak tahu.
“Ya Allah,, Lalu bagaimana dengan istriku? Mengapa dia tidak dibawa juga kesini, apa Faridha baik-baik saja” Gumam Ardhan, ia merasa sangat bersalah karena sudah menyebabkan kecelakaan naas itu. Lavina memandang Ardhan sendu
“Boleh aku pinjam ponselmu Lavina?” Tanya Ardhan
“Eemm,, Tentu saja, ini” Lavina segera menyerahkan ponselnya
Ardhan mencoba menghubungi Faridha, sungguh ia sangat cemas akan keadaan Faridha dan mulai saat itu jugalah Ardhan sering menghubungi Faridha melalui ponsel Lavina namun ia belum mengatakan kalau kedua orang tuanya sudah meninggal, hingga Ardhan meng-iya-kan saja saat Faridha seringkali menitip salam untuk kedua orangtuanya
Dan suatu ketika saat Faridha yang lebih dulu menghubungi nomer telephon yang selama ini menghubinginya, Lavina lah yang mengangkatnya, Faridha tidak tahu ternyata ponsel yang selama ini digunakan oleh Ardhan adalah milik orang lain dan itu adalah milik seorang wanita.
“Maaf, kau siapa?” Tanya Faridha sopan
“Eem,, A-Aku,, Lavina. Kau kah Faridha?”
“Lavina?”
“Aku dokter suamimu Faridha”
“Oh,, Bisa aku berbicara dengan suamiku dok?”
“Tapi Kak Ardhan baru saja tidur setelah meminum obat yang kuberikan, mungkin kau bisa menelpon nanti”
“Kak Ardhan? Kau memanggil suamiku Kak Ardhan? Siapa kau sebenarnya?” Tanya Faridha
“Ak-Aku,, Ehmm,,,” Lavina gugup menjawabnya, ia merutuki kebodohannya yang bisa-bisanya keceplosan
Dan singkatnya Faridha mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, saat itu ia tidak menyangka bahwa ternyata Kak Ardhan rela mengabaikan perasaan dan cintanya pada Lavina demi menjaga perasaan dirinya, istri yang mungkin tidak bisa melayani suami dengan baik dengan segala keterbatasan Faridha saat itu.
Faridha yang masih mengalami kelumpuhan dan buta membuatnya merasa egois jika tetap memilih mempertahankan Ardhan, sedangkan ia tahu ada wanita yang jauh lebih layak berada di samping Ardhan juga Faridha tengah bimbang dengan perasaannya terhadap pelayan barunya, Putera.
Daripada ia kekeuh mempertahankan pernikahan yang hanya akan melukai banyak hati lebih baik mengakhiri semuanya sebelum terlambat, dan gayung pun bersambut setelah berkali-kali Faridha meminta cerai akhirnya Ardhan mengabulkan dan menjatuhkan talaq pada Faridha, namun Ardhan tidak ingin jika setelah perceraian ini hubungan mereka menjadi renggang, Ardhan sudah berjanji pada kedua orang tuanya dan Ayah Faridha untuk selalu menjaga Faridha sesaat setelah mereka menikah dulu, ia akan tetap menyayangi dan menjaga Faridha sebagai adiknya.
Tidak lama setelah Ardhan menjatuhkan talaq padanya, Faridha memaksa Ardhan untuk menikah dengan Lavina secepatnya, karena salah satu tujuan Faridha adalah menyatukan cinta mereka yang sejak lama tertunda karena kehadiran dirinya di tengah-tengah mereka, Ardhan dan Lavina berhak bahagia diatas kekuatan cinta mereka selama ini.
*Flashback Off

Begitulah kini hubungan Ardhan dan Faridha, yaitu sebatas kakak adik bahkan Faridha juga mendapatkan kakak perempuan yang begitu baik padanya, yaitu Lavina Mayang, istri Ardhan yang sekarang.
Saat Faridha masih melamunkan Ardhan dan Lavina, tiba-tiba segerombolan orang tak dikenal masuk dengan paksa kedalam rumahnya
“Apa-apaan ini” Kata Faridha tidak suka
“Selamat sore sayang, long time no see my girl” Sapa seorang wanita dengan seringai liciknya yang muncul dari arah belakang gerombolan orang tersebut
“Kau!!”
------------------------------
- To Be Continue -


Rahasia Hati Part 8 - By : Erinda

1 comments:

  1. asyiik..thanks ya min...ditunggu part selanjutx..

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.