Rahasia Hati Part 11 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 11 - By : Erinda




“Biarkan dia belajar Kak, ini akan menjadi pengalaman untuknya. Aku yakin Faridha tidak akan diam saja jika dia perlakukan semena-mena”
“Ya”
^^^
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Senin. Yeaayy
Mungkin bagi sebagian besar orang Senin merupakan hari paling menyebalkan, mulai dari anak sekolah hingga para karyawan membenci hari Senin. Hingga muncul istilah-istilah “I Hate Monday”, “I don’t like Monday”.

Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi Faridha, justru sejak ia dinyatakan diterima bekerja di perusahaan Akbar International Group sejak itu pula ia menjadi tidak sabar menanti hari ini. Senin!
 
Selesai sholat Subuh, Faridha langsung bersiap ia sudah tidak merasa mengantuk sama sekali padahal semalam ia baru saja bisa tidur pukul 01.00 dini hari, itu karena Faridha sampai tidak bisa tidur memikirkan hari ini akan seperti apa nantinya.
Kini Faridha, Lavina serta Ardhan sedang menikmati sarapan, yang tentu saja sarapan tersebut tidak dibuat oleh Faridha, ia sama sekali tidak handal dalam urusan masak memasak, sampai hari ini dapur masih menjadi musuhnya.
Faridha akan menjadi Office Girls yang sudah pasti dapur lah tempat ia bekerja, sudahlah Faridha tidak ingin memikirkan itu dulu, jalani saja semuanya setapak demi setapak.  

“Kakak akan mengantarmu bekerja ya Dik” Kata Ardhan setelah mereka selesai sarapan
“Tidak usah Kak, aku bisa naik angkutan umum saja lagipula perusahaan Kakak kan berbeda arah dengan tempatku bekerja” Tolak Faridha sambil mengecek kembali isi tasnya takut ada yang tertinggal
“Yakin tidak mau Kakak antar?”
“Iya, sudah ya aku berangkat dulu. Bye Kak. Bye Mbak” Pamit Faridha pada Ardhan dan Lavina, ia bersemangat sekali pagi ini.
^^^
Sedang dikediaman Rajatha
“Selamat pagi Pah” Sapa Rajatha saat ia menuju meja makan untuk sarapan bersama orang tuanya
“Pagi Jagoan” Jawab Jalal
“Melupakan Mama eh?” Kata Jodha merajuk pada Rajatha
“Hahaha,,, Tentu saja tidak Mama ku sayang. Ucapan selamat pagi untuk Mama itu berbeda dengan Papa” Kata Rajatha menggoda Mamanya dan mendapat lirikan tajam dari Jalal
“Berbeda bagaimana?” Tanya Jodha tidak mengerti
CUP
Rajatha mencium pipi Jodha dengan cepat “Selamat pagi Mama ku sayang”
“Kau ini. Selamat pagi juga Sayang” Jodha menepuk pelan bahu Rajatha yang duduk disampingnya
“Bisa kita mulai sekarang sarapannya” Kata Jalal membuyarkan suasana romantis ala Rajatha dan Jodha, membuat mereka terkikik geli melihat wajah cemberut Jalal
CUP
Jodha mencium sekilas bibir suaminya, seketika membuat Jalal tersenyum penuh kemenangan dan melirik Rajatha dengan tatapan mengejek
“Hahahaa” Rajatha tertawa melihat tingkah Papa nya tersebut

“Rajatha, kau masih ingat pesan Mama kemarin kan. Kalau hari ini akan ada office girl baru di perusahaanmu, jangan menyuruhnya bekerja yang berat, jangan biarkan orang lain sembarangan memarahinya, jangan membuatnya terlalu lelah bekerja melayani para karyawan dan,,,”
“Astaga Mah,, Lalu untuk apa dia bekerja kalau Mama memberikan banyak sekali larangan untuknya, dia itu karyawanku dan aku akan memperlakukannya sama seperti karyawan yang lain” Kata Rajatha menyela ucapan Mamanya, dia jadi penasaran apa yang sudah gadis itu pada Mamanya hingga Mamanya inni menjadi sangat sayang pada gadis tersebut.
“Pokoknya tidak boleh, awas saja kalau sampai dia kelelahan karena disuruh kesana kemari, Mama akan sering-sering datang ke perusahaanmu untuk mengawasinya” Ancam Jodha
“Hhhh,, Sebenarnya siapa gadis itu Mah, kenapa Mama terlihat sangat menyayanginya, apa Mama sudah lama kenal dengan dia?” Tanya Rajatha lembut, ia tidak mau membuat Mamanya marah pagi-pagi begini hanya karena masalah sepele seperti ini
“Nanti juga kau akan melihatnya dan Mama yakin kau juga akan menyukainya” Jawab Jodha berteka teki
“Sudahlah Jagoan, turuti saja apa kata Mama mu. Papa saja sepertinya juga menyukai gadis itu walau belum pernah melihatnya dan hanya mendengar tentang gadis itu dari cerita Mama mu saja” Jalal ikut menimpali
“Ya Sudahlah, sekarang aku pergi dulu. Assalamu’alaikum” Kata Rajatha akhirnya
^^^
Rajatha sudah sampai di perusahaannya, semua karyawan menatap penuh hormat dan segan padanya, Rajatha merupakan sosok atasan yang sangat tegas dan baik pada para karyawannya, dia tidak membeda-bedakan kedudukan para karyawannya, jika memang mereka bekerja sesuai dengan standar yang dia terapkan maka Rajatha tidak akan berpikir dua kali untuk memberi mereka reward atas prestasi yang telah mereka raih, bahkan ada beberapa karyawan disini yang diberi bea siswa untuk melanjutkan kuliah olehnya.

“Selamat pagi Presdir” Sapa Melanie, sekretaris Rajatha
“Pagi. Tolong antarkan kopi keruanganku” Kata Rajatha dan masuk kedalam ruangannya
“Baik presdir”
Rajatha Akbar
(Presdir Akbar International Group)

Begitulah papan nama yang tertera di pintu ruangannya
Melanie langsung menghubungi pantry, meminta salah satu dari OG disana untuk membuatkan kopi dan lansung mengantarkannya ke ruangan Rajatha.
^^^
“Siapa namamu?” Tanya seorang wanita dengan ketus, dia mengenakan baju seragam sama seperti yang Faridha kenakan
“Faridha Anggun” Jawab Faridha mantap tanpa merasa terintimidasi sedikitpun dengan tatapan tajam dari wanita yang menanyainya ini
“Aku Lina sebagai pengawas semua OB dan OG disini” Katanya lagi masih dengan nada ketus dan terkesan angkuh, sejak tadi ia menatap tidak suka pada Faridha, entahlah.
 
“Sombong sekali, baru menjadi pengawas OB dan OG saja sudah seperti ini”  Batin Faridha
 
“Sekarang pekerjaan pertamamu adalah membuatkan kopi untuk Pak Presdir kita. Cepat sana ke pantry dan antarkan padaku segera” Perintahnya
“Baik Mbak” Kata Faridha dan ia segera bergegas menuju pantry untuk membuatkan kopi
 
“Ya Tuhan,, Kopi seperti apa yang diminta pak presdir itu,, Bik Minn,,,”  Kata Faridha dalam hati, ia jadi teringat pada Bik Min yang selalu membuatkan apa saja yang dimintanya
 
“Apa kau tidak bisa membuat secangkir kopi?” Tanya Lina mengejek
“Bi-bisa, tentu saja aku bisa. Tunggu sebentar” Jawab Faridha
“Kalau begitu cepatlah, Pak presdir tidak suka menunggu apalagi hanya untuk secangkir kopi”
 
“Bismillah” Faridha mulai mengambil gelas kosong
“Hhmm,, Aku buatkan saja kopi seperti yang waktu itu aku buatkan untuk Putra, semoga saja presdir itu suka. Ok,, Aku masih sangat ingat bagaimana takarannya” Kata Jodha pelan dan ia mulai sibuk mencari kopi dan madu
 
“Tiga sendok kopi dan empat sendok madu. Dan siappp” Kata Faridha tersenyum sambil mengaduk-aduk kopi tersebut “Dan sebuah senyuman” Tiba-tiba Faridha teringat Putra pernah mengatakan itu. “Oke, sebuah senyuman manis pun sudah aku berikan Tuan” Katanya lagi, ia jadi geli sendiri.

Faridha langsung memberikan secangkir kopi pada Lina dan Lina langsung mengambilnya lalu keluar dari pantry menuju ruang presdir untuk mengantarkan kopi tersebut.

“Letakan saja di meja” Kata Rajatha pada Lina tanpa mengalihkan pandangannya dari laptopnya
Lina yang sudah memasang senyum termanisnya akhirnya mendesah kecewa dan meninggalkan ruangan Rajatha dengan muka lesu.

Presdir tampan mereka ini memang menjadi incaran bagi para karyawan dan client wanita nya, namun seperti biasa Rajatha tidak pernah mengindahkan hal tersebut apalagi jika tidak ada hubungannya dengan masalah pekerjaan.

Rajatha akan meminum kopi nya namun deringan telepon di meja kerjanya menghentikan gerakan tangannya untuk meminum kopi, ia meletakan kembali cangkir kopi itu lalu mengangkat telephone
“Ada apa Melanie?” Tanya Rajatha
“Maaf presdir, sekarang sudah waktu nya melakukan kegiatan rutin anda”
“Baik, aku akan keluar sebentar lagi”

Kegiatan rutin yang dimaksud oleh Melanie adalah kegiatan Rajatha untuk mengecek hasil kerja para karyawannya sebelum ia memutuskan untuk memanggil siapa yang akan mengikuti test pada akhir pekan nanti, dan salah satu syarat utamanya adalah karyawan tersebut sudah bekerja minimal tiga minggu di perusahaan nya.

Rajatha sedang berjalan menuju beberapa ruangan dengan Melanie berjalan dibelakangnya, Rajatha melihat dan mengecek hasil kerja para karyawan pada masing-masing manager / pengawas mereka, beberapa para karyawan wanita terlihat mencuri-curi pandang kearahnya.

Hingga tiba kini saatnya ia memasuki ruangan pantry, para OB dan OG sudah berjejer rapih sebelah kiri dan kanan dengan menundukan kepala mereka penuh hormat, Rajatha mulai berjalan di tengah-tengah diantara mereka.

“Wangi ini, aku sangat mengenalnya dan juga begitu merindukannya. Parfum yang sama dengan,,,,, Ya Allah, apa Putra juga bekerja sebagai OB? Tapi bagaimana aku mengenalinya diantara puluhan OB yang ada disini?” Batin Faridha

Faridha yang sibuk bertanya-tanya sendiri tidak menyadari kalau sang Presdir sudah berdiri tepat di depannya.
 
“Faridha?!! Dia bekerja sebagai OG di perusahaanku?”  Kata Rajatha dalam hati, ia masih diam membeku di depan Faridha, walaupun Faridha menundukan kepalanya, Rajatha tahu gadis itu adalah Faridha, Rajatha sangat hafal dan tidak akan salah mengenalinya.
 
“Kenapa semakin nyata saja aroma parfume nya?” Batin Faridha lagi

Tanpa berbicara sepatah katapun Rajatha langsung berbalik dan meninggalkan ruangan pantry tersebut diikuti dengan Melanie yang heran akan sikap Boss nya itu, tidak biasanya Rajatha pergi tiba-tiba tanpa mengatakan apa-apa setelah melakukan pengecekan, Rajatha langsung masuk keruangannya tanpa memberi tahukan siapa yang akan mengikuti test minggu ini pada Melanie.

“Ada apa dengan presdir? Tidak seperti biasanya dia seperti ini?” Kata Melanie lalu ia menuju meja kerjanya

Rajatha duduk di kursi kebesarannya, dia masih syok dan tidak percaya dengan siapa yang ditemuinya tadi
“Jadi dia berhasil melakukan operasi hari itu, dia sudah bisa melihat lagi sekarang, Alhamdulillah ya Allah. Lalu sejak kapan dia menjadi OG disini? Apa dia gadis manis yang Mama maksud? Astaga,,, Sempit sekali rasanya dunia ini” Kata Rajatha frustasi
Ia meminum kopi yang sudah agak dingin yang ada dimeja nya, sejenak ia terkejut namun ia menghabiskan kopi tersebut sekaligus sambil memejamkan matanya, menikmati setiap tegukan yang ia minum.
 
“Kau kah yang membuatnya Faridha? Tidak ada orang lain yang tahu selera ku untuk secangkir kopi selain Mama dan dirimu. Ternyata kau masih mengingatnya dengan baik. Ya Allah,, Apa yang harus kulakukan” Kata Rajatha lagi sambil memandangi gelas kopi yang sudah kosong di depannya

“Melanie, suruh orang yang membuatkan kopi ku pagi ini untuk keruanganku segera” Kata Rajatha pada Melanie
Melanie segera memanggil Lina untuk menemui Rajatha.
Ketukan di pintu menyadarkan Rajatha dari lamunannya
“Masuk”
Terbukalah pintu tersebut dan masuklah Lina, Rajatha mengernyit bingung dan langsung berdiri
“Ada apa?” Tanya Rajatha langsung
“Ta-tadi,, Bu Melanie mengatakan Pak presdir memanggil saya” Jawab Lina gugup
“Ke ruanganku sekarang Melanie” Kata Rajatha pada Melanie melalui telephone
“Ada apa Presdir” Kata Melanie saat ia sudah masuk ke ruangan Rajatha
“Kau yang menyuruh dia kesini?” Tunjuk Rajatha pada Lina
“Tadi bukankah presdir memintaku untuk memanggil orang yang membuatkan kopi anda pagi ini” Jawab Melanie
“Lalu? Apa kau yakin dia yang membuatnya?” Tanya Rajatha lagi
Melanie menunduk merasa bersalah, orang yang mengantarkan kopi bukan berarti dia juga yang membuatnya, harusnya tadi ia menanyakan dulu siapa yang membuat kopi itu, tapi kenapa Rajatha kelihatan begitu mempermasalahkan hal sepele seperti ini, tidak biasanya
“Apa kopi nya tidak enak Pak presdir? Maaf, kopi itu dibuat oleh OG baru yang mulai bekerja hari ini, saya akan memarahinya nanti” Kata Lina tiba-tiba membuat Rajatha menatap tajam kearahnya
“Siapa kau berani bertindak seperti itu? Panggilkan saja dia ke ruanganku sekarang” Kata Rajatha tidak suka, emosi nya hampir saja keluar mendengar perkataan Lina barusan
“Ba-baik Pak. Permisi” Pamit Lina dan berlalu darisana

Sedangkan Melanie masih berada diruangan tersebut dan menatap heran pada Rajatha
“Apa anda kurang sehat hari ini Presdir” Tanya Melanie
“Tidak, aku baik-baik saja. Keluarlah, lanjutkan saja pekerjaan mu”
“Baik, saya permisi”
^^^
“Heh kau anak baru, kopi apa yang sudah kau buat tadi pagi sampai Pak presdir kesal begitu” Tanya Lina dengan galak pada Faridha
“Maksud mbak?” Tanya Faridha tidak mengerti
“Cepat temui pak presdir sekarang diruangannya, aku yakin kau akan dipecat hari ini juga, membuat kopi saja kau tidak becus”

Faridha yang masih belum mengerti memilih segera keluar dan berjalan menuju ruangan presdir, ia tidak terlalu memikirkan perkataan Lina tadi, masa bodoh.
Yang ia pikirkan sekarang adalah sang presdir yang akan ia temui sebentar lagi, mana bisa ia sudah melakukan kesalahan di hari pertama ia bekerja, setiap langkah kakinya berjalan terasa berat menuju ruangan sang presdir.
Saat sudah sampai di depan ruangan presdir, sang sekretaris presdir langsung menyambutnya.
 
“Silahkan masuk saja, Presdir sudah menunggumu dari tadi” Kata Melanie membuat Faridha semakin nervous dan tidak tahu harus melakukan apa selain masuk kedalam sana menemui sang presdir Rajatha Akbar
Faridha masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena ruangan itu sedikit terbuka lagipula tadi Melanie menyuruhnya langsung masuk karena dirinya sudah ditunggu.

Mata Faridha langsung menatap sosok yang sedang serius menelphone, sesaat tatapan mereka bertemu, sang presdir mengangguk padanya tanda mempersilahkan dirinya untuk masuk dan ia kembali focus mendengarkan pembicaraan di telephone
Faridha sudah berdiri di depan meja Rajatha dengan gugup, sedari tadi ia menunduk saja tanpa berani menatap presdirnya lagi.

“Wangi itu ada disini, terasa begitu dekat” Bisik hati Faridha

Sedangkan Rajatha masih sibuk mendengarkan seseorang di seberang sana melalui telephone tanpa mengalihkan pandangan dari sosok gadis yang sangat dirindukannya itu.

“Oke. Bye” Kata Rajatha menutup perbincangan tersebut
Dua kata singkat yang diucapkan Rajatha bagai gemuruh di siang bolong bagi Faridha, sontak ia mendongakan kepalanya menatap sang presdir dengan tatapan bertanya-tanya.

“Apa kau mengenaliku Faridha?” Batin Rajatha

“Duduklah” Kata Rajatha sementara Faridha masih terpaku menatapnya
 
“Suaranya mirip sekali dengan Putra dan apa parfume ini juga berasal darinya? Tapi dia,,, Rajatha Akbar bukan Putra, ya tadi aku sempat melihat nama yang tertera di pintu depan adalah Rajatha Akbar,,, Ya Allah”  Faridha masih bertanya-tanya dalam hati
 
“Faridha?” Kini Rajatha memanggil namanya

“Dia tahu namaku? Astaga,, tentu saja, dasar bodoh. Aku kan memakai name tag, jangan berpikir aneh-aneh Faridha” Batin Faridha lagi

“I-iya Pak, Maaf” Sahut Faridha akhirnya
“Duduklah Faridha”
Faridha lalu duduk dengan canggung di depan Rajatha
“Sejak kapan kau bekerja dan bagaimana kau bisa bekerja disini?” Tanya Rajatha pada Faridha membuatnya semakin gugup dan tidak enak hati, ia masuk kesini atas rekomendasi tante Jodha yang merupakan ibu dari presdirnya ini, dan dihari pertama bekerja dia sudah membuat kesalahan, membuat malu saja.
“Sa-saya,,”
“Berbicara yang jelas Faridha”
“Saya,,, Baru bekerja hari ini Pak dan saya masuk kesini karena tante Jodha emm,, maksud saya Ibu anda mengatakan bahwa saya diterima bekerja disini dan sudah  bisa bekerja mulai hari ini” Jawab Faridha

“Entah aku harus berterima kasih atau tidak padamu Mah, dia lah gadis yang selama ini menghantuiku hari-hari ku, gadis manis yang Mama sukai dan aku cintai” Batin Rajatha menerawang

“Kau tahu mengapa aku memanggilmu kemari?” Tanya Rajatha lagi
Faridha sejenak memejamkan matanya, mendengarkan perkataan Rajatha sambil terpejam membuatnya merasa dekat pada pada Putra, pria yang sangat dirindukannya selama ini
“Iya Pak, Maaf kalau kopi yang saya buatkan tidak enak, saya tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan saya Pak” Kata Faridha penuh penyesalan
Rajatha tersenyum kecil, sudah lama rasanya ia tidak berada sedekat ini dengan Faridha
“Apa kau tidak lihat gelas kopi ini sudah kosong Faridha, aku sudah menghabiskannya sejak tadi” Kata Rajatha kemudian membuat Faridha ikut menengok kearah gelas kopi yang sudah kosong tersebut, ia lalu kembali menatap Rajatha
“Mulai sekarang jika aku ingin minum kopi, kau lah yang membuatnya sesuai dengan takaran yang kau buat hari ini karena aku sangat menyukainya, jangan mengurangi atau menambah apapun lagi. Kau mengerti Faridha?” Kata Rajatha panjang lebar, Faridha terpana akan suara Rajatha yang begitu mengingatkannya pada Putra, kalau saja ia tidak ingat bahwa pria yang didepannya ini adalah boss nya, mungkin Faridha sudah menghambur untuk memeluknya, masa bodoh jika orang itu bukanlah Putra, yang penting ia bisa sedikit meredakan rasa rindunya pada Putra
 
“Faridha? Kau mendengarku?” Kata Rajatha menyadarkan Faridha dari lamunannya
“I-iya Pak, saya mengerti” Ucap Faridha malu karena sudah tertangkap melamun di depan sang presdir
Rajatha mengangguk dan memperhatikan kembali laptopnya melanjutkan pekerjaannya

“Apa ini sudah selesai? Kenapa dia diam saja?” Tanya Faridha dalam hati bingung

Lima menit mereka diam saja, Faridha yang tidak tahu mau berbicara apa hanya memperhatikan Rajatha yang terlihat sibuk dengan laptopnya, Faridha tidak tahu saja betapa gugupnya Rajatha saat ini dan demi Tuhan ingin ia merengkuh tubuh gadis yang dicintainya itu kedalam pelukannya saat ini juga.

Merasa tidak enak didiamkan saja, Faridha pun beranjak dari kursi
“Ehm,, Maaf Pak, saya permisi dulu” Kata Faridha
“Siapa yang menyuruhmu pergi?” Tanya Rajatha langsung, ia tidak rela Faridha pergi dari hadapannya
“Eh?”
 
“Kau membuatnya bingung Men, sejak tadi kau mendiamkannya saja dan saat ia akan pergi kau melarangnya, apa-apaan ini. Tidak ada alasan bagimu untuk menahannya disini,,, Hhh,,, Baiklah, kalau begitu cari alasan. C’mon Rajatha cari alasan yang bisa membuatnya tetap berada disini” Batin Rajatha
 
“Buatkan aku kopi seperti tadi dan segera bawakan kemari” Kata Rajatha akhirnya
“Lagi Pak?” Tanya Faridha meyakinkan
“Ya dan aku minta kau cepat mengantarnya kemari”
“Ba-Baik Pak, saya permisi dulu” Pamit Faridha, Rajatha mengangguk memberi izin

“Apa sebenarnya yang terjadi dengan kehidupanmu setelah aku meninggalkan mu Faridha, kau tidak pernah melayani orang lain bahkan ada banyak pelayan dirumahmu yang selalu siap melayani apapun keinginanmu, sekarang kau menjadi office girl disini? Ada apa sebenarnya? Dimana Ardhan?” Tapi kalau kulihat dari wajahmu, sepertinya kau baik-baik saja. Kau makan dengan baik kan Nona-ku. Ya Allah, sampai aku bersikap biasa saja seolah-olah tidak mengenal dirinya padahal hatiku begitu mengkhawatirkan dirinya” Gumam Rajatha

Tak lama berselang Faridha sudah kembali memasuki ruangan Rajatha dengan membawa secangkir kopi, Rajatha tersenyum lembut membuat Faridha terpana melihatnya, desiran aneh melingkupi hatinya seketika, wajahnya terasa memanas hanya karena senyuman sang presdir.

Faridha sudah meletakan secangkir kopi diatas meja kerja Rajatha, ia sudah bersiap untuk berbalik meninggalkan ruangan tersebut hingga suara Rajatha menghentikan langkahnya
“Kau mau kemana Faridha?”
“Kembali ke pantry Pak”
“Tetap disini sampai aku menghabiskan kopi ku”
“Eh?”
______________________________
- To Be Continue -

Rahasia Hati Part 11 - By : Erinda

5 comments:

  1. wahahaha.. rajatha ketularan bapajnya.. "modus".. lanjut mbaa... smakin seru :D

    ReplyDelete
  2. Akhirnya mrk ketemu jg kembali tp sama2 tdk mengetahui keadaan yg sebnrnya dan kpn mrk akan tau kebenaran yg terjadi ya? tambah seru...Ditunggu terus kelanjutannya mba

    ReplyDelete
  3. Uuuuhhh.. mulai senyam senyum gini bacanya hahaha

    ReplyDelete
  4. asyiik....ditunggu kelanjutanx min,jgn lama ya

    ReplyDelete
  5. Udah lama banget nunggux mbak.. tiap hari msti bukain situs ini berharap ada kelanjutan rahasia hati, finally ada juga, makasih mbak... next partx jgan lama lama ya mbak admin cantiiik. Penasaran banget. Hehe semangaaaat

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.