Rahasia Hati Part 12 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 12 - By : Erinda





 “Tetap disini sampai aku menghabiskan kopi ku”
“Eh?”
^^^
Dengan tatapan bingungnya Faridha kembali mendekat kearah Bos nya itu namun pria dihadapannya kini sudah kembali berkutat dengan laptop dan beberapa file di mejanya, membuat Faridha enggan untuk bertanya lagi dan memilih menurut saja, tapi dimana ia harus menunggu apa dia harus tetap berdiri dihadapannya Bos nya ini atau bagaimana.

“Kau bisa duduk di sofa itu Faridha” Kata Rajatha tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya
“Baik Pak”

Sudah sepuluh menit berlalu namun Rajatha sama sekali belum menyentuh cangkir kopi yang tadi dibuatkan oleh Faridha, ya tentu saja Rajatha sengaja melakukan itu karena ia ingin agar Faridha tidak kemana-mana namun itu ternyata membuat Faridha merasa tidak nyaman, ia tidak tahu harus melakukan apa disini.
Karena suhu diruangan Rajatha sangat sejuk dan juga aroma parfume yang selalu menenangkan Faridha setiap kali ia menciumnya, membuat Faridha tanpa sadar memejamkan mata kemudian tertidur dengan begitu lelapnya di sofa empuk tersebut. Faridha memang cukup mengantuk karena semalam ia tidur cukup larut karena memikirkan bagaimana hari pertamanya bekerja.

Rajatha melirik sekilas kearah Faridha dan tersenyum padanya, ia langsung bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan dengan hati-hati mendekati Faridha, dalam tidurnya sesekali tubuh Faridha miring ke kiri dan ke kanan, membuat Rajatha tersenyum geli melihatnya dan tanpa canggung sama sekali Rajatha memperbaiki posisi tidur Faridha, ia membaringkan tubuh Faridha dan mengangkat kakinya ke sofa, tampak gadis itu menggeliat dan bergumam tidak jelas karena merasa terganggu dengan gerakan-gerakan Rajatha yang memindahkan tubuhnya.

“Sssttt,, Tidak ada apa-apa, tidurlah” Ucap Rajatha pelan dan menepuk-nepuk punggung Faridha guna menenangkannya dan itu berhasil, Faridha kembali diam dan terlelap dalam tidurnya.

“Aku sangat merindukanmu Nona, dan melihatmu tidur dengan tenang seperti ini membuatku ingin selalu menjagamu. Aku harus mencari tahu secepatnya, aku tidak bisa dan tidak tahan lagi dengan semua teka-teki ini. Apa sebenarnya yang sudah terjadi denganmu” Kata Rajatha lagi, ia mengelus kepala Faridha dengan sayang.
^^^
Malam harinya, Faridha nampak berbincang-bincang dengan Lavina, sedangkan Ardhan sepertinya ia pulang larut malam hari ini karena masih ada urusan dikantor.
“Sekarang ceritakan padaku bagaimana hari pertama mu bekerja? Mereka tidak membuatmu lelah kan? Apa ada dari mereka yang memarahimu mu? Kau disuruh apa saja hari ini?” Kata Lavina dengan serentetan pertanyaannya, ada kekhawatiran di raut wajahnya
 
Faridha tersenyum mendengarnya dan ia merasa Lavina begitu memperhatikan dirinya

“Jawab Faridha, jangan senyum-senyum begitu, kau tahu seharian ini kau sudah  membuatku cemas. Walau di depan Kak Ardhan aku berusaha untuk meyakinkannya kalau kau akan baik-baik saja tapi sebenarnya perasaanku tidak jauh berbeda dengannya, aku khawatir padamu” Kata Lavina lagi. Faridha terkikik geli karenanya
 
“Hari ini,,, Hhmm,,, Aku membuat kopi” Jawab Faridha singkat, ia kembali membayangkan apa saja yang dilaluinya hari ini di perusahaan milik Rajatha itu
“Benarkah? Kau bisa membuat kopi? Lalu apalagi?” Tanya Lavina antusias
“Membuat kopi lagi” Jawab Faridha, Lavina mengenyit bingung namun ia kembali bertanya
“Lalu?”
“Menunggu dia menghabiskan kopi hingga aku tertidur di ruangannya?” Jawab Faridha tenang namun ucapannya cukup membuat Lavina terbelakak tidak percaya
“Dia? Dia siapa? Ya Tuhan,, Kau tidur diruangannya? Lalu apa yang terjadi  Faridha”
“Hehehe,, Tenanglah Mbak, tidak ada yang terjadi denganku, aku baik-baik saja. Dia yang kumaksud adalah Pak Rajatha, Bos tempatku bekerja. Seharian ini aku hanya membuatkan kopi untuknya, selain itu aku tidak melakukan apa-apa lagi, karena ia berkata aku harus tetap disana sampai ia menghabiskan kopinya”
“Hah?”
“Iya, sudah ya Mbak, aku ke kamar dulu ingin istirahat. Selamat Malam” Faridha pun pamit menuju kamar dengan sebelumnya ia mengecup kening Lavina dengan sayang.

Sebenarnya Faridha tidak terlalu fokus saat berbicara dengan Lavina tadi, ia merasa aneh dengan apa yang dia rasakan saat berdekatan dengan Rajatha seharian ini, ia seperti sudah cukup familiar dengan sosok itu, jika ia memejamkan mata rasanya seperti ia sedang bersama dengan Putra saja.

Faridha berjalan menuju laci yang berada disamping tempat tidurnya, ia kemudian mengeluarkan sebuah kotak dan mengambil sesuatu dari dalam kotak tersebut, sebuah Bros.
 
Bros yang dulu pernah diberikan Putra padanya saat ia sudah bisa berjalan, Faridha baru menyadari Bros itu bukanlah Bros murahan, Bros yang berkilau dengan sebuah berlian berbentuk hati di tengah-tengah nya dan bertabur permata cantik di sekelilingnya. Sebuah pemberian yang sangat mustahil diberikan oleh seorang pelayan, Putra memberikan itu saat dulu dirinya masih buta jadi ia tidak mengetahui seperti apa rupa bros tersebut jadi Faridha menerima begitu saja pemberiannya tanpa bertanya, namun sekarang semuanya membingungkan Faridha akan kebenaran siapa sebenarnya Putra.

Faridha bisa menebak kisaran harga bros ditangannya tersebut, hanya orang-orang dari kalangan atas saja yang bisa membeli dan memiliki barang mewah seperti ini dan sepertinya bros ini dibuat khusus oleh pemesannya, Faridha cukup tahu karena ia juga memiliki beberapa perhiasan mahal seperti ini dulunya.
^^^
Sementara di rumah lainnya, Rajatha yang baru saja sampai di rumah langsung ditodong banyak pertanyaan dari Jodha, tentang siapa lagi kalau bukan Faridha bahkan Rajatha belum sempat membersihkan diri.
 
“Ratuku sayang, tunggu sebentar okey, biarkan putra tampan mu ini membersihkan diri dulu baru setelah itu aku akan menjawab semua pertanyaan Mama. Muach” Bujuk Rajatha pada Jodha dan ia mencium pipi Jodha
 
Jodha mengerucutkan bibirnya tidak suka, tidak tahukah Rajatha kalau hari ini terasa lama baginya demi menunggu Rajatha pulang, rasanya ia ingin datang langsung ke perusahaan anaknya itu tapi Jalal malah mengajaknya pergi bertemu dengan temannya yang baru datang Irlandia.
 “Baiklah. 10 Menit. Mama tunggu dibawah” Kata Jodha akhirnya lalu berjalan  meninggalkan kamar anaknya tersebut

Jodha menuju ruang tamu dan duduk disamping suaminya
“Heyy,, Jangan merajuk seperti itu Sayang, kita tunggu saja disini ya” Kata Jalal lembut dan merangkul pundak istrinya untuk bersandar padanya, Jodha mengangguk dan tersenyum dalam pelukan hangat suaminya, selalu seperti itu.

“Jadi seharian ini dia hanya melayanimu saja dengan membuatkan dua gelas kopi. Astaga,,, Baru bertemu dengannya satu hari kau sudah bersikap tidak professional, sebagai seorang Boss kau tidak boleh seperti itu Jagoan” Kata Jalal sesaat Rajatha selesai menceritakan tentang hari pertama Faridha bekerja diperusahaannya.

Jodha yang berada disamping Jalal, langsung menoleh kearah suaminya dan memberi tatapan mengejek membuat Jalal mengernyit bingung
“Kenapa kau menatapku seperti itu Sayang?” Tanya Jalal pada Jodha
“Tidak usah menasehati Rajatha untuk bersikap professional, apa kau lupa dulu bagaimana saat aku bekerja sebagai staff khususmu di The Worlds,,Hmm” Kata Jodha menggoda suaminya
“Bukankah dulu kau selalu memanggilku masuk keruanganmu tanpa alasan, terkadang kau juga bertanya-tanya tentang hal yang tidak penting, bahkan seringkali seharian aku tidak bekerja sama sekali karena kau terus-terusan memanggilku. Kau ingat itu Mister Jalal, Suamiku?” Kata Jodha kembali mengingatkan saat hubungan mereka masih sebatas Boss dan bawahan.
“Sayang,,,” Kata Jalal memohon istrinya untuk tidak melajutkan perkatannya
“Apa?”
“Eeumm,,, Itu,, Aku,,,Hanya,,” Jalal menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia jadi salah tingkah dan malu sendiri sebenarnya, sedangkan Rajatha dan Jodha berusaha menyembunyikan tawa mereka melihat reaksi Jalal
 
“Ehm,, Tapi tetap saja kau tidak boleh seperti itu Jagoan, kau harus professional” Kata Jalal setelah ia cukup bisa menguasai dirinya kembali
“Tapi aku yakin Rajatha seperti itu hanya pada Faridha, tidak perlu terlalu mencemaskannya Sayang” Kata Jodha dan tersenyum misterius pada Rajatha
“Maksud Mama?” Kali ini Rajatha tidak mengerti apa maksud dari Mamanya itu
“Sepertinya dia gadis yang istimewa bagimu, Nak” Kata Jodha lembut, lalu ia mengajak Jalal untuk beristirahat, mereka membiarkan Rajatha memikirkan sendiri apa maksud dari ucapannya.

Jodha sangat tahu bagaimana sifat putranya ini, Rajatha jarang sekali bahkan tidak pernah memperhatikan perempuan sampai seperti ini, tidak sedikit perempuan yang mendekati anaknya namun Rajatha selalu enggan menanggapinya, dan sekarang pada Faridha, Rajatha terlihat berbeda, ada binar bahagia diwajahnya saat menceritakan tentangnya. Oh ayolah Rajatha, kau bukan anak kecil lagi yang tidak mengerti apa itu cinta.

Setelah beberapa saat Rajatha pun masuk kekamarnya untuk beristirahat, tadi saat pulang kerja ia sempat mengikuti Faridha kerumahnya, rumah yang cukup mewah dan berada di salah satu kawasan elit dan fakta itu semakin membuat Rajatha bingung, belum lagi seorang wanita muda yang menyambut kepulangan Faridha dengan hangat, Rajatha melihat interaksi mereka yang sangat akrab, namun ia tidak melihat Ardhan ada disana juga sepertinya mobil yang biasa Ardhan pakai tidak ada.
 
“Nanti aku akan mencari tahu lagi” Bisik Rajatha sebelum ia memejamkan matanya untuk beristirahat malam ini.
^^^
Sudah lebih dari satu minggu ini Faridha bekerja, setelah hari dimana Rajatha menyuruh Faridha membuatkannya kopi sampai hari ini Rajatha belum bertemu lagi dengan Faridha dikarenakan ia sangat sibuk untuk menghadiri meeting di beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan “Akbar International Group”, seperti hari ini Rajatha bahkan dari pagi hingga sore ia belum menginjakan kakinya di kantor.
 
“Bagaimana kabarmu hari ini Faridha” Gumam Rajatha yang sarat akan kerinduan.

Sedangkan Faridha, pekerjaannya selalu membuat Lina marah-marah padanya, belum lagi setiap Lina meminta ia melakukan sesuatu semuanya harus cepat padahal ia tahu Faridha belum pandai melakukan semua itu, hingga tidak jarang Faridha memecahkan gelas atau piring saat bekerja dan itu semakin membuat Lina kesal padanya dan selalu mencari-cari kesalahan dari Faridha.
^^^
Keesokan harinya Rajatha datang ke kantor, sekilas ia melihat Faridha sedang membersihkan salah satu ruangan direksi, Rajatha memperhatikan nya sesaat, sungguh ia tidak tega melihat Faridha yang seperti ini, ia harus melakukan sesuatu untuk Faridha. Harus!

Setelah jam makan siang, Rajatha berjalan menuju pantry ia berniat untuk memanggil sendiri Faridha. Saat sampai di depan pantry, ia mendengar suara benda jatuh dan teriakan kaget dari beberapa orang didalam sana, dengan cepat Rajatha ingin masuk kedalam namun sebuah suara menghentikannya, ia kemudian memutuskan untuk mendengarkan lebih dulu apa yang terjadi didalam sana.
 
“Kau lagi Faridha?!” Teriak Lina kesal
“Maaf Mbak” Dan itu suara Faridha yang menjawab
“Kau tahu, aku sudah tidak tahan lagi denganmu, tidak ada yang bisa kau lakukan dengan benar selama bekerja disini” Kata Lina
“Aku benar-benar minta maaf Mbak” Kata Faridha sekali lagi
“Maaf,,,Maaf,, Sudah berapa piring dan gelas yang kau pecahkan selama bekerja disini Faridha, kau ceroboh dan tidak bisa apa-apa, huh”

Faridha yang selama beberapa hari ini mencoba sabar atas ocehan-ocehan Lina, kali ini ia ikut tersulut emosi dan dengan berani ia membuka mulutnya melawan Lina, dia bukanlah tipe orang yang selalu diam saja saat orang menghinanya.

“Dengar ya Mbak, bagaimana bisa aku melakukan apa-apa kalau kau terus berteriak dan berteriak padaku. Kau menyuruhku melakukan ini dan itu tanpa memberitahu bagaimana cara melakukannya, dan disaat aku melakukan kesalahan kau kembali membentak-bentakku, seolah aku orang  yang paling bersalah atas semua kekacauan itu” Jawab Faridha lantang, dan itu membuat Rajatha yang mendengarkan diluar sana tersenyum “Nona ku yang galak” Batinnya
“Kau memang salah” Jawab Lina tidak mau kalah
“Kau!”
“Kau!”
Ok, sepertinya sekarang waktunya untuk Rajatha masuk kedalam
 
“Ehemm,,” Rajatha berdehem membuat semua orang yang berada didalam sana terkejut terutama Faridha dan Lina yang sedang bersitegang sedari tadi
“Faridha, ke ruanganku sekarang” Kata Rajatha langsung dan meninggalkan ruangan tersebut tanpa memperdulikan tatapan penuh tanya dari karyawannya yang lain didalam sana.

“Aku yakin bos akan memecatmu, selamat tinggal Faridha” Kata Lina mengejek sedangkan Faridha tidak memperdulikannya, ia meninggalkan tempat itu mengikut Rajatha menuju ruangannya.
^^^
Sesampainya di ruangan Rajatha
“Eemm,,, Bapak, yang tadi itu,,emm,, itu tidak seperti yang bapak lihat, sa,,saya,, tidak berniat untuk membuat kekacauan disini. Sungguh” Faridha langsung membuka suara membela diri
“Aku tahu, lagipula aku memanggilmu kemari bukan untuk bertanya tentang itu” Jawab Rajatha tenang
“Lalu?”
“Mulai sekarang kau hanya bekerja untukku, kau tidak ku izinkan melayani karyawan yang lain. Dan meja itu akan menjadi tempatmu disini” Kata Rajatha seraya menunjuk meja dan kursi yang berada disalah satu sudut ruang kerjanya
“Maksud Bapak?” Faridha masih belum paham

Rajatha lalu mendekati Faridha dan tersenyum misterius padanya, parfume Rajatha langsung menguar memenuhi udara disekitar Faridha membuat jantungnya berdebar lebih cepat dan ia gugup karenanya, ia menundukan wajahnya karena malu
 
“Kau menjadi OG hanya untuk KU” Jawab Rajatha lembut namun diakhir kalimatnya, wajah Rajatha sedikit menunduk agar bisa lebih dekat dengan Faridha, entah Rajatha sengaja atau tidak melakukan itu yang jelas di dekat Faridha membuat Rajatha mulai melakukan hal-hal diluar kebiasaannya selama ini.
 
“Kau mengerti Faridha?” Kata Rajatha lagi, kali ini ia meraih dagu Faridha agar wajahnya mendongak padanya, semburat merah di kedua pipi Faridha membuat Rajatha gemas untuk menciumnya, tapi untunglah ia masih bisa menahannya. Untuk saat ini.
“Me,,Mengerti,,Pak” Jawab Faridha agak tersendat, berada sedekat ini dan ditatap begitu intens oleh Rajatha membuatnya luar biasa gugup, bahkan kakinya terasa lemas untuk menahan tubuhnya sendiri
“Bagus,,, Sekarang buatkan aku kopi seperti yang pernah kau buatkan untukku” Kata Rajatha lalu pergi menjauh dari Faridha menuju meja kerjanya

“Tidak perlu ke pantry Faridha, aku sudah menyiapkan semuanya di ruangan kecil yang berada di samping meja kerjamu itu” Tambah Rajatha lagi, sungguh Rajatha tidak tanggung-tanggung untuk membuat Faridha selalu berada didekatnya, bahkan ia rela sedikit merubah ruang kerjanya demi menyediakan ruang kecil tersebut.
“Baik Pak” Sahut Faridha dan Rajatha tersenyum puas karenanya

Saat Faridha membuatkan kopi, Rajatha tampak menerima telephone dari sekretarisnya.
 
“Ya Melanie”
“………………”
“Kontrak kerja sama yang mana yang belum aku tandatangani?”
“………………”
“Ohh,, Perusahaan penerbangan yang tempo hari meeting bersama kita di Bogor?”
“………………”
“Oke, kau atur saja pertemuan dengan mereka minggu depan. Ini pertama kalinya sebuah perusahaan penerbangan menginginkan kerja sama dengan Akbar International Group”
“………………”
“Hhmm,,, Tapi sebelumnya aku ingin kau cari tahu latar belakang perusahaan itu, aku tidak mau mengambil resiko jika bekerja sama dengan perusahaan yang bermasalah atau sedang dicekal”
“………………”
“Oke” Rajatha lalu menutup telephone nya

“Kopi nya Pak” Kata Faridha lalu meletakan cangkir kopi tersebut di meja Rajatha
Rajatha mengangguk lalu meminum kopinya, ia mengernyit dan menatap Faridha seolah-olah bertanya, Faridha menyadari itu.
“Eem,, Apa ada yang salah Pak dengan kopinya?” Tanya Faridha kemudian
“Apa kau melupakan sesuatu saat membuatkan kopi ini tadi?” Kata Rajatha balik bertanya
 
Faridha diam sejenak untuk mengingat-ngingat, ia yakin bahwa tidak ada yang kurang bahkan takarannya pun sama seperti sebelumnya
 
“Ti-tidak ada yang kurang Pak” Jawab Faridha, ia kemudian tersenyum untuk meyakinkan perkataannya
“Nah,, Tetap seperti itu” Kata Rajatha tiba-tiba, membuat Faridha memasang wajah heran
“Aku bilang tetap seperti tadi Faridha” Ulang Rajatha
“Ma,,Maksud Bapak?”
“Ter-se-nyum”
“Hah?”
“Tersenyum Faridha bukan melotot”
 
Melihat ekspresi geli dari Bos-nya itu karena kebodohannya yang malah melotot disaat ia disuruh tersenyum, Faridha tanpa sadar tersenyum.
Rajatha meraih cangkir kopi lalu meminum kopinya tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Faridha yang tengah tersenyum, untuk beberapa saat mereka saling menatap, sesuatu tanpa di komando berdenyut di hati keduanya dan yang tidak disadari Faridha, Rajatha juga ikut tersenyum saat dibalik cangkir kopi yang diminumnya.

“Kopi yang kau buatkan untuku harus disertakan sebuah senyuman manis, Nona” Kata Rajatha mengembalikan gelasnya pada Faridha. Membuat Faridha terhenyak akan kata-kata tersebut, panggilan Nona itu sangat mirip dengan yang biasa Putra ucapkan padanya dan apa katanya tadi, “Kopi dan Senyuman” Ah,, Ini semua membuat Faridha semakin bingung dengan apa yang dirasakannya.
 
“Faridha?” Panggil Rajatha kembali
“I-iya Pak” Kata Faridha lalu mengambil cangkir kopi tersebut dan menuju mejanya

“Aku tahu kau mungkin bertanya-tanya siapa aku, tapi tunggulah sebentar lagi aku masih harus memastikan sesuatu” Batin Rajatha
^^^
Sore hari, Faridha sudah bersiap untuk pulang Rajatha pun demikian.
Rajatha keluar lebih dulu, ia langsung menuju mobilnya dan menunggu Faridha keluar untuk mengikutinya lagi.

Selama ini walaupun ia sibuk, Rajatha sudah menyuruh orang demi mencari tahu siapa saja yang tinggal bersama dengan Faridha dan dari kabar yang ia dapat sungguh sangat mengejutkan sekaligus melegakan, mereka mengatakan bahwa Faridha tinggal bersama pasangan suami istri muda yaitu Ardhan dan Lavina, dan saat ini istri Ardhan tengah hamil.

Dan hari ini Rajatha ingin semua nya jelas, ia ingin melihat dengan mata kepala nya sendiri bahwa apa yang disampaikan oleh orang-orangnya tersebut adalah benar, bukan hanya kabar yang akan menyenangkannya sesaat. Dan jika semua itu benar, ia akan mengatakan kebenarannya pada Faridha dan semoga Faridha tidak marah padanya dan mau mendengarkan penjelasannya terlebih dulu nanti.
Setelah beberapa saat berkendara, akhirnya Rajatha sampai lebih dulu di rumah tersebut, ia keluar dari mobil dan mencari tempat bersembunyi yang aman agar tidak terlihat.

Dari kejauhan Rajatha melihat, seorang wanita muda yang tengah di rangkul mesra oleh seorang pria, mereka duduk di sebuah ayunan besar yang ada dihalaman rumah tersebut, sesekali sang pria mengelus perut wanitanya dan tak diragukan lagi mereka adalah Ardhan dan Lavina.

Dan tak lama berselang, Faridha muncul diantara mereka dan ikut bercengkrama bersama, sesekali mereka tertawa didalam candaannya.
Yang Rajatha lihat, tidak ada tatapan sakit hati dari Faridha pada Ardhan dan istrinya, Ardhan mengelus kepala Faridha dengan sayang seperti seorang kakak pada adiknya dan Lavina tampaknya baik-baik saja dengan semua itu.

“Jadi benar sekarang Ardhan sudah menikah lagi? Lalu kenapa Faridha ikut tinggal bersamanya? Apa tidak ada rasa canggung diantara mereka dan sepertinya Lavina sama sekali tidak masalah dengan semua itu? Tapi apapun itu, bagiku ini sudah lebih dari cukup mengetahui Faridha yang tidak terikat dengan siapapun. Sampai ketemu besok Nona-ku. Aku sudah tidak sabar” Kata Rajatha lalu meninggalkan rumah tersebut dengan perasaan lega yang luar biasa.
___________________________________
 
- To Be Continue -


Rahasia Hati Part 12 - By : Erinda

3 comments:

  1. Postingnya tiap hari dong,, jgn lamaaa ahh

    ReplyDelete
  2. semakin penasaran.....ditunggu part berikutx min.....

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.