Rahasia Hati Part 9 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 9 - By : Erinda



Sebelumnya, bagi siapa saja yang tidak menuggu cerita ini tolong jangan dilanjutkan membaca ya daripada bikin saya bad mood baca comment kalian, tunggu saja cerita lain yang kalian tunggu-tunggu tapi saya tetap akan melanjutkan cerita ini sampai selesai. Terima kasih,.. ;)
*****


“Selamat sore sayang, long time no see my girl” Sapa seorang wanita dengan seringai liciknya yang muncul dari arah belakang gerombolan orang tersebut
“Kau!!”
^^^
“Masih memikirkan gadis itu Nak” Kata Jalal pada Rajatha dan duduk disebelah anak tampannya tersebut.
“Tidak” Bohong Rajatha
“Ok, Papa anggap itu kebalikannya” Jawab Jalal santai menanggapi kebohongan putranya tersebut, tentu saja ia tahu kalau Rajatha tengah berbohong saat ini
“Temui dia sekarang juga Nak, rahasia hatimu hanya kau yang tahu. Luapkan apa yang hatimu rasakan padanya, tidak baik memendam perasaan terlalu lama tanpa adanya kejelasan. Ok Jagoan” Semangat Jalal pada Rajatha

Jalal meninggalkan Rajatha membiarkan waktu pada putranya untuk berpikir, ia berjalan menuju dapur menemui istri tercintanya yang tampak semakin cantik jika sedang memasak seperti ini.
 
“Bagaimana kau bisa secantik ini bahkan saat berada di dapur sayang?” Tanya Jalal mesra pada Jodha
Jodha yang tengah asik mengiris bawang tampak menggeliat karena pelukan tiba-tiba Jalal dari belakang tubuhnya
“Jangan mengangguku atau tidak ada makan malam untuk kalian” Kesal Jodha karena Jalal selalu saja mengatakan hal tersebut jika dirinya sedang sibuk di dapur
“Cantik” Bisik Jalal lalu mencium pipi Jodha sekilas dan melepaskan pelukan di pinggang Jodha

Jalal menuju meja makan memperhatikan Jodha memasak, pemandangan yang selalu disukai nya selama ia hidup bersama Jodha
“Sayang” Panggil Jalal
“Hhmm,,,”
“Kau senang kita tinggal disini?”
Jodha menghentikan sejenak aktifitas nya dan menatap pada Jalal, dia mengangguk dan tersenyum manis pada suaminya lalu ia kembali melanjutkan masakannya
“Baiklah, apapun untukmu sayang. Kita akan tinggal di Indonesia, secepatnya aku akan mengurus semuanya”
“Benarkah sayang? Kau setuju jika kita tinggal disini?” Teriak Jodha girang, ia lalu meninggalkan masakannya dan menghambur kedalam pelukan hangat Jalal
“Tentu saja, karena keluarga kecil kita akan kembali utuh” Kata Jalal dan membalas dengan erat pelukan Jodha
“Aku mencintaimu Jalal”
“Lebih dari apapun Sayang” Sahut Jalal dengan mesra
^^^
“Jadi benar Papa dan Mama akan menetap di Indonesia?” Tanya Rajatha
“Ya sayang” Jawab Jodha sambil bersandar santai di lengan suaminya, sungguh pemandangan yang membuat siapapun akan iri melihat mereka saat ini
“Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Lalu Papa dan Mama akan tetap disini atau bagaimana”
“Tentu saja kita tinggal bersama Rajatha, besok Mama akan mencari rumah dan kita akan tinggal disana bersama, tidak ada tinggal terpisah di appartement lagi” Putus Jodha tidak mau dibantah membuat Rajatha hanya bisa mengangguk tanpa bisa membantah.
^^^
Ini adalah hari Minggu, Rajatha tidak pergi kekantornya namun sudah sejak subuh tadi ia tidak kembali tidur seperti kebiasaanya jika hari libur
 
“Temui, Tidak, Temui, Tidak, Temui. Hhhh,, Lalu kalau sudah bertemu dengannya mau apa? Apa dia akan mengenaliku kalau aku ini Putra si pelayan yang selama ini dia kenal?” Rajatha bertanya-tanya sendiri, ia nampak ragu untuk menemui Faridha
“Baiklah, baiklah,, Aku akan datang kerumah Faridha dan menemuinya. Bismillah” Putus Rajatha akhirnya, tidak lupa Rajatha memakai parfume yang sudah sangat dikenali oleh Faridha
 
Akhirnya Rajatha ingin menemui Faridha, begitu banyak hal yang ingin ia katakan dan ungkapkan pada gadis itu hingga mungkin nanti untuk beberapa saat Rajatha tidak mampu mengatakannya, walau dengan itu dia harus siap kembali patah hati saat mendengar jika Faridha bisa membalas perasaannya, namun biar itu menjadi urusan nanti,  sekarang yang harus ia lakukan adalah pergi menemui gadisnya dulu. Ya, itu jauh lebih baik.

Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya yang tengah berdebat dalam menata isi rumah baru mereka saat ini. Ya, mereka baru saja pindah kerumah ini sore kemarin, rumah yang sesuai dengan selera Ratu kesayangan mereka.
Rajatha pun melajukan mobilnya menuju rumah yang sangat ia hapal jalannya, rumah dengan seseorang didalamnya yang sangat ia rindukan beberapa minggu belakangan ini.

Selama mengemudikan mobilnya menuju rumah Faridha, perasaan Rajatha berkecamuk, banyak hal berputar-putar dikepalanya sejak tadi hingga tak terasa Rajatha sudah berada didepan pagar rumah besar nan mewar milik Faridha.

Rajatha menekan bel berkali-kali namun tidak ada sahutan apa-apa dari dalam sana, rumah itu pun nampak sepi seperti tak berpenghuni, ia pun melihat-lihat sekitar dan matanya menangkap sebuah tulisan besar yang terpampang di pagar tersebut, matanya membelalak tidak percaya

“RUMAH INI DIJUAL”

Rajatha ternyata sejak tadi tidak menyadari adanya tulisan tersebut, ia hanya terfokus untuk segera bertemu dengan Faridha tanpa memperhatikan keadaan rumah tersebut.
“Dijual? Kenapa? Lalu dimana Faridha?” Kata Rajatha heran
Dan tanpa membuang waktu lagi, Rajatha masuk kembali kemobilnya karena percuma ia bertahan disana, orang yang ia cari jugag tidak ada disana.
Rajatha mencoba menghubungi ponsel Faridha tapi nomer tersebut selalu dan selalu saja tidak aktif.

*Flashback
(Satu hari sebelumnya dirumah Faridha)
“Selamat sore sayang, long time no see my girl” Sapa seorang wanita dengan seringai liciknya yang muncul dari arah belakang gerombolan orang tersebut
“Kau!!”
“Ya ini aku, kau merindukanku manis?”
Faridha memalingkan wajah tidak suka dan kembali menatap wanita tersebut dengan malas “Langsung saja Tante Nora, ada apa kau datang kemari, kau sudah tidak ada hak menginjakan kaki disini lagi karena aku tidak suka keberadaanmu”
“Hahaha,, Sebaiknya kau hati-hati dengan ucapanmu anak manis, justru aku sangat berhak menginjakan kaki ku disini”
“Apa maksudmu?”
Dan Nora pun melemparkan sebuah map tipis dengan angkuhnya keatas meja menyuruh Faridha melihat isinya
 
Dengan dada bergemuruh Faridha membuka isi map tersebut, ia berani bertaruh kalau isi map tersebut adalah bencana baginya dan,,, benar saja. Faridha menghirup napas panjang dan membuangnya perlahan, ingin ia menjerit dan menampar keras wajah wanita yang pernah menjadi istri dari ayahnya tersebut namun Faridha tidak bodoh, ia sudah memprediksikan hal seperti ini akan terjadi karena ia sudah curiga akan menghilangnya Nora disaat ia mengalami kecelakaan waktu itu.
 
“Baiklah, ku ikuti permainan mu wanita ular” Batin Faridha
“Surat pengalihan harta dan warisan Alm Hermawan ke tangan Nora Julie” Kata Faridha dingin
“Tepat sekali dan sebagai ahli waris, aku tidak menginginkanmu untuk tetap tinggal disini karena aku tidak suka keberadaanmu disini” Kata Nora mengejek dengan mengembalikan perkataan Faridha barusan membuat Faridha mendengus kesal
“Ah,,, sebenarnya aku sudah terlalu baik padamu Faridha, aku rela mengeluarkan uangku demi mengobatimu sampai sembuh, kalau tidak kau pasti sudah menjadi gadis cacat saat ini, jadi tidakah kau mau berterima kasih padaku Nona Faridha Anggun?” Sombong Nora
“Kau bukan terlalu baik Mami, tapi kita yang terlalu lama menyingkirkan pengacara sialan yang setia itu” Ujar seorang gadis sexy yang masuk tiba-tiba lalu mencium pipi Nora
“Apa-apaan ini?!” Hardik Faridha
“Oww,,, Jangan marah-marah Faridha Anggun sayang, kau sekarang hanyalah seorang gembel dan tidak pantas berteriak seperti itu pada wanita terhormat sepertiku. Kenalkan ini adalah putriku, Sheila Adelle” Kata Nora dengan bangga memperkenalkan putrinya yang mengenakan baju kekurangan bahan tersebut
“Dengar Nora, Aku.Sama.Sekali.Tidak.Perduli.Pada.Putri.Jalangmu.Ini” Kata Faridha menekankan kata demi kata dalam setiap ucapannya seraya menunjuk Sheila dengan jarinya dan sontak saja hal itu membuat Nora berang
“Apa kau bilang? Putriku jalang? Sialan kau” Nora sudah akan menampar Faridha namun dengan cepat Faridha menangkisnya dan memelintir tangan Nora kebelakang membuat Nora merintih kesakitan sedang Sheila menatap ngeri dan tidak berani maju untuk menolong Nora
“Aarrggghhhh” Teriak Nora kesakitan
“Kalian,,, Jangan coba-coba maju, aku pasti akan keluar dari rumah ini tapi urusanku belum selesai dengan wanita ular ini” Teriak Faridha pada para pengawal Nora yang sudah akan mendekat padanya
“Sialan kalian” Jerit Nora pada para pengawalnya
“Aku tahu, kalian adalah orang-orang ayahku sebelumnya tapi karena iming-iming uang kalian beralih membela wanita sialan ini. Aku sungguh tidak percaya!” Kata Faridha lagi membuat para pengawal tersebut menundukan wajahnya karena malu
“Katakan, sebelum aku benar-benar mematahkan tangan kotormu ini. Apa yang kau lakukan pada pengacara ayahku” Geram Faridha dengan semakin memelintir tangan Nora dibelakang tubuhnya
“Aahh,,,, Sakit Faridha” Rintih Nora
“Tidak sesakit yang kurasakan saat ini, kau telah merenggut dengan cara yang kotor semua milik ayahku yang dengan susah payah ia bangun hampir seumur hidupnya. Cepat katakana apa yang terjadi pada pengacara keluargaku!” Bentak Faridha lagi
“Ahh,,A,,Aku sudah meracuninya dan,, ia sudah mati” Kata Nora tanpa rasa bersalah sama sekali
“Astaghfirullah” Batin Faridha, betapa kejam wanita yang ada didepannya saat ini dan cengkraman tangannya di lengan Nora pun melemah, dengan sekali sentakan saja akhirnya Nora berhasil lolos dari cengkraman Faridha
“Sekarang tinggalkan rumah ini Faridha, karena semua ini sudah menjadi milikku, kau sama sekali tidak aku izinkan menyentuh milikku” Kata Nora dengan angkuhnya
“Baik. Aku akan pergi Nora tapi tidak akan lama, aku akan segera kembali dan mengambil kembali milik ayahku. Bersiaplah. Bik Min,,Bik” Faridha memanggil Bik Min namun tidak ada jawaban sama sekali, ia pun melirik curiga pada Nora dan anaknya
“Kalian?” Faridha menatap tajam kearah Nora namun Nora seolah tidak melihatnya, ia pun beralih menatap Sheila yang nampak ketakutan dan emosi Faridha kembali naik dan berjalan cepat menuju Sheila
“Apa yang sudah kau lakukan pada Bik Min?” Kata Faridha penuh intimidasi
“Ak,,Aku,,Tidak,,”
“APA!!!” Teriak Faridha tepat didepan wajah Sheila, apa sebenarnya yang terjadi pada Bik Min, wanita yang sudah seperti ibu baginya itu
“Ak,,Aku,, Hanya ingin menakutinya saja,,tap,,tapi,,ia berlari ke jalan raya dan sebuah truk kencang menabraknya dan,,,aauuwhhhh” Belum sempat Sheila menyelesaikan kata-katanya, Faridha sudah mendorong Sheila sekuat tenaga ke dinding dan menampar pipinya dengan keras

Nora sudah akan berlari untuk menolong putrinya namun langkahnya dihentikan oleh para pengawalnya sendiri
“Apa-apaan kalian!” Bentak Nora
“Maaf Nyonya, untuk sesaat kami terlena akan iming-iming uang anda tapi kini kami sadar bahwa selama ini Tuan besar Hermawan sudah sangat baik pada kami, kami tidak akan membiarkan anda menyakiti Nona Faridha seujung kuku pun” Kata salah satu diantara mereka, Nora tidak bisa bergerak karena sudah berada dalam kepungan mereka

Sedang Faridha yang sudah sangat marah dan kalap pada Sheila sudah akan kembali mendorong Sheila ke dinding namun salah satu dari pengawal menginterupsinya
 
“Cukup Nona, kalau Nona teruskan Nona bisa masuk penjara, sekarang lebih baik Nona pergi dulu dan cepatlah kembali untuk mengambil hak Nona kembali”
Faridha pun menghentikan aksinya dan melepaskan Sheila dengan kasar ke lantai
“Terima kasih, kalian sudah membelaku dan aku harap ini terakhir kalinya kalian mengkhianati kepercayaan ayahku”
“Maafkan kami Nona” Jawab mereka penuh penyesalan
“Aku akan segera kembali Nora, nikmatilah semua ini selagi aku tidak disini karena jika aku sudah mengambil hak ku kembali, siapapun tidak ada bisa lolos dariku bahkan semut yang ikut membantumu akan aku kejar sampai ke sarangnya” Kata Faridha berapi-api dan meninggalkan rumah tersebut, rumah yang penuh dengan kenangan didalamnya, rumah tempat ia dilahirkan dan dilimpahi kasih sayang dari ayah dan bundanya.

Faridha tidak menangis sedikitpun, ia sendiri pun sempat tidak percaya kalau ia bisa melakukan hal seberani tadi pada Nora dan Sheila, ia hanya mengikuti nalurinya saja, ia begitu marah saat mendengar orang-orang yang disayanginya disakiti hingga meninggal tanpa sepengetahuannya, untung saja ia tidak sampai lepas kendali dan melakukan hal paling mengerikan seumur hidupnya. Terima kasih pada para pengawal yang sudah mengingatkannya tadi.

Pada malam harinya, Nora memasang tulisan besar dirumah tersebut kalau rumah itu akan dijual dan ia bersama putrinya pun pergi entah kemana.
* Flashback off

Seharian ini Rajatha terus berkeliling kota Jakarta berharap menemukan gadis anggunnya, Faridha Anggun. Memang mencari seseorang di kota Jakarta tidak mudah apalagi Rajatha sama sekali tidak memiliki petunjuk apapun, tapi hatinya seolah meyakinkan bahwa ia pasti akan menemukannya, bukankah Allah tidak pernah mengabaikan umatnya yang terus berusaha dan berdo’a.

Hingga larut malam Rajatha masih berada didalam mobilnya, ia hanya menepi saat mendengar suara adzan untuk sholat di masjid sekitar dan mengisi perutnya, kalau sampai ia tidak makan maka siap-siap ia akan menerima ceramah Mamanya sampai besok subuh dan Rajatha tidak akan pernah bisa berbohong pada Ratunya itu, bahkan untuk hal sekecil seperti itu.

“Dimana kau sebenarnya, Faridha?” Lirih Rajatha
Hingga sampai pada pertigaan jalan, Rajatha melihat seseorang tengah berjalan diseberangnya dengan menundukan kepala, Rajatha memelankan laju mobilnya dan menajamkan penglihatannya
“Ya Allah,,, Faridha, Ya itu dia” Tanpa ba-bi-bu lagi ia langsung keluar dari mobilnya dan berlari menuju Faridha
 
“FA,,,,” Panggilan Rajatha pada Faridha terhenti saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan Faridha dan seorang pria keluar lalu menghampiri Faridha, langsung Faridha menubrukan tubuhnya pada pria itu dan menangis tersedu-sedu dalam pelukan pria tersebut, Ardhan. Suami Faridha.

Tangisan pilu Faridha membuat hati Rajatha teriris mendengarnya, ingin ia menarik paksa Faridha dari pelukan pria itu dan berbagi kesedihan dengannya tapi siapalah dirinya, pria itu lebih berhak atas Faridha karena dia adalah suaminya.
Rajatha menggeleng pasrah “Sudah cukup Rajatha, cukup menyakiti hati dengan memberi harapan palsu untuk diri sendiri, tentu Ardhan yang Faridha inginkan untuk berada disisinya bukan kau, apa yang sudah kau pikirkan seharian ini. Demi Tuhan, mereka suami-istri Rajatha” Kata Rajatha pada dirinya sendiri dan ia pun berbalik menuju mobilnya dan pergi darisana

Tepat setelah itu Faridha melepaskan pelukannya pada Ardhan dan melihat sekeliling seperti mencari sesuatu
“Dik” Panggil Ardhan dengan sayang, Faridha mengusap air matanya dan menoleh sebentar pada Ardhan lalu kembali melihat-lihat keselilingnya
“Kau mencari apa?”
“Ak,,Aku,, Seperti merasakan kehadiran orang lain disini Kak” Kata Faridha dengan suara serak habis menangis
“Tidak ada orang lain disini Dik, sekarang sudah sangat malam, jalanan ini sepi sejak tadi. Ayo ikut Kakak, kau berhutang cerita banyak pada Kakak. Bagaimana kau bisa seperti ini” Ardhan pun menarik tangan Faridha masuk kedalam mobilnya
“Wangi itu” Lirih Faridha
^^^
Rajatha sudah sampai kerumah, ia melihat kedua orang tuanya sedang menunggunya dengan cemas di ruang tamu.
 
“Sini jagoan” Panggil Jalal dan menyuruh Rajatha duduk diantara mereka
“Mama sengaja tidak menelpon mu seharian ini karena kata Papa kau sedang mengejar cinta gadismu itu, benarkah? Mama tidak ingin menganggumu tapi kau tidak lupa makan kan Nak? Kau bahkan tidak sempat sarapan tadi pagi, itu membuat Mama cemas. Berapa kali kau makan seharian ini? Oh ya lalu bagaimana hasilnya?” Jodha berkata panjang lebar dengan serentetan pertanyaan seperti biasanya membuat Rajatha tersenyum dan mencium pipi Jodha dengan sayang
“Hanya Oma Hamidah, Oma Anga dan Mama wanita yang benar-benar mencintai ku tanpa syarat di dunia ini” Ujar Rajatha membuat Jalal dan Jodha mengerutkan keningnya karena bingung
“Sayang?” Panggil Jodha pada Rajatha yang diam saja setelah mengatakan hal tersebut
“Rumah ini sangat nyaman, aku suka pilihan Mama. Oh ya, bagaimana ruang karaoke nya, mari kita mencobanya” Ajak Rajatha berusaha mengalihkan pembicaraan. Jalal dan Jodha pun menuruti kemauan Rajatha, mereka berjalan menuju ruang karaoke yang berada tidak jauh dari ruang tamu.
“Mama ingin nyanyi apa?” Tanya Rajatha antusias
Jodha melirik Jalal tidak mengerti, Jalal menganggukan kepala menyuruhnya menuruti saja apa yang Rajatha inginkan
“Mama sedang tidak ingin bernyanyi sayang, bagaimana kalau kau saja yang bernyanyi untuk kami, sudah lama Mama dan Papa tidak mendengar suara merdu jagoan tampan kami ini” Kata Jodha dan mengajak Jalal duduk disebelahnya sedangkan Rajatha sibuk mengecek sound dan daftar lagu
“Mama ingin aku yang bernyanyi?” Kata Rajatha dan mengalihkan pandangannya pada kedua orang tuanya, Jalal dan Jodha pun mengangguk bersamaan
“Hhmm,, Baiklah” Rajatha pun memilih-milih judul lagu dari daftar lagu yang ada. Pilihannya terhenti pada sebuah judul lagu yang sangat pas untuknya saat ini, mungkin dengan lagu ini ia bisa mengeluarkan emosinya yang terpendam sejak tadi, Rajatha pun memilih lagu tersebut dan memutarnya.

*Separuh Nyawa – By : Xing Hermina*
Senja saat kau menuntun tanganku
Terlukis jelas seperti sesaat lalu
Terbayang masih raut yang tersenyum tenangkanku
Yakinkan diri tuk terus berlayar bersamamu

Siapa dirimu kini dimana hatimu kini
Seketika ku seakan tak mengenalmu lagi
Kemana harus ku cari separuh nyawaku ini
Kau hilang sisakan perih untukku

Maafkan aku tak mampu mengerti mimpi-mimpimu
Berulang kali ku mencoba tuk memahami isi hatimu
Maafkanku kebodohanku walau tahu ku tak berdaya
Namun tak bisa ku bernafas tanpamu

Malam saat kau tinggalkan diriku
Terbayang buram seperti tak pernah lalu
Tak berhenti ku cari kenangan raut wajahmu
Namun hanya teringat basah penuhi mataku

Siapa dirimu kini dimana hatimu kini
Seketika ku seakan tak mengenalmu lagi
Kemana harus ku cari separuh nyawaku ini
Kau hilang sisakan perih untukku

Maafkan aku tak mampu mengerti mimpi-mimpimu
Berulang kali ku coba tuk pahami
Maafkan diriku kebodohanku walau tahu ku tak berdaya
Namun tak bisa ku bernafas tanpamu

“Rajatha permisi keluar duluan Mah, Pah” Pamit Rajatha pada kedua orang tuanya, tanpa menunggu jawaban Jalal dan Jodha ia segera keluar meninggalkan ruangan tersebut
“Besok saja sayang, sekarang biarkan dia sendiri dulu” Kata Jalal menghentikan langkah Jodha yang sudah akan menyusul Rajatha.
“Anakku sedang terluka Sayang” Kata Jalal lagi
“Anak kita” Protes Jodha membuat Jalal yang sebenarnya khawatir pada Rajatha mau tidak mau tersenyum geli melihat tingkah istrinya yang masih sempat-sempatnya memprotes disaat seperti ini, dia pun mencium kening Jodha dengan sayang.

------------------------------------------------------
- To Be Continue -




Rahasia Hati Part 9 - By : Erinda

2 comments:

  1. Semangat mba utk nulisnya ya,sy selalu menunggu kelanjutan cerita ini 😊😊😊

    ReplyDelete
  2. yaacch.. bm ketemu.. kasian dua duanya, berharap d nextpart bsk mereka sdh ketemu.. jgj lama2 y mbaa.. please.. hehe

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.