From YM To Your Heart Part 13 - ChusNiAnTi

From YM To Your Heart Part 13




FROM YM TO YOUR HEART
Part 13
 
 PS: Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena lamanya posting cerita ini. Hanya tersisa satu part lagi, semoga dalam minggu-minggu ini bisa saya posting. Terima kasih karena sudah setia membaca.
~~~~~~~~
Minggu, 29/05/13
Rashed Jalal : Jaga dirimu...
Aadhya Jodha : Apa kau benar-benar akan pergi?
Rashed Jalal : Ya.
Aadhya Jodha : Tidak bisakah kau menundanya?
Aadhya Jodha : Demi aku? Demi kita?
Rashed Jalal : Kukira ini yang kau inginkan. Karena, jujur saja....setiap kali aku bersamamu, yang bisa kupikirkan hanyalah menikahimu...
Aadhya Jodha : Tapi aku tidak pernah ingin kau pergi
Rashed Jalal : Lalu apa gunanya aku disini? Hanya menunggu...sampai kau selesai berpikir.... Itupun aku juga tidak tahu apa jawabanmu...
Aadhya Jodha : Jalal, aku belum sepenuhnya yakin...
Rashed Jalal : Kau sendiri yang putuskan
~~~~~~~~~
Jodha menangis terisak di dalam kamarnya setelah membaca pesan Jalal. Dia menutupi wajahnya dengan bantal agar isakannya tidak sampai terdengar oleh Ibunya yang sedang menonton televisi di balik pintu.
Apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin berakhir secepat ini? Jalal, kumohon...jangan pergi....
Jodha tidak mendengar saat pintu kamarnya dibuka atau ada sepasang kaki yang melangkah mendekatinya, tiba-tiba saja sudah dirasakannya sebuah tangan lembut mengusap pelan rambutnya yang menutupi wajahnya. Jodha mendongak dengan wajah sembabnya...
“Ibu.....” panggil Jodha memelas.
Nyonya Aadhya duduk di depan Jodha sambil tetap menggenggam tangan putri kesayangannya.
“Apa kau sedih karena Jalal akan pergi?”
Jodha tidak menutupi keterkejutannya saat melontarkan pertanyaan, “Bagaimana Ibu bisa tahu?!”
“Ibu bisa merasakannya..” jawabnya sambil menyeka air mata di wajah Jodha.
“Apa Jalal mengatakan sesuatu pada Ibu?!”
“Dia mengatakan semuanya. Dia bilang dia pergi demi kebaikanmu. Dia sangat menyayangimu, karena itulah dia berharap banyak pada hubungan kalian. Tapi karena kau tidak memberikan jawaban yang dia inginkan, dia ingin menjauh dulu agar kau bisa berpikir...”
Jodha menelan ludah, berusaha membersihkan tenggorokannya setelah menangis dalam waktu yang cukup lama.
“Kenapa, Jodha?”
Jodha tahu maksud pertanyaan Ibunya, hanya saja dia kesulitan menjawabnya. Setelah beberapa saat, akhirnya dia bersuara juga....
“Aku takut, Bu...” kata Jodha pelan, “Bagiku, memutuskan menikah jauh lebih berat daripada menentukan janji kencan. Ini keputusan seumur hidup. Andai kami kecewa saat kencan, tidak masalah kami mengakhirinya saat itu juga. Tapi dalam pernikahan, kami akan terjebak selamanya, meski cinta itu mulai mengikis dan hilang, kami terpaksa tetap bersama .....Aku melihatmu menderita karena itu, Bu. Karena itulah aku tidak ingin mengalaminya..”
Jodha melihat ketenangan yang teduh di dalam mata Ibunya.
“Semua keputusan memang ada resikonya... Saat menikah dengan ayahmu, Ibu juga tidak pernah terpikir akan menderita. Awalnya kami juga bahagia, tapi manusia berubah karena banyak hal. Meski begitu, sedetikpun Ibu tidak pernah menyesali keputusan Ibu menikah dengan ayahmu, apalagi berharap bahwa Ibu bisa memutar ulang waktu dan menikah dengan pria lain. Karena...menikah dengan ayahmu, Ibu jadi bisa melahirkanmu. Ibu memiliki putri yang cantik dan berbakti sepertimu.”
Jodha memikirkan jawaban Ibunya dalam-dalam...dan akhirnya dia memiliki keyakinan baru akan apa yang harus dilakukannya.
“Ibu, apa Jalal bilang kapan dia akan berangkat?”
Setitik senyum muncul di sudut bibir Nyonya Aadhya.
“Kenapa kau tidak menanyakannya langsung pada Jalal...?”
“Ehmmm...anggaplah, aku ingin memberinya kejutan, Bu..”
Nyonya Aadhya memicingkan matanya mendengar jawaban Jodha yang sedikit dibuat-buat.
“Kalau tidak salah, Jalal bilang akan berangkat sekitar jam 2 sore, hari minggu ini..”
Jodha memutar kepalanya ke arah jam duduk di atas meja samping tempat tidurnya. Matanya membelalak tak percaya. Jam 1.15 siang. ‘Astaga, sepertinya terakhir kali aku tadi lihat masih jam 10 siang. Selama itukah aku menangis?!...Aargg..Gawat!.’.
Bergegas Jodha mengambil selendang untuk dililitkannya di leher dan untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Dia tidak merasa perlu berganti pakaian, yang dikenakannya sudah cukup sopan, lagipula sudah tidak ada waktu lagi. Diraihnya dompet dari atas meja lalu tergopoh-gopoh keluar rumah, setelah lebih dulu berpamitan pada Ibunya.
Nyonya Aadhya tersenyum simpul melihat tingkah putrinya, lalu dia teringat untuk menelpon seseorang dan memberitahu bahwa rencana mereka berhasil.
Jodha mengumpat penjang lebar dalam hatinya, tranportasi kota Mumbay memang tidak bisa diandalkan untuk orang yang sedang dikejar waktu seperti dirinya. Macet, panas dan berputar-putar.
Saat menjejakkan kakinya di bandara, sekilas Jodha melirik arlojinya. Hanya tersisa lima menit sebelum jam 2, itupun kalau pesawatnya take off jam 2 lebih. Saat-saat seperti ini, dia sangat mengharapkan pesawat itu delay untuk beberapa menit atau bahkan beberapa jam juga tidak apa-apa. Doa yang pasti akan ditentang oleh penumpang manapun di dunia, tapi itu satu-satunya cara mencegah Jalal pergi.
Dengan napas terengah-engah, Jodha berjalan meliuk-liuk diantara padatnya calon penumpang di bandara internasional Mumbay. Kakinya melangkah cepat menuju terminal keberangkatan. Semoga saja Jalal masih antre di depan boarding desk atau masih duduk di ruang tunggunya. Ya Tuhan, tolong jangan biarkan cerita drama terjadi dalam hidupku, saat pemeran utamanya sekuat tenaga mengejar sang kekasih yang akan pergi, dan ternyata dia sudah terlambat...Semoga aku belum terlambat...
Akhirnya....
Disana.
Itu Jalal. Jodha melihatnya dan dia berteriak memanggilnya. Beberapa orang yang berdiri di dekatnya ikut menoleh karena penasaran.
Dengan senyum terkembang di wajahnya, Jodha berjalan ke arah Jalal. Namun senyum lebar Jodha rupanya tidak mendapat respon yang sama dari Jalal. Wajah pria itu tetap kaku dan datar.
“Kau tidak perlu repot-repot mengantarku.”
“Aku datang bukan untuk mengantarmu...aku ingin menahanmu untuk tidak pergi..”
“Untuk apa?”
“Kita masih punya urusan yang belum selesai.”
“Apa itu?”
“Jawabanku...”
“Kau bisa menjawabnya lain kali.”
“Tidak bisa. Harus sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena aku mencintaimu.”
“Benarkah?! Apa itu penting?”
“Jangan terlalu sinis, Jalal. Jangan membuatku menyesal karena sudah menghalangimu pergi...”
Jalal menarik napas panjang, seperti berusaha meredam emosinya sendiri.
“Sudah, aku tidak ingin berdebat lagi. Pulanglah dengan taksi....”
Jodha tergagap, mulutnya bergerak-gerak berusaha bersuara tapi yang keluar hanya udara kosong tanpa arti. Jalal membalikkan badannya dan tak lupa menyeret koper besar di samping kakinya.
“Selamat tinggal...Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi...” pamit Jalal dengan suara pelan dan sedih.
Saat Jalal mulai melangkah, dirasakannya ada tangan yang menarik kemeja di bagian punggungnya, membuatnya tidak bisa melangkah lebih jauh. Dia berbalik dan melihat tangan Jodha yang menggenggam erat kemejanya dan menariknya kuat-kuat. Kemudian pandangannya beralih pada Jodha, dilihatnya wajah gadis itu sembab karena air mata. Dia menangis tanpa terisak, mungkin gadis itu sendiri tidak sadar dia sedang menangis.
“Jangan pergi....”
Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Jodha.
Hati Jalal luluh, dia tidak tega melihat gadis tercintanya berurai air mata di tempat umum. Orang akan menganggap dia pria tak berperasaan yang tega menyakiti perasaan gadisnya begitu dalam. Lalu Jalal menuntun Jodha duduk di salah satu bangku kosong di area tunggu bandara tersebut.
Dengan lembut, Jalal menyeka air mata di wajah Jodha dengan jari-jari tangannya.
“Kenapa kau lakukan ini padaku?!” tuntut Jodha tanpa membutuhkan jawaban, “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan menangis lagi hanya karena seorang pria. Jadi kenapa aku bisa menangisimu? Apa yang kau punya hingga aku tidak bisa melepaskanmu?! Katakan padaku, Jalal, katakan, apa yang sudah kau lakukan padaku...?!” ujar Jodha di sela isaknya, sambil mengguncang-guncangkan kemeja Jalal yang masih digenggamnya.
Jalal hanya bisa menahan senyumnya mendengar pertanyaan-pertanyaan Jodha.
“Karena hanya aku yang bisa menaklukkan hatimu dan logikamu yang sekeras batu itu...”
Jodha terdiam beberapa saat, mencerna dalam-dalam jawaban yang baru saja dilontarkan oleh Jalal.
“Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku mengantarmu pulang atau kau bisa pulang sendiri.”
“Jalal, dengarkan aku baik-baik. Kau boleh pergi....tapi nanti.. setelah kau setuju menikahiku!” Jodha menjawab dengan nada seolah mengancam.
Spontan tawa Jalal meledak mendengar jawaban penuh percaya diri dari Jodha. Tak menyadari wajah gadis di depannya makin ditekuk kesal karena berpikir Jalal sedang menertawakan dirinya.
“Ini tidak lucu.”
“Tidak, maaf..aku tidak bisa menahan diri...” kata Jalal di sela tawanya. “Jadi ini lamaran atau ancaman?!”
“Keduanya.”
“Bagaimana kalau aku menolak?!”
“Kau hanya punya satu kesempatan.”
“Ironis sekali, sekarang keadaan kita berbalik. Kemarin aku yang mendesakmu, sekarang kau yang mengancamku. Apakah seharusnya aku memasang wajah ketakutan?.” pancing Jalal dengan nada yang lebih terdengar seperti ejekan di telinga Jodha.
“Hentikan, Jalal. Aku tidak bisa sepertimu. Ya atau Tidak. Sekarang. Aku tidak mau mati karena penasaran. Dan satu hal, meski kau menolakku, tenang saja, aku tidak akan bunuh diri.”
“Aku selalu menyukai semangatmu.”
Jodha berhenti membalas, dia hanya menatap Jalal dengan sorot mata yang sulit diartikan, perpaduan antara berharap, gusar,takut dan juga menantang.
Jalal juga terdiam, mengatupkan bibirnya, namun matanya tak pernah lepas dari wajah gadis di hadapannya.
“Baiklah..” kata Jalal akhirnya, “Ayo kita menikah.”
Tanpa sadar Jodha menarik napas lega dengan suara keras dan tubuhnya jatuh terduduk tepat di kursi di belakangnya.
“Kenapa kau malah duduk?! Ayo kita pulang. Kita harus menyiapkan pernikahan kita...”kata Jalal dengan bersemangat membuat Jodha tertegun melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah.
Kemudian pria itu mengulurkan tangannya dan secara otomatis Jodha menyambutnya. Bahkan Jodha menurut saja saat Jalal menarik tubuhnya berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
“Tunggu! Bagaimana dengan penerbanganmu?! Pekerjaanmu?! Apa tidak masalah kau membatalkannya begitu saja?!” tanya Jodha sedikit cemas.
“Tenang saja. Aku akan mengatur ulang semuanya.”
“Begitu saja?” Jodha menyipitkan matanya dengan penuh curiga sambil terus berjalan di belakang Jalal.
“Tentu.” jawab Jalal tenang.
Tiba-tiba Jodha menarik lepas tangannya dari genggaman Jalal dan menghentikan langkahnya, membuat Jalal menoleh ke belakang, tatapannya disambut dengan  wajah Jodha yang kaku. “Jadi kau mempermainkan aku!?”
Jalal pura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan Jodha.
“Tidak...hanya saja penerbangan Mumbay-Delhi hanya butuh beberapa puluh menit saja. Aku bisa melakukannya lain waktu.” Jawab Jalal tenang sambil menahan senyum.
“Delhi?! Hanya ke Delhi?! Dan aku sudah membuang waktuku, menangisi kepergianmu, yang ternyata hanya ke Delhi?!.....”
Jodha menggertakkan giginya dengan kesal.
“Tidak perlu kesal seperti itu..”
“Jadi kau sudah merencanakan semua ini?!”
Jalal hanya tersenyum bodoh sambil mengangkat bahunya acuh, “Aku akan melakukan apa yang memang harus kulakukan.”
Dan Jodha tidak terkejut pada jawaban yang didengarnya. Dia yakin Jalal memang orang seperti itu, sangat gigih untuk mendapatkan keinginannya. Dalam hati Jodha tidak keberatan pada sikap mendominasi seperti itu, hanya saja dia masih sulit percaya semua ini terjadi pada dirinya, gadis sederhana dari keluarga biasa, tanpa kelebihan yang menonjol, hanya  prinsip dan kepribadiannyalah yang bisa dibanggakannya.
Masih banyak yang ingin ditanyakannya, tapi dia bisa menahannya untuk saat ini. Hanya demi menikmati momen ini. Momen sederhana tapi cukup manis untuk dikenang.
Ada kelegaan luar biasa saat mengetahui Jalal tidak akan pergi meninggalkannya, seperti meneguk segarnya air di bawah teriknya hari. Bahkan saat inipun yang bisa dirasakannya hanyalah genggaman hangat tangan Jalal di jemarinya. Fakta bahwa pria itu sudah melakukan kebohongan kecil dan sempat membuat perasaannya jungkir balik, semua itu terlupakan.  
Jodha tidak sadar kapan mereka mulai berjalan meninggalkan bandara atau kapan dia masuk ke dalam mobil Jalal, atau bahkan ke arah mana Jalal membawanya pergi. Dia seperti melayang di tengah mimpi indah. Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di depan sebuah pintu sebuah apartemen.  
Seorang gadis menyambut mereka begitu Jalal membuka pintu itu. Jodha teringat, gadis itu pernah dilihatnya bersama Jalal di lobi kantor beberapa waktu lalu. Monita, adik perempuan Jalal, yang pernah salah disangkanya sebagai kekasih pria itu.
Gadis itu tersenyum dengan lebar sambil memandanginya, membuat Jodha canggung dan bingung, “Jadi, rupanya misi kakakku berhasil..?”
“Eh...?”
Jodha tidak mengerti arah pertanyaan gadis itu, membuatnya hanya bergumam ah-eh tidak jelas.
“Kakakku bilang, dia pergi untuk membawa calon istrinya datang kemari...” Monita bicara sambil melirik ke arah Jalal yang sedang melewatinya sambil membawa masuk koper besarnya.
Butuh beberapa saat bagi Jodha untuk memahaminya, “Oh, apa dia terlihat sangat yakin saat mengatakan itu?! Apa jadinya kalau misinya gagal?”
“Sebaiknya kalian berdua jangan terlalu akrab. Mulut besar adikku ini bisa membongkar semua rahasiaku...” potong Jalal pura-pura ketus.
Jodha dan Monita sama-sama terkikik geli, menandai persekongkolan baru diantara mereka.
Jalal masuk ke sebuah kamar, meninggalkan Jodha berdua dengan Monita di ruang tamu.
“Maafkan aku, karena begitu gembira aku sampai lupa menyambutmu. Selamat datang di rumah ini, Kakak.” Ucap Monita dengan kegembiraan yang tulus.
“Terima kasih. Aku ingin balas mengundangmu ke rumahku, tapi apartemenku jauh lebih kecil dari ini.” Jawab Jodha dengan suara makin pelan sambil memperhatikan setiap sudut apartemen mewah itu. Ruangan yang luas dihiasi dengan perabot yang sangat mahal,  jauh dari yang mampu dibelinya meski dengan jumlah gajinya seumur hidup. Menyadarkannya kembali betapa berbedanya dirinya dengan Jalal.
“Bukan masalah. Kita akan jadi keluarga. Cukup kau menganggapku seperti adikmu sendiri, itu sudah lebih dari apapun...” jawab Monita, membuat Jodha terharu.
“Jodha, kemarilah...aku ingin bicara,” panggil Jalal dari sebuah pintu, memotong pembicaraannya dengan Monita.
Wajah Jodha langsung merona mendengar Jalal memanggilnya, apalagi Monita ada di sebelahnya.
“Se...sebaiknya kau saja yang kesini.” Balas Jodha dengan suara sedikit gugup.
“Kak Jodha, kau masuk saja kesana. Aku akan pura-pura tidak melihat atau mendengar apapun.” ujar Monita sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Eh...jangan...itu...” Jodha gelagapan, tapi Monita tetap pergi meninggalkannya.
Akhirnya, dengan langkah kesal, Jodha berjalan menuju tempat Jalal memanggilnya.
“Apa yang begitu penting hingga harus....bicara di sini...” suara Jodha perlahan menghilang begitu dia menyadari ruangan apa yang sedang dimasukinya.
Kamar pribadi Jalal.
Tanpa sengaja, pandangannya langsung tertumbuk ke arah ranjang super size tepat di ujung ruangan. Spontan wajahnya merona saat khayalan tak senonoh terlintas di pikirannya, membayangkan tubuh maskulin Jalal rebah di atas ranjang itu. Buru-buru dia mengalihkan pandangannya, dan langsung bertatapan dengan mata Jalal yang sedang tersenyum ke arahnya.
“Aku ingin mengesahkan kesepakatan kita.” Ucap Jalal dengan suara lebih berat.
“Kesepakatan?”
“Pernikahan kita.”
Jalal merogoh ke dalam saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam. Sebuah cincin terdapat di dalamnya dan langsung disematkan pada jari manis Jodha, sebelum gadis itu terpikir untuk menolaknya dengan berbagai alasan tak masuk akal menurut Jalal.
Jodha memandangi jarinya yang tersemat cincin dengan berjuta perasaan saling tumpang tindih.
“Apa kau yakin?” tanya Jodha ragu.
“Apa aku harus mencari perbandingan dengan wanita lain dulu?”
“Maksudku, kenapa aku?”
“Apa aku butuh alasan untuk jatuh cinta?”
Jodha tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
“Kenapa secepat ini? Apa kau tidak ingin pelan-pelan mengenalku lebih dulu?... Dan...Bagaimana jika suatu saat kau merasa telah salah menikah denganku? Bagaimana seandainya cinta ini tidak kau rasakan lagi?” tanya Jodha hampir menangis.
“Jika memang itu yang terjadi, maka kau harus berusaha membuatku jatuh cinta padamu lagi. Karena aku juga akan selalu membuatmu jatuh cinta padaku setiap hari...”
Lalu Jalal menambahkan sambil meraih kedua tangan Jodha ke dalam genggamannya, “Dalam kehidupan pernikahan kita, aku lebih memilih kita bertengkar, berdebat dan saling berteriak karena itu menunjukkan adanya gairah dan perasaan yang nyata di antara kita, daripada kita saling diam, tertutup dan menyimpan rahasia dari pasangan karena hubungan seperti itu adalah kepura-puraan yang sia-sia...”
Akhirnya Jodha merasa lega, dia bisa yakin Jalal tidak akan meninggalkannya meski nanti mereka akan menghadapi masalah dalam rumah tangga yang akan mereka bangun.
“Hanya satu yang tidak akan kutolerir.... Aku tidak tahan jika kau memikirkan pria lain selain aku, karena itulah secepatnya aku akan menikahimu, jadi kau tidak akan punya kesempatan membandingkan diriku dengan pria lain,” tegas Jalal.
Jodha tidak mampu berkata-kata, dia hanya bisa tersenyum dan membalas genggaman tangan Jalal dengan sama eratnya.
“Dan kesepakatan ini harus disegel....dengan ciuman...” kata Jalal
Seketika raut wajah Jodha berubah sedikit panik begitu mendengar kata ‘ciuman’ disebut.
“A...apa?!”
“Hanya sebuah ciuman. Kenapa kau kelihatan panik?! Apa kau takut?! Atau jangan-jangan kau belum pernah.....” cecar Jalal sambil mendesak tubuh Jodha hingga merapat dan menempel pada pintu yang tertutup.
Jodha yang terdesak mencoba berdalih, “Takut?! Untuk apa aku takut?! Ciuman itu hal biasa... aku sudah berpengalaman.....”
Hanya sampai di situ kata-kata yang bisa diucapkan mulut Jodha karena detik berikutnya mulut itu sudah tertutup dan dikulum dengan nikmat oleh Jalal. Satu detik pertama, Jalal hanya ingin mencecap rasa manisnya, tapi dia belum merasa puas, berlanjut sepuluh detik untuk meresapi kekenyalannya, tapi dia belum juga merasa puas. Hingga entah berapa detik atau menit berlanjut saat mereka berdua saling menikmati dan memuaskan kerinduan yang telah mereka tahan. Tubuh mereka saling menempel, napas mereka saling berpadu, lidah mereka bermain di dalam mulut mereka yang saling bercumbu. Jalal memperhatikan kelopak mata Jodha yang tertutup dan ada gairah kuat dalam dirinya yang ingin mencium kelopak mata itu, namun ditahannya kuat-kuat. Karena jika dia tidak berhenti saat itu juga, maka semuanya akan lepas kendali.
Dengan napas yang masih berat, Jalal menghentikan kecupannya dan menjauhkan tubuhnya dari Jodha, hanya beberapa centi saja, memberikan cukup ruang bagi udara segar untuk masuk di antara mereka.
“Kau wanita yang berbahaya. Kau lihat sendiri bagaimana kuatnya pengaruhmu pada tubuh dan pikiranku.” Ujar Jalal di sela napasnya yang terengah-engah, “Besok, kau buat surat pengunduran diri....”
Jodha tidak siap dengan perubahan arah pembicaraan yang tiba-tiba ini.
“A...apa..apa maksudmu?!” tanya Jodha.
“Kau harus berhenti bekerja.”
“Kenapa?!” tuntut Jodha
“Aku tidak bisa bekerja dalam satu ruangan denganmu, karena kau bisa mengganggu konsentrasiku. Belum lagi kalau nantinya ada pertentangan kepentingan di antara kita, itu akan memperngaruhi keputusan yang harus kubuat untuk perusahaan. Menikah denganku, kau tidak perlu bekerja pada orang lain,” jawab Jalal dengan lebih lunak.
“Aku akan memikirkannya. Kita akan membicarakannya lagi nanti,” elak Jodha.
“Besok kau buat surat pengunduran dirimu atau....Aku akan memecatmu,” tegas Jalal.

*************







From YM To Your Heart Part 13

11 comments:

  1. Favorit bgt cerita ini, karakter tokohny aq suka.. wlwpun lamanya ga ketulungan

    ReplyDelete
  2. Makasi bunda postingannya, akhirx rasa rinduku terobati juga senang sekalii bangun pagi2 dah disuguhkan from YM heart

    ReplyDelete
  3. senang bangeet....yg lama ditunggu..... penasaranx terobati jg....semangat min...ditunggu kelanjutanx.....

    ReplyDelete
  4. Akhirnya jodha setuju jg utk menikah,kami tetap selalu menunggu kelanjutannya mba meskipun lm gpp,partnya jgn tinggal 1 lg dong mba,smg bs dutambah bbrp part lg ya,soalnya suka dgn cerita ini 😊😊😊

    ReplyDelete
  5. Akhirnya , sebelumnya sdh hopeless tdk dilanjutkan.
    Terima kasih , jangan lama ya,,,

    ReplyDelete
  6. makasih kak udah post lagi kelanjutannya, akhirnya mereka berdua akan menikah, suka deh sama idenya jalal yang ngerjain jodha

    ReplyDelete
  7. Kak bkin khupan mereka stlah nikah donk dan Jodha ngidam aneh2 trus epilog deh heeeeee

    ReplyDelete
  8. Terimakasih yaaaaaa....
    Yabg terakhir jangan lama2 yaaaa.....

    ReplyDelete
  9. Akhirnya muncul jg ff ini...asyik Jodha dibuat klepek2 ama Jalal..

    ReplyDelete
  10. Akhirnya muncul jg ff ini...asyik Jodha dibuat klepek2 ama Jalal..

    ReplyDelete
  11. akhirnya yang lama ditunggu keluar juga... trims min... next nya jangan lama-lama dong...

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.