Rahasia Hati Part 15 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 15 - By : Erinda




 
Jodha menghapus air matanya yang tak terasa mengalir sedang Rajatha dalam hati ia berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan Faridha dalam hidupnya, cukup sampai disini penderitaan yang dialami gadisnya itu. Tidak akan ada lagi setelah ini.
^^^
Malam harinya setelah makan malam,..
Jalal dan Jodha duduk bersama di satu sofa begitupun dengan Rajatha dan Faridha, juga tidak ketinggalan Audrey bersama kekasihnya, David yang baru saja datang beberapa jam lalu.

Sejak tadi Rajatha tidak mau jauh-jauh dengan Faridha, maklum saja mereka baru resmi menjadi sepasang kekasih siang tadi, dan itu membuat Jalal dan David tidak berhenti menggodanya.

“Baiklah sudah cukup Jagoan, sudah malam. Lama-lama Papa menikahkan kau dengan Faridha malam ini juga melihat sorot matamu yang seolah inging menerkamnya sejak tadi. Sebaiknya kita semua tidur. Ayo” Kata Jalal akhirnya dan mengajak Jodha bangkit.,

Rajatha hanya tersenyum-senyum saja sedangkan David dan Audrey tertawa mendengarnya, dan Faridha ia kembali menyembunyikan wajahnya dibalik badan Rajatha, wajahnya sudah seperti kepiting rebus digoda sejak tadi.

“Ajak David tidur dikamarmu Rajatha, dan Faridha bersama Audrey dikamar tamu ya” Jodha menimpali sebelum masuk kamarnya bersama Jalal
“Hhhh,,, Baru jam 10 Mah, aku belum ingin tidur, kau juga kan Sayang?” Tanya Rajatha pada Faridha, ia mengedipkan sebelah matanya sebagai kode agar Faridha meng-iyakan pertanyaannya, namun Faridha segera beringsut dari sana ia menolak kode Rajatha karena dia juga sudah mengantuk dan ingin beristirahat lagipula ia sudah tidak sanggup lagi menahan malu jika harus digoda lagi oleh Jalal dan David.

“Aku sudah mengantuk Mas, ayo Audrey” Jawab Faridha dan mengajak Audrey
“Hahaha,,,, Sudahlah Bro, masih ada hari esok lagipula Om Jalal akan menikahkan kalian bulan depan kan, bersabarlah” Kata David
^^^
Kini Faridha dan Audrey sudah berada didalam kamar dan bersiap untuk tidur, tadi siang perasaan Faridha memang tak menentu melihat sikap Audrey terhadap Rajatha, namun setelah mendengar penjelasan dari Jodha dan juga melihat kemesraan Audrey bersama David membuat perasaan Faridha jauh lebih baik.

“Astaga, kenapa aku jadi se-posesif ini padahal aku baru saja menjadi kekasihnya, rasanya aku sangat tidak rela melihatnya dekat dengan gadis lain. Bagaimana jika dia meninggalkanku karena aku terlalu mengekangnya nanti. Tidak Tidak. Jangan sampai itu terjadi” Batin Faridha tanpa sadar ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena pikiran konyolnya tersebut

“Kak,,, Kak Faridha? Kau baik-baik saja?” Panggil Audrey pada Faridha
“Hah? Ah,, Iya, aku baik-baik saja. Maaf jika aku mengganggu tidurmu” Kata Faridha tidak enak
“Tidak, aku juga belum terlalu mengantuk sebenarnya. Eem,, Aku ingin mengatakan sesuatu, apa kau mau mendengarnya Kak?” Tanya Audrey
“Eemm,,, Tentu, katakan saja” Kata Faridha, sedikit demi sedikit mereka sudah mulai akrab
“Sebelumnya aku minta maaf atas sikap ku tadi siang, aku sadar aku sudah bersikap kekanakan tadi. Pertemuan pertama yang tidak menyenangkan ya. Hehee” Audrey mulai berbicara, Audrey adalah gadis yang ceria dan bisa membuat siapa saja mudah akrab dengannya termasuk Faridha.
“Tidak apa-apa, tapi apa aku boleh tahu alasannya kenapa kau seperti itu? Aku tidak merebut Mas Rajatha darimu kan?” Tanya Faridha
“Hahahaa,, Tentu saja tidak, mau dikemanakan David-ku”
 
“Lalu?”
“Hhmm,,,, Aku hanya kesal saja tadi karena diabaikan olehnya. Sejak dia mengantarku ke kamar dia langsung pergi dan tidak menemuiku lagi, padahal dia sangat tahu kalau tidak ada David maka dengan dialah aku menghabiskan waktu ku, dia bisa membuatku tidak merasa bosan jika kami sudah bersama, tadi dia bahkan mengabaikanku semua panggilan dan pesanku dan saat aku sudah menemukannya, ternyata dia sedang bersama seorang gadis yang belum pernah aku kenal, parahnya dia mengenalkan gadis tersebut sebagai calon istrinya. Bagaimana? Apa menurut Kakak aku tidak boleh marah tadi?” Tanya Audrey serius tapi membuat Faridha tersenyum-senyum, Audrey sangat lucu
“Eemm,, Bagaimana ya?” Kini Faridha menggoda Audrey
“Ahhh,,, Kakak juga menyebalkan ternyata, memang cocok dengan Kak Rajatha. Huffh” Audrey mendengus kesal, Faridha tertawa karena ulahnya
“Hehehee,,, Perlu kau tahu Audrey, aku adalah gadis yang posesif dan aku tidak rela jika kekasihku dekat dengan gadis lain” Goda Faridha lagi
“Ya Tuhan,,,, Apa Kakak cemburu padaku?” Tanya Audrey tidak percaya
“Menurutmu?”
“Hey calon kakak ipar. Mana ada orang cemburu pada adik kekasihnya sendiri”
“Tapi kalian kan bukan saudara kandung”
“Iya, tapi kami sudah dekat sejak kecil bahkan kedua orang tua kami bersahabat sejak dulu jadi kami sudah seperti saudara”
“Tetap saja Audrey. Tidak ada yang tidak mungkin kan”
“Ohh,, Jadi Kakak berpikir akan ada yang “mungkin-mungkin” diantara aku dan Kak Rajatha, begitu? Hhmm,, Not bad. Siapa yang tidak mau menjadi kekasih Kak Rajatha yang tampan, pintar dan kaya itu” Kini Audrey balik menggoda Faridha
 
“Audrey?! Kau,,,,” Faridha sontak tidak rela mendengar ada gadis lain yang memuji-muji kekasihnya itu
“Aaawwwwhhhh” Audrey mengaduh kesakitan karena dilempar bantal secara tiba-tiba oleh Faridha

Audrey pun tidak mau kalah, dia juga membalas Faridha. Akhirnya mereka berkejar-kejaran dan berteriak tidak karuan didalam kamar tamu tersebut, Jalal yang baru saja dari dapur dan melewati kamar mereka langsung mengetuk pintu dan memanggil Faridha serta Audrey dari luar, takut ada sesuatu yang terjadi diantara mereka didalam sana.

“Farida. Audrey. Ada apa. Buka pintunya, biarkan Papa masuk” Kata Jalal sambil terus menggedor-gedor pintu kamar
 
“Papa?” Ucap Faridha dan Audrey berbarengan dan seketika menghentikan perang aneh, keduanya langsung memperbaiki diri dan membereskan tempat tidur yang entah sudah seperti apa bentuknya, sesekali mereka tertawa bersama.
 
“Astaga,,, Ada apa ini, tadi berteriak sekarang tertawa keras sekali. Ada apa dengan mereka” Khawatir Jalal dengan masih menggedor pintu dari luar

“Hay Pah” Sapa Audrey ceria seperti biasanya pada Jalal
Jalal tidak menyahuti sapaan Audrey, dia langsung masuk ke kamar dan meletakan segelas susu putih hangat yang tadi dibuatnya, ia lalu memeriksa sudut-sudut kamar, jendela dan kamar mandi memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan atau bahkan membahayakan Faridha dan Audrey didalam sana.

Faridha dan Audrey yang melihat itu hanya memperhatikan dengan bingung.

“Emm,,, Papa cari apa?” Tanya Faridha akhirnya
“Iya, Papa cari apa sih Pah? Biar Audrey sama Kak Faridha bantu cariin” Timpal Audrey

Jalal memandang curiga pada Audrey dan Faridha, membuat kedua gadis itu jadi salah tingkah
“Kenapa kalian berteriak-teriak seperti tadi, hmm?” Tadinya Jalal khawatir kalau mereka berdua bertengkar, tapi mana ada orang yang bertengkar sambil tertawa keras seperti yang tadi dia dengar
“Itu, tadi,,,, ada terbang,,, tikus Pah,,” Jawab Audrey terbata hingga menghasilkan jawaban konyol yang semakin membuat Jalal menatap curiga padanya. Faridha melotot kearah Audrey
“Oh,,Sorry,, Ke,,kecoa terbang maksudnya Pah,, Hehehe. Peace” Kata Audrey lagi seraya mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf “V”

Faridha menghembuskan napas lega, jangan sampai Jalal tahu kalau tadi mereka ribut-ribut karena Audrey yang menggodanya tentang Rajatha hingga, bisa malu sekabupaten dia, belum lagi jika Rajatha juga tahu, hhhh.

“Anak Papa tidak berbohong” Jalal menjentikan jarinya ke kening Audrey, membuat Audrey meringis pelan, namun ia masih sempat tertawa cekikikan setelahnya.
Jalal menggeleng melihat kelakuan keduanya yang masih terlihat salah tingkah, mereka seperti pencuri yang tengah kedapatan saat sedang mencuri Mangga muda milik tetangga.

“Ya sudah, sekarang tidurlah. Ini sudah larut malam, tidak baik anak gadis tidur terlalu malam. Papa keluar dulu” Pamit Jalal pada keduanya setelah sebelumnya mencium kening Faridha dan Audrey bergantian.

Jalal mengambil segelas susu putih yang tadi ia letakan diatas meja dan Audrey yang kepo tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak bertanya
“Susu nya buat siapa Pah? Kok cuma segelas? Buat Mama mana?” Cerocos Audrey
“Buat Mama dan Papa, satu gelas bersama rasanya lebih nikmat juga,,,,romantis” Jawab Jalal tersenyum mempesona, jika saja Jodha berada disana pasti dia akan meleleh melihat senyuman maut suaminya itu.
 “So sweettttttt,,,,,,” Ucap Faridha dan Audrey berbarengan
 
Jalal menggeleng kembali melihat kelakuan aneh mereka, tadi teriak-teriak dan sekarang kompak sekali seperti kembar siam, ia segera berlalu darisana dan menutup pintu.
^^^
“Apa sekarang dapur kita pindah ke Bogor?” Tanya Jodha langsung setelah Jalal masuk ke kamarnya
“Maaf Yang Mulia Ratu Jodha, saat tadi diperjalanan menuju peraduan cinta kita ini hamba mengalami sedikit kendala” Jawab Jalal menggoda, Jalal menyodorkan  gelas susu tersebut pada Jodha-nya, Jodha tidak memegang gelasnya ia melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya, Jalal-lah yang memegang gelas tersebut, sedangkan satu tangan Jalal memeluk mesra pinggang Jodha.

“Sudah dingin” Rajuk Jodha setelah ia meminum setengah susu tersebut, biasanya susu yang mereka minum bersama adalah susu hangat seperti malam-malam sebelumnya

Jalal tersenyum miring lalu meminum dan menghabiskan susu tersebut di tempat tadi dimana Jodha meminum susunya, walau mereka sudah melakukan hal kecil seperti ini hampir tiap malam tapi Jodha selalu tersipu saat Jalal melakukannya.
Jalal meletakan gelasnya diatas meja yang berada disampingnya, kemudian meraih bibir istrinya dengan bibirnya, ciumannya pun terbalas yang semakin lama semakin dalam.

“Bagaimana? Apa sudah hangat sekarang, Sayang?” Kerling Jalal menggoda
Jodha menggigit kecil telinga Jalal sebagai jawabannya, Jalal mengerang kecil dan langsung menggendong istri tercintanya menuju peraduan sakral cinta mereka.
^^^
Esok harinya, selesai sarapan bersama.
David dan Audrey sudah pergi, mereka memulai liburan mereka disini, Rajatha dan Faridha pun berpamitan untuk bekerja.

“Stop,,Stop,,,Mas” Kata Faridha tiba-tiba
“Ada apa Sayang?” Tanya Rajatha lembut, membuat Faridha bersemu mendengar panggilan mesra Rajatha padanya
“Ehm,,, Aku turun disini saja ya Mas, jangan sampai depan lobby kantor”
“Lho, kenapa?”
“Apa tanggapan orang-orang kalau melihat sang pemilik perusahaannya datang ke kantor bersama office girl”
“Kau calon istriku Sayang, tidak ada office girl-office girl”
“Tapi,,,,”
“Tidak ada tapi-tapian Sayang, ikut aku. Kita turun bersama disana”
“Maassss” Rengek Faridha
“Hhhhh” Rajatha mendengus sebal
“Mas, aku hanya belum siap jika mereka semua memandang rendah padaku, aku yang baru saja menjadi office girl disini sudah langsung bekerja diruangan yang sama denganmu dan tiba-tiba sekarang turun dari mobil mewah bersama denganmu, mereka mungkin akan mengatai aku gadis perayu, penjilat dan,,,,”
“Sssttt,,,,” Rajatha meletakan jari telujuknya di bibir Faridha, ia tidak sanggup jika mendengar hal-hal mengerikan itu diarahkan pada gadisnya nanti.
“Turunlah” Kata Rajatha akhirnya, Faridha tersenyum
“Aku mencintaimu” Kata Rajatha lagi dan mencium kening Faridha sebelum gadis itu turun dari mobilnya.
“Jangan kemana-mana, langsung menuju ruangan kita”
“Baiklah Pak Rajatha” Jawab Faridha sambil tersenyum manis
^^^
“Kenapa lama sekali?” Tanya Rajatha pada Faridha, ia sudah tiba diruangannya sejak 20 menit yang lalu
“Aku kan jalan kaki” Jawab Faridha sekenanya, ia ingin duduk sebentar setelah berjalan dan naik tangga menuju ruangan ini. Lift karyawan sangat penuh di jam-jam seperti ini, dirinya yang hanya seorang office girl tidak mungkin memaksa masuk sedangkan karyawan kantor lain masih banyak yang mengantri, lift yang kosong dan tidak pernah berdesak-desakan adalah lift khusus para petinggi perusahaan ini, dan itu sangat MUSTAHAL ia bisa masuk dan menggunakannya.

Hingga akhirnya ia memutuskan untuk naik tangga agar bisa lebih cepat sampai, jadi tidak bisakah Rajatha membiarkannya duduk sebentar saja sekarang,,huffhh

“Kalau begitu, besok aku akan menyuruh sopir ku yang menjemputmu disana” Kata Rajatha, Faridha memutar bola matanya
“Mas, apa bedanya kalau begitu, semua orang akan tahu itu mobilmu bahkan aku jadi terlihat lebih special karena itu” Jawab Faridha, kini ia sudah duduk di kursinya dan memijit-mijit kecil betisnya
“Kau memang special, Sayang” Bisik Rajatha tepat di telinga Faridha
“Mm,,,Mass” Gugup Faridha, sejak kapan Rajatha sudah berada sedekat ini dengannya.

Tiba-tiba handphone milik Rajatha berdering, ia melirik sekilas namun segera mengangkatnya begitu tahu siapa yang menelphonnya
 
“Ya Halo Mah?” Sapa Rajatha pada Jodha
“Rajatha, jangan melakukan hal yang tidak-tidak dengan Faridha disana. Ingat, kalian belum menikah. Mama tidak mau kau merusak anak gadis orang. Tunggu satu bulan lagi kau baru boleh menyentuhnya, dia itu gadis baik-baik. Kalau sampai kau melakukannya Mama akan memisahkan ruangan Faridha denganmu. Apa kau mengerti? Ah tidak,,Lebih tepatnya KAU HARUS MENGERTI”

Dan sambungan telp pun terputus, setelah memberikan kultum dengan anaknya, Jodha langsung mematikan telp nya, membuat Rajatha tidak percaya

“Kenapa Mas? Mama kenapa?” Tanya Faridha
“Bagaimana kalau kita menikah besok” Kata Rajatha tiba-tiba

BUK,,BUKK,,
Faridha memukul lengan Rajatha berulang-ulang
“Aaww,,,”
“Huuffhhh,,, Mas pikir nikah itu mudah?! Astaggaaa,,, Bahkan Mas sendiri belum mengenalkan diri dengan Kak Ardhan dan Mbak Lavina. Main nikah besok aja” Kesal Faridha
“Hehehee,,, Sorry sayang, bagaimana kalau sore ini aku menemui mereka”
“Hhmm,,, Terserah”
“Ok, aku anggap itu sebagai persetujuan. Oh ya, tolong buatkan aku kopi ya”
“Tapi tadi pagi bukannya Mas sudah minum kopi buatan Mama?”
“Itu kan buatan Mama sayang, buatanmu belum”
“Tidak baik meminum kopi terlalu sering”
“Kalau begitu “Kopi” yang lain dan kau tidak boleh menolak” Ucap Rajatha misterius
“Kopi yang lain? Apa itu?”
“Kopi,,,nang Kau Dengan Bismillah”

*EEEEEAAAAAAAAA*
_______________________________________

- To Be Continue -


Rahasia Hati Part 15 - By : Erinda

1 comments:

  1. Aw aw aw aw aw pasangan ini selalu buat saya ngga bisa mingkem klo baca cerita ini hahahahhaha

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.