Is It Hate Or Love | Chapter 38 Part 2 - ChusNiAnTi

Is It Hate Or Love | Chapter 38 Part 2


Written By Bhavini Shah
Translate By Tyas Herawati Wardani


Upacara Pertukaran Cincin
Upacara ini dilaksanakan dengan sangat meriah. Ruangannya diatur mirip seperti Diwan E Khaas tapi dengan lebih banyak kursi dan ditempatkan di aula yang jauh lebih luas. Satu sisi diperuntukkan bagi orang-orang Mughal dan sisi lainnya untuk para Rajvanshi. Kursi utama diperuntukkan bagi Jodha dan Jalal. Di dekat kursi mereka diperuntukkan bagi keluarga Jalal dan keluarga Jodha.

Para kerabat dan sahabat mulai berdatangan dan menempati kursi masing-masing. Satu per satu dengan didahului pengumuman, masuklah Hamida Banoo, Mainavato, Sujamal, Maan Singh, Kakak-kakak Jodha, Bhabhi, Bakshi Banoo, Salima begum, Surya, Leela, Sukanya, Shivani, Abdul, Mirza dan kerabat kerajaan lainnya. Raja Bharmal juga telah hadir dan duduk di sebelah singgasana.
Setelah semuanya siap, Jalal berjalan menuju kamar Jodha, sesuai aturan, keduanya akan masuk ke dalam aula bersama-sama.
Jodha menatap cemberut pada Jalal dan berkata sinis, “Siap untuk tantangannya Shenshah?”
Jalal tidak menjawab, hanya memandangnya lurus-lurus. Keduanya berjalan bersama dalam diam.
Kebisuannya justru mengusik Jodha, dia bertanya dengan marah, “Shenshah, aku sangat kecewa denganmu.”
Dengan suara berat, Jalal menjawab, “Aku tahu.”
Jodha bicara dalam hati, ‘Oh...apa yang sedang dipikirkannya?? Apa yang direncanakannya??? Bagaimana nasib Surya dan Sukanya?? Lalu soal tantangannya??? Kenapa dia tenang-tenang saja??? Wajahnya tanpa ekspresi...benar-benar tenang... bagaimana dia bisa seperti itu? Dia cukup licik dan mengintimidasi. Sulit sekali menebak apa yang ada dalam pikirannya???’
Jodha bertanya hati-hati, “Shenshah, apa yang akan kau lakukan untuk tantangannya? Sepertinya kau sudah mengakui kekalahanmu.”
Jalal menatapnya dengan matanya yang gelap dan menjawab dengan suara beratnya, “Oh Jodha begum, jangan kuatirkan aku, aku sudah memutuskan apapun yang terjadi, aku akan mencium bibirmu di depan semua orang sesuai keinginanmu, harapan dan tantanganmu. Aku benar-benar ingin memberimu pelajaran jadi kau tidak akan lagi berani menantangku.” Tatapannya cukup menakutkan, tersirat ada permainan rahasia di dalamnya.
Saat itu mereka sudah hampir sampai di aula. Jodha merasa terancam dan terkejut mendengar keyakinan dalam kata-katanya. Dia ketakutan, bahkan rasanya ingin kabur saja dari acara ini. Jalal menyadari langkah Jodha yang melambat...tanpa kentara dia bersiap untuk melangkah balik... tapi sebelum dia berhasil, Jalal sudah meraih pergelangan tangannya dan berkata, “oh tidak...tidak bisa Jodha....Aku tidak akan membiarkanmu kabur lagi dari hidupku.”
Jodha berkata marah, “Jalal, jika kau akan menciumku dan mempermalukanku di depan orang-orang maka aku akan benar-benar lari dari acara ini dan kali ini percayalah, kau tidak akan pernah menemukanku.” Tampak jelas ketakutan dan kemarahan di wajah Jodha.
Pengumuman untuk kedatangan mereka telah dikumandangkan.
Ekspresi Jalal masih tetap tenang...tapi senyumnya jahatnya muncul di wajahnya.  Dia berbisik, “Oh...Jodha, kau hanya mengancamku, tantangan adalah tantangan. Kau tidak bisa mundur dan aku sudah tidak sabar menggigit bibir merah mudamu itu.”
Jodha menggerutu, “Monster.”
Jalal menyeringai dan keduanya masuk ke dalam aula bersama-sama.
Jodha tersentuh melihat begitu banyaknya yang hadir dalam acara ini, lalu keduanya pun duduk di singgasana mereka. Jalal menyadari wajah Jodha yang memucat dan suram, dia meyesal sudah membuatnya ketakutan. Dia remas tangan Jodha lembut dan berkata pelan, “Jodha.” Dia tunggu sampai Jodha melihat ke arahnya. Jodha menoleh dengan sedih. Tatapan Jalal melembut dan dia meyakinkan Jodha dengan tenang, “Aku takkan mempermalukanmu seperti yang kau pikir....jangan cemas dan percayalah padaku...semua akan baik-baik saja.”
Jodha dengan gugup bercampur takut bertanya, “Janji, Jalal??”
Jalal menatapnya penuh cinta dan meyakinkannya kembali denga remasan lebih kuat di tangannya, “Janji Jodha, kau tahu aku tidak bisa membiarkanmu cemas meski hanya sedetik....untuk setitik senyummu saja aku bersedia menyerahkan seluruh kerajaanku. Kau sangat berharga untukku.” Katanya dengan serius.
Jodha lega mendengarnya.Wajahnya kembali ceria dan tersenyum. Dia bertanya pelan, “Jadi kau tidak akan menciumku disini??”
Jalal menyeringai misterius, “Jodha, percayalah padaku.”
Jodha merasa tenang setelah Jalal meyakinkannya tapi tidak sepenuhnya juga....dia menggerutu dalam hati, “Kenapa dia membingungkan sekali?? Dia akan menciumku atau tidak??’ Jodha menghela napas berat dan bergumam dalam hati, ‘Ohh Kanha, kenapa kau menciptakan pria itu sangat manipulatif?’
Sukanya dan Leela duduk bersebelahan, sedangkan Surya duduk tidak jauh dari mereka. Beberapa orang masih mencari temapat duduknya, para pemain musik dan penari sudah siap di posisi mereka sebelum tampil.
Jalal berdiri dan menghampiri Sukanya, dan membuat banyak orang bertanya-tanya. Dia bertanya pelan, “Sukanya, aku masih menanti jawabanmu, sebentar lagi Raja Saheb akan mengumumkannya tapi aku harus memastikannya denganmu.”
Sekali lagi Sukanya menoleh dengan sedih ke arah Surya sebelum menjawab, “Jijasa, Maaf aku membuatmu menunggu, Kau dan Bapusa bisa memutuskan apapun, yang terbaik untukku menurut kalian.” Dia paksakan sebuah senyum kepada Jalal. Matanya mulai terasa panas...beberapa detik lagi semua harapannya musnah.
Jalal berjalan menghampiri Mirza dan berbicara dengan sangat pelan. Senyum lebar yang tiba-tiba muncul di wajah Jalal menyentak Surya dengan sangat hebat. Kemudian Jalal berjalan kembali ke singgasananya dan berbicara dengan Raja Bharmal. Tak satupun tindakan Jalal yang luput dari perhatian Surya dan sedikit demi sedikit dia mulai menarik kesimpulan. Dia menduga Jalal sedang membicarakan sesuatu yang ada hubungannya dengan lamaran Mira untuk Sukanya dengan Raja Bharmal. Karena tiba-tiba saja Raja Bharmal terlihat sangat senang dan bahagia.
Sukanya tak bisa leagi menahan air matanya, wajahnya memucat, dia tundukkan wajahnya dalam-dalam. Leela meremas tangan sahabatnya untuk menenangkannya dan memberikannya dukungan yang dia butuhkan, tapi Sukanya sudah merasa seluruh tubuhnya mati rasa. Jalal dan Jodha, keduanya melihat ekspresi hancur di wajah Sukanya. Jodha melirik kecut pada Surya. Sementara Surya juga merasa otaknya akan meledak karena tekanan ini. Seakan-akan jiwanya pergi dari genggamannya seperti pasir. Jantungnya berpacu cepat hingga rasanya siap meledak karena rasa takutnya yang teramat sangat.
Raja Bharmal memanggil Mainavati ke pojok ruangan untuk berdiskusi sebelum pengumuman. Akhirnya, Raja Bharmal kembali ke tempatnya duduk dan mulai bicara dengan suara lantang, “Pertama-tama aku ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang karena telah hadir pada acara ini. Kedua, aku ingin bersyukur pada Tuhan karena telah memberiku seorang Jamai yang baik dan sangat rendah hati yang memperlakukan keluarga Jodha seperti keluarganya sendiri. Hari ini Shenshah telah memutuskan akan menambahkan satu lagi keluarga Amer menjadi anggota keluarganya. Aku benar-benar senang dan bangga mengumumkan...”
Sebelum Raja  Bharmal selesai bicara, Surya memotong dengan lantang, “Raja Saheb, Kau tidak bisa melakukannya. Kau tidak boleh menikahkan Sukanya dengan Mirza. Aku mencintai Sukanya dan akan menikahinya.”
Semua orang terperangah dengan lamaran Surya yang tiba-tiba. Leela memandang kakaknya dengan mulut terbuka lebar karena tak percaya....dia bergumam kencang, “Ya Tuhan.”
Mata Sukanya melebar...sesaat tadi pikirannya tidak dapat mencerna apa yang baru saja terjadi...tapi sejurus kemudian senyum sangat lebar merekah di bibirnya.
Jalal dan Jodha saling bertukar pandang dengan tersenyum simpul.
Ini benar-benar mengejutkan dan sulit untuk dipercaya bagi Raja Bharmal. Dia tidak tahu bagaimana harus bereaksi. Dia bahkan tidak tahu alasan dibalik lamaran Surya yang mendadak di depan banyak orang dan ada hubungan apa antara Sukanya dan Mirza. Otaknya berputar berusaha mencari jawabannya.
Jalal berdiri untuk mengendalikan keadaan. Dia bicara dengan tegas, “Surya Vadan Singh, kami semua sangat berkenan dengan lamaranmu untuk Sukanya, tapi mari kita bicarakan ini secara pribadi.” Jalal menunjuk pada para penari dan memerintahkan mereka untuk tampil.
Jalal meminta dengan sopan, “Raja Saheb, aku dan Jodha ingin bicara dengan anda dan Surya Vadan Singh secara pribadi.”
Para penari tampil dengan diiringi musik yang penuh semangat, berhasil mengalihkan perhatian para tamu.
Keempatnya memasuki ruangan pribadi Raja Bharmal.
Raja Bharmal bertanya ketus, “Surya, ada apa ini? Teganya kau menghancurkan hidup Sukanya seperti ini? Kau mengumumkan terang-terangan kau mencintai Sukanya....kau tahu bagaimana tanggapan orang-orang pada kami dan Sukanya. Kami sudah menganggapmu seperti putra kami sendiri, bahkan meski orang tuamu memutuskan hubungan, tapi kami tetap  memperlakukanmu sama seperti sebelumnya, tapi apa yang kau lakukan tadi tidak bisa kami terima.”
Menyadari suasana yang sedikit tegang, Jalal berusaha menengahi, “Raja Saheb, sepertinya telah terjadi kesalahpahaman. Ketika akau datang ke Amer, aku sadar beberapa Raja Rajvanshi tidak setuju pada keputusanmu menikahkan Jodha denganku dan itulah kenapa tidak ada yang bersedia menikahi Sukanya dan Shivani. Raja Saheb, keduanya sudah kuanggap adikku juga dan aku tidak bisa melihat kalian cemas, jadi siang tadi sebuah ide muncul di kepalaku, kenapa tidak mengatur pernikahan antara Sukanya dan Mirza dan aku kenal betul siapa Mirza. Dia pasangan yang sempurna untuk Sukanya, sebelum aku membicarakannya dengan anda, aku harus mencari tahu dulu apakah Sukanya bersedia untuk penyatuan ini atau tidak. Siang tadi saat aku menanyakannya tentang Mirza dan rencana lamaran itu, kebetulan Surya juga ada disana. Lalu tadi saat kau akan memberikan pengumuman, Surya berasumsi bahwa kau akan meresmikan perjodohan Mirza dan Sukanya.” Jalal terdiam sambil mengamati ekspresi mereka semua...lalu melanjutkan, “Sukanya meminta waktu untuk berpikir tentang perjodohan itu, lalu saat aku menanyakannya beberapa menit yang lalu, terlihat jelas di matanya kalau dia menyetujuinya dengan berat hati, ditambah lagi sebelum acara ini, Jodha begum juga menyampaikan padaku bahwa Surya menyukai Sukanya dan berniat menikahinya, hanya saja dia butuh beberapa waktu untuk meyakinkan keluarganya dan meminta agar rencana lamaran Mirza ditunda.”
Jodha membelalak menatap Jalal...dan berkata dalam hati...’Ya Tuhan...dia sangat lihai...Aku tidak mengatakan semua itu tapi dia membuatku terlihat sangat baik di mata Surya...’
Surya berterima kasih pada Jodha melalui ekspresi matanya.
Sebelum ada yang menyela, Jalal kembali melanjutkan, “Raja Sahib, Surya adalah seorang pemberani, pandai dan berhati baik. Dia juga berasal dari keluarga kerajaan Rajvanshi dan Raja dari tiga wilayah. Tidak ada jodoh yang lebih baik bagi Sukanya selain Surya. Dia berani menentang  keluarganya demi Sukanya...aku yakin dia akan menjaga kebahagiaan Sukanya.”
Surya terpaku melihat kebesaran dan kerendahan hati yang ditunjukkan oleh Jalal...Dia pikir ‘Jadi selama ini aku salah telah menganggapnya sangat licik....ternyata dia sangat penuh pengertian, dia senantiasa memikirkan masa depan Sukanya dan aku sempat kecewa padanya, tapi lihatlah betapa dia mendukungku sekarang. Aku telah salah menilainya, dia pria terhormat yang sangat rendah hati.”
Setelah penjelasan yang panjang, diam-diam Jalal mengerling pada Jodha dengan matanya yang gelap itu....Jodha mulai paham seluruh rencananya dan balas tersenyum penuh arti pada Jalal.
Raja Bharmal mulai tenang dan memahami situasinya...Nada bicaranya juga mulai terkendali, “Shenshah, aku setuju pada semua yang kau katakan, benar bahwa Surya adalah pasangan yang serasi bagi Sukanya dan aku sangat senang menerima lamarannya tapi aku punya satu permintaan,  berhubung Surya mengumumkannya di depan publik. Kami akan mengumumkan perjodohan kalian hari ini juga, demi menjaga kehormatan Sukanya.”
Dengan rasa bersalah, Surya berkata, “Raja Sahib, aku benar-benar minta maaf karena menyampaikannya denga terburu-buru di depan banyak orang...aku siap untuk perjodohan ini. Adikku Lila dan suaminya juga hadir disini jadi aku tidak keberatan sama sekali.” Dia terdiam kemudian bertanya penasaran, “Shenshah, jika kau tidak keberatan, bolehkah aku bertanya?”
“Silakan Surya.” Jalal menjawab pendek.
“Setelah kau bicara dengan Sukanya tadi, kau menghampiri Mirza dan apa yang membuatnya tiba-tiba sangat senang. Kupikir dia senang karena Sukanya menyetujui lamaran itu. Itulah sebabnya aku kehilangan kesabaran.” Tanya Surya.
“Ohh..Surya, Maan Singh dan Mirza bersahabat sangat dekat dan aku memberitahu Mirza kalau aku akan memberi kejutan pada MaanSingh dengan mengangkatnya sebagai Raja di salah satu wilayah. Aku memberinya wilayah kekuasaan dengan mempertimbangkan kejujuran, keberanian, dan kesetiaannya dan itulah yang akan diumumkan oleh Raja Bharmal.” Jalal menjelaskan dengan sopan untuk menutupi kegeliannya.
Surya meminta maaf, “Shenshah, kumohon maafkan aku, aku selalu berpikir kau bukan pasangan yang baik bagi Jodha tapi aku senang ternyata pendapatku salah. Kau benar-benar pria yang rendah hati.”
Jalal tersenyum senang dan merangkulnya hangat, “Selamat datang ke dalam keluarga kami.”
Jodha tersenyum simpul dan berpikir, ‘Tak ada yang lebih lihai bermanipulasi selain dia...dia terlalu licik, lihai, penuh intrik, dan dramatis...dia mereka semua plot ini dalam kepalanya, pertama dia buat Surya mengakui cintanya pada Sukanya dengan cara membuatnya cemburu... lalu membuatnya sangat terdesak dan tertekan hingga dia melamar Sukanya di depan publik, membuatnya tak punya pilihan untuk menariknya kembali....kemudian dia membujuk dan meyakinkankan Bapusa hingga dia tampak sebagai pahlawan di mata Surya...Oh Kanha...dia sangat lihai dan tahu caranya membuat orang lain tunduk padanya bahkan tanpa mereka sadari...’
Keempatnya kembali ke tempat upacara berlangsung dengan raut bahagia. Raja Bharmal menceritakan pada Mainavati tentang hasil pembicaraan mereka, tepat saat penampilan para penari itu juga berakhir.
Setelah itu, Raja Bharmal memanggil Maan Singh dan Baghvan Das ke hadapannya dan mendeklarasikan dengan suara lantang, “Shenshah sangat terkesan dengan Pangeran Maan Singh atas kejujuran, keberanian,  dan kesetiaannya. Oleh karena itu, dia menganugerahi gelar Raja dan juga wilayah Masnabdari di Oddisa di bawah kekuasaannya. Mulai sekarang dia akan bergelar Raja Maan Singh.” Jalal berdiri dan memasangkan mahkota di kepala Maan Singh lalu merangkulnya hangat.
Setelah penobatan Maan Singh, Raja Bharmal meminta Sukanya dan Surya untuk berdiri di depannya. Wajah Sukanya terlihat berseri-seri....semua kegalauannya sirna berganti dengan rona kebahagiaan. Begitu melihat wajah Surya yang bahagia tadi, saat itulah dia yakin semuanya baik-baik saja dan ayahnya menyetujuinya. Dia sangat bangga dan tersentuh atas keberanian Surya mengakui cintanya dan melamarnya meski hal itu mengejutkan semua orang. Meski ada setitik rasa malu saat mengingat cara Surya mengatakannya di depan publik tadi...tetap saja dia merasa sangat senang!
Kini Raja Bharmal juga terdengar lebih mantap dan senang...saat dengan bangga dia mengumumkan, “Dengan bangga aku menerima lamaran Raja Suryavadan Singh untuk putriku Sukanya dan kami akan menampilkan Tilak Rasam saat ini juga mengingat banyak hal baik terjadi hari ini.”
Jodha, Shivani dan Mainavati semuanya terharu karena sangat bahagia. Sukanya dan Surya saling menatap dengan penuh cinta.
Raja Bharmal memanggil dengan hormat adik Surya, Leela, beserta suaminya untuk melaksanakan Tilak Rasam.
Mainavati, Shivani Dadisa dan kelima kakak laki-laki Jodha beserta istri-istri mereka maju bersamaan untuk melakukan Tilak Rasam. Sukanya dan Surya, keduanya begitu kewalahan menghadapi keseluruhan hari ini yang penuh emosi naik turun...mereka belum terbiasa dengan perubahan yang begitu tiba-tiba dalam hidup mereka ini. Keduanya terbuai oleh mimpi tentang masa depan mereka.
Jodha sangat berterima kasih pada Jalal atas kebahagiaan yang dia berikan pada keluarganya...dipandangnya suaminya dengan penuh cinta dan menangkupkan kedua tangannya sebagai tanda syukur. Keduanya saling menatap penuh arti.
Akhirnya tiba waktunya upacara pertukaran cincin Jodha dan Jalal. Seorang Pandit maju dan berkata, “Shenshah, jika anda sudah siap, kita bisa memulai upacara rasam pertukaran cincinnya.”
Jalal tersenyum simpul dan berbisik di telinga Jodha, “Saatnya menciummu di depan publik, Jodha begum.” Dengan tatapan misterius, dia bangkit dari singgasananya dan berkata lantang, “Sebelum Upacara Pertukaran Cincin, aku ingin memenuhi permintaan Malika E Hindustan.” Dia terdiam sejenak sambil menatap wajah setiap orang.
Dengan mulut melebar, Jodha memohon pada Kanha tanpa suara, ‘Ya Tuhan!! Ini dia....dia mulai lagi...Kanha, kumohon selamatkan aku dari hal yang memalukan ini...’ dia menoleh kesana kemari mencari jalan keluar terdekat, sehingga sebelum dia menciumnya, dia sudah bisa melarikan diri.
Dengan suara tegas, Jalal mengumumkan, “Tadi siang Jodha begum memberi tantangan terberat dalam hidupku.” Dia terdiam sejenak demi mendapatkan perhatian setiap orang, lalu melanjutkan, “Tantangannya adalah bernyanyi di depan kalian sebelum Upacara Pertukaran Cincin dan mengungkapkan seberapa besar cintaku padanya. Memang benar, dia hanya bermaksud menggodaku dan sekedar bercanda, tapi setiap katanya...setiap keinginannya adalah segalanya untukku.”
Semua orang tampak terpesona dan tersenyum kagum...
Hamida terkejut mendengarnya. Dia pikir, ‘Ya Tuhan...Apa Jalal akan bernyanyi??? Bisakah dia??’
Mainavati dan Bharmal keduanya mengerutkan kenng dan mengutuk Jodha dalam hati karena sikap kekanak-kanakannya.
Abdul dan Mirza sama-sama tersenyum pada Jalal.
Jodha merasa malu sekali dengan pengumuman yang dia lakukan dan merutuk dirinya sendiri kenapa dia memberinya tantangan bodoh ini. Cepat-cepat dia melirik ke arah Mainavati dan Bharmal dan mendapati wajah mereka yang tampak tegang, lalu dia memohon lagi pada Kanha, ‘Tolong selamatkan aku...’ kemudian dia melirik ke arah Hamida Banoo yang ternyata juga sedang memperhatikan dirinya dengan mata membulat dan ekpresi tak percaya. Jodha gemetar dan berkata dalam hati...’Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan??? ‘ Akhirnya dia melihat ke arah Jalal dan memohon dengan tatapannya, ‘Kumohon, jangan permalukan aku.’ Jalal membalas dengan tersenyum tulus seakan meyakinkan dirinya untuk tak perlu cemas, dan semuanya akan baik-baik saja.
Akhirnya Jalal meneriakkan “Musik” dan musikpun mulai berdendang. Jalal menghampiri Jodha. Wanita itu masih menundukkan wajahnya dengan beragam emosi...untuk menarik perhatiannya, Jalal berkata keras, “Jodha begum, lagu ini untukmu.” Dengan malu-malu, Jodha mengangkat wajahnya dan mulailah Jalal bernyanyi dengan suara merdunya tanpa mengalihkan pandangan dari dirinya.
Tu hi to jannat meri, tu hi mera junun
(Kau surgaku, kau impianku)
Tu hi to mannat meri, tu hi ruh ka sukun
(Kau harapanku; kau ketenangan jiwaku)
Tu hi ankhiyo ki thandak, tu hi dil ki hai dastak
(Kau keteduhan mataku; kau degup jantungku)
Aur kuchh na janu main, bas itna hi jaanu
(Aku tak tahu hal lainnya, yang kutahu hanya ini)
[Jalal duduk bertumpu pada lututnya dan bernyanyi sambil membentangkan lengannya. Sinar matanya menampakkan cinta yang tulus....Jodha terharu...Semua orang terpana melihat kesungguhannya mengungkapkan rasa cintanya di depan semua orang...kata-katanya penuh makna dan magis....semua orang terpana pada kejujurannya]
Tujhme rab dikhta hai, yaara main kya karu
(Kulihat dewi dalam dirimu, aku harus bagaimana)
Sajde sar jhukta hai, yaara main kya karu
(Kepalaku tertunduk memujamu, aku harus bagaimana)
[Jalal meletakkan tangan di dadanya dan menundukkan sedikit kepalanya dan bernyanyi baris berikutnya]
Tujhme rab dikhta hai, yaara main kya karu
(Kulihat dewi dalam dirimu, aku harus bagaimana)
[Dia bernyanyi sambil terus menatap Jodha tak berkedip....memperlihatkan seluruh perasaannya. Setelah baris itu selesai, sesuai perintah Abdul dan Mirza, semua penari berdiri di belakang Jalal dan mulai menari. Hamida Banoo juga terkejut mendapati Jalal bisa bernyanyi dengan bagusnya, tak pernah terpikir olehnya, putranya bisa bernyanyi dengan indah dan memiliki suara semerdu itu. Dia tahu Jalal sangat tertarik pada Seni dan Musik, tapi dia juga berbakat dalam bidang itu, hal itulah yang dia tak pernah tahu.]
Kaisi hai yeh duri, kaisi majburi
(Jarak apakah ini, kenapa tak terperihkan?)
Maine najaron se tujhe chhu liya
(Kusentuh dirimu dengan tatapanku)
[Jalal mengarahkan telunjuknya pada Jodha dan menyanyikan lirik Kaisi Yeh duri Kaisi majburi dengan keras...Jodha tersipu dan menunduk malu-malu]
Kabhi teri khushbu, kabhi teri baatein
(Kadang harummu, kadang bicaramu)
Bin maange yeh jahan pa liya
(Tanpa meminta, aku dapatkan semuanya)
Tu hi dil ki hai raunak, tu hi janmo ki daulat
(Kau cahaya hatiku; kau harta dalam hidupku)
[Jalal menghampiri tempat Jodha duduk dan dia mengulurkan tangannya...Jodha menatap sekelilingnya dengan malu-malu sebelum menyambut uluran tangan Jalal...Dia kembali ke tengah-tengah ruangan dengan Jodha di sampingnya sambil masih terus bernyanyi]
Aur kuchh na janu, bas itna hi janu
(Aku tak tahu hal lainnya, yang kutahu hanya ini)
Tujhme rab dikhta hai, yaara main kya karu
(Kulihat dewi dalam dirimu, aku harus bagaimana)
Sajde sar jhukta hai, yaara main kya karu
(Kepalaku tertunduk memujamu, aku harus bagaimana)
Tujhme rab dikhta hai, yaara main kya karu
(Kulihat dewi dalam dirimu, aku harus bagaimana)
[Kedua puluh penari menari makin cepat sesuai hentakan musik mengelilingi Jalal dan Jodha yang berdiri di tengah-tengah. Penari wanita menari sambil memegang bendera Amer dan penari prianya memegang bendera Mughal....Jalal melemparkan senyuman pada Mirza dan Abdul]
Vasdi vasdi vasdi, dil di dil vich vasdi
Nasdi nasdi nasdi, dil ro ve the naasdi rab ne bana di jodi haay...
Chham chham aaye, mujhe tarsaaye
(Kapanpun kau ada, godaan untukku)
Tera saaya chhed ke chumata
(Menggoda, bayanganmu mengecupku)
[Jodha sepenuhnya terbuai....air matanya jatuh karena luapan kebahagiaan mendengar lirik-liriknya yang penuh makna. Mereka ada di tengah-tengah dikelilingi para penari...hanya para penari yang bisa melihat mereka. Sesuai rencana ketika Jalal sampai pada baris lirik itu...Chham chham...serempak semua penari merentangkan bendera, berlari berputar membelakangi keduanya, menghalangi pandangan dari para penonton. Jalal dan Jodha seakan terhalang total. Tidak ada yang bisa melihat mereka, bahkan tidak Mirza dan Abdul. Tanpa membuang waktu lagi....Jalal menarik tubuh Jodha mendekat, membungkukkannya sedikit dan mencium tepat di bibirnya dengan gigitan ringan di sela-selanya. Dia mencium dan mengakhirinya dengan cepat hingga bahkan tidak ada yang sadar apa saja yang mereka lakukan dalam sepuluh detik itu. Mulut Jodha membulat dengan ekspresi yang agak aneh. Tepat ketika dia sadar Jalal menciumnya di depan publik tanpa seorang pun mengetahuinya. Jantungnya berhenti berdetak beberapa saat. Rasanya seluruh tubuhnya mati rasa.]
O o tu jo muskaaye tu jo sharmaaye
(Saat kau tersenyum, saat kau malu-malu)
Jaise mera hai khuda jhumta
(Seakan dewi ku sedang menari)
[Setelah beberapa detik, barulah Jodha memahami apa yang baru saja terjadi, rasanya malu sekali...dia tak bisa menahan rona yang muncul di wajahnya. Jalal menatapnya nakal dengan senyum terkulum. Matanya menari-nari menggoda.]
Tu hi meri hai barkat, tu hi meri ibaadat
(Kau masa depanku, kau pujaanku)
Aur kuchh na janu, bas itna hi janu
(Aku tak tahu hal lainnya, yang kutahu hanya ini)
Tujhme rab dikhta hai, yaara main kya karu
(Kulihat dewi dalam dirimu, aku harus bagaimana)
Sajde sar jhukta hai, yaara main kya karu
(Kepalaku tertunduk memujamu, aku harus bagaimana)
Tujhme rab dikhta hai, yaara main kya karu
(Kulihat dewi dalam dirimu, aku harus bagaimana)
Vasdi vasdi vasdi, dil di dil vich vasdi
Nasdi nasdi nasdi, dil ro ve the naasdi rab ne bana di jodi haay...
Akhirnya misi terselesaikan. Jalal mengakhiri nyanyiannya dengan ceria sambil berjalan kembali ke singgasananya bersama Jodha. Setiap orang seakan bisa merasakan betapa dalamnya cinta mereka berdua. Seluruh Rajvanshi kini tahu betapa dalam cinta dan kasih Jalal kepada Jodha.]
Jodha dan Jalal kembali duduk....tepuk tangan membahana dan menggema di seluruh aula. Sekali lagi Jalal melirik Abdul dan Mirza...mereka berdua tersenyum padanya atas keberhasilannya. Dengan seringai kecil dia berkata pelan, “Jodha begum, kira-kira apa yang akan terjadi padamu nanti malam??” sambil memandangnya penuh gairah.
Jodha tersadar dari mimpi indahnya dan kembali pada kenyataan saat berkata, “Kau curang Shenshah...tantangannya adalah menciumku di depan semua orang tapi kau tidak...jadi tidak ada yang menang.”
Jalal menatapnya dalam, lalu menundukkan wajahnya ke arah Jodha dan berbisik, “Aku setuju, Jodha begum. Tapi belum terlambat...aku masih bisa menciummu di depan semua orang seperti keinginanmu.”
Jodha menjawab gemetar, “Jangan..kumohon jangan.”
Jalal mengedipkan matanya dengan polos, “Tapi Jodha begum, bagaimana aku bisa menang, kalau aku tidak menciummu??”
Jodha menjawab kesal, “Kau menang, kau menang. Puas sekarang??”
Jalal bertanya sekali lagi, “Ulangi lagi. Kau mengatakan apa??”
Jodha mengerutkan hidungnya, menyipitkan matanya dan berkata dengan geram, “Kau memenangkan tantangannya Shenshah!!!.”
Semua anggota keluarga maju ke depan untuk melaksanakan ritualnya. Raja Bharmal dan Mainavati, keduanya merasa sangat bahagia mengetahui betapa besarnya cinta Jalal kepada Jodha.
Pandit melakukan tilak di kening Jalal dan Jodha, lalu dia merapal beberapa mantra dan meminta Jalal menyematkan cincin di jari manis tangan kiri Jodha. Jalal membuka kotak berisikan sebuah cincin berlian Kohinoor yang besar dan menyematkannya di jari Jodha. Lalu pandit meminta Jodha menyematkan cincin di jari manis tangan kanan Jalal. Jodha menyematkannya dengan bahagia.
Pandit memberkati mereka berdua lalu menyuruh mereka meminta restu dari yang lebih tua. Jalal menggandeng tangan Jodha dan menghampiri Dadisa untuk memohon restunya, kemudian berurutan pada Hamida Banoo, Raja Bharmal dan Mainavati.
Mirza dan Abdul melangkah maju untuk mengucapkan selamat pada Jalal. Mirza bertanya nakal, “Bhai Jaan, apa kau memenangkan tantangannya??”
Jodha langsung menoleh pada Jalal dengan mulut ternganga. Dia jewer telinga Mirza dan memarahinya, “Jadi kau yang membantu bhai jaan mu memenangkan tantangan ini.”
Shivani  melihat Jodha menjewer telinga Mirza, turut mendukungnya, “Bagus Jiji, aku tidak tahu apa yang sudah dia lakukan tapi kau bisa menjewer telinganya untuk bagianku juga...dia mengganggu sekali dan merecoki aku sepanjang hari.”
Jodha membela Mirza, “Shivani, ini hanya antara Bhabhi dan Devar (kakak dan adik ipar) dan Devar ku adalah yang terbaik di dunia, dia pemberani dan berbakat. Hatinya seperti emas.”
Shivani tersenyum manis pada Mirza.
Usai acara, sebagian besar tamu undangan menuju ke meja hidangan.
Sukanya dan Surya menghampiri Jalal dan Jodha. Mereka saling mengucapkan selamat.
Jalal menggoda mereka, “Surya, sekarang aku yakin kau dan Sukanya bukanlah kakak adik.” Keempatnya terkikik geli dengan gurauan itu.
Surya membalas, “Aku perlu menanyakan itu secara pribadi pada Sukanya, sebenarnya hubungan kami itu apa??” mereka tertawa makin keras.
Sukanya menatap kesal dan berkata kesal, “Surya, jangan menggodaku.”
Wajah Sukanya tampak berseri-seri setelah perjodohan mereka. Dia terus saja tersenyum....kebahagiaannya tampak pada semua hal yang dilakukannya, cara jalannya, bicaranya dan senyumannya. Surya juga terlihat lebih tenang dan bahagia. Dia ingin bicara berdua dengan Sukanya, tapi mereka dikelilingi banyak orang, sama sekali tidak punya kesempatan.
Jalal menjawab ringan, “Jangan khawatir, Surya, aku akan memastikan kau bisa menanyakan itu pada Sukanya hari ini.” Sambil mengedipkan sebelah mata, “Ikut denganku. Akan kuatur semuanya.”
Keempatnya berjalan mendekati Raja Bharmal, Jalal menyampaikan sebuah permintaan, “Raja Saheb, Ini adalah hari penting bagi Sukanya dan Surya. Jodha begum menyarankan agar mereka berdoa pada dewa atas permulaan yang baru ini, jadi jika anda mengijinkan aku akan mengatur perjalanan mereka ke kuil. Sekarang sudah hampir waktunya Aarti malam. Mereka bisa kembali dalam beberapa jam.”
Raja Bharmal mengijinkan mereka tanpa beban. Karena dia juga sangat mendukung ide tersebut.
Surya melemparkan tatapan terima kasih pada Jalal. Mereka saling tersenyum penuh arti.
Kemudian Jalal juga memberitahukan hal yang lain, “Raja Saheb, aku ingin mengajak Jodha begum keluar untuk beberapa jam. Salah satu sahabat dekatku tinggal tak jauh dari sini...dia bukan seorang Raja tapi kami bersahabat cukup dekat. Karena terburu-buru, aku lupa mengundangnya datang ke pesta pernikahanku, jadi aku berencana mengunjunginya dan memberi kejutan untuknya. Kami pasti akan kembali sekitar empat jam lagi, sekitar tengah malam.”
Raja Bharmal menjawab cemas, “Shenshah, sangat berbahaya untukmu keluar malam-malam...keadaannya makin gelap dan besok adalah hari pernikahan. Apa kau yakin??”
Jalal menjawab cepat, “Jangan khawatir, Raja Saheb, aku sudah menyiapkan pengawal dan bila Jodha begum ada bersamaku, maka aku tidak perlu mencemaskan keselamatanku lagi.” Sambil melirik penuh arti pada Jodha.
Raja Bharmal tertawa karena lelucon itu, “Tentu Shenshah, aku  setuju...tapi rahasiakan perjalananmu ini. Jangan sampai banyak orang tahu.”
Jalal menyetujuinya dan pergi bersama Jodha.
***********

Is It Hate Or Love | Chapter 38 Part 2

1 comments:

  1. Hahahai bs aja jalal mengatur semuanya dan menemukan caranya utk menang tanpa mempermalukan jodha 😃😃😃😃

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.