Is It Hate Or Love | Chapter 38 Part 3 - ChusNiAnTi

Is It Hate Or Love | Chapter 38 Part 3


Written By Bhavini Shah
Translate By Tyas Herawati Wardani

Berderap di atas punggung kuda, Jalal mengenakan kostum Rajvanshi dan Jodha menutupi wajahnya dengan cadar, keluar dari gerbang istana.
“Shenshah, kita akan pergi kemana???” Jodha bertanya di sela-sela tarikan napasnya.
“Tempat yang spesial.” Jawab Jalal penuh misteri.

“Shenshah, aku benar-benar tidak mengerti dirimu. Ini sudah hampir malam dan beberapa saat lagi akan gelap. Tidak aman bagi kita pergi sendirian seperti ini, di sekitar kita banyak musuh....kejutan apa lagi sekarang.” Dia mencibir kesal.
Jalal menariknya mendekat dan berbisik, “Ini kejutan untukmu, Jodha, jadi tutuplah mulutmu dan demi Tuhan, berhentilah menentang dan berdebat denganku hanya untuk satu hari saja.”
Jodha menghembuskan napas dengan keras, “Shenshah, apa kau ingin bilang kalau kita selalu bertengkar tiap hari?? Sepertinya kau mulai lelah....Kau tahu, hentikan kudanya sekarang juga...Aku tidak ingin menikah denganmu; aku akan berjalan kembali ke istana.”
“Lihat kan, kau sudah mulai lagi, kau suka sekali bertengkar apalagi membantahku dan jangan cemaskan pernikahan kita, begum ku sayang; jika kau tidak mau menikah denganku dengan sukarela maka aku akan menculikmu dari istana dan selama seminggu penuh aku tidak akan membiarkanmu keluar dari kamarku, dan aku bertaruh, kau tidak ingin tahu apa saja yang akan kita lakukan di dalam sana.” Setelah terdiam sejenak, di berkata lagi, “Kau tahu, lupakan semua itu, sebenarnya yang harus kau cemaskan adalah malam ini, apa yang akan kulakukan padamu Jungle billi ku. Aku tidak akan melepaskanmu hari ini. Sudah cukup aku menuruti keinginanmu...hmmm...bernyanyilah untukku dan ciumlah aku di depan umum...sekarang aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini.” Jalal tersenyum dengan manisnya.
Jodha berpikir...’Ya Tuhan...kemana dia akan membawaku?...tujuannya pasti tidak baik. Ohhh...’ sambil menarik napas dengan berat dia berpikir, ‘Sepanjang malam bersamanya....kedengarannya sangat menggairahkan...tapi jika aku tidak kembali ke istana tepat tengah malam, Masa akan membunuhku, karena nanti saatnya untuk Mehndi.’ Dia berpikir keras, ‘Apa yang harus kulakukan? Oh...kucoba untuk menangis, siapa tahu dia tertipu.’
Belum sempat Jodha melakukannya, Jalal sudah bisa menebaknya, “Tidak Jodha, menangis tidak akan menolongmu.”
Jodha makin kesal, “Jalal, bagaimana bisa kau selalu tahu, apa yang akan kukatakan ataupun kulakukan, sepertinya kau sidah mengguna-gunai aku.”
Jalal berbisik di teinganya, “Jodha, kaulah yang sudah menyihirku...sudah hampir tujuh bulan dan aku belum melakukannya sama sekali.”
Jodha bertanya tak percaya, “Apa...tidak dengan siapapun...Sama sekali??”
Jalal menyeringai, “hmmm.”
Jodha bertanya pura-pura cemas, “Ya Tuhan Shenshah, kau tidak bisa melakukannya?”
Jalal baru paham maksud kata-kata Jodha, dia berbalik membentak, “Apa? Kau sudah gila, Jodha? Benar-benar ya, kau pantas menerima penghargaan atas caramu merusak momen romatis.”
Jodha menyeringai bodoh melihat Jalal yang frustasi, membuatnya makin bersemangat menggodanya, “Jalal, aku tidak sedih, tidak apa-apa, aku mengerti dan lagipula itu hal yang baik,  kau tidak akan mampu melakukan apapun malam ini dan begitu kita sampai di Agra, kau bisa menanyakan pada Hakim Sahiba tentang masalah ini.”
Jalal berteriak kesal, “JODHA.”
Jodha tahu pria itu benar-benar marah...dia menoleh untuk melihat wajahnya...dan saat melihatnya, dia tidak bisa menahan tawanya lagi....Jodha tertawa terbahak-bahak.
Dengan kesal Jalal menangkup wajahnya dan mencium bibirnya dengan liar...dia menggigitnya dengan hasrat yang dalam...lalu berbisik dengan penuh gairah, “Apa kau ingin aku membukitikannya sekarang?”
Jodha menjawab pelan dengan malu-malu, “Jalal, aku hanya menggodamu dan kau jadi marah padaku.”
Jalal berkata serius, “Jodha, aku tidak bercanda, aku sangat serius, aku menginginkanmu sekarang...saat ini juga...aku sudah lama menantimu dan duduk sedekat ini denganmu sekarang, membuatku gila...aku sudak tidak bisa tahan lagi.”
Wajah Jodha memucat, dia melirik ke kanan kiri dengan gugup sebelum berkata, “Shenshah,” dia terdiam sejenak, “Kita ada di tengah jalan, meski jalanan ini kosong, tapi tetap saja ini tempat umum...Tidak mau!!”
Jalal bersikeras, “Jodha, kumohon jangan katakan tidak....lihat pohon besar itu, bagaimana kalai di balik pohon itu saja??”
Jodha gemetar karena takut dan dengan nada menyesal dia menjawab, “Jalal, kumohon...jangan...jangan sekarang...jangan disini.”
Tiba-tiba Jalal tertawa keras melihat ekspresi Jodha dan berkata, “Kena kau...Junglee billi.”
Jodha menghela napas dalam-dalam dan melirik cemberut.
Jalal melingkarkan tangannya ke tubuh Jodha sambil tetap mengendalikan kekang kudany dan berkata serius, “Jodha, kau tidak bisa bayangkan apa yang sudah kulalui dalam enam bulan ini, tidak ada gairah tersisa dalam diriku. Hidupku tanpa warna. Aku tidak punya keinginan mengunjungi begum ku yang lain, bahkan jujur saja, aku sudah tidak bergairah dengan wanita lain selain dirimu setelah malam pertama kita. Aku bahkan tidak bisa membayangkan akan mencium atau menyentuh wanita lain, sungguh hancur perasaanku bila harus menghibur wanita lain selain dirimu. Aku merasa jijik jika ada begum yang coba merayuku. Sebenarnya aku tidak berniat menceritakan ini padamu, tapi karena sekarang Rukaiya tidak lagi penting dalam hidupku, aku merasa bebas untuk menceritakannya padamu... hanya demi membuat Rukaiya senang, aku tidur dengannya dan memenuhi kewajibanku sebagai suami sebelum kau pergi saat itu, tapi tujuanku hanyalah untuk menghiburnya saja, sementara hatiku hanya tertuju padamu.”
Mata Jodha mulai basah karena air mata menyadari betapa dalamnya cinta Jalal, membuat hatinya sangat tersentuh. Diam-diam dia menangis dalam kebahagiaan. Dan pertama kali dalam hidupnya, kata-kata yang ingin dia ucapkan tercekat di tenggorokan. Dia mengingat kembali lirik yang dinyanyikan oleh Jalal beberapa saat lalu, “Tujhme Rab dikhta hai yaara main kya karu...sajde sar jhukta hai yaara main kya karun” (Aku melihat dewi dalam dirimu, aku harus bagaimana....Kepalaku tertunduku memujamu, aku harus bagaimana) Air mata yang tidak diinginkannya, tak bisa ditahan lagi membanjiri wajahnya menyadari betapa beruntungnya dia sebagai wanita....Jalal selalu memenuhi semua keinginannya dan memberinya lebih... Jalal ingin Jodha juga menang dalam kompetisi memanah....Jalal selalu menahan keinginannya sendiri demi memenuhi keinginan Jodha...tanpa dikatakan Jalal tahu Jodha sangat merindukan Sujamal bhaisa, dia meyakinkan Bapusa hanya demi membuatku senang....air matanya mengalir makin deras...dia benar-benar bahagia...ingin dia memeluk Jalal dan menyerahkan diri sepenuhnya demi membuat Jalal bahagia....ingin dia katakan bahwa dia juga merasakan hal yang sama dengan Jalal, hanya saja dia tidak mampu mengungkapkannya...tapi dia merasa sangat bahagia hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia tenggelam dalam perasaannya sendiri.
Jalal heran karena Jodha diam seribu bahasa, mereka sudah melewati kuil dan mencapai tempat tujuan mereka tapi Jodha tetap diam...ditariknya tubuh Jodha makin merapat dan memeluknya erat, di gesekkannya pipinya dengan pipi Jodha yang terasa basah...dan saat itulah dia tahu Jodha menangis tanpa suara.
Jalal tersentak dan meloncat turun dari kudanya untuk memeriksa wajah Jodha dan terlihatlah wajahnya yang penuh air mata.
Jodha tahu mereka sudah sampai tapi dia belum bisa menghentikan tangisnya. Jalal mengulurkan tangannya pada Jodha untuk membantunya turun dari kuda.
Jalal bertanya panik, “Jodha...ada apa? Mengapa kau menangis?”
Jodha belum bisa menenangkan dirinya sendiri... karena itu dia belum bisa menjawab. Dia peluk Jalal dengan eratnya dan terisak di dadanya makin keras.
Jalal tidak tahan setiap kali melihat Jodha menangis...kali ini dia bahkan dia tidak tahu apa yang menyebabkan Jodha tiba-tiba menangis. Wanita itu menggodanya beberapa saat lalu dan sekarang dia menangis tersedu-sedu. Sepertinya Jodha ingin mengatakan sesuatu tapi mulutnya tidak mampu berbicara...dia terus saja menangis...Jalal hanya bisa membelai lembut kepala dan punggungnya untuk menenangkannya.
Setelah beberapa waktu, tangis Jodha mereda dan hanya tersisa isakan pelan. Jalal melepaskan pelukannya dan bertanya lembut, “Jodha, mengapa kau tiba-tiba menangis....apa yang terjadi? Kau ingin kembali ke istana, ayo kita kembali, tapi kumohon berhentilah menangis.”
Jodha menjawab terbata-bata, “Jalal aku menangis karena cintamu yang begitu besar padaku...dan kau bisa mengungkapkannya, sementara aku tidak, Jalal...aku sangat mencintaimu. Aku juga melihat wajahmu tiap kali aku berdoa pada Kanah...tanpa Jalal, Jodha tidaklah ada...kau melengkapi diriku, Jalal.” Sekali lagi Jodha memeluknya sambil berucap, “Jalal, aku akan mencintaimu selamanya.”
Jalal terpana sekaligus merasa lega, ternyata Jodha menangis adalah untuk mengungkapkan cintanya...Jalal sedikit menjauh hanya untuk mengusap air mata di wajah Jodha, “Awww, Jodha, aku tahu kau sangat mencintaiku dan kau tidak perlu mengatakannya. Jodha, cinta adalah sebuah rasa....kau bisa merasakannya tapi tidak bisa kau tuangkan dalam kata-kata. Jodha, jiwa kita telah terhubung sejak lama...dalam enam bulan ini, beberapa kali jiwa kita bertemu dan saling bicara. Kita adalah bagian satu sama lain dan aku sudah tahu kau sangat mencintaiku.”
Jodha bersikeras, “Jalal, aku terharu karena itu aku menangis dan sebaiknya kau dengarkan aku...aku mencintaimu lebih dari kau mencintaiku dan titik, jangan mendebat lagi...atau aku akan menangis lagi.”
Jalal tertawa memperhatikan wajah cemberutnya, “Ohh Jodha!! Kadang-kadang kau bertingkah seperti anak umur lima tahun dan kadang kau tampak dewasa seperti wanita lima puluh tahun.”
Jodha tersinggung, “Oh, jadi kau ingin mengatakan aku berumur lima puluh tahun...hmmm.”
Setelah sama-sama diam beberapa saat, lalu keduanya tertawa bersama-sama.
Jalal mengikatkan tali kudanya ke pohon terdekat. Jodha bertanya ringan, “Jalal, disini gelap sekali, kemana kau akan membawaku?”
Jalal memberikan tatapan penuh misteri dan berkata, “Jodha, kau belum bisa menebak kemana kita akan pergi?”
Jodha melihat sebuah kuil di dekat situ dan bibirnya menyunggingkan senyum lebar kegirangan.
Jalal ikut tersenyum dan berkata, “Jodha, aku sudah sejak lama ingin mengunjungi tempat ini lagi, di tempat inilah pertama kalinya aku melihat wajah cantikmu.”
Keduanya melangkah mantap di sela-sela pepohonan dan tiba di pinggir sungai. Jodha terpana melihat sekeliling tempat itu yang bercahaya karena sinar dari ratusan obor. Di tengah-tengahnya, diatur sedemikian rupa sebagai tempat duduk mereka dan dihiasi dengan bunga mawar merah di sekelilingnya. Ada sebuah tungku api kecil di dekatnya. Melihat betapa indahnya pengaturan tempat ini, Jodha benar-benat terpesona, lalu berlari kecil menuju sebuah batu besar tempat dulu dia biasa duduk di atasnya.

*********

Is It Hate Or Love | Chapter 38 Part 3

1 comments:

  1. Uhhuy jalal dalem banget mengungkapkan perasaannya pd jodha 😊

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.