Love In Silence Part 2 |By- Sasha| - ChusNiAnTi

Love In Silence Part 2 |By- Sasha|



Waktu menunjukkan pukul 14.00 itu artinya semua siswa-siswi di perbolehkan pulang. Tinggal aku berdua dengan Vina yang masih di kelas. Nampak Vina sedang menenteng beberapa buku berjalan ke arahku yang sedang membersihkan kelas. "Jo, mau anter aku ke perpustakaan nggak?". "Ayo Vin, bentar yaah nanggung nih..." Aku menjawab sambil membereskan meja guru.

Saat kami berada di dalam perpus, Vina nampak asyik membaca novel favoritnya, siapa lagi kalau bukan novel karya penulis terkenal yang ceritanya sudah beberapa kali di filmkan. Apa ini waktu yang tepat untuk aku bertanya masalah di masjid tadi, dengan ragu-ragu aku pun bertanya. "Hmmm.. Vin boleh tanya sesuatu nggak?" Ia pun mendongak sambil menyimpan novelnya. "Boleh, mau tanya apa Jo..?" . "Vin dalam islam memang ada yah hukumnya menundukkan kepala?". Vina terkikik mendengar pertanyaan ku. "Loh Vin ada yang salah yah dengan pertanyaan ku". Tanyaku bingung.

"Nggak ada yang salah Jo , tapi lebih tepatnya menundukkan pandangan bukan menundukkan kepala. Dalam islam menundukkan pandangan di kenal dengan nama Ghaddul Bashar". "Oh, terus kenapa kita harus menundukkan pandangan" . "Karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan menjaga pandangan mata, sehingga dengan menjaga pandangan mata kita telah beribadah kepada Allah" jelas Vina. "Terus Vin kalau mandang nya tiba-tiba tapi nggak sengaja itu gimana?". Vina pun tersenyum lalu menjawab. "Dulu ada sahabat yang bertanya tentang pandangan mata yang tiba-tiba dan tanpa sengaja memandang sesuatu yang haram, lalu Rasul pun menjawab: "Palingkan matamu" (HR. Muslim, riyadhus shalihin(1625)). Mungkin untuk lebih jelasnya bisa kamu tanyakan langsung sama ayahmu Jo". Aku pun mengangguk paham "Makasih banyak yaah Vin". Ucapku memeluk Vina. "Sama-sama Jo" Vina menjawab sambil menepuk pundakku.

Sampailah aku di depan rumah kontrakan tempat tinggal ku selama lima tahun belakangan ini. Ku buka pintu seraya mengucap salam "Assalamu'alaikum..", "Wa'alaikumussalam.." terdengar suara ayah dari arah kamar.

Ku simpan tas dan sepatu lalu setengah berlari menuju kamar ayah. Terlihat ayah sedang berbaring sambil membaca Al-Qur'an kecil di tangannya. Ayah menderita penyakit liver sejak satu tahun yang lalu, karena keterbatasan biaya kami hanya mampu mengobati ayah di rumah menggunakan obat tradisional.

Aku tersenyum lalu menghampirinya. "Yah, ibu sama Fahmi kemana?", "Ibumu sedang berjualan kalau adikmu barusan pergi mau kerja kelompok katanya". Sejak ayah sakit ibu lah yang menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan kue-kue buatannya.

"Yah.. Jodha boleh tanya sesuatu?". "Kamu mau tanya apa nak?". "Dalam Al-Qur'an apa dijelaskan perintah untuk menundukkan pandangan". Ayah tersenyum lalu menjawab "Al-Qur'an menjelaskan dalam surat An-Nur ayat 30-31 yang artinya: "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya... " (Q.S. An-Nur: 30). Sebagaimana di perintahkan untuk laki-laki, menundukkan pandangan juga di perintahkan untuk perempuan. Di ayat 31 juga dijelaskan "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya..." (Q.S. An-Nur 31)." Ayah menambahkan "Menundukkan pandangan atau Ghaddul Bashar yaitu menundukkan atau menjaga pandangan dari yang bukan mahram, sehingga pandangan tertuju ke tanah, tidak diangkat keatas. Namun tentunya memandang yang bukan mahram tidak diharamkan dalam semua semua kondisi. Maksudnya dalam kondisi-kondisi tertentu memandang yang bukan mahram diperbolehkan, misalnya seorang dokter laki-laki yang akan memeriksa pasien wanita, seorang hakim yang harus mengenali wanita yang sedang menjalani persidangan, dan lain sebagainya. Tapi dalam kondisi-kondisi itu pun niatan dalam hati harus tetap dijaga, sehingga memandang mereka saat itu tidak memabangkitkan syahwat. Kau tahu nak, kelemahan kami para laki-laki ada pada pandangan kami."

Aku mengangguk paham, sungguh indah aturan-aturan dalam islam. Sesuatu akan dilarang jika mudharat nya lebih banyak daripada maslahat nya. "Ayah maukah ayah menemani Jodha untuk menjadi orang yang lebih baik lagi". Aku bertanya pada ayah "Alhamdulillah ini saat yang paling ayah tunggu-tunggu, mendengar keinginanmu untuk berubah, Insya Allah nak do'akan ayah agar bisa melawan penyakit ini supaya bisa terus ada di samping kalian".

Aku memeluk ayah "Lekas sembuh ayah, Jodha sayang ayah. Kami butuh ayah". Pundak kiriku terasa basah, aku pun mendongak terlihat ayah menangis. Segera aku menghapusnya dengan kedua ibu jariku " Ayah menangis..?". "Ayah tidak menangis, barusan ayah membantu ibumu ngiris bawang jadinya perih". Mana ada ngiris bawang dan perihnya baru terasa sekarang. Ckckck.. Ayah ini becanda disaat yang tidak tepat. Aku menatapnya dengan tatapan menyelidik. Dan tak lama kemudian tawa kami pun menggema.

Saat berada dikamarku dan hendak menggantungkan seragam sekolah tiba-tiba seperti ada yang terjatuh. Setelah ku ambil ternyata sapu tangan pak Jalal, tercium wangi parfum yang khas. Aku pun mengamatinya nampak bordiran di bagian kiri bawah bertuliskan inisial "J.F.A" Jalaluddin Faisal Akbar tebakku. Aku tersenyum sejak mendengar penjelasan dari Vina dan ayah. Entah mengapa ada perasaan aneh yang muncul tiba-tiba. Semacam kagum atau mungkin lebih dari itu. Istighfar Jo, pak Jalal mungkin sudah berkeluarga atau bahkan sudah punya anak.

Di waktu istirahat, aku dan Vina tengah duduk di bangku depan kelas. Namun tiba-tiba ada adik kelas perempuan ku menghampiri kami. "Assalamu'alaikum.." aku dan Vina lantas menjawab "Wa'alaikumussalam..". "Teh Jodha ada amanah dari pak Ahmad, sekarang teteh di suruh ke ruang guru menghadap pak Ahmad". "Iya dek, makasih yah". "Sama-sama teh, saya pamit dulu,  Assalamu'alaikum" kami menjawab serempak. "Wa'alaikumussalam.."

Aku menoleh ke arah Vina, seakan tahu isi hatiku ia berucap "Iya iya aku anterin, tapi nanti ajarin fisika yaah..?". "Siap boss.." ku jawab sambil hormat.

"Vin gak apa-apa kan tunggu disini..?" Ia pun mengangguk, Vina menungguku di bangku depan ruang guru.

"Assalamu'alaikum pak". "Wa'alaikumussalam.. eh Jodha silahkan duduk" Aku pun mengangguk sopan. "Saya sudah merekomendasikan kamu untuk menjadi perwakilan sekolah dalam perlombaan debat Bahasa Arab yang akan di laksanakan minggu depan. Karena tahun lalu kamu pernah menjuarai lomba cerdas cermat Bahasa Arab, bapak yakin tahun ini juga kamu pasti menjuarainya, apa kamu siap mengikuti perlombaan ini?". Ku jawab dengan mantap "Iya pak, Insya Allah saya siap". "Alhamdulillah, tapi maaf bapak tidak bisa membimbingmu karena sebentar lagi akan ada Akreditasi sekolah, jadi bapak harus mengurus berkas-berkas nya. Untuk perlombaan ini kamu akan dibimbing oleh guru PPL, pak Jalal". Seketika tubuhku membeku mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan pak Ahmad, Yaa Allah kenapa harus pak Jalal...


Love In Silence Part 2 |By- Sasha|

1 comments:

  1. Asyik..yg bimbing pak Jalal...jadi sering ketemuan n lebih akrab

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.