Rahasia Hati Part 17 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 17 - By : Erinda




“I miss you, Sayang”
“I miss you too, Mas”
Mereka berbicara tanpa bersuara karena takut ketahuan oleh yang lainnya, namun yang sebenarnya adalah keluarga mereka hanya berpura-pura tidak tahu dan menahan senyum melihat tingkah berlebihan Rajatha dan Faridha. Mereka bertingkah seolah-olah akan dipisahkan selamanya, lagipula mana mungkin mereka tidak jadi menikah padahal Jodha sendirilah yang paling antusias akan pernikahan mereka sejak awal. Hahaa

^^^
Acara pertunangan antara Rajatha dan Faridha pun selesai, kini kedua keluarga sudah bersiap kembali ke rumah masing-masing.
“Ma, boleh aku berbicara sebentar dengan Faridha. Sebentar saja” Mohon Rajatha pada Jodha yang sudah menyuruh-nya masuk kedalam mobil sejak tadi
“Tidak boleh. Cepat masuk dan kita segera pulang” Jawab Jodha jutek
“Dua menit, please” Rajatha masih memohon
“Temui Faridha selama dua menit maka pernikahan kalian Mama undur sampai dua bulan lagi” Kata Jodha sok ketus, didalam hati-nya ia geli sendiri sudah menggoda anak-nya.

Tanpa membantah apapun lagi, Rajatha segera masuk kedalam mobil. Tentu saja ia tidak mau pernikahan-nya diundur, Mama-nya ini memang menyeramkan dan tidak terduga. Sedangkan Jalal yang berada disamping Jodha hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol istri-nya yang membuat Rajatha ketar-ketir karena-nya.

“Sebenar-nya siapa yang mau menikah? Aku atau Mama?!” Gerutu Rajatha dalam hati, tentu saja. Mana mungkin dia berani bicara seperti itu pada Jodha.
^^^
Sedangkan di mobil lain-nya, Faridha yang berada di kursi belakang juga terlihat resah dan sibuk dengan handphone-nya.
 
“Eem,, Mbak, apa saling menyapa lewat telepon juga tidak boleh?” Tanya Faridha takut, entah kenapa sejak Jodha memutuskan untuk memisahkan Rajatha dan Faridha selama dua minggu kedepan, Lavina jadi sangat protektif dan agak galak padanya. Seperti-nya ia sudah menjadi “Teman baik” calon mertua-nya.
“Kalau kalian masih saling menghubungi, lalu apa beda-nya Faridha. Nanti setelah sampai rumah berikan handphone dan laptop-mu padaku” Tegas Lavina
“Sayang,,” Panggil Ardhan pada Lavina yang berada disebelah-nya
Lavina menatap-nya sekilas “Kakak menyetir saja, jangan ikut campur urusan kami para wanita” Kata Lavina pada suami-nya
 
Ardhan-pun menyerah dan memilih kembali fokus pada jalan didepan-nya.

“Mbak,,” Rengek Faridha lagi
“Turuti atau tidak sama sekali. Sudahlah, aku mau lelah ingin tidur, jangan bicara lagi kalau hanya untuk bertanya hal tidak penting seperti itu” Putus Lavina, lalu mengatur senderan kursi-nya agar lebih nyaman untuk dia tidur

Faridha melongo tidak percaya mendengar kata-kata Lavina “Tidak penting?? Oh my God… Bahkan ini sangat genting! Baru saja menjadi sepasang kekasih tapi sudah tidak boleh bertemu? Hufhhh,, Mama, tega nian kau” Keluh Jodha pasrah

Faridha melihat kearah Lavina yang tampak-nya sudah mulai memejam-kan matanya, ia lalu melirik kearah Ardhan melalui kaca spion tengah dengan wajah memelas-nya seolah meminta pertolongan padanya, namun Ardhan hanya mengangkat kedua bahu-nya tanda ia tidak ingin ikut campur, Faridha memanyunkan bibir-nya dan menatap keluar jendela dengan kesal, Ardhan terkikik geli melihat-nya.
^^^
Kediaman Ardhan.
Setelah dua malam lalu Lavina menyita ponsel dan laptop-nya, Faridha sibuk mengurung diri di-kamar. Lavina melaporkan aksi ngambek Faridha pada Jodha dan disambut kekehan saja oleh Jodha, akhir-nya Lavina pun tetap melanjutkan aksi-nya, ternyata menyenangkan juga menggoda si calon pengantin seperti ini atau mungkin bayi yang berada didalam kandungan-nya inilah yang senang menggoda Faridha, entahlah.

“Apa Faridha sudah memakan sarapan-nya Sayang?” Tanya Ardhan sambil menikmati sarapan buatan istri tercinta-nya itu
“Sudah Kak” Jawab Lavina santai
“Benarkah? Jadi dia sudah tidak merajuk lagi sekarang?” Tanya Ardhan lagi
“Siapa bilang”
“Maksud-nya?”
“Calon pengantin kita itu masih merajuk dikamar-nya, tadi dia menghabiskan sarapan-nya karena aku memaksa dan menunggui dia makan hingga selesai. Lucu sekali melihat Tante-mu merengut seperti itu, ya kan Nak” Kata Lavina dengan ceria sembari mengelus perut-nya.
“Hhmm,, Sudahlah aku tidak ingin ikut campur urusan kalian para wanita. Oh ya, hari ini mungkin aku akan pulang larut malam, jangan menunggu-ku ya.” Kata Ardhan menyudahi acara sarapan-nya
“Memang-nya ada apa sampai harus pulang larut malam? Aku kan tidak bisa tidur kalau tidak dipeluk oleh-mu” Manja Lavina
Ardhan mendekati Lavina, mengecup kening istri-nya lembut dan mengelus perut-nya dengan sayang.
“Hari ini setelah makan siang om Jalal mengundang-ku secara khusus untuk meeting bersama para client-nya. Biasa sayang, urusan bisnis dan semoga saja ini pertanda baik bagi perusahaan kita. Aku akan pulang secepat-nya setelah meeting-nya selesai nanti. Oke” Kata Ardhan, Lavina-pun mengangguk mengerti lalu mencium bibir suami-nya kilat
“Jangan menggoda-ku Sayang, atau aku akan membatalkan semua meeting penting-ku hari ini” Kata Ardhan yang mulai tergoda oleh ciuman istri-nya barusan
“Maka cepat-lah pulang kalau begitu”
“Hhhh,,, Yasudah aku berangkat sekarang”
“Kakak tidak pamitan dengan Faridha dulu?”
“Oh ya, aku lupa. Godaan-mu membuatku lupa segala-nya Sayang” Kata Ardhan mengedipkan sebelah mata-nya pada Lavina sebelum ia menuju kamar Faridha

“Dik,, Faridha” Panggil Ardhan begitu ia sampai di depan pintu kamar Faridha
Ceklekk,.. Faridha membuka pintu kamar-nya, Ardhan menahan tawa-nya melihat penampilan kacau Faridha
“Astaga,, Sejak kapan Dik Faridha-ku memelihara Medusa di kamar-nya ini” Kata Ardhan yang mulai kembali mengejek Faridha
“KAKAK !!!!” Teriak Faridha jengkel pada Ardhan, dia sudah akan menutup kembali pintu kamar-nya namun Ardhan lebih dulu menghalangi-nya

Lavina yang mendengar teriakan Faridha ikut terkikik geli sebelum berlalu menuju dapur untuk membuat susu hamil-nya.

“Heyy,,, Kakak bercanda. Sudah jangan merajuk lagi” Bujuk Ardhan
Faridha diam saja, ia mulai merapikan rambut-nya yang terlihat berantakan akibat ulah-nya yang hanya tidur-tiduran saja sejak tadi.
“Sekarang Kakak pergi dulu, titip Mbak dan calon keponakan-mu ya. Dua minggu menyeramkan-mu akan segera berlalu, santai saja dan nikmati semua proses-nya Dik” Kata Ardhan lagi dan mencium kening Faridha seperti biasa-nya, Faridha mengangguk dan tersenyum.
^^^
Keadaan-pun tidak jauh berbeda di kediaman Jalal
Kini Rajatha masih berusaha membujuk Jodha untuk menghubungi Faridha yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Jodha. Jalal yang berada diantara mereka hanya diam saja memperhatikan perilaku tidak biasa jagoan-nya ini.

“Rajatha memang berlebihan”  Batin Jalal

“Tapi bagaimana jika hal itu terjadi pada-ku? Tidak bisa bertemu bahkan tidak bisa mendengar suara Jodha selama dua minggu? Du-a-ming-gu?? Yang berarti 14 Hari?!! Astaga,, Aku bahkan tidak berani untuk sekedar membayangkan-nya. Kalau begitu Rajatha tidak berlebihan, pasti ia sudah sangat merindukan Faridha. Apa aku harus membantu-nya dalam membujuk Jodha? Baiklah,,, Tapi,,, Ya Tuhan,, Mengingat tatapan membunuh dari Jodha semalam yang mengatakan bahwa jangan coba-coba membantu Rajatha atau,,, Huffhh.. Tidak. Tidak. Daripada aku harus menerima amukan dari Jodha semalaman nanti dan tidur diluar selama seminggu, lebih baik aku tidak usah ikut campur saja. Toh hanya dua minggu kan masa pingit-an mereka, bersabarlah sedikit Jagoan” Jalal meracau dalam hati.

“Sayang,..” Panggil Jodha lembut dan mencium kening suami-nya yang tampak berkerut seperti memikir-kan sesuatu
“Ah,,Ya” Jalal tersadar dari lamunan panjang tidak penting-nya
“Apa yang kau pikirkan sejak tadi, hm?” Tanya Jodha
“Tidak ada, kemana Jagoan?” Tanya Jalal mengalihkan pembicaraan
“Dia sudah berangkat Sayang, bukankah dia tadi sempat berpamitan padamu?”
“Oh,,ya ya. Kalau begitu, aku juga berangkat ya Sayang. Ada banyak sekali meeting penting dan bertemu client hari ini” Kata Jalal bersiap
“Hhmm,, Kau seharus-nya jangan bekerja lagi Sayang, biarkan para pegawai-mu yang mengurusi semua-nya, kau dirumah saja bersama-ku” Kata Jodha dengan manja sambil memasangkan dasi untuk suami-nya, Jalal meraih pinggang istri-nya dan mencium wajah Jodha bertubi-tubi
“Aku hanya mengawasi pekerjaan penting dan proyek besar dimana harus aku sendiri yang turun tangan dalam menyelesaikan-nya, Sayang. Nanti setelah waktu-nya tiba aku akan menyerahkan semua-nya pada Rajatha dan mungkin Ardhan” Jawab Jalal sambil sesekali masih menciumi wajah Jodha
“Ardhan? Suami Lavina yang tinggal bersama Faridha?” Tanya Jodha yang seketika mengehentikan “aktifitas” suami-nya
“Iya Sayang” Jalal mencubit hidung istri-nya gemas
“Aku lihat dia adalah tipe orang yang jujur,  pekerja keras dan bertanggung jawab. Hari ini aku mengajak-nya meeting bersama dan menyerahkan sebuah proyek besar pada-nya, darisana aku bisa melihat bagaimana cara-nya bekerja dan aku yakin dia tidak akan mengecewakan-ku. Dia masih muda dan aku suka semangat-nya dalam bekerja. Dia bisa diandalkan untuk membantu Rajatha meng-handle beberapa perusahaan kita nanti” Kata Jalal semangat, Jodha mengangguk saja lagipula ia tidak terlalu mengerti tentang semua hal itu.
^^^
Suasana di ruangan Rajatha begitu sepi, biasanya setiap pagi ada saja keributan kecil antara dirinya dengan Faridha.

Tapi pagi ini yang ada hanya-lah sosok Rajatha yang serius pada layar laptop-nya, tidak ada si cantik Faridha yang selalu setia menemani-nya diruangan ini. Tentu saja semua ini karena ulah Yang Mulia Ratu Jodha, tanpa berbicara pada-nya lebih dulu, Jodha mengatakan pada-nya kalau Faridha cuti selama satu bulan dan itu berarti kekasih-nya baru akan kembali bekerja setelah pernikahan mereka nanti, Faridha mengatakan ia masih ingin tetap bekerja walau sudah menikah walaupun Jodha sudah melarang-nya waktu itu, sebenar-nya Rajatha juga setuju dengan Mama-nya yang melarang Faridha untuk tetap bekerja, tetapi baiklah lebih baik sekarang dia turuti dulu kemauan calon istri-nya, semua itu bisa dibicarakan lagi nanti.

Rajatha mengalihkan pandangan-nya dari layar laptop yang sangat membosankan dengan segala grafik dan angka rumit yang tertera disana, ke-meja kerja Faridha dan beralih lagi pada meja-nya.

Tidak ada kopi spesial yang tersedia di meja-nya pagi ini. Ya, sejak pertama ia meminum kopi buatan Faridha di kantor-nya, Rajatha tidak pernah menyuruh orang lain untuk membuatkan-nya kopi selain Faridha.

“Masih tiga belas hari lagi. Kenapa rasa-nya lama sekali waktu berjalan dan tidak ada yang bisa ku lakukan dalam membujuk Mama untuk meringan-kan hukuman-nya. Huffhh” Rajatha memhembuskan napas kasar.

“Apa aku kabur saja darisini dan diam-diam kesana? Oke. Go” Kata Rajatha bersemangat dan keluar dari ruangan-nya, namun baru saja ia keluar Melanie sudah menghentikan-nya dan berkata kalau dia tidak boleh kemana-mana jika memang tidak ada schedule keluar kantor, dan mulai hari ini juga akan ada sopir yang mengantar-jemput kemana pun dirinya pergi. Astaga, Mama-nya benar-benar mengerahkan segala kekuasaan-nya saat ini, dan seperti-nya kini pemilik saham terbesar di perusahaan-nya adalah Mama-nya, karena para pegawai-nya sendiri lebih patuh pada sang Mama daripada dirinya yang merupakan pemilik perusahaan.

“Aku sangat MENCINTAIMU Mama-ku sayang” Kata Rajatha dengan suara berat dan menekan-kan kata “Mencintaimu” lalu berbalik kembali masuk kedalam ruangan-nya. Melanie menahan tawa-nya melihat kekesalan Presdir-nya itu.
^^^
“Biar aku saja, Mbak” Kata Faridha setelah mendengar suara bel. Lavina mengangguk dan melanjutkan acara masak-nya

“Mama” Sambut Faridha sumringah, setelah cipika-cipiki. Faridha melihat-lihat kebelakang Jodha berharap ada seseorang juga yang ikut datang
“Tentu saja Mama tidak mengajak anak itu, Faridha” Kata Jodha yang seolah tahu siapa yang sedang dicari-cari Faridha
“Eh,, Hehe,, Silahkan masuk Mah” Kata Faridha malu-malu

“Siapa Faridha?” Tanya Lavina sedikit berteriak pada Faridha karena ia sedang berada di dapur
“Mama Jodha, Mbak” Jawab Faridha
“Duduk Mah. Sebentar aku ambilkan minum dulu untuk Mama”
“Eh tidak usah repot-repot, Sayang. Apa itu tadi Lavina? Dimana dia?”
“Iya, Mbak Lavina sedang memasak, Mah” Jawab Faridha
“Boleh Mama lihat?”
“Oh,, A-Ayo”

Faridha mengajak Jodha ke dapur, terlihat disana Lavina tengah sibuk dengan adonan di depan-nya.
“Hai Tante” Sapa Lavina dengan ramah
“Kau masak sendiri, apa yang kau buat” Kata Jodha mendekati Lavina dan melihat-lihat isi adonan yang dibuat Lavina
“Aku sedang ingin memakan makanan khas Jerman, Tante. Dan si cantik calon pengantin kita ini tidak bisa membantu-ku dalam hal masak-memasak” Jawab Lavina sambil melirik Faridha
“Mbaakkk” Faridha merengut tidak terima, walau memang apa yang diucapkan Lavina adalah benar. Faridha lebih memilih membersihkan rumah daripada harus memasak, bisa-bisa dapur kesayangan Lavina ini akan terlihat seperti kapal pecah jika membiarkan dirinya yang memasak.
“Hehee,, Sini, biar Tante bantu” Kata Jodha antusias
“Eh,,Eh,, Tante, tidak usah”
“Jangan Mah”
Tolak Lavina dan Faridha yang merasa tidak enak
“Tidak apa-apa Faridha, Lavina. Sini, biarkan Tante membantu-mu” Kata Jodha dan ia mencuci tangan-nya
“Apa yang ingin kau masak?” Tanya Jodha pada Lavina
“Eem,, Schwarzwalder Kirschtorte”
“Hah? Serius itu adalah nama makanan Mbak? Susah sekali” Celetuk Faridha yang masih setia berada disana yang mengundang kekehan dari Lavina dan Jodha.
“Lalu?” Tanya Jodha lagi pada Lavina
“Aku sedang ingin makan yang manis-manis, apa Tante ada ide?”
“Yang manis-manis ya?” Jodha diam sesaat dan nampak berpikir
“Oh, bagaimana kalau Bienenstich atau Apfelstrudel” Usul Jodha
“Waahh,, Tante tahu semua makanan itu? Bagaimana kalau kita buat semua-nya saja” Seru Lavina dengan girang
“Ya Tuhan,, Apa tidak ada yang lebih susah lagi nama makanan yang orang Jerman sana ciptakan, jika memesan makanan di restaurant sana aku yakin sudah terkena maag terlebih dahulu, baru bisa mengeja nama makanan-nya” Kata Faridha sembari membayangkan dan menggeleng-gelengkan kepala-nya
“Hahahaha” Lavina dan Jodha tertawa mendengar ocehan Faridha
Seperti-nya tidak bertemu dengan Rajatha membuat Faridha jadi seorang yang sangat sensitive, entahlah.

Setelah berkutat beberapa waktu, akhirnya Jodha dan Lavina menyelesaikan acara masak-memasak mereka.

“Waaawww,,, Seperti-nya semua ini enak-enak ya” Kata Faridha berbinar
“Tentu saja, ayo kita cicipi” Ajak Lavina pada Faridha dan Jodha
“Nanti setelah jadi keluarga, kita akan lebih sering masak-masak seperti ini” Kata Jodha
“Benarkah, aku sangat senang bisa masak bersama chef handal seperti Tante Jodha” Sahut Lavina antusias
“Iya, Sayang. Dan kau Faridha, Mama akan mengajari-mu memasak sampai bisa”
“Siap Mah, sebagai istri aku ingin membahagiakan suami-ku, salah satu-nya dengan memasak dan memberi-nya makanan yang enak-enak setiap hari. Mas Rajatha pasti suka” Kata Faridha yang sudah membayangkan hidup berumah tangga dengan Mas Rajatha-nya, pipi-nya bersemu merah.

Saat sudah sore hari dan puas mengobrol, akhirnya Jodha berpamitan pada Lavina dan Faridha.
 
“Jaga kesehatan dan kandungan-mu ya” Kata Jodha pada Lavina dengan mengelus perut-nya dengan sayang

Jodha mendekati Faridha dan tersenyum pada-nya, belum Jodha berbicara Faridha sudah memeluk-nya lebih dulu, Jodha-pun balas memeluk Faridha.
 
“Terlalu merindukan-nya?” Tanya Jodha, Faridha yang dalam dekapan hangat Jodha mengangguk pelan dengan terus menikmati pelukan sayang calon mertua-nya.
“Dia baik-baik saja kan?” Tanya Faridha
“Dia harus baik-baik saja, memang-nya dia mau pernikahan-nya diundur kalau terjadi apa-apa dengan-nya” Kata Jodha membuat Faridha tersenyum mendengar-nya

Jodha melepas pelukan-nya dan mencium kening Faridha sambil berbisik
“Mama ada hadiah untuk-mu, tanyakan pada Lavina nanti malam” Kata Jodha misterius
“Hadiah? Apa Mah? Mbak?” Tanya Faridha bingung pada Jodha dan Lavina
“Sudah, nanti malam kau tanyakan pada Mbak-mu. Sekarang Mama pamit dulu, sopir sudah menunggu Mama daritadi” Kata Jodha dan berlalu

“Mbak?” Faridha menghampiri Lavina
“Nanti malam Faridha sayang. Sebaik-nya kau mandi dulu, ini sudah sore” Kata Lavina, Faridha semakin penasaran dibuat-nya
^^^
Sejak tadi Jodha senyum-senyum memperhatikan wajah datar Rajatha yang menonton TV bersama mereka diruang tengah.
 
“Ada apa?” Tanya Jalal pada istri-nya
“Siapkan handphone-mu Sayang, sebentar lagi calon menantu kita akan menelpon. Handphone sedang di charge di kamar” Kata Jodha
“Oh ya,,, Kenapa Faridha menelponku? Apa ada sesuatu yang gawat?”
“Tidak ada, siapkan saja” Jawab Jodha
Dan tak berapa lama, benar saja handphone Jalal berdering. Dengan isyarat-nya Jodha menyuruh Jalal untuk segera mengangkat-nya
“Assalamu’alaikum, Halo”
“,,,,,,,,,,”
“Ada apa Nak?” Tanya Jalal ramah pada Faridha

Rajatha yang belum tahu apa yang terjadi hanya melirik sekilas pada Papa-nya dan kembali menatap layar TV

“Benarkah? Tapi istri cantik-ku ini tidak mengatakan apa-apa padaku sebelum-nya” Kata Jalal lagi yang mulai mengerti arah permainan istri-nya, Jodha tertawa kecil melihat-nya
“,,,,,,,,,,”
“Maaf sekali Sayang. Papa takut jika membiarkan-mu berbicara pada Rajatha, maka Papa juga akan dapat hukuman darinya” Kata Jalal sambil tersenyum dan mengelus kepala Jodha yang bersandar di dada-nya
“,,,,,,,,,,”

Rajatha yang merasa nama-nya disebut kembali menatap kearah Jalal, dan bertanya dengan isyarat pada Jodha siapa yang menelpon namun Jodha hanya menggeleng.

“Hey,,, Jangan kecewa begitu Sayang. Nah sekarang bicara-lah pada Jagoan Papa yang nakal ini, Faridha” Kata Jalal dan spontan membuat Rajatha melompat kearah-nya. Jalal dan Jodha tertawa melihat-nya

“Faridha?” Tanya Rajatha tidak percaya pada kedua orang tua-nya
“Iya, Sayang” Jawab Jodha dan memberikan handphone Jalal pada Rajatha
Rajatha segera menyambar handphone itu dari Jodha
 
“Ha-Halo,, Sayang” Dan Rajatha segera berlalu darisana menuju kamar-nya untuk berbicara dengan kekasih tercinta.

“Nakal sekali istri-ku sekarang” Jalal dan Jodha tertawa bersama.
Ternyata itu-lah hadiah yang dimaksud Jodha tadi sore pada Faridha, sebenar-nya tujuan ia datang kerumah Lavina hari ini adalah ingin menemui Jodha, dan melihat keadaan-nya apa sama seperti putera-nya yang terjangkit demam malarindu. Ckckck

Setelah bertemu Faridha yang terlihat juga sangat merindukan Rajatha, akhir-nya Jodha membiarkan mereka berdua saling melepas rindu mala mini, walau hanya lewat telepon, dan mungkin mereka akan saling menelpon sampai pagi, biarlah.
^^^
“Hai,, Apa kabar Sayang?” Tanya Rajatha saat ia sudah sampai dikamar-nya
“Baik, Mas sendiri bagaimana?”
“Aku bahkan merasa jauh lebih baik dan lebih hidup hanya dengan mendengar suara-mu” Jawab Rajatha dengan gombal-nya
“Mas,, Em,, Aku masih bingung kenapa Mama memperbolehkan kita ber-telpon-an malam ini”
“Mungkin Mama kasihan melihat kita yang seperti kucing kehilangan kumis-nya jika tidak bertemu” Jawab Rajatha ngelantur
“Apa sih Mas,,”
“Hhaahaa, Aku juga tidak mengerti, Sayang. Memang seperti apa kucing yang kehilangan kumis-nya ya. Anyway,, Apa kau senang mendengar suara seksi kekasih-mu ini, hm?”
“Masss” Kesal Faridha namun kedua pipi-nya nampak bersemu merah saat ini
“Hahahaa,,,, I love you, Faridha Anggun-ku, belahan jiwa-ku”
“I love you, too” Jawab Faridha pelan setengah berbisik
“Ya Tuhan. Bisakah handphone tidak hanya mengirim suara tapi juga mengirim orang-nya” Oceh Rajatha
“Apalagi itu? Jangan berlebihan Mas”
“Mendengar suara-mu yang menjawab pernyataan cinta-ku, rasa-nya aku ingin berada dihadapan-mu, melihat wajah cantik-mu yang kini pasti tengah tersipu malu, dan mencubit kedua pipi-mu yang selalu bersemu merah saat aku menggoda-mu” Rajatha semakin gencar menggoda Faridha
“Ti-tidak. Siapa bilang pipi-ku bersemu merah, biasa aja” Elak Faridha yang tentu saja tidak dipercaya Rajatha.

Dan malam itu pun mereka habiskan untuk saling melepas rindu satu sama lain,  karena rasa kantuk yang mendera-nya akhirnya Faridha tertidur lebih dulu, tak berapa lama Rajatha-pun tertidur dan memutuskan telepon-nya.
----------------------------
- To Be Continue -
***
Hai Hai,,, Saya mau ngucapin selamat menjalankan ibadah puasa ya bagi kita yang menjalankan. Mari berlomba dalam kebaikan di bulan yang penuh berkah ini dan insha Allah terus berlanjut di bulan-bulan setelahnya. Semoga segala kebaikan yang kita lakukan dicatat sebagai pahala oleh-NYA. Aamiin,..

Dan Saya mau pengumuman sedikit nih, mungkin selama bulan ramadhan ini saya gak post dulu ya, tapi tapi tapi jikalau misalkan seandainya bilamana saya ada waktu luang, saya akan coba lanjut tapi jangan terlalu berharap ya,, Hehehe


Rahasia Hati Part 17 - By : Erinda

1 comments:

  1. Yaaaa...pembaca kecewa nih .. tp masih akan tetap setia menynggu

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.