Song of Millitary - Part 6 (By : Vi) - ChusNiAnTi

Song of Millitary - Part 6 (By : Vi)


Dari tadi Jalal masih tak menyangka ternyata gadisnya bahkan lebih cantik dari khayalannya selama ini. Walau pakaian Jo tidak terlalu mewah, karena seperti perkiraannya di awal bahwa Jo tak mau memakai gown dan sepatu berhak tinggi. Tapi tetap saja ia terlihat sangat cantik, walau dengan make up tipis di wajah. Yang Jalal yakini Bu Asiah lah yang memaksa Jo untuk memakainya.

“Jalal lebih baik perhatikan saja jalanmu, jangan memandangku seperti itu. Aku risih dengan pakaian ini ditambah tatapanmu itu atau lebih baik kita kembali lagi dan berikan aku sedikit waktu untuk menukar pakaian merepotkan ini” Mohon Jo.

Jalal melirik Jo lebih,“Tidak Jo, jika kita tidak harus kembali atau kau mau kita ketinggalan acaranya?” Jalal meneruskan kemudinya, “Lagipula ini tak terlalu buruk seperti yang ku bayangkan”ucapnya samar.

Jodha menatap laki-laki disampingnya, “Apa?”

Jalal menggeleng.

Sejujurnya Jo agak risih dengan pakaiannya ini, walau tadi ia telah meminta Bu Asiah untuk tidak memberikannya gown yang ribet, Al-hasil beginilah pakaian yang Jo kenakan gown white brokat panjang di belakang tapi di depannya hanya sebatas paha dengan perpaduan celana jeans putih yang menampilkan keanggunanya. Sebenarnya perpaduan celana jeans adalah keinginannya sendiri agar kakinya tidak menjadi pusat perhatian, berlebihan sih tapi mau diapakan lagi, serta sepatu simple datar tanpa hak serta rambut yang hanya digelung ke atas. Jo juga hanya memberikan sedikit lip gloss pada bibirnya.

“Jalal, anak siapa yang kau culik ini? Apakah ini kekasihmu yang sering kau ceritakan padaku beberapa mingu lalu?”tanya Tn.Zavier Winola.

“Ini bukan saat yang tepat untuk melakukan lelucon pa” Jalal menarik Jo yang tampak ragu berhadapan dengan calon keluarganya, “Perkenalkan pa ini kekasihku Jodha Ardani”

“Sebentar, sepertinya wajah gadis ini tidak asing lagi bagiku. Tapi siapa dia? Mungkin hanya kebetulan saja”batin Tn.Zavier Winola bertanya-tanya.

Jalal segera menarik tangan papanya dan membawa pergi jauh dari pandangan Jodha, “Pa aku ingin membicarakan sesuatu” Jalal membuka percakapan, “Hm.. sebenarnya dia Jodha anak Tn.Zahid sahabat lama papa. papa masih ingat kan?”

“Ya aku masih ingat, mana mungkin aku melupakannya.Tapi kenapa Jodha ada bersamamu lagi bukankah dia telah pergi dan menghilang tanpa sebab”

“Tidak pa, terjadi kesalah pahaman diantara kami. Dan Jo mengalami kecelakaan yang membuat memori ingatannya hilang, itulah sebabnya ia tak mengenaliku apalagi papa dan mama.”

“Oh, sungguh malang nasibnya. Semoga ingatannya cepat kembali agar kau tidak menjadi pria asing yang baru dikenalnya” Tn.Winola prihatin.

“Aamiin

(justru itu yang kutakutkan pa, bila seluruh memori Jo telah kembali dia pasti akan sangat membenciku) batin Jalal.

Jo mencari Jalal yang tiba-tiba menghilang dari hadapannya, “Kemana Jalal? Bukankah tadi ada di situ” Jo menunjuk tempat Jalal beberapa menit lalu.

Jo mengamati semua tamu yang berlalu lalang di hadapannya, sungguh keluarga Jalal benar-benar keluarga terhormat. Entah berapa orang penting yang datang mungkin akan ada lagi setelah ini dan ini. Mengingat Jalal juga seorang artis yang sebagian manusia pertelevisian tahu akan hal itu. Tak luput dari pandangan Jo, banyak perempuan cantik berada di tengah keluarga besar Jalal. Jo tak mau berburuk sangka dulu sebelum tahu kebenarannya, “Bisa saja mereka teman, saudara sepupunya Jalal kan?” batinnya meyakinkan.

Tapi hatinya masih bingung, banyak sih wanita cantik tapi ada seseorang yang akrab daripada yang lainnya. Jika wanita lain mereka hanya berbasa-basi, tapi yang ini berbeda.

Tak disangka kaki Jodha ikut melangkah mendekati keluarga Jalal, entah keberanian dari mana, Jo hanya ingin tahu apa hubungannya. Tak lama Jo telah ada di dekat mereka, mengambil kue dan berdiri terdiam

“Ini loh Arkan yang mama mau temuin sama Jalal?” Ny.Arum menarik tangan wanita ke hadapan Arkan dan Askana.

Arkan mengingat sesuatu, “Lah ini bukannya teman Jalal yang dulu ya”

“Mungkin iya, mama juga lupa. Lavina tunggu disini sebentar ya, biar tante panggil Jalal dulu” Ny.Arum pergi mencari putra bungsunya itu, sedangkan Lavina dia disambut baik dengan keluarga Jalal.

Lavina memang seorang yang cantik, jelas dari gaya pakaian yang begitu feminim, gown yang tak disukai Jo begitu melekat ditubuhnya (jelas terlihat dipandangan Jo gown ini sangat pendek), sepatu berhak tak luput dikakinya. Pantas saja Jalal begitu menginginkan Jo memakai pakaian ribet dan sepatu aneh seperti yang ia pakai. Mungkin Jo akan mundur teratur dari pada diusir tak terhormat. Ayolah bagaimana pemikiran kalian jika berada di posisi Jodha.

Jodha bingung, “Maksudnya apa ini? Jika Jalal sudah dijodohkan oleh orangtuanya, apa gunanya aku disini?” Jodha berfikir, “Dimana Jalal, haruskah aku mencarinya atau membiarkan dia bertemu dengan wanita itu”

“Jodha” Jalal memanggil Jo yang berada sekitar sepuluh langkah kaki orang dewasa, tiba-tiba seorang yang menurut Jo adalah Jalal menghampirinya.

“Jalal!” teriak wanita paruh baya itu.

Jalal berhenti dari tempatnya menuju Jodha, menengok seseorang yang memangilnya tadi. Terdiam siapa yang akan ditemuinya terlebih dahulu. “Mungkin aku akan menemui Jodha dan membawanya ke hadapan mama” Jalal berfikir.

Ny.Arum mendekat ke arah Jalal sebelum Jalal melanjutkan langkahnya, “Ikut mama sebentar, dari tadi kau belum bertemu Arkan dan kakak iparmu?”

“Tapi, aku ada urusan nanti aku akan menemui mama”

“Urus keluargamu dulu baru urus kepentinganmu yang lain” Ny.Arum menggandeng tangan putranya.

Jodha terdiam melihat Jalal dan ibunya itu, entah kenapa Jo merasa ia akan diabaikan di pesta ini. Jodha tak mengenal siapapun kecuali Jalal. Jodha dapat melihat dengan jelas keluarga bahagia itu, lalu untuk apa ada kehadirannya di pesta ini.

Jodha mengeliminasikan dirinya ke ujung ruangan, tak ada yang menarik ‘fikirnya’. “Pulang?” Jo telah berfikir akan hal itu tapi tidak mana mungkin ia membiarkan tingkah anak-anak itu menghinggapi dirinya. Hanya karena diabaikan dan Jalal dikenalkan oleh seorang wanita yang lebih baik darinya, ‘hanya’ itu bukan hanya Jo, itu sudah lebih dari cukup membiarkan hatimu panas. “Hatiku tak panas, ini suatu yang wajar. Orang tua menjodohkan anaknya, apa yang salah?” Jo membela. “Lalu untuk apa cincin yang ada di jarimu itu?” hatinya menentang. “Ya untuk,,,untuk,,,untuk perhiasan juga bisa kan, tidak harus sebagai suatu pertanda ataupun simbol ikatan”

Entah berapa lama Jo berdiam di sudut ruangan, hanya berdebat dengan hati. Tanpa disadarinya puluhan menit berlalu dan puluhan menit terbuang percuma.

“Jalal apa yang kau ceritakan pada papamu tentangku” tanya Jo datar setelah Jalal mengagetkan Jo yang melamun di ujung ruangan.

“Bukan hanya pada papa tapi pada seluruh keluarga besarku, mereka harus tau bukan, siapa calon menantu keluarga ini setelah Kak Askana kelak”Jalal menjelaskan dengan wajah serius, “Ayo aku ajak kau menemui mereka disana”

Jodha tahu jika Jalal akan mengenalkannya dengan Ny.Arum tadi “Tidak perlu. Sudah hampir larut malam, lebih baik kita pulang”

Jodha telah berada di dalam apartemen-nya, setelah Jalal mengantarkan pulang. Tadi Jo telah memaksa agar ia tak bertemu dengan orang tua Jalal tapi Jalal tetap memaksa. Dengan dalih pendekatan dirinya dengan seluruh keluarga Zavier. Agar bila suatu saat dipertemukan lagi ia tak merasa canggung dan sudah saling mengenal.

Jo bersyukur saat disana tak ada Ny.Arum, hanya ada Tn.Winola dan beberapa saudara sepupu Jalal yang menyambut hangat Jo. Jo sedikit senang, setidaknya ia mulai mengenal keluarga Jalal.

***

Jo mendapat tugas untuk menetralisir keadaan di sudut desa kecil kota Kalimantan setelah terjadi pemberontakan. Bersama PATERATA lainnya ia memimpin perjalanan menggunakan pesawat tempur milik TNI-AU. Jalanan, rumah, fasilitas umum rusak disana, telah terjadi aksi kekerasan yang merugikan banyak pihak. Jo bersama rekannya menelusuri jalan setapak dan memasuki hutan untuk melihat lokasi kejadian dan memberi bantuan secara langsung. Jo sempat menitikan air mata melihat keadaan desa ini.

Negeri ini telah merdeka

Merdeka dari para penjajah dan manusia berkulit putih

Yang tinggal di bagian belahan bumi lain

Jauh? Ya, tapi mereka berhasil membuktikan betapa hebat bangsanya

Tapi kini, penjajah justru datang dan hadir dari diri penerus Bangsa

Sungguh miris, tidak terbayang oleh mereka

Betapa sulit menjadikan negeri ini kokoh

Betapa sulit pahlawan mengusir penjajah dan berkorban nyawa

Berdiri sendiri tanpa harus digoyahkan semangatnya

Berdiri sendiri tanpa harus dipatahkan keinginannya

Dan memang tak akan ada yang tahu apa keinginan takdir selanjutnya

Kini Jo baru tahu apa yang diucapkan Ir.Soekarno bahwa “Perjuanganku akan lebih mudah karena melawan Bangsa lain, sedangkan perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan Bangsa sendiri “ benar adanya.

Sepanjang hari mereka melakukan penjagaan dan penyerangan jika terjadi keributan. Malam hari pengobatan kepada korban pun tetap mereka lakukan, istirahat tidak dikenal disini yang terpenting adalah keselamatan serta kenyamanan para masyarakat desa.

“Kerahkan semua tenaga kalian! Aku tidak ingin satu pun anggota PATERATA jatuh sakit. Bila ada yang perlu bantuan, cepat bergerak jangan menunggu waktu lama. Semangat!!!”kata Jo bergebu-gebu pada para anggotanya.

“Siap”kata mereka serempak.

“Sekali lagi aku ingatkan pada kalian, besok adalah hari dimana kita membebaskan para tawanan yang di culik para pemberontak. Kita akan pergi bersama yang lain. Jangan takut, Tuhan selalu disini.”Jo kembali berkata seraya menunjuk dadanya.

Anggota yang lain hanya mengangguk dan bertingkah seperti seorang yang haus darah tak sabar akan penyerang mereka besok untuk menangkap para pemberontak. Dan mengeluarkan para masyarakat yang telah ditawan.

“Sekarang kembalilah ke tenda masing-masing, jangan lupa siapkan alat penyerang disamping kalian untuk berjaga-jaga. Karena aku yakin mereka juga telah menyiapkan rencana licik”ucap Jo mendengus kesal.

“Siap Komandan”katanya hormat.

Dan semua pun membubarkan barisan masing-masing menuju tenda yang disediakan setelah sebelumnya ditugaskan untuk memeriksa keamanan daerah sekitar.

Waktu yang ditunggu pun datang, keanggotaan PATERATA sedang mempersiapkan dirinya dan mengadakan pertemuan unntuk menyusun strategi penyerangan bersama pasukan lain.

Mereka bergegas menuju markas pemberontak yang berada cukup jauh dari daerah saat ini kira-kira 5 km. Menggunakan mobil bak terbuka khusus para anggota. Beberapa menit melakukan perjalanan mereka sampai di jalan setapak depan hutan dipenuhi pohon besar. Menurut informasi sebelumnya, lokasi markas berada di dalam hutan yang harus ditempuh melewati sungai dan beberapa jembatan rusak.

“Semua berhati-hati. Lihat keadaan sekitar, saling perhatikan anggota lain jangan sampai kehilangan jejak”seru Jodha lagi.

Lagi-lagi para anggota hanya menutup rapat mulutnya dengan menyusuri jembatan bergantian. Pikiran mereka melayang untuk melakukan penyerangan beberapa waktu lagi.

Sampailah mereka pada sebuah lokasi di pedalaman hutan, terdapat beberapa gubuk disini. Dihiasi pemberontak yang sedang berlalu-lalang melakukan penjagaan. “Kalian dan aku sendiri menuju kesana serta menyerang mereka, sedangkan beberapa lainnya datangi gubuk disana yang aku yakini terdapat para korban yang mereka tawan”

“Laksanakan”

Terjadi aksi pertempuran antara anggota PATERATA dan pasukan lainnya bersama pemberontak. Suara tembakan keras senjata laras pendek maupun panjang dari kedua pihak menguasai heningnya hutan. Tak ada satupun yang ingin kalah, tetapi karena kekuatan mental serta fisik yang dimiliki anggota. Akhirnya mereka pun dapat melumpuhkan para pencundang itu, sedangkan di sisi lain beberapa anggota sedang sibuk melepaskan para manusia yang ditawan dari gubuk kecil dan melarikannya keluar hutan menuju mobil tadi. Agar segera dibawa ke tenda perawatan hanya sekedar mengobati luka atau menyembuhkan trauma.

“Setengah diantara kalian berjaga diluar dan aku akan masuk kedalam menemui otak dari semua kekacauan yang dibuatnya”kata Jo memerintahkan dan segera masuk kedalam rumah kayu yang paling besar.

“Shettt”suara dentingan pisau kecil yang berhasil melukai lengan Jodha tak terduga.

“Selamat datang di markas kami Komandan dan selamat juga telah memenangkan pertempuran ini secara mudah”kata seorang pria yang tidak terlalu tua berdiri tegap di hadapan Jodha.

.
.
.

Song of Millitary - Part 6 (By : Vi)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.