Song of Millitary - Part 9 (By : Vi) - ChusNiAnTi

Song of Millitary - Part 9 (By : Vi)



Jalal telah kembali ke Indonesia berada di depan Apartemen Jo, langsung masuk ke dalam. Bukan tanpa mengetuk pintu, Jalal telah puluhan kali mengetuk pintu dan meneriaki nama Jo yang akhirnya membuat tetangga Jo mememarahinya karena telah membuat keributan. Tapi kosong tak ada siapapun. Kemana dia? Benar kan ia telah pulang? Atau ia pergi ke rumah orangtuanya? Tak mungkin, aku telah menghubungi mereka dan aku yakin mereka tak tahu masalah ini.

Lelah berfikir tapi tak juga membuahkan hasil itu yang Jalal dapat setelah lama berdiam diri di dalam kamar Jo. Jauh-jauh dari Milan ke Jakarta mengambil jam penerbangan pertama pada hari itu, tapi apa? Jo tak juga berada disini, lalu pergi kemana dia? Apa mungkin ini karma yang kudapat setelah mengabaikannya.
                        
Hari-hari Jalal lalui tanpa Jo, berat? sudah pasti tapi pekerjaan membuatnya menghilangkan semua masalah yang dihadapi kini. Jalal telah berada di dalam Apartemen Jo untuk yang kelima kalinya setelah kejadian itu. Jalal tahu ini memang tak sopan tapi mau bagaimana lagi Jalal terlalu merindukan Jo. Bingung bukan kenapa ia bisa masuk? Tentu karena Jo memberikan kunci cadangan apart nya kepada Jalal. Itu juga atas desakan Jalal setelah beberapa menit berdebat.

Jalal sedang duduk di sofa apartemen Jo, dengan kekacauan pikirannya. Di satu sisi ia sangat marah kepada Jo, tapi di sisi lain perasaannya khawatir sebagai seorang kekasih akan keadaan Jo saat ini. Dan saat Jalal sedang memejamkan mata menyenderkan bahunya di sofa, pintu terbuka. Wanita yang berbadan seperti Jodha muncul dibalik pintu menyandang ransel besar miliknya dan perban dikening.

“Jalal? Apa yang kau lakukan disini?”tanya Jo yang kaget melihat Jalal sedang merebahkan dirinya di sofa.

“Dari mana saja kau? Aku terbang jauh dari Milan-Jakarta dan memilih penerbangan jam pertama untuk menemuimu disini. Tapi kau tak ada !”

“Maaf, beberapa hari terakhir aku sibuk dengan urusan lain. Sehingga harus pulang mendadak. Sebenarnya aku ingin memberitahu akan kepulanganku,” Jo diam sejenak menatap laki-laki didepannya.“Tapi sepertinya kau sibuk atau mungkin mengacuhkanku” Jo mendengus.

“Apa kesibukkanmu sehingga tidak bisa memberi kabar padaku, bahkan ponselmu tidak aktif berhari-hari,”Jalal mendekati Jo.

Jo melangkah mundur, “Aku fikir kau tak mau kuhubungi. Kau instropeksi dirimu dulu Tn.Zavier, berapa kali kau acuhkan panggilanku? Berapa kali juga kau tak pernah balas pesanku. Jadi, apa penting jika aku menghubungimu?”

“Tentang itu… tentu saja aku..” Jalal baru akan menjawab sebelum Jo memotong ucapannya. “Tentu saja kau tak mementingkannya kan? Kau terlalu cemburu padaku.”

Jalal kaget “Cemburu? Untuk apa aku cemburu? Apa yang aku cemburui? Aku tak mengerti apa yang kau maksud, jika tentang kebersamaanmu bersama laki-laki setengah bule itu. Tentu saja tidak!” Jalal menentangnya.

“Sudah kuduga” Jo bergumam, “Kau melihatnya kan? Jadi itu yang menyebabkanmu mengacuhkanku?”

Jo sadar saat ia bertemu Leon. Tepat pada saat Leon tiba-tiba memeluknya, Jo merasakan seseorang tengah mengintainya, sebelum Jo memeriksa sesuatu dibalik dinding, orang itu telah pergi. Tadinya Jo belum sepenuhnya yakin jika orang itu adalah Jalal, tapi semenjak Jalal mengacuhkannya lengkaplah keyakinan Jo jika Jalal cemburu. Terbukti jika hari ini Jalal sendirilah yang mengatakan dari mulutnya itu.

“Tapi Jo sepertinya itu tak terlalu penting. Bagaimana jika kau katakan darimana kau mendapatkan luka dikeningmu itu?” Jalal mencurigainya,
“Pekerjaanmu TNI-AD, jika aku mencurigai kau ikut dalam sebuah pertempuran. Apa aku salah?”

Jo berjalan menuju sofa empuknya, “Tidak! Kau berlebihan! Aku ini kan wanita, aku hanya membantu menyiapkan keperluan dan tak sengaja aku tersandung lalu terjatuh. Masuk akal bukan? Daripada fikiran konyolmu itu.”

“Baiklah aku mengerti. Sana pergi bersihkan dirimu lalu istirahat lah dan jangan lupa obati lukamu. Aku akan pergi sekarang. Fikri telah menunggu di lobby”

Jalal meninggalkan Jo sendiri.

 “Pria yang aneh, tadi memulai perdebatan dan sekarang dia entah perduli atau sok perduli denganku karena itu beda tipis”batin Jo.

***

1 Mei

Tepat pukul 19.00 WIB Jo melajukan audi S6 white miliknya, menelusuri jalanan ibukota bersama Ulfah. Sebelumnya, ia terlihat sibuk menghubungi beberapa orang. Dan kini mobil itu telah terpakir, Jo turun lalu masuk kedalam rumah yang berdiri megah dihadapannya. Perlahan ia melangkah dan melewati setiap ruangan disekitarnya, Jo pun sampai di depan kamar Jalal. Mempersiapkan diri untuk berbicara di depan Jalal, dengan ekspresi yang cukup tegang, mungkin.

“Tok…tok…tok”Jo mengetuk pintu dan tak lama pun Jalal keluar.

“Loh Jo, ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu datang kesini tanpa memberitahuku terlebih dahulu”tanya Jalal yang bingung kenapa Jodha datang ke rumahnya

“Gak, aku cuma mau bertamu aja. Emangnya gak boleh ya?”tanya Jodha dengan wajah datarnya

“Yaudah, silahkan masuk nona”jawab Jalal mempersilahkan Jo masuk kedalam kamarnya.

Jo takjub melihat kamar Jalal yang besar di dominasi warna hitam dengan beberapa figura yang menempel di dinding. Meja, sofa, lemari, tentunya kasur dan beberapa alat musik tertata sempurna di sudut ruangan. Terdapat pintu menuju teras kamar yang di desain se-sempurna mungkin. Karena ini kali pertamanya ia masuk kedalam kamar Jalal.

“Jalal, aku ingin bicara serius denganmu” ucap Jo yang membuka pembicaraan setelah duduk di sofa bersama Jalal.

“Ada apa Jo? Wajahmu tegang. Penting banget ya, sampai segitunya” goda Jalal.

“Iya, aku ingin membicarakan hal yang sangat serius. Jadi kumohon jangan bercanda atau menggodaku” tegas Jodha.

“Oke, sekarang katakan maksud kedatanganmu”

Perlahan Jo berdiri dari sofa dan membelakangi Jalal, ia menutup mata dan mengatur ritme pernafasannya. Dengan penuh keyakinan Jo memulainya.

“Jalal, tolong maafkan aku, keputusan ini telah ku perhitungkan secara matang apa akibatnya untuk ku, kau dan orang disekitar kita” katanya tetap tenang, “Aku ingin memutuskan hubungan denganmu sebagai seorang kekasih. Karena aku tidak yakin bisa melanjutkan hubungan kita ke arah yang lebih serius. Dan aku minta kau lupakanlah aku mulai detik ini, jangan pernah hubungi atau temui aku” jelas Jodha yang membuat Jalal tercengang.

“Jodha, maksud kamu apa? Memutuskan semua hubungan yang sudah kita jalani setahun terakhir ini. Kamu gak lagi bercanda kan? kamu lupa susahnya aku mendapat perhatian kamu. Pertemuan pertama kita, hari dimana aku melamar mu dan semuanya. Sekarang kau minta aku untuk melupakan mu? TAK AKAN” Jalal menarik nafas, “Dan TAK AKAN PERNAH KU LAKUKAN” ulangnya. Jalal mencengkram kedua bahu Jodha.

Jo berusaha melepaskan pegangan Jalal dibahunya,“Tapi ini keputusanku Jalal, aku mulai merasa tak nyaman dengan hubungan kita. Dan kau tidak bisa memaksakan kehendakku. Suatu hubungan yang hanya ada 1 perasaan didalamnya tak bisa disebut ‘Cinta’ ” Jo memberikan penjelasan.

“Aku mengerti Jo, tapi atas dasar apa kamu minta aku melakukan semua hal yang kamu katakan tadi. Menyetujui keinginan bodohmu itu, tidak akan pernah kulakukan” kata Jalal tetap pada pendiriannya.

“Terserah keyakinanmu sajalah, sebelumnya aku sudah membicarakan hal ini dengan ibu dan ayah. Mereka menyetujuinya dan ini bukan keinginan bodoh melainkan keputusan dari dalam hatiku. Dan jangan lah bersikap egois dengan memikirkan perasaanmu saja”

“Mau itu keputusan dari hatimu atau apapun aku takkan menerimanya. Ini bukan suatu keegoisan Jo ”

Jo menatap sengit ke arah Jalal, “Jika ini bukan suatu keegoisan. Kau anggap apa suatu itu?” Jo mendesak. “Suatu kebaikan dan membiarkan aku hidup bersama orang yang tak aku cintai. Oh atau suatu..” Jo berfikir, “Suatu keinginan dalam hubungan dan tak akan pernah ada pernikahan!” Jo menjauhi Jalal.

Jalal mulai mendekatinya, “Tentu tidak Jo. Jika kau tak seperti ini pasti akan ada pernikahan dalam hubungan kita”

“Kita? Bukan kita Jalal. Tapi antara aku dan dia (laki) juga antara kau dan dia (perempuan). Bukan antara KITA” Jo menegaskan kata-katanya dan semakin menjauh.

“Siapa yang kau maksud DIA? Tak ada siapa-siapa selain aku dan kau!”

Jo bersikeras “Sekarang memang tak ada, tapi siapa yang tahu waktu kedepan Jalal?”

“Aku,” Jalal menunjuk dirinya “Kau,” Jalal menunjuk Jodha “Kita,” Jalal menunjuk dirinya dan Jo bergantian “Memang tak ada yang tahu bagaimana kehidupan yang akan datang. Tapi yang aku tahu, kau tetap akan bersamaku”


“Egois! Itu namanya Egois! Kau menafsirkan hidupmu sendiri. Aku tak suka itu”



TBC

Song of Millitary - Part 9 (By : Vi)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.