Song of Millitary - Part 7 (By : Vi) - ChusNiAnTi

Song of Millitary - Part 7 (By : Vi)



“Tugas kami meringkus penjahat licik seperti dirimu”kata Jo menghiraukan aliran darah yang merembes dari balik bajunya.

“Tidak usah membuang tenagamu lagi, sekarang tangkaplah aku!”

Jo mengerutkan dahinya “Apa maksud pria ini? Ia menyerahkan diri tanpa perlawanan. Apa ini semua hanya siasat membodohi kami?”batinnya bertanya-tanya.

“Aku serius tidak bercanda. Disini hanya tersisa aku seorang diri, mereka telah kau lumpuhkan semua. Cepat tangkaplah aku!”katanya lagi seakan dapat membaca isi pikiran Jo.

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu, kalian semua manusia licik. Menyerahkan diri begitu cepat, aku yakin ini hanya rencana busuk kalian saja…”kata Jo tegas.

Pria ini lagi-lagi mengeluarkan senyum lebarnya seakan tak berdosa, “Owh…owh…owh…Komandan” Dia maju selangkah penuh harap, “Apa kau pernah mendengar kejahatan kami di berbagai kota? Tidak kan. HANYA DISINI, DI DESA INI !!!”katanya penuh penekanan.

“Setiap warga yang melakukan penyelewengan dari peraturan hidup bernegara, beberapa diantaranya bisa disebut penjahat. DAN KAU SALAH SATU DIANTARA PENJAHAT ITU!!!”`

-

-

“CEPAT PERIKSA KEADAAN TEMPAT INI, SITA SEMUA SENJATA YANG TERSISA. DAN TANGKAP DIA !”perintah Jo bergebu-gebu.

Atas perintahnya 2 anggota langsung masuk mencari alat berbahaya yang tersisa. Dan 2 orang lainnya segera memeriksa keamanan, agar tidak ada lagi senjata yang melekat di tubuh pria ini serta mengikat tangannya. Membawa semua keluar untuk diadili hari berikutnya serta memindahkan beberapa diantara yang masih hidup ataupun mati ke dalam mobil.

***

“Selamat aku ucapkan untuk kalian semua karena telah berhasil meringkus penjahat dan membebaskan warga tawanan. Atas kerjasamanya aku ucapkan terimakasih”kata Jo di depan para anggota.

“Persiapkan diri kalian dan obati luka yang ada. Besok kita akan mengadakan kepulangan ke kota masing-masing”sahutnya lagi.

2 minggu waktu yang cukup lama untuk memperbaiki semua masalah disini. Sekarang masyarakat desa sudah merasa cukup aman dengan keadaannya. Meskipun ada beberapa diantara mereka yang enggan pulang dan kekeh menetap di tenda pengungsian, trauma mungkin.

Setelah mengadakan apel terbuka khusus para anggota di lapangan luas yang masyarakat sediakan. Kepala Desa meminta para anggota menyisakan sedikit waktunya disini

Mereka memberikan beberapa penghormatan dan kain khusus dari daerahnya sebagai ungkapan terimakasih. Luka yang tergores di tubuh menandakan keberhasilan karena mampu bersaing dan memukul mundur para pengkhianat bangsa.

***

“Jo kamu darimana saja?.”ucap Jalal, “Hei ada apa dengan lenganmu? Apa kau baik-baik saja?” tanya Jalal panik setelah datang ke apartemen, memegang lengan Jo yang terbalut oleh perban putih.

 “Jalal, kamu ini apaan sih. Aku ada pekerjaan beberapa minggu. Luka ini tidak terlalu parah dan akan sembuh seiring berjalannya waktu” sangkal Jo dan menarik lengannya dari Jalal.

“Tapi kenapa tidak memberi kabar padaku bahwa kau akan pergi, setelah acara dalam pesta pernikahan itu aku tak melihatmu lagi. Kau seolah hilang ditelan bumi Jo, aku bahkan menanyai ayahmu tapi saat aku beritahu beliau tidak terdengar seperti orang panik” Jalal bingung.

“Mungkin kau akan tahu suatu saat nanti Jalal” batin Jodha.

“Jo kenapa kau diam saja? Oh ya, aku kesini ingin memberitahumu bahwa lusa aku akan pergi ke Milan untuk mengadakan konser”

“Kapan kau akan kembali?” Sebenarnya Jo agak kesal dengan Jalal karena baru bertemu dan apa yang dia katakan “Akan pergi? Lusa? Ke Milan? Dia kira Milan dekat.” Kalian pasti akan merasakan hal yang sama saat kalian pergi selama 2 minggu dan baru berjumpa dengan kekasih kalian lalu dia mengatakan akan pergi ke Milan lusa.

“Hahaha lihatlah wajahmu Jo, aku tahu kau merindukanku, tapi pintarlah sedikit untuk menyembunyikan ekspresi wajahmu nona” tawa Jalal menggema di ruangan dengan tangan sibuk mengacak rambut Jo.

“Jawab saja pertanyaanku”kata Jo malas.

“Aku pergi hampir 2 minggu, setelah selesai konser aku ingin berlibur sebentar. Sudah lama bukan kita tidak berlibur?” jawab Jalal mulai serius.

“Kita? Maksudmu kau dan aku?”

“Tidak usah sekaget itu nona, tidak masalah bukan jika aku mengajak kekasihku berlibur?”

“Memangnya kau yakin aku akan ikut bersamamu”

“Jangan menguji kesabaranku Jodha. Kau selalu saja berusaha menolak, untuk kali ini kupastikan kau tak bisa menolaknya Jo” jawab Jalal dengan wajah marah.

“Baiklah aku ikut, berhenti membuat wajah seperti itu. Aku takkan mempan Tn.Jalal Zavier” Jo tau itu hanya wajah dibuat-buat karena ia yakin lelaki ini takkan bisa marah. Itu yang Jo yakini selama ini entah benar atau tidak. Lihat saja nanti.

“Tapi jika kau pergi aku akan pergi juga ke tempat yang aku mau. Aku akan bosan jika hanya berdiam terus di Hotel”

“Tak masalah, oh ya aku telah meminta izin ke pada orang tuamu. Mereka mengizinkan. Jadi disana aku yang akan menjagamu, jangan macam- macam. Keselamatanmu tanggung jawabku” ancam Jalal.

“Ya, terserah padamu”

“Kau bersiap-siaplah, beberapa hari kedepan aku akan sibuk. Mungkin kita akan bertemu saat nanti aku menjemputmu untuk berangkat”

“Hmm”

***

Pesawat telah mendarat dengan sempurna di Bandara Malpenza, mereka langsung dijemput menuju Cartlon Hotel Baglioni dengan menempuh perjalanan selama 2 jam. Kamar Jodha dan Jalal bersebelahan, cuaca dingin di Milan membuat Jo berpakaian cukup tebal sehari-hari. Jo sangat bosan berada di kamar terus-menerus, hari ini Jalal telah berjanji akan mengajaknya ke suatu tempat, sontak itu membuat Jo tidak sabar dan senang. Dengan pakaian kaus tebal dan jeans dilengkapi jaket syal dan kets andalannya. Jo siap menunggu Jalal menjemputnya. Hingga pukul 11 malam Jalal tak kunjung datang, Jo tertidur di sofa empuk karena lelah menunggu.

Pagi harinya telfon Jo berdering, tertera nama Jalal disana……

Jalal   :“Halo Jo, maafkan aku soal semalam”

Jodha :“Iya, aku sudah tahu ini akan terjadi, itulah alasan mengapa aku menolak ajakanmu waktu itu”

Jalal   :“Sekali lagi maaf Jo, tapi kau mau bukan mendengarkan penjelasan ku kali ini”

Jodha :“Aku sudah tau pasti kau akan mengatakan ‘Aku ada urusan mendadak saat akan menjumputmu Nona, aku tidak tahu ini akan terjadi’” Jawabnya dengan menirukan suara Jalal.

(Jalal bingung harus membalas Jo, karena yang ia katakan benar semua. “Ternyata Jo telah sangat mengenal ku”.fikirnya)

Jodha :“Kenapa diam saja Tn.Jalal. Aku tahu kau sangat sibuk, aku akan pergi sendiri saja. Lama menunggumu akan buat diriku membeku disini” katanya untuk mempercair suasana.

Karena Jo yakin kini Jalal merasa bersalah, sebenarnya ia juga keterlaluan. Sejak awal kan Jalal telah mengatakan bahwa ia disini untuk mengadakan konser.

“Ah iya aku akan kembali besok, tunggu aku. Aku berjanji padamu” jawab Jalal diselingi tawa agar suasana tidak canggung.

“Baik, aku menunggu janjimu Tuan”

“Ya aku tau ini akan terjadi…Baik Jodha. Apa kau siap pergi sendiri menelusuri Kota Milan ”batin Jo yang sedang mengemudi mobil tak tentu arah meyakinkan dirinya sendiri.

Sebenarnya ia tahu daerah Milan karena orang tuanya pernah mengajak kesini dulu. Jadi ia tidak bisa disebut orang asing di daerah ini. Dan sekarang yang ia pusingkan adalah kemana ia akan pergi. Pergi sendiri sungguh tidak menyenangkan. Ia berharap ada Jalal tiba-tiba datang untuk menemaninya berkeliling seharian.

Mimpi saja Jo!!

Saat Jo sedang duduk menikmati semilir angin dan melihat segerombolan anak berkumpul untuk bermain ia dikagetkan dengan seorang pria yang menepuk bahunya.

“Hei Nona Jodha. Apa aku salah?”sapa pria misterius itu.

 “Si..siapa kau?”

“Apa kau tidak mengingatku? Cobalah gali lebih dalam lagi ingatanmu itu”

“Ehmm…Leonard, benar bukan?”

“Ya benar, rupanya kau masih ingat. Sedang apa kau disini SENDIRI”Leo bertanya dengan menekankan kata sendiri.

“Aku disini hanya sementara untuk berlibur dan kau sendiri?”

“Oh, setelah lulus SMA aku kuliah disini. Orang tuaku yang menginginkannya”

“Lalu, kenapa waktu itu kau pindah sekolah tiba-tiba, kau bagai ditelan bumi Jo. Bahkan temanmu Erlen pun tak tahu kau kemana”tambah Leo sambil duduk disamping Jodha.

“Ada masalah penting dan yang jelas ini menyangkut pekerjaan ayah”

“Baiklah Jo, bisakah kita bertemu lain kali? Aku ingin bercerita banyak denganmu”

“Akan kuusahakan tapi aku tak berjanji. Ini kartu namaku.”ucap Jo sambil memberi sesuatu ke tangan Leon.

“Oh ya aku tinggal tak jauh dari sini, jika kau butuh bantuan jangan sungkan datang kepadaku”

“Siapp” jawab Jodha dengan menirukan orang hormat.

“Leon aku pergi dulu ya, kurasa telah terlalu lama aku disini dan terimakasih telah menemaniku”pamit Jo dan bergegas pergi menuju tempat dimana ia memakirkan mobilnya.

Justru aku yang harus berterima kasih padamu.”balas Leon dalam hati “See you Jo” lanjutnya.

Karena merasa baru sebentar keluar Hotel, Jo memutuskan untuk pergi ke suatu restaurant tempatnya makan siang. “Oh, tidak ada makanan halal disini. Bodohnya aku, kenapa tidak memeriksa dulu diluar”kata Jo dalam hati saat melihat menu hidangan yang tersaji di kartu menu.

Dengan sangat terpaksa membuat suatu alasan Jo meninggalkan restaurant. Perasaannya kali ini cukup malu dan entah apa lagi, ia memutuskan untuk berdiam diri sejenak di mobil karena bingung akan kemana setelahnya. Perutnya sudah terasa lapar, memang di Hotel tersedia makanan yang lezat dan halal juga tapi ia terlalu bosan untuk menikmati segalanya disana.

Satu-satunya jalan adalah berkeliling dan menghabiskan bensin untuk mencari restaurant yang menyediakan menu halalnya. “Baiklah aku akan makan disana saja”katanya dan mata Jo berbinar saat melihat suatu restaurant yang menyediakan makanan khas Indonesia setelah cukup lama menyusuri jalan kota Milan.

Jo turun dan memesan beberapa makanan yang menurutnya sedap disantap saat ini ‘walaupun seorang diri’. Setelah merasa kenyang dan cukup bersantai karena waktu juga sudah malam, ia memutuskan untuk pulang. Tapi kembali pikirannya bingung, akan pulang kemana. “Tadi aku kesini lewat jalan mana ya? Aduh, aku kan orang baru disini mana tahu arah pulang. Menelpon Jalal saja lah, tapi tidak. Aku yakin saat ini ia sedang sibuk”katanya dan kembali masuk kedalam.

“Maaf menganggu Pak”kata Jo ramah pada pemilik restaurant, “Ya ada apa?”jawabnya tak kalah lembut.

“Arah jalan pulang menuju Cartlon Hotel Baglioni kemana ya? Maaf saya hanya pelancong disini, dan mungkin sekarang sedang tersesat.”

“Untuk jalan cepatnya, ambil arah selatan dari sini setelah ada pertigaan belok kiri dan lurus terus ikuti jalan. Masuk jalan kecil di sebelah CakeShop dan keluarnya kau akan mengenali daerah tersebut”katanya menjelaskan.

Jo mengangguk mengerti “Baiklah, terimakasih atas penjelasannya”

“Tapi hati-hati, malam-malam begini banyak kejahatan. Tidak baik wanita sepertimu berkeliaran sendiri di luar”

“Mudah-mudahan tidak Pak”ucap Jo dan berlalu dari sana.

Ia menyusuri jalan tadi yang kelihatannya cukup sepi. Apalagi setelah memasuki jalan kecil yang Bapak pemilik restaurant tadi tunjukkan. Ia optimis akan pulang dengan selamat, ilmu beladiri-ku masih bisa di pergunakan sewaktu-waktu kan. Jo terus meyakinkan dirinya saat melihat sekelempok pria mabuk di ujung jalan.

Dengan perasaan was-was ia melewatinya, berbalik arah? Tidak mungkin dilakukan dengan mudah di jalan yang hanya muat untuk 1 mobil. Dan tanpa diduga oleh Jo sebelumnya, diantara mereka mengedor kaca mobil. Perasaannya semakin kalut, segera ia mengambil handphone dan menghubungi Jalal.

“Ha…lo Ja….lal”kata Jo terbata-bata setelah terangkat.

“Iya Jo kenapa suaramu seperti itu, apa kau baik-baik saja? Aku mencarimu di kamar hotel tidak ada, dimana kau saat ini?”

“Nanti saja aku jelaskan, sekarang cepatlah ke jalan kecil di dekat hotel. Ada beberapa pria mabuk yang mendekati mobilku dan mengedornya”penjelasan Jo berakhir saat pria tadi meneriakinya dari luar.

“Halo Jodha….”ternyata panggilannya telah terputus dan Jalal bergegas menuju basement melayangkan mobilnya ke tempat tadi. Berharap kekasih hatinya masih dapat terlindung dan baik-baik saja.

“BUKA KACA MOBILNYA DAN KELUARLAH. JANGAN BERDIAM DIRI SAJA DI DALAM NONA MANIS.”katanya memerintahkan dan Jo segera membuka kaca mobilnya hanya setengah.

.
.
.
(Komentar membangunnya yang kita butuhkan, biar kedepannya bisa lebih baik.)

Song of Millitary - Part 7 (By : Vi)

1 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.