Is It Hate Or Love | Chapter 39 Part 2 - ChusNiAnTi

Is It Hate Or Love | Chapter 39 Part 2


Written By Bhavini Shah
Translate By Tyas Herawati Wardani


Raja Bharmal berkata dengan perasaan terharu, “Ranisa, Hidup sungguh tak bisa diduga, Aku tak pernah mengira bahwa saat terkelam dalam hidupku akan tertulis dengan tinta emas dalam sejarah... Hari ini aku sangat bangga pada Jodha, dia telah mengukir takdirnya sendiri...Kepribadiannya yang tulus dan tidak pernah mementingkan dirinya sendiri telah mengubah sebongkah batu arang hitam menjadi sebuah berlian. Dia telah membuat kita mampu mendongakkan kepala...Cara Shahenshah mengakui cintanya pada Jodha di depan begitu banyak orang adalah saat-saat yang takkan pernah kulupakan... Kebijaksanaan Shahenshah mengatasi masalah Surya dan Sukanya sungguh terpuji. Aku sangat yakin sekarang bahwa semua yang terjadi pasti ada alasannya... Satu tahun yang lalu, Shahenshah memaksa dengan angkuhnya menikahi Jodha, aku tidak pernah mengira suatu saat aku akan bersyukur atas keputusanku yang egois dan cukup memaksa saat itu. Tidak peduli bagaimana caranya, takdir memainkan perannya sendiri, tidak memandang dia adalah seorang Shahenshah ataupun rakyat biasa.”

“Raja Sahib, aku hanya ingin bilang bahwa Jodha telah melalui banyak penderitaan...tapi akhirnya Kanah memberikannya anugerah... Aku merasa bahagia untuk Sukanya hari ini...Surya adalah pria yang terhormat dan Raja dari tiga wilayah. Sepertinya dewa telah mendengar doa-doa kita...” Keduanya tersenyum bahagia...Mainavati kembali melanjutkan dengan sedikit khawatir, “Sekarang, hanya tinggal Shivani yang kupikirkan...Semoga kita menemukan pasangan yang cocok untuknya seperti Sukanya dan Jodha. Sampai saat ini kita belum menerima lamaran apapun untuk dirinya.”
Raja Sahib tersenyum santai dan menjawab, “Ranisa, jangan cemas, secepatnya kita akan juga menemukan calon yang cocok untuk Shivani. Saat ini, kekhawatiranku yang utama bukanlah pernikahan Shivani, melainkan Kuvar Pratap, kecurigaanku pada Kuvar Pratap terbukti benar... Pelan-pelan dia telah memupuk dukungan dari semua Raja Rajvanshi... Jika aku tidak salah, sebentar lagi akan pecah perang, perang terbesar abad ini antara Mughals dan Raja Udhay Singh. Kalau aku tidak salah, Shahenshah juga sudah memperkirakan hal yang sama.... tapi dia memainkan taktik yang bagus  dengan Surya Vadan Singh, Raja dari tiga wilayah Rajvanshi yang sebelumnya menentang Mughal tapi sekarang Shahenshah telah memenangkan hati Surya dengan cara yang sangat bijak. Aku yakin sekarang Surya tidak akan mendukung Kuvar Pratap melawan Mughal.
Shivani merasa kesepian tanpa Sukanya dan Jodha...jadi dia mencari Masa untuk diajak mengobrol...Dia pergi ke kamarnya dan mendengarkan percakapan Raja Saheb dan Mainavati tentang pernikahannya, dia sedih mengetahui orang tuanya mencemaskan pernikahannya dan tak adanya satu lamaran pun yang datang untuk dirinya. Dia berlari keluar istana dengan sedih dan duduk di sebuh bangku di salah satu sudut. Malam yang gelap dan muram... kesunyian melingkupi sekelilingnya...Bulan sedang bermain petak umpet bersama awan... udara dingin yang berhembus tidak berpengaruh apapun pada figurnya yang mungil. Kesadaran yang tiba-tiba mengenai kecemasan orang tuanya mengenai pernikahannya menyentak dirinya... dia merasa sedih dan tertekan saat mengingat semua pangeran hanya menyukai Jodha jiji dan Sukanya jiji dan tidak seorang pun memperhatikan dirinya....Ketika dia membayangkan semua pangeran itu, mendadak muncul Mirza dalam pikirannya... dia berkata sedih pada dirinya sendiri, ‘Bahkan Mirza menyukai Sukanya jiji.’... Dia mengenang semua kejadian saat Mirza mengejar-ngejar Sukanya....saat dia sengaja duduk di sebelah Sukanya saat kompetisi memanah... tak pernah sekalipun dia melihatnya dan caranya memegang  tangan Sukanya jiji seakan dia mencintainya, bahkan di saat upacara Sangeet... dia datang untuk melihat Sukanya jiji menari. Tidak seorang pun memperhatikanku karena aku paling muda dan semua orang memperlakukanku seperti anak kecil. Jodha jiji dan Sukanya jiji akan segera pergi dan aku akan tetap tinggal sendirian di istana... Tak sadar air matanya menetes memikirkan nasib buruk dirinya... Hatinya sakit dan kesepian...Dia sembunyikan kepala di antara lututnya sambil menangis.
***************
Setelah menikmati hidangan makan malam yang lezat ala Amer, Mirza merasa sedikit tidak nyaman, jadi dia berjalan-jalan keluar istana untuk mencari udara segar. Dia terkejut saat melihat seorang gadis duduk sendirian di atas bangku pada malam selarut ini. Saat dia mendekat, sayup-sayup dia mendengar isakan yang tertahan. Dia bertanya dengan cemas, “Siapa kau dan mengapa kau menangis di sini?”
Begitu Shivani sadar ada orang sedang berdiri di dekatnya... sontak dia mendongak dengan wajahnya yang sembab...Keduanya sama-sama terkejut, Mirza yang pertama bersuara, “Shivani!!”
Shivani berteriak dengan sama terkejutnya, “Mirza!!!”
Mirza bertanya khawatir, “Apa yang terjadi Shivani? Mengapa kau menangis dan kenapa kau sendirian disini malam-malam begini di bawah cuaca sedingin ini.”
Shivani agak kesal, “Bukan urusanmu mengapa aku menangis dan apa yang kulakukan di sini, berhenti bersikap pura-pura peduli padaku dan tinggalkan aku sendiri...Aku bukan Sukanya di!!”
Mirza duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa.
Shivani kembali menghardik, “Kau tidak mengerti?!...Tinggalkan aku sendiri.”
Mirza menjawab dengan nada serius, “Tidak, aku tidak mengerti, mengapa kau menangis? Dan mengapa kau duduk di sini sendirian di cuaca sedingin ini?”
Shivani menjawab dengan suara tinggi, “Aku sedih karena kedua kakakku akan segera pergi meninggalkanku dan aku akan kesepian di istana, kami mengundang banyak sekali tamu yang berisik dan suka sekali mencampuri urusan pribadi orang lain jadi aku keluar untuk menikmati waktuku sendirian tapi sayangnya mereka ada di mana-mana, bahkan di sini...”katanya sambil menatap kesal pada Mirza.
Mirza mengabaikan sindirannya dan menjawab dengan lembut, “Shivani jika kau merasa sedih soal kepergian kakak-kakakmu, kenapa kau tidak datang saja ke Agra bersamanya. Aku janji kau tidak akan merasa kesepian di Agra dan kami akan merasa sangat beruntung menyambut tamu seperti dirimu dan kumohon jangan menangis, air mata tidak cocok di wajah cantikmu.”
Shivani tertegun menatapnya meski tubuhnya gemetar kedinginan. Dia tidak pernah menyangka Mirza bisa bersikap sangat perhatian.
Mirza menggeser tubuhnya makin dekat dan menyampirkan syal ke tubuh Shivani. Shivani terkejut dengan tindakan kecil itu...dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa...Hatinya tersentak saat ingat bahwa Mirza lebih menyukai Sukanya daripada dirinya.
Mirza berkata kalem, “Shivani, di sini sangat dingin...ayo kita masuk ke dalam istana kalau tidak kau akan sakit dan lagipula Mehndi rasam akan segera dimulai.”
Shivani tidak mengerti mengapa Mirza bersikap sangat aneh padanya. Sepanjang waktu dia terus mengganggu dan mengusiknya tapi mengapa sikapnya sangat berbeda sekarang?
Tiba-tiba...Shivani membentaknya dengan kata-kata kasar dan menyakitan, “Apa kau salah mengenaliku sebagai Sukanya jiji atau mungkin aku adalah pilihan keduamu, karena sekarang Sukanya jiji sudah terikat pada orang lain...tapi dengar baik-baik...aku sangat mengenal orang sepertimu...sikapmu yang norak...Kau tidak punya kesempatan dengan Sukanya jiji jadi sekarang kau coba mendekatiku. Sungguh, aku merasa kasihan padamu...Betapa menjijikkannya dirimu?” Dia menarik napas dan melanjutkan, “Kau tahu, aku menyukaimu sampai saat ini, kupikir sifatmu mirip Jijusa tapi tapi kau bahkan tidak mendekati sifatnya sedikitpun. Berhentilah pura-pura mempedulikanku...Aku tidak akan jatuh ke dalam perangkapmu dan kuperingatkan, menjauhlah dariku...dasar playboy...” Bersamaan dengan semua kata-kata pahitnya, tanpa sadar semua luka di dalam hatinya terbuka lagi dan air mata yang tak diinginkannya menetes dari pelupuk matanya, dengan cepat dia bangkit dari duduknya dan berlari menuju ke istana.
Mirza membeku menghadapi kemarahan dan kebencian Shivani padanya. Hatinya hancur setelah dihina seperti itu.
Jodha dan Jalal kembali ke istana pada saat yang bersamaan ketika Shivani berlari sambil menangis ke dalam istana.
Sudut mata Jalal menangkap keberadaan Mirza yang berjalan ke dalam istana.
Jodha berlari mengejar Shivani sedangkan Jalal berjalan marah ke arah Mirza.
Jalal bertanya dingin, “Apa yang telah kau lakukan pada Shivani? Sudah kukatakan dengan jelas tetaplah di dalam batasmu atau kalau tidak kau harus membayar konsekuensinya.”
Mirza menjawab sedih, “Bhai Jaan, aku mengerti jika Shivani salah paham terhadapku tapi kau saudaraku, bagaimana bisa kau menganggapku serendah itu.”
Jalal mulai bisa menerka situasinya dalam satu kalimat itu, lalu dia berkata dengan menyesal, “Mirza, jangan salah mengartikan kata-kataku tapi tadi kulihat Shivani menangis dan berlari masuk ke dalam istana dan kemudian aku melihatmu berjalan di belakangnya jadi aku bertanya agak keras padamu tapi aku sepenuhnya percaya padamu.”
Mirza menjawab lemas, “Bhaijaan, aku ingin istirahat di kamarku...Shabba Khair.”
Jodha masuk ke dalam kamar Shivani dan melihatnya berbaring di atas tempat tidur dan menangis tersedu-sedu.
Jodha duduk di dekat Shivani dan membelai rambutnya lalu bertanya dengan halus, “Shivani, apa yang terjadi? Mengapa kau menangis?”
Shivani bangkit dan memeluk Jodha lalu menangis lagi selama beberapa menit lagi sebelum menjawab, “Tidak apa-apa Jiji...Aku hanya sedih karena besok kau akan pergi kembali ke Agra dan Sukanya juga akan segera menikah dan juga pergi dan aku ditinggal sendirian di istana ini.”
Jodha menjawab tenang, “Shivani, kau belajar berjalanpun denganku, aku sangat mengenalmu, jangan bohong pada Jiji-mu...katakan padaku apa yang terjadi? Apa yang mengganggu pikiranmu?”
Shivani menatap Jodha dengan sedih lalu mengaku, “Jiji, aku sedih karena aku tidak cantik seperti kau dan Sukanya jiji...Tidak ada yang menyukaiku...bahkan aku menguping saat Bapusa dan Masa membicarakan tentang diriku dan mengkhawatirkan pernikahanku...dan...” dia menggantung kalimatnya.
“Dan apa Shivani???” Jodha mendesak.
“Dan Jiji Mirza mengejar Sukanya jiji, maksudku....Pertama dia menyukainya dan sekarang ketika dai tahu dia tidak bisa mendapatkannya...dia coba-coba bersikap perhatian padaku dan itu menyakitkan untukku. Kenapa semua pangeran dan Raja menyukaimu dan Sukanya jiji...dan semua orang memperlakukanku seperti anak kecil. Aku bukan anak kecil lagi.” Katanya sambil bersungut-sungut.
Jodha mulai mengerti rasa frustasinya dan ketertarikannya yang tersembunyi terhadap Mirza. Dia membelai wajahnya dan menjawab kalem, “Shivani, pernahkah kau lihat dirimu di depan cermin?? Aku dan Sukanya, kami berdua tidak sepadan denganmu. Kau benar-benar gadis yang cantik dan untuk kau ketahui Mirza sebenarnya sangat menyukaimu. Dia bahkan secara tidak langsung menceritakan dirimu pada Shahenshah.
Shivani menjawab jengkel, “Jodha jiji, jangan bohong padaku, Mirza sangat menyukai Sukanya jiji...kau mungkin tidak tapi aku memperhatikannya. Sejak kemarin dia membuntuti Sukanya jiji kemanapun...bahkan ke Upacara Sangeet.”
“Shivani...dia memang disuruh melakukan itu...Itu bagian dari rencana kami untuk membuat Surya cemburu hingga dia mengakui cintanya pada Sukanya dan itulah yang sebenarnya terjadi. Kasiha Mirza dia hanya ingin membantu saudari kita dan dia malah terjebak di dalamnya.” Jodha menjelaskan sambil terus menatap Shivani.
Shivani menatap Jodha terkejut, “Apa??? Dia bagian dari rencana...Ohhh...Aku tidak tahu dan aku sudah mengatakan kata-kata yang meyakitkan pada Mirza. Dengan tulus dia peduli padaku dan kukira...Ohh..Jiji...Dia pasti sangat marah padaku... Ya Tuhan, bagaimana aku harus bersikap di depannya sekarang??” katanya pelan...namun tiba-tiba wajahnya kembali cerah.
“Kau menyukai Mirza, Shivani?” Jodha bertanya terus terang.
“Tidak...Jiji...bukan seperti itu...Itu hanya... Aku salah paham dengannya dan lagipula Jiji, aku tidak percaya dengan urusan cinta yang konyol dan semuanya itu... itu hanya untukmu dan Sukujiji...Tidak mungkin...Aku tidak menyukainya seperti itu...Aku hanya menganggapnya sebagai teman baik.” Dia menjelaskan sambil berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Hmmm, sebenarnya Shivani, Shahenshah sedang mencari jodoh untuk Mirza dan aku berpikir...Tapi sudahlah...lupakan saja...aku akan menyarankan gadis lain saja.” Jodha berkata tenang dan serius.
“Ohhh...siapa yang kau pikirkan pertama kali??? Jadi kau sudah punya kandidat?” Shivani bertanya tak sabar.
“Shivani, sekarang saatnya Mehndi dan kita harus bersiap-siap, jadi pikirkan itu saja...jangan cemaskan Mirza.” Dengan sengaja Jodha menyudahi pembicaraan itu...Dia ingin Shivani menyadari perasaannya pada Mirza dengan caranya sendiri.
Di dalam kamarnya, Shivani berpikir sambil bersiap-siap untu acara...’Aku sudah bersikap kasar pada Mirza, dia tulus peduli padaku dan aku bersikap sangat kejam padanya. Aku bahkan menghinanya dengan merendahkan kepribadiannya dan menyebutnya playboy. Aku harus minta maaf padanya...tapi jika dia tidak tertarik pada Sukanya di, lalu apa yang dilakukannya saat Sangeet???Apa dia datang untuk melihatku? Mengapa dia memberikan syalnya padaku dan saat aku bersikap sinis dan mencemoohnya, dia tetap tenang, sopan dan peduli padaku. Dia khawatir aku akan terkena flu jadi dia memberikan syalnya pdaku meski aku sudah memakai punyaku sendiri, dia sangat tampan dan menarik lalu kenapa dia menyukaiku??’ Dia memandangi dirinya sendiri di cermin dan bertanya dalam hati, ‘Apakah aku cantik?’ Wajahnya merona malu...Matanya tertuju pada syalnya...dia peluk syal itu dan tenggelam dalam lamunannya..
Sukanya dan Jodha, keduanya sudah siap dan datang ke kamar Shivani dan melihatnya sedang melamun di depan cermin...
Sukanya dan Jodha, keduanya tertawa melihatnya memakai syal pria...dan tersesat dalam lamunannya.
Jodha menggoda, “Shivani, apa itu syalnya Mirza??”
Seketika Shivani merasa malu, dia tergagap menjawab, “Jiji...dingin sekali jadi aku memakainya...” sambil melepaskan syal itu dan meletakkannya di atas meja, lalu bertanya santai, “Lagipula warna ini terlalu membosankan untuk seleraku..dan Jiji, kita sudah terlambat, ayo pergi...”
Jodha dan Sukanya saling berpandangan penuh arti...mata mereka sama-sama menari dibalik senyum misterius di wajah masing-masing.
Mirza merasa sangat sedih... Telinganya terus-menerus menggemakan kata playboy... lagi dan lagi... Makin menyakitkan baginya karena mendengarnya dari mulut gadis yang dia cintai. Dia putuskan tidak akan bicara lagi dengan Shivani dan semua wanita.
***********************
Upacara Mehndi dilaksanakan di aula yang lebih kecil....Hanya keluarga terdekat dari masing-masing pihak yang diundang...seluruh ruangan di penuhi aroma mehndi. Para gadis kecil sangat bersemangat dan suka melihat mehndi...Sekumpulan wanita menyanyikan lagu pernikahan... Para gadis muda dan para ipar menggoda Jodha dan Sukanya. Keduanya tersenyum tapi hanya Shivani yang merona tanpa alasan jelas... Sesuai tradisi, satu demi satu kelima anggota keluarga meletakkan Mehndi di tangan Jodha.
Jodha mencemaskan Mirza dan berdoa agar dia selamat dari kemarahan Jalal. Dengan sengaja, dia meminta Shivani untuk pergi ke kamar Shahenshah dan memeriksa apakah dia membutuhkan sesuatu.
Shivani tidak ingin melewatkan satu menitpun acara ini jadi dia berlari cepat menuju kamar Jalal seperti anak kecil. Dia melewati penjaga pintu dan memasuki kamar Jalal dan hampir bertabrakan dengan Mirza... Tiba-tiba melihat Mirza tepat di depan mata...dia melangkan mundur dua langkah dan menundukkan wajah karena rasa bersalahnya.
Mirza menatapnya kesal dan menyingkir ke arah lain.
Jalal sedang bersantai di atas sofa, melihat Mirza dan Shivani dalam suasana yang canggung, dia bertanya santai, “Shivani...apa yang kau lakukan di sini, apa semuanya baik-baik saja???”
Shivani berjalan mendekat ke arah Jalal dan menjawab dengan napas terengah, “Jijusa, Jiji mengirimku ke sini untuk menanyakan apa kau butuh sesuatu?”
Jalal bercanda, “Ya Shivani...yang aku butuhkan saat ini adalah Jiji-mu.”
Shivani merona dan berlari keluar dari kamar Jalal sambil cekikikan geli. Melihat rona merah di wajah Shivani menerbitkan seulas senyum di wajah Mirza yang tidak luput dari perhatian Jalal.
Shivani berlari kembali ke aula tempat acara...dimana semua orang sedang duduk mengelilingi Jodha, termasuk Mainavati...Dadisa...Hamida...meletakkan Mehndi di tangan Jodha.
Shivani mendekat ke dalam lingkaran dan memanggil, “Jodha jiji.”
Jodha sedang sibuk dengan mehndi hingga dia tidak mendengar panggilannya...Shivani memanggil lebih kencang, “Jodha jiji.” Perhatian semua orang teralihkan pada Shivani.
Jodha menjawab santai, “Mengapa kau berteriak Shivani? Apa yang terjadi?”
Shivani menjawab genit, “Jodha jiji, sesuai permintaanmu aku pergi menanyakan pada Jijusa apa yang dia butuhkan dan dia bilang saat ini yang dia butuhkan adalah KAU.”
Semua orang di dalam aula itu serempak tertawa... Jodha merasa malu sekali jadi dia sembunyikan wajahnya di balik bahu Mainavati.
Beberapa menit berlalu, Jalal memperhatikan Mirza yang sedang duduk terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri, Jalal ikut sedih melihat Mirza tertekan seperti itu...dia seakan ikut merasa bersalah atas apa yang dialaminya. Dia tahu benar Mirza jatuh cinta pada Shivani dan hanya satu orang yang mampu menceriakannya sekarang dan orang itu adalah Shivani... mereka harus bicara untuk menjernihkan kesalahpahaman ini.
“Mirza, aku butuh bantuanmu...” ujar Jala santai.
“Ya Bhai Jaan, Apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanyanya serius.
“Aku ingin kau menuliskan sebuah surat kepada Bhabhi Jaan-mu atas namaku.” Kata Jalal.
“Bhai Jaan, apa??? Kenapa kau ingin menulis surat untuk Bhabhi Jaan??” dia bertanya bingung.
“Karena aku tahu alasannya mengirim Shivani kemari...Jadi aku akan menjawabnya.” Jawabnya misterius.
“Bhai Jaan, kau membuatku bingung...tolong jelaskan.” Pinta Mirza.
“Sebenarnya, kau ingat Bhabhi jaan-mu menantangku dan sesuai kesepakatan jika kau menang, maka seharusnya dia menghabiskan malam denganku tapi dia menolaknya sekarang karena keluarganya ingin menghabiskan malam ini dengannya.” Jalal menjelaskan.
“Tapi Bhai Jaan, ini adalah hari terakhirnya bersama keluarganya..” dia berkata dengan nada pelan dan terdiam dengan gugup menyadari dia sudah kelewatan batas...
“Aku tahu, tapi seharusnya dia sudah mempertimbangkan hal itu sebelum menantang Shahenshah E Hindustan...” jawabnya sambil tersenyum misterius.
Mirza ikut tersenyum dan berkata, “Bhaijaan...Kau suka sekali menggodanya, ya!!”
Setelah mendiktekan sebuah pesan untuk Jodha, secara spesifik Mirza diinstruksikan untuk menyampaikan surat itu hanya melalui Shivani. Dia memberitahunya agar menyuruh Reva yang masuk ke dalam aula dan memanggil Shivani keluar lalu memberikan surat ini langsung padanya.
Dia berkata sedih, “Shivani...”
Jalal mengabaikan keengganannya dengan sengaja dan berkata, “Bisakah kau pergi dan menyampaikan surat ini sekarang...?”
Dia sedikit cemberut dan membalas, “Ya bhaijaan...”dengan kesal Mirza keluar dari kamar itu.
Sesuai instruksi Jalal, dia menyuruh Reva masuk ke dalam untuk memanggil Shivani keluar dari aula.
Segera saja saat Shivani tahu Mirza sedang menunggunya di luar, jantungnya berdegup cepat...Ya Tuhan...Mengapa dia memanggilku keluar pada saat selarut ini? Pikirnya....Dia terlihat sedih saat aku pergi ke kamar Jijusa...tapi dia adalah tamu kami dan aku sudah memperlakukannya dengan salah, dia berusaha menolong Sukanya jiji tapi aku malah menghinanya dan berkata kasar padanya, jadi harusnya aku pergi dan meminta maaf atas kekeliruanku.
Dia keluar dan berjalan pelan ke arah Mirza.
Tiba-tiba Mirza mengulurkan tangannya dan mengangsurkan sebuah surat padanya dan buru-buru bicara tanpa memandang Shivani...”Bhaijaan mengirim surat ini untuk Bhabhi Jaan, sampaikan padanya secara pribadi...”
Belum sempat Shivani menanggapinya, Mirza sudah berjalan pergi.
Shivani berteriak memanggilnya, “Tunggu...Aku ingin bicara denganmu..”
Dia berhenti dan berbalik sambil menaikkan alisnya, dan berkata dengan kesal, “Apa lagi yang harus dibicarakan atau kau ingin menghinaku lagi???”
Hmmm...dia terlihat benar-benar marah dan kecewa...Shivani berjalan cepat mendekatinya, lalu meminta, “Tolong dengarkan aku...Aku ingin minta maaf atas kesalahanku...Aku benar-benar menyesal atas semua yang telah kukatakan...”
Mirza menatapnya frustasi dan tanpa mengucapkan apapun dia berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah cepat.
Shivani berlari mengejarnya dan berkata...”Oyeee...hello...dengar...kasarnya...Aku minta maaf dan ke pergi begitu saja dengan sombongnya tanpa mengatakan apapun padaku.”
Mirza tetap mengabaikannya dan terus berjalan, namun segaris senyum terulas di bibirnya..’Dia benar-benar gila’ pikirnya...
Dengan cepat Shivani menyentak tangannya dang berkata, “Kau tidak bisa pergi seperti ini... Kau harus memaafkan aku...”
Mirza menarik napas dengan kasar dan memicingkan matanya lalu menggeram, “Ohh ini caramu meminta maaf Shivani...Lepaskan tanganku...Tidak seharusnya kau memegang tangan seorang playboy...” kata-kata yang pernah diucapkan Shivani masih menusuk hatinya.
Shivani menjawab kesal, “Jangan terlalu sinis...Aku bilang maaf dan aku siap menerima hukuman apapun tapi kau harus memaafkan aku...” katanya dengan santai...tapi memaksa.
“Shivani, aku tidak berniat memaafkanmu dengan alasan apapun dan aku juga tidak akan menghukummu...”katanya kaku dan tersenyum sinis.
Kelihatannya dia tidak akan memberikan maaf dengan mudah...dia begitu kecewa padaku tapi aku juga tidak menyerah semudah itu, pikirnya...”Kau tidak pernah tahu betapa keras kepalanya aku...Kau harus memaafkan aku kalau tidak aku akan menghukum diriku sendiri dengan duduk di luar di cuaca sedingin ini sampai kau datang dan menerima permintaan maafku...” katanya dengan mengancam.
Apa yang dia pikirkan...??? Pertama dia menyakitiku dan sekarang dia mengancamku. Dengan marah Mirza menatapnya dan berkata dengan kasar, “Kau pikir bisa mengancamku seperti itu...” dia terdiam lalu melanjutkan dengan nada lebih tinggi dan tegas tak mau dibantah, “Dengar...aku tidak peduli, lakukan saja yang ingin kau lakukan...kau bisa meloncat ke dalam api atau meloncat dari atas gunung...bukan urusanku dan jangan mengikutiku terus...Ini peringatan untukmu.”
Mirza berjalan pergi dengan marah.
Dengan sedih Shivani menatapnya pergi...dan bergumam, “Khadoos(kasar)” lalu dia berjalan kembali ke aula upacara dan mendekati Jodha lalu berbisik, “Jiji...Jijusa mengirim pesan untukmu...”
Jodha terkejut dan menjawab dengan bisikan, “sshh..Shivani, buka pesannya dan pegangkan untukku.”
Jantungnya berdetak cepat...dia menelan ludah dengan gugup...Shivani membuka pesan itu untuk Jodha...”Tantangan... taruhan...penantian...ATAU” dia membaca keempat kata dalam pesannya... dan berbisik gugup ATAU’...Ya Tuhan...apa yang harus kulakukan?? Matanya membelalak ngeri...dia mulai terserang panik saat apa yang ditakutkannya terjadi...Ohh tidak...bagaimana seandainya dia datang kemari....Sebaiknya kau kembali ke kamarku, lagipula mehndi-nya sudah selesai.
Hampir tengah malam jadi hampir semua wanita sudah pergi, hanya beberapa keluarga dekat yang masih mengobrol...saatnya menyudahi acara...
Jodha berkata dengan wajah datar dan suara yang dibuat seolah dia mengantuk..”Masa, aku sangat lelah, bisakah aku kembali ke kamar untuk beristirahat...”
Sukanya dan dadisa, keduanya ikut-ikutan, “Kami juga lelah jadi kami juga akan pergi ke kamar Jodha.” Yang lainnya juga ikut mengatakan hal yang sama.
Jodha merutuki nasibnya...dia tidak punya pilihan jadi dia memaksakan senyum dan menyambut semua orang di kamarnya untuk sesi mengobrol dan menggeram kesal dalam hati pada Jalal atas ketidak sensitifannya, “Jallad Jalal...”
Mirza merasa sedikit lebih baik setelah Shivani meminta maaf padanya...Dia ingat saat Shivani memegang tangannya dan memaksanya untuk memaafkan dirinya...dia tersenyum kecil mengingat sifat keras kepalanya yang unik itu.
Jalal memperhatikan setitik sinar dan senyum kecil di wajah Mirza...
Jalal bertanya santai, “Mirza...Apa kau sudah menyampaikan pesannya pada Shivani?”
“Ya..Sudah.” jawab Mirza pasif.
Dengan nada serius untuk menutupi kegelian di wajahnya, Jalal bertanya lagi, “Kuharap Shivani tidak bersikap terlalu berlebihan... Menurutku dia itu terlalu blak-blakan dan mengganggu..”
Mirza langsung memotong untuk membantahnya, “Oh..tidak...tidak...Bhaijaan..Shivani sangat manis...Sebenarnya aku menyukainya yang seperti itu...Dia sangat jujur dan gadis yang polos.”
Jalal terus memancing, “Mirza, kau sangat naif...Menurut pendapatku, dia terlalu dimanja oleh Raja Saheb...Aku sangat terkejut dia berani menghinamu...kau adalah tamu di Amer...Aku mempertimbangkan untuk membicarakan masalah pada Raja Bharmal tentang kelalukannya yang tidak sopan dan arogan..”
Mirza menjawab gugup dan agak cemas, “Aku tahu dia agak keras kepala, tapi dia sudah meminta maaf padaku atas sikapnya yang tidak sopan tadi ketika aku menyampaikan pesanmu untuk Bhabhi Jaan...Bhaijaan...Aku minta padamu untuk tidak melaporkan masalah ini pada Raja Bharmal....Kau tahu...dia sudah cukup sedih dan kecewa...Setelah makan malam, saat aku berjalan-jalan keluar, aku melihatnya duduk di bangku dan menangis...Saat kutanyakan padanya dia bilang...dia menangis karena kedua kakaknya akan segera menikah dan akan pergi meninggalkan istana....dan dia kecewa padaku karena dia perhatikan aku menggoda Sukanya...Bhaijaan kumohon jangan melaporkan dia pada Raja Bharmal...Dia sebenarnya sangat baik.” katanya dengan pelan di akhir penjelasannya.
“Tapi aku sungguh tidak habis pikir...Mengapa dia kecewa padamu...Kau menggoda Sukanya bukan dirinya...”itu pertanyaan jebakan dari Jalal.
“Bhai...jaan..kau tahu...kau tahu yang sebenarnya...Aku..”dia bingung merangkai kata yang benar dalam benaknya.
“Mirza...Apa yang ingin kau katakan??? Katakan dengan jelas...Mengapa Shivani kecewa padamu??? Jalal bertanya tegas.
“Bhai Jaan...maksudku...kau tahu Shivani..”
Jalal menghela napas keras-keras dan menjawab, “Ya aku tahu dia Mirza....Maksudmu apa? Dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja...beraninya dia menghinamu? Dia harusnya dihukum...”
Tiba-tiba Mirza membentak dan menjawab setengah berteriak, “Bhai Jaan...” langsung dia sadar dan kembali berkata pelan, “Maaf Bhai Jaan...tapi Shivani benar-benar polos dan naif dan itu adalah kesalahanku, ketika kulihat dia bersedih... Aku tidak bisa menahan diri, aku hanya bermaksud membuatnya nyaman dengan memberikan syalku padanya dan mengatakan hal-hal yang manis padanya...jadi dia pikir aku sedang menggodanya...dan itulah kenapa di salah paham padaku.”
“Itu artinya kau sangat menyukainya dan dia tidak suka menerima perhatian darimu.” Ujar Jalal.
“Bukan seperti itu...Kupikr dia kecewa padaku karena dia mengira Sukanya adalah pilihan pertamaku bukannya dia dan dia pikir...Aku tidak bisa mendapatkan Sukanya jadi sekarang aku menggodanya...Bhai Jaan...Ini semua bukan salahnya...percayalah padaku...gadis manapun akan berpikiran yang sama seperti itu...”jawab Mirza. Ohh tidak...mengapa aku tidak berpikir seperti itu sebelumnya....Dia cemburu pada Sukanya, itulah kenapa reaksinya berlebihan...dan itu artinya dia sebenarnya menyukaiku..
“Jadi dia sudah minta maaf atas sikapnya yang tidak sopan dan kau sudah memaafkannya??” tanya Jalal.
“Tidaaak..Aku masih sangat marah padanya...aku tidak banyak bicara dan pergi begitu saja...”jawab Mirza menyesal.
“Menurutmu dia menyukaimu, Mirza??” tanya Jalal terus terang.
“Aku tidak tahu Bhaijaan.. dia itu sangat membingungkan..”
“Kau mencintainya??”
“Aku juga tidak tahu Bhaijaan tapi air matanya membuatku hancur dan hatiku sakit hanya dengan memikirkan bahwa mulai besok aku tidak bisa melihatnya lagi...Aku belum pernah merasa bimbang seperti ini sebelumnya...Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.” Jawabnya dengan suara tertahan.
Jalal tersenyum lebar dan berkata dengan penuh semangat, “Kau hanya punya waktu satu hari untuk mencari tahu...Lagipula...Ini sudah larut malam, kembalilah ke kamarmu dan beristirahatlah, tapi sebelum kau pergi aku punya satu pesan untuk Bhabhi Jaan-mu..”
“Bhai Jaan...ini sudah malam...dan mungkin semua orang sudah pergi...dan Bhabhi Jaan mungkin juga sudah tidur...” jawab Mirza.
“Dia pasti tidak akan bisa tidur setelah membaca pesan pertamaku....itulah kenapa aku mengirim pesan ini padanya... aku sudah cukup menggodanya dan malam ini dia butuh tidur yang lelap dan ini juga kesempatanmu bisa menemui Shivani sekali lagi...” Jalal tersenyum misterius..
Matanya langsung bersinar dengan ceria, “Oh...Bhai Jaan...Kau berlebihan sekali...” keduanya tertawa.
Mirza membawa pesan itu dan menuju aula tapi tidak seorang pun ada di sana, jadi dia pergi ke kamar Jodha...Reva dan Mothi sedang duduk di luar kamarnya.
Reva bertanya menggoda pada Mirza, “Pesan lain untuk Jodha begum??”
Mirza tersenyum dan menjawab, “Ya...bisa kau panggil Shivani keluar?”
Moti yang menjawab, “Tapi Shivani tidak ada di dalam kamar Jodha..”
Mirza berkata lagi, “Bisa kau pergi ke kamarnya...pesan ini sangat penting dan Shahenshah memintaku untuk memberikan pesan ini pada Shivani untu disampaikan pada Bhabhi Jaan.”
Reva menjawab, “Biar aku yang pergi dan memanggilnya keluar...” Kamar para saudari Jodha saling bersebelahan...jadi Reva berlari ke dalam kamar Shivani namun kamarnya kosong lalu dia memeriksa ke dalam kamar Sukanya tapi dia juga tidak ada di sana..”
Reva berlari keluar dan berkata cemas, “Dia tidak ada di kamar manapun..”
Moti kembali berlari masuk ke dalam kamar Jodha untuk memastikan sekali lagi dan segera keluar dengan perasaan cemas, “Dia juga tidak ada di dalam kamar Jodha..”
Mirza ingat kata-katanya yang dia pikir hanyalah cara Shivani mengancamnya...”Aku akan menghukum diriku sendiri..” Dia berusaha mengatur ekspresinya agar terlihat lebih santai, saat diperhatikannya Moti dan Reva yang panik, kekhawatirannya akan membuat mereka dalam masalah. Dia berkata santai, “Jangan khawatir, aku tahu dimana dia... Aku melihatnya di kamar Raja Bharmal beberapa saat lalu mungkin dia masih ada di sana.”...lalu dia memberikan pesan itu pada Moti dan menjelaskan dengan hati-hati, “Moti, pastikan kau menyampaikan surat ini dengan diam-diam pada Bhabhi Jaan...” segera dia menuju ke gerbang istana...tapi sebelum dia pergi, dia masih sempat berpesan..”Moti...Jangan ceritakan pada siapapun soal Shivani...Tidak baik membuat banyak orang cemas.”
Mirza pergi keluar menuju ke taman istana dengan cemas...Jantungnya serasa copot membayangkan Shivani berada di luar menunggunya memaafkan dirinya di cuaca sedingin ini...Dia kesal memikirkannya...betapa tidak pekanya Shivani...Gadis bodoh tak berotak yang keras kepala..
Shivani sedang duduk di sudut bangku...dia peluk lututnya dengan kedua tangannya sementara wajahnya disembunyikannya diantara lutut untuk membuatnya tetap hangat...Ketika Mirza memperhatikannya dari jauh, dia bahkan tidak memakai syal hangat apapun...Mirza berlari menuju ke arahnya...dia mengutuk dirinya karena tidak mempercayainya dan menyadari betapa keras kepalanya Shivani.
Moti dan Reva berlari masuk ke dalam kamar Jodha dengan membawa pesan itu...Begitu mata Jodha melihat kertas pesan berwarna merah, hatinya berdebar... Secepat kilat dia bangkit dari duduknya dan memanggil Moti ke sudut ruangan sambil bertanya khawatir, “Apa ini pesan dari Shahenshah?”
Moti mengangguk bermaksud menggodanya, namun setelah melihat wajahnya yang ketakutan dia bertanya serius, “Semua baik-baik saja, Jodha???” Dengan tidak sabar Jodha memintanya untuk membuka pesan itu agar dia bisa membacanya...Wajahnya terlihat sangat gugup dan jantungnya bedetak dalam kecepatan tinggi...
Tarik napas dalam-dalam, sayangku...Aku mencintaimu Jodha...Aku sangat mencintaimu hingga aku tidak ingin melihat segaris kecemasan di kecemasan di keningmu meski untuk sebuah gurauan...Aku hanya menggodamu...Aku membebaskanmu malam ini...Aku ingin kau bersantai dan menikmati waktumu yang berharga bersama keluargamu tapi rindukanlah aku juga...Aku hanya berharap aku bisa melihat dan mencium aroma tanganmu yang penuh dengan Mehndi tapi mungkin lain waktu saja...lagipula aku sudah memberikan malamku pada keluargamu...Kuharap suatu saat aku bisa menuliskan betapa cantiknya dirimu malam ini...namun aku masih menikmati makanan penutup yang manis di atas tempat tidurku sambil mengutuk pada bulan...Merindukanmu sayang...Milikmu dan selamanya milikmu hingga tak terbatas waktu...Jallad...
Jodha membaca seluruh isi pesan itu dalam satu tarikan napas saja...Dia sudah membaca seluruh pesannya tapi wajahnya masih tampak gugup dan cemas...butuh beberapa detik baginya untuk memahami apa yang telah dia baca... tapi wajahnya perlahan berubah dari ketakutan menjadi senyum penuh cinta...senyum merona...dan akhirnya setelah dia baca kata makanan penutup wajahn dan matanya tampak malu-malu...jantungnya berdegup kencang...Perlahan dia baca sekali lagi dan memahami tiap katanya sambil membayangkan dirinya... dan tersipu malu.
Moti dan Reva saling berpandangan dengan senyum cerah saat melihat Jodha melamun karena pesan itu.
Jodha bergumam pelan, “Jallad.” Dan tersenyum kecil..’Jalal, gurauanmu dan cintamu benar-benar khas dirimu...aku tidak bisa membedakan kapan kau hanya menggodaku dan kapan kau sedang serius...tapi pesanmu telah membawa pergi kantukku...Keinginanmu adalah segalanya untukku’ katanya pada dirinya sendiri...dan segera berbalik untuk bertanya pada Mainavati, “Masa, boleh aku pergi menemui Bapusa, dia pasti akan sangat sibuk besok dan aku tidak punya kesempatan lagi untuk mengobrol dengannya.”
Mainavati menjawab, “Jodha, ini sudah malam, mungkin Bapusa-mu sudah tertidur sekarang, dan besok akan kupastikan kalian berdua punya waktu untuk mengobrol.”
Jodha menjawab sedih, “Oke Masa.”
“Mengapa kau melarang ladoo-ku...Jika dia memang sudah tidur, maka Jodha akan kembali...biarkan dia pergi...ini istananya juga, dia tidak butuh ijinmu.” Dadisa memarahi Mainavati.
“Baiklah Jodha, kau boleh pergi tapi segeralah kembali.” Dengan terpaksa Mainvati memperbolehkannya pergi.
Jodha menjawab tenang untuk menutupi suka citanya, “Terima kasih Masa. Aku akan segera kembali.”
Dia keluar dari kamarnya bersama Moti dan reva... dan berbisik pada keduanya, “Moti, aku akan menemui Shahenshah, dia ingin melihat mehndi-ku...Jika kebetulan Bapusa datang kemari maka beritahu aku secepatnya. Aku akan segera kembali.”
Dia berlari menuju ke kamar Jalal sambil mengingat kembali setiap kata dalam pesannya...Dia ingin memeluk dan menciumnya untuk pesannya yang sangat manis.
Dia melewati gerbang...penjaga tidak menghentikannya tapi cukup terkejut melihatnya di malam selarut ini... Jodha masuk ke dalam kamarnya...hanya satu lilin yang menyala...tirai berkibar tertiup angin...Sinar bulan menerobos masuk dari jendela dan menyinari wajahnya...Dia berdiri di samping ranjang...dan tersenyum melihat wajah polosnya yang sedang tidur... Wajahnya tampak lebih bersinar dari sebelumnya....Seulas senyum terukir di wajah Jalal.
Jalal serasa mendengar gemerisik suara gelang kakinya dalam tidurnya dan merasakan kehadirannya di dalam kamar itu...Perlahan Jodha mendekat dan duduk di atas ranjang di sebelah tubuhnya... Saat melihat wajah polosnya yang menawan dari dekat, Jodha tidak bisa menahan diri...Dia menundukkan wajahnya dan mencium keningnya, Jalal tetap bergeming...lalu dia mencium kedua pipinya dan berbisik, “Jalal, aku juga sangat merindukanmu.”
Jalal tersenyum dan membuka matanya...Keduanya saling menatap penuh cinta...Jalal menangkup wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut...dan berbisik, “Jodha apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku datang ke sini untuk mewujudkan keinginanmu..” jawabnya sedikit bergumam.
“Jadi kau akan menghabiskan malam ini denganku sesuai keinginanku??” tanyanya menggoda setengah berbisik.
“Aku kemari untuk menunjukkan Mehndi-ku, itulah yang kau inginkan dalam pesanmu.” Katanya sedikit kesal.
“Biar kulihat.” Jalal bangkit untuk melihat Mehndi-nya...”Jodha, di sini terlalu gelap aku bahkan sulit melihat wajahmu, bagaimana aku bisa melihat Mehndi-mu.” Katanya pelan lalu berdiri dan mengambil sebuah lilin.
Dia kembali dengan sebuah lilin dan berdiri di dekatnya dan terpesona melihat wajahnya yang bersinar di bawah cahaya lilin...Dia bergumam, “Jodha, aku ingin kau tetap di sini...Tolong jangan pergi...kita bisa melanjutkan apa yang tertunda tadi...”
Jodha berbisik, “Shahenshah, Mehndi.”
Jalal memandangi tangannya dan menghirup aroma mehndi...”Indah.” katanya pelan...Jodha tersipu dan menundukkan wajahnya....Jalal sangat suka melihat wajahnya yang malu-malu...dia angkat dagunya dan berbisik di telinganya, “Ini adalah perintah Shahenshah E Hindusta...Kau tidak boleh pergi dari kamarnya malam ini..”
Jodha memejamkan mata seakan dia menurut dan menyetujui permintaannya. Jalal meletakkan lilin di atas meja di dekatnya...dan menarik Jodha mendekat dan mencium bibirnya dengan penuh gairah... Beberapa menit kemudian, saat Jalal mulai bergairah...tiba-tiba Jodha berteriak mengagetkan mereka, “Bapu..sa..”
Secepat kilat Jalal melepaskannya dan berlari ke arah pintu, tapi lalu berhenti dan membalikkan tubuhnya, dan berkata... “Jungli Billi.”

*********

Is It Hate Or Love | Chapter 39 Part 2

2 comments:

  1. Hahaha jalal dijerjain sm jodha ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.