Love In Silence Part 4 |By-Sasha| - ChusNiAnTi

Love In Silence Part 4 |By-Sasha|



Bumi terasa mau runtuh, hatiku bergoncang hebat serasa ada pisau tajam menghujam tepat di ulu hatiku. Sesuatu yang benar-benar tidak bisa ku percaya. Bagaimana tidak? Saat membaca undangan ini. Tertera sebuah nama yang sangat ku kenal.

Rahma Nur Aini & Jalaluddin Faisal Akbar.

Yaa rabb pria yang selama ini sering ku sebut dalam doa ku. Tidak lama lagi akan bersanding dengan perempuan lain.

Ku tahan air mata ini agar tidak jatuh.

“Jo, bukunya mana?.” Ternyata pak Dani menghampiriku. “Ini pak” ku jawab sambil menyerahkan bukunya.

Setelah keluar dari ruangan pak Dani ku hampiri Vina. “Vin pulang sekarang yuk. Takut keburu hujan”. Vina mengangguk mengiyakan.

"Jo kamu tunggu di sini dulu yaah. Aku ambil motor dulu".

Aku menunggu di parkiran sambil duduk. Terlintas sebuah pertanyaan di benakku. Apa benar pak Jalal mau menikah?

"Jo ayo pulang katanya takut keburu hujan kok malah bengong"
Ucapan Vina membuyarkan lamunanku.

Karena rumah kami searah jadi saat pulang sekolah aku sering ikut menumpang dengannya.

Keesokan harinya seperti biasa aku datang ke sekolah.

Saat aku masuk ke kelas ternyata teman-temanku yang lain sedang membicarakan sesuatu.
“Ris, ini lagi ngomongin apa?”. Tanyaku pada Riska setengah berbisik.
“Ini Jo lagi ngomongin siapa yang mau datang ke nikahannya pak Jalal.” Ternyata pak Jalal benar-benar akan menikah.

Dengan alasan bahwa akulah yang paling dekat dengan pak Jalal di banding teman-teman yang lain. Akhirnya aku menyetujui untuk  datang ke acara pernikahan pak Jalal. Tak lupa ku ajak Vina untuk menemaniku.

Yaa Allah mampukah aku melihat pria yang aku harapkan kelak menjadi imamku besok akan menjadi imam perempuan lain.

Waktu pulang akhirnya tiba. Aku pulang sendiri karena Vina ada kumpulan OSIS.

Sebelum pulang ku sempatkan untuk shalat ashar. Mengadukan segala keluh kesah ini kepada rabb ku.

*****

Hari minggu pun tiba. Ku kenakan gamis berwarna hijau tosca dan kerudung yang berwarna senada. Tak lupa ku sapu wajah ini dengan bedak tipis.

Acara pernikahannya di laksanakan di dalam gedung. Di depan pintu masuk kami di sambut oleh dua orang pagar ayu yang tengah duduk di atas kursi.

Setelah kami menandatangani buku tamu. Kami di beri souvenir berupa sebuah gelas kaca cantik dengan ukiran nama kedua pengantin. Ku serahkan souvenir ini untuk Vina.

Acaranya cukup mewah dengan di dominasi warna gold.

Terihat pak Jalal dan istrinya tengah menyalami para tamu di atas pelaminan.

Tiba-tiba hati ini menjadi sesak. Melihat pak Jalal sedang bersanding dengan perempuan lain.
Yaa Allah kuatkan hamba.
Segera ku hapus air mata ini.

“Jo kamu nangis?” Vina bertanya penuh selidik

“Enggak kok. Mataku perih mungkin kena debu waktu di jalan”. Maafkan aku Vin harus membohongimu

“Nanti pulang dari sini langsung pake obat tetes mata Jo”. Aku mengangguk.

Akhirnya aku dan Vina menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat pada kedua pengantin.

Saat berada di depan pak Jalal ku tangkupkan kedua tangan “Selamat menempuh hidup baru pak. Barakallahulaka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair” Ucapku tulus.

“Terimakasih banyak atas do’anya Jo” aku mengangguk lalu beralih pada istrinya yang sedang duduk.

Kulihat wajahnya tampak pucat namun tak menghalangi kecantikannya ia terlihat sangat cantik dan anggun dengan make-up tipis dan kebaya biru dongker yang serasi dengan pak Jalal.

Setelah mengucapkan selamat pada kedua pengantin kami menikmati hidangan yang tersaji di meja prasmanan.

Tak butuh waktu lama kami langsung pulang karena Vina ada acara keluarga.

Saat tiba di rumah. Setelah mengucap salam aku langsung berlari ke kamarku.
Ku tumpahkan semua air mata yang dari tadi ku tahan sambil memeluk bantal.

Sakit hati? Itu pasti siapapun yang mencintai seseorang sedangkan orang yang di cintai menikah dengan orang lain.

Aku bangkit lalu mengambil buku diary di atas nakas.

Dear diary

Aku mencintaimu dalam diamku..
Aku menyukaimu sejak awal perkenalan..
Aku berharap bisa bersanding denganmu dalam sebuah ikatan suci yang bernama pernikahan..

Ada kalanya cinta itu terpaksa harus di pendam..
Ada kalanya harapan itu harus di kubur dalam-dalam..
Bukan karena ada seseorang yang lebih rupawan darimu..

Namun, rupanya ada seseorang yang jauh lebih baik dariku..
Seseorang yang berhasil memikat hatimu..
Ada rasa sakit dan bahagia yang ku rasakan..
Meratapi hati yang teriris, sekaligus bahagia melihatmu telah menemukan tulang rusukmu..
Meski ku tahu tulang rusukmu itu bukanlah diriku..

Pada akhirnya, aku memilih untuk mencintaimu dalam diam..
Ku putuskan untuk tidak menunjukkan perasaan sedih ini..
Meski menyakitkan, tapi ku lakukan semua demi kebahagian mu yang telah mengikat suci di atas mahligai pernikahan..

Meskipun hati ini terluka
Aku akan tetap bersabar dan berbaik sangka kepada-Nya..
Sebab setiap manusia memiliki skenario cinta yang berbeda..

Jika kau tak tercipta untuk menjadi pasanganku, aku yakin Allah telah mempersiapkan seseorang yang lebih pantas untuk menjadi imamku kelak..
Semoga Allah memberkahi rumah tangga kalian..
Aamiin yaa rabbal'aalamiin

(Flashback end)

****

Sebuah mobil fortuner berwarna hitam mengkilap tampak berhenti di depan pelataran parkir sebuah rumah sakit. Seorang pria yang bernama Jalaluddin Faisal Akbar yang tidak lain dan tidak bukan adalah pengendara mobil itu keluar dari sana setelah berhasil memarkirkan mobilnya dengan sempurna. Ia mamasuki kawasan rumah sakit dengan sedikit berlari.

Setengah jam yang lalu ia mendapat kabar bahwa sang ibu mengalami kecelakaan dan di larikan ke rumah sakit ini.

Setelah bertanya pada suster. Ia bergegas menuju kamar 214 tempat sang ibu di rawat.

Saat ia membuka pintu alangkah terkejutnya melihat seorang perempuan berhijab yang selama ini ia cari.

Kedua mata mereka saling bertatap seolah-olah menjadi perwakilan hati mereka.

Kemudian pandangan itu beralih pada sosok wanita paruh baya yang sedang terbaring lemah.

Ia mendekati wanita itu lalu mencium tangan dan keningnya dengan lembut.

"Mama nggak apa-apa bang" ujar sang ibu di iringi senyum tulus.

"Kenapa nggak bilang kalau mau ke Bandung. Biar abang yang jemput mama."

Dengan perasaan tak enak hati karena menganggu kedua anak dan ibu itu. Dokter Jodha berkata pada pria itu "Maaf pak bisa bicara di ruangan saya?"

Pria itu pun menoleh lalu mengangguk.

Mereka berjalan beriringan menuju ruangan Dokter Jodha. Yang letaknya lumayan jauh dari kamar 214 tempat bu Farah di rawat.

Selama di perjalanan menuju kesana Jodha selalu mendapat sapaan dari para perawat atau pun sesama Dokter yang berpapasan dengannya. Beberapa pasien yang pernah di tanganinya pun ikut menyapa. Jodha memang di kenal dengan sebutan Friendly Doctor karena senyum dan sikapnya yang ramah maka tak heran jika ia termasuk calon menantu idaman. Bahkan para pasien ibu-ibu pun secara terang-terangan  memintanya  untuk menikah dengan anak mereka.

Sikap Jodha itu pun tak luput dari perhatian sesosok pria di sampingnya. Ia tersenyum penuh kekaguman.

Banyak yang berubah dari sosok Jodha kini ia lebih dewasa dan juga semakin cantik dan anggun.

dr. Jodha Atsilia Haura. SPB
Begitulah yang tertera dalam papan nama yang berdiri tegak di atas meja kayu jati yang terlihat kokoh di sebuah ruangan bernuansa putih dengan sedikit corak biru langit yang menjadi garis wallpaper di dindingnya.

Ia mempersilahkan pria itu untuk masuk.

"Jadi bagaimana keadaan ibu saya dok?" Jalal mulai bertanya.

"Pasien mengalami benturan di kepala bagian belakang tapi alhamdulillah benturannya tidak mengenai sistem saraf. "

"Berapa lama ibu saya harus di rawat?"

"Tergantung kondisinya pak. Tapi setelah saya cek kemungkinan tiga atau empat hari pasien di perbolehkan pulang".

Setelah keluar dari ruangan Dokter Jodha ia menuju kamar 214 untuk menemani sang ibu.

Ia duduk di kursi samping ibunya "Tadi dokter bilang apa bang?".

"Dokter bilang mama kena benturan di kepala tapi alhamdulillah benturannya tidak terlalu parah".

Bu Farah mengelus kepala putra sulungnya itu dengan penuh kelembutan "Maafin mama udah ngerepotin abang."

"Mama nggak pernah ngerepotin abang. Harusnya abang yang minta maaf akhir-akhir ini abang terlalu sibuk di kampus dan jarang pulang ke Jakarta". Ia berkata dengan penuh penyesalan.

Memang akhir-akhir ini ia di sibukkan dengan para mahasiswanya yang akan melaksanakan ujian di tambah lagi seminar di berbagai kota.

Sejak lulus program S2 dari Universitas Al-Azhar Kairo ia memutuskan untuk tinggal di Bandung sambil bekerja di salah satu Universitas negeri di kota ini.

Terakhir kali ia pulang ke rumah orang tua nya yakni dua bulan yang lalu saat menghadiri pengajian tujuh bulanan sang adik yang tengah hamil.

Sementara di ruangan lain Jodha masih terisak tenggorokannya pun tercekat. Pertemuan dengan pak Jalal mengembalikannya pada ingatan beberapa tahun lalu saat ia melihat pria itu tengah duduk manis bersama sang istri di kursi pelaminan.

Ingin rasanya ia berdamai dengan masa lalu.

"Assalamu'alaikum..". Suster Ratna  masuk sambil membawa beberapa berkas.

Jodha pun akhirnya mendongak "Wa'alaikumussalam. Ada apa sus?"

"Sekarang dokter ada kunjungan ke kamar 276". Ujar suster Ratna tidak enak hati karena telah mengganggu sang dokter.

Jodha mengangguk sambil mengusap air matanya dengan tisu lalu bangkit dari kursinya untuk menuju ruangan pasien.

Saat melewati taman. Matanya menyipit melihat sosok anak perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu.

"Bentar sus kita ke taman dulu sebentar".

"Baik dok".

Di hampiri nya anak perempuan itu. "Dek kenapa nangis sayang. Mama sama papanya kemana?". Jodha bertanya dengan lembut.

Anak perempuan bernama Hilma itu pun mendongak. "Bundaaa..." ia berucap sambil berhambur memeluk Jodha.

"Bunda jangan tinggalin Ima". Ia kembali menangis.

Karena kasihan akhirnya Jodha mendudukkan anak itu di atas pangkuannya. Setelah menghiburnya anak itu pun tertidur.

Sedangkan seorang pria berperawakan tinggi tegap yang sedang memperhatikan mereka tak jauh dari tempat mereka duduk.

Sebenarnya ia akan menghampiri keponakannya namun langkahnya terhenti saat seorang dokter dan suster telah terlebih dulu menghampirinya. Ia tersenyum saat melihat cara sang dokter menghibur keponakannya. Terlihat sangat keibuan.

Perlahan-lahan ia menghampiri mereka. "Maaf jika dia merepotkan dokter. Hampir semua perempuan yang di temuinya ia sebut bunda. Karena ibunya baru saja meninggal satu jam yang lalu" ujar pria itu menjelaskan.

"Tidak apa-apa pak. Dia masih anak-anak belum mengerti jika ibu nya telah tiada. Saya turut berduka atas meninggalnya istri bapak". Ucap Jodha tulus lalu dengan hati-hati menyerahkan anak itu yang tengah terlelap.

"Yang meninggal itu bukan istri saya tapi kakak saya. Ohiya kenalkan nama saya Irfan. Kalau boleh tahu nama dokter siapa?" tanya sang pria sambil mengulurkan tangannya.

"Nama saya Jodha". Jodha menangkupkan kedua tangannya.
 
"Terimakasih dokter sudah menghibur keponakan saya"

"Sama-sama. Saya permisi masih ada pasien yang harus di kunjungi. Assalamu'alaikum". Jodha dan suster Ratna berlalu meninggalkan Irfan.

"Wa'alaikumussalam" Irfan menjawab sambil tak henti memandang Jodha.

Ia kagum. Baru kali ini ia menemukan dokter seperti Jodha. Tak hanya berparas cantik namun juga bersifat lembut dan keibuan.

*****

Aku tidak bisa mendefinisikan cinta dengan sebenar-benarnya. Namun yang aku tahu dari apa yang pernah aku rasa, cinta hanya mengenai 2 hal. Yakni pertemuan dan perpisahan, kapanpun mereka datang selalu siapkan hati terbaik untuk mengikhlaskan.

Ikhlas jika pada akhirnya pertemuan tidak sesuai harapan, ikhlas jika pada akhirnya perpisahan yang ada tidak pernah kita siapkan.

Sebab jika takdir sudah mengikat, perpisahan hanya jalan untuk membuatnya menjadi lebih erat.

(Jodha Atsilia Haura & Jalaluddin Faisal Akbar)


Love In Silence Part 4 |By-Sasha|

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.