Rahasia Hati Part 18 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 18 - By : Erinda




Dan malam itu pun mereka habiskan untuk saling melepas rindu satu sama lain,  karena rasa kantuk yang mendera-nya akhirnya Faridha tertidur lebih dulu, tak berapa lama Rajatha-pun tertidur dan memutuskan telepon-nya.
^^^
Kini tanpa terasa hari-hari berat sudah berhasil dilalui dengan baik oleh Rajatha dan Faridha, walau sebenarnya juga tidak bisa dikatakan baik-baik saja tapi setidaknya semua itu sudah berakhir dan mereka siap untuk menjalani sebuah babak baru dalam kehidupan mereka.

Rajatha sudah  duduk di hadapan penghulu, keringat sedikit demi sedikit mulai terlihat di sudut pelipisnya, pertanda bahwa pria tersebut tengah berada dalam keadaan yang cukup menegangkan dalam hidupnya. Sedangkan kedua orang tuanya, Jalal dan Jodha sudah ikut duduk tepat dibelakangnya.

Rajatha nampak menundukan kepalanya dengan bibirnya yang komat kamit, sejak kemarin ia terus menghapalkan satu kalimat yang akan merubah segalanya, merubah status serta menambah tanggung jawab dalam hidupnya. Ya Rajatha sedang menghapalkan qabul pernikahan-nya.

Sedangkan keadaan pengantin wanita yang kini masih berada di sebuah kamar rias juga tidak jauh berbeda, ia pun terlihat tegang dan gelisah sejak tadi. Faridha ditemani oleh  Lavina dan Melanie.
“Tenanglah Faridha” Kata Melanie, sedangkan Lavina mengelus punggung Faridha dengan sayang, membuat Faridha mulai merasa sedikit lebih nyaman dan rileks. Beruntungnya ia yang selalu dikelilingi orang-orang yang baik dan sayang padanya.

“Ya Allah,, Berkahi dan rahmatilah pernikahan ku kali ini. Aku mencintainya karenaMU ya Allah. Semoga Rajatha menjadi pria dan cinta terakhir dalam hidupku hingga hanya mautlah yang memisahkan kami. Aamiin” Do’a Faridha dalam hati

“Saya terima nikah dan kawin-nya Faridha Anggun binti Alm Hermawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai” Ucap Rajatha dengan lantang
Faridha yang tengah berdo’a tidak menyadari kalau diluar sana Rajatha baru saja mengucapkan qabul pernikahan-nya dengan lancar dan hanya dalam satu tarikan napas.

 “Alhamdulillah. Selamat Faridha” Lavina serta Melanie mengucap syukur dan memberi selamat pada Faridha yang masih belum sadar bahwa ia telah sah menjadi istri Rajatha
“Apa,, Apa Mas Rajatha sudah,,,,”
“Sudah Faridha, ayo kita temui suami mu sekarang” Ajak Melanie pada Faridha dengan semangat

“Alhamdulillah,,, Ayah,, Bunda,,, ya Allah” Syukur Faridha dalam hati dan sesaat ia teringat pada kedua orang tuanya

Dengan anggun Faridha yang di bimbing oleh Melanie dan Lavina, berjalan menuju Rajatha yang sejak tadi tampak terus memperhatikannya tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya ke arah lain.

“Ya Allah,,, Terima kasih atas segala cinta dan rahmat-MU, dan karena izin-MU aku dapat menghalalkan-nya hari ini. Berkahilah pernikahan kami ya Allah. Aamiin” Do’a Rajatha dalam hati dengan terus memperhatikan Faridha yang tampak begitu anggun dimatanya.

Kini Faridha sudah berada di hadapan-nya, penghulu meminta mereka berdua saling memakaikan cincin satu sama lain, setelah itu Faridha meraih tangan kanan Rajatha kemudian menciumnya dengan takzim dan dibalas kecupan lembut dari Rajatha di kening Faridha, istrinya. Mereka saling melemparkan senyum satu sama lain, senyuman kebahagiaan dan penuh cinta.

Tidak lupa paman kembar Rajatha, Hasan dan Husen -yang pastinya turut andil dalam acara pernikahan Rajatha dan Faridha-, memberi isyarat pada pengantin dan seluruh keluarga menuju ballroom hotel untuk melaksanakan acara resepsi.
Dengan terbalut baju pengantin berwarna putih yang nampak elegan, keduanya kini sudah bersanding dengan serasi diatas pelaminan, mereka diapit oleh Jalal-Jodha dan Ardhan-Lavina. Setelah perwakilan dari kedua keluarga menyampaikan beberapa kata sambutan dan ucapan terima kasih kepada para tamu yang hadir, kini dengan diiringi lagu-lagu romantis satu persatu para tamu undangan mulai berbaris rapi untuk memberikan selamat pada Raja dan Ratu sehari tersebut, sebagian juga tengah menikmati jamuan makan yang sudah disiapkan.

“Sayang” Panggil Rajatha lembut pada Faridha
“Ya Mas”
“I love you” Bisik Rajatha mesra dan mencium pipi Faridha sekilas dan tingkah Rajatha barusan membuat heboh para tamu undangan, mereka berseru dan  menggoda pasangan pengantin baru itu, Faridha malu setengah mati karena-nya.

Hingga tahapan demi tahapan acara sudah mereka jalani, kini saatnya Rajatha dan Faridha melemparkan bucket bunga pengantin yang sejak tadi pegang Faridha, tampak para tamu undangan -yang tentu saja yang masih berstatus single- begitu antusias, justru mungkin inilah moment yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi, bukan hanya karena mitos yang beredar -bahwa jika mendapatkan bucket bunga pengantin maka tidak lama, kita juga akan menyusul menjadi pengantin-, tapi juga karena keseruan dan kehebohan saat kita bersiap memperebutkan-nya dan tentu saja suatu “kebanggan” jika berhasil mendapatkan-nya.

Tampak MC bersiap memberi aba-aba, tidak ketinggalan dibawah sana Melanie ikut ambil bagian, sejak tadi ia terus menyelip kesana sini dan ulah Melanie tersebut tidak lepas dari tatapan Hasan –Paman Rajatha-, sesekali ia tersenyum geli melihat Melanie yang begitu bersemangat diantara kerumunan orang-orang disana.

“Aku selalu berhasil mendapatkan bunga pengantin dan begitu juga kali ini, aku akan menyingkirkan siapa saja yang mencoba menghalangiku, hihihihi” Batin Melanie geli

“Hai Bro,, Kau tidak ikut untuk merebut bucket bunga pengantin-nya?” Tanya Husen yang tiba-tiba muncul disebelah Hasan
“Mencoba berebut bucket pengantin yang akan dilempar oleh keponakan ku sendiri? Yang benar saja” Sahut Hasan pada Husen tanpa menoleh sedikit pun padanya, ia masih terus saja memperhatikan Melanie
“Hahahaa,.. Memangnya kenapa kalau itu dilempar oleh keponakan kita, kalau  beruntung kau bisa mendapatkan-nya dan bisa cepat menikah sepertiku” Oceh Husen.

Husen memang sudah menikah, tepatnya dua minggu yang lalu. Sebenarnya ini adalah waktunya ia berbulan madu dengan istrinya tapi ia malah ikut sibuk membantu persiapan pernikahan keponakan kesayangan-nya, dan sudah pasti Husen tidak melakukannya secara cuma-cuma, ia sudah meminta jatah paket honeymoon di kepulauan Fiji selama dua minggu pada Jalal dan Jodha, dan tidak ketinggalan Hasan juga meminta “sesuatu” pada Jalal atas “jasanya” namun ia akan mengatakannya nanti karena saat ini ia merasa sedang tidak membutuhkan apa-apa. Ckckck,,,

Rajatha dan Faridha sudah melemparkan bucket bunga pengantin mereka, dibawah sana terdengar riuh tawa dan teriakan-teriakan terutama dari para wanita hingga HAPP, bucket itu kini sudah berada didalam genggaman seseorang, oh tidak.. dua orang lebih tepatnya, Melanie dan Hasan.

Faridha dan Rajatha kini sudah berbalik dan mencoba mencari tahu siapa kira-kira mendapatkan bunga nya.
“Melanie”
“Paman Hasan”
Gumam Rajatha dan Faridha hampir bersamaan, lalu mereka tersenyum bersama memperhatikan kedua orang itu terlihat sedikit beradu argument dibawah sana.

“Maaf ya OM, saya sudah lebih dulu menangkap bucket bunga ini” Kata Melanie dengan ketus nya, ia berusaha menarik bucket itu kearahnya namun ditahan oleh Hasan
“Apa katanya? OM??? Yang benar saja” Batin Hasan tidak terima
“Tidak bisa Nona kecil, saya juga menangkap bucket ini. Jadi ini milik ku” Kata Hasan tidak mau kalah

“Ck,, sejak kapan dia sudah ada disana dan sekarang,,, Astaga,,,” Batin Husen tidak percaya melihat kekonyolan saudara kembarnya. Bisa-bisanya ia berebut sebuah bucket bunga pengantin dengan seorang gadis seperti itu, memang tadi dia yang menganjurkan untuk ikut mengantri mendapatka bucket itu tapi tidak dengan cara berebut seperti ini. Oh come on Man,,,

“Ya Tuhan,,,” Husen yang melihat itu dari kejauhan menepuk keningnya
“Hehehe,, Saudara kembar-mu lucu sekali, seriuskah ia berebut bucket bunga dengan gadis kecil itu?” Tanya Thenea istri Husen sambil tertawa geli
“Entahlah honey, sepertinya ia benar-benar harus segera menikah. Anggap saja kali ini kita tidak mengenalnya” Jawab Husen dan lagi-lagi membuat Thenea tertawa karena-nya

“Bagaimana mungkin bunga ini milik Om. Om lihat sendiri kan tangan saya berada dibawah dan memegang langsung bunga ini, sedangkan tangan anda diatas tangan saya, jadi bunga ini milik saya” Kata Melanie kesal
“Kalau begitu milik ku adalah kau” Kata Hasan sambil menatap dalam mata tajam Melanie
“Oh,, Ehm,, Maksudku,, Yah,,, Baiklah, bunga ini milikmu. Maaf” Kata Hasan lagi, ia melepaskan genggaman nya dan berlalu dari hadapan Melanie yang masih terbengong, sepertinya Melanie masih berusaha mencerna kalimat Hasan yang tadi.

Tiba-tiba lampu padam, tidak ada keriuhan dari para tamu undangan yang hadir, semua diam. Sedangkan Faridha yang tidak suka dengan suasana yang gelap, langsung mengulurkan tangannya mencari Rajatha, tapi tidak ada.

“Astaga,, Kemana dia? Sejak kapan Mas Rajatha tidak disini? Hhm,, Pasti karena tadi aku terlalu asik memperhatikan Melanie sehingga aku tidak menyadari kalau Mas Rajatha pergi, tapi pergi kemana dia? Toilet kah?” Batin Faridha gelisah dan bertanya-tanya
“Mah,, Mbak Lavina,,, Papa,,, Kak Ardhan,,,” Faridha mencoba memanggil dengan pelan orang-orang yang seharusnya ada didekatnya, tapi tak kunjung ia dengar sahutan dari mereka.

Faridha kembali diam lalu dengan tiba-tiba sorot lampu mengarah tepat padanya dan mulai terdengar alunan denting piano, Faridha mencari-cari.

Hingga suara Rajatha yang sudah sangat dikenalnya mulai bernyanyi dan tepat saat itu lampu sorot juga mengarah pada Rajatha, yang ternyata berada diseberang sana.
Rajatha menyanyikan sebuah lagu romantis untuk istri tercintanya di hari bahagia mereka, ide ini hanya Faridha yang tidak mengetahuinya. Semua keluarga bahkan para tamu undangan sudah diberitahu, maka dari itu saat semua lampu dipadamkan, tidak ada teriakan panik dan kegaduhan di ballroom hotel ini.

Muskurane ki wajah tum ho
     * Kau adalah alasanku untuk tersenyum
Gungunane ki wajah tum ho
     * Kau adalah alasanku untuk bersenandung
Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
     * Aku tidak bisa hidup jika tanpa dirimu
O re piya re
     * Kekasihku

Rajatha bernyanyi sambil berjalan menuju Faridha, tatapan keduanya tidak terlepas sedetikpun sejak tadi.

O re lamhe tu kahin mat ja
     * Oh sang waktu janganlah kau pergi kemanapun
Ho sake to umr bhar tham ja
     * Bila perlu tinggalah disini untuk selamanya
Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
     * Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu
O re piya re
     * Kekasihku

Rajatha sudah naik kembali ke pelaminan dan berada di hadapan sang kekasih hati, belahan jiwanya. Faridha menitikan air mata yang segera dihapus dengan lembut oleh Rajatha, kemudian ia mencium mesra kening Faridha dan semua lampu kembali menyala yang disambut riuh tepuk tangan para tamu undangan.
Ternyata di pelaminan hanya ada mereka berdua, karena Jalal-Jodha dan Ardhan-Lavina sudah turun darisana dan kini sedang memperhatikan kebahagiaan yang tengah dirasakan Rajatha dan Faridha diatas sana.

Dhoop aaye to chhaanv tum laana
     * Bila datang sinar mentari kau akan mendapatkan tempat yang teduh
Khwaahishon ki barishon mein
     * Dalam hujan keinginan
Bheeg sang jaana
     * Kita akan basah bersama
Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
     * Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu
O re piya re
     * Kekasihku
Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
     * Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu
O re piya re piya re
     * Kekasihku

Jo mile usmein kaat lenge hum
     * Rintangan yang datang apapun kita hadapi bersama
Thodi khushiyaan, thode aansoo
     * Sedikit kebahagian dan sedikit air mata
Baant lenge hum
     * Kita bagi bersama
Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
     * Karena aku tidak bisa hidup bila tanpa dirimu
O re piya re
     * Kekasihku

Muskurane ki wajah tum ho
     * Kau adalah alasanku untuk tersenyum
Gungunane ki wajah tum ho
     * Kau adalah alasanku untuk bersenandung
Jiya jaaye na jaaye na jaaye na
     * Aku tidak bisa hidup jika tanpa dirimu
O re piya re
     * Kekasihku

“I love you, yesterday, today, tomorrow and forever”
“I love you too”

Lagu berakhir dan berakhir pula acara resepsi pernikahan Rajatha dan Faridha malam itu.
^^^
Para keluarga sudah memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat, tidak terkecuali pasangan pengantin baru Rajatha dan Faridha.

Rajatha sudah selesai mandi dan kini tengah duduk santai di sofa yang berada di kamar pengantin mereka, sambil menunggu Faridha yang sedang mandi. Sejak tadi senyum tak lepas dari wajah tampan nya, tayangan TV yang berada didepannya sama sekali tidak ia hiraukan, ia sangat bahagia saat ini dan masih belum percaya jika Faridha sudah sah menjadi istrinya, teringat dulu betapa ia sudah hampir menyerah mendapatkan Faridha saat ia tahu jika Faridha sudah bersuami, namun ia kembali bersemangat untuk mendapatkan Faridha saat ia tahu Faridha sudah tidak terikat dengan siapapun lagi, Rajatha sungguh tidak masalah akan status Faridha sebelumnya –Janda-, ia mencintai Faridha apa adanya. Tidak perduli jika ia bukan yang pertama bagi Faridha, ia bukan pria egois yang menuntut istrinya harus masih perawan, semua orang punya masa lalu dan kita hidup bukan untuk masa lalu tapi untuk masa sekarang dan tentu saja masa depan.

“Mas” Panggil Faridha dari dalam kamar mandi pada Rajatha
“Ya sayang” Sahut Rajatha
“Eeuumm,,, Mass”
“Ya?” Rajatha menghampiri kearah pintu kamar mandi
“Ituu,,,”
“Ada apa Sayang?” Tanya Rajatha dengan sabar
“Mas,, Em,, Aku tidak bawa baju ganti, boleh Mas keluar kamar dulu,, Sebentar saja” Kata Faridha takut-takut

Rajatha hampir tertawa mendengarnya, tapi ia segera menahannya takut Faridha marah padanya
 
“Kenapa aku harus keluar, Sayang. Aku kan suami mu”
“Aku,, Aku malu,, Ah, ya sudah kalau Mas tidak mau keluar, aku akan tetap disini saja semalaman” Kesal Faridha
“Eh jangan, Sayang. Oke Oke,, Aku keluar sekarang, katakan kalau nanti kau sudah selesai ya” Kata Rajatha dan segera meninggalkan kamar pengantin mereka.

Mendengar suara pintu yang dibuka lalu kemudian tertutup kembali, Faridha segera keluar dari kamar mandi dan segera bergegas mencari piyama yang sudah di masukannya kedalam koper sejak kemarin, tapi setelah dicari-cari ia tidak menemukan satupun piyama kesayangannya.

“Sepertinya aku sudah memasukannya kemarin kedalam sini, yah aku yakin aku sudah memasukan banyak piyama kemarin, tapi kenapa tidak ada. Lalu milik siapa ini? Astagaa,,, Li-Lingerie?! Siapa yang memasukannya” Gerutu Faridha dengan mengacak-acak isi kopernya hingga sebuah pesan masuk di handphone nya

Melanie : “Lingerie motif macan sangat cocok untuk malam pertama mu Nona”

“Melanie,,, Arrghhh,,,, Dasar gadis gila, yang benar saja aku disuruh memakai baju ah kain jala macam ini, kalau tidak punya banyak uang tidak usah memberi ku kado kurang bahan seperti ini” Omel Faridha panjang lebar dan terus menatap ngeri pada kain jala yang sebenarnya adalah lingerie-lingerie cantik di hadapannya

Dasar Faridha, yang benar saja Melanie tidak punya banyak uang, justru lingerie tersebut ia beli dengan harga yang cukup mahal beberapa hari lalu dan merupakan salah satu koleksi terbaru dari brand ternama dunia.
^^^^
Akhirnya setelah berpikir berulang kali, Faridha memutuskan untuk memakai “kain jala” pemberian si gadis gila Melanie, dengan tergesa Faridha segera masuk kedalam selimut setelah sebelumnya ia mematikan lampu, agar saat Rajatha masuk nanti dia akan mengira kalau Faridha sudah tertidur dan tidak mengetahui apa yang ia kenakan saat ini. Yah, setidaknya begitulah pemikiran Faridha, tapi apakah yang akan terjadi kemudian sama dengan apa yang dipikirkan oleh Faridha? Hahaha

- To Be Continue -

Maaf ya baru sekarang bisa post lagi. Diusahakan setelah ini bisa cepet post lagi sampai selesai. Aamiin

Anyway. Selamat hari raya idul fitri 1437H. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga segala amal ibadah kita selama ramadan ini diterima Allah swt dan menjadikan kita manusia yang lebih baik lagi. Aamiin...

Rahasia Hati Part 18 - By : Erinda

2 comments:

  1. Terimakasih mba erinda.. selamat idul fitri..

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.