Rahasia Hati Part 21 - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 21 - By : Erinda




“Bagus! Kita singkirkan saja secepatnya pengganggu itu. Mami sudah sangat muak melihatnya”
^^^


Keesokan harinya, setelah kepergian Jalal, Rajatha dan Ardhan.
Jodha mengajak Faridha kerumah sakit untuk menjenguk Lavina, sekalian ia juga ingin memeriksa Faridha, entah kenapa dari gelagat Faridha yang ia perhatikan sejak kemarin membuat Jodha berasumsi kalau menantu kesayangan-nya itu tengah hamil, dan semoga saja benar.

“Sayang, kita mampir ke dr Meira dulu ya” Ajak Jodha pada Faridha sesaat mereka telah sampai di rumah sakit
“Oke, apa Mama sakit?” Tanya Faridha
“Tidak. Bukan Mama, tapi kau Sayang”
“Aku?”
“Hhmm”
“Sepertinya aku baik-baik saja, Mah”
“Sudah, ayo kita masuk kedalam, dr Meira sudah menunggu kita disana. Semalam Mama sudah membuat janji bertemu dengannya”
“I-iya” Sahut Faridha masih dengan kebingungan-nya

“Dokter kandungan Mah?” Tanya Faridha yang baru menyadari kalau dr Meira adalah seorang dokter kandungan
“Iya, sayang. Ayo”
“Tapi Mah,,,, Aku”
“Kita periksa dulu ya, Sayang. Semoga calon cucu Mama sudah ada disini” Kata Jodha sambil mengelus lembut perut Faridha
Faridha tersenyum dan mengangguk senang “Aamiin”

Faridha sudah selesai diperiksa dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya dr Meira menyatakan bahwa Faridha positif hamil, dengan janin yang baru berusia 3 minggu. Sungguh kabar yang menggembirakan, Jodha tidak hentinya memeluk dan mencium menantunya dengan sayang.
 
“Terima kasih, Sayang. Hai cucu Oma, sehat terus ya di dalam sana. Oma sayang kamu” Kata Jodha dengan penuh kasih sayang
“Mama,,, Hiks,,, Aku akan jadi Ibu Mah, Hikss,,, ” Faridha memeluk Jodha penuh haru
“Ssstttt,,, Iya Sayang. Kau akan jadi seorang Ibu. Ayo, sekarang kita temui Lavina” Ajak Jodha dan menuntun Faridha untuk keluar dari ruangan dr Meira, Faridha mengangguk kemudian mengikuti Jodha
^^^
“Hi Mbak Lavina,,,,” Sapa Faridha
“Hi Lavina” Sapa Jodha
“Hi Faridha, Tante” Sambut Lavina dengan senang, suster yang sejak tadi menemaninya pamit undur diri
“Ini bayimu Nak? Siapa namanya? Cantik sekali” Tanya Jodha dengan memperhatikan dan mengelus lembut pipi gembil bayi cantik itu
“Iya, Namanya Celia Arvina Wijaya. Terima kasih Tante” Jawab Lavina
“Arvina,,, Ardhan dan Lavina?” Kata Faridha menerka-nerka
“Hhehee,,, Iya”
“Hhehehe,, Oh ya, kapan Mbak boleh pulang?” Tanya Faridha
“Siang ini Faridha”
“Wah,, Kalau begitu kita bisa sekalian pulang bersama saja ke rumah Mama. Mbak setuju kan tinggal dirumah Mama selama Kak Ardhan ke Singapore” Kata Faridha dengan antusias. Lavina mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban-nya, Faridha dan Jodha tersenyum senang.

Malam ini Lavina dan baby Celia sudah mulai tinggal di rumah Jodha untuk beberapa hari kedepan, sejak tadi mereka repot mengurus baby Celia. Faridha, ia sangat antusias memperhatikan Lavina dan Jodha yang tengah mengurus baby Celia secara bergantian sejak tadi .

“Sudah tidak sabar ya Nak ingin punya baby sendiri” Kata Jodha yang ternyata diam-diam memperhatikan Faridha
“Faridha? Kau,,,,” Tanya Lavina terkejut, Faridha menjawab Lavina dengan anggukan kepala dan senyum manis yang mengembang di bibir pink nya
“Ya Tuhan,,, Selamat kalau begitu, aku turut senang mendengarnya” Lavina langsung memeluk dan mencium kedua pipi Faridha dengan sayang
“Terima kasih Mbak, em,, tapi jangan beritahu siapa-siapa dulu ya termasuk Kak Ardhan” Pinta Faridha pada Lavina, Jodha hanya mendengarkan
“Aku ingin memberi kejutan untuk Mas Rajatha, takutnya nanti kalau Kak Ardhan tahu dia akan memberitahu pada Mas Rajatha. Mama juga ya, tolong jangan beritahu Papa dulu” Kata Faridha pada Lavina dan Jodha
“Iya,,,” Kata Jodha dan Lavina menyetujui
^^^
Pagi ini suasana di kediaman Jodha masih cukup tenang, baby Celia masih tertidur dengan pulas bersama dengan Lavina di kamar tamu, baby Celia baru saja tertidur subuh tadi, semalaman Lavina tidak tidur, ia baru bisa memejamkan matanya beberapa saat yang lalu.

Jodha seperti biasa, pagi-pagi ia sudah sibuk di dapur, sedangkan Faridha berada di taman belakang untuk menyiram bunga dan membersihkan taman. Seperti biasa, Faridha pasti lebih memilih mengerjakan hal lain daripada memasak, apapun selain memasak, karena ia berpikir daripada nanti ia hanya akan menghancurkan dapur mertuanya, lebih baik ia bersih-bersih saja di taman, itu jauh lebih membantu. Cukup dapur dirumah-nya saja yang menjadi “korban-nya” setiap hari.

Hingga tiba waktunya untuk sarapan, Jodha mencoba membangunkan Lavina yang masih tampak pulas.
 
“Tante” Akhirnya Lavina terbangun setelah Jodha memanggilnya beberapa kali
“Sarapan dulu, Nak. Kau harus banyak makan supaya ASI mu lancar. Ayo” Ajak Jodha
“Oh,, Iya Tante, aku ke kamar mandi sebentar dulu”
“Baiklah, Tante dan Faridha menunggu mu dibawah ya”
 
Jodha dan Lavina berbicara dengan pelan karena takut membangunkan baby Celia
Setelah beberapa saat, Lavina turun dan ikut bergabung bersama Jodha dan Faridha di meja makan.

“Tante,, Maaf, aku disini sebagai tamu tapi justru bangun siang dan tidak membantu apa-apa” Kata Lavina merasa tidak enak
“Tidak apa-apa Nak. Tante tahu semalaman kau tidak tidur karena menemani baby Celia yang tidak tidur sampai Subuh tadi, tidak perlu sungkan pada Tante, kau sudah Tante anggap seperti anak Tante sendiri. Ayo, kita makan sekarang” Kata Jodha penuh pengertian, Lavina tersenyum bahagia
“Mah” Kali ini Faridha yang memanggil Jodha
“Ya, Sayang?”
“Hhmm,,, Kalau nanti aku melahirkan, aku ingin tinggal disini saja bersama Mama, boleh ya Mah” Mohon Faridha
“Kenapa memohon seperti itu, Sayang. Kau boleh tinggal disini kapanpun, lagipula Mama tidak akan membiarkan mu mengurus cucu Mama hanya bersama dengan Rajatha” Kata Jodha
“Ahhh,,, Mama benar-benar mertua impian” Puji Faridha
“Faridha, Tante Jodha berkata seperti itu karena sebenarnya ia tidak percaya kalau kau dan Rajatha bisa mengurus bayi, kau memasak saja tidak bisa, bagaimana mengurus bayi apalagi membuatkan makanan untuk anak mu nanti” Kata Lavina menggoda Faridha
“Mbakkkkkkk”
“Hhahaahaaa”
^^^^
Tiga hari sudah Jalal, Rajatha dan Ardhan berada di Singapore meninggalkan istri mereka di Indonesia, rasa rindu sepertinya sudah tak tertahankan.
Siang ini, Jodha, Faridha dan Lavina tengah bersantai. Baby Celia berada dalam dekapan hangat Jodha yang sesekali bersenandung untuknya.

Hingga tiba-tiba terdengar suara gaduh dan tidak lama masuklah dua wanita yang sangat dibenci oleh Faridha, masuk dengan seenaknya kedalam rumah Jodha.
“Nora? Sheila?” Faridha menatap tidak percaya, begitu pun dengan Lavina
Sedangkan Jodha yang tidak mengenal mereka sama sekali, ikut terkejut dan ia rasa kedatangan kedua wanita ini secara tiba-tiba dan tidak sopan di rumahnya bukanlah hal yang baik, sesuatu yang tidak ia inginkan bisa saja terjadi.
Faridha dan Jodha langsung beranjak dan menghampiri mereka
 
“Kau mengenal mereka, Faridha?” Tanya Jodha dengan setengah berbisik pada Faridha
“Mereka adalah mantan ibu dan saudara tiri ku”

Lavina yang masih belum bisa banyak bergerak, tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya duduk di sofa dan berdo’a  dalam hati semoga tidak ada hal mengerikan yang akan terjadi, namun tanpa Lavina sadari seseorang dari arah belakang menghampirinya dan membekapnya dengan sapu tangan yang sudah di bubuhkan obat bius hingga membuatnya tidak sadarkan diri seketika.

Jodha dengan masih menggendong baby Celia, berjalan mendekat kearah Nora dan Sheila
“Maaf,,, Siapa kalian dan ada perlu apa datang kerumahku? Kenapa satpam di depan rumahku tidak memberitahukan kalau ada tamu asing datang kemari” Kata Jodha waspada
“Hallo,,, Anda pasti Ny Jalal, ibu dari pria tampan yang bernama Rajatha yang sayangnya telah salah memilih istri” Kata Nora sombong
Jodha menghembuskan napas nya kasar, ia mulai jengah dengan kedua wanita sombong dihadapan-nya ini
“Dengar Nyonya, sedikitpun kau sangat tidak berhak menilai seperti apa menantu ku dan sebelum aku melakukan sesuatu yang membuat kalian menyesal seumur hidup, lebih baik sekarang tinggalkan rumahku” Kata Jodha tanpa gentar sedikitpun. Jodha lalu berbalik dan hendak menyerahkan baby Celia pada Lavina namun ia sudah tidak menemukan Lavina lagi disana, Jodha dan Faridha baru menyadari itu semua.
“Hahhaaa,,, Kalian terlalu fokus pada kedatangan kami, hingga tidak menyadari kalau ada orang lain yang membawa ibu dari bayi itu pergi dengan kaki tangan yang terikat dan mulut yang disumpal” Kata Nora menyeringai licik

“Satpam! Satpam!” Jodha berteriak memanggil satpam, namun tidak ada sahutan sama sekali dari satpam yang seharusnya berjaga di pintu utama depan.
 “Sialan!! Dimana kalian sembunyikan Mbak Lavina?! Apa yang kalian inginkan sebenarnya, hah?!” Faridha mulai berteriak kesal pada Nora dan Sheila yang menyeringai kearahnya

Jodha menaruh baby Celia di dalam box bayi dan mendorongnya ke tempat yang agak jauh dari ruang tengah, untunglah sejak tadi baby Celia masih terlelap dalam tidurnya.

“Apa yang kami inginkan katamu? Dasar anak tidak tahu diri! Jangan pura-pura tidak tahu Faridha, kau dan Ardhan sudah merampas semua harta yang kami miliki dengan cara yang sangat licik. Aku ingin semua harta itu kembali pada kami secara utuh secepatnya” Kata Nora berapi-api

Faridha yang belum mengerti apa yang sebenarnya dimaksud oleh Nora mulai berpikir, dia sendiri merasa belum melakukan apa-apa untuk merebut perusahaan penerbangan ayahnya dari Nora, hingga Faridha menyimpulkan bahwa Ardhan-lah yang telah berhasil mengambil semua itu kembali.

 “Seret dia kemari, Sayang. Mami sudah sangat muak melihatnya” Perintah Nora pada Sheila

Saat Jodha kembali, ia sudah melihat Faridha diseret dengan paksa oleh Nora dan Sheila, Faridha tidak bisa bergerak maksimal karena sebelah tangan-nya berusaha melindungi perutnya. Ia tidak bisa melawan atau Nora dan Sheila akan semakin menyakitinya, ia tidak ingin sesuatu terjadi pada janin-nya yang masih berusia hitungan minggu.

“Heii,,, Kalian apakan menantu ku?!!” Teriak Jodha dan langsung menghampiri mereka
“Mama,,,,” Lirih Faridha berusaha melarikan diri tapi usahanya sia-sia, Nora dan Sheila begitu erat mencengkram lengan-nya
“Hey jalang, kenapa kau tidak seganas biasanya, hah? Ah,,, Apa kau sedang hamil, sejak tadi kau berusaha melindungi perutmu? Hahaha… Sepertinya permainan kita akan semakin menyenangkan, Mami” Kata Sheila licik dan menyeringai kejam pada Faridha
“Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Sayang. Hahahaa” Timpal Nora
Nora dan Sheila mendorong tubuh Faridha hingga ambruk ke lantai, Faridha merasakan kepalanya berdenyut, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat hingga akhirnya ia tidak sadarkan diri karena terlalu cemas dan takut.
^^^
“Awwhh,,, Eh Haidar, Murad,, Bangun,,, Heyy” Kata Mirza yang merupakan salah satu satpam rumah Jodha, kepalanya masih terasa pusing karena efek obat bius, ia membangunkan kedua rekan-nya yang masih belum sadar
“Haidar! Murad! Bangun hey,,, “ Mirza kembali membangunkan dan kali ini berhasil
“Astaga,,, Kita kenapa ini Mirza?” Tanya Haidar sambil memegang kepalanya yang masih terasa pusing, begitupun dengan Murad
“Sepertinya ada rampok. Ayo cepat, sekarang kita kedalam” Kata Slamet
Kejadian-nya begitu cepat. Mirza, Murad dan Haidar dibius oleh sekelompok orang berpakaian hitam-hitam.

Murad dan Haidar langsung berjalan menuju rumah, sedangkan Mirza tidak langsung pergi, ia langsung mengirim pesan pada Jalal melalui handphone-nya, seperti pesan Tuan-nya itu kalau ia harus langsung mengabarinya jika sesuatu terjadi dirumahnya.

Kini Murad, Haidar dan Mirza sudah berada di depan pintu rumah namun mereka dihadang oleh sekitar 5 atau 6 orang pria berbadan kekar. Tanpa gentar mereka melawan orang-orang tersebut, badan mereka juga tidak kalah kekar dan besar dengan mereka.

Jodha tidak bisa menahan amarahnya lagi melihat mereka mendorong Faridha seperti itu hingga Faridha tidak sadarkan diri, ia mencari-cari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk melumpuhkan kedua wanita iblis ini, akhirnya ia mengambil sebuah tembikar berbentuk guci berukuran sedang, Nora dan Sheila tidak menyadari itu, mereka sudah merasa seanang bisa membuat Faridha ketakutan hingga akhirnya pingsan, kalau sudah seperti ini tidak sulit menyingkirkan Faridha berikut juga jabang bayinya.

“Jangan salahkan aku, kalian sudah membangkitkan sisi “lain” dalam diriku yang selama ini sudah tidak pernah aku tunjukan lagi” Batin Jodha.

Ia menyeringai dan berjalan pelan dengan membawa guci menuju Nora dan Sheila. Yah, jangan pernah lupa bahwa dulu Jodha adalah gadis yang arrogant, biang kerok dan suka membuat keributan serta menjahati orang lain. Jodha yang tidak takut dengan siapapun, bahkan seluruh anak kampus tidak berani jika sudah berurusan dengan-nya.

Tanpa basa basi Jodha langsung melemparkan guci yang di pegangnya kearah Sheila yang sejak tadi sudah mengeluarkan pisau lipat dan mengarahkannya pada tubuh Faridha yang tergolek pingsan.

“Aarrrgghhhh” Sheila mengerang kesakitan, punggungnya langsung berdarah. Jodha menarik kerah baju Sheila untuk berdiri dan menampar keras pipinya, Sheila kembali mengerang kesakitan dan meminta tolong pada Mami-nya, Nora yang melihat kejadian itu, ikut berdiri dan berusaha melepaskan cengkraman Jodha pada Sheila.
 
“Lepaskan putriku!! Berani sekali kau menyakitinya, hah?!!” Hardik Nora dan kali ini ia berhasil melepaskan Sheila dari Jodha
Jodha beralih pada Nora tajam dengan tatapan membunuh.
“Bukan hanya putri jalangmu ini yang akan aku sakiti, tapi juga kau sialan!!!” Kata Jodha dan dengan gerakan cepat ia menubruk tubuh Nora hingga jatuh telentang, Jodha duduk di perut Nora, Sheila dengan dengan sisa tenaga yang ia punya melemparkan pisau lipat yang tadi ia pegang pada Nora dan berhasil ditangkap oleh Nora.

Nora langsung mengarahkan pisau itu pada Jodha, namun Jodha berhasil menghindari dan menangkap kedua tangan Nora dan menahannya di samping kepalanya, Sheila yang melihat Nora dalam keadaan terjepit seperti itu sedangkan dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolong Nora, karena badannya terasa remuk atas lemparan guci di tubuhnya, Sheila berteriak memanggil para pengawal yang ia yakin masih berjaga diluar sana.

Jodha yang mendengar teriakan Sheila, segera melepas wedgesnya dan melemparkan-nya keras kearah wajah Sheila dengan keras, dan tidak cukup sekali, Jodha melemparkan sapasang wedges yang dikenakannya kearah Sheila, dan berhasil membuat Sheila menutup mulut juga matanya, pingsan!  Jodha menatap sinis padanya

Nora tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan tangannya yang bebas karena Jodha sempat melepaskannya, Nora kembali berusaha mengarahkan pisau pada Jodha dan mengenai kedua lengan Jodha hingga darah mengucur deras
“Aaarrggghhh,,,,” Jodha menjerit kesakitan, Nora tertawa mengejek

Jalal, Rajatha dan Ardhan yang mendengar teriakan kesakitan Jodha dari dalam langsung menyerbu masuk dengan tergesa, namun salah seorang dari pengawal itu menarik Ardhan dan meninju wajah-nya cukup keras, tanpa ba-bi-bu Ardhan langsung membalasnya dan ikut membantu para satpam melumpuhkan orang-orang yang tidak kenal ini, walaupun dalam hati ia bertanya-tanya apakah istri dan anaknya baik-baik saja didalam sana.

Jodha dengan sisa tenaganya yang masih diliputi oleh amarah, menarik kasar kepala Nora dan membenturkan-nya ke lantai sekuat tenaga, ia tidak perduli dengan kedua lengan-nya yang terluka.
Jalal dan Rajatha berhasil masuk dan melihat kekacauan di dalam rumahnya

“Sayang,,,,!!!” Panggil Jalal pada Jodha dan segera menghampiri istri tercintanya, membantunya untuk berdiri dan memeluknya dengan erat, Jodha menangis dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya
Sedangkan Nora sudah tidak sadarkan diri

“Mama,, Fa-Faridha,,, Ya Tuhan” Rajatha menghampiri Faridha yang tergelatak tidak sadarkan diri, ia berusaha membangunkan Faridha
“Kita ke rumah sakit, sekarang” Kata Jalal, ia langsung menggendong Jodha yang  sudah begitu lemah dan menyuruh Rajatha segera mengikutinya

Ardhan dan ketiga satpam berhasil melumpuhkan pengawal tersebut dan tak lama kemudian Ardhan mendengar suara tangisan bayi, ia yakin itu suara tangisan putrinya, segera ia masuk kedalam dan mencari-cari sumber suara hingga akhirnya ia menemukan putri kecilnya yang menangis di dalam sebuah box bayi yang berada di sudut ruangan, Ardhan langsung menggendongnya dan membawanya keluar

“Dik Faridha? Tante Jodha?” Tanya Ardhan cemas pada Jalal dan Rajatha saat mereka bertemu diluar
“Dimana Lavina, Ardhan? Kita harus ke rumah sakit sekarang” Kata Jalal dan menyuruh sopir untuk membuka pintu mobil
 
Di tengah kebingungan-nya mendiamkan baby Celia dan memikirkan dimana keberadaan Lavina, Ardhan mendengar sebuah suara lemah dari dalam mobil yang berada di sampingnya, Ardhan berdiri di sebelah mobil Jeep yang ia tidak tahu milik siapa.

Ardhan berusaha menolehkan kepalanya, namun kaca mobil itu begitu gelap hingga ia tidak bisa melihat keadaan didalam sana dengan jelas, Rajatha yang sudah memasukan Faridha kedalam mobil dan melihat Ardhan yang kebingungan segera datang dan menghampirinya.

“Kenapa Ardhan?”
“Aku seperti mendengar suara seseorang dari dalam mobil ini, apa Lavina ada didalam?”
“Benarkah? Sebentar”
Rajatha menghampiri Jalal yang sudah siap di dalam mobilnya

“Pah, Papa duluan saja kerumah sakit dengan Mama dan Faridha, aku akan membantu Ardhan mencari Lavina dulu, nanti kami segera menyusul kesana”
“Oke. Papa pergi dulu kalau begitu. Hati-hati”
“Iya, titip Faridha Pah” Rajatha mengelus dengan sayang kepala Faridha dan berlalu menuju Ardhan. Sopir segera melajukan mobilnya ke rumah sakit atas perintah Jalal

Rajatha meminta bantuan dari Murad untuk membuka pintu mobil yang terkunci tersebut, Mirza dan Haidar disuruh Rajatha untuk mengamankan dua wanita iblis didalam sana.

Sedangkan baby Celia yang berada dalam gendongan Ardhan terus menangis, seperti ia bisa merasakan kalau sang ibu berada dalam bahaya saat ini
“Tenanglah, Sayang. Kita akan menemukan Mama secepatnya,,,” Ardhan mencoba menenangkan putri kecilnya dengan sayang

Dengan memecahkan salah satu kaca, akhirnya Rajatha bisa membuka pintu mobil tersebut.
“Lavina” Kata Ardhan dengan suara tercekat, didalam sana keadaan Lavina tidak kalah mengenaskan, kaki dan tangannya terikat dengan mulut tersumpal, keringat mengucur deras di pelipisnya. Sepertinya ia hampir kehabisan oksigen karena berada didalam mobil yang terkunci cukup lama.

“Bajingan mereka!” Umpat Ardhan melihat keadaan istrinya yang seperti itu
Rajatha mengambil alih baby Celia agar Ardhan bisa dengan leluasa mengeluarkan Lavina darisana.
“Cepatlah Ardhan, kita juga harus membawa Lavina ke rumah sakit” Kata Rajatha
“Murad, siapkan mobilku sekarang” Perintah Rajatha pada Murad dengan masih menggendong baby Celia

Saat mereka sudah siap di dalam mobil, tiba-tiba Mirza dan Haidar datang menghadap dengan wajah pucat
“Ada apa?” Tanya Rajatha langsung, tanpa basa-basi
“Mereka hilang, Pak”
“Brengsek!!” Umpat Rajatha dan Ardhan bersamaan
“Saat kami masuk kedalam, kedua wanita itu sudah tidak ada Pak” Adu Mirza
“Tidak mungkin kalau mereka sudah sadar, pasti ada orang lain yang sudah membawa mereka pergi darisini” Kata Rajatha
“Baiklah. Tolong perketat penjagaan dirumah, segera laporkan padaku atau Papa kalau ada hal-hal yang mencurigakan” Kata Rajatha lagi
“Baik Pak”

Rajatha menyuruh sopir-nya untuk segera melajukan mobil mereka menuju rumah sakit, ia mengambil handphone milik-nya dan menghubungi seseorang, dan tidak lama setelah seseorang diseberang sana menerima panggilan-nya, Rajatha kembali menekan satu kontak lagi untuk dihubungi, hingga orang kedua pun menerima panggilan Rajatha.
“Halo Paman Hasan, Paman Husen” Kata Rajatha dan langsung mengutarakan niatnya meminta bantuan dari kedua Paman kembarnya itu.
_____________________________
- To Be Continue -


Rahasia Hati Part 21 - By : Erinda

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.