Rahasia Hati Part 22 (END) - By : Erinda - ChusNiAnTi

Rahasia Hati Part 22 (END) - By : Erinda




“Halo Paman Hasan, Paman Husen” Kata Rajatha dan langsung mengutarakan niatnya meminta bantuan dari kedua Paman kembarnya itu.
^^^

“Sudah siap semua Ardhan?” Tanya Jalal mematiskan pada Ardhan
“Sangat siap Om” Jawab Ardhan bersemangat
“Kau Jagoan?”
“I’am ready Papa” Jawab Rajatha tak kalah bersemangatnya
“Good”

“Aku tidak menyangka, pekerjaan yang seharusnya kita selesaikan dalam waktu satu minggu ternyata bisa selesai hanya dalam waktu kurang dari lima hari” Kata Ardhan membuka percakapan, kini mereka bertiga telah berada di dalam sebuah mobil menuju Singapore Changi Airport untuk kembali ke Indonesia
“Ya kau benar Ardhan, bahkan aku tidak merasa kelelahan padahal pekerjaan kita selama berada disini sangat menguras tenaga dan pikiran kita. Yang aku pikirkan sejak menginjakan kaki disini adalah ingin secepatnya menyelesaikan semua pekerjaan-nya agar bisa kembali bertemu istriku di rumah” Timpal Rajatha sambil tersenyum saat membayangkan wajah anggun sang istri
“Hhmm,,, Begitulah rasanya jika jauh dari istri tercinta, kalian baru benar-benar merasakannya sekarang. Tapi saat ini,,,,” Jalal yang sejak tadi diam, ikut bersuara menimpali perkataan Rajatha dan Ardhan, namun tiba-tiba ia tidak melanjutkan ucapannya, sejak semalam ia merasa cemas dan gelisah memikirkan keluarganya yang ia tinggalkan.
“Kenapa Pah?”
“Papa hanya ingin kita segera sampai, entah kenapa sejak semalam perasaan Papa tidak enak memikirkan keadaan mereka di rumah”
 
Melihat Jalal yang tidak seperti biasa, membuat Rajatha dan Ardhan ikut merasa cemas, namun mereka masih berusaha berpikir positif dan berdo’a dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa dengan keluarga mereka di rumah.

Kini Jalal, Rajatha dan Ardhan sudah berada di dalam pesawat. Tampak ketiganya gelisah dan saling diam satu sama lain. Baik Jalal, Rajatha dan Ardhan sangat ingin menghubungi istri mereka saat ini juga, untuk memastikan keadaan mereka baik-baik saja, namun mengingat keberadaan mereka yang masih berada di dalam pesawat sangat tidak memungkinkan melakukan hal tersebut.

Untuk sekali ini perjalanan dari Singapore menuju Jakarta terasa begitu lama, Jalal memejamkan mata berusaha menahan segala keresahan yang ia rasakan, ia tidak ingin terlalu menampakan kegelisahan-nya pada Rajatha dan Ardhan, karena akan membuat mereka semakin panik dan itu malah akan semakin memperburuk keadaan.

Hingga akhirnya pesawat yang mereka tumpangi telah mendarat di Bandara International Soekarno-Hatta, buru-buru ketiganya meng-aktifkan kembali ponsel mereka dan sebuah pesan masuk dari salah satu satpam rumah mereka ke ponsel Jalal, segera ia membuka dan membacanya.

“Sial!” Umpat Jalal, raut wajahnya seketika berubah tegang
“Kenapa Pah?”
“Ada apa Om?”
“Sesuatu telah terjadi di rumah, kita harus segera kesana” Kata Jalal tergesa
Jalal, Rajatha dan Ardhan setengah berlari menuju mobil yang sudah disiapkan untuk mereka, bahkan mereka tidak menunggu untuk mengambil koper-koper yang dititipkan di bagasi pesawat tadi.

Masa bodo dengan semua itu!

Yang mereka inginkan sekarang adalah bisa segera sampai dirumah secepatnya, Rajatha mengemudikan mobil dengan kecepatan tidak yang tidak biasanya, dan beruntung tidak membahayakan mereka yang berada didalam mobil ataupun para pengguna jalan lainnya.

Hingga akhirnya mereka sampai dan segera menghambur masuk kedalam rumah, dengan segala macam pikiran buruk berkecamuk di benak mereka.
^^^
“Masss” Lirih Faridha saat ia mulai sadar
“Ya, Sayang. Aku disini” Jawab Rajatha yang sejak tadi setia berada di samping Faridha

Perlahan Faridha sudah mulai menemui kesadaran-nya, ia menatap sekeliling seperti mencari-cari sesuatu atau mungkin seseorang dan saat tatapan matanya menatap Rajatha, Faridha langsung merengkuhnya dan seketika menangis
“Mas,,, Hiks,,, Aku takut,,, Mereka,, Aku,, Hikss” Faridha berusaha berbicara dengan di sela isak tangisnya, ia memeluk Rajatha dengan erat seolah takut Rajatha akan pergi meninggalkannya lagi jika ia melepaskan pelukan itu
“Ssstttt,,,, Sayang. Aku disini untukmu, aku akan menjagamu dan anak kita. Tidak perlu cemas, ya” Kata Rajatha berusaha menenangkan istrinya dengan mengelus punggung dan kepala Faridha dengan lembut
Dalam hati ia mengutuk perbuatan Nora dan Sheila yang telah membuat keluarganya dalam bahaya, bahkan Faridha menjadi sangat ketakutan seperti ini. “Aku tidak akan melepaskan kalian” Janji Rajatha

“Mas sudah tahu kalau,, aku?” Faridha bertanya di sela isakan-nya yang mulai mereda, Rajatha mengecup kening istrinya sekilas
“Tentu saja, dokter memberitahuku mengenai semua keadaanmu. Sejak kapan kau tahu kalau anak kita sudah bersemayam disini, Sayang” Kata Rajatha dengan mengelus perut istrinya dengan lembut, seakan takut menyakiti janin yang berada didalam sana, Faridha mengikuti tangan suaminya mengelus perutnya sendiri
“Satu hari setelah kepergian Mas ke Singapura. Apa dokter bilang dia baik-baik saja, Mas”
“Ya, dia baik-baik saja, Sayang. Anak kita adalah anak yang kuat. Terima kasih Sayang, terima kasih. Aku sangat mencintaimu”
Faridha hanya mengangguk dan merebahkan kepalanya di pundak Rajatha dengan manja, ia terlalu merindukan suaminya saat ini.
“Kau ingin makan sesuatu, Sayang?” Tanya Rajatha
Faridha menggeleng dalam pelukan Rajatha kemudian menjawab “Aku lelah, aku hanya ingin tidur lagi Mas”
“Baiklah”
“Mas,, temani aku tidur juga”
“Iya”
“Maksudku Mas juga naik kesini, ikut tidur bersamaku. Aku tidak mau jauh-jauh dari dirimu, aku masih takut Mas” Rengek Faridha
“Tentu sayang” Rajatha beringsut naik keatas ranjang, memeluk tubuh istrinya dengan posesif lalu mencium keningnya dengan sayang
“Tidurlah sayangku” Bisiknya lagi
^^^
Keadaan di ruangan Jodha dan Lavina juga tidak ada ubahnya, beberapa saat lalu Jodha dan Lavina juga baru sadar.

Jalal sangat murka akan apa yang sudah terjadi pada istrinya, dan demi Tuhan, mereka juga hampir menyakiti calon cucu-nya yang baru tumbuh beberapa minggu di rahim menantu-nya. Ia tidak sabar menunggu kabar penangkapan kedua wanita iblis itu dari Hasan dan Husen.

Sedangkan Ardhan, ia merasa tidak akan bisa menahan dirinya lagi jika sudah bertemu dengan mereka, dia akan benar-benar membunuh mereka dengan kedua tangannya sendiri nanti, persetan jika ada yang mengatakan bahwa tidak sepantasnya seorang lelaki menyakiti wanita. Ia tidak perduli, akibat kekejaman mereka dia hampir kehilangan istri dan anaknya yang bahkan baru berusia beberapa hari. Dasar brengsek!
^^^
Sejak menerima telepon dari Rajatha, Hasan dan Husen bergerak cepat, mereka langsung terbang ke Indonesia hari itu juga.

“Dari yang kudengar, terakhir kali Jalal dan Rajatha melihat kedua wanita itu mereka dalam keadaan tidak sadarkan diri, wajah mereka babak belur oleh Jodha. Tidak mungkin mereka langsung sadara apalagi melarikan diri dari sana” Kata Hasan mulai menganalisa
“Tapi menurut satpam disana, orang yang membantu mereka hanya ada lima orang dan semuanya telah berhasil dilumpuhkan, bahkan tidak ada satupun dari mereka yang sempat masuk kedalam rumah, karena sudah terlebih dulu dihajar oleh para satpam dan Ardhan” Husen ikut menimpali
“Aku yakin ada pihak lain yang turut andil dan ikut membantu kedua wanita itu”
“Siapapun yang membantu, mereka juga harus menerima akibatnya dan kita harus secepatnya menemukan mereka, terutama Nora dan Sheila lalu membawa kedua wanita iblis itu kehadapan Jalal, Rajatha dan Ardhan” Kata Husen sambil menunjuk foto Nora dan Sheila yang didapatkannya dari Ardhan beberapa saat lalu
“Ya aku setuju Husen”
^^^
Setelah tiga hari dirawat. Jodha, Faridha dan Lavina sudah diperbolehkan pulang. Jalal mengajak mereka semua untuk tinggal dirumahnya sementara waktu sampai keadaan sudah benar-benar aman, ia ingin memastikan mereka semua  aman dan berada dalam jangkauan-nya.

Keadaan Faridha sudah membaik tapi sejak kejadian itu ia sering bermimpi buruk, dan Rajatha dengan sigap selalu bisa menenangkan-nya hingga akhirnya Faridha bisa tertidur lelap kembali dalam dekapan hangat sang suami.
“Mas” Panggil Faridha pagi itu pada suaminya
“Ya, Sayang?”
“Sudah berapa hari ini Mas tidak bekerja, apa karena aku?” Tanya Faridha tidak enak
“Bukan hanya karena dirimu, Sayang. Tapi aku juga tidak akan bisa tenang bekerja dengan keadaan kita yang seperti ini, apalagi masih belum ada kabar tentang keberadaan mereka dari Pamanku”
“Tidak apa-apa kalau Mas mau bekerja, aku akan baik-baik saja, ada Papa dan banyak penjaga yang sudah disewa untuk mengamankan kami semua disini” Kata Faridha dan  lalu memeluk Rajatha erat
 
Rajatha tersenyum akan perlakuan istrinya “Katanya memperbolehkan aku bekerja, tapi kenapa dia memeluk ku erat sekali seakan-akan takut kalau aku akan pergi”  Batin Rajatha geli
 
“Aku tidak akan kemana-mana, Sayang. Ayo, lebih baik kita sarapan dulu” Kata Rajatha akhirnya dan membuat Faridha tersenyum senang mendengarnya.
^^^
Jalal-Jodha, Ardhan-Lavina dan tidak ketinggalan pula baby Celia yang berada di kereta bayi tepat disamping Lavina, mereka semua berada di ruang makan bersiap untuk sarapan.

Rajatha-Faridha yang baru turun ikut bergabung bersama mereka dan menikmati sarapan bersama.
“Mah?” Panggil Rajatha pada Jodha, kini mereka sudah selesai sarapan dan sedang duduk santai di ruang tamu
“Ya?”
“Aku tidak menyangka ternyata Mama hebat juga ya, bisa melumpuhkan kedua wanita itu seorang diri, kalau tidak ada Mama mungkin kita tidak akan bisa berkumpul lagi seperti ini. Mama memang selalu penuh kejutan, terima kasih Mah” Kata Rajatha tulus dan memuji Mamanya dengan bangga
“Iya, Tante sangat hebat. Ternyata dibalik lemah-lembutnya sikap Tante, tersimpan keberanian yang luar biasa. Terima kasih banyak Tante” Kata Ardhan ikut berterima kasih

Lavina dan Faridha menganggukan kepala mereka dan menatap Jodha dengan antusias

Jodha hanya tersenyum simpul menanggapinya, sedangkan Jalal tersenyum bangga pada istrinya dan mengelus kepala Jodha dengan sayang.
“Oh ya, kenapa waktu itu kalian bisa kembali kesini? Bukankah kalian akan berada disana selama satu minggu?” Kini giliran Jodha yang bertanya pada Jalal, Rajatha dan Ardhan
“Ya, seharusnya memang begitu. Tapi kami adalah para suami yang tidak bisa berjauhan terlalu lama dengan istrinya, hingga kami menyelesaikan segala urusan kami dengan cepat agar bisa segera kembali kesini” Kata Jalal yang disetujui oleh Rajatha dan Ardhan

“Apa Mas makan dengan baik?” Selidik Faridha pada Rajatha
“Berapa jam Kakak tidur setiap harinya disana?” Selidik Lavina pada Ardhan
“Sayang?!!” Jodha hanya mengucapkan satu kata yang memiliki beribu pertanyaan didalamnya, ia menatap tajam kearah suaminya dan namun hanya dibalas senyuman dan kedipan mata olehnya.

Baik Jodha, Faridha dan Lavina menghembuskan napas kasar atas tingkah suami mereka, kalau sudah seperti ini tidak perlu dijawab mereka sudah tahu jawaban-nya. Mereka pasti mengabaikan waktu makan dan beristirahat saat berada disana, tapi dibalik itu semua baik Jodha, Faridha dan Lavina sangat berterimakasih dan bersyukur atas kedatangan suami mereka tepat pada waktunya, Tuhan memang sudah mengatur segala sesuatunya dengan begitu rapi dan tidak pernah tertebak.

Tiba-tiba telepon di rumah Jodha berdering, Rajatha yang berada paling dekat segera bangkit dan mengangkat telepon-nya.
“Halo, ya Paman”
“……….”
“Dimana?”
“……….”
“Baik, kami akan kesana”
“……….”
“Apa? Kenapa?”
“……….”
“Oke,, Oke,, Aku akan memberi tahu Papa. Baik. Terima kasih”

“Siapa Jagoan? Hasan dan Husen” Tanya Jalal langsung setelah Rajatha mengakhiri pembicaraan-nya
“Iya Pah”
“Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan dari hasil penyelidikan mereka?”
“Paman Hasan dan Husen berhasil menangkap mereka dini hari tadi di sebuah hotel di Bali, tadinya mereka ingin menyerahkan-nya pada kita hari ini tapi ternyata pagi tadi mereka berhasil kabur lagi karena dibantu oleh sekelompok orang, beruntung akhirnya Paman Hasan dan Husen bisa langsung menemukan mereka tidak lama setelahnya, sekalian mereka juga berhasil menangkap sekelompok orang yang membantu mereka”
“Siapa sekelompok orang itu?”
“Kelompok dari sebuah organisasi rahasia Pah, bisa dibilang mereka mafia. Tapi bukan kelompok mafia yang terlalu berbahaya menurut Paman, mereka semua berasal dari Rusia. Ternyata Nora merupakan adik dari salah satu mafia disana, jadi tidak sulit baginya untuk meminta bantuan pada mereka”
“Astaga,,, Lalu?”
“Ya dan baru saja Paman Hasan mengantarkan Nora dan Sheilla pada orang kepercayaan-nya untuk dibawa ke suatu tempat, sedangkan Paman Husen mengurus mafia-mafia itu bersama dengan orang-orangnya”
“Kemana Hasan membawa Nora dan Sheilla?” Kali ini Jodha bertanya, ia takut sewaktu-waktu mereka berdua akan bisa lolos dan kembali lagi
“Burundi”
“Burundi? Salah satu Negara termiskin di dunia itu? Memangnya bisa memasukan penduduk baru kesana? Bahkan penduduk disana saja sudah banyak yang mengungsi ke Negara lain demi mendapat kehidupan yang lebih baik” Kata Lavina tidak percaya
“Itu salah satu “kecakapan” dari Paman kembarku Lavina, dan sudah bisa dipastikan jika sudah menginjakan kaki disana, selamanya mereka tidak akan pernah bisa keluar darisana”
“Ohhh” Lavina, Ardhan serta Faridha hanya ber-oh ria mendengarnya, mungkin nanti mereka akan bertanya lebih lanjut mengenai Paman kembar Rajatha itu.
Sekarang semua bisa bernapas lega, dua wanita yang selama ini bisa datang dan membahayakan keluarga mereka kapan saja, sudah bisa dipastikan bahwa mereka tidak akan pernah menampakan batang hidungnya di hadapan mereka lagi untuk selamanya.
^^^
Kini keadaan sudah mulai membaik dan tidak terasa usia kandungan Faridha sudah memasuki usia delapan bulan.

“Nanti wajahnya lebih mirip siapa ya, Mas?” Tanya Faridha yang sedang bergelung manja dalam pelukan suaminya
“Tentu saja mirip denganku, sayang. Gen keluarga Akbar sangat kuat, kau tahu” Jawab Rajatha langsung, sebenarnya mereka belum tahu jenis kelamin bayi-nya karena memang baik Rajatha dan Faridha ingin semua itu menjadi kejutan saat bayi mereka lahir, yang terpenting adalah kesehetan ibu dan bayi-nya
“Hhmm,,, Iya, kalau laki-laki pasti tampan dan mirip seperti Ayah-nya, tapi kalau perempuan berarti ia mirip akan denganku”
“Hey,,, Siapa bilang, Sayang. Apapun jenis kelamin bayi kita, mereka pasti mirip denganku, ya kan Baby” Kata Rajatha kemudian mengelus perut buncit istrinya dan menciuminya dengan sayang
“Ah Mas curang, bagaimana bisa begitu” Kata Faridha tidak terima
“Hahahaa,,,,” Rajatha tertawa melihat istrinya yang merajuk
“Yang terpenting buatku adalah kalian semua selamat dan sehat, Sayang. Dan kita bisa membesarkan anak kita bersama-sama dengan penuh cinta dan kasih sayang hingga mereka dewasa” Kata Rajatha dan mencium bibir Jodha dengan lembut, Jodha tersenyum dan membalasnya dengan senang hati.
Kini bukan hanya bibir Rajatha yang bekerja, namun jari-jemari Rajatha sudah mulai aktif di tempat-tempat yang ia sukai di tubuh istrinya.
 
“Mas,,,” Panggil Faridha
“Hhmm,,,” Rajatha hanya menggumam dan tidak terusik atas panggilan istrinya dan terus melanjutkan “aktifitas” nya
“Mengapa dulu Mas merahasiakan identitas Mas, saat aku pertama kali bekerja di perusahaanmu?” Tanya Faridha serius membuat Rajatha mengalihkan pandangan-nya ke wajah istrinya
“Bukankah aku pernah mengatakan alasannya padamu Sayang” Kata Rajatha lalu mencium puncak hidung istrinya, Faridha mengangguk namun wajahnya masih menampakan ketidak-puasan
“Apalagi yang kau pikirkan, hhmm,,,,”
“Apa setelah itu Mas ada merahasiakan sesuatu yang lain lagi dariku, hingga saat ini mungkin?” Akhirnya Faridha kembali bertanya, sebenarnya ia hanya ingin memastikan saja bahwa suaminya ini tidak menyembunyikan apapun darinya, ia ingin hubungan mereka di landasi oleh kepercayaan dan keterbukaan satu sama lain.
“Tidak ada”
“Sejak aku menyerahkan cintaku padamu, tidak ada lagi yang bisa hatiku rahasiakan darimu, Sayangku. Karena dihatiku hanya ada cintamu, Sayang”
Faridha tersenyum puas akan jawaban suaminya, ia mencium singkat bibir Rajatha
“Sekarang kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, bolehkah aku juga mendapatkan apa yang aku inginkan sejak tadi, Sayang?” Tanya Rajatha penuh arti dan mengedipkan sebelah matanya menggoda, Faridha mengangguk dan tersenyum manis pada suaminya dan tanpa menunggu lebih lama lagi Rajatha kembali melanjutkan “aktifitas” yang tadi sempat tertunda karena pertanyaan istrinya. Malam ini akan kembali malam yang panjang untuk mereka berdua seperti malam-malam kemarin lagi dan lagi.

THE END
___________________________

Akhir kata saya mengucapkan banyak terima kasih untuk pembaca setia atas segala dukungan dan semangatnya selama ini, juga terima kasih "lagi" untuk Mbak Chus yang bersedia menampung cerita amatir saya ini di blog hingga bisa dibaca oleh banyak orang.

Sekali lagi terima kasih semua. Muach,,, Muach,,,



Rahasia Hati Part 22 (END) - By : Erinda

1 comments:

  1. Akhirnyaaa.. terima kasih mba erinda..ditunggu cerita selanjutnyaa :)

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.