Song of Millitary - Part 11 (By : Vi) - ChusNiAnTi

Song of Millitary - Part 11 (By : Vi)


Jodha sekarang berada di halaman belakang rumahnya. Setelah kabur dari ruangan itu, ia membiarkan mereka yang mengurusi persiapan pernikahannya.

Menerawang jauh entah apa yang dipikirkannya sekarang, tiba-tiba uluran tangan menyentuh pundak Jo ternyata (Jalal).

Jo memang agak sebal, kemana saja pria ini saat ia di introgasi oleh kedua orang tua mereka, tapi kata kata “introgasi” memang terdengar berlebihan, tetap saja itu yang ia rasakan tadi.

“Jo maaf aku baru datang. Aku telah menemui mereka dan persetujuanmu membuat ku sangat senang.”katanya.

“Apa yang membuat fikiranmu berubah? Kau bilang mau menikah tahun depan” Jalal bahagia, terukir senyum tipis di wajahnya.

Jo memberi sedikit tempat duduk pada Jalal,“Sebenarnya aku juga tak siap Jalal, mereka mendesakku, aku tak tega menolak usulan ayah dan ibu apalagi mama-mu. Mereka berharap penuh padaku.”

“Lagipula dari mana saja kau, membiarkanku sendiri menghadapinya. Aku takkan memaafkanmu setelah ini Jalal” canda Jo ditengah keseriusannya.

“Biasa saja mukamu jelek jika seperti itu” Jalal duduk disamping Jo,

“Kau terpaksa menerima usul mereka? Kalau kau tak siap biar aku saja yang mengatakannya agar menunda pernikahan kita” Jalal bangkit dari tempat yang baru didudukinya beberapa detik lalu.

Jo menarik lengan jalal, “Hei kenapa seperti itu. Kau akan membuat mereka kecewa nantinya. Apa kau tega?”

“Lalu apa yang kau mau nona? Kau bilang belum siap, tapi saat aku akan mengatakannya kau bilang jangan. Kau takut mereka kecewa? Tapi apakah kau tak takut jika aku yang kecewa saat menikahimu nanti.”

Jo mengerenyitkan dahinya, “Kenapa seperti itu? Kau kecewa menikahiku nantinya?”

Jalal menghela napas, “Tentu saja. Mana mungkin aku menikahi seseorang yang tak siap menikah denganku.”

“Baiklah. Baiklah. Sudahi perdebatan ini.”

“Memang tidak ada perdebatan.”

“Sudah! Aku akan membicarakan sesuatu.”

“Katakan!”

“Seminggu lagi aku akan ke Papua. Ada tugas.” Jo melihat ekspresi Jalal, “Itu yang membuat aku cemas. Mereka ingin satu bulan lagi kita menikah, aku takut tak kembali tepat pada waktunya.”

Dari awal pertemuannya dengan Jalal, Jo belum mau bahkan masih menutup rapat profesinya sebagai anggota PATERATA.

Takut suatu saat setelah mereka menikah, Jalal akan memaksanya dan menyuruh Jo keluar dari keanggotan PATERATA yang selama ini ia dambakan.

Menolak keinginan suami demi ego diri sendiri tidak akan pernah baik bukan?

Entahlah kapan kebenaran itu akan Jo katakan atau akan terbongkar dengan sendirinya.

1 kemungkinan yang ia tahu hanyalah Jalal akan murka karena membohonginya bertahun-tahun,

“Ah sudahlah, itu masih terlalu jauh untuk terlalu dipikirkan saat ini. Lagipula ayah dan ibu juga minta menyembunyikannya dari Jalal serta orangtuanya”

Jalal menampakkan senyumnya, “Jadi karena itu.”

“Lalu bagaimana menurutmu?”

“Bagus.”

Jo bangkit dari duduknya sambil berkacak pinggang, “Apanya yang bagus!”

“Jadi aku bisa bertemu teman wanitaku.” Jalal tak dapat menahan tawanya.

“Bagus,” Jo menepuk kedua tangannya.

“Pergi saja dengan teman wanitamu sepuasnya.” Jo berfikir, “Atau aku curiga sesuatu padamu.” Tatapan matanya menuduh.

“Heii apa yang kau fikirkan. Aku tak pernah melakukannya. Aku laki-laki bertanggung jawab.” Jalal membanggakan dirinya.

“Aku mengerti sekarang,” matanya tetap menuduh.

“Jika kau melakukan itu saat aku pergi, jadi kau akan mengganti namaku dengan nama wanita itu di undangan pernikahan kita.” Jo menggelengkan kepalanya. “Aku tak menyangka.”

Tiba-tiba Jalal mengangkat tubuh Jo, “Turunkan Aku!” Jo memukul dada Jalal.

“Kau sudah kelewatan tentangku Jo. Apa kau fikir aku laki-laki seperti itu.”

“Mungkin.”

Jalal melepaskan gendongannya ditubuh Jo, menjatuhkannya kedalam kolam. “Sesuai keinginanmu nona bawel, hahaha”

“Heii teganya kau,” Jo menarik Jalal masuk kedalam kolam.

Mereka membicarakan kehangatan pasangan suami-istri yang akan diresmikan satu bulan lagi itu.

“Lihatlah Far, mereka memang serasi bukan?” Ny.Arum menarik Ny.Farida dari dapur menuju halaman belakang.

“Aku tahu.” Ny.Farida tersenyum, “Kau panggilah kedua anak itu agar masuk. Ini sudah malam, mereka bisa sakit.”

“Baiklah,” Ny.Arum melangkahkan kakinya menuju kolam.

“Kalian cepat masuk kedalam dan segera ganti baju. Jangan terus bermain air seperti anak kecil!”

Wajahnya tertunduk malu, kejahilannya kali ini disaksikan seseorang atau mungkin banyak orang. “Baik ma, aku segera naik. Jodha yang membuatku seperti anak kecil,” Jalal menatap Jodha.

“Hei, kau yang salah dan kini menyalahkanku.”kata Jo lalu mencubit lengan Jalal.

“Aku salah lagi?”

“Tentu.”

Saat mereka merangkak naik dari kolam, Jalal mengenggam lengan Jo. “Aku cinta kamu Jo”

“Halah, gombal kamu !”

“Kenapa sih kamu gak pernah bisa romantis ke aku?”

“Karena Jodha sayang Jalal, hahaha. Daa..”katanya diselingi tawa dan berlalu masuk.

***

20 September

Sejak kemarin Jo telah berada di Papua dengan izin kedua orangtuanya.

Ibu berpesan agar Jo cepat kembali. Mereka cukup menyesal atas keputusan yang ia ambil.

Berada di tengah hutan melakukan penyamaran dengan senjata di tubuhnya.

Menghadapi para penghianat Negara yang ingin menghancurkan negeri ini dan barang haram yang mereka bawa.

Memang ini bukan kali pertama Jo menghadapi penghianat Negara seperti ini tapi tetap saja saat ini berbeda, mereka hampir dikenal di seluruh Negara tetangga dan juga menjadi buronan Negara lain.

(Maaf ya, ini cuman fiksi. Jadi kalau ada kesamaan nama, tempat kejadian, persitiwa atau apapun yang dapat menyinggung. Mohon dimaklumi, cerita murni keluar dari fikiran author.)

Mengenaskan bukan di Negara kita ada saja orang yang ingin menghancurkan negrinya sendiri.

Apa tujuan mereka pun tak masuk akal, entahah dimana logika mereka. Tak ada iman dan keteguhan yang tersisa dihati.

Hukuman apa yang diterimanya setelah habis kehidupan.

Mungkin cukup sulit untuk menangkapnya. Tapi kita lihat saja siapa yang bisa bersembunyi lama dari PATERATA.

Jam 7 malam tiba, Jo melihat beberapa orang dengan pakaian yang mencurigakan, mungkin salah satu anggotanya.

“Lapor PA Haswari ada yang mencurigakan disini, tolong ikuti 2 orang di dekat jalur timur. Dan juga bawa beberapa anggota lain Segera!!!”Jo memerintahkan kepada salah satu anggotanya

Tanpa membuang waktu lama ia berjalan mengikuti mereka dan benar saja setelah beberapa menit mengikuti, Jo tiba di sebuah rumah tua yang cukup besar.

Di tengah hutan ada rumah seperti ini?

Pantas saja buron itu sulit dilacak. Mereka tinggal di dalam hutan belantara.

Jo kini telah tahu dimana posisi mereka dan Jo cepat menyuruh anggotanya mundur dan akan menyerang beberapa hari lagi.

“Lapor PA Haswari, PA Genaya, PA Dara PA Alvi langkah mundur aku telah mengetahui posisi mereka. Kembali ke markas !”

Jo dan 19 anggota PATERATA lainnya telah berkumpul di markas dekat hutan.

PATERATA berjumlah 20 orang dengan Komando Utama Jodha Ardani.

Dan dibagi ke dalam 4 kelompok yaitu Timur pimpinan Jo dan 3 lainnya pimpinan Ulfah, Aishe dan Helen.

Dalam satu regu diketuai oleh seseoang yang disebut KPA yang beranggotakan 5 orang.

TIMUR
KPA JODHA
BARAT
KPA ULFAH
UTARA
KPA AISHE
SELATAN
KPA HELEN
PA Alvi
PA Bisha
PA Astrid
PA Ai
PA Dara
PA Gia
PA Fida
PA Jihan
PA Genaya
PA Shiren
PA Septa
PA Moza
PA Haswari
PA Zhafra
PA Zahra
PA Salwa


“Untuk semua PA, kami telah menemukan dimana posisi musuh, kita akan menyiapkan strategi untuk mulai meringkus mereka dan aku minta kalian semua menyiapkan fisik maupun mental yang matang untuk beberapa hari ini.”

“Dan untuk KPA Ulfah pimpin di bagian Barat, KPA Aishe pimpin di bagian Utara, KPA Helen aku tugaskan kau pimpin di bagian Selatan dan aku sendiri akan memimpin di Bagian Timur.”

Semua pasukan bubar dan kembali ke tenda masing-masing. Sedangkan Jo masih di markas ditemani oleh sahabatnya itu.

Sebenarnya Jo juga tak tega pada Ulfah yang harus meninggalkan Fikri sendiri, padahal ia baru beberapa bulan menikah.

Jo sudah menyuruh Ulfah agar tak ikut tapi ia memaksa dan sama seperti Jo ia tak ingin lari dari tanggung jawab walau apapun alasannya.

Dan satu lagi Ulfah menjadi salah satu KPA di PATERATA karena kecerdikannya menyusun strategi tempur.

“Jo aku tahu kau sedih karena harus memikirkan pemberontak itu. Padahal beberapa hari lagi kau akan menikah” Ucap Ulfah membuyarkan lamunannya.

“Hah bukan seperti itu Fah lagi pula kau juga harus meninggalkan Fikri sendiri bukan? Aku lebih salut padamu. Tapi hanya saja aku takut jika kita gagal dan aku takkan kembali kepada mereka.”

“Dan juga takkan ada pernikahan antara ku dengan Jalal” ucap Jo menatap Ulfah sendu.

“Cukup Jo jangan berucap seperti itu, aku yakin kita semua akan selamat, hanya akan ada luka kecil ditubuh kita sebagai medali keberhasilan kita nanti” Ulfah menyemangati Jo.

“Aku telah menyiapkan strategi yang bagus untuk meringkus mereka semua. Yakin lah kita akan selamat Jo, ini pengalaman yang kesekian kalinya bagi kita dan sampai saat ini tak ada kejadian yang menakutkan bukan?”

“Ya semoga tetap seperti itu Fah”

“Jangan lesu Jo, di depan semua anggota kau sangat kuat dan tegar tapi apa ini kau lemah dibelakang mereka”

“Ah iya Fah maafkan aku, aku hanya punya firasat tapi semoga saja firasatku tak ada benarnya. Terimakasih telah meyakinkanku Fah”

Keesokannya Jo disibukkan untuk bertemu semua Jendral TNI angkatan Udara dan Darat untuk membicarakan tentang peringkusan yang akan diadakan 5 hari lagi.

Jo bersama 3 KPA lainnya memberi tahu strategi PATERATA dan juga bagaimana posisi masing-masing nantinya.

Akhirnya dengan kesepakatan bersama telah disetujui jika tanggal 26 september. Akan diadakan peeringkusan para anggota pemberontak tak terkecuali pemimpinnya yang terus saja bersembunyi seperti pengecut.
***

Setelah kembali dari rapat PATERATA untuk membahas tugas mereka esok hari, Jo mengambil hp-nya dan berniat menghubungi Jalal.

Ini pertama kalinya jo menyentuh hp setelah sekian lama diabaikan.

Jalal apa kabar, maaf aku baru menghubungimu. Bagaimana persiapan pernikahan kita? Pasti sangat membosankan ya? Hahaha maaf kau harus menghadapinya sendiri. Aku janji beberapa hari lagi akan pulang. Masih ada beberapa urusan disini. Kau tenang saja, aku baik.”
-Jodha

“Hah benarkah ini Jodha Ardani? Aku merasa sedang bermimpi dan mengigau mendapat balasan darimu setelah sekian lama terabaikan. Dan kau gila Jo, sudah pergi terlalu lama, aku tak mau tau besok kau harus pulang. Kau harus membantuku dari ibu dan mama yang terus memaksaku ini itu. Aku butuh kau Jo Hahaha. Aku mulai menggombal”
-Jalal

Jodha hanya tertawa melihat balasan dari Jalal.

Dan ia tak bisa membalas karena ini sudah waktunya istirahat.

Semua anggotanya telah terlelap di mimpi mereka.

Mungkinkah akan senyenyak itu, menurut pengalaman sebelumnya. Tidak mudah terlelap saat akan berjuang esok.

(Mungkin juga sama seperti kalian, jika esok akan melakukan sesuatu yang baru atau menantang dan berbeda. Akan sulit tertidur {imsomnia})

***

26 September

Semua anggota telah berkumpul di dalam markas PATERATA  dengan pakaian lengkap dan senjata laras pendek serta pisau mematikan di baju mereka masing-masing.

Dan tak lupa juga alat pelacak di badan, agar tak kehilangan posisi dari pusat.

“Semua sudah siap malam ini kita akan mengerahkan seluruh kemampuan yang PATERATA punya selama ini. Aku yakin kita semua akan bisa mengalahkan mereka.”

“ALLAHU AKBAR ‘DEMI NEGARA ‘HIDUP PATERATA” teriak Jo tegas, urat- uratnya pun tertarik keluar agar meyakinkan seluruh pasukannya bahwa mereka bisa dan kita akan menang. Walau nyawa taruhannya.

“Untuk 3 KPA silahkan bawa pasukan ke titik yang telah aku perintahkan dan aku juga akan berangkat sekarang. Kita tak boleh menghabiskan waktu lebih lama lagi. Dan pastikan setiap anggota akan terus terhubung. Jangan ada yang menghilang dari pantauan”

“SIAP KOMANDAN” teriak seluruh pasukan.

Jam telah menunjukkan pukul 9 malam dan Jo yakin semua KPA telah siap bersama para pasukannya masing-masing.

Dan kini tugas terbesar Jo memancing mereka agar keluar.

“Lapor PA Timur, aku akan segera bertindak dan tolong jangan membuat keputusan sampai aku yang memerintahkan kalian”

“Laksanakan” jawab keempat PA Timur pasukan Jo.

Perlahan Jo keluar dari tempat persembunyiannya dan masuk kedalam rumah tua tersebut yang ternyata tak dikunci.

Jo bingung kenapa mereka tak mengunci. Ah mungkin mereka tidak memasang pengaman lebih, mengingat keberadaannya di tengah hutan jauh dari keramaian manusia.

Saat ia membuka pintu “Kleekk”

“Selamat datang Komandan” ucap Daelon salah satu anggota ah bukan lebih tepatnya pemimpin pemberontak dan tak lain adalah orang yang diincarnya kini.

“Kami sudah menunggu beberapa hari terakhir, kami kira komandan takkan datang dan tak sia-sia penantian kami . Kau pasti akan datang Komandan” ucap Daelon

“Apa-apaan ini, ada 10 anggota disini. Bagaimana mungkin mereka tahu rencanaku. Bagaimana sekarang?”

Rencana awal mereka telah punah dan Jo tak mau kalah ia ambil rencana kedua yang telah Ulfah siapkan untuk menghadapi masalah seperti ini.

“Lapor seluruh KPA Barat Utara dan Selatan. Bagaimana keadaan kalian. Segeraa!!!”

“KPA Selatan melapor. Maaf Komandan, kami disini sedang bertempur bersama anggota TNI-AD lainnya. Jumlah mereka begitu banyak, kami cukup kewalahan dan kami yakin kami akan mengalahkan mereka dengan bantuan yang akan datang sebentar lagi,”diikuti laporan dari 2 KPA lainnya.

“Hahaha Komandan Jodha Ardani, semua bagian telah terkepung. Kau keduluan dengan kami Komandan. Aku akan sedikit bermain-main denganmu” ucapnya meledek.

“Kau tahu saat salah satu anggotamu membuntuti kami. Itu hanya suatu jebakan dank au sudah keliru.”

“Dasar pria licik”

Langsung saja Jo melawan 10 anggota itu seorang diri karena 4 PA Timur juga sedang menghadapi kelompok mereka.

Sementara Daelon hanya tertawa melihat Jo kewalahan.

Menyerah? Tentu itu bukan jiwa Jodha. Ia akan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan.

Sampai saat ini 5 lawan Jo telah K.O tak berdaya.

Jo memang terkenal hebat dalam bertarung diantara semua PATERATA walau kini nafasnya mulai habis dan tersengal-sengal.


Dan tiba-tiba saja ada jarum yang menembus kulit punggung Jo secara paksa dan sedetik kemudian kesadarannya hilang.





Song of Millitary - Part 11 (By : Vi)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.