Is It Hate Or Love | Chapter 40 - 1 - ChusNiAnTi

Is It Hate Or Love | Chapter 40 - 1



Written By Bhavini Shah
Translate By Tyas Herawati Wardani
Cuplikan ~ Chapter 40
Aku tidak menganggapnya sebagai pria yang terhormat tapi sebaliknya, dia pria yang sangat cerdik...
“Well...tak diragukan aku memahami dilemamu, ijinkan aku bertanya tipe calon pengantin seperti apa yang kau pikir sesuai untuk putrimu.” Sambung Jalal melanjutkan diskusi mereka dengan pendekatan yang lebih santai dan bersahabat.

“Aku lebih memilih pria sepertimu...yang punya pemikiran tajam, pemberani, dan teguh.” Respon Raja Sabal dengan senyum tulus dan nada penuh harap dalam suaranya.
“Aku tidak punya pilihan lain.” Ujar Jalal tenang sebagai sesama orang terhormat.
Kehidupan seorang Raja penuh liku, dikelilingi oleh banyak musuh dan dirongrong konspirasi.
Temperamen Jalal hampir meledak saat ini, apa yang sedang terjadi??
Jalal tertawa sedih, “Mengapa?...Hmm...Seperti yang kau tanyakan, aku ingat nasihat dari yang paling kuhormati Bhairam Khan, guruku...pernah dia memberitahuku, di balik hampir semua perang ada seorang Draupadi, hanya karena para pria terlalu lemah untuk bertarung bersama cinta dalam hidup mereka.
Raja Bharmal membeku saat secara tidak langsung dia merujuk pada Jodha...
“Lagipula Jiji...aku tidak menyalahkan Moti, mungkin dia berpikir Jijusa akan dengan senang hati membantumu bukan hanya melepaskan ikatan blusmu tapi juga yang lainnya...”katanya di sela tawa yang tertahan dari mulutnya yang terus berkicau.
Tanpa membuang waktu, dia bopong tubuhnya ke dalam lengannya...
Dengan lembut dia menyibakkan beberapa helai rambut hitam dari wajah cantiknya dan menyelipkannya ke belakang telinganya.
“Berubah dari penggerutu menjadi sangat manis...dan aku suka yang manis.” Katanya sambil terus memandang dengan mata penuh hasrat untuk mencium bibirnya.
Apa? Apa itu hal baru untuknya? Setiap pria bangsawan punya wanita di haremnya? Apa dia pikir aku malaikat?
Kakinya gemetar untuk sesaat, ada perasaan aneh yang menyenangkan dari sentuhannya.
***********

CHAPTER 40

Tenggelam dalam pikirannya, dengan seulas senyum terbayang di bibirnya, Jodha berjalan kembali ke kamarnya sambil mengingat pertemuannya yang penuh gairah dengan Jalal. Satu ciuman penuh gairah darinya mampu mengguncang seluruh tubuhnya dan caranya memohon agar Jodha tetap tinggal untuk malam ini dan hasratnya yang hampir meluluhkan pendiriannya membuat seluruh bergetar. Api gairah membakar jiwanya, membuatnya mendamba, lupa diri, bersemangat, tidak sabar dan begitu menantikan malam berikutnya. Sejauh ini dia masih mampu menjaga jarak darinya karena keyakinannya yang kuat bahwa semua masalah yang hadir dalam kehidupan pernikahan mereka terjadi karena fakta bahwa mereka menikah di hadapan dewa bukan demi cinta dan kebahagiaan, tapi demi meredakan permusuhan dan tujuan untuk membalas dendam. Namun sekarang dia sepenuh hati ingin menikah lagi dan mengabdikan hidupnya padanya atas nama Dewa Krishna dan demi cinta dan kebahagiaan mereka, bukan kebencian.
“Jodha...” suara berat yang familiar menghentikan langkahnya. Denting gelang kakinya yang berirama terdengar lebih keras dari biasanya saat dia berbalik dengan tiba-tiba.
“Baaapu Sa!!” suara tertahan keluar dari dalam tenggorokannya begitu dia berdiri di sana dengan gugup, mencengkeram ujung chunni-nya.
“Jodha, apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?? Apa semuanya baik-baik saja??” desaknya sambil memandangi posturnya yang terlihat tegang.
“Ahh..Tidak...Tidak ada...Maksudku...Aku kemari untuk menemuimu tapi kemudian kupikir sudah terlalu malam untuk mengganggumu, jadi aku akan kembali ke kamarku...” bisiknya berusaha menyembunyikan ketegangannya. Di bawah tatapannya yang menyelidik, Jodha menghela napas pelan-pelan, lega dengan jawaban yang diutarakannya.
“Oh...tapi aku masih bangun...Lalu kenapa kau tidak menyuruh pengawal saja??? Lagipula, aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Banyak tamu di istana hingga kita sulit sekali mengobrol dalam tiga hari ini, dan besok kau akan kembali ke Agra.” Suaranya yang serak dipengaruhi oleh gelombang emosi yang menghantam dadanya, namun dia mampu menenangkan dirinya sendiri dan berkata, “Aku sangat gembira pada Sukanya dan Surya...tapi...” dia terdiam dengan perasaan tertekan sambil menggerak-gerakkan jemarinya.
“Tapi apa Bapusa? Mengapa kau terlihat tidak yakin dan sedang menghadapi sebuah dilema?” Jodha memperhatikan kegundahannya, dan ada rasa takut dalam suaranya yang terdengar sedikit meninggi.
“Jodha...Kegelisahanku karena Rawal Harraj. Dia tidak akan merestui dengan mudah penyatuan antara Sukanya dan Surya. Jujur padamu, aku tidak menganggapnya sebagai pria yang terhormat tapi sebaliknya, dia sangat cerdik...penipu, serakah dan pria yang materialistis. Alasan utama dia menolaknya adalah karena aku pernah dengar dia ingin putranya, Raja Surya Vadan menikahi putri dari Jaisalmer sejak dia masih anak-anak, dan akan mewarisi seluruh kerajaannya...Oleh karena itu, aku yakin dia akan membuat banyak masalah dan akan berusaha menggagalkan penyatuan ini. Kami sudah mengirimkan undangan untuk pesta pertunangan Sukanya dan Raja Surya Vadan dan mari berharap dia tidak akan merusak pesta pernikahanmu.” Jelasnya membagi dilemanya.
“Bapu Sa, Dewa Krishna tidak akan membiarkan hal buruk terjadi dan kita semua mengenal Surya dengan cukup baik dan aku bisa memastikan atas namanya kalau dia tidak akan mundur dan menghancurkan hidup Sukanya, disamping itu dia sangat mencintai Sukanya.” Dia berusaha sebaik-baiknya meredakan kecemasan ayahnya, namun saat dilihatnya ayahnya masih bingung dan ragu, dia bertanya, “Bapu Sa, apa bapusa punya keraguan pada Surya?? bapusa tidak menganggapnya sebagai pria terhormat?”
“Oh tidak...Jodha...aku percaya padanya, dia sangat bertolak belakang dengan ayahnya, aku tidak meragukannya sedikitpun. Sukanya terberkati mendapatkan suami seperti Surya, tapi dia masih dibawah pengaruh kuat ayahnya bahkan setelah dia diangkat menjadi Raja dari tiga wilayah.” Jelasnya dengan lebih tenang.
“Semuanya akan baik-baik saja Bapusa, kau terlalu khawatir, aku akan meminta Masa untuk ke kamarmu.” Meliatnya sangat tertekan, Jodha sadar ayahnya lebih membutuhkan dukungan mental dari Mainavati daripada dirinya.
“Aku sudah mengirim pesan untuknya, dia akan sampai beberapa saat lagi, aku juga punya hal lain yang harus kubicarakan dengannya.” Katanya lembut.
“Bapusa kau tidak perlu khawatir selama ada Shahenshah di sini. Aku yakin, dia akan menyelesaikan semua permasalahan ini.” Dia berusaha menenangkan kegundahan hatinya.
“Aku setuju tapi tetaplah aku seorang ayah dari tiga orang putri dan bagaimana seorang ayah bisa bersantai, anakku? Saat kau punya anak, maka kau akan mengerti keprihatinanku. Aku tidak ingin melihat air mata di wajah Sukanya.” Orang tua itu berusaha menahan emosinya.
“Lalu apa kau lupan, kau punya empat orang putra dan satu Jamai dan yakin pada Kanah.” Hati Jodha sedih melihat pria sekuat ayahnya,  menjadi lemah dan gelisah, dengan lembut Jodha memeluknya untuk menenangkannya.
“Ayah ingin aku terbuka pada Sukanya, jadi dia bisa mengantisipasi?” tanyanya.
“Tidak...Jangan...Kuharap ini hanya dugaanku saja...Aku tidak ingin membebani pikirannya...Ini adalah harinya...biarkan dia beristirahat dengan nyaman.” katanya.
“Ohh...aku tidak akan melakukannya...tapi ayah juga jangan khawatir dan yakinlah pada Maa Kali.” Tuntunnya.
Ketika mereka dengar langkah kaki dan dentingan pelan dari gelang kaki, Jodha berkata, “Sepertinya Masa sudah datang.”
“Jodha, kau masih di sini...ini sudah sangat larut anakku.” Mainavati menegurnya dengan caranya yang sopan.
“Ya Masa, aku baru saja akan kembali.” Gumam Jodha.
“Dimana Shivani?” Ratu Mainavati bertanya.
“Dia pasti sudah tidur di kamarnya, kau tahu betapa keras kepalanya dia? Sebenarnya, kupikir kau, dadisa dan Sukanya akan menginap di kamarku jadi dia kecewa karena tidak ada tempat lagi untuknya.” Jodha menjelaskan sambil melirik Bharmal yang masih terlihat khawatir.
“Aku sudah lama tidak melihatnya, jadi aku hanya ingin tahu. Dadisa sudah kembali ke kamarnya dan Sukanya menunggumu.” Mainavati memberitahu dengan santai.
Jodha membungkuk memberi salam, “Pranam...Shubh Ratri.”
Setelah menyadari kegelisahan ayahnya, perasaan Jodha yang sebelumnya berbunga-bunga ikut berubah khawatir. Hatinya dipenuhi perasaan cemas karena dia juga tahu orang seperti apa Rana Rawal Harraj itu...Pendapatnya serupa seperti ayahnya. Langkahnya sedikit ragu saat menuju ke kamarnya.
“Jiji, kenapa kau lama sekali? Dadisa dan Masa, keduanya telah kembali ke kamar masing-masing.” Kata Sukanya bersungut-sungut.
“Aku tahu Sukanya...Masa sudah memberitahuku.”
“Jiji, katakan yang sebenarnya, apa kau pergi menemui Jijasa?” tanya Sukanya sambil berbaring di atas ranjang dan memeluk erat sebuah bantal.
“Sukanya, itu bantal, bukan Surya, jangan siksa bantal itu.” Jodha bergura mengabaikan pertanyaannya, duduk di depan meja rias, bibirnya tertekuk setengah tersenyum.
“Ohh...kuharap Jiji...dia udara sedingin ini aku ada di dalam pelukannya seperti bantal ini...ahhh.” katanya sambil membayangkannya dan terkikik geli sambil meremas bantal di lengannya.
“Gadis tidak tahu malu...biar kuceritakan pada Bapusa, aku akan memberitahunya kau sudah tidak sabar untuk segera menikah dengan Surya...”
“Oh...benarkah!!! Bisakah Jiji??? Kumohon...” Sukanya melompat-lompat di atas ranjang dan tertawa dengan riang.
Jodha ikut tertawa melihat tingkahnya yang tidak biasa.
“Berhentilah menyiksa bantal yang menyedihkan itu dan bantu aku melepaskan ikatan blus ini. Sepertinya Moti sudah pergi tidur.” Pintanya dengan santai.
Sambil bersantai di atas ranjang, dia berdecak mengolok-oloknya, “Lagipula Jiji...aku tidak menyalahkan Moti, mungkin dia pikir Jijasa akan dengan senang hati membantumu bukan hanya melepaskan ikatan blusmu tapi juga yang lain lain lainnya...” tawa renyah terdengar dari mulutnya. Lalu Sukanya melompat turun dari ranjang untuk membantu Jodha.
“Aku harus bicara dengan Surya...Bhagavan Jaane...apa yang sudah dia lakukan pada adik kecilku yang suci bak malaikat ini...dalam satu hari dia berubah menjadi gila.” Ejek Jodha.
“Bisa kita bicara dengannya sekarang?” pekik Sukanya.
“Kau benar-benar tidak waras Suku...Kau sudah tidak tertolong lagi.” Balas Jodha ikut terkikik sambil melepaskan anting-antingnya.
“Ohhh kakakku tersayang yang pemalu...Kau naif sekali...Aku merasa kasihan pada Jijusa-ku tersayang...kau pasti terlalu keras padanya, dan dia pasti sudah kelaparan menantimu.” Ungkapnya menyuarakan isi hatinya dengan kegembiraan meluap-luap.
“Mengapa kau pikir aku sudah terlalu keras padanya?” Jodha menoleh dengan cepat dan berkata seakan membela dirinya sendiri.
“Sudah jelas Jiji...Pertama, kau meninggalkannya dan kalian bertemu lagi setelah enam bulan...dan kau memaksa untuk menunggu hingga setelah menikah ulang untuk bisa bercinta lagi...tidak adil untuk Jiju. Sejak dia datang ke Amer, kalian berdua tidak pernah tidur dalam satu kamar dan semua orang tahu itu.” Meski sudah berusaha ditutupinya tapi Jodha bisa merasakan ada nada kecewa dalam suara adiknya.
“Kuharap kau bisa memberitahuku sebelumnya tapi sudah terlambat sekarang...Adik kecilku mendadak bicara seperti wanita dewasa.” Dia tahu Sukanya benar dan bahkan Jalal juga menyiratkan hal yang sama secara tidak langsung.
“Ohh...Jiji...jangan terlalu kecewa...tunggu satu malam lagi...tapi..tapi...kekhawatiranku hanyalah Jiji...” kegembiraannya meredup menjadi gumaman, wajahnya juga berubah lebih serius.
“Kekhawatiran apa?” tanya Jodha serius.
“Apa lagi alasanmu besok...Dia tidak akan melepaskanmu sepanjang malam...” ekspresi Jodha terlihat lucu. Mulutnya membulat sempurna...Sukanya tertawa dengan keras melihatnya. Seketika wajah Jodha merona merah dan dia menutupinya sambil tertawa malu-malu.
‘Sukanya, kegembiraanmu membuatku agak gugup sekarang...Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi dan kau bisa tetap gembira seperti ini seterusnya.’ Diam-diam Jodha berdoa dalam hati.
“Sukanya, aku belum pernah melihatmu sebahagia ini sebelumnya..Semoga dewa menjauhkanmu dari hal-hal buruk.” Doa Jodha.
Tiba-tiba saja, Sukanya meremas pundak Jodha sekuat tenaga dari belakang dan berkata dengan ceria...senang...melayang...dan tanpa beban, “Oh..Jiji...Aku tidak mampu mengungkapkan dalam kata apa yang sedang kualami sekarang...Aku ingin terbang seperti burung...Aku ingin menari seperti burung merak...Aku ingin basah kuyup dibawah hujan...Aku ingin menghancurkan semua penghalang dan melarikan diri bersama Surya...Kebahagiaanku meluap-luap karena beberapa tahun ini aku dirundung kesedihan...dan tiba-tiba...Tak pernah kusangka, semua mimpiku akan jadi kenyataan...pagi tadi aku tidak punya harapan tersisa dan sudah siap untuk menyerah pada takdirku yang menyedihkan...Tapi keajaiban terjadi, Jiji dan benar-benar terjadi...Sekarang aku percaya bahwa Dewa memperhatikan setiap makhluknya.” Kebahagiaannya terpancar dari matanya, dua air mata bergulir di pipinya.
Jodha memutar tubuhnya dan memeluk Sukanya dengan hangat, membayangkan apa yang akan datang membuatnya gemetar. Dia berdoa dalam hati pada Krishan untuk menjaga kebahagiaannya, “Tetaplah yakin pada Dewa, Suku, Dewa akan memberimu kekuatan untuk menghadapi segala rintangan...” hanya itulah yang mampu dia panjatkan.
Perkataan Jodha yang terdengar ragu dan sedikit khawatir membuat Sukanya bingung, “Jiji, ada apa? Mengapa kau terdengar murung dan tegang?”
“Ohh! Tidak ada!Sukanya, aku hanya memikirkan Shivani, dimana dia?” Jodha berusaha mengalihkan topik yang agak sensitif.
“Kau tahu dia Jiji, saat ini, adik kecil kita yang lucu mungkin sedang menikmati mimpi ketiganya malam ini yang kemungkinan tentang gudda dan guddi menikah dan sudah melahirkan tiga anak.”canda Sukanya sambil terkikik geli.
Jodha tertawa dan mengangguk setuju, “Suku, aku punya firasat kalau adik kecil kita sedang jatuh cinta pada Mirza.”
“Aku juga setuju soal itu Jiji...aku juga perhatikan ketertarikannya pada Mirza...aku akan bertanya padanya besok.” Katanya penasaran.
“Hari ini cuaca dan anginnya sangat dingin, Sukanya...bisakah kau tambahkan kayu bakar ke parapian?” pinta Jodha sambil berganti pakaian.
Alam selalu memiliki aturan sendiri, sama seperti malam-malam di padang pasir, udara panas mengalir ke angkasa dan suhu udara turun dengan drastis mengingat saat ini adalah musim dingin. Udaranya sedingin besi yang beku dan angin berhembus kencang. Rembulan bersinar redup di balik awan...Beberapa bintang berkelip di langit yang pekat, kesunyian malam ini membuat suasana mencekam. Angin yang menderu menyapu dedaunan yang kering dan mati, pohon-pohon besar meliuk-liuk tersapu angin...Seakan badai gurun akan segera datang menambah dinginnya malam.  
Dari kejauhan, saat pandangan Mirza menangkap sosoknya sedang bergelung di atas bangku, perasaan ngeri merambat sepanjang punggungnya dan rasa dingin membekukan jiwanya. Seorang gadis muda, remaja yang keras kepala sedang menunggu maaf darinya, tidak mengerti apa yang sebenarnya dia harapkan, bukan hanya maaf, tapi juga hatinya. Jauh di dalam hatinya, dia sedih karena hampir menjelang saat kepergiannya. Tanpa disadari, jantungnya mulai berdetak untuknya dan sikap acuhnya meluluhlantakkan dirinya.
Mirza melesat ke arahnya secepat yang mampu dilakukan kedua kakinya sambil mengumpat dalam hati melihat kondisinya. Terakhir dia lihat Shivani sekitar tiga jam yang lalu saat dia dengan sangat gigih dan mendesak memohon maaf darinya disertai sebuah ancaman. Tak sedetikpun dia menganggap serius ancaman itu, dia pikir dia hanya akan menyakiti dirinya sendiri jika benar-benar melakukannya.
Rasa bersalah...penyesalan dan ketakutan berpadu bersama napasnya yang memburu.
Rasanya butuh tiga menit yang sangat lama hingga seakan tak berkesudahan hanya untuk bisa mencapai tempatnya berada. Tubuhnya menggigil kedinginan dan panca inderanya seperti mati rasa karena dia bahkan tidak bisa mendengar suara langkah kakinya yang berdebam saat mendekatinya...dia berusaha menyembunyikan sosok mungilnya di antara kedua lututnya...
Dia bergumam dengan suara pelan sambil terengah-engah, “Shivani.”
Ketika tak ada reaksi dari Shivani, dengan berhati-hati dia makin mendekat dan mengulanginya dengan lebih keras, “Shivani.”
Dengan sangat lambat, dia mengangkat wajahnya yang menggigil dan tatapan matanya yang kosong tertuju pada dirinya. Melihat pipi, hidung dan matanya yang membiru kedinginan membuatnya lemas. Dia duduk di sampingnya...melihat jejak air mata di wajahnya, hanya tiga kata yang mampu diutarakannya, “Aku minta maaf....” Rasa bersalah dan penyesalan yang dalam bukan hanya terdengar dalam nada suaranya, tapi matanya juga menyiratkan hal yang sama.
Shivani tersadar begitu dia mengangkat wajahnya, rasa dingin telah merasuk hingga ke dalam tulangnya dan rasa panik mulai menghantui dirinya saat sebuah pikiran terlintas, bagaimana seandainya tubuhnya tidak bisa hangat lagi?
Tanpa merespon, Shivani berusaha menggeliatkan tubuhnya sambil terus menatapnya.
Mirza memberanikan dirinya, menangkup wajahnya yang dingin membeku dalam telapaknya yang hangat.
“Tolong maafkan aku...” dia memohon dengan penuh penyesalan.
“Jadi kau sudah memaafkan aku?” desaknya pelan di antara suaranya yang gemetar, bulu matanya yang lebat dan lentik berkedip pelan.
Mirza memicingkan matanya menyadari sifat keras kepalanya, “Kau benar-benar gadis yang tidak peka dan aneh, Shivani...Bagaimana bisa kau menghukum dirimu sendiri seperti ini? Apa yang akan terjadi, seandainya aku tidak datang mengunjungi Bhabhi Jaan? Mengapa Shivani?” bentaknya sambil mengusap air mata di pipinya yang pucat lalu menggenggam tangannya yang sedingin es.
“Karena aku layak dihukum seperti ini karena telah menyakitimu dan menghinamu dengan kata-kata buruk, di samping itu semua, kau berpikir aku adalah orang yang kejam dan kau membenci dan jijik padaku.” Ujarnya polos sambil terisak meski kakinya gemetar.
Bukan waktu yang tepat untuk memperpanjang pembicaraan ini...dia terlalu lemah untuk bicara sekalipun...”Ayo, kita harus masuk, terlalu dingin di luar sini.” Mengesamping amarahnya, Mirza mengajaknya dengan lembut.
“Tidak...aku tidak akan masuk sampai kau memaafkan aku.” Sekali lagi dia menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
“Aku memaafkanmu Shivani...Sekarang...ayo masuk ke dalam.” Mirza menggertakkan giginya dan hampir berteriak menghadapi sikap kekanakannya.
Shivani tersentak dan mengangkat wajahnya dengan cepat saat mendengarnya hampir berteriak marah.
“Aku tidak bisa...kedua kaki dan tanganku mati rasa dan beku...aku tidak bisa menggerakkannya dam demi Dewa jangan berteriak padaku seperti Bapusa.” Asap tipis dari udara dingin berhembus dari mulutnya setiap kali dia berbicara atau lebih terdengar seperti menggerutu.
Seulas senyum terukir di sudut bibirnya mendengar bantahan kecil dari Shivani, bahkan bola matanya yang berwarna biru turut menari geli meski hanya sedetik, “Kau sangat keras kepala Shivani dan aku bukannya marah padamu, aku khawatir padamu.” Perlahan dia melepaskan tangan Shivani yang saling menggenggam dan menggosoknya pelan-pelan.
“Lebih baik?” tanyanya lembut sambil menatap matanya yang masih sembab.
Shivani hanya bisa terbengong menatapnya sebelum akhirnya dia ingat untuk menganggukkan kepalanya. Mirza terus menggosok telapak tangannya dengan gerakan makin cepat.
Perhatiannya...penyesalannya...kemarahannya dan sentuhan lembutnya telah mengguncang jiwanya... Dalam waktu singkat, dia memperoleh rasa hormat yang tinggi dan kekaguman tak terbatas dari Shivani dan semua keraguannya sirna tak berbekas...Sekarang dia yakin bagaimana perasaannya yang sesungguhnya pada Mirza.
Dengan nada sesal dia bergumam, “Aku benar-benar menyesal karena pernah tidak menghargaimu, Mirza...kau adalah tamu kami dan aku sudah memperlakukanmu dengan buruk.”
“Kau masih gemetaran Shivani...kalau sesuatu terjadi padamu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri.” Katanya sedih bercampur cemas melihat kondisinya, dia masih mengabaikan permohonan maafnya.
“Aku akan membawamu masuk ke dalam istana. Kau harus diperiksa oleh Hakim Sahiba secepatnya, hanya makin membiru...kondisimu juga makin turun.” Ujarnya dengan tegas dan tak mau dibantah.
“Oh...tidak...Kumohon jangan...Masa akan marah besar padaku, disamping itu beberapa tamu kerajaan ada di dalam istana. Tolong jangan membuatku malu.” Dia memohon dengan cemas sambil menitikkan air matanya lagi.
‘Yah Allah...apa yang harus kulakukan? Apa yang dia katakan benar.’sebelum sempat berpikir jauh, Shivani menyarankan dengan tatapan memohon
“Bisakah kau membawaku ke ruang bermain anak-anak, ada di samping taman....sebelah sana.” tunjuknya dengan gerakan kepala.
Tanpa membuang waktu lagi, dia membopong Shivani ke dalam lengannya...Dia sangat ringan, dan bukan hanya tubuhnya, bahkan pakaian yang dikenakannya pun terasa sedingin es.... dan kenapa dia menatapku sedalam itu? Berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya sambil terus melangkah ke ruang bermain.
Di dalam ruang bermain cukup gelap, hanya diterangi oleh cahaya pucat dari sinar rembulan yang masuk dari beberapa kaca berdebu, perlahan Mirza membaringkannya di atas sebuah ranjang kecil.
“Di dalam lemari itu ada selimut.” Samar-samar Shivani bergumam...meski dia merasa kedinginan, dia berusaha keras menahannya.
Dengan lembut Mirza menghela sejumput rambut dari wajah cantiknya dan menyelipkannya di belakang telinganya. Lalu dengan cepat dia menyelimuti tubuhnya hingga tiga lapis selimut dan menutup semua pintu dan jendela. Ruangan itu kini lebih gelap, hanya diterangi seberkas cahaya dari sela jendela dan panel kaca. Membuat keduanya mulai merasa hangat dan lebih nyaman.
“Ya Dewa...gelap sekali di sini, aku tidak bisa melihat apapun.” Shivani mulia mengoceh ketakutan.
“Jangan takut Shivani, aku ada di sini...duduk di samping ranjang...Beberapa saat lagi, kegelapan akan berlalu dan matamu mulai bisa menyesuaikan.” Jawabnya dengan nada menenangkan untuk meyakinkan Shivani.
Kegelapan menyelubungi mereka dalam diam, sedikit demi sedikit Mirza mulai bisa melihat sinar matanya di wajah cantiknya.
Setelah beberapa menit berdebat dalam hati, “Mengapa Shivani?” dua kata yang mencekik tenggorokannya akhirnya mampu dia utarakan meski dia merasa tidak nyaman. Rasa sakit meledak dalam hatinya. Dia berhasil menyembunyikan matanya yang sembab di balut kegelapan tapi isakan masih bisa meluncur dari tenggorokannya dan berpadu dalam suaranya menyerukan perasaannya yang terdalam.
“Tolong maafkan aku.” Sekali lagi Shivani minta maaf dengan penuh rasa sesal.
“Untuk berapa banyak kesalahan kau akan minta maaf Shivani? Kau sudah menyakitiku sebelumnya dengan kata-kata kasarmu dan sekarang kau menyakitiku dengan tindakanmu. Perlu kau tahu, aku tidak tahan melihat keadaanmu yang seperti ini...lagipula, kau tidak akan mengerti, kau masih kekanakan.” Akhirnya dia ungkapkan kesedihannya dengan suara pelan.
“Semua orang memperlakukanku seperti anak kecil dan bahkan kau juga menganggap aku terlalu kekanakan. Aku tahu, aku tidak bisa mengerti karena aku bodoh...benar??” balasnya kaku, rasa nyeri merambati punggungnya...tubuh mungilnya berguncang seirama isakannya.
Dengan cepat Mirza bangkit dari lantai dan duduk tepat di sampingnya di atas ranjang kecil. Dengan gerakan lembut, tangannya mengusap pipinya yang basah karena air mata, lalu dia menunduk dan mengecup keningnya...dengan suara serak di bergumam, “Aku tidak bermaksud menyakitimu Shivani, tapi aku tidak tahan melihatmu dalam keadaan begini karena kebodohanku. Semua ini salahku...sejak pertama kali melihatmu aku sudah menyukaimu, tapi aku berusaha mengabaikanmu dan mencurahkan perhatianku pada Sukanya agar kau cemburu. Meski akhirnya, melihatmu dalam keadaan begini, aku sadar aku bukan hanya menyukaimu tapi aku mencintaimu. Aku belum pernah punya perasaan seperti ini pada siapapun dan kata-katamu membuatku kacau, aku bukan seorang playboy. Aku menginginkanmu...hanya dirimu dan bukan yang lain.” Mirza terkejut dirinya akhirnya mengakui semua perasaannya pada Shivani. Dia belum pernah sejauh ini dengan gadis manapun, degup jantungnya begitu keras hingga seakan bisa didengarnya. Namun ketika lama tidak ada reaksi dari Shivani, rasa frustasinya makin menumpuk ditambah kenyataan dia tidak bisa melihat bagaimana ekspresi gadis itu karena gelapnya ruangan.
Pengakuannya yang tiba-tiba membuat Shivani kehilangan pegangan. Kesunyian mengisi jarak diantara mereka berdua saat dia masih berusaha merenungkan semua kata-katanya. Pipinya merona karena pengakuan itu meski dia masih sangat kedinginan. Saat itu juga, ada perasaan aneh seperti ada jutaan kupu-kupu menari di dalam perutnya. Tak pernah terbayangkan olehnya, Mirza akan dengan sangat berani mengakui perasaannya secara langsung, padahal dia sudah cukup merasa tersanjung dengan semua perhatian dan cintanya. Senyum malu-malu tersungging di bibirnya.
Mirza makin menunduk, wajah mereka makin dekat hingga napas keduanya bertukaran di udara. “Kau mencintaiku Shivani?” bisiknya sambil mengusap lembut rambutnya.
Jawabannya terlalu cepat, tanpa menunggu waktu, terdorong oleh gairah yang sama, “Ya...aku juga mencintaimu.”
Untuk sedetik dia tidak mempercayainya...”Kau yakin?” tuntutnya.
“Aku belum pernah seyakin ini dalam hidupku.” Ujarnya dengan penuh keyakinan.
“Boleh aku menciummu?” tanyanya sedikit ragu.
“Tiga kata dalam pengakuanku telah mengubah hidupku selamanya. Aku adalah milikmu dan aku menyerahkannya padamu untuk menjaga kesucianku. Aku telah mengabdikan diriku padamu, jadi kau tidak butuh ijinku lagi, apakah kita menjadi bagian satu sama lain setelah pengakuan ini?” jawabnya menyetujui permintaan Mirza sambil terus memandangnya.
“Kau selalu mengejutkanku setiap waktu. Aku hanya akan mengabdikan diriku hanya padamu, aku berjanji.” Mirza menunduk dan mencium pipinya...Pipinya yang dingin mengirimkan getaran sejuk ke seluruh tubuhnya.
“Kau masih kedinginan?” tanyanya penuh perhatian.
“Ya, aku masih kedinginan, tapi sudah lebih baik, sekarang aku sudah bisa menggerakkan lututku, tapi tanganku sepertinya menyerah. Aku ingin memelukmu, tapi aku tidak bisa menarik atau menggerakkan tanganku keluar dari selimut ini.” Jawabnya lemah dan terdengar sedih.
Dengan cepat Mirza menangkup wajahnya dan berbisik, “Jangan takut, kau akan segera membaik.” Dia bertanya serius setelah terdiam sejenak, “Kau percaya padaku, Shivani?”
“Apa aku masih harus menjawabnya?” tanyanya balik penuh percaya diri.
Terkadang dia sulit dijangkau dan tak bisa ditebak... Hanya beberapa jam yang lalu, dia ragu-ragu, bimbang dan menjengkelkan. Di samping itu, dia mempermasalahkan kepribadianku, lalu mendadak semuanya berbalik, sekarang dia mempercayakan hidupnya padaku... Sinar mata dan nada suaranya mengisyaratkan kesungguhan dari semua kata yang diucapkannya, dia terdengar sangat yakin dan tak tergoyahkan. Ya Tuhan, gadis ini membuatku tehenyak dengan kepercayaannya yang begitu tak terduga padaku. Apa aku pantas menerimanya?
“Ya, aku ingin sebuah jawaban...Kau sungguh percaya padaku?” sekali lagi dia berbisik di telinganya selagi membelai rambut ikalnya sambil terus menatap matanya.
“Ya...aku percaya, lebih dari hidupku.” Yakinnya sambil balas menatapnya lurus dengan penuh perasaan.
Wajah Shivani masih membiru dan meski sudah diselimuti hingga tiga lapis, dia masih gemetar kedinginan. Ya Tuhan!!! Apa yang harus kulakukan? Tubuhnya harus dibuat hangat, tapi haruskah kulakukan itu? Mampukah aku mengendalikan diriku? Jika terjadi kesalahan, aku tidak mungkin bisa menghadapi Bhai Jaan dan Bhabhi Jaan.
“Boleh aku ikut masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuhmu?” tanyanya ragu dan sedikit tegang.
Untuk sesaat, pertanyaan itu mengejutkan dirinya, rasanya terlalu gugup dan malu untuk menjawabnya.
“Kau tidak harus mengiyakan, aku mengerti...Aku hanya ingin menularkan panas tubuhku jadi kau bisa segera merasa lebih baik.” Terangnya dengan agak canggung.
Ketika Shivani memperhatikannya salah tingkah, cepat-cepat dia menjawab dengan bisikan pelan, “Aku ulangi, aku adalah milikmu dan kesehatanku juga adalah bagian dari tanggung jawabmu.” Matanya bersinar mendambakan sentuhan mesranya.
“Kau benar-benar sulit ditebak Shivani dan kepercayaanmu yang tiba-tiba padaku membuatku takut. Tolong katakan ya atau tidak...” tanyanya dengan suara tertahan sambil membelai wajahnya.
“Sekali seorang wanita menyerahkan hatinya pada seorang pria, maka yang lainnya jadi tidak penting dan dia akan mencurahkan seluruh perasaannya padanya dan percaya pada semua keputusannya yang berhubungan dengan dirinya. Mungkin, aku terlihat sulit ditebak, tapi saat sesuatu terasa salah, aku ingin kau tahu, lebih baik aku mati daripada membiarkan pria lain menyentuhku. Karena itu, aku tidak takut, selain itu, kau akan menjadi satu-satunya pria yang boleh menyentuhku, sekarang dan nanti.” Katanya tegas sambil menatap lurus matanya.
Makin aku mengenalnya, makin aku tergila-gila dibuatnya. Beberapa jam lau dia bertingkah seperti anak kecil yang lugu dan keras kepala dan sekarang sikapnya bertolak belakang dari sebelumnya...sangat dewasa dan percaya diri.
“Kau mirip seperti Bhabhi Jaan, aku tidak pernah mengira kau sangat berani, teguh dan percaya diri sepertinya dan aku tidak membiarkan hal buruk terjadi padamu dan jika memang terjadi, aku akan selalu ada di sampingmu, selain itu, aku yakin Bhai Jaan dan Bhabhi Jaan akan merestui hubungan kita.” Dia terdiam lalu mencium keningnya.
Dengan gerakan ringan dia menjauhkan wajahnya hanya untuk bisa melihat kedalaman cintanya yang terpancar dari matanya. Mereka saling berpandangan dan kesunyian seakan menyambar mereka berdua.
“Shivani, aku takut seandainya aku tidak bisa mengendalikan hasratku??? Karena sejak aku melihatmu, sejak itu pula aku memimpikan hal seperti ini...Kau tak bisa membayangkan betapa aku menginginkanmu!! Aku tidak bisa mempercayai diriku sendiri, dan jika aku kehilangan kendali, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.” Dengan jujur dia mengakui dilemanya.
“Cinta mengalahkan segala ketakutan...Percayalah pada dirimu dan lakukan apa yang menurutmu benar.” Bisiknya dengan bijak sekali lagi.
“Shivani, aku bisa bertarung dengan siapapun termasuk dengan diriku sendiri, tapi tetap saja aku butuh dirimu sebagai bagian dari keputusan ini...ya atau tidak?”
“Perlukan kujelaskan lagi, tidak bisakah kau melihat di dalam mataku apa yang sebenarnya kuinginkan?” rona merah menjalar di wajahnya karena pengakuan itu, bibirnya yang pucat dan membiru pun ikut memerah malu.
Sikapnya telah berubah, Mirza tidak perlu diyakinkan lagi. Dia bangkit berdiri sambil tetap menatapnya, lalu membuka kancing bajunya. Di lain pihak, Shivani menutup matanya dan memalingkannya ke arah lain... Bahkan di bawah tiga lapisan selimutnya, masih terlihat bentuk dadanya yang penuh... Setengah tersenyum, dengan cepat dia melepaskan baju atasannya dan meluncur masuk ke bawah selimut meletakkan setengah bobot tubuhnya sambil melindungi tubuh Shivani di bawah tubuhnya yang tegap.
Begitu tubuh mereka saling bersentuhan, keduanya sama-sama tersentak dan menahan napas, mata Shivani masih tetap tertutup namun seulas senyum muncul di bibirnya tak mampu dia sembunyikan.
Uff...dia sangat lembut dan mungil...dan terasa pas di bawah tubuhnya...wanginya seperti kelopak mawar...pasti dia telah berendam di dalam air mawar...ini adalah saat paling menakjubkan dalam hidupnya...seakan aku tengah bermimpi dan menikmati mimpi indahku itu.
Kulitnya seakan mencair di bawah dadanya, dibenamkannya bibirnya ke bawah lerhernya. Keheningan menguasai mereka...Satu-satunya suara yang terdengar jelas adalah bunyi napas mereka. Awalnya, dia ragu-ragu dan dan merasa tegang tapi lama-kelamaan pertahanan dirinya mulai kendur. Sentuhan lembut antara kulit mereka dengan mudah membangkitkan insting alaminya. Keduanya saling memeluk dengan erat. Dalam waktu satu menit, darahnya yang sebelumnya terasa beku mulai menghangat karena gairah... Bibirnya yang masih menempel di bawah leher Shivani mulai memercikkan api gairah. Hanya karena ingin merasakan yang lebih, Shivani mengangkat lehernya menyambut kecupannya.
Perlahan, sedikit demi sedikit, perasaan gairahnya yang pertama membuat Mirza makin bersemangat, tanpa sengaja tangannya mulai menjelajahi lekukan tubuhnya. Tiba-tiba, tangannya meremas bagian tubuhnya yang montok, dadanya yang lembut, dan tubuhnya memperingatkan otaknya untuk menahan gairahnya. Tak diduga, aksinya berhenti dan dia meminta maaf dengan tulus melalui matanya, “Maafkan aku...aku tidak bermaksud untuk...”
Sebelum Mirza bicara lagi, tangan Shivani yang dari tadi tak bergerak, tiba-tiba memeluknya ringan, “Shivani, kau begitu baik....Sungguh, kau sama sekali orang yang berbeda.” Gumamnya sambil menatap lurus pada bibirnya yang bergetar dengan tatapan penuh gairah ingin menguasainya.
“Berubah lebih baik atau buruk??” tanyanya.
“Berubah dari pahit menjadi sangat manis...dan aku suka yang manis.” Bisiknya penuh gairah sambil terus menatap bibirnya dan hasrat yang tak tertahankan untuk mencium bibir Shivani.
Keduanya sama-sama terdiam tapi diselimuti gairah...”Bolehkah aku...?” pintanya memohon dan itu membangkitkan gairah Shivani. Pandangannya yang penuh damba dan gairah telah menghipnotis Shivani, seluruh tubunya berdesir penuh gairah, tatapannya hanya tertuju pada bibir Shivani yang bergetar, napasnya yang berat mengirimkan sensasi yang memabukkan saat jemarinya mengusap lembut bibir bawah Shivani dengan keinginan untuk mengecap rasanya.
Begitu jari Mirza menyentuh bibirnya...milyaran sensasi menggelitik perutnya, di bawah sentuhannya, tubuhnya membeku dan tangannya mencengkeram tubuh Mirza dengan lebih kuat. Bibirnya otomatis terbuka saat napas Mirza berhembus di wajahnya. Dengan sebuah tatapan yang mengisyaratkan persetujuan, Shivani menghapus jarak diantara bibir mereka dan memejamkan matanya dalam penyerahan dan menanti saat mimpinya menjadi kenyataan.
Begitu Shivani menyerahkan dirinya, sebuah kesadaran menghantamnya...’Ya Tuhan dia masih sangat muda untuk disentuh dan dicium meski itu untuk membuat dirinya lebih baik, tapi aku tidak tahan lagi...suatu hari dia akan menjadi milikku dan kami saling mencintai’. Pertentangan batin antara gairah dan otaknya membuatnya seakan berada di ujung tanduk. Belum sempat dia memutuskan, Shivani makin mendekatkan dirinya...
Tanpa menunggu lagi, Mirza menunduk dan sesaat sebelum dia menguasai bibirnya yang bergetar, dia masih berusaha bertahan, “Kau masih sangat muda dan rapuh untuk disentuh Shivani.” Bibirnya yang hangat bersentuhan dengan bibir Shivani yang dingin, hanya sedetik saja dia bersikap lembut, dan detik berikutnya dia tak bisa mengendalikan dirinya dan lupa kalau ini adalah ciuman pertama Shivani... dia terlena dalam sentuhan lembutnya, gairahnya mulai terbakar dan mulai membangkitkan getar-getar nafsu dalam tubuhnya. Rasa laparnya akan sentuhan Shivani membuatnya gila, dan tak ada waktu untuk diam...bersabar...cemas...dia mencumbu...menghisap...dan mencecapnya dengan penuh hasrat seakan tak ada lagi hari esok... Lengannya memeluk bahunya dengan erat dan mulutnya memerangkap Shivani di bawahnya. Ciumannya yang tiba-tiba dan dirinya yang tak punya pengalaman membuat Shivani terperangah...dia tidak tahu bagaimana caranya merespon sebuah ciuman, untunglah Mirza juga merasakannya dan dia memahami dilema Shivani. Lalu dengan lembut...pelan-pelan dia memisahkan bibir mereka...lidahnya bergerak dengan sensual di sekeliling bibir Shivani yang bengkak, “Cium aku Shivani.” Bisiknya.
Saat Shivani tidak bergerak menuruti permintaannya, Mirza terdiam dan kembali berbisik, “Shivu, cium aku.” Gumamnya merayu.
Tangan Shivani mulai berpindah dari punggung ke belakang leher Mirza...dan perlahan dia membalas ciuman Mirza.
Mirza makin mempererat pelukannya dan dia berkata dengan nada meminta, “Berjanjilah kau tidak akan menyakiti dirimu sendiri seperti ini dalam keadaan apapun.”
“Selama kau mencintaiku. Aku berjanji.” Yakinnya.
Keduanya terseret dalam pusaran gairah di balik selimut itu dan terbelit dalam pelukan selama satu jam. Mirza menciuminya tanpa henti di bibirnya...pipi...cuping telinganya...dan lehernya, dia tidak bisa bertahan di satu tempat tapi beberapa kali tangannya ditarik untuk menyentuhnya dengan sensual.
“Bagaimana keadaanmu, lebih baik kan?” dia bertanya penuh perhatian.
“Menakjubkan.” Jawabnya langsung sambil tersenyum puas.
‘Ya Tuhan!!! Dia masih sangat muda, baru enam belas tahun...Dia bahkan belum tahu nama lengkapku. Kenapa aku menyentuhnya dengan tidak pantas... Apa yang telah kulakukan? Sudah dua jam dia bergelung dalam pelukanku... tidak mengerti betapa sulit dan menyakitkannya bagi seorang pria untuk menahan nafsunya pada tingkat ini... Aku menginginkannya sekarang...Kalau dia mengulum cuping telingaku lagi, aku tidak akan mampu menahan diri lagi... Aku takut akan menuntaskannya saat ini juga. Di lain pihak, dia sedang merasa takjub dan bagian terburuknya aku tidak ingin memisahkan diriku dari dirinya.’
“Kau tahu jalan rahasia menuju ke kamarmu?” tanyanya tiba-tiba.
“Ya...tapi aku tidak ingin kembali.” Jawabnya yakin sambil mempererat pelukannya , kembali mengecup bawah lehernya. Mirza mengerang frustasi.
“Harus, ingat saat kau bilang kau adalah tanggung jawabku...Jadi tidak ada pilihan...Ayo, aku akan mengantarmu.” Perintahnya tegas.
“Kau tidak bisa menyuruhku seenaknya.” Balasnya kesal.
“Ya..aku bisa sayangku...Sekarang hampir jam 3 pagi dan ada banyak tamu di dalam istana. Jika kau tidak mau aku menggendongmu melewati pintu utama, maka sebaiknya kau bangun sekarang juga dan tunjukkan jalan rahasianya.” Perintahnya tegas.
“Baik...kenapa kau tiba-tiba jadi kesal dan marah-marah?” sungutnya sambil menguap dan meregangkan tangannya keluar. “Pakailah Jama-mu dulu, dan omong-omomg aku tidak tahu kalau kau tiper orang yang suka mendominasi.” Protesnya kesal.
“Sepertinya kau lebih cocok ada di luar dalam cuaca dingin ini...bisa mendinginkan temperamenmu.” Bentaknya sambil mengenakan baju atasannya, tapi dia tidak bisa menyembunyikan canda di matanya.
“Kenapa tiba-tiba kau terasa menjauh dan ingin segera berpisah? Sepertinya tidak masalah bagimu kau akan pergi hari ini.” Shivani juga turun dari ranjang dan merapikan pakaiannya dengan kesal.
“Memangnya aku harus bagaimana, menangis?” tanyanya manis.
“Aku merasa sedih tapi kau tidak.” Ujarnya sedih dengan nada yang dilebih-lebihkan.
‘Bagaimana caranya aku memberitahumu kalau semuanya terjadi dengan cepat...? Bahkan aku tidak bisa menjelaskan pada diriku sendiri. Bahkan aku sendiri masih tak percaya...Bagaimana caraku memberitahumu kalau aku butuh beberapa waktu?’
“Aku tidak terbiasa mengumbar perasaanku dalam kata-kata tanpa bukti, bukan itu yang kucemaskan atau yang kupikirkan.” Dia memutar otaknya dan mencoba mencari kata-kata yang tepat, tapi bahkan kata-kata yang ingin dia ucapkan terdengar asing di telinganya sendiri...
“Tapi mengapa kau terlihat sama sekali tidak peduli. Kau tidak memujiku meski hanya sekali saja...Aku ragu kau sungguh-sungguh mencintaiku atau hanya menganggapku cantik saja. Kau benar-benar serius denganku?” tuduhnya kasar tanpa berusaha untuk memahami dilemanya.
Mirza memiringkan kepalanya, menatap Shivani dengan kekecewaan yang tertahan dan tersirat jelas di matanya.
‘Dia gadis yang sangat aneh, beberapa jam yang lalu dia mempercayakan hidupnya padaku dan sekarang dalam sekejap dia merasa tidak punya keyakinan.’
Dengan lembut Mirza menangkup wajah Shivani dan membelainya lembut, “Mengapa tiba-tiba kau merasa tidak yakin? Mengapa kau meragukan aku? Dengar, jangan khawatir, aku butuh beberapa waktu untuk merenungkan ini semua. Aku tidak bisa berjanji akan membawamu ke Agra hari ini sampai aku dapat ijin dari Bhai Jaan, dan Shivani, aku tidak tahu caranya memuji...aku punya seratus lebih wanita di haremku tapi tidak satupun yang kusukai seperti aku terpikat padamu...Aku belum pernah mengatakan cinta pada seorang wanita...tapi Shivani, aku telah mengakui cintaku padamu...”
Sambil menelan ludah dan menarik napas dengan cepat, Shivani mengulangi kata-katanya...”Ohh tidak...kau punya seratus lebih wanita...” Matanya melebar dan alisnya naik karena terkejut.
‘Apa? Apa itu hal baru untuknya? Setiap keluarga bangsawan punya seorang wanita di haremnya. Dia pikir aku seorang malaikat atau apa?’
“Ya...kupikir kau cukup berpikiran terbukan dan cukup dewasa untuk mengetahui informasi kecil ini, jadi aku tidak menjelaskan apa-apa, dan lagipula tidak satupun yang kuanggap penting dalam hidupku. Jadi, demi Tuhan, tak perlu bereaksi seperti itu. Kau tahu sebagian besar dari mereka adalah demi kepentingan politik dan aku pun tidak menikahi satupun dari mereka secara resmi atau terikat pada satu wanita...Aku tidak punya anak dari mereka jadi kumohon jangan kecewa.” Mirza membela dirinya sendiri dengan nada sedih.
“Pertama, ini bukan informasi kecil, pakai otakmu, aku bukan Mughal dan para pria Rajvanshi tidak memiliki yang kau sebut Kemewahan Harem dan hampir semua pria tidak berteriak padaku. Coba katakan, saat kau menciumku, apa kau membandingkan aku dengan wanita lain milikmu? Kau masih bisa merubah keputusanmu jika kau pikir aku tidak cukup berpikiran terbuka dan tidak cukup cantik untukmu...” katanya hampir menangis.
“Shivani, kau sangat marah dan kau lupa...aku belum mengatakan apa-apa tapi kau sudah memusuhiku. Bagaimana bisa kau berpikir aku membayangkan orang lain saat aku menciummu? Kau tahu Shivani....Aku mencintaimu dengan sepenuh hati tapi sepertinya itu tidak cukup untukmu...tak dapat disangkal lagi kau belum cukup dewasa untuk bisa memahami rasa cintaku padamu. Kau sudah memberiku satu ultimatum...dan jelas kau sudah mengambil keputusan.” Sikap Shivani yang angkuh membangkitkan amarahnya hingga pada satu titik dimana, nada suaranya terdengar datar meski emosi menguasai dirinya.
“Baik, aku tahu jawabanmu, tidak perlu ada penjelasan lagi. Sepertinya aku memang terlalu kekanakan untuk seleramu...Terima kasih sudah menyelamatkan hidupku Jenderal Mirza, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi sampai kapanpun.” Katanya dengan tajam, keras dan bernada pahit.
‘Apa? Begitu saja...dia sangat sombong.’ Kata-katanya telah menorehkan luka di hatinya, setelah beberapa saat kesunyian yang memekakkan telinga, Mirza menjawab dengan sikap manis yang dibuat-buat, “Baiklah...sesuai keinginanmu sayangku, aku akan mengantarmu.” Egonya sebagai laki-laki telah terluka dan dia tidak berniat untuk merayunya lagi.
“Aku bisa melakukannya sendiri, kau sudah banyak membantuku dan aku akan mengingatnya seumur hidup...dan omong-omong, aku sudah enam belas tahun bukannya lima tahun.” Teriaknya sengit.
Mirza mengerang dalam hati dan belum sempat dia bersiap-siap, Shivani sudah berjalan keluar dengan marah.
Mirza berjalan di belakangnya sambil membawa selimut. “Shivani...pakai selimutnya, di sini sangat dingin.” Teriaknya.
Shivani memutar tubuhnya dengan kesal dan menjawab sinis, “Seperti yang kau katakan tadi, cuaca dingin bagus untuk temperamenku...jadi biar saja.”
Dengan berat hati, Mirza menatapnya pergi di bawah cahaya bulan yang pucat hingga dia menghilang, masuk dengan aman ke dalam istana.
*********

Is It Hate Or Love | Chapter 40 - 1

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.