Song of Millitary- Part 14 (By : Vi) - ChusNiAnTi

Song of Millitary- Part 14 (By : Vi)



Jo tinggal di rumah Jalal bersama Arkan & Askana yang tengah hamil. Ia mulai mebiasakan diri tinggal di rumah Jalal yang dirasa terlalu membosankan, disini sepi sekali sama seperti apart-nya. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mungkin sebentar lagi rumah ini akan sedikit ramai karena bayi Kak Askana akan segera lahir. Jo senang, karena jujur saja walau seorang wanita yang tomboy ia sangat menyukai anak kecil.

Jo bosan, sepanjang hari kegiatannya hanya berteman dengan guling dan bantal, paling-paling hanya sesekali keluar jika dirasa perlu. Di rumah sebesar ini hanya sendiri bersama beberapa pelayan dan penjaga, lagipula Jalal sedang keluar.

Kak Arkan pun pergi bersama Kak Askana, entah kemana. Disini benar-benar sangat sepi, hanya pelayan yang pergi dari satu tempat ke tempat lainnya. Jo menyusuri lorong demi lorong keluar dari kamar setelah menyelesaikan beberapa tugas, Jo merasa kepalanya sangat pusing kakinya benar-benar tak mau berfungsi seperti biasanya. Jo rasa ia akan tumbang,Jo merasakan tubuhnya jatuh menghantam lantai putih dingin.

Sebelum matanya tertutup, ia mendengar pelayan menghampirinya dengan teriakan. Jo menutup mata.

“Jo?” suara seorang pria yang memanggil namanya.

“Ya,” lirih Jo, ia berusaha mengumpulkan kesadarannya. Matanya sedikit, hanya sedikit membuka, ia mulai menangkap bayangan laki-laki yang duduk disampingnya, Jo rasa ia sedang berbaring di atas kasur. Laki-laki itu mencuil hidungnya.

“Bangun dong, gak lelah apa berbaring terus.”

 “Karena aku lelah, oleh karena itu aku berbaring,” Jo menutup matanya lagi. “Aku butuh waktu sehari lagi ya, lagian baru saja aku disini.” Jari telunjuk Jo terangkat di depan wajah Jalal, “Lagian jika aku di rumah. Aku hanya sendiri, tidak ada bedanya dengan di apart.” Masih dengan mata tertutup.

Jalal menatap Jo dengan sendu, ia tak tahu apakah air matanya benar akan keluar atau baru menggantung. “Maaf Jo, aku gak bermaksud ninggalin kamu setelah pernikahan kita. Aku terikat kontrak,” Jalal tahu jika air matanya sudah keluar, bukan karena cengeng. Ia benar-benar tak tega pada istrinya ini. Andai Jalal tahu bahwa Jo begitu merasa sepi.

Merasa ada setetes air yang membasahi pundaknya. Jo membuka mata, “Kenapa kau menangis? Aku salah?” Jo memukul pelan kepalanya, “Aduh Jo, baru berapa hari nikah udah buat suaminya sendiri nangis.”

Jalal tertawa melihat kelakuan Jo, “Kalau seperti ini, aku rasa 2 hari tidur gak cukup ya. Sebaiknya aku harus membicarakan pada doktermu, untuk memberikan sehari lagi waktu untukmu disini.”

“Ya aku mengerti, kau akan pergi lagi kan?” Jo bangkit dari tidurnya, duduk dan menghadapkan badannya kearah Jalal.

“Bukan begitu makudku Jo, aku hanya ingin kau memulihkan keadaanmu disini.” Jalal mulai khawatir, ia takut Jo berfikir yang akan membuat hubungan mereka buruk. Jalal menegrti, Jo kesepian karena sehari setelah acara repsepsi mereka. Jalal pergi ke luar kota dan baru kembali saat pelayan di rumah mengabarkan bahwa Jo di opname di Rumah Sakit.

“Tenang saja Jalal, aku baik. Istirahatnya sudah cukup ya. Lagian ini salah orangtua kita, buat apa membuat banyak acara?” Jo merenggut.”

“Mereka menyayangi kita Jo, mereka hanya ingin yang terbaik untuk kita.” Jalal mengusap lembut kepala Jo, “Setelah ini kita akan berlibur.”

“Honeymoon?”

“Tidak. Aku lebih suka menyebutnya berlibur, bukan honeymoon.”

“Aku akan segera sembuh jika itu tawarannya,” Jo mencium lembut pipi Jalal. Rasanya begitu lega dan bahagia, mencium seseorang yang telah halal bagi kita. Tidak ada dosa melainkan pahala yang mengalir, karena ini semua sudah sah.

2 bulan kemudian (9 April)

Kak Askana telah melahirkan putrinya. Putri mereka sangat cantik dan lucu. Diberi nama Ar- Khanza oleh kak Arkan, dan Khanza mulai tumbuh sebagai bayi gendut juga chubby.

Dan ya, apa kalian tahu kini aku hamil, ayah berpesan padaku  untuk sebisa mungkin meminimalisir kejadian seperti kemarin dengan kondisiku yang seperti ini. Dan sampai saat ini juga, Jalal beserta keluarganya belum tahu tentang profesiku sebagai PATERATA yang mereka tahu aku hanyalah seorang anggota TNI-AD.

Entahlah kapan aku akan memberitahu yang sebenarnya, mungkin saja Jalal akan menyuruhnya keluar dari keanggotaan PATERATA, ini sebuah kemungkinan yang tak bisa kuterima.

***

Suatu malam saat purnama, Alvi sedang sibuk memakan coklat dan pop corn secara bersamaan serta menonton kartun kesukaannya. Dan tiba- tiba saat Genaya keluar ke balkon ia menemukan sebuah kertas berlumur darah dengan tulisan “KAU AKAN MERASAKAN APA YANG AKU RASAKAN”

“Alviiiiii” teriak Genaya histeris, bukan karena takut terlebih kepada kaget setelah sekian lama peneror itu hilang kini ia kembali lagi.

“Ada apa? Berisik sekali sih kamu. Apa yang kau pegang itu? Kenapa berdarah?” tanya Alvi penasaran.

“Peneror itu lagi yang mengirimkannya. Aku tak habis pikir, sebenarnya siapa sih yang kau bunuh vi? Kenapa ia tak lelah menerormu”

“Aku juga tak tahu. Mana aku ingat siapa yang aku bunuh” jawab Alvi cuek.

Dan kembali ke dalam membiarkan Genaya sendiri. Saat akan melanjutkan menonton. Pintu apart terketuk,,

“Tookk tokk tokk”

“Siapa sih malam-malam gini bertamu” omel Alvi.

“Siaaaa, hahh apaan nih?” setelah ia mengambil sebuah kain yang juga berlumur darah dengan sebuah pistol mainan di dekat kain itu.

Dan satu lagi yang tak pernah Alvi lupakan, peneror itu bahkan mau menghabisi nyawanya dengan cara memutus salah satu kabel rem pada mobilnya. Untung sebelum kejadian buruk itu terjadi Alvi telah mengetahuinya. Seketika ia shock dengan semua terror ini, tapi apa boleh buat. Ia berusaha menjalani harinya setenang mungkin.

***

27 Desember

Jo sedang berada di halaman depan bersama bayinya yang sangat menggemaskan. Tak henti-hentinya Jo mengajak bayinya itu berbicara, tapi hanya bergumam tak jelas hal itu cukup membuat hati Jo senang. Adrian bayi laki- laki hasil buah cintanya dengan Jalal yang berhasil Jo lahirkan beberapa minggu lalu. Walau bayi Jo lahir dengan prematur, syukur bayi itu sehat sampai saat ini.

“Terimakasih tuhan telah mempercayaiku menjadi seorang ibu, memiliki harta paling berharga di dunia ini. Bayi yang lucu dengan segala lekukan hampir menyerupai Jalal” syukur Jo bergumam.

Jo mengangkat hp-nya yang terus saja berbunyi sedari tadi,

“Halo Jodha Ardani, apa kabar mu?”ucap seseorang di sebrang sana.

“Iya, siapa ini?”

“Kau tak perlu mengetahui siapa diriku, yang perlu kau tahu adalah 2 orang anggotamu Alvi & Genaya sedang bersamaku di Palembang. Hanya kau yang dapat menyelamatkan mereka, cepat datang kesini kalau kau ingin kedua jantung wanita cantik ini tetap berdetak.”ancam Clara.

“Hey, jangan berbuat macam-macam pada mereka. Kau akan tahu akibatnya karena telah bermain-main dengan PATERATA.”

“Hahaha, kau mengancamku? Itu tidak mempan Jodha, aku telah menyusun semua ini berbulan-bulan lalu dan kemana kau selama ini? Baru tahu kondisi anggotamu dari mulutku. Oh ya aku lupa kau baru saja melahirkan seorang putra bukan dan pasti kau sedang asik mengurus bayi itu? ”

“Baik, aku akan pergi ke Palembang besok. Dan selama itu juga jangan kau sakiti mereka berdua. Dari mana kau tahu itu?”

“Aku selalu tahu keadaanmu Jodha, kau aku intai 24 jam penuh. Jadi bukan masalah biasa jika aku tahu kau sudah melahirkan dan memiliki seorang putra”

***

Setelah meminta izin kepada Jalal ia pergi ke Palembang meninggalkan Adrian bersama nanny-nya, Ny.Farida beserta Ny.Arum. Karena ayah mereka sedang melakukan perjalanan bisnis ke Turki. Ia beralasan akan pergi ke Palembang untuk menemui rekan kerjanya yang sedang sakit.

Awalnya Jalal menolak keras, tapi setelah Jodha bilang bahwa ia hanya akan pergi 2 hari Jalal mengizinkannya. Entah mengapa perasaannya sangat berat untuk meninggalkan putra kecilnya. Ia terpaksa pergi untuk menjalankan tugas bukan?

“Hai, Jodha. Akhirnya kau datang juga kesini, aku kira kau akan membiarkan nyawa kedua gadis itu melayang tapi tidak. Kau sangat bertanggung jawab dengan meninggalkan putra kecilmu itu, apa kau yakin ia akan baik-baik saja disana?”

“Apa maksudmu, cepat katakan dimana Alvi & Genaya berada saat ini. Aku tidak ingin bermain-main denganmu.”

“Hahaha, kau bodoh. Apa kau percaya begitu saja denganku? Aku tidak pernah menyekapnya, lihat saja gadis itu datang saat ini bersama kita.”ucap Clara yang menunjuk ke arah pintu memberitahu kedatangan Alvi & Genaya pada Jo. Setelah sebelumnya ia membuat janji agar kedua wanita itu datang menemuinya.

“KPA Jodha? Untuk apa kau disini?”seru Alvi & Genaya bersamaan.

“Aku yang seharusnya bertanya pada kalian mengapa ada disini? Bukankah wanita ini telah menyekapmu?”tanya Jo.

“Tidak, ia yang menyuruh kami datang kesini untuk memperjelas perbuatannya kemarin” jelas Genaya.

“Apa maksud dari semua ini? Kau bilang kemarin mereka di sekap, tapi sekarang. Dan cepat katakan apa mau mu sekarang” ancam Jo pada Clara.

“Oh tenang Jo, aku hanya ingin bermain denganmu. Memang keadaan mereka baik saat ini, tapi apa kau tahu bagaimana keadaan putramu?”

“Apa yang kau lakukan pada putraku? Sungguh licik, kita sesama wanita pasti tahu keadaan masing-masing. Tapi apa yang kau lakukan? Menipuku? Wanita iblis”

“Aku telah menyuruh anak buahku untuk berkunjung dan bermain dengan keluargamu disana. Dan mungkin beberapa jam lagi putra kesayang mu itu akan tertidur dengan damai selamanya.”

Tawa Clara memekik di seluruh ruangan.

“Apa-apaan ini, kau tidak bercanda kan? Mengapa kau membawa putraku dalam masalah ini?”lirih Jo.

“Sudah Jo, sebaiknya sekarang kau cepat pergi ke Jakarta untuk mencegah kemungkinan buruk yang akan terjadi. Aku takut, perkataannya kali ini benar” ujar Alvi.

“Tapi untuk apa dia mengancam nyawa putraku?”tanya Jo meminta penjelasan.

“Aku juga tak mengerti, kurasa ada dendam yang ia tunjukan pada semua anggota.”

“Baiklah, kuharap semua baik-baik saja. Ya Tuhan selamatkan keluargaku dimana pun mereka berada.”

***

Setelah berhasil memasuki rumah megah itu dengan alasan sebagai rekan Jodha, kedua orang ini langsung berbincang dengan Farida & Arum tak lama pun ia langsung melumpuhkan kedua wanita ini dan memasukkannya ke kamar dengan tangan dan kaki terikat.

Mereka berjalan menelusuri rumah ini untuk mencari Adrian dan nanny-nya. Saat mendengar suara tangisan bayi, mereka bergegas memasuki kamar dan meminta nanny memberikan bayi Adrian padanya. Penyekapan dilakukan juga pada nanny, dan Adrian pun diberi sebuah cairan setelah itu mereka tertawa puas dan merebahkan bayi itu di box bayinya.

Selama di perjalanan Jo menangis tak bersuara, bagaimana tidak. Nyawa anak yang baru ia lahirkan beberapa minggu lalu berada di ujung tanduk jika tidak segera diselamatkan, itu baru kemungkinan yang terjadi, karena entah perkataan Clara itu benar apa tidak. Ia sedang berada di mobil menuju rumahnya, jaraknya cukup jauh kira-kira 2 jam baru akan sampai. Dan tiba-tiba handpone nya berbunyi, nama Jalal tertera disana.

“Halo Jo, cepat kembali ke Jakarta. Terjadi penyekapan di rumah kita, Mama, Ibu, Nanny dan Adrian sekarang aman kau jangan khawatir.”

“Iya Jalal, aku akan pulang. Maafkan aku karena sudah merepotkanmu, aku menyesali kepergianku kemarin” lirih Jo.

“Tenang Jo, kau tak perlu seperti itu. Jangan fikirkan yang tidak-tidak aku selalu bersamamu”

“Baiklah Jalal”

***

Jo datang ke rumah, terdapat beberapa polisi disana. Ia langsung menghambur ke pelukan Jalal, ketenangan ia dapatkan disini saat melihat seluruh keluarganya dalam keadaan baik. “Terima Kasih Tuhan”batinnya.

Setelah itu, ia mengambil bayi Adrian dari gendongan Ny.Farida, betapa damainya bayi ini tidur tanpa dosa dan beban yang menghantuinya. Perasaan itu datang lagi, ya ketakutan akan kehilangan seseorang, Jo cepat menepis ketakutan itu dengan mendekap Adrian penuh cinta. Seakan pelukan ini tak rela ia lepas saat seseorang menepuk pundaknya.

“Jo, sebaiknya kita pergi kekamar. Kepolisian akan mengusut tuntas kasus ini, kau tenang saja tidak ada yang harus dikhawatirkan.”ujar Jalal.

“Iya Jalal, aku berharap akan seperti itu seterusnya dan aku takut…..”

“Husst, jangan berkata seperti itu, aku akan terus berada disampingmu.”

 “Terimakasih Jalal, Tapi bagaimana dengan ayah?”

“Tenang saja, aku telah mengabarkan ini pada ayah dan papa, besok mereka akan pulang ke Indonesia.”

1 Januari

Jalal POV

Di depan sebuah makam mungil. Seorang pria menekuk mukanya, tangis tertahan ya, itu yang sedang dilakukan seorang Jalal “Tahun baru bukan menurut kalian? tapi tidak untukku, mungkin ini adalah tahun terburuk dalam hidupku. Kehilangan seorang bayi bahkan saat ia belum bisa mengucapkan namanya sendiri, tanpa kehadiran Jo disisinya. Jo stress semenjak kejadian kemarin pagi Jo menganggap ini semua mimpi dan Jo menyalahkan dirinya sendiri”

Perlahan ia menyeka air mata yang mulai turun` dari mata elang yang tertutup sebuah kaca hitam. Berdiri tanpa siapapun disisinya, berharap kekasih halalnya itu akan datang. Merengkuh setiap luka, tapi harapan akan menjadi sebuah harapan.

Jalal telah sampai di rumah, keributan terdengar di telinganya. “Apa lagi ini, tak adakah yang bisa menghentikan waktu mengizinkanku istirahat sejenak”

“Jo apa yang kau lakukan dengan benda itu” tanya Jalal panik.

“Tentu saja untuk bermain-main Jalal, sangat menyenangkan bukan? saat benda ini menggores nadiku HAHAHA” tawa Jo menggelegar di seluruh ruangan kamar mereka.

“APA KAU GILA HAHH? SERAHKAN BENDA ITU PADAKU” gertak Jalal yang mulai kehilangan kesabaran.

“Kau kenapa Jalal? Aku memang gila. Mana bayiku? Mana Adrian? Kau bawa kemana dia? Katakan padaku “ jawab Jo yang tak kalah sengit.

Jalal merebut gunting yang ada di tangan Jo dan langsung merengkuh Jo dalam pelukannya

“Maafkan aku Jo, tolong terima kenyataan ini, Adrian telah tiada. Ia telah tenang disana, kau jangan seperti ini. Fikirkan aku Jo, aku juga membutuhkanmu” tangis Jalal tumpah dan Jo berontak agar Jalal melepaskannya.

“Kembalikan guntingku! Apa kau bilang Adrian pergi? Adrian tenang disana? Hahaha Kau bohong Jalal mana mungkin ia senang disana tanpaku” tawa Jo melebur menjadi tangis yang memilukan.

“Aku disini Jo, aku selalu bersamamu. Jangan seperti ini, aku tak bisa hidup tanpamu”

Sekian lama Jo tak menyahut perkataannya Jalal melihat Jo yang tidur dalam dekapannya dengan tangis yang tersisa dipipinya. Jalal tahu Jo sangat tersakiti tapi apa yang bisa Jalal lakukan. Tuhan penentu segalanya dan Jalal hanya hamba tak bisa berbuat banyak.

Jalal baringkan Jo di kasur dan lagi Jalal bawa Jo dalam pelukannya. Menyalurkan rasa sesak dan sedih bersama


“Jo apapun kondisinya, aku akan selalu disisimu. Jangan lepas genggaman tanganku. Jangan pernah” bisik Jalal ditelinga Jo dan mengecup keningnya dengan kesedihan yang mendalam.


***


Terimakasih atas waktu menunggunya.
Mohon pengertian, belakangan ini kami sibuk dan baru sempat post hari ini.

Song of Millitary- Part 14 (By : Vi)

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.