Love Protocol Chapter 3 - ChusNiAnTi

Love Protocol Chapter 3




Love Protocol
 by Tyas Herawati Wardani



Cerita ini adalah fiktif. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat dan peristiwa adalah kebetulan semata.
Chapter 3



Mossef tersenyum...
Memandangi white lilly yang berakhir di tempat sampah seperti perkiraannya. Tidak masalah. Bahkan nasib bunga itu masih lebih baik daripada dirinya.
Sambil menyetir kembali ke hotel, Mossef mengerutkan keningnya dalam-dalam, berpikir keras cara paling tepat mendekati Katti-nya, tanpa membuat gadis itu takut atau bahkan melarikan diri lagi dari dirinya...
Hentakan alas kaki Katti menggema di sepanjang lorong saat dia tiba di tempat kerjanya. Beberapa kali dia berpapasan dengan rekan kerjanya, sesama staf hotel, baik yang menyudahi giliran jam malamnya atau yang baru akan memulai pekerjaannya hari itu.
Katti berhenti di depan lokernya. Tatapannya hampa. Tangannya bergerak secara otomatis membuka dan menutup pintu loker, menyimpan barang-barang pribadinya dan mengeluarkan seragam kerjanya. Atasan lengan panjang dipadu celana panjang berwarna biru langit dengan detail garis putih di setiap ujungnya. Seragam resmi para staf cleaning service Grand Hotel.
Diliriknya jam dinding di atas pintu masuk, masih ada waktu 15 menit sebelum sif siang dimulai. Katti merapikan penampilannya. Dipatutnya sekali lagi dirinya di depan cermin yang menempel di bagian dalam pintu loker pribadinya. Wajahnya terkesan polos, hanya disapu bedak warna beige dan lipstick warna pink sewarna dengan bibirnya. Rambutnya lurus pendek dan tak butuh usaha keras untuk merapikannya. Katti memang berusaha tampil tidak menarik, sebisa mungkin menghindari perhatian dari orang lain, terutama pria.
Katti tidak sendirian di ruang ganti itu, ada 3 orang rekan kerjanya yang juga tengah bersiap-siap. Mereka mengobrol ringan tentang cuaca. Entah kenapa, siang ini Katti tidak bersemangat menimpali obrolan mereka. Pikirannya seperti kosong.
“Miss Katic, tolong ke ruanganku.”
Katti sedikit terlonjak dan spontan menoleh. Rupanya manager hotel yang memanggilnya, dan langsung pergi lagi tanpa menunggu jawaban dari Katti.
Sambil mengerutkan kening, Katti mengunci lokernya kembali dan beranjak menuju ruangan sang manager hotel yang terletak di bagian ujung lantai bangunan itu.
Katti terkesiap begitu membuka pintu ruangan Mr.Jan Lundy, sang manager. Beruntung dia bisa menyembunyikannya dengan baik di balik wajah dinginnya. Berdiri di sana, tepat di samping meja Mr.Lundy, pria yang sejak kemarin terus ngotot mendekati dirinya dan mengusik ketenangan hidupnya.
‘Apa lagi yang diinginkanya?!’
“Katti, perkenalkan dia Mossef. Dia akan bergabung bersama timmu dan akan mulai bekerja hari ini juga. Kau yang akan melatihnya, dan dia akan mengikuti semua arahanmu.”
“Baik.”
Mana mungkin dia menolak jika itu perintah langsung dari managernya. Meski tidak suka, dia tetap harus menurutinya. Katti melirik sekilas ke arah pria itu. Berdiri santai dengan kedua tangan di belakang punggungnya, pria itu tersenyum, dan senyum itu juga tampak pada mata yang menatap langsung ke arah dirinya.
‘Firasatku mengatakan dia yang mengatur ini semua, bukan Mr. Lundy...’ pikir Katti.
Diam-diam Katti melirik lagi ke arah Mossef. Ada perasaan sesak yang tiba-tiba dirasakannya. Apakah karena keberadaan pria itu di dalam ruangan ini? Apakah itu karena sikap berdirinya? Ataukah karena senyumnya? Seakan ada sesuatu dalam diri pria itu yang mengusik perasaan Katti, membuatnya terdesak ingin melepaskan diri, namun juga menarik dirinya dengan sangat kuat pada saat bersamaan.
Dan Katti tidak rela membiarkan pria itu memporak-porandakan perasaannya lagi....
Tak ingin berlama-lama dalam satu ruangan yang sama, Katti bergegas keluar setelah mengangguk singkat pada Mr.Lundy. Dia melangkah cepat menuju gudang penyimpanan peralatan guna mempersiapkan perlengkapan kerjanya. Gerakannya tergesa-gesa, berharap bisa menghindar secepat mungkin dari pria itu. Namun keinginannya pupus. Selang tiga menit kemudian, Mossef muncul dan telah berganti baju dengan seragam seperti miliknya.
Tanpa bertanya-tanya, seolah terbiasa melakukannya, Mossef langsung membantu Katti memasukkan perlengkapannya ke dalam lori. Gerakannya sigap dan tidak canggung. Sesekali Mossef mencuri pandang ke arah Katti. Dan Katti bisa merasakannya meski dia tidak melihatnya. Beberapa kali pula tangan atau lengan mereka bersinggungan. Sepertinya itu kebetulan yang disengaja oleh Mossef, mencari-cari kesempatan untuk menyentuhnya.
Setelah semuanya siap, Mossef mendorong lorinya dan dia mempersilakan Katti berjalan di depannya. ‘Semoga aku punya kesempatan bicara dengan Katti kali ini.’ harapnya dalam hati sambil memperhatikan punggung kecil Katti di depannya.
‘Dulu, aku sering memeluk punggung itu. Punggung yang lembut dan kuat. Yang mampu menyangga semua keluh kesahku. Dan mampu mengangkat keputusasaanku. Yang selalu menemaniku di bawah hujan dan terik. Dan itu menjadi sebuah ke-biasa-an. Lalu aku lupa betapa berartinya dia dalam kehidupanku. Dan setelah aku mengacaukan semuanya___.’
“Kamar 201.”
Katti memberitahu sambil memeriksa daftar tugasnya dan membuat beberapa catatan di atas kertas itu.
“Katakan saja semua yang harus kulakukan, biar aku yang kerjakan semuanya.”
Mossef berusaha membuka obrolan, tapi Katti tidak membalas, sepertinya dia sengaja mengabaikannya.
Katti mengambil handuk dan sprei bersih dari lori, lalu membuka kunci kamar 201.
“Katti, biar aku saja....”
Mossef mengambil alih sprei dan handuk dari tangan Katti, namun kata-katanya menggantung di udara tatkala dilihatnya keadaan di dalam kamar itu yang sangat berantakan. Sepertinya, penghuni kamar ini menggelar pesta gila-gilaan semalam. Ada banyak botol anggur kosong beserta gelasnya berserakan di atas meja kopi maupun di lantai di dekatnya. Banyak sisa makanan menempel dan terjepit di sofa bahkan di atas ranjang. Yang menjijikkan ada genangan mirip isi perut yang dimuntahkan sepanjang lantai dari dekat ranjang mengarah ke kamar mandi. Dan yang paling parah, ada tiga bungkus kondom bekas pakai beserta sehelai thong di atas nakas samping ranjang.
Mossef tercengang...
Dia belum pernah menjumpai kamar sekacau ini. Bahkan untuk beberapa saat, dia hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri...
Lain halnya dengan Katti,ini adalah pemandangan yang biasa untuknya. Bukan pertama kalinya. Karena itu dia paham betul apa yang harus dikerjakannya. Dengan sigap, Katti mengenakan sarung tangan plastiknya dan mulai memunguti kondom bekas itu ke dalam kantong sampah yang dibawanya.
“Katti, kau tidak harus melakukannya..”
Mossef tak kuasa melihat Katti menyentuh barang kotor itu, bahkan dia memalingkan mukanya karena jijik...
“Katti, hentikan!..Kau duduk saja, biar aku yang bersihkan semuanya!”
Mossef menahan tangan Katti yang hendak memungut kondom terakhir , tapi gadis itu menepiskannya. Dia tetap memungutnya, tak menghiraukan protes dari Mossef.
Pria itu tidak tahan lagi, direbutnya kantong sampah yang dipegang Katti dan dilemparkannya menjauh, lalu dia tarik tangan Katti dan menyuruhnya duduk di sebuah kursi pendek dekat jendela, satu-satunya tempat duduk yang masih bersih.
Katti berusaha melawan dan sekuat tenaga berusaha melepaskan tangannya dari Mossef.
“KAU..diam disini!!” perintahnya tegas saat Katti dengan keras kepala berusaha berdiri lagi, “..atau aku akan mengikatmu! Biar aku yang bersihkan semuanya! Tugasmu hanya menyuruhku!”
Mossef menatap lurus ke dalam mata Katti, memastikan gadis itu menurutinya. Untuk beberapa saat, hanya ada kebisuan di antara mereka___
Dan Katti balas menatapnya dengan sengit. Bibirnya menipis menahan marah. Tapi pada akhirnya dia membiarkan Mossef menang__
Aneh, Katti heran dengan sikapnya sendiri. Bisa saja dia melawannya tadi... Tapi kenyataannya dia tidak mampu melakukannya.
Ada sesuatu yang membuatnya tak berdaya... lemah tak berkehendak untuk membantah.... Tapi apakah itu? Pertanyaan itu tumpang tindih dengan logikanya yang terus berusaha menyangkal perasaannya.
Apakah karena tatapannya?!.... Katti memang merasakan sesuatu pada saat mata mereka beradu tadi. Seperti ada percikan yang menyengat kulitnya, menggelitiknya hingga ke temali sarafnya dan membuat lututnya lemas... Atau mungkinkah karena sentuhannya?!.... saat Mossef menarik tangannya tadi, walau hanya sesaat, ada getaran hangat yang menelusuk ke dalam relung hatinya.
Rasanya TIDAK MUNGKIN. Mustahil pria itu masih mempengaruhi reaksi tubuhnya. Tidak cukupkah waktu delapan tahun untuk meniadakan semua perasaan itu? Bahkan Katti sudah tidak ingat, pernahkah Mossef menatapnya sedalam itu...dulu...di waktu yang telah berlalu....
Katti tidak punya pilihan, dia duduk dan memperhatikan semua yang dikerjakan Mossef. Pria itu memunguti semua kotoran yang tersebar di lantai lalu mengganti penutup ranjang beserta spreinya karena keduanya penuh noda. Kemudian dia beralih merapikan kamar mandi.
Lama-lamaKatti jengah, dia ambil vacuum dan mulai membersihkan karpet....
“Duduklah..” perintah Mossef pendek saat mengambil alih alat itu dengan cepat dari tangan Katti.
Sekali lagi Katti tidak membantah, dia duduk kembali di tempatnya tadi hingga pria itu selesai membersihkan semua sudut kamar.
“Sekarang kau bisa mengecek hasil kerjaku. Kalau kau tidak puas, akan kuulangi semuanya.”
Katti berdiri dan berjalan ke setiap sudut ruangan, memeriksa dan memastikan semuanya telah bersih. Sementara Mossef berdiri diam menunggu komentar dari Katti, tapi gadis itu tetap bungkam seribu bahasa.
Selesai memeriksa semua sudut, Katti langsung mengumpulkan alat-alatnya lalu keluar dari kamar itu, diikuti Mossef di belakangnya.
“Lihat, kan?!Aku masih ingat semua yang pernah kau ajarkan padaku.” Kata Mossef pelan sambil mendorong lorinya di belakang Katti. “Aku juga masih ingat tiap momen saat kita sama-sama bekerja di Imperium Hotel of Doha dulu... Itu adalah pekerjaan pertamaku dan paling berkesan untukku, karena disanalah kita pertama kali bertemu... dan... masihkah kau ingat pada Button dan Ponytail?.. Sepuluh tahun lebih, kau pasti sudah melupakannya, tapi aku.... aku menjalani hidupku dengan berpegangan pada kenangan itu__”
Mossef berharap ada setitik emosi terlihat di wajah Katti, sayang sekali dia hanya bisa memandangi punggung kaku gadis itu yang sedang berjalan di depannya. Tidak ada maksud lain Mossef mengungkitnya, selain ingin menunjukkan betapa berartinya gadis itu dalam hidupnya.  Betapa berharganya kenangan mereka, jauh lebih berharga dari semua saham perusahaan yang dimilikinya. Betapa bernilainya kebersamaan yang pernah mereka jalani dulu, dan dia menyimpannya di tempat yang paling aman di dalam hatinya.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Yang  terdengar hanya detak sepatu mereka dan suara roda lori yang menggelinding sepanjang lorong.
Mossef menunduk sedih ____
Andai saja pria itu tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Katti saat ini__
__Mossef, tahukah kau?! Aku masih ingat semuanya. Aku sudah berusaha keras melupakannya dan rasanya makin menyakitkan. Hingga akhirnya aku menyerah dan yang bisa kulakukan hanyalah mengendapkannya jauh di dasar__
Bagai melewati lorong waktu yang sempit dan gelap, ingatan Katti melayang ke sepuluh tahun yang lalu...
‘Button’ adalah panggilan olok-olok Katti pada Mossef. Berawal dari sebuah kancing kemeja milik Mossef yang terlepas dan memantul dengan keras di keningnya. Saat itu Mossef sedang memanjat sebuah tangga untuk mengganti sebuah lampu yang mati dan secara kebetulan Katti lewat di bawahnya. Jeritan kecil yang tidak sengaja terlontar karena keterkejutannya, mengagetkan mereka berdua dan membuat Mossef jatuh terjengkang. Bukannya meringis kesakitan atau mulai saling menyalahkan, mereka berdua malah terpingkal-pingkal menertawakan kekonyolan itu. Itulah awal pertemuan mereka.
Katti yang bekerja sebagai staf layanan kamar dan Mossef di bagian perawatan, mulai sering bertemu sejak saat itu. Hubungan rekan kerja berkembang menjadi sebuah persahabatan. Saat itu, Katti adalah gadis yang sangat lincah dan cekatan, bertolak belakang dengan Mossef yang cenderung pemalu dan tertutup. Kegemarannya mengikat rambutnya ala ekor kuda, membuat Mossef memanggilnya ‘Ponytail’.
Membuka kembali lembaran ingatan itu, berarti mengorek kembali luka dan sakit hati yang pernah dirasakannya...
“Katti, aku datang padamu sebagai Button yang kau kenal... Maaf. Maaf atas semua sakit hatimu. Maaf aku telah menghancurkan hidupmu. Dan ‘maaf’ karena aku meminta maaf darimu. Bahkan permintaan maafku ini pasti akan terasa lebih menyakitkan untukmu. Hingga aku tidak pantas mendapatkan maafmu.... ”
“Katti, aku akan memungut kembali satu per satu rasa cint....”
“Kamar 381.”
Kata-kata Mossef dipotong dengan cepat oleh Katti. Kebetulan mereka sudah sampai di depan pintu kamar 381 dan Katti juga tidak ingin mendengar kalimat Mossef yang selanjutnya...
Mossef menghela napas dengan berat.
Tidak ada doortag yang tergantung menandakan penghuninya sedang keluar. Dibukanya pintu kamar menggunakan kunci pas karyawan dan dia masuk ke dalam diikuti Mossef. Kamar itu relatif masih rapi, kotoran yang terlihat hanyalah piring dan perabot makan bekas pakai di atas meja. Tapi dia belum memeriksa kamar mandi.
Mossef lebih dulu bekerja, dia mulai mengumpulkan piring kotor dan membersihkan mejanya. Sedangkan Kattibergerak mengecek kamar mandi. Hanya ada handuk basah dan toilet yang tidak disiram dengan benar. Mossef menyusul ke dalam kamar mandi dan memberi isyarat agar Katti keluar, dia sendiri yang akan membersihkan tempat itu.
Katti sedang merapikan posisi gorden saat tiba-tiba pintu kamar dibuka dan masuklah seorang pria paruh baya dengan tinggi sedang dan tubuh agak gemuk. Wajahnya terlihat pucat seperti jarang terkena sinar matahari. Katti mengangguk singkat dan pria itu membalas dengan senyum lebar yang menurut Katti terlihat sedikit berlebihan.
“Teruskan pekerjaanmu. Aku ingin kamarku bersih karena nanti malam aku mengundang tamu penting kesini.”
“Ya, Sir.”
Beberapa menit berikutnya, Katti sedang membungkuk untuk membersihkan sekitar sofa dan meja kopi. Dia sama sekali tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya dari belakang.
Tiba-tiba saja ada sepasang tangan meraba pinggulnya...
Bersamaan dengan pekik kecil terlontar dari mulutnya...
Seketika itu juga Katti membalikkan badannya dan berhadapan dengan pria gemuk, si penghuni kamar...
“Tuan, tolong jangan ket...”
Belum sempat Katti menyelesaikan kalimatnya, tubuh pria itu seperti tertarik ke belakang dan jatuh terjerembab ke atas sofa.
‘Mossef...’
Mossef mendekati pria itu dengan langkah pelan, seperti seekor singa mendekati mangsanya. Wajahnya gelap tertutup kabut amarah, membuat lawannya meringis ketakutan..
“Jangan pernah sekalipun menyentuhkan tangan kotormu pada Katti-ku!” ancamnya dengan suara mendesis yang keluar diantara giginya yang terkatup rapat sambil mencengkeram kerah kemeja lawannya kuat-kuat hingga tubuh pria gemuk itu terangkat berdiri.
Mossef mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa senti saja.
“Kau... kau mau apa?..Ja..jangan macam-macam, aku tamu VIP!..A..a..Aku bisa membuatmu dipecat!” pria itu coba mengancam balik, tapi suaranya terdengar mencicit menghadapi tatapan mematikan dari Mossef.
Katti hanya terpaku di tempatnya berdiri, bukan karena tindakan tak senonoh yang diterimanya tadi, melainkan karena apa yang terjadi di depannya. Seingatnya, Mossef yang dulu dikenalnya bukan pria pemarah apalagi punya nyali bertindak sekasar ini. Dari mana munculnya kekuatan sebesar itu? Apa dulu dia menyembunyikannya atau dia telah berubah? Rasanya, dia tidak kenal dengan Mossef yang sekarang berdiri di depannya...
“Cepat minta maaf padanya!!”
Ditariknya tubuh pria itu hingga berhadapan dengan Katti. Katti terkejut dan spontan melangkah mundur.
“Dia cuma seorang pesuruh...”
Hal berikutnya yang terjadi sungguh tak terduga. Tubuh pria itu kembali terjungkal ke belakang dan jatuh berguling-guling setelah Mossef meninju wajahnya dengan keras. Didekatinya lagi tubuh pria itu yang masih telentang di lantai, lalu dihujaninya dengan pukulan bertubi-tubi ke arah wajah dan perutnya. Persis yang dilakukan seorang petinju, hanya saja lawannya bukan dalam posisi yang sama-sama berdiri.
Katti membeku untuk beberapa saat. Otaknya terlalu shock untuk mencerna. Tubuhnya mematung, tapi gemetar hebat. Dia ingin berteriak untuk menghentikan Mossef menghajar pria itu, tapi yang keluar dari kerongkongannya hanyalah udara kosong.
Pria itu sudah babak belur, tapi Mossef belum berhenti juga...
“Hentikan!” jeritnya setelah berhasil menguasai kesadarannya.
Mossef menghentikan serangannya, tapi tangannya masih mencengkeram dengan kuat kerah kemeja pria itu, membuat tubuh atasnya sedikit terangkat sedangkan tubuh bawahnya sudah lemah lunglai tak bertenaga.
Buru-buru Katti mendekat, membebaskan pria itu dari cengkeraman Mossef dan mendorong tubuh Mossef menjauh. Kemudian dia berlutut di samping tubuh pria itu untuk membantunya duduk.
“Sir, kau tidak apa-apa? Maaf, ini semua hanya salah paham...” kata Katti terbata-bata sambil memeriksa kondisi pria itu. Katti masih belum tahu siapa namanya.
“Dengar, aku akan menuntut kalian! Dan hotel ini! Aku tidak terima sikap kurang ajar ini...! Lihat saja!” balas pria itu dengan suara tidak jelas di antara mukanya yang babak belur.
“Katti, kau tidak perlu minta maaf!! Pria seperti ini tidak perlu dihormati!! Aku akan menghajarnya lagi kalau dia macam-macam...”
Mossef berbicara hampir bersamaan dengan pria itu, bahkan dia sudah siap melayangkan tinjunya sekali lagi andai saja Katti tidak meliriknya tajam dan mengacungkan tangannya menghentikan langkah Mossef yang hendak mendekat..
“Sir, biar kulakukan sesuatu untuk meredakan sakitmu...”
Katti menawarkan bantuan sambil memapah tubuh pria itu yang berusaha berdiri, tapi tangannya ditepis dengan kasar...
Mossef berdiri gelisah dan tak tenang melihat Katti merendahkan dirinya pada pria tak sopan itu yang hampir melecehkan dirinya tadi... Untung saja Mossef tepat waktu saat melihat tangan pria itu mulai meraba pinggul Katti. Dan untung saja hari ini dia menemani Katti, seandainya Katti tadi sendirian.... dia tidak sanggup membayangkannya...
“Ada apa ini?! Aku terima laporan dari kamar lain ada keributan disini...”
Sang manager, Tuan Jan Lundy sudah berdiri di tengah pintu memperhatikan ketiganya.
“Bagus, apa kau yang bertanggung jawab atas karyawan rendahan ini?!”
“Ya, Sir.”
“Kau lihat wajahku! Lihat apa yang dia lakukan padaku! Aku akan menuntut hotel ini! Aku tidak terima diperlakukan begini! Kau pasti dipenjara!!” katanya berapi-api sambil menunjuk-nunjuk Mossef.
“Em, Mr. Thorsen, aku yakin kita masih bisa menyelesaikan dengan cara baik-baik. Anda tidak perlu kuatir. Atas nama hotel, aku minta maaf jika mereka telah mengganggu anda...”
Mr. Lundy berusaha menenangkan pria itu, yang ternyata bernama Mr.Thorsen, tapi sepertinya dia mengabaikannya karena dia sedang sibuk menelpon...polisi...
Mr.Lundy mulai panik saat Mr.Thorsen menyebut-nyebut polisi. Katti dan Mossef adalah tanggung jawabnya, dan sampai saat ini dia tidak tahu akar permasalahan dari keributan itu. Dia menoleh ke arah dua bawahannya. Katti menundukkan kepalanya, sedangkan Mossef masih terlihat emosi. Dia harus bicara dengan keduanya.
“Mr.Thorsen, secara pribadi aku akan mengantar anda ke Rumah Sakit untuk mendapat perawatan.”
“Tidak perlu! Aku sudah menghubungi 112 (policecall) dan 113 (ambulancecall).” Potongnya cepat dengan nada sengit.
“Mr.Thorsen, anda tidak perlu sejauh itu...”
“Aku tidak peduli! Bawa mereka keluar dari kamarku!”
“Baiklah, tapi akan kupanggil staf yang lain untuk merapikan kamar ini lagi.”
“Tidak! Semua ini akan kujadikan bukti tingkah berandalannya pada polisi!”
Mr.Lundy tidak bisa bicara lagi, dia menyuruh Katti dan Mossef keluar. Dia menghadapi masalah yang cukup rumit disini jika melihat bukti-bukti fisik di wajah Mr.Thorsen. Dan jika media sampai mengendus masalah ini karena sudah melibatkan pihak kepolisian, maka nama besar hotel yang dipertaruhkan.
Katti dan Mossef berdiri bersebelahan, dan di depannya Mr.Lundy sedang mondar-mandir dengan gelisah.
“Sebenarnya ada apa ini?!” desaknya dengan nada tak sabar.
“Aku tidak bisa membiarkan Nona Katic dilecehkan oleh babi gendut itu!” jawab Mossef membuat Mr.Lundy melotot marah.
“Kau harus jaga bicaramu anak muda....”
Belum juga menyelesaikan kalimatnya, dua orang polisi dan dua orang paramedis datang ke arah mereka.
“Kami menerima laporan tentang tindak penyerangan dan pemukulan. Siapa diantara kalian yang bernama Sven Thorsen?” tanya salah seorang polisi berseragam itu.
“Dia ada di dalam. Silakan lewat sini.”
Mr.Lundy menunjukkan kamar Mr.Thorsen. Dia tetap di dalam, selama polisi itu melakukan interogasi. Sementara di luar, Katti menunggu dalam diam. Disandarkan punggungnya ke dinding dengan lemas.
“Katti, jangan khawatir. Akan kuselesaikan masalah ini. Kau tidak akan terlibat sama sekali.” Bisik Mossef meyakinkan Katti.
Katti diam saja, tidak menunjukkan reaksi apapun.
Beberapa saat kemudian, paramedis membawa keluar Mr.Thorsen di atas brankar. Dia akan mendapat perawatan lanjutan di Rumah Sakit. Dua orang polisi itu juga menyusul keluar, diikuti Mr.Lundy di belakangnya.
“Mr.Mossef Yazeed?” panggil salah satunya dan Mossef langsung maju, “Tolong anda ikut kami ke kantor untuk memberikan keterangan.”
“Ya.”
Katti melihat salah seorang polisi memborgol tangan Mossef, dan saat itulah dia merasakan sengatan rasa sedih....
Tiba-tiba ada seorang pria muncul entah dari mana dan berhenti di dekat Mossef. Wajahnya datar dan kaku......
“Sir?”
“Urus semuanya.”
“Ya, Sir.”
Pria itu mengangguk hormat pada Mossef.
Katti mengerutkan kening. Penasaran dengan hubungan keduanya juga arti percakapan mereka barusan.
 

****************
  PS: Penulis berhak merubah isi cerita sewaktu-waktu.


Love Protocol Chapter 3

1 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.