Love Protocol Chapter 4 - ChusNiAnTi

Love Protocol Chapter 4




Love Protocol
By Tyas Herawati Wardhani

Chapter 4

Mossef menumpangkan sebelah tangannya di jendela sambil menatap kesal ke arah jalan di depan mobilnya yang sedang melaju. Sedangkan Raouf, duduk di sebelahnya sambil menyetir dalam diam.
Sesekali dia menyisir kasar rambutnya dengan jemari sambil mengumpat dalam hati.
__Sial, gara-gara orang brengsek itu, aku harus membuang waktuku dengan sia-sia di kantor polisi. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak kreatif sama sekali__
“Sir, kenapa tidak anda beritahukan saja siapa diri anda saat penangkapan kemarin?” tanya Raouf tiba-tiba memecahkan keheningan di dalam mobil SUV BMW S Class itu.
“Tidak perlu.”
“Disini anda punya kekebalan diplomatik, ditambah lagi koneksi bisnis anda telah memberi rekomendasi kepercayaan pada nama anda.”
“Aku tahu. Tapi aku tidak akan melakukannya di depan Katti. Dia akan lebih membenciku jika aku bersikap sok hebat, memanfaatkan pengaruh yang kupunya untuk kepentinganku sendiri...”
Mossef menghela napas dengan berat sambil memalingkan wajahnya ke samping, menangkap pantulan buram wajahnya di jendela, lalu melanjutkan dengan suara berat...
“Andai kau lihat wajahnya.... Dia tampak sangat ketakutan... Dan aku merasa bersalah karena gagal menjauhkan pria brengsek seperti itu dari dekatnya....”
Raouf melirik sekilas. Sejak mereka tiba di Oslo, teman sekaligus atasannya ini lebih sering terlihat sedih.
“Seandainya membunuh itu diperkenankan, sudah kuhabisi dia! Tapi aku belum ingin dipenjara dan meninggalkan Katti tanpa perlindungan.”
Tiba-tiba Mossef tertawa sedih....
“Sir?”
“Ironis. Aku tidak ada bedanya dengan si ‘Thoren’ itu. Sama-sama brengsek. Sayangnya, hukuman kematian itu terlalu ringan untuk kesalahanku pada Katti. Yang paling berat adalah jika suatu saat dia memilih pria lain dan bukan aku. Maka saat itulah, kematian yang sebenarnya untukku...”
Beberapa detik dalam keheningan. Hanya dengung halus suara mesin mobil yang terdengar.
“Saya akan mengatur keamanan untuk Miss Katic.” ujar Raouf berinisiatif.
“Tidak perlu. Aku sendiri yang akan menjaganya. Kalau dia sering-sering melihatmu, bisa-bisa dia jatuh cinta padamu.”
Tidak ada nada candaan dalam kalimat itu.
“Saya tidak akan berani.” Jawab Raouf gugup sambil membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba gatal.
“Terima kasih untuk hari ini. Kerjamu cepat seperti biasa.”
“Ya, Sir.”
“Apa dia melawan?”
“Tidak. Dia cukup pengertian.”
Raouf mengingat kembali percakapannya tadi siang dengan Tuan Sven Thoren, pria yang telah membuat atasannya dipenjara semalam.
“Kau menerima dana investasi properti dari sepuluh orang klienmu sebesar 600.000 krone sebulan yang lalu, tapi uang itu tidak ada di rekening kantormu, sub kontraktormu maupun rekening pribadi atas namamu. Ternyata uang itu kau masukkan ke sebuah rekening bank di Cayman Island atas nama ayahmu. Yang anehnya dan kau pasti tahu, ayahmu menderita Alzheimer sejak lima tahun lalu. Mana mungkin ayahmu mampu mengingat tanda tangannya sendiri, apalagi sederet nomor rekening..?!”
Raouf membeberkan informasi yang berhasil dia kumpulkan bersama dengan dua akuntan forensik mereka di Daha.
Ancamannya langsung mengena, terlihat dari ekspresi Tuan Thoren yang menatap nanar semua berkas bukti penipuannya yang dijajar di atas ranjang perawatannya.
Tuan Thoren sendiri makin bingung, dia tidak kenal pria yang berdiri di depannya. Lima menit yang lalu, tiba-tiba saja dia masuk dan memperkenalkan namanya sebagai Raouf Maliq. Sekarang dia membeberkan semua rahasia kotor yang bahkan tidak pernah dia ceritakan pada siapapun.
“A..a..apa yang kau inginkan??!”
Tanyanya terbata-bata, mulai merasa ngeri membayangkan jika semuanya terbongkar.
“Cabut tuntutanmu pada Tuan Mossef Faraz Yazeed.”
“Siapa dia?! Aku tidak kenal! Dan aku juga tidak punya urusan dengan siapapun yang ..!”
“Dia adalah pria yang memberi tanda di wajah dan perutmu.”
Sekali lagi matanya membelalak. Tak sadar tangannya mengusap-usap memar yang mulai membiru di atas rahangnya. Merasakan rasa sakit dan panas pada lukanya kembali membuatnya teringat pada pria muda yang menghajarnya kemarin.
“Cabut laporanmu siang ini atau semua berkas ini berpindah tangan pada...”
“Oke..oke...akan kulakukan...”
Jawabnya gugup sambil mengumpulkan semua berkas itu dan menyembunyikannya di bawah selimut yang menutupi setengah badannya.
Pria di depannya ini jauh lebih muda, mungkin kurang dari setengah umurnya. Tapi sikapnya yang dingin dan kepribadiannya yang terkesan misterius membuat dirinya, seorang pria yang jauh lebih tua, mengkerut seperti anak kecil yang kepergok mengutil permen di sebuah toserba.
Tn.Thoren tidak bisa menutupi rasa takutnya menghadapi ancaman halus Raouf Maliq. Keringat dingin mulai muncul di dahinya, bibirnya kering dan beberapa kali dia menelan ludah dengan gugup. Bola matanya bergerak-gerak gelisah, bergantian menatap Raouf, berkas-berkas di bawah selimutnya dan juga pintu keluar. Berpikir seandainya dia punya pilihan, dia memilih lari saja dari masalah ini.
“Siang ini...” sergahnya cepat.
Raouf menaikkan ujung bibirnya sedikit, namun bukan sebuah senyuman yang terlihat.
“Cepatlah sembuh.” Katanya dingin, tidak benar-benar bermaksud seperti yang dikatakannya.
Lalu dia mulai berjalan keluar...
“Tunggu! Siapa kalian sebenarnya?!”   
“Mimpi burukmu.”
Dan Raouf menutup pintu di belakangnya.
Gertakan itu berhasil. Mossef sudah bebas pada sore harinya dan sekarang dia sedang duduk di sebelahnya di dalam mobil sewaan itu.
“Sir..?” panggil Mossef tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
“Ya. Katakan saja.”
“Sebenarnya anda kenapa?”
“Aku tidak bisa menahan diri. Saat kulihat tangan pria itu menyentuh Katti, aku sangat marah dan yang terpikir hanya ingin menghajarnya habis-habisan... Aku tahu hati Katti masih terluka dan tidak akan kubiarkan orang lain menambah lukanya.... ”
“Jadi, sebenarnya anda marah padanya atau pada diri anda sendiri?”
Mossef menghembuskan napasnya dengan berat, tampak berpikir sambil matanya memandang kosong ke arah jalan di depannya..
“...Keduanya..”
Mossef kembali terpekur dalam pikirannya sendiri. Menilai kebenaran dari pertanyaan Raouf yang terakhir.
Tujuh tahun mengelola bisnis globalnya, Mossef berhasil dengan baik menampilkan emosi yang terkendali di depan kolega dan pesaing bisnisnya. Sepelik dan sesengit apapun intrik dan permasalahan yang dihadapinya, dia selalu tampak tenang dan dingin. Seakan emosinya tak tersentuh. Jika memang ada kemarahan tertahan, dia akan melampiaskannya di gym atau di atas ring. Baginya, seorang pria yang mengumbar emosinya sama dengan memamerkan kelemahannya sendiri. Dan seorang pria yang bisa mengendalikan dirinya dalam situasi paling genting, maka dialah yang paling kuat.
 “Sir, Dewan Komisaris menunggu penjelasan anda tentang insiden ini.” ujar Raouf tepat saat atasannya membuka pintu saat mobil itu berhenti di Grand Hotel.
“Nanti.” jawab Mossef tanpa menoleh.
Setengah berlari, Mossef langsung menuju ke base karyawan. Dia harus segera menemui Katti dan menjelaskan semuanya.
Tapi Katti tidak ada disana.
“Kau lihat Katti?” tanyanya pada salah satu staf wanita yang kebetulan lewat.
“Dia tidak masuk hari ini.”
“Kau tahu alasannya?”
“Tidak, tanyakan saja pada Tn.Lundy..”
Sial. Kuharap Katti tidak diperlakukan salah gara-gara masalah kemarin.
Mossef menuju ruangan Tn.Lundy dan dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu.
“Ah... Tn.Yazeed...”
“Apa yang kau lakukan pada Miss Katic!” hardiknya tanpa peduli bahwa orang di depannya beberapa tahun lebih tua darinya.
“Begini, demi ketenangan bersama dan sampai masalah ini selesai, aku memintanya untuk sementara beristirahat  di rumah.”
“Kau sadar apa yang kau lakukan?! Menskorsnya?! Sama saja kau anggap dia yang bersalah!”
“Begini Tn.Yazeed...”
“Kembalikan pekerjaan Miss Katic!!.” tukasnya dengan nada sedikit mengancam.
“Tapi Dewan Komisaris...”
“Aku yang akan bicara pada mereka.”
“Baik.”
Mossef berbalik hendak pergi.
“Sir, maaf kalau saya tidak sopan. Apakah ada hubungan khusus antara anda dengan Miss Katic?” tanya Tn.Lundy menahan langkahnya.
“Ya. Aku sedang mengusahakan hubungan yang sangat dekat dengannya. Jadi, jika kau membantuku, aku akan sangat menghargainya.”  
Mossef berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Wajahnya kusut dan badannya terasa lengket semua. Satu malam yang dilewatkan di kantor polisi terasa sangat panjang dan melelahkan.
Raouf sudah berdiri menunggunya di depan pintu kamarnya.
“Ibu anda menelpon lima menit yang lalu. Direktur Grand Hotel, Tn.Ole Vonner Ostberg, menjadwalkan makan malam dengan anda beserta seluruh Dewan Komisaris di penthouse jam sembilan.” lapor Raouf pada atasannya yang terus berjalan menuju kamar mandi.
Mossef memutar kran shower dan air hangat seketika membasahi tubuh dan pikirannya yang lelah. Mandi menjadi harapannya untuk bisa memulihkan tenaga dan menyegarkan otaknya.
Andai saja dia seorang pria yang lebih baik, mungkin saja semuanya tidak akan seperti ini.
Entah sampai kapan dia akan berada di sini, meninggalkan Ibu dan adiknya di Daha. Karena kali ini tidak sama dengan perjalanan bisnis yang sebelumnya sering dia lakukan. Terbang dari satu negara ke negara lain. Dalam satu minggu dia bisa berpindah tempat hingga tiga kali. Sekarang, dia bahkan tidak tahu kapan dia akan pulang. Karena dia takut, jika dia pergi, dia tidak akan bisa menemukan Katti lagi.
“Pertemuannya masih dua jam lagi.” Ujar Raouf saat melihat Mossef sudah siap dengan setelan resminya yang dipesan khusus pada desainer langganannya.
“Tidak apa. Kita akan menikmati minuman hangat sambil menyusun semua informasinya. Cuaca dingin ini sedikit mengganggu.”
Dua jam mereka menikmati minuman hangat sambil menyusun semua data yang diperlukan untuk rencana investasi Al-Khaarajj Group, perusahaan yang dibangunnya sekaligus dia adalah pemegang saham terbesarnya. Grand Heritage Hotel berencana melakukan ekspansi bisnis mereka dengan membangun sebuah resort ski besar di kaki pegunungan Galdhopiggen. Dan mereka menawarkan kesempatan investasi bagi Al-Khaarajj dengan margin keuntungan yang cukup menjanjikan.  
Berawal dari sanalah, tanpa sengaja Mossef menemukan keberadaan wanita yang selama ini dicarinya. Dari sekian banyak usaha yang dikerahkannya, keberhasilannya datang dari hal yang paling tidak diperhitungkannya. Mungkin semua hanya kebetulan, atau mungkin juga Tuhan memberinya jalan dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya.
Diputuskannya untuk menerima penawaran pihak Grand Heritage Hotel. Bukan demi bisnisnya, melainkan demi Katti-nya. Mengenai andil perusahaannya, masih harus dirundingkan lagi, dan itu akan dilakukannya malam ini.
Bukan hanya satu jam, makan malam bisnis itu berakhir hampir tiga jam kemudian. Ada perundingan yang cukup alot antara Mossef, direktur Grand hotel dan tiga orang Dewan Komisaris. Hasilnya sesuai harapan, para petinggi Grand Hotel tunduk pada ketentuan yang disyaratkan Al-Kharajj Group. Mengingat nominal investasi yang dijanjikan mampu menutup biaya pembangunannya. Sedangkan mengenai insiden kemarin, tidak ada yang membahasnya lagi.
Usai makan malam, Mossef enggan kembali ke kamar hotelnya, padahal dia tahu, tubuhnya butuh istirahat malam ini.
“Sir..?”
Tanya Raouf yang berjalan tepat di belakangnya.
“Aku ingin keluar sendirian malam ini...”
Raouf mengangguk mengerti.
Mobil SUV hitam itu menggelinding pelan membelah jalanan ibukota Norway. Siluet lampu-lampu jalan seakan bergerak meliuk di kanan kirinya. Langit tak berbintang menyelimuti kota yang tenang ini. Aroma musim dingin menguar di udara menghembuskan kesejukan yang membeku.
Mossef menikmati kesunyian ini. Kesenyapan yang mewakili perasaannya. Bila malam selalu menanti datangnya pagi demi secercah sinar dan kehangatan, begitu juga dengan hidupnya... menanti sang cinta mengukir seulas senyum pada dirinya.
Mobil itu berhenti di tempat yang sama seperti tiga hari yang lalu. Dia matikan mesin mobilnya, lalu mengatur sandaran duduknya dan merapatkan kerah mantelnya. Sekali lagi dia mengarahkan pandangannya hanya ke arah itu, lantai tiga jendela paling kanan. Lampunya masih menyala...
Di dalam apartemennya, Katti sedang duduk memeluk lututnya menghadap televisi yang sedang menayangkan opera sabun. Tapi Katti sama sekali tidak menikmatinya.
Dia menoleh saat mendengar pintu apartemennya terbuka.
Lola masuk dengan wajah lesu.
“Kupikir kau menginap di tempat Hansen...”
“Kami putus.”
Jawab Lola singkat. Dan Katti hanya bereaksi ‘O’ dengan mulutnya.
Lola duduk menghempaskan dirinya di samping katti sambil menyeruput sekaleng bir yang diambilnya dari lemari es.
“Kau sedih?”
“Sedikit...”
Katti tidak bertanya lagi. Untuk beberapa saat, mereka sama-sama menatap kosong pada layar televisi. Larut dalam pikiran masing-masing.
“Lola...di tempatmu butuh orang baru?”
“Aku tidak tahu. Kenapa?”
“Aku ingin pindah kerja.”
Lola menoleh pada Katti dengan pandangan bertanya-tanya.
“Kenapa? Apa ada yang mengganggumu disana?”
“Ada sedikit masalah dan sekarang aku diskors.”
“APA!!” teriak Lola terkejut. Sulit membayangkan temannya ini terlibat dalam suatu masalah hingga diskors.
Katti ragu akan menceritakan semuanya atau tidak.
“Ada seorang tamu yang menggangguku, dan ada orang lain yang kebetulan melihatnya menjadi marah dan menghajar orang itu. Dan sekarang orang itu ditahan oleh polisi. Manager menganggapku sebagai pihak yang menyulut keributan itu.”
“Tunggu, aku tidak paham. Ada dua orang pria, yang satu mengganggumu dan yang lainnya membelamu. Tapi kau yang disalahkan. Jadi...ceritakan padaku seperti apa sang pahlawan ini...” goda Lola sambil mengedip-kedipkan matanya dengan genit.
“Bukan itu masalahnya...”
“Apa dia juga tamu? Rekan kerjamu? Apa dia tampan? Dia pasti terlihat hebat saat....”
“Lola, aku tidak....”
“Apa dia pengirim bunga itu?”
“BUKAN! Dia hanya seseorang yang kebetulan lewat saja...”
“Apa kau sudah menemuinya lagi? Mengucapkan terima kasih? Dia sudah membelamu sampai ditahan polisi.. Apa kau tidak memikirkan keadaannya?”
 “Aku tidak memintanya membelaku! Dan TIDAK, aku tidak akan menemuinya lagi!” tukas Katti sedikit terpancing emosi.
Lola terdiam, tak menyangka gurauannya membuat Katti sedikit emosi.
“Maafkan aku. Aku hanya menggodamu.”
“Aku juga minta maaf. Aku menanggapinya terlalu berlebihan.” balas Katti juga merasa bersalah.
Mereka saling tersenyum dengan canggung.
“Besok akan kutanyakan apa ada lowongan di tempatku...”
“Terima kasih.”
Lola beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamarnya. Tiba-tiba saja dia berbalik dan berjalan cepat ke arah jendela. Melalui tirai tipis itu, dia seperti mengamati sesuatu di jalanan di bawah sana.
Katti mengernyitkan kening,  heran melihatnya.
“Ada apa?”
“Beberapa hari ini aku merasa ada orang yang sedang membuntutiku. Coba kau lihat keluar, SUV hitam itu sepertinya juga ada disana kemarin...”
Katti ikut-ikutan mengintip keluar. Dia memang melihat sebuah SUV BMW hitam terparkir di seberang jalan.
“Banyak yang memiliki SUV hitam, bisa saja itu milik seseorang di sekitar sini...” kilahnya.
“Ya..kau benar....” Jawab Lola ragu.
Setelah itu, tidak ada lagi yang membahas tentang SUV hitam.
Hingga keesokan malamnya....
“Apa rencanamu besok?” tanya Lola saat mereka menikmati makan malam di sebuah kedai yang menyediakan salad dan burger yang cukup enak.
“Aku tidak tahu. Aku mengirimkan email surat pengunduran diriku tadi pagi.”
“Kau benar-benar yakin berhenti dari sana?! Mungkin saja masalahnya sudah selesai..”
“Aku tidak nyaman lagi disana.”
Lola mengamati wajah Katti yang sedang menikmati suapan salad terakhirnya.
“Tidak biasanya kau seperti ini. Sebelumnya tidak ada hal apapun yang bisa mengusikmu. Dan aku kagum padamu. Tapi sekarang.....seperti kau sedang menghindari sesuatu. Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita, tapi kau bisa mengandalkanku jika butuh dukungan...”
Katti sengaja menghindari tatapan Lola yang menyelidik.
“Mungkin aku hanya butuh suasana dan teman yang baru.”
“Selama tujuh tahun kita berbagi apartemen. Aku tahu betul sifatmu yang satu itu. Kau bukan tipe wanita yang butuh teman demi selapis perhatian. Bahkan belum pernah sekalipun aku merasa kau membutuhkan aku sebagai teman...”
“Lola...maaf kalau kau merasa sikapku seperti itu. Tapi percayalah, aku sangat beruntung bisa mengenal dan berteman denganmu...”
“Terima kasih. Kau bisa memulainya sekarang, membuatku merasa menjadi temanmu, jika kau mau berbagi masalahmu denganku... Mungkin bantuanku tidak terlalu berarti, tapi seperti itulah teman, kadang mengganggu kadang juga bisa membantu...”
Katti tersenyum lemah dengan sedikit menunduk, matanya menatap gelas di depannya yang memantulkan cahaya lampu di langit-langit.
“Aku tidak tahu harus memulai ceritaku dari mana...”
“Apa kau sedang jatuh cinta?”
“Tidak.”
“Apa kau pernah?”
“Ya.”
“Melihat ekspresimu, sepertinya itu bukan kenangan yang layak diingat....”
“Begitulah.”
“Dan sekarang kau berusaha menghindari perasaan itu.”
“Aku tidak tahu bagaimana menyebutnya....”
“Tapi Katti, pria yang baru belum tentu sama dengan pria yang lama... Itu berdasarkan pengalamanku dengan banyak pria..”
“Pria ini adalah orang yang sama tapi juga berbeda...”
“Makudmu?”
“Nama yang sama, suara yang sama, tapi wajah dan sikapnya berbeda...”
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan sekarang?”
“Pergi sejauh mungkin...”
“Kenapa kau tidak berdiri saja di tempatmu sekarang, tunjukkan padanya kau mampu bertahan. Dan kau tidak terpengaruh dengan kehadirannya...”
“Sudah kulakukan, tapi makin lama rasanya tetap saja menyakitkan.”
Mereka terdiam. Katti menunduk sambil memainkan cangkir kopi di depannya, sedangkan Lola bersandar di kursinya sambil memandang bersimpati pada temannya itu.
Setelah menyeruput teguk terakhir kopi di cangkirnya, Katti mengajak Lola untuk segera pulang.
“Aku ingin cepat istirahat malam ini, besok aku ada pekerjaan di Auto Exhibition.” Ujar Katti sambil melingkarkan syal di lehernya begitu menjejakkan kaki di trotoar.
Udara dingin membuat napas mereka beruap.
Mereka sengaja berjalan dengan langkah cepat agar tubuh mereka tetap hangat di tengah cuaca awal musim dingin di Norway.
Belum seberapa jauh mereka berjalan, tiba-tiba, secara bersamaan, mereka saling menoleh karena merasa ada langkah kaki yang membuntuti tepat di belakang mereka.
“Tenang, bersikaplah biasa saja..”
“Apa kau punya rencana?”
“Satu blok lagi ada sebuah gang kecil menuju ke bagian belakang sebuah motel. Kita berbelok disana dan menghadangnya. Janganlupa, siapkan sesuatu untuk melindungi dirimu.” Bisik Katti sambil terus berjalan.
Tepat di sebuah gang kecil dan gelap yang dikatakan Katti, mereka berbelok dan merapatkan tubuh mereka di dinding.
Langkah kaki itu makin dekat...
Siluet seorang pria...
Berhenti....
Dan berbalik...
--Blak..blak...
“Oughh...”
Orang itu membungkuk untuk menghindari lemparan yang lain...
“Katti....”
Suara itu....
“Katti, hentikan! Ini aku..”
Tangan Katti yang sedang memegang sebuah batu bata terhenti di udara begitu mendengar namanya lah yang disebut...
Lola yang juga ketakutan, berdiri di sebelahnya, berpegangan erat pada lengan kiri Katti.
Pelan-pelan orang itu berusaha menyeimbangkan tubuhnya, lalu dia berusaha menegakkan bahu dan kepalanya .
“Katti, ini aku Mossef...”
Tepat setelah itu, awan yang menutupi cahaya bulan mulai tersibak, dan berkas sinarnya jatuh tepat menerangi wajah pria itu.
--Mossef...---
Katti tidak lagi terlihat ketakutan, sekarang wajahnya nampak kembali dingin.
“Ayo kita pergi...”
Dengan bingung, Lola memandang bergantian antara Katti dan pria itu.
Belum sempat berpikir terlalu jauh, tiba-tiba Katti sudah menarik tangannya dan mengajaknya pergi.
“Katti, tunggu, aku ingin bicara...”
Katti tidak menjawab dan terus berjalan pergi bersama Lola yang ikut terseret langkahnya di sampingnya.
Langkahnya setengah berlari hingga lebih dari dua blok kemudian...
Dengan satu gerakan cepat, Mossef membalik tubuh Katti dengan paksa.
“Tidak apa kau mengacuhkan aku, tapi lihatlah kakimu. Jangan paksakan melangkah dengan kaki kesakitan seperti itu.”
Katti menunduk dan melihat kakinya yang tanpa alas. Dia ingat, tadi melepas sepatunya dan melemparkannya pada orang yang dikiranya penguntit. Sekarang baru terasa sakitnya. Kakinya berdarah karena kedinginan.
Mossef menarik lembut tangan Katti dan mendudukkannya di sebuah undakan batu di depan sebuah apartemen. Lalu pria itu berlutut di depannya.
“Untuk sementara pakailah ini dulu.”
Mossef melepas sepatunya dan akan memakaikannya pada Katti.
Refleks Katti menekuk jari-jari kakinya begitu jari Mossef yang terasa kasar menyentuhnya.
Melihat gerakan kecil yang manis itu, Mossef menengadahkan wajahnya dan tersenyum lembut pada Katti...
“Tidak apa-apa...”
Tanpa canggung, Mossef mulai memasangkan sepatunya pada kaki Katti. Dengan lembut dan tanpa merasa jijik, dia bersihkan lebih dulu kaki Katti dari kerikil yang menempel di telapaknya, kemudian barulah dia memasukkan kaki Katti ke dalam sepatunya. Kepalanya menunduk dalam, membuat Katti dengan leluasa memperhatikan rambutnya yang tebal. Dia membayangkan seberapa sering tangan wanita itu tenggelam dalam ketebalan rambut itu. Dan pemikiran itu menghadirkan kembali rasa sakit yang pernah dia rasakan dulu.
“Tentu saja, sepatunya lebih besar, tapi setidaknya kakimu hangat dan terlindungi. Kalau kau ijinkan, aku bisa mengantarmu pulang...”
“Tidak perlu.”
“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi aku akan mengikutimu dari belakang, hingga kau sampai dengan aman di apartemenmu.”
**********

Love Protocol Chapter 4

2 comments:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.