My Heart Belongs to You - Part 10 ~ By : Erinda - ChusNiAnTi

My Heart Belongs to You - Part 10 ~ By : Erinda










Wajah mereka semakin dekat, Jihan hanya diam karena tiba-tiba ia merasa gugup, perutnya tiba-tiba melilit dengan keadaan mereka yang terlalu dekat seperti ini juga pandangan James yang terasa menusuk jantungnya.
“Ka-kamu,,” Jihan tergagap
^^^
Hingga,,, “Aunty belum memasang seat belt” Bisik James lalu ia memasangkan seat belt  Jihan
“Eem,, Te-terima kasih. Aku pikir,,,” Jihan tidak melanjutkan kata-katanya, hampir ia keceplosan mengatakan kalau tadi dirinya sempat berpikir yang iya-iya tentang mereka
“Hhmm,,, Apa yang Aunty pikirkan?”
“Ah tidak ada. Ayo kita pulang sekarang” Sahut Jihan cepat dan berusaha mengendalikan detak jantungnya yang seperti sehabis melakukan marathon.
 

James tidak bertanya lagi, ia kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Jimmy” Panggil Jihan, ia tidak pernah merasa nyaman dengan suasana yang hening seperti ini
“Ya?” James menjawab tanpa mengalihkan pandangan-nya dari depan
“Kamu baru pulang dari Resto ya tadi? Kok bisa lewat situ? Kan jalannya beda. Emang kamu abis darimana?” Cerocos Jihan seperti biasanya sedangkan James hanya tersenyum tipis mendengarnya dengan tetap menatap kearah depan
“Yeee,, Ditanya malah senyum-senyum. Untuk ganteng… Upss” Jihan keceplosan di akhir kalimantnya dan dengan reflek menutup mulutnya dengan salah tingkah, namun ia kembali memasang wajah biasa untuk menutupi rasa malunya
“Mending senyum manisnya sambil liat aku, biar gak mubazir” Gumam Jihan pelan
“Apa?”
“Eh,,, Gak apa-apa. Hehehe. Udah buruan jawab pertanyaan aku tadi” Desak Jihan lagi
“Aku sengaja lewat sana tadi”
“Ngapain?”
“Menjemputmu” Kata James tenang


BLUSH
 Astaga,.. Jihan merona mendengarnya

“Turunlah” Kata James kemudian
“Eh?”
“Kita sudah sampai”


Dengan cepat Jihan melepas seat belt nya bahkan ia hampir melompat saat turun dari mobil, lalu ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju pintu rumahnya.
Semua itu tidak lepas dari perhatian James “Dia sungguh menggemaskan. Ya Tuhan”

Dan kini James mulai terbiasa dengan panggilan “Jimmy” dari Jihan, ia justru merasa berbeda bahkan spesial saat Jihan memanggilnya dengan nama itu. Nama itu, yang hanya Jihan yang memanggilnya.
^^^
Esok harinya,..
Jihan dan James tengah menikmati sarapan mereka seperti biasa saat Sugeng tiba-tiba sudah hadir di tengah-tengah mereka

“Sugeng?”
“Tentu saja, siapa lagi,, Selamat pagi Manis” Kata Sugeng dan mengambil tempat duduk di sebelah Jihan
“Hai James” Tidak lupa Sugeng menyapa James yang duduk tepat di hadapan Jihan


James hanya menganggukan kepala dan meneruskan memakan sarapannya tanpa berniat ikut berbasa-basi dengan Sugeng. Karena itu sama sekali bukan tipe seorang James, dia paling anti berbasa-basi.

“Dirumah kamu gak ada yang masakin emang? Pagi-pagi udah minta makan dirumah orang aja” Kata Jihan jutek pada Sugeng yang dengan “sopan” nya sudah ikut makan bersama dirinya dan James
“Gimana kalo kamu aja yang masakin buat aku, Manis” Jawab Sugeng tanpa “tersungging” sedikitpun atas perkataan Jihan
“Dich,, Masa cantik-cantik gini disuruh jadi tukang masak kamu doang”
“Aku sih maunya jadiin kamu Ratu dirumahku sekalian” Jawab Sugeng enteng dan Jihan melotot kearahnya.


“UHUK UHUK” James tersedak, Jihan segera membantunya mengambilkan air minum untuk James
 

“Aku bisa sendiri, Aunty” Tolak James dan setelah itu ia pergi meninggalkan Jihan dan Sugeng yang masih berada di meja makan tanpa berpamintan lagi
“Kamu tuh ya kalo ngomong” Omel Jihan
“Kenapa? Aku serius kok” Balas Sugeng tak mau kalah
“Au ah,.. Yaudah, yuk kamu anterin aku ke Boutique sekarang, udah kenyang kan? Aku mau ke kamar dulu ambil tas” Kata Jihan sambil berlalu
“Dengan senang hati aku akan mengantarmu Ratu-ku” Jawab James sambil menaik-turunkan alisnya dengan menggoda
“Sugengggg” Kesal Jihan
“Hahhaaahaa”


Sugeng bukan tidak menyadari seperti apa pandangan James padanya sejak tadi, bahkan saat ia pertama kali bergabung untuk sarapan James sudah menunjukannya, sepertinya pria itu merasa terganggu atas kehadirannya di tengah-tengah mereka, belum lagi saat ia bercanda dan menggoda Jihan tadi.

“Ada apa dengan pria itu? Kenapa ia terkesan seperti kekasih Jihan, sangat posesif” Gumam Sugeng

“Heeyy.. Diem aja, ntar nganyut loh” Gurau Jihan sambil menepuk pundak Sugeng
“Hahaa… Bisa aja kamu. Yuk”
“Yuk”

^^^
Selama di perjalanan Jihan memikirkan tingkah James yang tiba-tiba aneh pagi ini
“Tadi sebelum Sugeng datang, dia baik-baik aja kok. Kenapa jadi berubah aneh gitu sih waktu Sugeng kerumah, bukannya udah biasa ya Sugeng godain aku kayak gitu. Dia malahan gak pamit mau berangkat kerja tadi, gak kayak biasanya. Hufhh,,” Batin Jihan

“Jihan” Panggil Sugeng pelan
“Ya?”
“Nanti malam, kamu ada acara gak?”
“Emm,, Kayaknya gak ada deh. Kenapa?”
“Kita dinner yuk”
“Eh,, Dalam rangka apa nih?”
“Eem,, Rumah produksi ku dipercaya untuk ikut andil dalam sebuah proyek film di Hollywood”
“Wow!!! Keren banget! Selamat ya…” Kata Jihan senang
“Terima kasih. Jadi?”
“Mau, aku pasti datang. Dimana acaranya? Apa semua rekan dan artis-artis mu juga hadir disana?” Tanya Jihan antusias
“Tidak. Hanya kamu dan aku. Jangan menolak, tadi kamu udah bilang mau loh” Jawab Sugeng yang membuat Jihan penasaran
“Eh maksudnya gimana sih?”
“Nanti malam aku jemput kamu jam Delapan. Sekarang turunlah, kita udah sampai di Boutique kamu”
“Iisshhh… Dasar bule gak jelas. Yaudah, aku turun dulu”
“Hey,, Jangan cemberut gitu, Manis. Jangan lupa nanti malam” Kata Sugeng dan mengedipkan sebelah matanya menggoda Jihan
“Iyeeee”

^^^
Di kantornya, Sugeng mulai sibuk dengan persiapan proyek besar mereka di USA minggu depan. Bagi siapapun yang berkecimpung di industri perfilm-an, maka hal yang paling ingin mereka capai adalah Hollywood, setidaknya ikut bekerja sama dengan salah satu perusahaan film besar disana sudah sangat cukup, itu adalah sebuah pencapaian karir yang sempurna. Itulah yang dirasakan Sugeng, namun ada sesuatu yang mengganjal dihatinya saat ini yaitu, Jihan.

Bagaimanapun, ia akan menetap disana selama beberapa bulan kedepan demi pekerjaan baru tersebut. Sugeng yang mulai terbiasa dengan omelan serta ocehan Jihan padanya setiap kali ia menggodanya, bahkan selama ini Sugeng bisa menemui gadis itu kapanpun dia mau.

Tak bisa dipungkiri bahwa cintanya pada gadis itu semakin bersemi dihatinya. Ingin rasanya ia memiliki Jihan hanya untuk dirinya dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Yah, pernikahan. Hal yang bahkan tidak berani ia bayangkan dulu namun kini ia sangat menginginkan ikatan tersebut, hanya pada Jihan. Karena ia tahu, Jihan adalah gadis yang terhormat dan ia sangat menghargainya. Menikahinya adalah hal paling tepat yang harus ia lakukan jika ia ingin memiliki gadis tersebut. Tapi masalahnya adalah, apakah Jihan bersedia menjadi istrinya, Sugeng bahkan tidak tahu bagaimana perasaan Jihan padanya hingga saat ini.

Sugeng memperhatikan sebuah amplop yang sangat ia harapkan agar tidak sampai menggunakannya.

Amplop itu berisi sebuah tiket penerbangan ke Amerika atas namanya dengan jadwal penerbangan malam hari ini. Tiket tersebut sudah ia beli beberapa hari yang lalu, karena bagaimanapun ia tetap harus berpikir rasional. Menurut Sugeng, jika nanti Jihan menolak lamarannya. Ia berniat untuk pergi ke Amerika dan memulai pekerjaannya disana. Dan seperti yang kita tahu bahwa sebuah tiket penerbangan keluar negeri apalagi itu untuk ke Amerika tidak bisa dibeli secara mendadak, Sugeng hanya menyiapkan opsi lain untuk dirinya walau sebenarnya ia tidak berharap itu terjadi. Ia ingin pergi ke Amerika bersama Jihan.

Semua itu bukan karena Ia tidak mau berjuang demi cintanya, tapi pekerjaan ini juga penting untuk perusahaan yang telah dirintisnya dari nol.

“Ya Tuhan. Yang kuinginkan hanyalah dia bersedia menerima ku sebagai suaminya. Karena yang kuinginkan untuk menjadi istriku hanya dia. Dia, Jihan Amanda Anthony” Kata Sugeng penuh harap.
^^^
Jihan, ia tampak sibuk membuat pola untuk design gaun terbarunya yang ia targetkan bisa ia lihat wujud dalam bentuk baju bulan depan.
Yah, tidak mudah memang membuat baju. Sesimple apapun design baju tersebut, pasti memiliki cerita dan kendala tersendiri dalam segala prosesnya.

Mulai dari mencari inspirasi untuk membuat design yang seperti apa sampai akhirnya baju tersebut siap dipasarkan, kendala pasti akan selalu muncul.
(Dasar author MD) *abaikan


Dan Jihan, walaupun ia masih terbilang junior di boutique tersebut, namun baju-baju yang ia hasilkan tidak kalah dengan design dari para seniornya. Ia sangat menjunjung tinggi kesempurnaan dalam semua design yang ia hasilkan, ia juga tidak tanggung-tanggung dalam menghasilkan suatu gaun.

“Jihan, ada yang jemput kamu tuh diluar” Kata salah satu rekan kerja Jihan sambil berlalu hendak pulang
“Eh emang sekarang jam berapa?” Tanya Jihan bingung
“Jam Lima, Neng” Kali ini Tiara yang menyahuti Jihan


Mendengar itu Jihan segera membereskan pekerjaan-nya, pola yang belum selesai dikerjakan, akan ia lanjutkan nanti dirumah. Mumpung hari ini mood-nya sedang bagus, ia harus menyelesaikannya dengan segera agar bisa diserahkan pada Mrs Law untuk di-review terlebih dahulu sebelum ia meneruskan proses gaun tersebut ke tahap selanjutnya.

“Ciyeee,, Dijemput siapa tuh di depan. Ganteng bener” Goda Tiara yang sudah bersiap untuk pulang dengan tas kerja yang tersampir bahunya
“Ciyeee,, Emak-emak kepo” Goda Jihan balik
“Siapa sih Jihan, apa itu yang dibilang “Tunggu tanggal mainnya” kemaren?” Tanya Tiara penuh selidik
“Hahhaa,, Tunggu aja” Kata Jihan sambil berlalu meninggalkan Tiara yang masih sangat penasaran

“Ngapain Sugeng jemput kesini? Tadi pagi katanya mau jemput aku aja dirumah ntar malem. Hhmm,,, Dasar bule labil” Gumam Jihan dan keluar dari Boutique

Tapi baru beberapa langkah ia keluar, kening Jihan berkerut heran. Bukan Sugeng yang menjemputnya seperti yang tadi ia kira, tapi,..
“Jimmy?”
“Hi Aunty”

“Silahkan masuk” Kata James sambil membukakan pintu mobilnya pada Jihan, James seakan tidak perduli dengan tatapan bingung Jihan padanya.
“Ehem,, Kok tumben kamu jemput aku di Boutique?” Tanya Jihan
“Aku ingin mengajak Aunty melihat perkembangan Anthony Restaurant, semua sudah hampir selesai. Aunty harus melihatnya” Kata James datar seperti biasanya

“Sekarang?” Jihan memastikan
“Hhmm” James hanya bergumam sebagai jawabannya


“Yahh,, Gimana nih, aku kan harus siap-siap buat dinner sama Sugeng. Gak bakal keburu kalo mau ke Resto dulu, itu kan jauh banget jaraknya. Tapi gak enak juga kalo nolak ajakan Jimmy, ini kan usaha keluarga, kesannya nanti aku kayak gak perduli. Si Sugeng emang gak liat-liat sikon nih kalo ngajak orang. Hadeeehhhh… Gimana dong.” Jihan tampak berpikir dan gelisah

“Kenapa Aunty?” Tanya James yang menyadari gelagat aneh Jihan
“Eem,, Anu,,”
“Anu?”
“Itu,,,”
“Itu?”
“Duh, gimana ya, Jim”
“Ada apa sebenarnya?” Tanya James mulai memperlambat laju kendaraannya, firasatnya mengatakan Jihan agak keberatan dengan ajakannya tadi.


“Jujur aja kali ya” Batin Jihan

“Eem,, Sebenarnya aku ada janji makan malam sama seseorang nanti” Kata Jihan akhirnya
“Seseorang? Sugeng?” Tanya James yang langsung menepikan mobilnya
“Iya, nanti malam jam Delapan dia mau jemput aku di rumah” Jawab Jihan, sedetik kemudian ia menggigit bibirnya. Entahlah, ia merasa tidak enak pada James. Dan itu membuat hatinya tidak nyaman, ia merasa seperti meninggalkan kekasihnya demi pergi bersama pria lain. Astaga,.. Apa ini, Jihan?!


James tidak berbicara lagi, ia segera langsung memutar balik arah mobilnya menuju rumah mereka dengan kecepatan yang membuat Jihan ngeri, tapi tidak berani berbicara apapun.

Sebenarnya tujuan James menjemput Jihan hari ini adalah karena ia tidak ingin melihat Jihan pulang berdua dengan Sugeng. Jujur saja, semakin lama ia semakin tidak rela jika Jihan dekat-dekat dengan pria lain selain dirinya. Ia tidak dapat menyampaikan perasaan tersebut karena ia sadar hubungan apa yang ada diantara mereka, dan ia bukanlah pria yang bodoh yang tidak tahu perasaan apa ini.

Ini adalah cinta, sadar atau tidak James mulai mencintai Jihan. Mencintai gadis yang seharusnya ia jaga dan lindungi sebagai seorang keluarga tapi perasaan itu malah berkembang dan menjadi cinta.
 

Bukan cinta seseorang pada anggota keluarganya, melainkan cinta tulus seorang pria pada gadisnya. Ya Tuhan!

Dan kabar yang baru saja ia dengar dari Jihan ternyata lebih parah dari yang ia khawatirkan seharian ini, Jihan malah akan berkencan dengan Sugeng malam ini. Walaupun itu hanyalah sebuah makan malam, tapi James tidak yakin itu hanyalah makan malam biasa. Feeling-nya sebagai seorang pria cukup mengerti maksud dari Sugeng.

Hingga sepanjang sisa perjalanan itu, tidak ada yang berbicara diantara mereka. Masing-masing sibuk dengan pikiran yang berkecamku di kepala mereka.
^^^
Sampai di halaman rumah, James mematikan mesin mobilnya lalu melepaskan seat belt-nya dan segera bergegas untuk turun, namun telinganya mendengar lirih suara Jihan yang berada disampingnya.
“Maaf” Kata Jihan begitu saja dengan sorot mata bersalah

James tidak menanggapinya, ia langsung turun dari mobilnya dan segera masuk kedalam rumah. Dan ia juga tidak repot-repot untuk membukakan pintu seperti yang tadi ia lakukan saat Jihan masuk ke mobilnya.

Tidak, James tidak marah pada Jihan. Tidak ada yang salah Jihan pergi makan malam dengan siapapun, dia adalah wanita dewasa. Dirinyalah yang salah, dirinya yang tidak mampu menahan perasaan dan mengendalikan cinta yang bersemayam dihatinya, padahal ia tahu bahwa semua itu akan menghancurkan hati banyak orang nantinya. Terutama kedua orang tua yang sangat disayanginya, Faizal dan Jasmine. Dasar bodoh

Tak berapa lama, Jihan pun turun dan masuk kedalam rumah lalu menuju kamarnya dengan menahan sesak didadanya. Bagaimanapun, ia harus segera bersiap untuk makan malam yang terasa “salah” ini.

^^^

Lagu : Dia - Anji

- TBC -

My Heart Belongs to You - Part 10 ~ By : Erinda

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.