My Heart Belongs to You - Part 13 ~ By : Erinda - ChusNiAnTi

My Heart Belongs to You - Part 13 ~ By : Erinda





“Woyy!!” Hardik Alsha pada wanita asing tersebut
“Apa-apaan nih” Timpal Resta dan ikut berdiri begitupun dengan Jihan

Jihan merasa tidak punya masalah dengan wanita asing tersebut, tapi kenapa sepertinya wanita ini sangat membencinya.
^^^
“Eh, gue gak ada urusan ya sama kalian. Urusan gue cuma sama cewek ini doang” Ujar wanita tersebut dengan menunjuk-nunjuk Jihan
“Sialan nih cewek” Balas Resta tidak suka
“Urusan denganku? Urusan apa? Kamu siapa?” Tanya Jihan
“Gue Letisha. Dan gue cinta mati sama Bayu, dan gara-gara elo gue jadi gak bisa dapetin dia” Kata wanita yang bernama Letisha tersebut dengan berapi-api, ia sepertinya tidak sadar atau mungkin tidak perduli kalau saat ini mereka sedang berada di tempat umum.


Resta dan Alsha mencibir mendengar perkataan wanita tersebut.

“Maaf… Asal kamu tau, aku udah udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Mas Bayu. Jadi, salah besar kalo kamu justru marah-marah sama aku karena aku udah gak berhubungan lagi sama dia” Jihan masih mencoba bicara dengan tenang
“Salah besar lo bilang, hah! Gara-gara dia terlalu cinta sama elo, dia jadi nolak gue mentah-mentah bahkan gue udah ngasih semuanya buat dia, tapi dia tetep gak pernah mandang gue! Dan itu lo bilang bukan urusan lo, hah!!” Teriak Letisha dan mendorong kedua bahu Jihan


Hampir saja Jihan terjatuh kalau Resta tidak sigap menolongnya.

“Eh kunti!! Lo gak sadar kalo barusan lo udah ngebuka aib lo sendiri di depan umum. Dasar cewek gak bener lo” Alsha sudah tidak tahan untuk terus berdiam diri sejak tadi
“Gue gak perduli!” Kekeuh Letisha
“Gila! Cowok brengsek kayak Bayu aja lo rebutin ampe segitunya. Tapi emang pantes sih lo sama dia. Sama-sama brengsek” Kata Alsha lagi
“Mendingan lo pergi darisini deh, sebelum gue acak-acak muka oplas sialan lo itu” Kata Resta tajam namun sarat akan sindiran

“Kalian!!”
“Apa! Apa! Hah! Berani lo ama gue?!!” Tantang Alsha dan Resta


Dengan masih memaki dan mengumpat akhirnya Letisha pergi meninggalkan kafe tersebut dengan sorakan beberapa pengunjung disana yang semakin membuatnya menggeram marah.

“Udah gak usah dipikirin” Kata Resta pada Jihan
“Enggak kok. Yuk kita lanjut makan, sayang nih” Ajak Jihan pada Alsha dan Resta sambil tersenyum
“Kamu gak apa-apa?” Alsha memastikan
“Gak lah. Emang kenapa? Orang aku udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Mas Bayu” Kata Jihan cuek dan melanjutkan makanannya
“Bagus… Gitu dong” Kata Alsha senang dan mereka pun kembali melanjutkan makan siang mereka, seolah kejadian Letisha tadi hanya sebuah selingan tiada berarti.


Jangan sangka kalau hanya karena kejadian tadi, Jihan, Alsha dan Resta kehilangan napsu makan mereka, justru mereka makin bernapsu karena sebenarnya mereka semua sangat suka makan, begitupun dengan Zelwis dan Azel.
^^^
Beberapa minggu berselang, kedekatan Jihan dengan James pun semakin intens dan sudah masuk dalam zona yang… ”Berbahaya” ? Oww…

Sore ini, sepulang kerja James berencana mengajak Jihan untuk melihat Anthony Restaurant, dan ini adalah pertama kalinya James mengajak Jihan lagi untuk melihat Resto mereka

James : Jangan lupa, sore ini aku akan mengajak Aunty ke Anthony Restaurant
Jihan : Oke


Di Restaurant-nya, James hanya tinggal memantau para pekerja, sudah tidak terlalu banyak lagi yang harus mereka kerjakan, hanya tinggal finishing dan menunggu beberapa furniture datang dan menatanya, setelah itu James sudah  bisa membuka Resto keluarga tersebut.

Ada kebanggan dan kepuasan tersendiri bagi James, setiap kali ia berhasil melakukan perkerjaan yang diserahkan oleh Daddy-nya. Dalam hidupnya, kedua orang tuanya adalah segalanya. Dia tidak pernah ingin melihat mereka kecewa karena kegagalannya.

“Ah, aku harus menjemputnya sekarang” Gumam James dan segera berlalu
^^^
“Yuk” Kata Jihan antusias saat ia sudah berada di dalam mobil James
James tersenyum kemudian mulai menjalankan mobilnya menuju Restaurant mereka.

Dan seperti biasa, setiap mereka berdua pembicaraan lebih di dominasi oleh Jihan. Gadis itu seolah tidak pernah kehabisan bahan untuk berbicara, dan James dengan setia mendengarkan dan sesekali tertawa mendengar perkataan konyol yang diucapkan Jihan.

“Wooaaaahhh… Keren banget. Kok bisa bagus gini sih Resto-nya Jim, kamu apain aja?” Jihan berdecak kagum melihat bangunan berlantai Tiga milik Anthony Restaurant tersebut
“Ayo kita masuk” Ajak James sambil menggenggam tangan Jihan

“Bagaimana menurut Aunty bagian dalam Resto kita?” Tanya James
“Aunty?”
“Eh… Kamu emang warbiyasahhhhh” Kata Jihan yang kembali dibuat kagum oleh James


Walau belum terlihat sempurna karena baru diisi oleh beberapa furniture saja tapi Jihan sudah bisa membayangkan akan seperti apa bagian dalam Anthony Restaurant, karena James sudah menjelaskan padanya sejak jauh-jauh hari.
Resto ini juga akan diisi dengan interior khas dari beberapa Negara yang terkesan modern dan cocok bagi kalangan mana saja, baik muda maupun tua.

“Ini kamu semua yang design?” Tanya Jihan
“Iya, aku merancang semuanya. Aku ingin Resto kita berbeda dengan yang pernah ada”
“Gitu dong jadi keponakan aku, jangan malu-maluin Aunty-nya” Gurau Jihan
“Oh ya? Apa selama ini aku membuat Aunty malu?” James bertanya
“Eh?”


James melangkah mendekati Jihan, Jihan reflek bergerak mundur hingga ia membentur dinding di belakangnya. Sedangkan James masih terus melangkah pelan namun pasti kearahnya

“Ji-Jimmy”
“Hhmm…”
“Kam…” Ucapan Jihan terhenti karena James sudah mengurungnya dengan kedua lengan pria itu di kedua sisi tubuhnya
“Jimmy… Aku-Aku cuma bercanda” Gelagap Jihan

James memiringkan wajahnya dan mendekat pada Jihan, berniat untuk menggoda Aunty-nya. Ya Tuhan, sejak kapan James jadi suka menggoda seperti ini.
“Permisi Pak James. Furniture pesanan kita sudah datang” Kata seseorang dari luar pada James

Dengan berat hati James menjauhkan tubuhnya dari Jihan, sedangkan Jihan masih belum berani menatap James. Jantungnya masih berdebar cukup keras atas kedekatan mereka barusan.

James meniup wajah Jihan, dan mengacak puncak kepala Jihan dengan lembut

“Aku juga cuma bercanda, Aunty” Kata James dan ia mengedipkan sebelah matanya sebelum pergi meninggalkan Jihan

Dan Jihan melongo karenanya, ia seperti baru saja melihat Gajah yang bisa terbang, ia tidak percaya James bersikap manis seperti itu padanya.

“Benarkah tadi James bilang cuma bercanda? James bisa bercanda?!
Dan dia main mata denganku?!!”
  Jihan bertanya-tanya dalam hati

“Ya Tuhan…  Kebaikan apa yang sudah aku lakukan hari ini. Aku senang sekali” Jihan terlonjak kegirangan
Namun ia segera menutup mulutya karena takut kalau-kalau ada yang mendengarnya.

Dengan masih berusaha menahan senyum-nya yang entah kenapa susah sekali ia tutupi, Jihan berjalan keluar bermaksud untuk membantu para pekerja disana.
“Ehm.. A-Ada yang bisa ku bantu?” Tanya Jihan pada James yang ikut membantu mengangkut beberapa furniture bersama pekerja yang lain.

James mengisyaratkan para pekerjanya untuk meneruskan membawa furniture yang tadi dibawanya, sedangkan dia menghampiri Jihan.
“Aunty demam?” Tanya James dan langsung menyentuh dahi Jihan membuat Jihan berjengkit kaget
“Eng-Gak…”


Kemudian James menyentuh leher Jihan yang membuat aliran darah JIhan seketika seolah terhenti
“Ji-Jimmy”
“Tidak panas” Gumam James dan menarik kembali tangannya
“Aku memang gak sakit”
“Tapi wajah Aunty memerah”
“Oh.. Em.. Itu… Aku gak apa-apa kok”


“Itu memerah karena kamu main mata sama aku tadi, Jimmy. Bikin aku tersipu malu tau gakkkkk” Jerit Jihan dalam hati

“Yaudah, kita pulang aja. Udah malem juga” Putus James akhirnya
“Oke”


James berpikir Jihan mungkin terkena alergi karena resto ini masih lumayan berdebu akibat renovasi. Ckckck…
^^^
Kini, mengantar jemput Jihan adalah kebiasaan James sehari-hari. Begitupun dengan Jihan, ia sudah semakin terbiasa dan bergantung pada James. Walau kadang James telat menjemputnya, Jihan akan tetap setia menunggu sampai James datang.

Malam ini, setelah mengantar Jihan pulang dan berganti baju. James akan kembali ke Resto untuk persiapan pembukaan perdana Anthony Restaurant yang sudah di depan mata. Jika tidak ada halangan Anthony Restaurant sudah mulai bisa dibuka dalam tiga hari kedepan.

Dan kemungkinan Faizal dan Jasmine akan datang dalam dua hari ini, mereka tidak memberitahu kapan pastinya kedatangan mereka pada Jihan dan James. Tapi mereka bisa pastikan bahwa mereka akan hadir di acara pembukaan perdana Restaurant tersebut.

“Kamu udah mau pergi lagi ya Jim” Kata Jihan dengan berlarian menuruni anak tangga
James menatapnya dengan tajam, Jihan yang langsung paham hanya menyengir malu dan berhenti lari


“Kenapa dia senang sekali berlarian di tangga? Hhhh”  Batin James

“Iya” Kata James dan membawa tas laptopnya
“Aku ikut ya…” Rengek Jihan
“Jangan. Aku gak tau pulang jam berapa atau mungkin gak akan pulang”
“Tapi aku bosen…”
“Aunty dirumah saja ya. Mungkin Daddy dan Mommy akan sampai malam ini” Bujuk James
“Dari kemarin gak sampe-sampe juga” Kata Jihan dan mengerucutkan bibirnya tanda ia tidak setuju
“Hhmm… Baiklah, aku usahakan untuk pulang secepatnya setelah semua selesai”

dan CUP… James mengecup dahi Jihan, membuat hati Jihan berdesir karenanya. Bisakah Jihan meminta waktu untuk sejenak saja berhenti berputar, ia sangat suka kedekatan dan sentuhan-sentuhan ringan diantara mereka yang seperti ini.
“Aku pergi dulu” Kata James lagi, Jihan mengangguk patuh dengan masih menunduk. Sedangkan James tersenyum penuh arti

Sesampainya diluar, James meraba dadanya. Sejak tadi jantungnya berpacu lebih cepat, sungguh semua itu terjadi begitu saja. Ia reflek mencium dahi Jihan.
^^^
“Kayaknya malem-malem gini makan sate enak deh, jadi pengen. Tapi males ah mau keluar, oh ya minta si Jimmy aja yang beliin” Jihan langsung meraih handphone nya lalu menghubungi Jimmy

“Jimmy”
“Ya?”
“Kamu udah pulang belom?”
“Ada apa Aunty?”

“Ditanya malah balik nanya, dia bener-bener gak suka basa-basi” Batin Jihan
“Aunty?” Panggil James tidak sabar di seberang sana
“Beliin aku sate dong”


“Nah loh, dia gak suka basa-basi kan. Yaudah aku ngomong aja langsung mau aku apa. Kita liat dia jawab apa, ini udah hampir tengah malem juga sih” Batin Jihan lagi

“Ok” Jawab James mantap
“Eh?”
“Ada lagi?”
“Ah,, Emm,, Gak ada, udah itu aja. Makasih. Aku tunggu dirumah” Dan Jihan langsung memutuskan panggilan tersebut tanpa menunggu jawaban James di seberang sana. Sopan!

^^^
Sekarang waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam dan sebenarnya sedikit lagi James sudah akan sampai kerumah, ia juga sudah sangat lelah hari ini karena ikut membantu para karyawannya mempersiapkan segala keperluan untuk pembukaan Anthony Restaurant. Yah berkat kerja kerasnya, akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu akan segera tiba.

Namun karena telepon mendadak dari Jihan tadi, membuat James tanpa ragu langsung memutar balik arah mobilnya kembali ke jalan raya untuk membelikan pesanan Jihan, sate. Hingga beberapa saat kemudian James menemukan kedai sate di pinggir jalan, mengingat sekarang sudah tengah malam sang penjual pun terlihat mulai membereskan dagangannya.

“Ehm,, Pak, Bu.. Apa sate nya masih ada?” Tanya James pada penjual sate yang sudah paruh baya tersebut, sepertinya mereka adalah pasangan suami istri
“Masih. Mau berapa porsi, Nak?” Tanya si Ibu dengan bersemangat
“Apa masih banyak?” James balik bertanya
“Iya, malam ini tidak banyak yang membeli sate kami, mungkin karena hujan dan jalanan disini menjadi becek jadi banyak yang malas lewat jalan sini” Kata si Ibu, ia cukup ramah
“Buatkan aku semuanya, Bu” Kata James kemudian
“Semuanya? Ini kira-kira masih ada untuk dua puluh lima porsi” Kini si Bapak yang ikut berbicara
“Tidak apa, tapi berikan pada saya dua porsi saja. Lebihnya tolong berikan saja ke panti asuhan yang ada di seberang jalan itu Pak, Bu” Kata James kemudian
“Wah, kamu ini baik hati sekali. Jaman sekarang jarang sekali ada anak muda yang perduli dengan sesama seperti kamu” Puji si Bapak, dan sepasang suami-istri tersebut dengan cekatan langsung menyiapkan pesanan sate James.


Sedangkan James ia menatap nanar kearah panti asuhan sederhana di seberang jalan tersebut, seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Rasa yang selama ini hanya ingin menjaga dan melindungi berubah menjadi rasa ingin memilikimu, aku juga  senang kamu yang selalu bergantung dan meminta ini-itu padaku. Aku tahu semua ini tidak benar dan tidak seharusnya perasaan ini ada. Tapi, siapa yang bisa mengendalikan jika hati sudah berbicara dan mengarahkan dimana tempatnya berlabuh? Kamu membuatku jadi tak terkendali, Aunty.”  Batin James

Beberapa hari ini ia baru menyadari seperti apa perasaan nya pada Jihan. Seorang gadis mungil nan manis yang selalu berceloteh ini-itu padanya walau ia menanggapi dengan seadanya, gadis ceroboh dengan segala tingkah laku konyol dan tak terduganya yang membuat James mulai terbiasa dengan keberadaannya di sisi gadis itu selama ini. 

“Nak” Panggil si Ibu pada James
“Ah, Maaf. Saya sedikit melamun tadi”
“Tidak apa, ini dua porsi satenya. Yang lainnya masih dibuat, nanti akan segera kami kasih kesana”
“Baiklah. Berapa semuanya”
Si Ibu pun menyebutkan total semua pesanan dan James langsung membayarnya dan pergi darisana.

^^^
Jihan yang mulai bosan menunggu pesanannya datang hampir tertidur, namun samar-samar ia mendengar suara deru mobil James yang sudah sangat dikenalnya.
 

Dengan keadaan yang masih setengah mengantuk, Jihan segera bangun dan berlari-lari kecil menuju pintu. Keinginannya untuk segera memakan sate masih menggebu-gebu seperti tadi, hingga ia tidak sadar dengan guci hias yang berada di ruang tengah.

“AARRGGHHHH,,!!!!!”  Jihan berteriak seketika dengan diiringi suara pecahan yang cukup keras

^^^
Lagu : Bening - Ada Cinta

- TBC -

My Heart Belongs to You - Part 13 ~ By : Erinda

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.