My Heart Belongs to You - Part 14 ~ By : Erinda - ChusNiAnTi

My Heart Belongs to You - Part 14 ~ By : Erinda


Jihan yang mulai bosan menunggu pesanannya datang hampir tertidur, namun samar-samar ia mendengar suara deru mobil James yang sudah sangat dikenalnya.

Dengan keadaan yang masih setengah mengantuk, Jihan segera bangun dan berlari-lari kecil menuju pintu. Keinginannya untuk segera memakan sate masih menggebu-gebu seperti tadi, hingga ia tidak sadar dengan guci hias yang berada di ruang tengah.

“AARRGGHHHH,,!!!!!”  Jihan berteriak seketika dengan diiringi suara pecahan yang cukup keras
^^^
James yang baru keluar dari mobilnya cukup jelas mendengar semua itu, ia langsung berlari dan masuk kedalam rumah dengan perasaan khawatir.

“Aunty!!! Astaga!!” Dilihatnya Jihan yang sudah terduduk diantara pecahan guci sambil memegangi kaki sebelah kirinya yang berdarah
“Jimmy” Lirih Jihan, ia masih kaget dengan apa yang baru saja terjadi


James meletakan bungkusan sate yang dibawanya, dan segera ia menghampiri Jihan. Tanpa berbicara apapun James langsung menggendongnya untuk duduk di sofa ruang tengah. Sedangkan Jihan hanya diam membantu, tidak berani bergerak sama sekali dalam gendongan James, lidahnya pun kini terasa kelu untuk berbicara. Ini adalah pertama kalinya James menggendong Jihan.

James menurunkan Jihan di sofa yang masih setia dengan kediaman-nya, kemudian James berlalu entah kemana meninggalkan Jihan sendirian dalam kebingungan. Jihan melihat luka yang ada di kakinya, ia pikir sepertinya tidak terlalu parah mungkin, kan tadi dirinya hanya sedikit tergores saja dan kebetulan berdarah hingga membuatnya panik.

Perlahan Jihan menurunkan kakinya dari sofa, ia ingin mencoba berdiri. Tapi belum sempat ia mencobanya, James sudah datang kembali padanya.

“Mau kemana?” Tanya James dingin
Jihan yang melihat raut wajah James yang tidak bersahabat memilih mengabaikan pertanyaan James dan mengurungkan niatnya untuk berdiri, sikap James yang seperti ini membuatnya kadang membuatnya takut, tak berapa lama terdengar suara pintu rumah Jihan diketuk. James kemudian beralih dan berjalan untuk membukakan pintu.

“Siapa sih yang namu tengah malem gini?”  Pikir Jihan

“Dimana Aunty-mu?”
“Dia didalam. Ayo”


Samar-samar Jihan mendengar percakapan James dengan seorang wanita diluar sana.

“Dia Aunty-mu?” Tanya wanita tersebut pada James
“Iya”


Wanita itu kemudian mendekat pada Jihan dan langsung melihat luka di kakinya. Sedangkan James, dia sudah masuk kembali ke kamarnya.

“Kamu siapa?” Tanya Jihan pada wanita yang mulai mengobati kakinya itu
“James gak bilang ke kamu?”
 

Jihan hanya menggeleng, sesekali ia meringis saat wanita tersebut memberikan cairan yang entah apa namanya pada lukanya

“Saya dr Mayra, klinik saya di dekat Anthony Restaurant dan saya baru saja pindah rumah di dekat sini. Kami juga udah lumayan saling kenal” Jawab Wanita yang bernama Mayra itu dengan ramah, namun entah kenapa Jihan tiba-tiba saja tidak suka mendengar kalau mereka sudah cukup kenal. Apa-apaan sih! Hufh
“Baiklah, luka kamu gak terlalu dalam, gak perlu dijahit. Tapi lebih baik jangan terlalu banyak bergerak dulu karena kaki kamu juga terkilir, oleskan obat ini pada lukamu setiap hari dan semoga cepat sembuh”
“Iya. Terima kasih”


James sudah kembali, dia sudah mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek

“Saya pulang dulu. Permisi” Pamit Mayra
“Kamu pulang sama siapa? Aku antar” Tawar James pada Mayra, membuat Jihan memutar bola matanya tidak suka


“Please deh, katanya rumahnya deket darisini. Lagian perumahan disini aman banget kaleus, banyak satpam yang jaga” Batin Jihan kesal

“Gak perlu James. Lagipula rumahku dekat darisini, hanya berjarak beberapa rumah saja.”
“Oke. Hati-hati, sekali lagi Terima kasih dan maaf sudah mengganggu malam-malam begini”
“Santai aja, aku justru senang kalau kamu yang menggangguku. Hehehe” Kata Mayra, sedangkan James hanya menggangguk saja


“Eh? Itu maksudnya apaan ngomong begitu!!”  Jihan masih saja menggerutu

“Kenapa gak bilang-bilang sih kalo manggil dokter kesini? Aku gak apa-apa kok, kasih obat merah juga sembuh luka beginian doang mah” Jihan mulai mengoceh saat James sudah kembali ke ruang tamu dan membersihkan bekas pecahan guci yang tadi ditabraknya.

“Kalian udah kenal banget ya, sampe dia mau-mau aja tuh kamu repotin buat ngobatin aku doang tengah malem gini” Kata Jihan lagi

“Iyalah udah kenal banget, orang tempat kerjanya aja deketan terus sekarang rumahnya juga udah pindah kesini. Hmm,, I see” Jihan berbicara lagi

Hingga James selesai membersihkan semuanya, ia tidak menjawab omongan Jihan, tapi tiba-tiba ia mendekat pada Jihan dan tanpa aba-aba langsung menggendongnya seperti tadi membuat Jihan terpekik kaget. Reflek ia mengalungkan lengannya di leher James, tidak seperti tadi saat James menggendongnya ia hanya diam saja.

“Kamu mau ngapain?” Tanya Jihan panik
“Tidur”
“HAH?!!” Jihan terbelalak, namun James tidak terpengaruh ia tetap melanjutkan langkahnya menuju tangga
“Turun! Turunin aku” Jihan meronta namun kemudian ia mengadu kesakitan karena tak sengaja ia juga menggerak-gerakan kakinya cukup kuat
“Berhentilah bergerak Aunty!” Kata James tajam membuat Jihan menciut seketika dengan bibir mengerucut.

 Tapi justru terlihat sungguh menggemaskan bagi James.

Sesekali James berdehem untuk menyingkirkan perasaan aneh setiap kali ia berdekatan dengan Jihan, tapi kali ini sepertinya rasa itu semakin menjadi dan tak terkendali. Ya Tuhan.

James masuk kedalam kamar Jihan dengan Jihan yang masih berada dalam gendongannya, dengan perlahan James merebahkan Jihan di tempat tidur.

“Sate ku?” Kata Jihan pelan saat James beranjak meninggalkannya
“Sebentar aku ambilkan” Jawab James tanpa menoleh lagi pada Jihan


“Hhh,, Sebenernya dia kenapa sih? Tadi sama si Mayra biasa aja, kalo ngomong sama aku kok ketus melulu daritadi” Kata Jihan bertanya-tanya

James kembali membawa dua porsi sate dan meletakannya di atas meja yang berada disamping tempat tidur Jihan
 

“Ini, Aunty makanlah semuanya” Kata James dan dia sudah berbalik untuk meninggalkan Jihan lagi
Jihan yang sudah jengah terus diabaikan James sejak tadi, akhirnya mengeluarkan amarahnya. Ia bangun dari rebahannya dan berusaha untuk duduk

“Kamu kenapa sih mukanya jutek begitu, dingin banget ngomong sama aku. Gak ikhlas kamu nolongin aku? Iya? Gak usah nolongin kalo gak ikhlas, pura-pura gak liat aja tadi. Trus kalo gak mau aku repotin beli sate malem-malem, gak usah ngomong OK waktu di telpon kalo ujung-ujungnya kamu marah dan cuekin aku kayak gini. Aku sadar kalo aku sering banget ngerepotin semenjak kamu tinggal disini, selama ini aku pikir kamu baik-baik aja sama semua itu karena kamu gak pernah cuekin aku sampe segininya, dan lama-lama itu bikin aku makin terbiasa untuk terus bergantung sama kamu. Tapi kayaknya aku salah, sekarang aku tau kamu udah mulai bosan dan capek aku repotin. Maaf kalo gitu, mulai sekarang aku gak akan ngerepotin kamu lagi dan kamu tetep boleh tinggal disini selama yang kamu mau” Kata Jihan dengan suara bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca kentara sekali kalau dia sedang tersulut emosi saat ini.

James berdiri kaku, ia masih membalikan badannya membelakangi Jihan
 

“Astaga, jadi itu yang ada dipikirkannya? Ya Tuhan..” Batin James
Kemudian ia membalikan badannya menghadap Jihan, setitik air mata menetes dari mata Indah Aunty-nya itu.

“Aunty salah paham” Kata James sembari mendekat dan duduk dihadapan Jihan, sungguh ia tidak pernah ingin melihat Jihan menangis
“Aku bukannya marah pada Aunty karena permintaan Aunty, aku tidak pernah merasa keberatan dengan semua itu. Aku marah karena Aunty seringkali tidak berhati-hati dan berujung mencelakai diri Aunty sendiri, dan puncaknya adalah tadi. Tolong berhati-hatilah saat aku tidak ada dirumah, Aunty. Kurangi sikap ceroboh Aunty itu, apa bisa?” Kata James lembut dan menatap Jihan penuh harap


Inilah yang Jihan inginkan sejak tadi, walaupun James sering cuek padanya selama ini tapi tatapan matanya pada Jihan selalu hangat hingga membuat Jihan ingin menenggelamkan diri dalam kehangatan tersebut.

“Maaf” Lirih Jihan dan memeluk James erat
James membalas pelukan Jihan tidak kalah eratnya dengan sesekali mengecup ringan puncak kepala Jihan. Sebenarnya ia juga tidak tega mendiamkan Jihan seperti tadi, tapi ia ingin memberi Jihan pelajaran dengan mendiamkannya namun bukannya mengerti Jihan malah salah paham dengan sikapnya.

“Kamu tidak akan pernah mengerti betapa khawatirnya aku padamu tadi, Aunty” Batin James dan mengelus kepala Jihan dengan sayang

Tanpa Jihan dan James sadari, sejak tadi ada dua pasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan terkejut dari celah pintu yang memang tidak tertutup dengan rapat

“Sebaiknya kita tinggalkan dulu mereka. Ayo” Bisik salah satu orang tersebut
“Tapi…”
“Sudahlah. Ayo”
“Hhh… Baiklah”

^^^
“Temani aku makan sate nya ya” Pinta Jihan, James mengangguk dan mengambilkan sate tersebut

Saat James akan memakan tusukan sate pertama, Jihan menyelanya
“Eh eh,, Kan aku cuma minta temenin bukan bantu ngabisin” Kata Jihan sok galak
“Hah?”
“Hahhaaa,,, Ayo, makanlah. Aku hanya bercanda” Jihan tertawa sedangkan James hanya menggelengkan kepala dan melanjutkan memakan sate tersebut, sekarang sifat jahil Aunty-nya sudah kembali. Ngomong-ngomong, cepat sekali mood Jihan berubah?


“Makan sate berdua tengah malam? Seru juga. Asal jangan mandi kembang aja tengah malam. Hihihihi” Batin Jihan geli sendiri

“Kenapa senyum-senyum?” Tanya James pada Jihan, rupanya sejak tadi ia terus memperhatikan Jihan

Jihan tersipu malu karena ternyata James melihatnya sejak tadi, kemudian dia menunduk. Sepertinya tusukan-tusukan sate yang berada di pangkuannya jauh lebih menarik saat ini untuk dilihat daripada wajah tampan James.

“Eem,, Aku seneng aja berduaan dan deket gini sama kamu daripada kayak tadi diem-dieman, soalnya kayak berasa kayak ada yang kurang gitu. Lain kali jangan diemin aku lagi kayak tadi, Jimmy” Kata Jihan dan memberanikan diri menatap mata 

James dan entah keberanian darimana ia menggenggam tangan James dan sedikit meremasnya.
 

“Teruslah repotkan dan minta apapun yang Aunty butuhkan dariku. Tapi aku mohon satu hal, jangan bahayakan diri Aunty sendiri”

Jihan mengangguk pelan dan tersenyum manis pada James, dan James pun balas tersenyum pada Jihan.

James membelai lembut pipi mulus Jihan, Jihan memejamkan mata menikmati sentuhan James. Entah kembali terbawa suasana atau bagaimana, dengan gerakan yang pelan namun pasti wajah Jihan dan James semakin mendekat, hembusan napas keduanya terasa beradu dan saling menerpa wajah masing-masing.

“Jimmy…” Jihan berbisik pelan
Dan dengan gerakan yang lembut bibir seksi James berhasil berlabuh di bibir tipis milik Jihan.


*Satay kiss*
Awww… Yeaahh!!


Tubuh Jihan seketika menegang, James merasakannya namun sepertinya diantara mereka berdua tidak ada yang berniat untuk memisahkan diri, kecupan ringan yang semula hanya bibir yang saling menempel kini berubah menjadi sesuatu yang lebih intim, secara naluri Jihan melingkarkan kedua lengannya di leher James, tubuh mereka pun semakin dekat dan Jihan mulai mengikuti dan membalas apa yang dilakukan James pada bibirnya. Ini adalah ciuman pertama bagi keduanya.

Jihan dan James bukannya tidak sadar kalau apa yang mereka lakukan saat ini  tidak benar. Masing-masing hati mereka menyadari kalau ini adalah sebuah kesalahan, namun dengan arti yang berbeda.

Jihan dengan perasaan bersalah karena sudah mencintai dan berbuat yang tidak seharusnya pada keponakan-nya sendiri. Sedangkan James? Ah entahlah.
Hingga beberapa saat kemudian, James melepaskan ciuman-nya di bibir Jihan. Dilihatnya mata Jihan yang berkaca-kaca menatapnya. James mengusap sudut bibir Jihan penuh kasih

“I-ini… Tidak benar, Jimmy” Kata Jihan dengan suara bergetar yang menahan tangis
“Maafkan aku yang tidak bisa mengendalikan diriku, Aunty” Kata James serak

Jihan menggeleng dengan air mata yang mulai mengalir dari matanya, ia butuh kekuatan dan sandaran saat ini untuk menenangkan hatinya. Dan James-lah yang selalu menjadi sandarannya selama ini.

Jihan kembali memeluk James dengan erat dan menangis tersedu-sedu di dada bidang pria yang dicintainya tersebut, James kembali membalas pelukan Jihan dan mengelus punggung gadis yang dicintainya.

“Se-Semua ini harus kita akhiri James. Hikss… Sebelum semuanya menjadi semakin tidak terkendali” Kata Jihan di sela isak tangisnya
James tidak menjawab ucapan Jihan, justru ia semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Jihan seakan takut kehilangannya.
^^^

Lagu : Nazareth - Love Hurts

- TBC -


My Heart Belongs to You - Part 14 ~ By : Erinda

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.