My Heart Belongs to You - Part 17 ~ By : Erinda - ChusNiAnTi

My Heart Belongs to You - Part 17 ~ By : Erinda


Jihan tampak menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan lalu mengulanginya lagi untuk beberapa kali, sepertinya apa yang akan dikatakannya adalah sesuatu yang cukup berat baginya.
“Aku mau menikah” Kata Jihan pasti
“Dalam waktu dekat” Jihan melanjutkan
 

^^^
 James syok mendengarnya, dadanya bergemuruh menahan sesuatu yang seakan ingin meledak saat itu juga.

“Apa-apaan ini, Aunty?!” Tanpa sadar James membentak Jihan
“Kenapa? Ada apa memangnya? Apa salah kalau aku mau menikah? Aku ini wanita dewasa, Jimmy” Jihan kemudian berdiri, emosinya ikut tersulut mendengar bentakan James tadi
“Apa Aunty sadar apa yang Aunty katakan?” James juga ikut berdiri


Mereka kini berhadap-hadapan, dengan napas yang memburu sama-sama menahan amarah. Dan sepertinya amarah keduanya akan meledak sebentar lagi
“Aku sangat sadar” Balas Jihan sengit
“Dan aku akan menikah dalam waktu dekat dengan atau tanpa persetujuanmu, lagipula siapa yang butuh persetujuanmu. Aku cuma butuh restu dari Kak Faizal dan Kak Jasmine maka…” Imbuh Jihan dengan berapi-api hingga suaranya bergetar dan wajahnya memerah
“Cukup!!”
“Kenapa kamu marah? Apppmmhhhh…”

James membungkam mulut Jihan dengan bibirnya, James mencium Jihan kasar sambil menahan kepala Jihan.
Jihan meronta, tapi tentu saja dia tidak akan menang melawan James. Kekuatannya tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan James yang bertubuh besar.

“Jim…myyhhhh…” Jihan berkata di sela ciuman James yang mulai menuntut
Hingga akhirnya James melepaskan ciumannya dan melihat mata Jihan yang berkaca-kaca, seketika James menyesal dia hendak mengucapkan maaf tapi tiba-tiba Jihan mendorongnya tapi justru mereka berdua terjatuh dengan Jihan yang kini menindih James.


“Aunty…”
Entah apa yang ada dipikiran Jihan, gadis itu menundukan wajahnya dan mencium bibir James terlebih dulu, Jihan seakan menumpahkan keputus-asaan dan kekesalannya dalam ciuman tersebut. James dengan lembut membalasnya, James menahan tengkuk Jihan untuk memperdalam ciuman mereka.

Hingga beberapa saat mereka berdua saling menikmati dan terhanyut dalam ciuman manis tersebut, bolehkah mereka meminta pada sang waktu untuk berhenti saat ini, sungguh ini begitu indah.

Jihan menitikan air mata dalam ciuman mereka, James menyadarinya dan melepaskan tautan bibir mereka. Sedangkan Jihan masih mengecup kecil sudut bibir James sebelum ia benar-benar menjauhkan wajahnya dari James.
Tidak berkata apapun, Jihan merebahkan kepalanya diatas dada James dan menangis tersedu-sedu disana, hati bagai diremas mendengar isakan pedih Jihan. Ia mengelus lembut punggung Jihan yang saat ini begitu rapuh.

Tanpa dikatakan pun, siapa saja bisa melihat betapa cinta diantara keduanya begitu kuat. Tapi itu adalah sesuatu yang terlarang, setidaknya itu yang mereka pikirkan saat ini. Entahlah
“Apa keputusanmu sudah final?” Tanya James tanpa berniat merubah posisi mereka yang begitu intim saat ini
“I-iya” Jawab Jihan sarat akan keraguan, sangat berbeda dengan pertama kali ia mengucapkannya tadi
“Aku sudah meminta Kak Faizal dan Kak Jasmine untuk datang dan mereka akan sampai besok sore”
“Siapa? Siapa pria itu?”
 

Jihan menggeleng, James menghembuskan napas kasar. Ia kemudian bangkit dan duduk, Jihan juga sudah beringsut dari atas tubuhnya

“Apa akan seperti ini akhirnya, Aunty?” Tanya James pelan
“Hhhmm…” Jihan tidak mampu berkata-kata lagi, Jihan mengeraskan hatinya agar tidak terpengaruh akan tatapan penuh cinta dari James

Jihan kemudian berdiri dan berjalan dengan cepat menuju tangga untuk masuk kekamarnya.
“Jangan berlari, Aunty” James mengingatkan
 

Jihan kembali terisak dan mengangguk hingga air matanya menetes, dan berjalan pelan-pelan menaiki tangga.

Bahkan disaat keduanya dilanda emosi seperti ini, James masih memperhatikan Jihan dan mengingatkan gadis tersebut untuk selalu berhati-hati pada hal-hal kecil seperti itu, betapa James sangat menyayangi Jihan.
^^^
Sebelumnya,..
“Kamu sudah dapatkan tiket untuk kita ke Indonesia malam ini?” Tanya Faizal pada istrinya saat ia baru saja pulang dari bekerja
“Sudah, aku meminta bantuan temanku untuk mendapatkannya. Kira-kira ada apa dengan Jihan sampai dia merengek pada kita untuk segera datang menemuinya. Tidak biasanya Jihan seperti ini” Jasmine berbicara penuh kekhawatiran
“Entahlah, Sayang. Aku juga tidak mengerti, dia tidak mengatakan alasannya padaku”
“Apa dia akan membuka hubungannya dengan James pada kita?” Kata Jasmine menebak-nebak
“Semoga saja. Aku selalu ingin yang terbaik untuk mereka berdua”
“Aku juga”

^^^
Ini adalah hari Minggu, itu artinya Jihan tidak bekerja tapi tidak dengan James. Justru di weekend seperti inilah dia akan sangat sibuk melebihi hari-hari biasa lainnya. Bahkan ia akan berangkat ke Resto lebih pagi dari biasanya, seperti sekarang ini dia sudah rapih dan…. Tampan. Selalu

“Gak sarapan?” Tanya Jihan yang ternyata sudah berdiri dibelakang James
“Tidak, Aku harus berangkat pagi hari ini. Ada pelanggan yang memesan untuk beberapa private room Kita untuk acara ulang tahunnya” Jawab James sambil memakai jacket nya. Keponakannya ini memang selalu tampil modis


“Kalo dia gak sarapan berarti dia juga gak bikin sarapan dong? Hadehh… Aku lagi males masak ini” Batin Jihan lesu

“Aku pergi dulu, Aunty”
“Oke. Hati-hati”
“Ah ya, aku sudah membuatkan sarapan untuk Aunty” Kata James yang seketika membuat wajah Jihan kembali cerah

Segera ia berlari menuju dapur yang sebenarnya tidak terlalu jauh jaraknya dari ruang tamu.
“Hhmm… Tuh kalo Jimmy yang masak tuh complete dan udah pasti enak. Mari kita habiskan semua ini…” Kata Jihan bersemangat sambil menepuk perutnya
Setelah menangis semalaman hingga menghasilkan mata panda, Jihan perlu mengembalikan energy-nya. Terutama untuk berbicara pada Faizal dan Jasmine saat mereka tiba nanti.
^^^
James baru keluar dari rumah dan ia melihat seorang gadis sedang berdiri di depan pagar rumah. Karena penasaran James menghampirinya, ternyata gadis itu adalah Mayra. Tetangga mereka yang juga bekerja di sebuah klinik di dekat Anthony Restaurant.

“May” Sapa James
“Hai James… Em, aku boleh bareng kamu pergi ke klinik gak? Mobil ku lagi masuk bengkel semalem. Boleh ya, aku ada janji ketemu pasien pagi ini” Kata Mayra dengan nada bicara yang terkesan manja namun dibuat-buat
“Baiklah”


Rasanya Mayra ingin melonjak kegirangan, dalam hati berdo’a agar mobilnya tambah lama saja berada di bengkel.
Jihan yang sedang asik dengan sarapannya, tidak memperhatikan apakah James sudah pergi atau belum.

Sepanjang perjalanan menuju Anthony Restaurant, James merasa jarak yang Ia tempuh terasa begitu jauh. Ia ingin segera sampai dan menurunkan wanita yang tidak berhenti bicara disampingnya ini. Jujur saja, itu mengganggu konsentrasinya menyetir, ia terus saja berbicara persis seperti tukang obat di pinggir jalan.
Berbeda dengan Jihan, walaupun Aunty-nya itu juga tidak bisa diam saat mereka bersama, tapi James tidak pernah merasa terganggu dengan ocehan dan celotehan-celotehan khas Jihan, Ia bahkan merasa aneh jika Aunty-nya itu mulai diam, karena jujur saja James merasa terhibur dan terbiasa dengan segala tingkah laku Jihan.

“Astaga… Kenapa aku selalu membanding-bandingkan segala sesuatunya dengan Jihan. Dia bahkan tidak memandangku sebagai seorang pria,, aku tidak dari seorang keponakan baginya” Batin James sedih

“Sudah sampai, May. Silahkan turun” Kata James pada Mayra yang tampaknya masih belum sadar kalau mereka sudah sampai di depan kliniknya
“Oh… Udah sampe ya. Hehee… Cepet ya. Terima kasih ya James”
“Ya”
“Nanti sore kamu pulang jam berapa?” Tanya Mayra sebelum ia benar-benar turun dari mobil James, rasanya berat sekali ia keluar darisana. Ck!
“Tidak tentu. Aku akan sangat sibuk hari ini”


Mayra menatap kecewa, tadinya Ia berharap bisa kembali pulang bersama dengan James. Ah biarlah, lagipula itu masih nanti sore. Semoga saja saat Ia sudah selesai nanti James masih belum pulang dari Resto, tidak masalah jika Ia harus menunggu.

Dengan berat hati akhirnya Mayra turun, James segera menjalankan mobilnya menuju Resto yang tinggal sedikit lagi namun sebelum itu “Maaf, aku tidak tertarik denganmu, Nona” Gumam James tiba-tiba, namun sudah tidak terdengar oleh Mayra karena gadis itu sudah masuk ke dalam kliniknya dengan riang.

Jangan sangka James tidak bisa menangkap sinyal yang diberikan Mayra padanya, semua itu sudah sangat terbaca. Mayra seringkali tertangkap basah sedang memperhatikannya diam-diam di setiap ada kesempatan, apalagi wanita itu sering makan di Resto akhir-akhir ini.

“Pagi Bos” Sapa para karyawan Resto
“Pagi… Bagaimana persiapan untuk acara nanti siang?” Tanya James pada Manager restaurant-nya yang bernama Robby
“Semua sudah hampir beres, Bos”
“Sudah benar-benar di pastikan kalau semuanya sudah hampir beres” james memastikan lagi
“Sudah, Bos”
“Baiklah. Saya akan segera bergabung dengan kalian sebentar lagi”
“Oke, Bos”


James berlalu menuju ruangannya, untuk meninjau laporan keuangan yang pasti sudah ada di meja kerjanya setiap pagi.
^^^
Para tamu dari orang yang berulang tahun hari ini sudah mulai berdatangan, Robby mengatur mereka semua untuk langsung naik ke lantai tiga seperti yang sudah orang tersebut booked sebelumnya.

James sudah bergabung dengan chef yang lain, ia membagi tugas para karyawan nya untuk acara party dan pelanggan seperti biasa.
Sedangkan James sendiri, hari ini Ia lebih fokus pada acara party, ia kembali memeriksa daftar menu makanan yang akan mereka sajikan nanti.

“Robby” Panggil James sedikit keras
“Ya, Bos” Robby terlihat sangat sibuk hari ini
“Kenapa Saya tidak melihat menu Miyeokguk disini?“ Miyeokguk adalah sup rumput laut, hidangan yang wajib ada untuk acara ulang tahun dan juga akan menjadi salah satu menu utama pada acara nanti.


Party hari ini memakai tema Korea Selatan, karena gadis yang berulang tahun merupakan keturunan dari Negara yang dijuluki Negeri Ginseng tersebut.

“Aku sudah menyuruh chef kita menuliskannya, Bos”
James memberikan menu tersebut dengan tatapan tajamnya pada Robby

Robby mengambilnya lalu membacanya secara teliti dan benar saja, menu utama tersebut tidak tercantum disana.
“Maaf, Bos. Ini kelalaian saya” Kata Robby menyesal
“Dengar, Robby. Saya tidak ingin melihat kesalahan kecil seperti ini terjadi lagi. Segera revisi menu ini”
“Baik, Bos”


Para chef bekerja dengan cekatan memasak menu makanan yang menjadi tanggung jawab mereka masing-masing, begitupun dengan James. Selain memeriksa masakan para chef nya dia juga tidak segan untuk ikut memasak.
Beberapa masakan yang menjadi menu utama untuk party hari ini adalah : Miyeokguk, Tteokbokki, Kue beras, Kimbap, Kimchi, Bulgogi dan beberapa menu khas korea lainnya

Anthony Restaurant bukanlah Restaurant khas Korea, Jepang, Italia, Indonesia atau Negara-Negara lainnya. Karena Anthony Restaurant menyediakan banyak menu makanan dari berbagai belahan dunia, bermodal para chef-chef nya handal dan berpengalaman tentu semua itu tidak sulit bagi James untuk mengatur sesuai keinginannya.

Tidak berapa lama kemudian, beberapa menu masakan sudah tersedia dan siap untuk diantarkan, dan sampai makanan terakhir tersaji semuanya berjalan dengan lancar.

James pun sudah kembali ke ruangannya setelah berkecimpung di dapur sejak tadi untuk beristirahat beberapa saat.
Sebenarnya bukan beristirahat yang ia lakukan tapi justru kembali memikirkan perkataan Jihan semalam.

Relakah dirinya melepas Jihan untuk pria lain?
Mampukah dirinya melihat Jihan bergantung dan merepotkan serta bermanja-manja dengan pria lain?


“Ya Tuhan… Tidak bisakah dia menunggu sebentar lagi” Gumam James putus asa, lalu ia menyenderkan tubuhnya di kursi dan memejamkan matanya
TOK… TOK…
“Masuk”
“Maaf, Bos”
“Ada apa Robby”
“Acara party sudah selesai dan wanita yang merayakan ulang tahunnya ingin bertemu dengan Anda sebagai pemilik Anthony Restaurant untuk sekedar mengucapkan terima kasih, Bos”
“Baiklah. Suruh dia masuk” Kata James dan segera bangkit dari kursinya

“Silahkan masuk, Nona” Terdengar suara Robby mempersilahkan wanita tersebut untuk masuk dari luar ruangan James

“Hai… Anda Bapak James?” Sapa wanita muda nan cantik tersebut pada James
“Hai… Iya benar. Silahkan duduk Nona” James mempersilahkan tamunya duduk
“Kenalkan saya Kim Paramitha Pak, yang hari ini mengadakan party disini”
“Panggil James saja. Terima kasih sudah mempercayakan kami untuk acara party anda. Anyway, Happy birthday, Nona”
“Terima kasih. Em… Kalau gitu, panggil saja saya Mitha” Kata Mitha dengan tersenyum ramah, James mengangguk dan tersenyum tipis

“Pelayanan Anthony Restaurant sangat memuaskan saya dan teman-teman saya, James. Makanan-nya juga sangat enak, rasanya saya seperti memakan makanan tersebut di kampung halaman ayah saya, Korea. Karena hal itulah, Saya ingin berterima kasih secara langsung pada pemiliknya dan beruntung sekali Anda sedang berada disini sekarang. Dua hari yang lalu waktu Saya melakukan reservasi pertama kali katanya pemilik Resto ini sudah pulang” Kata Mitha panjang lebar, terlihat sekali ia begitu senang hari ini

“Syukurlah kalau begitu, kepuasan pelanggan adalah segalanya bagi kami. Ya, terkadang saya pulang lebih awal” Jawab James singkat
“Baiklah. Saya permisi dulu. Sekali lagi terima kasih, James. Saya akan mempromosikan Restaurant ini pada keluarga dan teman-teman Saya yang lainnya. Eem… sepertinya ini akan menjadi salah satu Restaurant favorit saya di Jakarta”
“Terima kasih. Kami tunggu kedatangan anda selanjutnya”

Mereka kembali bersalaman lalu Mitha pamit undur diri.
^^^
Sore ini setelah membersihkan halaman depan rumahnya, Jihan sedang duduk santai untuk menunggu kedatangan Faizal dan Jasmine.

Sejak semalam, Jihan sudah merangkai kata yang tepat untuk di bicarakan pada Faizal dan Jasmine hari ini, ia berharap semoga saja mereka mendukung keputusannya dan juga membantunya. Ia yakin sepenuhnya pada Faizal dan juga Jasmine.

Sekitar Tiga puluh menit berselang, sebuah taksi berhenti di depan rumahnya
“Ah, itu mereka sudah datang” Gumam Jihan dan ia segera menghampiri mereka
“Kak Faizal. Kak Jasmine” Jihan menyalami mereka seperti biasa
“Kamu menunggu kami?” Tanya Jasmine heran pada Jihan, Faizal membayar ongkos taksi dan menurukan koper mereka.

Jihan mengangguk antusias lalu menggandeng tangan Kakak iparnya untuk segera masuk kedalam rumah.
“Ada apa sebenarnya, Sayang? Kamu baik-baik saja?” Tanya Jasmine lagi
Faizal menyusul istri dan adiknya, samar Jihan mendengar deru mobil James dibelakangnya.
Sejenak ia berhenti dan menoleh ke belakang, dilihatnya Mayra turun dari mobil James dengan wajah yang sumringah.


“Yah… Kurasa aku sudah membuat keputusan yang tepat” Batin Jihan dan menatap masam Mayra yang masih tersenyum riang tepat di samping mobil James
Faizal dan Jasmine menuju kamar tamu untuk membersihkan diri, sedangkan Jihan menunggu mereka di ruang tamu. Demi Tuhan, ia ingin menyelesaikan semua ini segera.

James baru masuk, untuk beberapa saat dia bersitatap dengan Jiihan. Kilau cinta keduanya terpancar dengan jelas di mata mereka yang justru ditutupi oleh keegoisan diri mereka masing-masing.

Jihan yang pertama kali memutuskan kontak mata diantara mereka, James menghela napas berat kemudian berlalu menuju kamarnya.
Setelah beberapa saat, kini mereka berempat sudah berkumpul di ruang tengah. Faizal dan Jasmine memperhatikan dengan seksama tingkah laku Jihan dan James sejak tadi, yang makin terlihat kikuk satu sama lainnya sejak terakhir kali mereka datang kesini bulan lalu.

“Sekarang katakan, Jihan. Hal penting apa yang ingin kamu bicarakan pada Kakak?” Tanya Faizal langsung.
Jihan mengangkat kepalanya yang sejak tadi terus menunduk, ia menatap wajah Kakak tercintanya sebelum benar-benar berbicara.
“Kakak, A-Aku… Aku ingin menikah” Kata Jihan pelan namun mampu didengar oleh semua orang yang ada disana.
Faizal dan Jasmine mengukir senyum tipis mendengarnya.
“Benarkah?” Faizal memastikan
“I-Iya Kak” Gugup Jihan
“Hey… Kenapa kamu gugup seperti itu, Adik kecilku. Tentu saja Kakak merestui kalian” Kata Faizal tenang sambil menatap Jihan dan James bergantian.

^^^
Lagu : Rizki Ridho - Kembalilah Padaku 

- TBC -


My Heart Belongs to You - Part 17 ~ By : Erinda

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.