My Heart Belongs to You - Part 22 ~ By : Erinda - ChusNiAnTi

My Heart Belongs to You - Part 22 ~ By : Erinda


“Jika memang aku tidak akan bahagia hidup bersama Mitha nantinya, tapi aku berharap Aunty akan hidup bahagia bersama Sugeng. Setidaknya pengorbanan ini tidak sia-sia dan perasaanku padamu tidak akan pernah berubah” Batin James
^^^
Mata Jihan bengkak karena menangis semalaman dan ia juga baru bisa tidur setelah hampir pukul Dua dini hari, semua itu karena ia memikirkan perkataan James dan membuatnya menyalahkan dirinya sendiri. Jihan berungkali meyakinkan hatinya untuk mencoba berlapang dada menerima semua ini, karena mungkin ini sudah takdirnya untuk berjodoh dengan Sugeng, bukan dengan orang yang dia cintai.
Saat ini, Jihan belum berani membayangkan bagaimana dirinya nanti jika sudah menikah dan menghabiskan sisa hidupnya bersama orang yang tidak ia cintai, walau Sugeng adalah pria baik tapi tetap saja rasa itu tidak ada dihatinya.
Saat ia sedang bersiap, Jihan mendengar samar-samar pembicaraan dibawah, karena penasaran Jihan pun segera turun.

“Daddy juga setuju kalau itu sudah menjadi keputusanmu, karena semua ini kamu yang menjalaninya nanti, Nak. Satu pesan Daddy, jangan pernah menyesal dengan apa yang sudah kamu putuskan hari ini” Kata Faizal bijak, Jasmine mengangguk setuju

“Hai Jihan, kamu sudah bangun. Kemarilah, James punya kabar baik buat kita semua” Kata Jasmine yang lebih dulu menyadari keberadaan Jihan disekitar mereka.

Jihan tersenyum kemudian berjalan dan ikut duduk bersama, tanpa sengaja tatapan matanya bertemu dengan James yang ternyata juga tengah menatapnya namun dengan cepat James mengalihkan pandangannya dari Jihan, membuat Jihan mendesah kecewa.

“Tumben kamu udah bangun duluan padahal belum ada yang bangunin kamu tidur” Kata Faizal pada Jihan yang duduk di samping Jasmine
“Lagi gak bisa tidur Kak, dipaksain tidur juga kebangun mulu” Jawab Jihan
“Loh, kamu kenapa Jihan, sakit? Atau ngerjain sketch?” Tanya Jasmine dan menatap adik iparnya dengan khawatir
“Gak kok kak, cuma lagi gak bisa tidur aja. Hehehe” Bohong Jihan dan tentu saja Faizal dan Jasmine tidak percaya begitu saja, Jihan adalah gadis yang tidak pandai berbohong
“Jihan…” Tegur Faizal
 

Jihan menunduk mendengar Faizal memanggil namanya, Jasmine yang mengerti bahwa Jihan mulai tidak nyaman akhirnya memberi isyarat pada suaminya untuk tidak menekan Jihan lagi. Mungkin Jihan memang sedang tidak ingin bercerita pada mereka saat ini.

“Oh ya, Jihan. Sepertinya kamu akan dilangkahi oleh keponakanmu” Kata Jasmine mengalihkan pembicaraan dan itu berhasil membuat Jihan mengangkat kepalanya kembali dan menatap Jasmine penuh tanya
“Maksudnya, Kak?”
“James akan bertunangan dengan Mitha dan dua minggu setelahnya mereka akan menikah” Jawab Jasmine sambil memperhatikan ekspresi wajah Jihan

Tubuh Jihan menegang seketika, matanya membulat tidak percaya.
 

“Benarkah secepat ini?” Batin Jihan pilu

“Jihan…” Panggil Jasmine yang menyadari perubahan Jihan
“Ah ya ya. Ehm… Se-selamat ya Jimmy, aku turut bahagia mendengarnya” Kata Jihan dan memaksakan diri untuk tersenyum lalu menyalami James


James membalas uluran tangan Jihan “Terima kasih, Aunty”
“Baiklah, aku berangkat kerja dulu kalo gitu. Ada banyak kerjaan hari ini di Boutique” Kata Jihan dan segera meninggalkan ruang tamu yang terasa bagai ruang pesakitan baginya.
^^^
“Robby…” Panggil James pada manager restaurant nya tersebut
“Ya Bos”


Robby melihat penampilan Bos-nya hari ini tidak seperti biasanya, Bos-nya tampak kusut serta tatapan matanya begitu sendu.

“Bos, baik-baik saja?”
“Tolong sampaikan pada chef kita kalau saya hari ini tidak bisa ikut membantu pekerjaan mereka”
“Ok. Adalagi?” Robby kembali bertanya pada James, Ia yakin ada sesuatu yang cukup serius sedang terjadi pada James. Robby bisa menebak itu karena Ia cukup lama mengenal James


James hanya menggeleng dan berjalan menuju ruangannya.

“James… Masalah tidak akan selesai jika dipendam sendiri. Setidaknya kamu bisa membaginya agar terasa lebih ringan” Kata Robby kemudian, sebagai seorang teman yang cukup lama saling mengenal. Robby tidak tega juga melihat keadaan James yang kacau seperti ini

James menghentikan langkahnya dan menghembuskan napas gusar, ia kemudian membalikan badannya kembali menatap Robby.

“Setelah jam kerja selesai, kamu bisa menemuiku di ruanganku. Satu lagi, aku tidak ingin di ganggu siapapun hari ini” Kata James lalu Ia benar-benar pergi dari hadapan Robby dan masuk kedalam ruangannya.

Robby tersenyum, setidaknya James mau membuka dirinya untuk bercerita pada orang lain. Dan James juga sudah memakai kata “Aku” saat tadi berbicara padanya, tidak “Saya” seperti biasanya, itu tandanya James sedang berbicara dengan temannya bukan pada rekan kerjanya.

James dan Robby sudah berteman sejak mereka masih berada di Amerika.
^^^
Alsha : Aku jemput kamu di Boutique sore ini, sekalian aku mau nginep di rumah kamu ya
Jihan : Oke


Jihan membalas singkat pesan Alsha karena sebenarnya Ia cukup sibuk hari ini, dia baru saja kembali dari meeting bersama Tiara di luar. Jihan tidak heran dengan para sahabatnya yang tiba-tiba ingin menginap dirumahnya, bahkan terkadang mereka langsung datang dan menguasai kamarnya, tapi biasanya mereka datang beramai-ramai tidak seperti ini tapi Jihan membiarkan saja dan tidak bertanya apapun pada Alsha.

“Jihan, dipanggil Mrs Law tuh” Kata salah seorang rekan kerja Jihan
“Ok, aku kesana” Kata Jihan dan segera menuju ruangan Bos nya tersebut

“Jihan…”
“Ya Mami”
“Kamu tau kan apa alasanku memanggilku kemari, Jihan”
“Eem… Enggak Mi. Apa, apa aku melakukan kesalahan?” Jihan menerka-nerka

Mrs Law berdiri dari kursinya dengan membawa sebuah kertas dan berdiri di samping Jihan lalu menyerahkan kertas tersebut pada Jihan.
“Design ini, kamu yang membuatnya kan?”
“Iya” Seketika Jihan tersadar saat melihat ulang hasil design tersebut, Ia lalu merutuki kebodohannya
“Ada apa denganmu, Jihan. Tidak biasanya Mami melihatmu tidak fokus seperti ini. Design ini tidak jelek tapi ini terlalu simple untuk sebuah gaun pesta, kamu tau benar bagaimana seleraku dalam menentukan standard untuk sebuah gaun pesta”
“Maaf Mi”


Mrs Law menarik napas panjang, kalau saja ia tidak mengenal dengan baik bagaimana Jihan dan hasil karyanya selama ini mungkin Mrs Law sudah akan marah-marah padanya.

Seperti yang semua karyawannya tahu, bahwa Ia menargetkan para karyawannya untuk menyerahkan design gaun pesta sebanyak mungkin sampai akhir bulan ini, karena Boutique mereka akan mengikuti acara fashion show untuk baju pesta dua bulan lagi.

Dan Mrs Law sangat tidak suka jika Ia harus mengecek sesuatu yang tidak perlu seperti ini. Sebelum Jihan memberikan design tersebut padanya, seharusnya Jihan mengecek kembali hasil kerjanya dan bisa memutuskan sendiri apakah gaun tersebut layak atau tidak diserahkan padanya.

“Apa kamu sedang ada masalah? Kamu tidak fokus, Jihan” Kata Mrs Law pelan
Jihan tidak menjawab, ia hanya menunduk saja dan menyesal. Ini pertama kalinya dia melakukan kebodohan seperti ini.
“Jihan Amanda Anthony…” Kata Mrs Law sedikit kuat, ia bukannya marah tetapi Ia kesal karena Jihan tidak mau berbagi masalah dengannya.
 

Bukankah selama ini mereka sudah sangat dekat, bahkan Mrs Law meminta Jihan memanggilnya Mami, tidak seperti karyawannya kebanyakan. Mrs Law sudah menganggap Jihan seperti anaknya sendiri dan Ia sangat menyayangi gadis tersebut.

“Mami…” Lirih Jihan, matanya mulai berkaca-kaca
Mrs Law kemudian memeluk Jihan dan jebol-lah pertahanan Jihan. Dadanya terasa sesak, namun Jihan tidak bisa membicarakan yang sebenarnya pada Mrs Law. Apa yang akan dikatakan orang-orang jika tahu kalau dirinya mencintai keponakannya sendiri. Sangat memalukan, cinta tulusnya pada James akan dianggap masyarakat sebagai aib. Ya Tuhan.
“Kalau kamu belum mau bercerita padaku, tidak apa. Tapi kamu harus tahu, kalau wanita tua ini bukan sekedar atasanmu di Boutique tapi juga seorang Ibu yang tulus menyayangimu, Jihan. Kapanpun kamu ingin bercerita, jangan sungkan membicarakannya pada Mami Sayang” Kata Mrs Law dengan lembut
Jihan mengeratkan pelukannya pada Mrs Law dan mengangguk saja mendengar perkataan Mrs Law padanya.
^^^
Sore hari, Alsha sudah menjemput Jihan di Boutique, kini mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Jihan, sepanjang perjalanan menuju rumah, Jihan diam saja tidak seperti biasanya

Alsha tentu saja merasa aneh dengan perubahan sikap Jihan tersebut, biasanya sahabatnya ini paling senang berbicara, beberapa kali pula Alsha mengajak Jihan berbicara namun hanya ditanggapi dengan singkat oleh Jihan.

“Ada apa ini sebenarnya, tidak biasanya Jihan seperti ini bahkan saat dia patah hati dengan Bayu dia masih banyak bicara dan ceria seperti biasanya” Batin Alsha khawatir

Kurang lebih satu jam berlalu, kini mobil Alsha telah sampai di halaman rumah Jihan.

Setelah berbasa-basi dengan Faizal dan Jasmine, Jihan segera menyeret Alsha masuk ke kamarnya, rasanya dia sudah ingin meledak karena menyimpan masalahnya sendiri selama ini.
^^^
“James…” Panggil Robby untuk yang ketiga kalinya
Jam kerja sudah berakhir setengah jam yang lalu, dan Robby sudah berada di ruangan James sejak Lima belas menit yang lalu tapi sejak tadi temannya itu tetap diam dan hanya menarik napas dan menghembuskannya panjang, begitu terus berulang-ulang tanpa ada satu patah kata pun terucap dari bibirnya.

“Apa masalahmu begitu rumit kali ini, James” Kata Robby kembali, semakin lama Ia semakin dibuat penasaran dengan kediaman James.
“Aku jatuh hati, Robby” Kata James namun sedetik kemudian ia menunduk lesu
Robby yang awalnya senang mendengar perkataan James, mengerutkan keningnya kemudian.

“Jadi ini masalah hati. Hhm… Cinta” Batin Robby sambil kepalanya manggut-manggut

Tapi apa seperti ini ekspresi orang yang jatuh cinta? Ck!
Robby yakin benar kalau telinganya masih berfungsi dengan sangat baik dan Ia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan James barusan, pria itu sedang jatuh hati bukan patah hati, pasti ada sesuatu yang tidak beres pada James dan gadis yang sudah membuatnya jatuh hati tersebut.


“Baiklah, lalu sekarang apa masalahnya?” Tanya Robby dengan sabar
 

Selama ini Robby memang belum tahu kalau James sedang menjalin hubungan dengan Mitha, walau gadis itu sangat sering datang ke Resto mereka dan bertemu dengan James, Robby menganggap semua itu hanyalah kedekatan biasa saja sebagai teman, toh sikap James tetap dingin dan cuek seperti biasanya pada Mitha, berbeda sekali saat James sedang bersama Aunty-nya, Jihan. Ah, Entahlah.

“Aku sangat mencintainya, tapi saat ini aku tengah menjalin hubungan dengan gadis lain dan itu awalnya atas kehendak gadis yang aku cintai, karena dia pikir kami tidak akan bisa bersatu. Dan semalam gadis yang aku cintai meragukan keputusannya dulu dan ia mengkhawatirkan kebahagiaanku jika tetap berhubungan dengan…”
“Siapa? Siapa gadis yang sedang menjalin hubungan denganmu itu? Dan apa kamu mencintainya juga?” Potong Robby cepat
“Mitha. Tapi aku tidak mencintainya tapi aku juga tidak bisa memutuskan hubungan ini” Kata James membuat Robby tercengang, Ia tidak menyangka ternyata James menjalin hubungan dengan Mitha, dari yang dilihatnya Mitha memang bukan gadis yang tulus.

“Lalu siapa gadis yang kamu cintai itu? Kenapa dia bilang kalau kalian tidak akan bisa bersatu?”
“Maaf. Untuk saat ini aku tidak mengatakannya, Robby” Kata James, Robby menganggukan kepalanya mengerti

“Sekarang bagaimana keputusanmu, ingat James apapun keputusanmu itu akan berdampak untuk masa depanmu, bukan hanya satu atau dua hari kedepan” Kata Robby mengingatkan
“Aku tahu itu. Dan keputusanku adalah aku akan bertunangan dengan Mitha dan menikahinya segera”
“Hah! Kau yakin?”


James tidak menjawab perkataan Robby, ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju Robby
 

“Aku pulang dulu, Robby. Terima kasih sudah mau mendengarkanku” Pamitnya dan berjalan menuju pintu membuat Robby heran tapi juga kasihan pada James
“Kamu bahkan tidak yakin dengan keputusanmu sendiri, James” Gumam Robby
^^^
“WHATT ?!!” Reflek Alsha memekik tidak percaya setelah mendengarkan cerita Jihan
Astaga, yang benar saja. Apa dunia benar-benar sudah terbalik sekarang?
Baru saja sahabatnya itu mengatakan bahwa Ia mencintai keponakannya sendiri. James.


Demi Tuhan! Apa Jihan sudah tidak waras?!!

“Alsha berisik banget ih” Jihan melempar bantal ke wajah Alsha karena kesal akan reaksi lebay sahabatnya itu.
Alsha mendekati Jihan dan meraba keningnya
“Gak panas kok” Gumam Alsha polos
“Alsha apaan sih” Gerutu Jihan
“Hhh… Kamu tuh yang apaan. Emang gak ada cowok laen apa di dunia ini, sampe-sampe kamu suka ama ponakan sendiri” Alsha memulai ocehannya
“Tau ah, bukannya bikin perasaan aku lega tapi kamu malah nambahin beban aku karena ocehan kamu. Mending pulang deh sana” Usir Jihan kemudian Ia berlalu ke kamar mandi.


Alsha menatap punggung Jihan yang berlalu dengan sedih, dia juga tidak mengerti apa yang terjadi dengan Jihan. Bagaimana bisa Jihan mencintai James, apa tidak ada pria lain lagi di dunia ini.

Alsha menggeleng tidak mengerti.
Tak berapa lama, Jihan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar namun wajahnya masih cemberut seperti tadi.
Alsha mendekati Jihan dan langsung memeluknya.

“Jihan, kamu tau kan kalo perasaan itu gak seharusnya ada buat James. Kalian itu saudara, gimana pun caranya kamu harus bunuh perasaan dan cinta kamu itu buat James, karena sampai kapanpun kalian gak akan pernah bisa bersama, aku gak mau kamu jatuh terlalu dalam dan cinta kamu sia-sia begitu aja” Kata Alsha lembut setelah melepaskan pelukannya pada Jihan.
“Iya, aku sadar Sha. Makanya waktu itu aku bilang kak Faizal kalo aku mau nikah karena aku pikir aku akan bisa ngelupain dia dengan cara ini”
“Terus…”

Jihan menceritakan perjodohan dirinya dengan Sugeng dan James dengan Mitha dan kesediannya dirinya dan juga James yang menerima perjodohan Faizal. Alsha menganga tidak percaya dengan apa yang diceritakan Jihan, apa dunia ini begitu sempit.
“Sugeng lagi. Hhmm… Sekarang gimana perasaan kamu ke Sugeng? Jangan kamu kecewain dia lagi untuk yang kedua kalinya Jihan”
“Aku gak tau, Sha. Sugeng kayaknya serius banget sama aku, aku gak tega buat nolak dia untuk kedua kalinya, tapi…”
“Apa?”
“Aku khawatir dengan hubungan Jimmy sama Mitha. Mitha, dia cuma terobsesi dengan apa yang ada di diri Jimmy, dia gak tulus cinta sama Jimmy. Dan semalem aku bilang ke Jimmy kalo dia gak akan bahagia hidup sama perempuan kayak gitu, Jimmy gak bisa jadi dirinya sendiri, selamanya dia Cuma bakal ngikutin apa maunya Mitha dan mungkin saat Jimmy berada dalam kondisi terburuk dalam hidupnya Mitha gak mau nerima, Mitha itu tipe perempuan yang menuntut kesempurnaan dari pasangannya” Jihan berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan
“Tapi Jimmy… Dia malah kekeuh mempertahankan hubungan sama Mitha, malahan tadi pagi dia bilang ke Kak Faizal kalo dia mau tunangan sama Mitha dan akan mengatur pernikahan mereka secepat mungkin”
“Aku harus gimana, Sha?” Tanya Jihan akhirnya


“Kamu terlambat Jihan, kamu udah jatuh terlalu dalam sama James. Kalo udah begini, aku bingung mesti ngasih pendapat gimana sama kamu” Batin Alsha menatap nanar pada sahabatnya.

^^^
Lagu : Naff - Tak Seindah Cinta Yang Semestinya

- TBC -



My Heart Belongs to You - Part 22 ~ By : Erinda

0 comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.