Cinta Saja Tidak Cukup Part 13 - ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 13



By Sally Diandra..... Beberapa hari kemudian ketika Salima sudah kembali ke Singapura, Salima tidak tahu alasan apa yang akan dia katakan ke ibunya yang selalu cemas dengan kondisi Jodha, ketika Salima memasuki kamar Jalal, dilhatnya ibunya sedang berbincang bincang dengan bibi Maham Anga sementara Jalal masih terlelap dalam komanya, perlahan Salima memasuki kamar Jalal, ibu Hamida langsung mengetahui keberadaannya “Salima ... Bagaimana?” ibu Hamida sangat penasaran dengan berita yang dibawa Salima.

Salima hanya tersenyum dan duduk disebelah ibu Hamida, sebenarnya Salima tidak tahu bagaimana caranya mengatakan kebenaran tentang Jodha pada ibunya, ingin rasanya Salima tidak menjawab pertanyaan ibunya “Bagaimana, Salima? Kok kamu diam saja? Bagaimana Jodha? Dia tidak apa apa, kan?”

Bibi Maham Anga yang berada disana segera mengernyitkan dahinya, dirinya langsung penasaran begitu kakak iparnya ini menyebut nama Jodha didepannya “Ada apa dengan Jodha, kak?” bibi Maham Anga pura pura tidak tahu tentang kondisi Jodha. “Aku sendiri tidak tahu Maham, aku hanya merasa aneh, Jalal sudah 2 minggu lebih berada disini tapi kenapa Jodha tidak segera menyusul kemari? Padahal Salima sudah memberinya tiket pesawat, aku takut kalau ada apa apa dengan dia.”

Bibi Maham Anga tersenyum sinis “Kak, tidak usah berharap banyak dengan Jodha, maaf aku lupa mengatakannya padamu.” ibu Hamida dan Salima langsung kaget dan menatap Maham Anga tajam “Ada apa dengan Jodha, Maham? Kamu tahu sesuatu tentang dia?” Maham Anga mengangguk membenarkan kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya “Dia mengembalikan ini ke aku” Maham Anga mengeluarkan sebuah tiket dan diserahkannya ke ibu Hamida, Salima terperanjat “Ibu, itu tiket yang aku berikan ke Jodha!” ibu Hamida langsung membuka tiket tersebut “Kenapa dia mengembalikannya padamu, Maham?”, “Aku sendiri tidak tahu, kak ... mungkin karena aku yang berangkat terakhir, jadi hanya aku yang bisa dia temui”, “Apa alasannya dia mengembalikan tiket itu, bibi?” kali ini Salima ikut angkat bicara “Aku tidak tahu, Salima ... Dia hanya mengatakan kalau dia tidak mau ikut ke Singapura, katanya dia tidak tahan melihat kondisi Jalal yang seperti mayat hidup seperti itu”, “Tapi kenapa ketika aku menanyakan ke temannya yang bernama Rukayah, Jodha malah pamit mau ke Singapura?” ibu Hamida langsung membelalakkan matanya “Apa katamu Salima? Jodha pergi ke Singapura?”, “Iya, ibu ... Rukayah bilang kalau Jodha sudah tidak bekerja disana lagi, dirumah sakit itu, dia mau menyusul Jalal ke Singapura”, “Lalu kenapa tiket ini diberikannya ke kamu, Maham?” ibu Hamida sangat penasaran dengan perlakuan Jodha karena biasanya Jodha tidak seperti ini “Aku tidak tahu kak Hamida, bisa saja kan tau tau dia membatalkan niatnya ke Singapura malah pergi ke tempat lain, mungkin Jodha memang benar benar tidak tahan melihat kondisi Jalal, bisa jadi dia merasa kalau Jalal sudah tidak punya harapan lagi jadi dia meninggalkan Jalal begitu saja”, “Tapi aku tidak percaya, Maham ... Jodha itu sangat mencintai Jalal, tidak mungkin Jodha menyerah begitu saja, mereka berdua itu saling mencintai satu sama lain, Maham” Maham Anga hanya mengendikkan bahunya “Semua kemungkinan bisa saja terjadi, kak ... kita tidak benar benar tahu bagaimana perasaan Jodha yang sebenarnya”, “Tapi aku tetap tidak percaya, bibi ... kalau Jodha seperti itu” bibi Maham Anga mengangkat kedua tangannya keatas “Haaah aku tidak tahu apa apa tapi yang pasti dia telah mengembalikkan tiket itu, itu sudah pertanda kan kalau dia tidak bisa menerima kondisi Jalal?”

Ibu Hamida hanya terdiam sambil terus memandangi tiket tersebut, rasanya sangat tidak mungkin kalau Jodha berbuat seperti yang dituduhkan oleh adik iparnya tapi semua bukti bukti menunjukkan kebenarannya, tak terasa pipinya basah oleh air mata, ibu Hamida tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti kalau Jalal sadar dan mengetahui kebenaran tentang Jodha, ibu Hamida tidak bisa membayangkannya.

Satu bulan berlalu, kondisi Jalal tetap belum membaik, tim dokter yang menangani Jalal mencoba mengurangi pemberian obat penenang untuk memulai proses membangunkan Jalal “Lalu apakah dengan pengurangan itu, Jalal bisa segera bangun dari komanya, dok?” bibi Maham Anga sangat prihatin dengan kondisi Jalal “Belum tentu, nyonya ... semuanya tetap butuh proses dan reaksi dari tubuh pasien sendiri, kami terus berupaya untuk membangunkannya, mari nyonya kami permisi dulu”, “Silahkan silahkan ... terima kasih, dok ...”

Tepat pada saat itu Rukayah muncul dirumah sakit “Selamat siang, bibi ...” bibi Maham Anga langsung menoleh “Iya, kamu siapa ya?”, “Dia anakku Maham!”, tiba tiba dari arah belakang terdengar suara dari si empunya suara, seorang laki laki separuh baya dengan tubuh yang tidak begitu tinggi dan perutnya yang buncit “Abdul? Apa kabar?” Maham Anga mengenali laki laki itu sebagai kolega bisnisnya “Baik baik saja, Maham dan kenalkan ini Rukayah anakku, dia bilang kalau dia teman keponakanmu Jalal” Rukayah tersenyum sambil melingkar lengannya diperut ayahnya yang buncit “Lebih tepatnya teman istrinya Jalal, papa”, “Oooh ... Jadi kamu temannya Jodha? Oh iya iya ... Aku ingat, kamu juga perawat kan? Yang dirumah sakit itu?” Rukayah langsung melebarkan senyumannya “Daya ingat bibi ternyata masih tajam, betul saya perawat yang bekerja dirumah sakit dimana Jodha juga bekerja, apakah Jodha ada?” saat itu bibi Maham Anga menyambut tamunya itu dipintu kamar Jalal, bibi Maham Anga langsung menggelengkan kepalanya “Sampai hari ini dia belum sampai juga disini, Rukayah ... Apakah kamu tahu kemana dia berada?” Rukayah terkejut mendengar pertanyaan bibi Maham Anga “Aku kira Jodha sudah ke Singapura, bibi ... Makanya aku kesini untuk menemuinya dan menengok Jalal juga”, “Haah tak tahulah, maunya apa anak itu, bukannya menemani dan merawat suaminya, dia malah kabur menghilang begitu saja, aneh kan? Mau enaknya saja dia itu!” Rukayah bisa melihat adanya kebencian diwajah bibi Maham Anga “Aaah sudahlah ...ayo masuk, kamu mau menengok Jalal kan? Ayoo mari mari masuk” tak lama kemudian Rukayah dan ayahnya masuk ke dalam kamar Jalal.

Sementara itu tepat satu bulan ditempat Jodha, sedikit demi sedikit ibu Meinawati mulai membangun kembali bisnis cateringnya, melalui Moti, teman teman Moti dirumah sakit juga anak anak kos yang ngekos dirumah Moti yang menjadi langganan tetapnya, ibu Meinawati bisa kembali menjalankan usahanya dan merebut hati konsumennya. Jodha pun ikut sibuk membantu usaha catering ibunya, selain membantu memasak, Jodha juga sibuk memasarkan dan mengenalkan usaha catering ibunya ini di kota Jogja, hal ini tentu saja bisa membuatnya sedikit demi sedikit melupakan kesedihannya terpisah dari Jalal, meskipun ketika malam tiba ketika Jodha teringat kembali dengan Jalal, perasaan menyesak didada karena terpisah dari Jalal selalu datang menghantuinya dan membuatnya menangis.

“Jodha, apakah kamu tidak mencoba untuk melamar pekerjaan dirumah sakit seperti yang ditawarkan Moti?” siang itu ketika Jodha sedang membantu mengepak catering tiba tiba ibu Meinawati bertanya tentang pekerjaan Jodha “Untuk sementara ini, aku ingin membantu ibu dulu dan lagi kalau aku mulai bekerja dirumah sakit, lalu perutku semakin membesar kan jadi berabe”, “Yaaa ibu hanya merasa, apa nggak eman eman ijazah perawatmu itu”, “Tenang ibu, aku sudah menyiapkan semuanya, mungkin setelah anakku ini lahir, aku akan kembali bekerja, yang penting sekarang kita besarin dulu usaha ibu disini, aku akan membantu ibu semaksimal mungkin, selain itu kita kan juga harus mempersiapkan kelahiran anakku ini” diusapnya perutnya yang belum begitu membuncit.     

Di Mount Elizabeth Hospital Singapura, setelah tim medis mengurangi pemberian obat penenang pada Jalal, mereka mulai melakukan proses uji neurologis pada Jalal, pada saat tahap pertama uji tersebut Jalal mampu mengedipkan matanya meskipun masih dalam kondisi koma “Aaah ibu lihat! Jalal berkedip!” Salima sangat senang sekali ketika melihat Jalal merespon tindakan tim dokter “Iya, Salima ... Dokter apa itu artinya, dok?”, “Ini baru tahap awal, nyonya ... Tapi hal ini bisa menjadi tanda bahwa pasien akan bangun dari komanya tapi kapan waktunya, kita tidak tahu” salah satu dokter yang menangani Jalal mencoba memberikan penjelasan ke ibu Hamida “Ya Allah ... Mudah mudah saja anakku bisa segera bangun dari komanya”, “Aamiin ... Kita semua berharap demikian, bu ... Ibu yang sabar ya, yang kuat, aku yakin Jalal pasti segera sembuh!” Salima mencoba menguatkan ibunya dan dirinya sendiri.

Dua bulan kemudian, ketika ibu Meinawati mencari tahu tentang penjualan rumahnya ke pak Birbal, tanpa diduga ibu Meinawati mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan “Soal rumah, ibu tidak usah khawatir mungkin dalam waktu dekat pembelinya sudah sepakat dengan harga yang ibu ajukan, ibu sabar saja, semoga bisa langsung deal”, “Iya pak Birbal, terima kasih untuk bantuannya, semuanya saya percayakan pada anda pak Birbal”, “Terima kasih, bu ... Oh iya, ini kemarin saya mendapat titipan surat” sesaat ibu Meinawati terdiam “Titipan surat apa ya, pak?”, “Saya sendiri tidak tahu, ibu ... Suratnya tidak saya buka tapi yang jelas pengirimnya itu namanya ibu Maham Anga” ibu Meinawati langsung terperanjat “Maham Anga? Bilang apa dia, pak? Apa dia datang ke rumah kami?”, “Iya, betul, bu ... Saya kira waktu itu, salah satu orang yang mau melihat dan membeli rumah ternyata bukan dan dia menitipkan surat ini ke saya untuk Jodha, apa saya kirimkan saja ke alamat ibu?”, “Iya iya ... Kirimkan saja surat itu, pak ke sini, kami tunggu, terima kasih, pak Birbal dan satu lagi pak, kalau ada yang bertanya tentang kami terutama tentang Jodha, tolong jangan katakan dimana kami berada saat ini”, “Baik, bu ... akan selalu saya ingat”, “Sekali lagi terima kasih, pak Birbal” bu Meinawati benar benar penasaran dan bertanya tanya kira kira apa isi surat yang dikirimkan oleh Maham Anga untuk Jodha? Apakah surat itu akan membuat Jodha menjadi semakin sedih? Entahlah ...... TBC-->Chapter 14



Cinta Saja Tidak Cukup Part 13

4 comments:

  1. SeMakiN sedih...daN NaNgiss terharuu...

    ReplyDelete
  2. mba,, jangan lama2 pisahnya, saya gak suka yang sedih2
    Update soon next chapter yaa :D

    ReplyDelete
  3. Berpisah.. Sungguh menyakitkan..


    Mba jangan lama2 dong jalal sakit'y.. Engk tega liat Jodha Sedih kya gtu,. #MembacaSambilberhayal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang disetiap membaca kan kita dituntut untuk berkhayal, Mbak Diyah... ^0^

      Delete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.