Cinta Saja Tidak Cukup Part 15 - ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 15



By Sally Diandra..... “Aku dimana, ibu?” Jalal yang kebingungan segera bertanya pada ibunya begitu semua alat alat yang menempel diwajahnya dicopot. “Kamu ada dirumah sakit, sayang ... Apa yang kamu ingat terakhir kali, Jalal?” ibu Hamida membelai lembut rambut anaknya, sementara Jalal mencoba mencari cari seseorang melalui sorot matanya, dilihatnya orang orang yang ada didepannya saat ini, semuanya asing bagi Jalal kecuali ibunya dan Salima kakaknya. “Jodhaaa ... mana Jodha, ibu?” ibu Hamida dan Salima saling berpandang pandangan, mereka tidak tahu harus berkata apa pada Jalal “Jodha ada dirumah, Jalal ... Kamu tidak usah khawatir” Salima berusaha menenangkan Jalal “Apa yang anda ingat terakhir kali, tuan Jalal?”, “Jalal, ini tim dokter yang merawat kamu selama ini” ibu Hamida memperkenalkan tim medis rumah sakit ke Jalal “Aku ingat ...” lama Jalal terdiam “Aku ingat Jodha, waktu itu hujan, hujan deras, aku mau jemput dia ke rumah sakit, tiba tiba ada sebuah truk didepanku, kemudian aku merasa diriku melayang di udara, setelah itu ... “ lama Jalal terdiam mencoba mengingat ingat “Aku tidak ingat lagi, dok”, “Okay ... It’s oke, tidak apa apa tuan Jalal tapi respon ingatan anda masih cukup baik, tuan Jalal kalau begitu kami permisi dulu” tak lama kemudian tim dokter tersebut pergi meninggalkan mereka.

Satu minggu setelah Jalal siuman dari tidur panjangnya selama 6 bulan karena kecelakaan sepeda motor yang menimpanya, Jalal bersikeras meminta pulang ke Indonesia namun karena kondisinya masih lemah maka Jalal belum bisa rawat jalan sehingga begitu sampai di Indonesia, Jalal kembali masuk ke rumah sakit namun bukan rumah sakit dimana dulu Jodha bekerja disana.

“Ibu, kenapa setelah aku berada di Jakarta, Jodha tidak juga menemuiku? Jodha kemana, bu? Dia sudah tau kan kalau aku sudah pulang? Kenapa dia tidak menemani aku? Ada apa dengan dia, ibu?” ibu Hamida hanya diam sambil memalingkan mukanya kearah pintu keluar, Jalal penasaran dengan sikap ibunya karena ibunya tidak pernah seperti ini “Ada apa, ibu? Apa ada yang tidak beres? Jodha sakit?” Jalal terus menerus bertanya tentang keberadaan Jodha, ibu Hamida hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis “Jalal, saat ini lebih baik kamu memikirkan kesehatanmu terlebih dulu, tidak usah berfikir yang lain lain” bibi Maham Anga berupaya menjelaskan ke Jalal, Jalal mengernyitkan dahinya “Bagaimana bibi bisa mengatakan aku berfikiran yang lain lain, Jodha adalah istriku, bibi .... Aaaahh” tiba tiba Jalal mengerang kesakitan “Jalal, kamu kenapa, kamu kenapa, nak?” Jalal memegangi kepalanya yang tiba tiba pusing “Kepalaku pusing, bu ...”, “Sudah lebih baik kamu istirahat saja dulu, nanti kalau kamu sudah enakan, kita ngobrol banyak soal Jodha, okay?” Jalal menganggukkan kepalanya, kemudian memejamkan matanya, dalam hatinya berkecamuk beribu macam pertanyaan tentang Jodha yang tiba tiba saja menghilang dari sisinya.

Hingga akhirnya ketika Jalal sudah tidak tahan lagi mencari tahu keberadaan Jodha, beberapa hari kemudian akhirnya ibu Hamida menceritakan semua tentang menghilangnya Jodha “Itu tidak mungkin, ibu! Itu tidak mungkin! Jodha tidak mungkin berbuat seperti itu!” Jalal tidak percaya dengan cerita ibunya tentang Jodha “Tapi begitu kenyataannya Jalal, bibi sendiri tidak mengerti” sesaat Jalal tidak percaya dengan ucapan bibinya “Bibi tidak mengintimidasi dia?” bibi Maham Anga langsung membelalakkan matanya “Jalal! Kenapa kamu bisa bilang seperti itu?”, “Maham, bisa kecilkan suaramu? Ini dirumah sakit dan lagi Jalal juga masih sakit, Maham”, “Maaf kak, aku emosi, aku nggak terima kalau Jalal curiga sama aku, Jalal ... percaya pada bibi, bibi tidak pernah mengintimidasi Jodha, bibi sendiri heran karena tiba tiba saja dia menemui bibi dan mengembalikan tiket pesawat yang dibelikan oleh Salima, dia bilang kalau dia tidak tahan melihat keadaanmu, dia merasa kalau kamu tidak ada harapan untuk sembuh jadi rasanya percuma menunggu kamu, malah dia bilang kalau kamu itu seperti mayat hidup, itu semua dia katakan sendiri, Jalal ... dari mulutnya sendiri, tidak ada paksaan dari siapapun” bibi Maham Anga menggelengkan kepalanya “Aku sendiri heran sama istrimu itu, kenapa dia bisa berfikiran seperti itu” Jalal memperhatikan bibi Maham Anga dengan tatapan tidak percaya, rasanya tidak mungkin Jodha melakukan semua ini “Ibu, kapan aku bisa keluar? Aku ingin mencari Jodha”, “Tidak semudah itu Jalal, walaupun kemauan kamu sangat kuat tapi kondisi fisikmu tidak mendukung, menurut dokter kamu baru bisa keluar setelah kamu bisa berjalan, saat ini kamu mengangkat kepalamu saja belum bisa, kamu masih lemah, Jalal” Jalal mengepalkan tangannya, perasaan marah, sedih, kesal bercampur menjadi satu, Jalal sadar kalau dirinya masih sangatlah lemas, walaupun keinginannya kuat untuk mencari Jodha namun apa daya tubuhnya tidak mendukungnya untuk melangkah, akhirnya Jalal hanya bisa pasrah sambil sedikit demi sedikit Jalal menjalani fisioterapi.

Pagi itu ketika Rukayah datang untuk menjenguk Jalal, bibi Maham Anga yang baru saja keluar dari kamar Jalal segera menggeret Rukayah ke suatu tempat “Rukayah, bisa kita ngobrol empat mata?”, “Bisa, ada apa bibi?”, “Lebih baik kita ngobrol di kantin saja, ayoook” Rukayah menuruti permintaan bibi Maham Anga, sesampainya disana setelah memesan makanan, bibi Maham Anga segera to the point ke Rukayah “Rukayah, apakah kamu mencintai Jalal?” sesaat Rukayah tersedak begitu mendengar pertanyaan bibi Maham Anga “Kenapa bibi bisa bertanya seperti itu?”, “Aku bisa melihatnya dimatamu, apakah benar penglihatanku ini, Rukayah?” Rukayah hanya tersenyum malu malu “Bibi benar, aku memang mencintai Jalal, aku bahkan pernah bilang ke Jodha kalau saja ada laki laki seperti Jalal lagi, aku ingin memilikinya”, “Mengapa harus menunggu ada laki laki lain yang seperti Jalal? Kalau Jalal sendiri bisa kamu dapatkan?” Rukayah mengernyitkan dahinya “Maksud bibi?”, “Rukayah, kamu ini cantik, kamu tidak kalah menariknya dengan Jodha, aku yakin kalau kamu mau berusaha untuk mendekati Jalal, kamu pasti bisa mendapatkan Jalal! Apalagi saat ini Jalal sedang rapuh, jiwanya sedang gersang karena ditinggal oleh Jodha”, “Tapi bibi ... bukankah Jodha sebenarnya pernah berniat pergi ke Singapura untuk menemui Jalal?”, “Rukayah! Aku mohon dengan amat sangat, kalau kamu ingin mendapatkan Jalal, kamu tidak boleh buka suara soal Jodha didepan Jalal! berita apapun tentang Jodha, tidak boleh kamu katakan ke Jalal! Kamu mengerti? Dan tidak ada pertanyaan apapun soal ini! Aku harap kamu bisa mengerti, Rukayah” Rukayah bergidik begitu mendengar suara bibi Maham Anga meninggi, sesaat kemudian Rukayah langsung menganggukkan kepalanya “Bagus! Mulai sekarang kamu harus intens mendekati Jalal, kamu harus memberikan perhatian yang berlebih pada Jalal, buatlah Jalal nyaman bersamamu, aku akan membantu mendekatkan kamu dengan Jalal, kamu setuju?” Rukayah tersenyum senang “Iya bibi aku setuju, aku setuju” Rukayah sangat senang dengan rencana bibi Maham Anga karena dengan begitu dirinya bisa segera memiliki Jalal tanpa ada gangguan dari Jodha, Rukayah sudah bertekad akan merebut hati Jalal dari Jodha, Rukayah tidak peduli meskipun Jodha adalah teman baiknya selama ini. Bagi Rukayah, memiliki Jalal adalah impiannya selama ini, apalagi saat ini Jodha sudah pergi meninggalkan Jalal jadi sah sah saja buatnya untuk mendekati Jalal.

“Apa kabar, Jalal? Kamu sudah baikkan?” hari itu setelah ngobrol banyak dengan bibi Maham Anga, Rukayah segera menjenguk Jalal “Aku baik baik saja, Rukayah ... cuma aku masih belum bisa berjalan seperti sedia kala”, “Iyaaa ...  kamu kan baru siuman dari koma, apalagi komamu cukup lama, kurang lebih 6 bulan, proses penyembuhannya cukup lama, Jalal”, “Sampai berapa lama?”, “Mungkin bisa jadi 3 - 4 tahun”, “Tiga empat tahun?! Lama sekali? Apakah selama itu aku harus berada di rumah sakit?”, “Bukan begitu, untuk proses penyembuhanmu sampai sembuh seperti semula butuh waktu tiga hingga empat tahun tapi kalau dirumah sakit mungkin 1 atau 2 bulan kamu bisa pulang, setelah itu kamu bisa rawat jalan, memang begitulah prosesnya, Jalal ... walaupun kamu merasa sehat dan baik baik saja tapi tubuhmu tidak, kamu baru bisa berjalan sendiri diatas kedua kakimu setelah tiga atau 4 tahun nanti, tapi tidak usah khawatir aku akan membantumu melalui masa fisioterapimu itu”

Lama Jalal terdiam menerawang kejauhan, pikirannya melayang membayangkan senyum Jodha yang selalu menghiasi hari harinya selama ini “Tersenyumlah terus ... Agar aku bisa mengingatmu meskipun aku telah jauh darimu” Jalal masih teringat kata katanya ketika melihat senyuman dibibir mungil Jodha tak terasa Jalal bergumam “Jodhaaa ...” Rukayah yang mendengarnya pura pura tidak mendengar “Ada apa, Jalal? Barusan kamu bilang apa?” Jalal tersadar dari lamunannya “Seandainya Jodha ada disini, dia pasti akan merawat aku, kamu tahu Rukayah, sebelum aku terbangun dari komaku, aku masih ingat dengan jelas dalam mimpi bawah sadarku, ketika itu aku memasuki sebuah ruangan yang serba putih dan tidak berujung, aku tidak tahu sampai dimana ujung ruangan tersebut, aku terus melangkah, disana tidak ada siapa siapa, semuanya seperti berkabut, aku terus berjalan, aku merasa cukup lama aku berjalan hingga akhirnya aku menemukan sebuah pintu di ruangan itu, ketika aku berlari kearah pintu tersebut, aku bisa melihat dengan jelas sebuah taman yang indah, banyak bunga bunga beraneka warna, aku bisa mencium baunya yang harum sekali, juga banyak burung burung beterbangan di langit dan hewan hewan jinak ada semua disana, semuanya indah dalam penglihatanku, hingga aku sampai disebuah air terjun dengan sebuah kolam dibawahnya, disana aku lihat ada seorang perempuan dan seorang anak kecil, aku pikir itu pasti anaknya, mereka sedang bermain air dikolam itu, ketika aku mencoba memanggil mereka, tiba tiba mereka menoleh ke arahku dan kamu tahu Rukayah siapa mereka sebenarnya? Perempuan itu adalah Jodha tapi siapa anak kecil itu? Aku tidak tahu ... Tiba tiba aku terbangun dari mimpiku, apakah kamu tahu arti mimpiku ini?” sesaat Rukayah tertegun lalu segera menggelengkan kepalanya “Mimpi itu hanya bunga tidur, Jalal ... Kamu tidak usah memikirkannya karena pada kenyataannya Jodha saat ini tidak ada disampingmu, kamu harus bisa menerima kenyataan ini”, “Tapi aku merasa ada sesuatu dengan anak kecil itu, aku merasa cukup dekat dengannya, sepertinya aku kenal dengan anak itu tapi dimana?”, “Apakah keluargamu sudah tau tentang mimpimu ini?” Jalal menganggukkan kepalanya “Mereka sama seperti kamu, mereka tidak bisa memberikan jawaban yang pasti, Rukayah ... Aku harus mencari Jodha!”, “Tidak tidak tidak ... Tidak untuk saat ini Jalal, kamu masih harus melakukan banyak pengobatan”, “Tapi kamu mau kan membantu aku untuk menemukan Jodha?” Rukayah bingung dan kikuk didepan Jalal namun kemudian akhirnya dia menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang dibuat buat.

Sementara itu dirumah Jodha, setelah Jodha sudah pulang dari rumah sakit, ibu Meinawati membuat sukuran kecil kecilan untuk cucu pertamanya “Mau kamu kasih nama siapa dia, Jodha?” Moti yang saat itu membantu persiapan sukuran untuk anak Jodha sangat penasaran dengan nama yang akan diberikan untuk anaknya “Aku akan memberinya nama Salim, Moti ... seperti yang diinginkan Jalal, kalau laki laki Jalal ingin anaknya bernama Salim”, “Salim! Bagus juga namanya” ibu Meinawati ikut nimbrung bareng mereka “Rambutnya merah, persis seperti kak Jalal ya, bu ... kalau kak Jodha kan rambutnya hitam” Shivani juga ikut nimbrung bareng mereka “Iyaaa, kulitnya juga kayaknya kayak bapaknya niii, nggak kayak kamu Jodha yg sawo mateng, kalau anakmu ini putih bersih kayak Jalal” Jodha dan Moti saling tersenyum sambil saling berpandang pandangan “Namanya juga anaknya, bu ... masa mirip orang lain, kalau nggak mirip aku pastilah mirip Jalal” semua yang ada disana tertawa bahagia sambil memandangi Salim kecil yang mirip sekali dengan Jalal.
Bersambung Episode 16 Klik Disini


Cinta Saja Tidak Cukup Part 15

7 comments:

  1. Lanjuiut... pengen sumpel mulut maham anga pake kolor khaibar nich ckckckck keseeell

    ReplyDelete
  2. Semoga mereka cpt di pertemukan kasian jo ja...sukriya mba chus...

    ReplyDelete
  3. Semoga mereka cpt di pertemukan kasian jo ja...sukriya mba chus...

    ReplyDelete
  4. Smg secepatnya ketemu istri dan anaknya & ruks isap jmpl.

    ReplyDelete
  5. gemeeesss.....deehhhh sama Maham n Ruq, smoga aja Jalal bisa cepat ketemu Jodha nda gabakl termakan sama rayuan si Ruq sampai kapan pun....ngga relaaaaa
    Lanjooottt nanda Chus.....

    ReplyDelete
  6. Duch.... penasaran bangeeeetttt.... ma kelanjutannya,
    penasaran gimana nanti reaksi jalal setelah ketemu ma jodha, tapi kayaknya masih lama ya.... mba sally,
    lanjut donk mba sally, jangan terlalu lama donk baru dilanjut, kan penasaran.....

    ReplyDelete
  7. Wah si nenek lampir ketemu ratu kodok ya klop dah

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.