Cinta Saja Tidak Cukup Part 16 - ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 16



By: Sally Diandra

Dua bulan kemudian ...
Ketika dirasa Salim kecil sudah bisa ditinggal untuk bekerja, Jodha akhirnya kembali ke pekerjaan lamanya sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit dimana Moti bekerja, sementara Salim kecil diasuh oleh seorang pengasuh yang bekerja paruh waktu dirumahnya, sedangkan ibu Meinawati semakin sibuk dengan bisnis cateringnya sambil tetap mengawasi keberadaan Salim.

“Aku yakin, kamu akan betah bekerja disini, Jodha ... disini orangnya ramah ramah dan saling membantu, nanti kamu akan aku kenalkan dengan beberapa perawat di ruang OK dan juga beberapa dokter yang bertugas disana.” Jodha hanya diam sambil terus mendengarkan semua penjelasan Moti dengan seksama “Oh iya, ada yang harus kamu perhatikan baik baik dengan salah satu dokter yang ada disana.”
“Siapa? Maksudmu dokter yang mana, Mo?”
Moti tersenyum kearah Jodha “Dokter Suryaban, Jodha ... dia seorang dokter anestesi, usianya 7 tahun diatas kita jadi dia sekarang sudah 37 tahun dan masih lajang.”

Jodha segera mengernyitkan dahinya sambil menatap Moti dengan pandangan heran “Maksudmu dengan kata masih lajang? sepertinya ada udang dibalik batu nih.”
Moti hanya tersenyum “Aku kan cuma mau menjelaskan Jodha kalau salah satu dokter di ruang OK kita itu ada yang masih lajang, belum menikah, aku sendiri juga nggak tahu kenapa sampai di usianya yang sudah berkepala 3 lebih itu, dia belum juga menentukan pilihannya, padahal yang suka dengan dia banyak lhooo ... cantik cantik lagi tapi aneh kenapa juga nggak ada satupun yang dipilihnya”
“Ya mungkin dia punya kriteria tersendiri barangkali, bisa jadi kan?”
Moti hanya tersenyum melirik kearah Jodha “Dia itu orangnya perfeksionis, Jo ... kamu harus bisa ngerti apa maunya, kalau nggak ... bisa bisa didamprat kamu nanti, kalau tidak sesuai dengan yang dia inginkan, tuh orangnya!” tiba tiba Moti berhenti dan menunjuk kearah depan dengan dagunya “Arah jam 3, yang lagi berdiri ngobrol sama dokter lain, dia yang tinggi itu”

Jodha segera menatap kearah yang Moti tunjukkan, didepannya telah berdiri seorang dokter yang bila dilihat dari penampilannya sama seperti dokter yang lainnya, bersih, rapi dan kelihatannya suka berbicara terlihat dari obrolannya dengan dokter lain yang berada disebelahnya, dia ini lebih dominan, lebih menguasai pembicaraan ketimbang lawan bicaranya.
“Perfeksionis dan talk active ya” Jodha melirik kearah Moti.
Moti segera menganggukkan kepalanya “Dia memang suka bicara, dia ini salah satu narasumber yang sering digunakan oleh rumah sakit kalau ada seminar seminar”
Jodha menganggukkan kepalanya “Ayoo kita masuk, Mo ... Jangan sampai dia tahu kalau kita sedang membicarakan dia, ayooo” Moti segera mengikuti langkah Jodha masuk kedalam ruang OK.

Seharian itu Jodha dan Moti sibuk melayani beberapa operasi yang harus mereka tangani, namun dari beberapa operasi yang mereka garap tidak satupun yang menggunakan dokter Suryaban sebagai dokter anestesi yang menangani pembiusan pasien, hingga akhirnya ketika menjelang jam pulang sekitar pukul setengah 2 siang ketika Jodha sedang membereskan semua peralatan, rupanya ada pasien yang harus di operasi namun Jodha sudah bebas tugas, Jodha sudah bersiap siap hendak pulang, ketika hendak membuka pintu utama ruang OK, tiba tiba saja dari arah luar tubuh Jodha terdorong kebelakang oleh sosok tinggi besar yang tiba tiba saja menubruknya dari arah depan membuat tubuh mereka berdua jatuh terjerembab dengan posisi orang itu berada diatas Jodha, Jodha sangat terkejut karena orang itu adalah dokter Suryaban, sesaat mereka saling berpandang pandangan namun Jodha menyadari posisi jatuhnya kurang mengenakan bila dilihat oleh orang lain yang mungkin melihat mereka, “Maaf, dok ... tubuh anda menindih saya”
Dokter Suryaban pun segera menyadari posisinya “Oooh iyaaa ... Maaf ... Maaf, aku tadi terburu buru hingga menabrak kamu, siang ini ada operasi kan?” dokter Suryaban segera berdiri dan membersihkan dirinya sendiri dengan kedua tangannya yang menepuk nepuk keseluruh tubuhnya.

Jodha pun segera berdiri dari jatuhnya.  “Iyaaa, siang ini ada operasi, dok ... anda pasti salah satu dokter yang mau ikut operasi juga ya?”
“Iyaaa , kamu belum kenal denganku rupanya, kenalkan aku dokter Suryaban, dokter anestesi, sebentar ... nama kamu pasti ... Jo - dha, benar begitu?” Jodha menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan bet nama di dadanya sebelah kiri lalu menyambut tangan dokter Suryaban sebagai tanda perkenalan “Kamu ini sepertinya perawat baru karena aku baru meihat kamu hari ini”
“Iyaaa, dok ... Ini hari pertama saya dirumah sakit dan waktu kerja saya sudah selesai saatnya saya mau pulang, silahkan dok ... pasien anda pasti sudah menunggu”
Dokter Suryaban seperti tersadar bahwa tugasnya belum selesai “Oooh iyaaa, aku sampai lupa, pasiennya sudah masuk?”
Jodha menganggukkan kepalanya, sementara dokter Suryaban seperti salah tingkah didepan Jodha, ketika dokter Suryaban hendak melangkah masuk ke ruang sterilisasi “Maafkan yang tadi ya, maaf ... aku tidak sengaja”
“Tidak apa apa, dok ... santai saja, maaf permisi saya pergi dulu”
Jodha segera berlalu dari hadapan dokter Suryaban, dokter Suryaban pun segera masuk ke ruang sterilisasi untuk persiapan operasi selanjutnya.

~~~~~~~~~~o0o~~~~~~~~~~

Sementara itu ditempat Jalal, setelah dua bulan siuman dari komanya akhirnya Jalal diperbolehkan menjalani rawat jalan dirumah, tadinya Jalal ingin pulang ke rumah kontrakkannya dulu bersama Jodha karena banyak kenangan indah yang terukir disana bersama Jodha, namun ibu Hamida melarang Jalal karena selain rumah itu sudah ditempati oleh orang lain, Jalal juga lebih baik dirawat dirumah ibunya yang besar hingga ibu Hamida bisa mengawasi Jalal 24 jam penuh. Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Jalal nampak termenung, dirinya benar benar telah lost kontak dengan Jodha, selain HP yang sudah tidak aktif, rumah kontrakkan mereka berduapun sudah ditinggalkan Jodha begitu saja, Jalal merasa ada yang tidak beres tapi apakah hal itu, Jalal belum bisa meraba bayangan semu yang terjadi pada Jodha.

“Kak Salima, apakah kamu sudah benar benar mengecek ke rumah ibunya?”
Salima yang saat itu duduk didepan disebelah sopir pribadi mereka langsung menoleh ke arah Jalal yang duduk ditengah bersama dengan ibunya, “Aku sudah kesana, Jalal ... aku sudah mengeceknya, rumah itu kosong, nggak ada kehidupan disana”
“Iya kak, aku juga beberapa kali mengecek kesana untuk memastikan, tapi tetap saja hasilnya nihil” Mirza yang duduk di bangku paling belakang ikut nimbrung pembicaraan mereka
“Sudahlah, Jalal ... mungkin Jodha memang sudah benar benar tidak ingin bertemu dengan kamu lagi, mungkin benar seperti yang dikatakan oleh bibimu bahwa Jodha tidak bisa menghadapi keadaanmu ketika kamu koma dulu, dia sepertinya tidak memiliki harapan akan kesembuhanmu” ibu Hamida berusaha untuk membujuk Jalal untuk sedikit demi sedikit melupakan Jodha.
“Tapi Jodha tidak seperti itu, bu ... Jodha seperti yang bukan aku kenal selama ini, aku yakin Jodha pasti mempunyai keyakinan akan kesembuhanku, dia tidak mungkin menyerah begitu saja” Jalal masih bersikeras kalau Jodha tidak seperti yang keluarganya pikirkan selama ini.
“Sudahlah Jalal, kamu jangan memikirkan hal ini dulu, pikirkan kesehatanmu dulu, kamu masih harus menjalani serangkaian fisioterapi, kakimu saja belum bisa kamu gerakkan” ibu Hamida menganggukkan kepalanya sambil mengelus kepala Jalal lembut
“Iya Jalal, pikirkan kesehatanmu dulu, baru kamu bisa memikirkan yang lain, okay?” Jalal hanya bisa pasrah menuruti permintaan ibu kandungnya.
“Here we go!” tiba tiba Mirza berteriak dari arah belakang menyadarkan mereka kalau saat ini sudah sampai di rumah.

Dari dalam mobilnya Jalal bisa melihat seluruh keluarga besarnya sudah siap menyambut kepulangannya ke rumah, dari dalam mobil Jalal segera digendong oleh adik bungsunya Mirza dan didudukkan disebuah kursi roda, perlahan mereka memasuki rumah, rumah yang telah Jalal tinggalkan selama ini setelah menikah dengan Jodha dan kali ini Jalal kembali kerumah ini tanpa Jodha. Semua keluarga besar Jalal sangat bahagia begitu mengetahui kondisi Jalal yang berangsur membaik dan rupanya selain keluarga besar Jalal, teman teman dan sahabat Jalal juga berada disana menyambut kedatangannya, Jalal bisa melihat dengan jelas ada Todar Mal, Maan Sigh dan beberapa teman yang lain dan juga salah satu orang kepercayaan Jalal dirumah yang sudah merawat Jalal sejak kecil, dia adalah Birbal, Birbal sangat senang begitu tau Jalal kembali kerumah ini, dulu ketika Jalal pergi meninggalkan rumah ini karena menikah dengan Jodha, Birbal sangat sedih melihat tuannya pergi meninggalkannya tapi kali ini senyum dibibir Birbal kembali mengembang begitu melihat tuannya kembali.
“Jalal, akhirnya kamu kembali” Birbal langsung memeluk Jalal yang masih terduduk dikursi rodanya.
“Birbal, aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi” Jalal juga membalas pelukan Birbal.
“Aku siap melayani kamu kapan saja, Jalal”
“Iyaa Jalal, Birbal nanti yang akan melayani kamu, ibu sudah perintahkan ke Birbal untuk melayani semua kebutuhan kamu selama 24 jam penuh dan dia sangat bersemangat begitu mengetahuinya” Birbal tersenyum senang mendengarnya.

“Tidak tidak tidak, kak Hamida ... selama Jalal berada dirumah, Jalal harus tetap dirawat oleh seorang perawat karena Jalal tetap harus mendapatkan perawatan medis bukan perawatan pelayan biasa seperti Birbal” tiba tiba bibi Maham Anga menyeruak menghampiri mereka diikuti oleh Rukayah. Senyum dibibir Birbal tiba tiba meredup, Jalal bisa melihat hal ini “Oleh karena itu, aku sudah meminta Rukayah untuk merawat Jalal selama Jalal menjalani perawatan dirumah”
Rukayah segera menganggukkan kepalanya pada semua yang hadir disana, dia ingin menunjukkan pada semua keluarga besar Jalal bahwa dialah yang akan selalu dekat dengan Jalal setiap harinya, Rukayah sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari rumah sakit dimana dia bekerja dan menerima tawaran bibi Maham Anga untuk merawat Jalal, tentu dengan gaji yang sangat lumayan hingga dia berani memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai perawat ruang OK.
“Baiklah, kalau menurutmu itu yang terbaik untuk Jalal, kami setuju saja”
“Tapi aku tetap meminta Birbal untuk melayani aku seperti yang ibu perintahkan” Jalal segera buka suara begitu melihat ekspresi muka Birbal yang terlihat sedih ketika bibi Maham Anga menolak keputusan ibunya.
“Baiklah ... kalau kamu memaksa, Jalal ... Jadi mulai hari ini Rukayah dan Birbal yang akan merawat Jalal, deal?”
Jalal segera menganggukkan kepalanya sementara Birbal tersenyum senang mendengar keputusan Jalal.
Part 17 Klik Disini


Cinta Saja Tidak Cukup Part 16

6 comments:

  1. Wah MakiiN seruu Nee....ichh sii MahaM saMa ruqaiya eMaNg dasarr otak seMprulll...

    ReplyDelete
  2. Akhirnya ff ini muncul lagi..setelah berhari hari ditunggu..jangan lama lama ya kak chus..makasih

    ReplyDelete
  3. Horree akhirnya muncul jg ... dah ga sabar baca lanjutannya nih,,,dtunggu sgera y,, makasih ;)

    ReplyDelete
  4. Finally.....ngga sabar nunggu part jalal ketemu ma jodha lagi, kan sekarang dah sama2 di indo.....lanjooottt nanda Chus....

    ReplyDelete
  5. Modus nich maham anga... suruh hawai tendang aja tuch pantatnya biar langsung terbang ke kutub utara hehehehe... lanjuuuuut tq mba chus

    ReplyDelete
  6. Kapan dilanjut nech....????
    Kan penasaran bangeetttt....

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.