Cinta Saja Tidak Cukup Part 18 - ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 18



By Sally Diandra..... Waktupun berlalu dengan begitu cepat, tanpa terasa Salim saat ini sudah berusia 1,5 tahun dan selama waktu itu pula dokter Suryaban mencoba untuk lebih dekat dengan Jodha, mencoba untuk menyelami bagaimana kepribadian Jodha yang sebenarnya karena melihat latar belakang Jodha yang single parent, dokter Suryaban sangat menyadari tidaklah mudah untuk bisa memasuki kehidupan pribadi Jodha dengan menawarkan suatu kehidupan yang baru untuknya, oleh karena itu seperti pepatah Jawa yang mengatakan, dokter Suryaban mencoba bersabar dan alon alon asal kelakon ( lama lama akhirnya juga bisa mendapatkan apa yang diinginkan ) dokter Suryaban mencoba untuk lebih akrab dengan Jodha sebagai temannya.

“Selamat sore ...” sore itu tiba tiba dokter Suryaban muncul dirumah Jodha ketika Jodha sedang asyik berkebun ditaman depan, menambah beberapa tanaman yang Jodha rasa perlu, Jodha memang suka sekali berkebun khususnya dengan konsep eco green yang bisa membuat rumahnya tambah nyaman dan sejuk.

Begitu melihat kedatangan dokter Suryaban, Jodha segera berdiri dari duduknya dan langsung menyambut tamu nya itu “Apa kabar dok? Tumben sore sore nongol, ada angin apa ni?”

Dokter Suryaban cuma tersenyum “Suka berkebun juga rupanya?”

Jodha menganggukkan kepalanya “Biasa, hobby dari dulu sekalian buat ngisi waktu luang, ayoo silahkan masuk, dok ... tapi maaf saya mau ganti baju dulu, kotor”

Dokter Suryaban hanya tertawa kecil “Kamu pasti ngira aku nggak nyaman yaa kalau duduk sama kamu dengan pakaian kotor begini?”

“Yaaa kurang lebih seperti itu, dok ... Hehehehe” Jodha berusaha menetralisir keadaan karena Jodha tau banget kalau dokter Suryaban itu paling benci dengan sesuatu yang kotor dan jorok.

“Tenang saja Jodha, kalau untuk urusan berkebun, aku bisa mentolerir, it’s okay!”

“Waaaah rupanya ada tamu to? Kenapa nggak disuruh masuk dokter Suryaban, Jodha” tiba tiba ibu Meinawati menghampiri mereka sambil menggendong Salim.

“Tidak apa apa, bu ... Lagian saya juga baru datang, apa kabar Salim? Sehat kan?”

Ibu Meinawati mengangguk sambil tersenyum “Sehat dan lagi bawel, biasa lagi belajar ngomong, jadi lagi nanya nanya melulu tapi kalau disuruh belajar jalan masih malas ni, dok” ibu Meinawati menciumi Salim dengan gemas, dokter Suryaban dan Jodha hanya tertawa melihatnya

“Ibu temani dokter Surya dulu yaaa, aku ganti baju dulu, nggak enak kotor gini,” ucap Jodha.

“Ya udah sana masuk! Biar Salim yang nemani dokter Surya, iya kan Salim?”

“Papapapapap ...” Salim yang digendong oleh neneknya tiba tiba ikut nimbrung pembicaraan mereka, semua yang ada disanapun tertawa melihat tingkah Salim yang lucu.

Sementara itu dirumah Jalal, setiap hari Jalal selalu rajin melakukan terapi fisioterapi untuk kedua kakinya, akhirnya dari kursi roda, Jalal sudah beralih menggunakan kruk yang disandarkan dikedua ketiaknya dan perlahan lahan Jalal sudah bisa menggerakan kakinya meskipun belum begitu sempurna dan semua itu lagi lagi berkat dukungan Rukayah yang tidak henti hentinya melayani keperluan Jalal dalam hal medis juga dukungan keluarganya yang sangat dicintainya.

“Kak Hamida, aku lihat semakin hari semakin lama rasanya Jalal dan Rukayah itu cocok ya satu sama lain” tanpa ada yang bertanya tiba tiba bibi Maham Anga memberikan sebuah pernyataannya ke ibu Hamida yang saat itu sedang menikmati acara minum teh disore hari bersama bibi Maham Anga dikebun belakang mereka, sambil memperhatikan Jalal yang sedang belajar berjalan dengan kruknya yang dibantu oleh Rukayah

“Maksud kamu Maham?”

“Yaaa maksud aku, kenapa tidak kita menjodohkan saja Jalal dengan Rukayah, lagian Rukayah itu juga berasal dari keluarga terhormat, sama seperti kita, ayahnya adalah salah satu kolega bisnisku, kak” ibu Hamida hanya diam saja sambil mendengarkan penjelasan bibi Maham Anga “Bagaimana menurutmu, kak?”

Ibu Hamida sekilas melirik kearah bibi Maham Anga “Aku pikir belum saatnya menjodohkan Jalal dengan siapapun, Maham ... karena aku lihat dia masih terluka dengan Jodha, kalau toh ternyata akhirnya mereka saling jatuh cinta, biarkan semuanya mengalir apa adanya, biarkan mereka yang mengalami chemistry itu sendiri tanpa harus adanya paksaan dari kita sebagai orang tuanya, ingat Maham ... aku tidak suka memaksa anak anakku”

Bibi Maham Anga kurang suka dengan pendapat ibu Hamida “Tapi dulu Salima, kakak Jalal ... dia menikah juga karena dijodohkan kan, kak”

Ibu Hamida tersenyum kearah bibi Maham Anga “Kamu lupa siapa yang menjodohkan mereka? Salima dijodohkan oleh kakakmu sendiri, Humayun, ayah Salima, suamiku bukan aku Maham, saat itu terus terang aku menentang keputusan Humayun tapi ternyata Salima berbesar hati mau menerimanya, so terjadilah ... sudahlah Maham biarkan anak anak kita bebas menentukan pilihannya, cukup kemarin saja kamu keras dengan Jodha, setelah itu sudahlah ... jangan ada paksaan paksaan lagi”

“Tapi, kak ... Aku melakukan semua ini untuk menjaga nama besar leluhur kita untuk keturunan kita kelak, bagaimanapun juga keluarga kita cukup terpandang dikota ini, aku tidak mau orang orang mencemooh dan membuat gossip yang tidak bermutu tentang keluarga kita”

Ibu Hamida tersenyum mendengar penjelasan bibi Maham Anga “Aku tahu, Maham ... aku tahu, aku bisa mengerti tapi pada kenyataannya ketika kita memaksakan kehendak kita pada mereka, apa yang kita dapat? Nggak ada kan?” ibu Hamida menghela nafas panjang sambil menunjuk ke arah Jalal “Contohnya Jalal, kamu tahu dia itu seperti apa, ketika kamu memaksakan kehendak kamu, dia malah menentang kamu, dia lebih memilih meninggalkan kita semua untuk mendapatkan Jodha, iya kan?”

Bibi Maham Anga semakin tidak suka dengan arah pembicaraan bersama kakaknya kali ini, hingga akhirnya dirinya merasa diselamatkan ketika Jalal dan Rukayah berjalan mendekati dan berbaur bersama mereka. “Bagaimana Jalal? Sudah semakin mahir kamu belajar berjalan?” Jalal dan Rukayah hanya tersenyum.

“Kamu ini seperti bayi yang baru berusia satu setengah tahun saja yang sedang belajar berjalan” ibu Hamida ikut menimpali.

“Aku ini memang baru lahir, ibu ... aku ibaratkan aku ini seperti bayi yang baru saja belajar berjalan, ternyata sulit juga ya, meskipun keinginanku kuat tapi kemampuanku tidak mendukung”

“Tapi lama kelamaan kamu pasti bisa, Jalal” Rukayah ikut buka suara diantara mereka.

“Iyaaa, Jalal ... selama ada Rukayah, kamu pasti akan cepat sembuh, Rukayah ini selain cantik, pintar, dia juga mempunyai keyakinan yang kuat kalau kamu bakalan sembuh, tidak seperti istrimu itu yang tiba tiba menghilang begitu saja, nggak tau kemana rimbanya, bukannya merawat suaminya

“Maham ... sudah ...” ibu Hamida segera menghentikan ocehan bibi Maham Anga begitu dilihatnya wajah Jalal langsung berubah muram.

“Lhooo ... yang aku bicarakan ini fakta, kak ... Jodha memang seperti itu! Dia itu istri yang tidak punya perasaan, ketika suaminya sedang sekarat berjuang antara hidup dan mati, dia malah memilih pergi meninggalkannya begitu saja, wanita macam apa itu! Maunya cuma senang senangnya saja, begitu susah dia pergi begitu saja”

“Birbaaaalllll!!!” tiba tiba saja Jalal berteriak memanggil Birbal.

Birbal yang memang saat itu sedang berada didekat tempat tersebut segera berlari mendekati Jalal “Ada apa Jalal?”

“Ambilkan aku kursi roda, aku mau ke kamar”  Birbal segera berlalu dari sana dan mengambil kursi roda untuk Jalal.

“Jalal, kamu kan bisa minta tolong aku, kalau kamu ingin diambilkan kursi roda”

“Tidak apa apa Rukayah, biar Birbal saja”

“Iyaaa Jalal, Rukayah kan selalu siap sedia membantu kamu kapan saja, dia ini membantu kamu tanpa pamrih lhooo”

“Tidak apa apa, bibi ... tadi Rukayah kan juga sudah melatih aku berjalan, biar Birbal saja”

Tak lama kemudian Birbal sudah mendekati Jalal dengan menyorong sebuah kursi roda, Jalal segera duduk dikursi roda tersebut dan berpamitan untuk masuk kedalam “Aku permisi dulu, aku mau istirahat, selamat sore”

Semua yang ada disana hanya menganggukkan kepalanya, ibu Hamida tau kalau sebenarnya Jalal tidak tahan dengan kata kata Maham Anga yang memojokkan Jodha, hatinya terluka tapi mau bagaimana lagi, Jalal tidak bisa membela Jodha didepan bibinya karena pada kenyataannya Jodha memang berbuat seperti yang dikatakan oleh bibi Maham Anga.

Sesampainya didalam kamar, Jalal meminta Birbal untuk menutup pintu kamarnya dan seketika itu juga Jalal menumpahkan seluruh tangisnya yang telah ditahannya sejak tadi, Jalal menangis sambil menelungkupkan wajahnya diatas tempat tidur sementara tubuhnya masih berada dikursi roda, dadanya terasa sesak “Kenapa kamu melakukan ini, Jodha? Kenapa?!!!!” Jalal berteriak meratapi nasibnya, kata kata bibi Maham Anga yang didengarnya selama ini tentang kejelekkan Jodha sudah mulai merasuki dirinya, sedikit demi sedikit secara sengaja bibi Maham Anga memang berusaha untuk meracuni pikiran Jalal, agar Jalal tidak percaya pada Jodha lagi, agar Jalal menganggap Jodha adalah istri yang buruk, istri yang tidak setia, istri yang egois yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri “Kenapa Jodha? Kenapa kamu membuat aku menderita? Apa salahku? Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa pesan apapun untukku!!!” kembali Jalal berteriak memanggil nama Jodha.

Dari luar kamar, Birbal yang masih menanti dengan setia tuannya disana merasa terharu, Birbal tau kalau Jalal sangat mencintai Jodha maka ketika Jodha membuat Jalal menderita, hal itu sungguh sangat menyakitkan bagi Jalal, entah sampai kapan luka itu akan sembuh, entah sampai berapa lama.   

Part Selanjutnya Klik Disini


Cinta Saja Tidak Cukup Part 18

9 comments:

  1. Knapa episode sedih ini tdk jg berakhir mba sally... Kyu .. Kyu,, hiks..hiks ...rasanya hati ini tdk sanggup membaca nya,, yg di nanti episode bahagia, yg datang ;( ....
    dtunggu lanjutannya mba sally,, makasih usni ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Puk puk puk... Sabar dulu ya Mbak Annisa,, pasti akan tiba saat bahagia tersebut,... Saya juga masih nungguin ini... ^0^

      Delete
  2. lama banget mbk jodha gk ketemu jalal ato salah satu keluarganya,paling enggk salima gtu ato birbal msak gk nemu info apa" selama 1,5th :(

    ReplyDelete
  3. Aduhhh...jd ikt sedih deh..jalal ampe nangis inget ma jodha...sabar jalal...org sabar disyg Tuhan nt jg ketemu kok...cup cup sayang..jgn nangis terus donkk...

    ReplyDelete
  4. Lanjut mba... semakin hari semkn mengharukan aja... tp pa bnr jodha nikah sm surya? Gak bisa ngebayangin klo itu terjadi

    ReplyDelete
  5. Hiks..hiks..jd ikut trharu,,,andai aj ak bs sdkit mnghiburmu,,,sabar yaw,,,jd pengen meluk,,,(modussss..heehee)..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ihh,, Mbak Rina bener2 modus... hahaha

      Delete
  6. Benar2 nyesek nih bacanya.....lanjooottt nanda Chus..... mba Sallyyy...

    ReplyDelete
  7. G tega bcanya. . Jd g semangt klo da smpk sad scene gni. . . Kpn happynya chusni??

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.