Cinta Saja Tidak Cukup Part 20 - ChusNiAnTi

Cinta Saja Tidak Cukup Part 20



By: Sally Diandra

“Rukayah!” bibi Maham Anga segera mencegat langkah Rukayah yang saat itu hendak berlari ke arah pintu halaman “Rukayah! Tunggu!” kembali bibi Maham Anga meneriaki nama Rukayah, namun Rukayah tidak menggubris teriakan bibi Maham Anga, Rukayah terus berlari lari kecil menyusuri sepanjang halaman “Rukayah! Tunggu!” akhirnya Rukayah menyerah, tanpa berbalik menatap kearah bibi Maham Anga, Rukayah menghentikan langkahnya, bibi Maham Anga segera menyusul Rukayah “Rukayah, ada apa? Kenapa kamu menangis? Kenapa kamu tidak berhenti begitu aku panggil tadi?” Rukayah tidak menjawab pertanyaan bibi Maham Anga, Rukayah hanya menyeka pipinya yang basah karena airmatanya “Rukayah, kamu bisa mengatakannya padaku, ada apa? Kamu bertengkar dengan Jalal?”

Rukayah menggelengkan kepalanya “Dia menolakku, bi ... Jalal menolak aku, bibi tahu kan bagaimana rasanya?” Rukayah menatap nanar kearah bibi Maham Anga.

Bibi Maham Anga menutup mulutnya dengan salah satu tangannya “Kamu sudah mengungkapkan perasaanmu ke Jalal?” Rukayah hanya mengangguk lemah “Lalu dia menolakmu?”

“Iyaaaa .... dalam hatinya hanya ada Jodha, Jodha, Jodha! Jadi semua yang telah aku lakukan selama 3 tahun lebih ini nggak ada artinya apa apa buat dia, bibi ... Bibi bisa kan merasakan perasaanku ini?”

“Aku bisa memahami perasaanmu, Rukayah” lama mereka berdua terdiam dalam pikiran mereka masing masing “Tapi tenang saja, Rukayah .... aku akan coba bicara dengan Jalal, aku yakin setelah Jalal bicara denganku, dia akan menyadari betapa pentingnya diri kamu dalam kehidupannya, kamu tenang yaa ... jangan menangis lagi, hapus air matamu”

Rukayah buru buru mengusap perlahan pipinya yang basah sambil tersenyum datar “Aku pamit pulang dulu, bibi ...”

“Yaaa ... pulanglah, tenangkan dirimu” tak lama kemudian Rukayah segera berlalu dari hadapan bibi Maham Anga.

Sore itu tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, bibi Maham Anga segera menemui Jalal yang masih termenung di kursi taman belakang, bau tanah basah yang tercium disana karena Birbal baru saja selesai menyiram bunga dan pepohonan sangat menyejukkan hati, dengan bunga bunga yang beraneka warna membuat pemandangan sore itu menjadi semakin indah dipandang mata “Selamat sore, Jalal”

Jalal yang sedari tadi termenung dalam dunianya sendiri sontak segera tersentak dengan kehadiran bibinya sore itu “Selamat sore, bibi ... bibi disini rupanya?” b

Bibi Maham Anga langsung mengembangkan senyumnya yang lebar hingga mempertontonkan deretan giginya yang putih “Yaaa ... aku disini, tadi aku lihat kamu duduk disini, so aku ingin bergabung dengan kamu, boleh kan?”

Jalal hanya tersenyum masam sambil menganggukkan kepalanya “Silahkan ... “

Bergegas bibi Maham Anga duduk disebelah Jalal “Terima kasih” ujarnya sambil mengehela nafas panjang “Pemandangan sore ini sungguh sangat indah, bukan begitu, Jalal?” Jalal tidak menjawab dirinya kembali asyik dengan dunia khayalannya “Jalal, kamu mendengarku?” bibi Maham Anga merasa terusik dengan perilaku Jalal yang dingin dan acuh dengan kehadirannya “Jalal ...” Jalal kembali tersadar ketika bibi Maham Anga menyentuh bahunya “Apa yang sedang kamu pikirkan?” Jalal hanya menggeleng lemah .

“Aku tahu, saat ini kamu pasti sangat bahagia kan karena kamu sudah sembuh 99% dari kondisimu yang lemah tak berdaya beberapa tahun yang lalu, bibi juga sangat bahagia, Jalal ... karena kamu bisa berjalan kembali, bisa melakukan semua aktifitas yang kamu suka tanpa kendala kursi roda maupun kruk peyanggamu itu” Jalal tetap diam saja sambil mendengarkan kata kata bibinya dengan seksama “Tapi ingat Jalal, bagaimana kamu bisa berada pada saat ini, bagaimana kamu bisa berdiri diatas dua kakimu sendiri itu bukan karena jerih payahmu sendiri, tapi ada bantuan orang orang yang menyayangi kamu yang mendukung kesembuhanmu 100%” Jalal tetap terdiam sambil menghela nafas panjang “Orang orang itu adalah keluargamu sendiri yang sangat menyayangi kamu dan tanpa bantuan mereka, kamu tidak bisa seperti sekarang ini dan diantara orang orang itu ada juga Rukayah yang telah membantumu dengan segala usahanya untuk mewujudkan kesembuhanmu” Jalal segera menoleh kearah bibi Maham Anga, bibi Maham Anga memberikan senyuman termanisnya “Kamu bisa mengerti apa maksud bibi?” Jalal hanya menggelengkan kepalanya sambil terus memandangi bibinya “Aku harap kamu tidak lupa akan bantuan orang orang disekitarmu, Jalal”

“Aku tidak mungkin melupakannya, bibi ... peranan mereka sangat besar dan berarti buatku, aku sangat berterima kasih pada mereka, aku sadar aku bisa seperti ini karena mereka, tanpa mereka, aku mungkin masih koma atau mungkin sudah mati” Jalal akhirnya angkat bicara menanggapi ucapan bibinya.

“Stttt .... jangan bicara seperti itu, kami disini selalu mengupayakan yang terbaik untuk kamu, Jalal” bibi Maham Anga mencoba mendekat kearah Jalal dan mengambil tangan kiri Jalal dalam genggamannya “Ada satu hal yang ingin bibi minta dari kamu, nak ...”

“Apa itu?” Jalal penasaran dengan permintaan bibinya.

“Aku harap kamu bukanlah kacang yang lupa sama kulitnya, aku ingin kamu tetap mengingat orang orang yang telah begitu berjasa padamu termasuk pada Rukayah”

“Maksud, bibi?”

Sesaat bibi Maham Anga menghela nafas panjang sambil terus menggenggam tangan Jalal “Berterima kasihlah padanya atas semua yang telah dia lakukan selama ini padamu dengan menikahinya, bibi rasa itu balasan yang sepadan untuk Rukayah”

Jalal segera menarik tangannya dari genggaman tangan bibi Maham Anga “Menikah?”

Bibi Maham menganggukkan kepalanya masih dengan senyumnya yang mengembang “Apa salahnya, Jalal? Kamu single dia single so what?”

Jalal menggelengkan kepalanya “Bibi, apakah bibi lupa kalau aku belum bercerai dengan Jodha?”

“Jalal, sayang ... kamu sudah tiga tahun lebih berpisah dari dia, itu artinya kamu sudah bercerai dengan dia, secara agama kalian sudah bercerai, kalau secara hukum, bibi akan mengusahakannya, bibi punya banyak kenalan orang hukum, mereka bisa dengan mudah membuatkan surat cerai untukmu”

Jalal menatap bibinya dengan tatapan tidak percaya “Aku tidak bisa semudah itu menceraikan Jodha, bibi”

“Sudahlah, Jalal ... Bibi tidak minta jawabannya sekarang, kamu bisa memikirkan hal ini terlebih dulu, okay? Santai saja ... tidak usah terburu buru, kalau begitu, bibi tinggal dulu yaaa” bibi Maham Anga segera meninggalkan Jalal yang masih berfikir keras tentang permintaan bibinya. 

Sementara itu di Jogjakarta ...
“Jodha, sampai kapan sih kamu bisa menerima lamaran dokter Suryaban?” malam itu ketika Jodha sedang makan malam di kantin rumah sakit bersama Moti, Moti mencoba mengorek lebih jauh tentang isi hati Jodha ke dokter Suryaban.

“Aku belum tau, Moti ... aku belum bisa memberikan jawaban yang pasti untuk saat ini, bisa nggak sih nggak tanya itu mulu?”

Moti tersenyum sambil melirik ke arah Jodha “Yaaa maaf, sebab kalau aku lihat, kalian ini sudah berteman selama 3 tahun, walaupun selama ini kalian nggak pacaran, tapi dia mencintai kamu secara tulus, dia juga menyayangi Salim anakmu, dia bahkan mau menunggu kamu sampai kapanpun, menurutku sih ... kamu mau cari laki laki yang gimana lagi kalau nggak seperti dia? Anakmu itu butuh figur seorang ayah, Jodha ... kamu sendiri bilang kan kalau Salim sudah menganggap dokter Surya seperti ayahnya sendiri, bahkan sudah memanggil dokter Surya dengan sebutan papa, coba? Kurang apalagi, Jo?”

Jodha tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya “Kamu ini bisa saja, Mo” sebenarnya dari dalam hati Jodha yang paling dalam, Jodha gelisah dan sedih dengan kondisinya saat ini sebagai seorang single parent, disamping pertanyaan pertanyaan kritis dari anak semata wayangnya, tak jarang ibunya juga sering menanyakan hal yang sama seperti Moti, kenapa dirinya tidak segera menerima lamaran dokter Suryaban?

Jodha kadang sedih ketika tiba tiba saja Salim bertanya “Mama, kenapa papa Surya pulang? Papa Surya kok nggak bobok disini?” Jodha kadang bingung harus memberikan jawaban apa yang harus diberikannya untuk anaknya yang baru berusia 3,5 tahun ini atau juga ketika tiba tiba Salim mendekat kearahnya dan mengusap pipinya yang basah ketika malam malam Salim memergoki Jodha sedang menangis “Mama, kenapa mama menangis? Kan ada Salim disini” Jodha kadang tidak berkutik bila didepan Salim, apalagi ketika Salim bilang “Mama nggak boleh menangis lagi, Salim janji Salim nggak akan nakal lagi biar mama nggak menangis” kalau Salim sudah bilang seperti itu, Jodha tidak bisa berbuat apa apa, cuma bisa memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman, Salim memang benar benar obat yang paling mujarab untuk Jodha, Salim selalu saja bisa membuat Jodha tertawa dan tersenyum, semua ulahnya selalu membuat Jodha takjub, apalagi pertanyaan pertanyaan kritisnya yang diwariskan Jalal pada Salim, sering membuat Jodha terharu, Salim memang benar benar fotokopi Jalal, mulai dari rambut, wajah, kulit hingga sifatnyapun persis seperti Jalal, mengingat Jalal, Jodha sering berfikir “Apakah Jalal bisa bertemu Salim?” pertanyaan itulah yang sering terbersit dalam benak Jodha.

Part selanjutnya Klik Disini


Cinta Saja Tidak Cukup Part 20

9 comments:

  1. Semoga aja Jalal ngga terpengaruh dengan hasutan Maham...hehhhh nyesek bener nanda, bener2 sedang di uji kekuatan cinta mereka ya....

    ReplyDelete
  2. Huh, tuch Maham Anga bener2 ya...., tetep aja kekeh mau jodohin Jalal ma Rukayah.
    Keren banget FF nya mba, n always waiting for the next part.

    ReplyDelete
  3. Hhaah,, tarik nafas panjang,, mulai menerima dengan iklas kalau ternyata sampai chap 20 pun masih flashback ....
    dtunggu lanjutannya mba sally,, makasih usni ;)

    ReplyDelete
  4. Adduuuuh sediiih banget sie.... tp smp kpn yaaa jodha bersedih begini.... lanjuuuut tq

    ReplyDelete
  5. Maham kok gt amat sich. . . !!!! Hbs sm rukayah skrg nambah maham anga pula. . . Iiiiihhhh jd gregetan.

    ReplyDelete
  6. Maham kok gt amat sich. . . !!!! Hbs sm rukayah skrg nambah maham anga pula. . . Iiiiihhhh jd gregetan.

    ReplyDelete
  7. Mbak, kshn Jalal yg selalu tertekan sama Maham angga, smg mrk bisa ketemu kembali ya dgn Jodha & Salim

    ReplyDelete
  8. Wah...Dasar MahaM aNga...Masiih aja peNgaruhii jalal...Mogaa aja jalal tetp prcya sMa Jodha...trus Jodha kM hrus ttp brthaN jaNgaN Mudah MeNeriMa Surya...

    ReplyDelete
  9. Salut bt penulisnya,,bner2 sukses m'buat pmbca penasaran tgkt dewa,,bnr2 ff yg plg mnguji kesbran utk tggu part slanjtny,,sukriyaa:-)

    ReplyDelete

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.