Cinta Saja Tidak Cukup Part 21


By: Sally Diandra

Ketika Salim berusia 4 tahun ...

“Hallo selamat sore ...”

Jodha bisa mendengar dengan jelas suara Rukayah terdengar diujung sana, sore itu Jodha memang sengaja menelfon Rukayah, Jodha memberanikan diri menelfon Rukayah, setelah Salim bertanya terus ke Jodha “Mama, kenapa muka Salim nggak seperti papa Surya atau mama?”  saat itu Jodha hanya bisa memberikan jawaban yang klise yang membuat Salim semakin bertanya tanya dan kali ini Jodha memberanikan diri untuk menanyakan kondisi Jalal ke Rukayah demi Salim, siapa tau Rukayah mengetahui sedikit informasi tentang Jalal, waktu 4 tahun bisa merubah segalanya, Jodha benar benar penasaran dengan kondisi Jalal “Haloo Rukayah ... Ini aku Jodha”

Rukayah langsung terkejut begitu mendengar suara Jodha disebrang sana “Jodha? Apa ini benar benar Jodha?” Rukayah bertanya dalam hati

Rukayah, kamu masih ingat aku kan? Aku Jodha, temanmu” Jodha berusaha meyakinkan bahwa dirinya benar benar Jodha teman Rukayah yang telah menghilang selama 4 tahun ini

“Jodha? Kamu benar Jodha? Jodha temanku?” setelah diam beberapa saat akhirnya terdengar suara Rukayah diujung telfon

“Iya, Rukayah, aku Jodha temanmu, apa kabar?”

“Baik, kabarku baik, Jodha ... kamu sekarang dimana?”

Aku di Jogjakarta, Rukayah ... kapan kapan kalau kamu ada waktu, mampirlah kemari, nanti aku beri alamatku” ingin sekali rasanya saat itu Jodha bertanya ke Rukayah tentang kondisi Jalal, siapa tahu Rukayah tahu kabar tentang Jalal, paling tidak mencari tahu tentang Jalal namun sayangnya lidah Jodha seakan tercekat, Jodha tak mampu bertanya tentang Jalal, hingga pembicaraan mereka pun hanyalah sekedar basa basi belaka.

Beberapa hari kemudian, Jalal yang terus menerus mencari Jodha bersama Birbal kesana kemari tetap tidak mendapat satu petunjuk apapun tentang keberadaan Jodha saat ini, tidak ada satupun orang yang Jalal temui yang mengetahui tentang Jodha.

Dan pagi itu ketika Jalal dan anggota keluarga yang lain sedang menikmati sarapan pagi mereka di taman belakang, tiba tiba bibi Maham Anga kembali mengingatkan Jalal akan janjinya. “Tanpa terasa saat ini sudah setahun yaa Jalal benar benar sembuh dari sakitnya” ibu Hamida dan seluruh keluarga yang lain tersenyum memandang kearah Jalal, sementara Jalal masih asyik dengan sarapan paginya “Lalu setelah semua yang sudah bisa kamu lakukan, mulai dari bekerja, olahraga dan lain sebagainya, kapan kamu akan menikah, Jalal?”

ibu Hamida segera menghentikan suapan sarapannya paginya saat itu “Rasanya belum tepat untuk membahas soal itu, Maham” ibu Hamida berupaya untuk melindungi Jalal dari serangan bibi Maham Anga

“Lho apa pertanyaanku ini salah, kak? Wajar kan kalau aku bertanya kapan Jalal menikah?”

Salima menggelengkan kepalanya “Menikah? Menikah sama siapa, bi? Jalal kan belum punya calonnya”

bibi Maham Anga tersenyum “Kamu belum tau ya rupanya, Jalal kan mau menikahi Rukayah, bukan begitu, Jalal?” Jalal yang sedari tadi tidak begitu menggubris ucapan bibinya segera menghentikan sarapan paginya dan menatap wajah wajah anggota keluarganya satu per satu. “Bagaimana, Jalal kapan kamu mau menikahi Rukayah?”

Tepat pada saat itu Rukayah sedang menuju ke tempat keluarga Jalal yang sedang berkumpul, Rukayah sengaja tidak memberikan salam, dari tempatnya berdiri Rukayah bisa mendengar pertanyaan bibi Maham Anga tentang rencana pernikahan Jalal dengan dirinya, dengan hati yang berdebar debar Rukayah menanti jawaban Jalal “Bibi, seperti yang sudah sering aku katakan, aku belum siap untuk menikah, aku masih trauma, untuk sementara aku ingin sendiri, seperti saat ini saja aku sudah nyaman, bibi”

bibi Maham Anga mulai kehilangan kesabarannya “Tapi sampai kapan, Jalal? Untuk kamu yang laki laki mungkin dengan kondisimu seperti ini tidak menjadi masalah tapi untuk Rukayah? Kamu telah berlaku tidak adil padanya Jalal?” bibi Maham Anga mulai mencecar Jalal dengan pertanyaan pertanyaannya

“Maham! Apakah suatu kewajiban bagi Jalal untuk menikahi Rukayah? Apakah mereka saling mencintai satu sama lain?” ibu Hamida tidak suka dengan pertanyaan bibi Maham Anga yang memojokkan Jalal

“Kak Hamida, apakah kamu tidak bisa melihat, ada apa diantara mereka? Setahuku Rukayah sangat mencintai Jalal dan aku pikir seharusnya Jalal membalas perasaan Rukayah, karena berkat gadis itu Jalal bisa seperti sekarang ini” ujar bibi Maham Anga dengan nada tinggi

“Tapi bibi, kalau Jalal juga mencintai Rukayah mungkin memang tidak menjadi masalah, tapi ini apa Jalal juga mencintai Rukayah?” Salima ikut menimpali pembicaraan ibu dan bibinya

“Kamu bisa tanya sendiri padanya, Salima”

“Sudah sudah sudah ....” Jalal jengah dengan pertengkaran yang mulai tersulut diantara keluarganya “Aku harap kalian jangan bertengkar! Aku sudah memikirkan hal ini baik baik” Jalal langsung berdiri dari tempat duduknya “Bibi Maham Anga, aku tahu aku memang harus bersikap adil terhadap Rukayah, aku memang harus berterima kasih padanya, aku janji, bibi ... Aku akan menikahi Rukayah” bibi Maham Anga dan Rukayah yang masih menguping pembicaraan mereka tersenyum senang, sementara ibu Hamida, Salima dan kedua adik Jalal bingung dengan ucapan Jalal

“Tapi Jalal ...”

“Tenang, ibu ... Aku tahu apa yang aku lakukan, bibi Maham Anga ... Aku mau menikahi Rukayah dengan satu syarat” Jalal menatap tajam kearah bibinya

“Apa itu, Jalal ... katakan saja” semua yang hadir disana termasuk Rukayah menanti jawaban Jalal dengan perasaan yang was was

“Aku akan menikahi Rukayah setelah aku bertemu dengan Jodha!” bibi Maham Anga dan Rukayah langsung terkejut mendengarnya “Kalau bibi setuju maka akupun setuju, bagaimana?” sesaat bibi Maham Anga terdiam sementara ibu Hamida dan Salima tersenyum senang mendengar ucapan Jalal, sedangkan Jalal terus menanti kata kata bibinya

“Baiklah, okay ... Kalau itu mau mu, silahkan! Silahkan kamu cari bekas istrimu itu tapi ingat janjimu, Jalal! janji adalah hutang! Jadi kamu harus menepati janjimu, Jalal!”

“Tidak! Aku tidak mau!” tiba tiba Rukayah menghampiri mereka dengan kata kata penolakannya “Bibi! Bagaimana bibi bisa menyetujui syarat Jalal? Kalau iya mereka bertemu, kalau tidak? Lalu sampai kapan aku akan menikah? Sampai kapan aku akan digantung seperti ini terus? Aku butuh kepastian bibi!” Rukayah tidak terima dengan syarat yang diajukan oleh Jalal

“Rukayah, tenang Rukayah ...” bibi Maham Anga mencoba untuk menetralisir keadaan

“Bagaimana aku bisa tenang, bibi ... kalau nasibku ini tergantung pada pertemuannya dengan mantan istrinya itu, daripada terlalu lama aku menunggu, lebih baik aku katakan saja dimana Jodha berada sekarang, asal kamu tahu saja Jalal saat ini Jodha tinggal di Jogja!” semuanya yang berada disana termasuk Jalal sangat terkejut begitu mendengar pengakuan Rukayah yang tanpa Rukayah sadari sendiri, Rukayah jadi bingung begitu semua mata menatap kearahnya, sementara bibi Maham Anga terperangah dengan mata melotot tajam kearah Rukayah, bibi Maham Anga tidak percaya setelah mendengar ucapan Rukayah yang bisa menjerumuskan Rukayah sendiri.

“Kamu bilang apa, Rukayah? Coba katakan sekali lagi, apa yang baru saja kamu ucapkan?” Jalal mendekati Rukayah dengan tatapan tajam,

Rukayah bingung dan gelisah dan tidak mampu berkata apa apa lagi, dirinya baru menyadari bahwa barusan dia baru membuka keberadaan Jodha selama ini didepan Jalal dan keluarganya sementara bibi Maham Anga hanya geleng geleng kepala menyesali ucapan Rukayah “Aaaa aaku aakuu ... bilang apa, Jalal?”

“Tidak usah pura pura, Rukayah ... Tadi kamu bilang Jodha ada Jogja, benarkah itu? Darimana kamu tahu?” Rukayah bingung dan berusaha untuk mengalihkan pada pembicaraan yang lain “Katakan Rukayah!” nada bicara Jalal mulai meninggi.

Rukayah tidak tahan melihat tatapan mata Jalal yang menghujam jantungnya “Eee iiiyaa Jalal, Jodha ada di Jogja sekarang”

“Darimana kamu tahu, Rukayah? Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?” Jalal benar benar penasaran dengan ucapan Rukayah, sementara Rukayah menyesali perbuatannya yang tiba tiba saja keceplosan begitu saja.

“Bagaimana aku bisa bilang dari dulu? Aku baru mengetahuinya beberapa hari yang lalu, Jalal”

“Maksudmu?” Salima ikut menimpali pembicaraan mereka.

“Iyaa aku baru tau kemarin, kak ... sumpah! Demi Tuhan! Aku baru tahu ketika Jodha menelfonku” suara Rukayah terdengar bergetar dan terbata bata.

“Menelfonmu? Berapa nomor telfonnya Rukayah?” Jalal terus menerus mencecar sejumlah pertanyaan ke Rukayah.

“Maafkan aku, Jalal ... Aku telah menghapusnya, terus terang selain aku cemburu pada Jodha, aku juga tidak ingin kamu mengetahuinya jadi aku hapus saja nomer telfonnya itu”

Jalal nampak menahan amarahnya. “Bibi, aku besok pindah ke Jogja, salah satu anak perusahaan kita ada kan disana, segera buat kepindahanku kesana, aku akan berkemas kemas, permisi” Jalal segera meninggalkan tempat itu, sementara Rukayah hanya bisa mematung menatap kepergian Jalal, sedangkan pihak anggota keluarga yang lain langsung setuju dengan keputusan Jalal.

Tanpa pikir panjang lagi, setelah menyiapkan segala keperluannya, Jalal segera pergi ke Jogjakarta bersama dengan Birbal dan Mirza Hakim mengenderai mobil Range Rovernya, perjalanan panjang dari Jakarta ke Jogjakarta tidak membuat Jalal gentar, Jalal sudah bertekad selain mengurus salah satu anak usaha perusahaan ayahnya, Jalal juga akan menyusuri kota Gudeg itu untuk mencari Jodha. Sesampainya di Jogjakarta, Jalal menempati salah satu apartemen miliknya sendiri bersama dengan Mirza dan Birbal, setelah mengenalkan dirinya dan adiknya di kantor anak perusahaan ayahnya tersebut, Jalal memulai pekerjaannya disana dan begitu sore hari tiba segera Jalal turun ke jalan untuk mencari Jodha, Jalal teringat kalau dulu Jodha pernah cerita kalau salah satu sahabat dekatnya ada yang bekerja di salah satu rumah sakit di Jogjakarta, bahkan saat itu Jodha tidak bisa menghadiri pernikahan sahabatnya itu karena kesibukkan mengurus catering ibunya, Jalal yakin kalau sahabat Jodha ini pasti tau keberadaan Jodha.

“Lalu siapa nama sahabat Jodha itu kak?” Mirza yang ikut menemani Jalal mencari Jodha merasa penasaran dengan cerita Jalal.

“Aku sendiri lupa, Za ... siapa ya namanya?” Jalal mencoba berfikir keras mengingat ingat nama sahabat Jodha yang tinggal di Jogja “Yang pasti dia itu pindahan dari Jakarta atau lebih tepatnya orang Jakarta yang bekerja sebagai perawat disalah satu rumah sakit disini”

Mirza Hakim menghela nafas panjang “Cuma itu petunjuknya, kak? Yaaa ... orang Jakarta yang kerja di Jogja pasti banyak lagi, bukan cuma dia saja”

“Tapi ini kan lebih spesifik, Za ... kerja dirumah sakit, kita harus menanyakan semua rumah sakit yang ada disini, ayooo semangat!”

Jalal dan Mirza Hakim memulai pencariannya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain di Jogjakarta, namun lagi lagi hasilnya nihil dan setelah dua bulan Jalal berada di Jogjakarta tanpa Jalal duga Rukayah menyusul Jalal kesana, tiba tiba saja pagi itu Rukayah sudah muncul diapartemennya “Selamat pagi, Jalal.”

Jalal terperangah begitu mengetahui Rukayah yang sudah duduk di sofa ruang tamu “Ngapain kamu kesini, Rukayah?”

Rukayah tersenyum sambil menghampiri Jalal “Kok pertanyaanmu seperti itu sih? Aku ini kan calon istrimu jadi wajar dong kalau aku ingin menemani calon suamiku, boleh kan? Jangan lupa, Jalal ,,, kalau kamu sudah berjanji mau menikahi aku” ujar Rukayah sambil membelai wajah Jalal dengan mesra, sementara Jalal tidak bergeming sedikitpun.

“Aku tidak akan lupa, Rukayah,,,kamu tidak usah khawatir.”

Rukayah tersenyum sambil menggelanyut manja dibahu Jalal.


Part Selanjutnya Klik Disini


9 comments

Write comments
erika minhoo
AUTHOR
30 March 2015 at 06:08 delete

Iss dasar ruqaiya...NgapaiN jugaa si jalal gaMpaNg baNgett berjaNjiiNya...

Reply
avatar
30 March 2015 at 06:13 delete

Sepandai2nya kita menutupi kecurangan itu suatu saat akan terbuka dan kebaikan sell yg menang, dan bantulah dgn tulus spy org jg berbuat demikian utk kita. Smg pengorbanan jodha yg tulus berbuah manis sebalikx maham anga & rug mendpt ganjaran yg sesuai dgn yg ditanam. Ok mbak

Reply
avatar
30 March 2015 at 06:29 delete

Akhhhh.....degdegan ngikutin jalal cari jodha...gimana nanti saat mereka ketemua ya.....ngga sabar nunggu adegan itu nanda Chus...lanjooottt

Reply
avatar
30 March 2015 at 06:38 delete

Setuju banget, itulah yang kami harapkan dengan memposting beberapa cerita, pembacanya bisa mengambil pelajaran dari apa yang disuguhkan dalam cerita...
Terima kasih

Reply
avatar
30 March 2015 at 06:48 delete

Semoga stlh ketemu jodha dan melihat anaknya, jalal berubah pikran batal nikah ma ruk..aaammmiinn...#ngareptkdewa...lanjutt mba sally...sukriya mba chus

Reply
avatar
Linda Santoni
AUTHOR
30 March 2015 at 06:48 delete

Pelan tp pasti... pasti ketemu kan? Lanjuuut yq

Reply
avatar
30 March 2015 at 06:48 delete

Semoga stlh ketemu jodha dan melihat anaknya, jalal berubah pikran batal nikah ma ruk..aaammmiinn...#ngareptkdewa...lanjutt mba sally...sukriya mba chus

Reply
avatar
salmahtaurus
AUTHOR
30 March 2015 at 08:32 delete

Ichh... jengkelin banget sih si rukayah.
wah jalal janji mau nikahin Rukayah tapi harus ketemu dulu ma Jodha.. hhhmmm gimana nanti ya? Klw Jalal dah ketemu ma Jodha, apalagi tau klw dia punya Salim, apakah Jalal kan tetap nikahin Rukayah???. Wah penasaran banget plus deg degan nunggu part berikutnya.

Reply
avatar
6 April 2015 at 21:43 delete

Haduh semakin gemesssssss liyat ruqayah

Reply
avatar

Terima kasih atas kunjungan Anda. Setelah baca jangan pelit comment ya...

Mohon tidak melakukan Copy Paste isi Blog ini dalam bentuk maupun alasan apapun. Tolong hargai kerja keras penulis.

Terima Kasih.

Followers

Google+ Followers